Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Tokoh Dan Penokohan Dalam Roman Panglipur Wuyung
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan model tokoh dan penokohan yang men jadi ciri umum dalam roman panglipur wuyung. Untuk itu, teori intrinsik yang mengkhususkan pada unsur tokoh dan penokohan digunakan untuk menganalisisnya. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar tokoh dan penokohan dalam roman panglipur wuyung memiliki tipologi yang sama, yakni menampilkan tokoh berwatak datar (bersifat hitamputih), tam pan/cantik, mengusung tokoh hero, dan lainlain yang merupakan tokoh ideal dengan penggambaran yang klise.
Abstract:
This research aims to reveal the common feature of character and characterization models in the panglipur wuyung novelette. Therefore, the intrinsic theory specializing in characters and characterizations is used to analyze it. From the research result, it can be seen that most of the characters and characterizations in the panglipur wuyung novelette have the same typology, which shows flat character (black and white features) handsome/beautiful, and carries the hero figures etc. which is an ideal figure of cliche depiction.
Key Words: character and characterization, typology, panglipur wuyung novelett
Nilai-Nilai Luhur Budaya Dalam Pepatah-Pepatah Madura
Artikel ini membahas tentang pemahaman dan penafsiran kembali pepatahpepatah Madura guna merevitalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Argumen yang dibangun dalam artikel ini adalah penafsiran kembali pepatah Madura sangat diperlukan untuk dapat memahami nilainilai sosial budaya. Kajian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan fokus pada upaya upaya memahami dan menafsirkan pepatah Madura. Hasil kajian mengkategorisasikan nilainilai sosialbudaya dalam pepatah ke dalam tiga kategori utama, yaitu (1) nilainilai yang perlu dipertahankan dan dikembangkan, (2) nilainilai yang memerlukan penafsiran kembali karena dapat menimbulkan kesalahan penafsiran, dan (3) nilainilai yang perlu ditanamkan untuk mengembangkan nilai-nilai positif yang sejalan dengan perkembangan masyarakat Madura saat ini.
Abstract:
The present paper deals with understanding and reinterpreting Madurese proverbs in order to revitalize Madurese values. It is argued that reinterpreting Madurese proverbs both textually and contextually is a necessary requirement for a complete understanding of the positive cultural values they contain. The study, which is descriptive and qualitative in nature, focuses on efforts to understand and interpret Madurese proverbs for the purpose of revitalizing the positive values. Results of the study categorize the cultural values in the proverbs into three main headings: (1) values which are necessary to be preserved and developed, (2) values which require reinterpretation because they may result in misunderstanding and cause terrors to other ethnic groups, and (3) values which need to be imbued with in order to develop positive values in line with today’s Madurese society development
Multiple Personalities: Childhood Unresolved Conflicts and Trauma In Clark’s All Around The Town
This paper is aimed at describing how multiple personalities as the unresolved childhood conflict and trauma are revealed in Clark’s All Around the Town. The novel is analyzed by using psychological approach. It is based on the assumption that any work of literature always deals with human life in terms of his personality structure and psychological condition. The results indicate that as a character, Laurie Kenyon is around and developing. It can be seen from her various traits. In one, she is smart and sweet. But on the other hand, she is anxious and gets afraid easily. As an individual, Laurie’s Id is weak. Her Super-ego, which appears as forms of traumatic experience and unresolved childhood conflict, are embedded strongly in Laurie’s personality. Therefore, she tries to create her ego in the form of multiple personalities to help her out of her problems.
Abstrak:
Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana kepribadian ganda sebagai akibat trauma dan konflik masa kecil yang tidak teratasi muncul pada novel All Around the Town Karya Marry Higgins Clark. Novel ini dianalisis dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra. Hal tersebut didasarkan pada asumsi bahwa semua karya sastra selalu berhubungan dengan kehidupan manusia khususnya kepribadian dan kondisi psikologis. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagai tokoh, Laurie Kenyon memiliki karakter bulat dan dinamis. Hal ini bisa dilihat dari sifat-sifat yang dimilikinya serta bagaimana kepribadian Laurie berubah dari awal sampai akhir cerita. Di satu sisi Laurie merupakan gadis yang cerdas dan manis. Namun di lain sisi, ia juga pencemas dan penakut. Sebagai individu, Laurie memiliki id yang lemah. Super ego berupa pengalaman trauma dan konflik yang tidak teratasi semasa kecil terlalu kuat tertanam dalam diri Laurie, sehingga ia berusaha menciptak an ego dalam bentuk kepribadian ganda untuk membantunya lepas dari masalah yang dihadapinya.
