Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Penolakan Terhadap Tradisi Barat Dalam Raden Adjeng Moeria Karya Njoo Cheong Seng
Raden Adjeng Moeria (1934) by Njoo Cheong Seng offers the refusal of the Western tradition. Raden Adjeng Moeria is assumed as Njoo Cheong Seng response towards a social situation of his social group. The aims of this research are (1) to identify the worldview and social group which is represented by Njoo Cheong Seng and (2) to explore the result of Njoo Cheong Seng reaction toward a social situation in that era. This research uses the sociology literature perspective. The result of this research is that (1) Njoo Cheong Seng represented the social group of peranakan Chinese diaspora and based his world view on his tradition and value, (2) Raden Adjeng Moeria was the cultural resistance toward modern and liberalism issues. The cultural resistance was a strategy to defend his identity because he did not want to be trapped in the Western tradition and identity.
Key Words: response towards social situation; social group; literary works
Abstrak:
Karya Njoo Cheong Seng, Raden Adjeng Moeria (1934) memberikan pandangan terhadap penolakan tradisi Barat. Raden Adjeng Moeria diasumsikan sebagai bentuk tanggapan Njoo Cheong Seng terhadap situasi sosial dari kelompok sosial tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi pandangan dunia dan kelompok sosial yang diwakili oleh Njoo Cheong Seng dan (2) mengeksplorasi hasil tanggapan Njoo Cheong Seng terhadap situasi sosial yang berkembang pada era itu. Pendekatan penelitian ini adalah sosiologi sastra. Hasil yang dicapai adalah bahwa (1) Njoo Cheong Seng mewakili kelompok sosial diaspora peranakan Tionghoa dan mendasarkan pandangan dunianya pada nilai dan tradisi leluhur (2) Raden Adjeng Moeria merupakan salah satu wujud perlawanan kultural terhadap persoalan modernisasi dan liberalisme di kalangan masyarakat itu. Perlawanan kultural itu merupakan satu cara dalam mempertahankan identitas yang didasarkan atas nilai dan tradisi kebudayaannya agar tidak terjebak pada identitas yang ditawarkan dunia BaratKarya Njoo Cheong Seng, Raden Adjeng Moeria (1934) memberikan pandangan terhadap penolakan tradisi Barat. Raden Adjeng Moeria diasumsikan sebagai bentuk tanggapan Njoo Cheong Seng terhadap situasi sosial dari kelompok sosial tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi pandangan dunia dan kelompok sosial yang diwakili oleh Njoo Cheong Seng dan (2) mengeksplorasi hasil tanggapan Njoo Cheong Seng terhadap situasi sosial yang berkembang pada era itu. Pendekatan penelitian ini adalah sosiologi sastra. Hasil yang dicapai adalah bahwa (1) Njoo Cheong Seng mewakili kelompok sosial diaspora peranakan Tionghoa dan mendasarkan pandangan dunianya pada nilai dan tradisi leluhur (2) Raden Adjeng Moeria merupakan salah satu wujud perlawanan kultural terhadap persoalan modernisasi dan liberalisme di kalangan masyarakat itu. Perlawanan kultural itu merupakan satu cara dalam mempertahankan identitas yang didasarkan atas nilai dan tradisi kebudayaannya agar tidak terjebak pada identitas yang ditawarkan dunia Barat. Karya Njoo Cheong Seng, Raden Adjeng Moeria (1934) memberikan pandangan terhadap penolakan tradisi Barat. Raden Adjeng Moeria diasumsikan sebagai bentuk tanggapan Njoo Cheong Seng terhadap situasi sosial dari kelompok sosial tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi pandangan dunia dan kelompok sosial yang diwakili oleh Njoo Cheong Seng dan (2) mengeksplorasi hasil tanggapan Njoo Cheong Seng terhadap situasi sosial yang berkembang pada era itu. Pendekatan penelitian ini adalah sosiologi sastra. Hasil yang dicapai adalah bahwa (1) Njoo Cheong Seng mewakili kelompok sosial diaspora peranakan Tionghoa dan mendasarkan pandangan dunianya pada nilai dan tradisi leluhur (2) Raden Adjeng Moeria merupakan salah satu wujud perlawanan kultural terhadap persoalan modernisasi dan liberalisme di kalangan masyarakat itu. Perlawanan kultural itu merupakan satu cara dalam mempertahankan identitas yang didasarkan atas nilai dan tradisi kebudayaannya agar tidak terjebak pada identitas yang ditawarkan dunia Barat
Pemikiran Kritis Ibnu Chazm Al-Andalusy Tentang Konsep Cinta Dalam Teks Thauqul-Chamāmah Fil-Ilfah Wal-Ullāf
The research adopts the genetic structuralism theory with its emphasis on literary text (intrinsic analysis), socio-cultural background (historic social reality observation), and the writer. The method is the dialectic method, mutual relations between structures of a literary work (the intrinsic features of “Thauqul-Chamāmah fil-Ilfah wal-Ullāf”), historic materialism (socio-cultural background of Andalusia at the time the work was written), and the writer of “Thauqul-Chamāmah fil-Ilfah wal-Ullāf”. The conclusion of the research is that according to Ibnu Chazm Al-Andalusia, the concept of love (Al-chubbun-nazhary) must be based on syari’ah. In another word, the theory of love, the cause of love, expressing love, maintaining love, meeting and “leaving” the one, must be based on syari’ah.
