Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Proses Kondensasi Imaji dan Pengalihan Mimpi dalam Dongeng Nenek Pakande
Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap proses kondensasi imaji dan pengalihan mimpi dalam dongeng Nenek Pakande (NP) berdasarkan teori psikoanalisis Freud. Pengumpulan data di lakukan secara dokumentatif atas cerita‐cerita tentang NP, yaitu melalui teknik pembacaan, analisis teks, dan teknik elisitasi. Berdasarkan hal tersebut ditemukan bahwa gejala kondensasi dan pengalihan mimpi dalam cerita NP adalah melalui usaha penciptaan tokoh‐tokohnya dan berdasarkan realita yang kemudian diimajinasikan. Proses tersebut melahirkan citraan tentang kemampuan akal tokoh anak kecil dengan segala usahanya untuk menaklukkan NP (raksasa). Selain itu, citra ibu tiri telah terkondensasi lewat imajinasi yang menakutkan bagi sang anak tiri linear dengan sifat‐sifat buruk dan eksistensi supranatural NP yang mengendap dalam alam imajinasi.
Abstract:
This paper attempts to describe the process of condensation of reality and its imagination found in the fairy tale Nenek Pakande. This paper aims to reveal the image of the NP condensation process by Freud's psychoanalytic theory. The data was collected through the documentation on the stories of NP by reading techniques, text analysis, and elicitation techniques. Based on them, it is found that the symptoms of NP condensation in the story is through the characters venture creation and, based on what is true in reality, then imagined. It gives birth to images of a child's way of thinking and his efforts to conquer NP. In addition, the image of stepmothers has condensed through a frightening image to his stepson, and of the NP’s vices and supernatural existence living in an imagination.
Key Words: Freud’s psychoanalysis, condensation, imagination, fable
Sketsa Karya Ari Nur Utami: Arsitektur Urban dalam Perspektif Ekokritisisme
Kota adalah ruang kompleks bagi siapa pun yang berada di dalamnya. Saat ini, penghuni ruang kota terancam oleh menurunnya kualitas ekologis kota akibat pembangunan gedung, berbagai fasilitas. dan infrastruktur kota yang masif. Salah satu novel yang memotret eksploitasi ekologi kota tersebut adalah Sketsa karya Ari Nur Utami. Sebagai novel berlatar belakang arsitektur, Sketsa menceritakan pembangunan gedung di Jakarta oleh pengembang bernama PT Semesta Sentosa. Menggunakan teori ekokritisisme, fokus diskusi dalam artikel ini adalah cara penulis memasukkan nilai dan asumsi ekokritik dalam arsitektur urban di novel Sketsa. Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan dominasi pandangan antroposentris individu terhadap alam. Melalui metode kualitatifdeskriptif dengan melakukan closereading, hasil pembahasan menunjukkan bahwa pembangunan di Jakarta dengan berbagai proyek arsitektur urbannya masih mengabaikan kelestarian lingkungan. Ketidakpedulian terhadap lingkungan ini dapat dilihat dari orientasi etis dan linguistik antroposentris yang dipilih demi mendapatkan keuntungan besar dalam bisnis properti di Jakarta.
Abstract:
City is a space that contains complexities for anyone being part of it. Nowadays, people are threatened by the ecologically degrading city as the result of the massive development of buildings and other city’s facilities and infrastructures. A novel portraying the issues of ecological exploitation is Ari Nur Utami’s Sketsa. Being claimed as an architectural background novel, Sketsa portrays the development of buildings in Jakarta by a property developer named PT Semesta Sentosa. By applying ecocriticism theory, one point discussed in this article is how the author imputes certain ecocritical values and assumptions in presenting the urban architecture in Sketsa. The objective of this research is to elaborate the domination of anthropocentric perspective over nature. Through the qualitativedescriptive method, it is found that the development of Jakarta as an urban space is still far from ecocritical considerations. This can be seen from ethical orientation and anthropocentric linguistic chosen for the benefits of property business in Jakarta.