Kata-Kata Kunci: masa kecil; konflik; trauma; kepribadian gand
Takmilah: Menuju Teori Sastra Islami
Banyaknya karya sastra Indonesia yang bernuansa islami sejak tahun 2000-an telah dijadikan objek kajian sastra. Pengkajian karya sastra islami tersebut sangat relevan jika menggunakan pendekatan teori sastra Islam. Pendekatan teori sastra Islam yang dianggap sesuai dengan karakter sastra Indonesia bernuansa islami adalah teori sastra Islam Melayu Malaysia. Para pakar sastra Melayu telah berhasil menciptakan teori sastra islami, di antaranya Shafie Abu Bakar yang telah memperkenalkan teori sastra Islam yang disebut dengan teori takmilah.
Abstract:
The outburst of Indonesian Islamic literatures has been the object of literary study since the 2000s. The study of Islamic literature is very relevant when using the approach of Islamic literary theory. The approach of Islamic literary theory is considered in accordance with Indonesian Islamic literary character. It is descending from the literature of Malay. The Malay literary experts have succeeded in creating an Islamic literary theory. Shafie Abu Bakar has introduced Islamic literary theory called the theory Takmilah.
Key Words: Islamic literature, theory of Takmila
Tema Puisi Indonesia Modern Periode Awal
Dunia puisi Indonesia modern terus mengalami perkembangan yang cukup baik sejak tahun 1800-an melalui terbitan majalah-majalah, seperti Bianglala (1870), Tjahaja Siang (1896), atau Pandji Poestaka (1923). Media seperti itu memunculkan nama-nama besar penyair Indonesia, seperti Or. Mandank, Sanusi Pane, dan Amir Hamzah. Perkembangan itu telah me- munculkan berbagai pemikiran generasi muda untuk meneliti dan menginventarisasikannya. Sampai saat ini banyak yang melakukan penelitian terhadap puisi Indonesia modern dari segi struktur, estetika, atau makna. Secara tidak langsung penelitian itu akan bersentuhan dengan masalah budaya dan penyairnya. Tidaklah lengkap kalau berbicara masalah perpuisian di Indonesia tanpa melibatkan penyair, sosial, dan budayanya. Namun, tulisan ini tidak melibatkan penyair, sosial, dan budayanya secara khusus, kajian ini hanya terfokus pada aspek tema, seperti tema cita-cita merdeka, keagamaan, kesatuan, nasihat, alam lingkungan, atau kritik sosial.
Abstract:
The world of modern Indonesian poetry has continued to have a fairly good development since the year of the 1800s via magazine publications such as Bianglala (1870), Tjahja Siang (1986), or Pandji Poestaka (1923). Such medias had brought out great Indonesian poets like Or. Mandank, Sanusi Pane, and Amir Hamzah. The development has raised various ideas of the young generation to study and inventory them. Until now, there have been many studies on modern Indonesian poetry from the aspect of structure, aesthetic, and meaning. Indirectly, the studies would be involved with cultural issues and the poets. It is incomplete to discuss the Indonesian poetry issues without involving the poets and their social and culture in particular. Nevertheless, this study does not involve the poets and their social and culture in particular. Instead, this study focuses on the aspect of the theme, such as the theme of desire for independence, religion, unity, advice, environment, or social critic.
Key Words: poetry; theme; poet; mass media; native; and Netherlands East Indie
Telaah Intertekstual Terhadap Sajak-Sajak Tentang Nabi Ayub
Makalah ini menelaah secara intertekstual enam sajak Indonesia modern yang berisi tentang Nabi Ayub, yaitu “Tafsir Ayub Sang Nabi” (Motinggo Busye), ”Balada Nabi Ayub”(Taufiq Ismail), “Ini Terjadi Ketika Matahari Menggapai Sia-Sia” (Darmanto Jatman),
”Doa Ayub”(Abdul Hadi W.M.), serta “Duka Ayub” dan “Ayubkan Kesabaran” (Emha Ainun Nadjib). Berdasarkan prinsip intertektual, keenam sajak Indonesia modern tersebut ditelaah dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan teks transformasi dengan teks lain yang diacunya. Hasil telaah itu membuktikan bahwa keenam sajak tersebut merupakan mosaik, kutipan-kutipan, penyerapan, dan transformasi teks-teks kisah Nabi Ayub yang terdapat dalam Alkitab, Alquran, Cerita-cerita Alkitab Perjanjian Lama, dan Qishashul Anbiya. Dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan diperoleh makna bahwa kelima penyair sastra Indonesia tersebut secara kreatif estetis mentransformasikan kisah Nabi Ayub ke dalam ciptaan karya sajak yang bernilai sebagai teladan kesabaran dan ketabahan ketika menghadapi berbagai cobaan hidup yang dideritanya.
