Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Representasi Ketidakadilan Gender Dalam Cerita Dari Blora Karya Pramoedya Ananta Toer: Kajian Feminisme
Ketidakadilan gender yang dialami oleh perempuan tergambar dalam karya sastra, tidak saja yang dikarang oleh perempuan, tetapi juga karya sastra yang dikarang oleh pengarang lakilaki. Dalam Cerita dari Blora karya Pramoedya Ananta Toer, ketidakadilan gender itu sangat terlihat yang meliputi; marginalisasi, subordinasi, stereotip, dan kekerasan. Dalam Cerita dari Blora karya Pramoedya Ananta Toer, ketidakadilan gender berupa beban kerja ganda tidak ditemukan. Hal ini disebabkan oleh belum banyaknya kaum perempuan yang berkiprah di dunia publik pada masa cerita ini dibuat, artinya belum banyak perempuan yang mempunyai pendidikan yang memadai sehingga layak dipekerjakan di luar rumah tangga. Oleh karena itu, tidak ada perempuan yang digambarkan memegang peran ganda, baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai pekerja (wanita karier).
Abstract:
Gender inequality experienced by women is reflected in literary works, not only those written by women writer but also those written by men writer. In Pramoedya Ananta Toer’s Cerita Dari Blora, gender inequalities are very clearly seen; those are marginalization, subordination, stereotype, and cruelty. However, doubleworking load is not found in this novel. It means that only few women working in the public world when this story was made. Also, those who were educated women were still rare so that they just hold the role of housekeeper. Therefore, there is no woman holding double role both as a housewife and a career woman.
Key Words: gender inequality, marginalization, subordination, stereotype, cruelt
Iluminasi Dan Ilustrasi Naskah Jawa Di Perpustakaan Sana Pustaka Karaton Surakarta (Sebuah Kajian Kodikologis)
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi iluminasi dan ilustrasi di dalam naskah Jawa di Perpustakaan Sana Pustaka Karaton Surakarta dan mendeskripsikan bentukbentuknya. Data dikumpulkan dengan teknik analisis isi, fotografi, dan wawancara. Dari 700 naskah, terdapat 48 judul naskah yang mengandung iluminasi maupun ilustrasi dalam berbagai bentuk motif. Ada 15 naskah beriluminasi, 22 naskah berilustrasi, dan 11 naskah yang mengandung iluminasi dan ilustrasi. Berdasarkan fungsinya, iluminasi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: iluminasi sebagai bingkai teks, iluminasi sebagai pembatas teks, dan iluminasi sebagai hiasan teks. Bentuk ilustrasi dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa macam, yaitu duwung, kuluk, senjata, wayang, bendera, songsong, konstruksi kerangka rumah, dan kampuh. Adapun bentuk gabungan antara iluminasi dan ilustrasi berupa bentuk wayang, mahkota, senjata, dedaunan dan bungabungaan, bangunan rumah, serta mobil.
Abstract:
This research aims to identify illumination and illustration contained in the Javanese manuscripts in the Sana Pustaka Karaton Surakarta library and describe the form of them. The data collected through content analysis, photography, and interview. Among 700 manuscripts, there are 48 titles containing illumination and illustration in many forms and motifs. There are 15 manuscript illuminated, 22 manuscript illustrated, and 11 manuscript are the combination of illumination and illustration. According to the function, there are 3 classification of illuminations:
1) illumination as a text frame. 2) illumination as a text barrier, and 3) illumination as a text ornament. The form of Illustration can be classified into several types, namely duwung, kuluk, weapon, puppet, flag, songsong, construction of house structure, and kampuh. The combination form of illumination and illustration has the shape of puppet, thrown, weapon, foliage and flower, car, and house construction.
Key Words: Javanese manuscript, illumination, illustratio
Citra Perempuan Jawa Dalam Cerita Pendek Majalah Berbahasa Jawa
Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan citra perempuan Jawa dalam cerita pendek ma jalah berbahasa Jawa dengan pendekatan feminis. Sumber data yang digunakan dipilih secara purposive, yaitu cerita pendek yang menokohkan perempuan dan membicarakan persoalan perempuan dalam majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat yang terbit setelah bergulirnya reformasi tahun 1998. Pemilihan terbitan sejak tahun 1998 karena sejak itulah terjadi perubahan sosial budaya yang cukup signifikan di Indonesia. Penelitian ini menghasilkan temuan sebagai berikut. Majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat yang terbit di era reformasi menampilkan citra perempuan aktif, citra perempuan pelawan, citra perempuan materialis, citra perempuan korban, dan citra perempuan penggerak pembangunan.