Key Words: urban; architecture; ecocriticis
Perempuan dengan Segala Luka dalam Kumpulan Cerpen Suatu Hari Bukan di Hari Minggu
Empat belas cerpen Yetti A. Ka yang terangkum dalam Satu Hari Bukan di Hari Minggu menghadirkan realita perempuan yang terluka dan kecewa meskipun mereka hidup secara bebas. Oleh sebab itu, masalah penulisan ini adalah bagaimana bentuk penggambaran Yetti A. Ka mengenai para perempuan dan segala luka yang mereka miliki dalam kumpulan cerpen tersebut? Melalui pendekatan feminisme, dapat disimpulkan bahwa perempuan yang disajikan pengarang ini sesungguhnya merasa terikat oleh budaya patriarki. Akan tetapi, dengan segala kebebasan yang mereka miliki, mereka tetap memilih menjadi perempuan dalam lingkaran patriarki tersebut meskipun dengan membawa luka yang tidak pernah usai.
Abstract:
Yetti A. Ka’s fourteen short stories compiled in Suatu Hari Bukan di Hari Minggu collection represent the reality of women who were hurt and disappointed, although they had a free life. Therefore, the problem of this article is formulated as follows: how is the shape of Yetti A. Ka’s depiction on the women and all the injuries they have in the short story collection? Through the perspective of feminism, it can be concluded that the women presented by the author actually feel bound by a patriarchal culture. However, with all the freedom they have, they still choose to be a woman in a patriarchal circle, although with a wound that never ends.
Key Words: short story collection, the perspective of feminism, women's injur
Marginalisasi Profesi Dukun Bayi dalam Puisi “NiniNini Dukun Bayi” Karya Iman Budhi Santosa
Tujuan kajian ini adalah mengungkapkan (1) makna referensial puisi “Nini-Nini Dukun Bayi”; (2) ungramatikalitas, makna simbolik, dan pasangan oposisi puisi tersebut. Kajian ini menggunakan teori semiotikstruktural Riffaterre. Metode yang dipergunakan dalam penelitian adalah telaah kepustakaan. Sifat puisi mengungkapkan sesuatu dengan tidak langsung karena puisi mempunyai dua lapis makna (makna referensial dan makna semiotik). Dari analisis data ditemukan (1) makna referensial puisi “Nini-Nini Dukun Bayi” yang mengungkapkan terpinggirnya profesi dukun bayi oleh bidan; (2) ungramatikalitas, makna simbolik, dan pasangan oposisi puisi “NiniNini Dukun Bayi” dalam persoalan kemodernan dan ketradisionalan.
Abstract:
This research aims to reveal (1) referential meaning of a poem entitled “Nini-Nini Dukun Bayi”; (2) ungrammaticality, symbolic meaning, and opposition pairs of the poem. Semiotic structural theory of Riffaterre and library research method are conducted in this research. Poetry has an indirect expression with two layers meaning (referential and semiotic). The analysis shows (1) referential meaning of “Nini-Nini Dukun Bayi” poem that illustrates marginalization of dukun bayi ‘traditional midwife’ by bidan ‘midwife; (2) ungrammaticality, symbolic meaning, and opposition pairs of “NiniNini Dukun Bayi” in modernity and traditional matters.
Key Words: semiotic, marginal, traditional, modern, nini dukun bay
Arok Dedes dan Pararaton: Transformasi Dan Dinamika Sastra dalam Wacana Globalisasi Sastra
Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer (1999) merupakan sebuah potret dinamika sastra sebagai akibat transformasinya dari karya terdahulu, yaitu Pararaton karya sastra Jawa Kuna yang termashur. Novel Arok Dedes, dalam hal relevansinya dengan konteks sejarah pun, merupakan suatu gejala sastra yang dinamis sebab dinamika sastra tidak terlepas dari sejarah. Dalam novel Arok Dedes, lewat kepiawaian dan proses kreatifnya, Pramoedya Ananta Toer berusaha mengungkapkan kembali peristiwa pada abad ke-13 sebagai sebuah sindiran untuk peristiwa masa kini, khususnya pada abad 20-an. Arok Dedes mengisahkan perebutan kekuasaan pertama dalam sejarah bangsa Indonesia, yang konon merupakan pengulangan peristiwa masa lalu. Pramoedya Ananta Toer sebagai pengarang Arok Dedes cukup berhasil dalam mengangkat ’mitos’ Dedes dan mengungkapkannya dalam wacana globalisasi. Peran Dedes cukup menonjol dalam percaturan politik, kekuasaan, dan negara sebab Dedeslah penyusun strategi pemindahan kekuasaan dari suaminya (Tunggul Ametung) ke tangan Arok. Mitos tentang Ken Dedes yang memiliki kharisma ’kebesaran’ atau ’prabawa’ (kewibawaan) yang digali oleh Pramoedya Ananta Toer dari Pararaton ini menjadikan Arok Dedes sebagai karya sastra modern yang patut disimak, khususnya dalam wacana globalisasi sekarang ini. Dedes, sebagai sosok perempuan, berkaitan dengan kekuasaan, politik, dan kenegaraan.