Abstract:
This paper intertextually examines six modern Indonesian poetries which contain about the Prophet Job, namely “Tafsir Ayub Sang Nabi” (Motinggo Busye), “Balada Nabi Ayub” (Taufiq Ismail), “Ini Terjadi Ketika Matahari Menggapai Sia-Sia” (Darmanto Jatman), “Doa Ayub” (Abdul Hadi W.M.), “Duka Ayub” (Emha Ainun Nadjib), and “Ayubkan Kesabaran” (Emha Ainun Nadjib). Based on the principle of intertextuality, the six modern Indonesian poetries are reviewed by comparing, aligning, and contrasting the transformation of a text with other texts to which it refers. The result proves that the six texts of modern Indonesian poetry are mosaic, quotations, absorptions, and transformation of texts contained the story of Prophet Job in the Bible, the Quran, Bible Stories Old Testament, and Qishashul Anbiya. By the way of comparison, alignment, and contrast, the analysis obtained the meaning that the five Indonesian poets creatively transformed the story of “Kisah Nabi Ayub” into the creation of poetries which are valuable as a paragon of patience and fortitude in the face of various trials of life suffered.
Key Words: intertextual; mosaics; quotes; absorption; transformatio
Inisiasi dalam Kisah Perjalanan Model Jawa
Tulisan ini bertujuan mengungkap inisiasi dalam kisah perjalanan model Ja- wa. Sebagai karya fiksi, kisah perjalanan model Jawa memendam dan menyiratkan tan- da-tanda yang berupa simbol-simbol yang harus diungkapkan kerumitan-kerumitan ni- lainya. Penelitian ini menggunakan teori semiotika. Teori semiotika menempatkan kar- ya sastra sebagai sistem tanda. Adapun metode yang dipergunakan adalah metode kuali- tatif. Data penelitian dikumpulkan melalui teknik studi pustaka. Dari hasil analisis dapat diungkapkan bahwa inisiasi dalam kisah perjalanan model Jawa dilakukan oleh tokoh cerita demi tujuan-tujuan tertentu yang berkaitan dengan pendewasaan dan pe- nyempurnaan diri selama hidup di dunia. Karya sastra Jawa genre kisah perjalanan mo- del Jawa ini mampu mentransformasikan budaya sastra Jawa yang lebih tua.
Abstract:
This paper aims to reveal initiation in Javanese model of travel writing. As fictional work, the travel writing in Javanese model contains and reflects signs in symbols that have to be revealed their detail values. The research was conducted using semiotics theory. The theory posits literary work as a sign symbol. The method conducted in this research was qualitative. The result shows that initiation in Javanese travel writing is conducted by those characters to perfect themself in living in the world. Javanese literary works in travel writing genre in Javanese model are able to transform older Javanese literary culture.
Key Words: literature; transformation; initiations; educative; religiou
Tingkat Resepsi Mahasiswa Fakultas Bahasa Dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Terhadap Budaya Eropa
Artikel ini bertujuan mendeskripsikan tingkat pemahaman dan tingkat apresiasi mahasiswa FBS UNY terhadap budaya Eropa pada awal abad ke-21. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa FBS UNY yang terdiri atas sebelas program studi pada tahun ajaran 2010/2011. Objek penelitiannya adalah aspek-aspek budaya Eropa. Teknik pengumpulan datanya dengan tes dan angket. Teknik analisis datanya dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman mahasiswa FBS UNY terhadap budaya Eropa abad ke-21 hanya sebesar 22,0%, sedangkan tingkat apresiasinya sebesar 37,5%. Berdasarkan rata-rata, diperoleh angka tingkat pemahaman dan tingkat apresiasi tersebut hanya sebesar 29,75%. Berdasarkan kajian resepsi sastra, tingkat pencapaian tersebut dapat ditelusuri lebih lanjut faktor -faktor penyebabnya. Meskipun demikian, tingkat pemahaman dan apresiasi yang rendah tersebut diperlukan suatu usaha guna lebih mengenalkan budaya Eropa kepada mahasiswa FBS UNY melalui rancangan model dan modul pembelajaran. Model dan modul pembelajaran tersebut tidak hanya pada pengenalan budaya Eropa, tetapi juga dalam rangka mengukuhkan nasionalisme generasi muda Indonesia.
Abstract:
This article aims to describe the level of understanding and appreciating of students in the Language and Art Faculty, Yogyakarta State University, to European culture in the beginning of 21st century. Subject of this research are students of Language and Art Faculty YSU that consist of eleven study programs in 2010/2011 academic year. The object of this research is European culture’s aspect. The data were collected by test and questionnaire. The data were analyzed by quantitative and qualitative technique. The result of the research indicates that the understanding level of students in the Language and Art Faculty, YSU, to European culture in the beginning 21st century is just 22.0%. The appreciating level is 37.5%. In average, the level of understanding and appreciating is just only 29.75%. This level is low. According to literature reception, that achievement could be examined some factors caused. In other side, to increase this level, it needs some efforts like learning model and module to introduce more on European culture to student of Language and Art Faculty, YSU. Learning model and module is not only to introduce European culture, but also to strengthen nationalism for Indonesian young generation.