Abstract:
The aim of this paper is to describe Javanese women image in the short story of Javanese magazines using feminist approach. The source of data used are purposively selected, those are short stories characterizing woman and discussing the woman issues in the Javanese magazine Panjebar Semangat published after the reformation in 1998. Publication since 1998 was selected because, in Indonesia, it was the period that the significant socialcultural change took place. The study found the following findings. Javanese magazine, Panjebar Semangat, published in the reformation era showed the image of active women, rebellion women, materialistic women, victim women, and the image of development mover.
Key Words: image, Javanese women, feminis
Fluiditas Antara Maskulinitas Dan Femininitas: Representasi Waria Dalam Film Dokumenter Dan Fiksi
Dunia Waria menjadi salah satu tema yang muncul dalam perkembangan film Indonesia pasca Orde Baru. Penelitian ini mengkaji dua film dokumenter dan sebuah film fiksi yaitu Betty Bencong Slebor karya Benyamin Sueb (1978) serta dua film dokumenter RenitaRenita karya Tony Trimarsanto (2006) dan Ngudal Piwulang Wandu karya Kukuh Yudha Karnanta (2009). Meng gunakan metode penelitian kualitatif dan teori queer dalam membaca media film, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari ketiga film tersebut terlihat perbedaan dalam memaknai tubuh dan gender. Tokoh Sholeh dalam Ngudal Piwulang Wandu berharap suatu hari nanti kembali menjadi lanang sejati, menikah secara heteroseksual dan memiliki anak. Renita membayangkan tubuh dan identitas gender sebagai perempuan sempurna, sedangkan Betty terlihat menikmati interplay antara tubuh feminine dan maskulinnya. Tubuh dalam konteks ini dapat dilihat sebagai suatu con tinuum, perpaduan antara femininitas dan maskulinitas, bukan suatu entitas yang statis. Perbe daan ketiga tokoh utama dalam memandang tubuh, seksualitas, dan gender mereka juga mere fleksikan bahwa tidak ada identitas dan entitas tunggal dari waria.
Abstract:
The growing visibility of waria/male to female transgender has become one of the do dominant features in Indonesia’s contemporary film industry. The research examines three waria films: Tony Trimarsanto’s RenitaRenita (2006), Kukuh Yudha Karnanta’s Ngudal Piwulang Wan du (2009), and Benyamin Sueb’s Betty Bencong Slebor (1978). Two basic research questions are, firstly: how is the fluidity of masculinity and femininity represented; secondly how do the waria perceive themselves (selfidentity) in a heterosexual culture. Queer film theory will be used in analyzing the film diegesis. The research finds the fluidity and continuum of the waria main characters in defining the meaning of the self and their bodies. This fluidity offers a playful negotiation to the essentialist concept of gender binary system.
Key Words: waria, film, gender identit
Pernyaian Dalam Masyarakat Tionghoa: Refleksi Dalam Sastra Peranakan Tionghoa
Tulisan ini bertujuan melihat dinamika pemikiran atau pandangan pengarang peranakan Tionghoa tentang pernyaian. Pernyaian telah menjadi kebiasaan atau budaya pada masa kolonial di Indonesia. Baik golongan Eropa maupun Tionghoa menerima praktik budaya ini. Para intelektual peranakan Tionghoa memiliki perbedaan pandangan dan pemikiran terhadap praktik ini. Mereka menulis banyak buku seperti karya sastra dalam menghadapi realitas ini. Menurut pandangan Dilthey, karya sastra adalah pemikiran yang diobjektifkan. Pandangan pragmatisme mengatakan bahwa karya sastra adalah hasil tindakan berpikir para pengarangnya. Pernyaian dalam masyarakat Tionghoa mengalami perubahan makna dari praktik yang “dilegalkan” menja di praktik yang “tidak bermoral” karena terjadi perubahan dalam memandang hubungan dalam keluarga dan nilainilai sosial yang baru.
Abstract:
This paper aims to see the dynamics of mind or worldview of Indonesian Chinese author on concubinage. The concubinage had become a habit or culture in the Indonesia colonial era. Both European and Indonesian Chinese people considered accepting this practices. Many Indonesian Chinese intellectual had different impression or opinion about this immoral practices. They wrote many books, e.g. literary works, about this corrupt attitude. Their ideas had given evidence about their intellectual history which based on mind. According to Dilthey, literary works can be considered as the objective mind. Based on pragmatic tradition, literary works result from the author’s action of thinking. Concubinage exercised by Indonesian Chinese had developed into a new worldview. It is influenced by the new paradigm which considers the family relationship and creating new social value.