Abstract:
Pramoedya Ananta Toer’s Arok Dedes (1999) is a portrait of literary dynamics as the result of its transformation from the previous work, namely Pararatonan outstanding literary work of old Java. The novel of Arok Dedes, in its relevance with historical context, means a dynamic literary phenomenon because the literary dynamics cannot be separated from history. In the novel Arok Dedes, through his creative sophistication and process, Pramoedya Ananta Tour attempted to retell the 13th century of the event as a satire on present events, especially in the 20th century. Arok Dedes narrated the struggle for the first power in Indonesian history, which is a repetition of preceding events. Pramoedya Ananta Tour, as the author of Arok Dedes, was successful enough in presenting Dedes’ myth and expressing it in globalization discourses. The role of Dedes was noteworthy in the political domain, power, and state because Dedes was the mastermind of power transfer from her husband (Tunggul Ametung) to Arok. The myth of Ken Dedes having prestige or wisdom dug by Pramoedya Ananta Tour from Pararaton makes Arok Dedes a significant modern literary work, particularly in the current globalization discourses. Dedes, as woman figure, was related to power, politics, and state.
Key Words: transformation, discourse, globalizatio
Kecemasan Tokoh Utama Novel Orang Miskin Dilarang Sekolah Karya Wiwid Prasetyo (Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud)
Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan kecemasan realitas, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral yang dialami tokoh utama dalam novel Orang Miskin Dilarang Sekolah karya Wiwid Prasetyo. Hasil dan analisis dengan psikoanalisis Sigmund Freud ini menunjukkan bahwa kecemasan realitas bersumber dari ancaman yang berasal dari lingkungan sekitar dan orang terdekat. Kecemasan ini dialami Faisal saat akrab dengan Pambudi, Pepeng, dan Yudi. Kecemasan neurotik, kecemasan tokoh utama saat mengalami perasaan terancam dan merasa tidak tenang, terjadi ketika Faisal takut melihat teman‐temannya tidak memiliki masa depan, terpuruk, dan terbelakang oleh kehidupan realita. Perasaan ini juga terjadi pada Ustadz, termasuk saat kejadian‐kejadian yang terjadi di Gedong Sapi. Kecemasan moral yang dialami Faisal adalah ketika Faisal mengalami perasaan bersalah dan berdosa karena tindakan yang ia lakukan. Perasaan bersalah juga dialami Faisal ketika ia salah memandang cara mengajar guru mengajinya yang menggunakan rotan, yang sesungguhnya merupakan cara efektif agar cepat bisa membaca Alquran.
Abstract:
The main purpose in this study is to describe the reality, the neurotic, and the moral anxiety in the main character of Wiwid Prasetyo’s novel Orang Miskin Dilarang Sekolah. The analysis result through Freud’s psychoanalysis is that the main character’s anxiety has come from its environment where he lives in. This anxiety happens to Faisal when he has a close relationship with Pambudi, Pepeng, and Yudi. The neurotic anxiety happens to the main character. Faisal feels threatened and uncomfortable when he feels afraid that his friends will not have any future, feel bad and be left behind by their reality. This feeling also happens to Ustadz, including during the events happening at Gedong Sapi. The moral anxiety happens to Faisal when he feels bad and sinful by what he has done and his attitudes. He also feels bad when he sees how his ustadz teaches the student by hitting them with rattan, that is actually an effective way to be proficient in reading the Koran.