Key Words: understanding level, appreciating level, European culture, sense of nationalis
Resepsi Estetis Pembaca Terhadap Novel Supernova Karya Dee
Tujuan umum penelitian ini adalah mendeskripsikan hasil resepsi pembaca terhadap novel Supernova. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori estetika resepsi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus. Metode penelitian menggunakan metode terbuka dan retrospektif. Data bersumber dari novel Supernova. Data utama berasal dari dokumen tertulis para kritikus sastra dan pembaca umum yang dimuat di internet. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, variabel pembaca berjumlah 79 orang dengan strata pendidikan paling banyak SMA dan S1. Jenis pekerjaan lebih banyak bekerja di bidang keterampilan daripada bidang keilmuan. Novel Supernova lebih diterima oleh pembaca yang berpendidikan SMA dan S1 dengan pekerjaan di bidang keterampilan. Kedua, unsur tekstual yang khas yang paling menentukan resepsi pembaca terutama pola pengaruh sains yang dianggap memberikan angin segar bagi khazanah kesusatraan Indonesia. Unsur tekstual lainnya kurang mendapatkan resepsi yang baik, misalnya unsur tokoh yang tidak digarap secara mendalam, alur yang meloncat-loncat, serta bahasa yang rumit dan sulit dipahami.
Abstract:
The general aim of this study is to describe reader reception to the novel Supernova. Research method used in this study is qualitative method because this method is appropriate with the characteristics of this research which produces written data from its study subject. The method used is of open and retrospective type. The data are from the novel Supernova with the main data taken from written documents from literary critics and general readers that have been published in the internet. The findings of this research indicate, firstly, that the readers are varying; they consists of 79 readers with the majority educational background of senior high school and college. In terms of profession, more come from vocational field than from academic field. The novel Supernova are more highly received by the readers with senior high school and college background with the work in vocational field. Secondly, it is found that the textual aspect of the novel pertaining to the scientific topic is the part that gets most of the receptions from the readers. This has some impact on the reception of the other elements of the novel like characters which is said to be not so much refined, the plot to leap up and down, and the language to be delicate and difficult to understand.
Key Words: reader reception, literary text, reader variable, text element
Eksploitasi Concubinage dan Subjek Subaltern: Hegemoni atas Perempuan Indonesia dalam Tinjauan Kritis Pascakolonial dan Feminisme Novel De Winst Karya Afifah Afra
Tulisan ini membahas praktik kolonialisasi Belanda yang mengakibatkan terjadinya bias ketidakadilan gender terhadap posisi perempuan Indonesia dalam novel De Winst karya Afifah Afra. Bias ketidakadilan gender ini tercermin dari adanya eksploitasi secara seksual terhadap kaum perempuan dengan menjadikan mereka sebagai concubinage atau gundik dan menjadi subjek subaltern akibat praktikal hegemoni kekuasaan kaum laki-laki kulit putih kolonial Belanda. Melalui pendekatan teori pascakolonial dan ragam kritik sastra feminisme pascakolonial diperoleh suatu pemahaman bahwa kaum perempuan pada masa kolonial menjadi subjek yang termarginalkan, baik secara seksual maupun sosial. Kaum perempuan tidak memiliki bargaining power dalam ranah hukum untuk menuntut adanya pengakuan sebagai istri yang sah dan memiliki kedudukan yang terhormat, bukan menjadi korban dominasi kekuasaan laki-laki atas tubuh, baik secara seksual maupun tenaga untuk urusan domestik rumah tangga (double burden), termasuk juga stereotipe negatif yang cenderung merendahkan harkat dan martabatnya sebagai perempuan.
Abstract :
This paper discusses the practice of Dutch colonization which resulted in a gender injustice bias toward the position of Indonesian women in the novel De Winst author by Afifah Afra. This is reflected from the practical sexual exploitation against women by making them as concubines (concubinage) or “wives” who are actually represented as a concubine because of no formal “diperistri” by white people and become the subject of subaltern or oppressed because of the practical power of the male hegemony white man of Dutch colonial. Through a variety of postcolonial theory and postcolonial feminist literary criticism, the analysis gained an understanding that women in the colonial period became the subject of both sexually marginalized and social. These women had no bargaining power in the realm of law to demand the recognition of the legitimate as a wife and a respectable position, not a victim of male domination of power over the body, either sexual or domestic labor for their household affairs (double burden ), including negative stereotypes that tend to lower their dignity as women.
Key Words: concubinage; subaltern; colonialism; theory of postcolonialism; postcolonial feminist literary of critic