Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Pengaruh Urbanisasi dalam Novel Cucu Tuk Wali Melalui Pendekatan Kemasyarakatan
Makalah ini menganalisis isu remaja dalam hubungannya dengan urbanisasi. Penelitin ini menumpukan kepada novel remaja Cucu Tuk Wali (1993) karya Abu Hassan Morad yang memaparkan gagasan pemikiran sastera dan kaitannya dengan kelompok masyarakat di luarnya. Apa yang dicitrakan dalam karya merupakan hakikat daripada realiti kehidupan manusia dalam masyarakatnya dan analisis ini mengaitkan gambaran dalam novel dengan pengaruh urbanisasi dalam bidang pertanian, perniagaan, dan pembangunan tanah. Aspek-aspek ini diteliti dengan tujuan melihat persoalan sosial yang terungkap dalam karya dengan realiti kehidupan masyarakat melalui pendekatan kemasyarakatan. Pendekatan ini melihat sastera sebagai alat pendedahan kepada segala persoalan yang wujud dan bertujuan mencari kebaikan dan kesejahteraan dalam masyarakat seperti yang dituntut oleh Islam. Pendekatan ini menekankan bagaimana pengarang memaparkan segala permasalahan kehidupan manusia menerusi idea, ideologi, dan daya kreativiti yang disajikan menerusi karya.
Abstract:
This article analyzes the adolescence issues and their relationship with urbanization. This analysis focuses on an adolescence novel, Cucu Tuk Wali (1993), by Abu Hassan Morad which delivers the ideas of literary thinking and their relation with the community outside through the community approach. This approach views literature as a tool to reveal all questions regarding the well being and harmonies according to the practice of the Islam. This approach also emphasizes on how the writer exposed problems in human life through their ideas, ideologies and creativities.
Key Words: urbanization; novel; adolescence; society; realit
Sinkretisme dalam Jampi Melayu Deli: Tinjauan Transformasi Budaya
Mantera, yang pada masyarakat Melayu Deli disebut Jampi, memiliki bahasa yang khas. Tradisi membaca jampi biasanya bertujuan untuk mempermudah pekerjaan dan dibaca ketika akan memulai suatu pekerjaan. Penelitian ini difokuskan pada analisis jampi Melayu Deli yang terdapat pada masyarakat Melayu Deli di Sumatera Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui transformasi budaya yang ada didalam jampi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah transformasi budaya dan sinkretisme. Dalam penelitian ini data dikumpulkan dengan merekam tuturan jampi yang disampaikan oleh seorang pawang, dan dianalisis dengan pendekatan sinkretisme dan transformasi. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa jampi Melayu Deli mendapat pengaruh animisme-dinamisme, Hindu-Budha, dan Islam. Kesemuanya di-transformasikan melalui satu konsep sinkretisme.
Abstract:
Incantation owns a unique language style which is called as Jampi by Deli Malay society. The tradition of reading the incantation is basically aimed at facilitating any working activities. It is read before starting those activities. This study is thoroughly focused on the analysis of Deli Malay’s incantation existing in Deli Malay society around North Sumatera province. The goal of the study is to investigate the cultural transformation available in the incantation itself. Thus, the cultural tradition and syncretism method is applied to accomplish the research. All data gathered in the research are directly recorded from a soothsayer who reads the incantation. Those data are, then, analyzed by implementing syncretism and transformation approach. The conclusion of the study is that the incantation in Deli Malay is greatly influenced by animism-dynamism, Hindu-Budha, and Islamic traditions. Those influences are transformed through a syncretism concept.
Key Words: syncretism; jampi; cultural transformatio
Bahasa Pemberontakan Terhadap Tradisi Bali Dalam Novel Tempurung: Kajian Stilistika
Kajian ini membahas novel Tempurung karya Oka Rusmini dari perspektif stilistika. Novel tersebut dominan dengan bahasa pemberontakan terhadap tradisi Bali. Kajian ini akan terfokus pada gaya interferensi dan alih kode yang terkonstruksi dalam beberapa wacana. Di dalamnya, terdapat pola dalam bahasa pemberontakan dengan menggunakan gaya bahasa sarkasme, sinisme, dan ironi, bahkan paradoks, serta gaya perbandingan. Pola itu terkait dengan pandangan perempuan dari kasta Brahmana yang berikhtiar membaca kembali kebaliannya, terutama terkait sistem kasta, adat dan upacara kematian. Efek estetik dengan pemertahanan istilah lokal dan penggunaan gaya bahasa-gaya bahasa yang bernada muram itu memperkukuh latar novel, baik latar sosial maupun kulturnya. Seiring dengan itu, semakin menunjukkan ketajaman perspektif dalam melihat ambiguitas kultur Bali di antara tradisi dan modernitas.