Key Words: reality anxiety; neurotic anxiety; moral anxiety; Freud’s psychoanalysi
Queering The Construction Of Gender Identity In Chris Columbus’ Movie Mrs. Doubtfire
The construction of traditional gender roles has affected the understanding of being feminine and masculine. This understanding seems to influence gender performance in the film Mrs. Doubtfire. This onehourandfiftysevenminute film was directed by Chris Columbus. This study is conducted to examine how gender performativity is illustrated in the film and what ideology lies within the film. Queer theory, especially gender performativity by Judith Butler is used as the framework of the study. The study is done by observing and analysing chosen scenes from the film focusing on the performance of Daniel Hillard as Euphegenia Doubtfire. Narrative aspect of the film is not only the main concern; the nonnarrative is also part of the analysis especially on costume, makeup, performance and color. The main finding of this study is this film in one hand celebrates traditional gender roles but on the other hand promotes gender as performance. Femininity is pictured as fluid. Therefore, it is also a performativity. The contestation between those two opposing ideas is smoothly wrapped through amusing film such as Mrs. Doubtfire.
Abstrak:
Film Mrs. Doubtfire karya Chris Columbus menampilkan konstruksi yang berbeda dengan konstruksi peran gender yang telah menjadi mainstream. Berdurasi 1 jam dan 57 menit, film ini menampilkan konstruksi maskulinitas dan femininitas yang dapat saling bertukar, cair, dan tidak baku. Studi ini mengkaji dua pertanyaan utama. Pertama, bagaimana konstruksi peran gender digugat melalui performativitas gender? Kedua, ideologi apa yang terdapat dalam film? Teori Queer terutama gender performativitas yang dikemukakan oleh Judith Butler menjadi kerangka penelitian ini. Penelitian ini dilakukan dengan mengobservasi dan menganalisis adegan terpilih dengan berfokus pada penampilan Daniel Hillard sebagai Euphegenia Doubtfire. Aspek naratif dalam film bukan satusatunya perhatian utama. Aspek nonnaratif juga menjadi bagian analisis kostum, tata rias, penampilan, dan warna. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film ini pada satu sisi mengonfirmasi peran gender yang tradisional, tetapi di lain pihak juga mencoba menawarkan performativitas gender. Ideologi film ini menggambarkan femininitas sebagai sesuatu yang cair sehingga femininitas juga sesuatu yang sifatnya performativitas. Kontestasi antara kedua hal tersebut disajikan dengan menarik dalam film Mrs. Doubtfire.
KataKata Kunci: konstruksi gender; performativitas gende; teori quee
The Semitization Of Itihasa: Intertextuality Of The Mahabharata and The Ramayana In The Judaeo‐Islamic Texts
Abstract:
This article is an intertextual study of Judaeo‐Islamic texts with the Itihasa. This research explores the discourse of Semitic and Aryan texts already canonized in cultural artifacts of Abrahamic and Brahmanic traditions which require a parallelization of substantive messages. It is not only depending on comparative linguistic similarities but also referring to the common theological formula surrounding the text in a chain of traditions which created the text. The text cannot be regarded as an independent text but have to be understood through the process of ‘reading’ in a context that can be ascertained to have a close relationship with other texts. It exists as a weave of discourses which are surrounding the text through the process of adoption, adaptation, and reformulation of the text that has been established in the context of a sequence of tradition inheritance. The study of cultural semiotics readable through the text is not intended to vulgarly expose the text that deviates from the hiperreality context of the text an sich. Instead, it aims to explain the ‘marker’ in the text across boundaries of times, geographies, languages, and common traditions through the system of transmission. This article uses a semiotic theory proposed by Julia Kristeva.
Abstrak:
Tulisan ini merupakan studi intertekstualitas teks Judaeo‐Islam dengan teks Itihasa. Penelitian ini mengeksplorasi wacana teks rumpun Semit dan Arya yang terekam dalam artefak kebudayaan bertradisi Abrahamik dan Brahmanik yang meniscayakan pararelisasi pesan substantif. Pararelisasi pesan tidak hanya berpijak pada latar similaritas linguistik tetapi juga merujuk pada kesejajaran formula teologis yang melingkupi teks dalam rentetan tradisi yang melahirkan teksnya. Teks tidak dapat dipandang sebagai sebuah teks yang independen, tetapi harus dipahami melalui proses ‘pembacaan’ dalam konteksnya yang dapat dipastikan berkaitan erat dengan teks liyan. Teks hadir sebagai sebuah tenunan wacana yang melingkupi penjadian teks melalui proses adopsi, adaptasi, maupun reformulasi teks yang telah mapan dalam konteks rangkaian pewarisan tradisi. Kajian semiotika kultural yang terbaca tidak dimaksudkan untuk menelanjangi wacana teks secara vulgar yang teralienasi dari konteks hiperealitas teksnya, tetapi bertujuan untuk menjelaskan ‘penanda’ dalam teks yang melintas batas zaman, geografis, bahasa, maupun tradisi serumpun melalui sistem transmisinya. Artikel ini menggunakan teori semiotik yang dikemukakan oleh Julia Kristeva.