Key Words: literary works, objective mind, concubinage
Surabaya Dalam Antologi Puisi Siti Surabaya Dan Kisah Para Pendatang
Antologi puisi Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang hadir dalam kapasitasnya untuk merepresentasikan kota Surabaya. Kota Surabaya dihadirkan sebagai latar peristiwa, melalui ruang-ruang yang merujuk pada keberadaan kota, sebagai tawaran yang menghadirkan konstruksi sosial Surabaya. Konstruksi sosial Surabaya dalam Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang merupakan decentering yang mengarah pada pola konstruksi dengan titik tolak masyarakat pinggiran kota Surabaya. Decentering yang mengindikasikan upaya penghilangan konstruksi kota sebagai pusat kemajuan, digeser oleh keberadaan masyarakat pinggiran dengan segala kompleksitas pe ristiwa yang dilekatkan pada penghadiran tersebut, kemiskinan dan penggusuran. Pola decentering yang dilakukan oleh antologi puisi Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang merupakan pertarungan untuk melihat kembali hierarki antara konsep rural dengan konsep urban.
Abstract:
Anthology of poetry Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang is present in its capacity to represent the city of Surabaya. Surabaya city was presented as the background of events, through the spaces referring to the existence of the city, as an offer presenting the social construction of Surabaya. The social construction of Surabaya in Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang is a decentering leading to the construction pattern with a starting point of the suburban community of the city of Surabaya. Decentering indicating the efforts of removing the city construction as the central of progress is moved by the presence of the suburban with all the complexity of events em bedded in the representation, poverty and eviction. The decentering pattern made by the anthology of poetry Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang was a battle to see again the hierarchy between the rural and urban concept.
Key Words: representation, Surabaya, deconstruction, rural, urban, suburban, decentering
Mitos, Masyarakat Adat, Dan Pelestarian Hutan
Penelitian ini bertujuan (1) mengidentifikasi mitos yang diyakini masyarakat adat sekitar kawasan hutan lindung Baluran dan Gilimanuk, (2) mengkaji fungsi sosial mitos yang diyakini masyarakat adat kawasan hutan Baluran dan Gilimanuk dalam pelestarian hutan, dan (3) merumuskan model pelestarian hutan yang berbasis mitos (kearifan lokal). Dalam penelitian ini, digunakan pendekatan sosiologi sastra yang dipertajam dengan pendekatan etnografis; dengan memanfaatkan data penelitian mitos yang hidup dalam masyarakat adat sekitar kawasan hutan lindung Baluran dan Gilimanuk beserta masyarakat pendukungnya. Adapun model analisisnya adalah kualitatif deskriptif. Temuan penelitian ini sebagai berikut. Pertama, dalam masyarakat adat kawasan hutan Baluran dan Gilimanuk, terdapat mitosmitos yang masih diyakini masyarakatnya. Kedua, mitos memiliki fungsi sosial bagi masyarakat adat karena dapat menggerakkan tindakan sosial masyarakatnya untuk melakukan pelestarian hutan. Ketiga, model yang ditawarkan adalah model pelestarian hutan yang berbasis keyakinan masyarakat pada mitos (dengan nilainilai kearifan lokal).
Abstract:
This research aims to (1) identify the myth believed by indigenous people living around protected forests of Baluran and Gilimanuk, (2) study the social function of myth believed by indigenous people of Baluran and Gilimanuk forest areas in terms of forest conservation, and (3) formulate a model of forest conservation based on myth (local wisdom). This research uses the approach of sociology of literature, perfected by ethnographic approach. The data are the myths existing among indigenous people living around the protected forests of Baluran and Gilimanuk along with the supporting community. The analysis model is descriptive qualitatative. The research has found three findings. First, among the indigenous people in the area of Baluran and Gilimanuk forest, there are myths which are still believed by the community. Second, myth has social functions for indigenous people for its ability to encourage social actions of the community to manage forest conservation. Third, the proposed model is forest conservation model based on the community’s belief in myths (along with the local wisdom values).
Key Words: myth (local wisdom values), indigenous people, forest conservatio
Dukungan Tokoh LakiLaki Terhadap Feminisme Dalam Fiksi Jawa Modern Bertema Kekerasan
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan sikap tokoh lakilaki terhadap kekerasan yang menimpa perempuan. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan teori New Historicism, sebuah teori yang memiliki anggapan adanya hubungan timbal balik antara teks dan konteks sastra, mengungkap permasalahan sampai ke akarnya, dan memberikan perhatian kepada kelompok yang termarjinalkan, salah satunya perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah karya sastra Jawa modern berbentuk novel dan cerita bersambung yang terbit tahun 2001—2010. Data penelitian ada dua jenis, yaitu primer dan sekunder, yakni teks dan konteks. Analisis data menggunakan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para tokoh lakilaki mendukung dikukuhkannya ideologi feminisme. Para tokoh lakilaki membantu tokohtokoh perempuan untuk lepas dari kekerasan. Bahkan, para tokoh lakilaki juga membantu para perempuan untuk memulai hidup mandiri. Di akhir cerita, empat tokoh lelaki dalam empat dari enam cerita, menikahi tokohtokoh perempuan yang berhasil lepas dari kekerasan.