Abstract:
This study of Oka Rusmini’s Tempurung is from stylistics perspectif. The novel is dominant with rebel language to the tradition of Bali. Focus of the study is interfensial and code-transformation style, constructing to some discourse. In there’s model of tradition subversive with use sarkasm, sinism, irony, paradox style and comparasion stylistics. The system related with women perspektif from kasta Brahmana. She effort to reread her-Balinesse in the kasta system, ordinary adat and the death ritual. Efect of the aestetics from using local etimology and styles with gloomy tone make install the novel setting-social and culture. Therewith, using stylistics is build sublime of perspective to know ambiguity in the culture of Bali, between tradition and modernity.
Key Words: stylistics, interferensial, code-transformation, subversive, Bali traditio
Sayembara Sebagai Bentuk Resistensi Perempuan dalam Menolak Hegemoni Laki-Laki dalam Cerita Rakyat Roro Jonggrang, Roro Mendut, dan Sangkuriang
Makalah ini membahas secara singkat beberapa masalah dalam lingkup resistensi terhadap hegemoni patriarki dalam tiga cerita rakyat Indonesia; Roro Jonggrang, Roro Mendut, dan Sangkuriang. Teori subalterniti Gayatri Spivak dipergunakan untuk membingkai pembacaan kritis terhadap ketiga cerita. Ketiga cerita rakyat yang dikaji mendedahkan resistensi perempuan terhadap dominasi hegemonis pria dalam lingkup masyarakat patriarkis. Temuan dari pembahasan menunjukkan bahwa tokoh-tokoh perempuan dalam ketiga cerita berasal dari strata sosial tertentu dalam masyarakat mereka yang telah memiliki subjektifikasi dan identifikasi tersendiri. “Sayembara” yang secara taktis direka dan diciptakan oleh ketiga tokoh perempuan merupakan alat alternatif untuk menolak dominasi dan kekuasaan pria. Katarsis ketiga cerita rakyat menunjukkan bahwa ketiga tokoh perempuan menemui ajal atau mengalami perubahan wujud yang merupakan konsekuensi dari pemberontakan. Citra perempuan dalam ketiga cerita rakyat berdasarkan berbagai versi penceritaan adalah pemberontak dan subversif.
Abstract:
This paper briefly shares some insights in the matters of resistance toward patriarchic hegemony in three Indonesian folktales; Roro Jonggrang, Roro Mendut, and Sangkuriang. Spivak’s subalternity is used to carve out the critical reading on the three stories. The three stories tell women’s resistances toward men’s hegemonic dominions in patriarchic societies. The findings of the discussion show that woman characters in the three stories come from certain social stratum in their own societies who have their own subjectification and identification. “Sayembara” which was tactically created by those women characters is a means of their alternative weapon to resist men’s dominion and power. The catharsis of the three folktales shows that the three woman characters find their dead or evanescent as the consequences of their being rebel. The images of women in the three stories based on various versions of the folktales are rebellion and subversive.
Key Words: resistance, hegemony, patriarchy, dominio
Stratifikasi Masyarakat Bali Dalam Tarian Bumi Dan Kenanga Karya Oka Rusmini
Ajaran catur warna dalam sastra suci Hindu, Weda, demikian luhurnya, tetapi yang tampak justru menjadi sistem budaya stratifikasi sosial yang tampaknya melanggar hak azasi manusia dan telah merusak citra agama Hindu dari zaman ke zaman. Penerapan sistem wangsa dalam menentukan catur warna itu sudah menimbulkan berbagai kericuhan di kalangan umat Hindu. Sebagai bukti banyaknya muncul kasus adat di berbagai daerah di Bali. Konflik soal wangsa ini sudah merupakan rahasia umum yang sering menghiasi media massa di Bali bahkan sampai mencuat ke tingkat nasional, seperti tampak dalam karya sastra berbentuk novel berjudul Tarian Bumi (2000) dan Kenanga (2003) karya Oka Rusmini. Hal itu terjadi karena supremasi adat kebiasaan feodalisme zaman kerajaan yang sudah terlalu lama tidak disempurnakan sesuai dengan ajaran catur warna.