Kata-kata kunci: intertekstualitas; Ramayana; Mahabharata; Semit; Ary
Sastra Lokal dan Industri Kreatif: Revitalisasi Sastra dan Budaya Using
Pemerintah mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Industri Kreatif. Seni pertunjukan, termasuk tradisi lisan yang ada di dalam pertunjukan menjadi salah satu prioritas yang akan dikembangkan agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat pendukungnya. Tujuan tersebut representatif karena masyarakat Indonesia memiliki beragam seni pertunjukan dan sastra lokal yang apabila dikelola dengan baik bisa menjadi penopang munculnya ekonomi kreatif. Banyuwangi, misalnya, memiliki beragam seni pertunjukan dan tradisi lisan, seperti syair syair gandrung, lagulagu dalam pertunjukan angklung, cerita rakyat jinggoan, dan tradisi wangsalan dan basanan. Sampai saat ini, dinas terkait di Banyuwangi belum dapat membuat kebijakan yang mampu mendukung terciptanya pola pikir, sistem, dan praktik industri kreatif berbasis lokalitas dan tetap mengedepankan karakteristik nilainilai kultural yang ada. Untuk itu, tulisan ini bertujuan mengembangkan model industri kreatif berbasis sastra lokal dan budaya Using. Dengan metode etnografis dan analisis yang menggunakan pendekatan cultural studies, model tersebut diharapkan mampu mengembangkan industri kreatif di wilayah lokal.
Abstract:
The Indonesian government announced the year of 2009 as the Creative Industry Year. Performing art, including oral tradition existing in performance, has become a priority which will be developed to improve the prosperity of its supporting community. This goal is representative because Indonesian people have various performing arts and local literature which, if well managed, will support the creative economy. Banyuwangi, for instance, has various performing arts and oral tradition, such as gandrung poems, songs in angklung performance, jinggoan folklores, and traditions of wangsalan and basanan. To date, the relevant services of Banyuwangi government have not been able to make policies able to support the creation of creative industry pattern of thinking, system, and practice which are locally based and keep on proposing the characteristics of existing cultural values. Therefore, this article is aimed at developing a creative industry model based on Using local literature and culture. By using ethnography method and cultural studies approach, the model is expected to be able to develop the creative industry in the local area.
Key Words: local literature; Using culture; creative industry; revitalizatio
Identity Construction In Samuel Beckett’s Waiting For Godot
This paper scrutinizes the formation of the identity of the characters in Samuel Beckett’s famous play Waiting for Godot. One of the characters whose identity is constructed is Godot, a mysterious absent figure. The other characters, such as Vladimir and Estragon actively construct Godot’s identity. Thus, the formation of identity cannot be separated from the social construction in which a lot of characteristics are attributed by the members of the large community. The theory of identity elaborated by Stuart Hall and Erikson is employed to examine the play. The study shows that Godot and other characters’ identity is unstable and fluid. The characteristics of their identity are ambiguous and even challenged.
Abstrak:
Artikel ini mengkaji pembentukan identitas karakter dalam drama terkenal Waiting for Godot karya Samuel Beckett. Salah satu karakter yang dikonstruksi identitasnya adalah Godot, sosok misterius yang tidak pernah muncul. Karakter lain, seperti Vladimir dan Estragon secara aktif mengonstruksi identitas Godot. Oleh sebab itu, pembentukan identitas tidak dapat dipisahkan dari konstruksi sosial yang dimasuki banyak karakteristik oleh anggota masyarakat luas. Teori identitas Stuart Hall dan Erikson digunakan untuk menganalisis drama tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa identitas Godot dan karakter lain tidak stabil dan cair. Karakteristik identitas mereka ambigu dan bahkan meragukan.
Kata-Kata Kunci: identit; ambiguitas; Godo