Abstract:
The purpose of this research is to describe male character’s attitude toward violence which happen to women. In achieving that purpose, this research uses New Historicism theory, a theory which has a belief that there is a reciprocal relationship between text and literature context, reveals the base of the matter, and gives attention to marginal groups, one of them is woman. This research is a qualitative one. The sources of data are modern Javanese literary works in the form of novels and serials published in 2001—2010. There are two kinds of research data, primary and secondary; text is the primary data, whereas context is the secondary one. The data analysis uses content analysis. The result of research shows that the male characters in six stories support feminism ideology. The male characters help women released from violence. Moreover, the male characters also help women to begin to live independently. In the end of the stories, four male characters in four stories of six stories, married the female characters who got released from violence.
Key Words: released from violence, independent, get marrie
Corak Feminisme Dua Sajak Penyair Laki-Laki
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan ketersebaran gagasan feminisme, yakni apakah gagasan tersebut juga menjangkau kaum lelaki? Penelitian ini menggunakan teori feminisme dan berpijak pada data berupa dua sajak yang ditulis penyair lakilaki, yakni sajak “Adam di Firdaus” karya Subagio Sastrowardojo dan sajak “Perempuan” karya Emha Ainun Nadjib. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa corak feminisme dalam puisi tidak hanya didominasi oleh penyair perempuan. Beberapa sajak yang ditulis oleh penyair lakilaki seperti Subagio Sastrowardojo dengan sajaknya "Adam di Firdaus" dan Emha Ainun Nadjib dengan sajaknya "Perempuan" juga menunjukkan gagasan feminisme. Namun, berbeda dengan sajak feminis yang ditulis oleh penyair perempuan yang umumnya menghadirkan perempuan sebagai korban ideologi gender, dalam sajak feminis yang ditulis oleh penyair lakilaki kesadaran feminisme dan kesetaraan gender baru muncul setelah perempuan direpresentasikan sebagai korban ideologi gender.
Abstract:
The purpose of this study is to determine the spreads of the idea of feminism, i.e., whether the idea will also reach out to the men. This study uses feminist theory and is based on the data in the forms of two poems written by two male poets, "Adam di Firdaus” by Subagio Sastrowardojo and "Perempuan” by Emha Ainun Nadjib. The result shows that the colour of feminism in poetry is not dominated by female poets. Some poetries written by male poets such as Subagio Sastrowardojo with his poem "Adam di Firdaus" and Emha Ainun Nadjib with his poem "Perempuan" also show the idea of feminism. However, different from poetries of feminism written by female poets which commonly represents woman as a victim of gender ideology, in poetries of feminism written by male poets, the awareness of feminism and gender equality appear after the woman is represented as a victim of gender ideology.
Key Words: the victim of gender ideology, feminism, gender equalit
Aspek Religiositas Dalam Dua Novel EricEmmanuel Schmitt: Monsieur Ibrahim And The Flowers Of The Koran Dan Oscar And The Lady In Pink
Tema religiositas merupakan sesuatu yang lazim muncul dalam karya sastra, mengngat kedekatannya dengan masalah filsafat. Bersikap religius intinya adalah berserah diri pada kekuatan yang lebih besar untuk mencapai kebahagiaan yang sifatnya pribadi. Berbicara mengenai religiositas tidak selalu harus dikaitkan dengan agama tertentu. Namun, melalui nilainilai yang diajarkan masingmasing agama akan terefleksikan nilainilai kemanusiaan yang universal yakni cinta, kasih sayang, dan misteri hidup. Aspek religiositas yang universal itulah yang dijadikan inti pembahasan tulisan ini melalui kajian interteks dua karya EricEmmanuel Schmitt: Monsieur Ibrahim and the Flowers of the Koran dan Oscar and the Lady in Pink.
Abstract:
The theme of religiosity is something that commonly appears in literature, given its proximity to the problems of philosophy. Being religious is essentially surrender to a greater power to achieve happiness which is private in nature. To speak about religiosity is not necessarily associated with any particular religion. But through the values that are taught in each religion, the values of humanity, that is universal love, compassion, and the mystery of life, will be reflected. It is the universal aspect of religiosity that will be the core of the discussion of this paper through intertextual study of two works of EricEmmanuel Schmitt: Monsieur Ibrahim and the Flowers of the Koran and Oscar and the Lady in Pink.
Key Words: religiosity, religion, happiness, mystery, intertextua