Abstract:
The teaching of catur warna in Hindu sacred literature, the Vedas, is so exalted, but seems to be the cultural system of social stratification which appears to violate human rights and has damaged the image of Hinduisme throughout the ages. Application of wangsa system in determining the catur warna that has caused disquiet among many Hindus. The evidence is the many custom cases which appear in different regions of Bali. Conflicts about the wangsa is already an open secret that often decorate the mass media in Bali, even sticking to the national level; as shown in the form of literary novel titled Tarian Bumi (2000), and Kenanga (2003) work Oka Rusmini. It happens because of the supremacy of customary feudalism kingdom era that has been too long not being perfected in accordance with the teachings of catur warna.
Key Words: catur warna, social criticism, stratificatio
Dendam Perempuan-Perempuan Yang Tersakiti: Kajian Psikoanalisis Sosial Novel Tempurung Karya Oka Rusmini
Tulisan ini bertujuan mengungkap konflik batin tokoh-tokoh perempuan dalam novel Tempurung. Sumber data penelitian ini adalah novel Tempurung karya Oka Rusmini yang diterbitkan tahun 2010. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kepustakaan. Penelitian ini menggunakan teori psikoanalisis sosial Karen Horney. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan psikoanalisis. Pembahasan ini menghasilkan hal-hal berikut. Pertama, adanya hubungan buruk orang tua-anak, dan keadaan budaya dan tradisi telah menciptakan berbagai peristiwa yang mendorong munculnya konflik batin tokoh-tokoh perempuan. Kedua, tindakan-tindakan yang dilakukan tokoh-tokoh perempuan untuk menanggulangi atau me- ngurangi konflik batinnya diekspresikan dalam tindakan balas dendam.
Abstract:
This paper aims to reveal the inner conflicts of women characters in the novel of Tempurung. The source data of this study is Tempurung, a novel of Oka Rusmini which was issued in 2010. The data was collected by librarian techniques. This study uses the theory of Karen Horney’s social psychoanalysis. The method used in this paper is descriptive analysis method with the approach of psychoanalysis. The discussion results in the following. First, the bad relationship of parent-child and the state of culture and tradition have created a variety of events that encourage the emergence of inner conflicts of the women characters. Second, the actions taken by the women characters to overcome or reduce their inner conflicts expressed in acts of revenge.
Key Words: novel; female characters; inner conflict; social psychoanalysi
Genetika Roman Panglipur Wuyung
Roman panglipur wuyung secara ideologis menggambarkan keinginan yang diidam- kan hadir di dunia nyata. Kota adalah tempat yang ideal untuk memperolehnya. Sebaliknya, de- sa adalah dunia sepi, miskin, dan serba kekurangan. Meskipun demikian, kesadaran akan keter- asingan di kota tidak dapat dimiliki oleh para tokoh cerita yang umumnya didominasi para re- maja. Dunia nyata yang ada di kota inilah yang diidamkan dalam cerita roman panglipur wu- yung. Kesenangan dan kekayaan adalah hal ideal yang diimpikan, yang dicita-citakan, dan yang harus hadir di dunia nyata ini. Genetika sosial roman berasal dari masyarakat kapitalisme semu.
Abstract:
The romance of Panglipur wuyung ideologically describes an ideal aspiration emerges in the real world. A city is basically an ideal place to get it. Conversely, a country is a quiet, poor world, and lack of anything. The consciousness of alienation in the city, however, cannot be possessed by the characters generally dominated by teenagers in this roman. The city is the real world which is dreamt, aspired in the romance. The social genetics of romance originates from a pseudo-capitalism society.
Key Words: genetics; ideology; real worl
Tentang Manusia Dalam Tembang Palaran Dhandhanggula Nyi Tjondrolukito: Kajian Filsafat Sangkan-Paran
Perspektif filsafat sangkan-paran dapat digunakan untuk menganalisis manusia dalam tembang Palaran Dhandhanggula Nyi Tjondrolukito (PDNT) yang mencakup apa dan siapa manusia, bagaimana hendaknya manusia berperilaku dalam hidup, dan apa sebenarnya tujuan hidup manusia. Secara materialistik, manusia terbentuk atas unsur-unsur yang sama dengan unsur alam, yaitu api, angin, tanah, dan air yang dilambangkan dengan warna merah, kuning, hitam, dan putih. Secara spiritual, sebagai siapa, manusia terdiri atas empat unsur yang dilambangkan dengan empat warna tersebut. Keempatnya merupakan sedulur papa manusia yang merupakan hawa nafsu manusia yang melengkapi rasa/ruh yang bersemayam dalam manusia. Berkaitan dengan perilaku hidup, hendaknya manusia memiliki keimanan, ketawadukan, kesungguhan, dan mampu menjaga keselarasan dengan alam, keseimbangan jagad cilik yang ada dalam dirinya dengan jagad gedhe yang berupa alam semesta. Sebagai bagian akhir, manusia harus menyadari tujuan hidupnya.
Abstract:
The Sangkan Paran philosophical perspective can be employed to analyze human beings in the traditional Javanese song Palaran Dhandhanggula Nyi Tjondrolukito (PDNT) covering who and what human matters are, how they should behave and achieve their goals in living their lives. Materialistically speaking, on one hand, a human being is composed of elements that are similar to the natural elements, namely, fire, wind, soil, and water that are symbolized by red, yellow, black, and white color. Spiritually speaking, on the other hand, human beings are believed to be composed of the four natural elements. Those elements are considered to be the four “siblings” of human beings. They constitute their passions that enrich their souls. In relation to behavior, human should have faith, loyalty, persistence, ability to keep in harmony of the “small world’ within themselves and “the gigantic world”, that is the whole universe. Last but not least, they should be aware of their goals in life.
Key Words: literary philosophy, sangkan paran, palaran dhandhanggul
Memetakan Komunitas Sastra Indonesia di Jawa Timur
Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan peta komunitas sastra Indonesia di Jawa Timur dan melihat jaringan antarkomunitasnya dengan perspektif makro sastra. Berdasarkan latar belakang kelahirannya, komunitas sastra di Jawa Timur dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu komunitas yang lahir sebagai perlawanan terhadap hegemoni pusat, sebagai pernyataan ekspresi dan eksistensi diri, sebagai wadah kreativitas dan komunikasi, dan sebagai gerakan lite- rasi. Berdasarkan basisnya, komunitas sastra Indonesia di Jawa Timur dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu komunitas berbasis kampus, nonkampus, dan pondok pesantren. Mereka membangun jaringan dengan komunitas di Jawa Timur dan di luar Jawa Timur
Abstract:
This paper is aimed to describe Indonesia literary community map in East Java and to see intercommunity networking with macroliterary perspective. Based on background of birth, literary community in East Java can be devided in to four grups: community that was born as resistance to hegemony of center, as statement they are expression and self existence; as creativity and communication media; and as literacy movement. Based on its basis, Indonesian literary community in East Java can be devided in to three groups, they are literary community based on campus, literary community based on noncampus, and literary community based on pondok pesantren. They construc intercommunity networking in and out of East Java.
Key Words: community, background, base, networkin
Konstruksi Politik Tubuh dalam Teks Sastra Poskolonial
Tulisan ini mendiskusikan fenomena konstruksi politik tubuh dalam teks sastra poskolonial. Tubuh dalam perspektif poskolonial adalah domain yang dikonstruksi sedemikian rupa untuk menghasilkan efek ideologi, politik, ekonomi, bahkan kultural. Sehubungan dengan konteks tersebut, tubuh bukanlah domain yang kosong. Tubuh tersebut memiliki beberapa kemungkinan untuk diinterpretasikan dalam berbagai perspektif; dalam perspektif politik tubuh, tubuh itu sendiri sering dipolitisasi, dikomodifikasi, dan menerima ambiguitas psikologis sebagai subjek; dan sebagai tubuh yang terkolonisasi itu sangat menderita. Teks sastra poskolonial dalam perkembangan sastra Indonesia dalam hal ini, salah satu kajiannya sering mendeskripsikan realitas politik tubuh.
Abstract:
This writing discusses about the fenomenon of the construction of body in postcolonial literary text. Body in the postcolonial literature perspective is a constructed domain with goals to get ideologic, politics, economic, and cultural effect. Relates to the context, body is not only an empty domain. The body is very possible to be interpreted in some perspectives; politics of body, the body it self is often politicized, comodified, and got psycological ambiguity as a subject and colonized body that also very suffering. The postcolonial literature text in the Indonesian literature development often describes the reality of the politics of body.
Key Words: postcolonial literature, politics of body construction, comodificatio