Key Words: genetic structuralism; Thauqul-Chamāmah fil-Ilfah wal-Ullāf; dialectic method;, vision (intellectual thought); concept of love
Abstrak:
Penelitian ini memanfaatkan teori strukturalisme genetik untuk mengungkapkan unsur intrinsik (struktur teks) berdasarkan yang terdapat dalam teks, latar belakang sosial (sosial kultural), dan penulisnya. Metode yang digunakan adalah metode dialektik yang bekerja dengan bermula dari teks dan berakhir kepada teks “Thauqul-Chamāmah fil‐Ilfah wal-Ullāf”. Hasil analisis penelitian terkait konsep cinta (Al-chubbun-nazhary) yang berupa pemikiran kritis Ibnu Chazm Al-Andalusy adalah konsep cinta yang sesuai syariat. Dengan kata lain, konsep cinta, penyebab orang jatuh cinta, perilaku atau ekspresi orang yang jatuh cinta, menjaga kesucian cinta, pertemuan dan perpisahan, kesemuanya berdasarkan syariat
Penyalinan Dan Penyaduran Naskah Pakualaman Pada Masa Paku Alam V (1878—1900)
The purpose of this study is to discover the purpose of Paku Alam V, the supreme ruler of Kadipaten Pakualaman Yogyakarta (1878-1900) in initiating the recopying of classic manuscripts by changing a number their rěrěnggan (illustrations), while at the same time adapting texts from newspapers to be written in Javanese with Javanese characters. In this study, the researcher used philology and hermeneutics approach. Philology was used because the research objects were old manuscripts. Paul Ricoeur's hermeneutics was utilized as a means to understand the text. The results of the study show that the creation of a number of copies at that time reflects the policies of Paku Alam V. Some of the policies were in the fields of economics and education. The economic slump at the end of the reign of Paku Alam IV forced Paku Alam V to live frugally. Despite this situation, Paku Alam V worked hard to support his daughters to study overseas and sought for the welfare of his people by providing good examples to encourage them to work hard. They were driven to have a modern way of thinking, but they should still uphold Javanese teachings handed down from Pakualaman's ancestors. The purpose of this study is to discover the purpose of Paku Alam V, the supreme ruler of Kadipaten Pakualaman Yogyakarta (1878-1900) in initiating the recopying of classic manuscripts by changing a number their rěrěnggan (illustrations), while at the same time adapting texts from newspapers to be written in Javanese with Javanese characters. In this study, the researcher used philology and hermeneutics approach. Philology was used because the research objects were old manuscripts. Paul Ricoeur's hermeneutics was utilized as a means to understand the text. The results of the study show that the creation of a number of copies at that time reflects the policies of Paku Alam V. Some of the policies were in the fields of economics and education. The economic slump at the end of the reign of Paku Alam IV forced Paku Alam V to live frugally. Despite this situation, Paku Alam V worked hard to support his daughters to study overseas and sought for the welfare of his people by providing good examples to encourage them to work hard. They were driven to have a modern way of thinking but they should still uphold Javanese teachings handed down from Pakualaman's ancestors.
Key Words: copying; adaptation; rěrěnggan (illustration); Javanese teachings; a modern way of thinking
Abstrak:
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui maksud Paku Alam V, penguasa tertinggi Kadipaten Pakualaman Yogyakarta (1878—1900) memprakarsai penyalinan kembali naskah‐naskah adiluhung dengan mengubah sejumlah rěrěnggan ‘ilustrasi’‐nya, sekaligus menyadur teks dari surat kabar untuk ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan filologi dan hermeneutika. Filologi digunakan karena objek penelitian adalah naskah karya masa lampau; sedangkan hermeneutika pemikiran Paul Ricoeur dimanfaatkan sebagai sarana untuk memahami teksnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penciptaan sejumlah naskah pada waktu itu mencerminkan kebijakan Paku Alam V, antara lain dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Keterpurukan ekonomi pada masa akhir Paku Alam IV menyebabkan Paku Alam V harus hidup hemat. Meski demikian, Paku Alam V berusaha keras memajukan pendidikan anak-anak perempuannya ke luar negeri dan menyejahterakan warganya dengan memberikan keteladanan agar mau bekerja keras. Mereka didorong berpikiran modern namun tetap harus memegang teguh piwulang Jawa yang diberikan oleh para leluhur Pakualama
Cerita Pendek Anak Dalam Majalah Bobo Tahun 1980‐an Sebagai Bacaan Pendidikan Karakter
This article aims to describe the national character values in children short stories in Bobo magazine. As a children magazine, Bobo always publishes children short stories in every issue. Data of this research is twenty-four children short stories in Bobo magazine published by Gramedia in 1983’s. The data was collected through librarian study. The method used is the descriptive-qualitative one which explains the writings based on the content. The result shows that children short stories in Bobo magazine contain national character values. Those values contain moral teaching. The short stories were written by adults. They describe lives, responsibility, religion, self-service, discipline, hard working and love of the environment. This article aims to describe the national character values in children short stories in Bobo magazine. As a children magazine, Bobo always publishes children short stories in every issue. Data of this research is twenty-four children short stories in Bobo magazine published by Gramedia in 1983’s. The data was collected through librarian study. The method used is the descriptive-qualitative one which explains the writings based on the content. The result shows that children short stories in Bobo magazine contain national character values. Those values contain moral teaching. The short stories were written by adults. They describe lives, responsibility, religion, self-service, discipline, hard working and love of environment.
Key Words: children story; adult; character values
Abstrak:
Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai karakter bangsa yang terdapat dalam cerita pendek anak-anak di majalah Bobo. Sebagai majalah anak-anak, Bobo dalam setiap terbitannya selalu memuat cerita pendek anak-anak yang mengandung unsur dulce et utile. Data penelitian ini adalah dua puluh empat cerita pendek anak-anak dalam majalah Bobo terbitan Gramedia tahun 1983. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang memaparkan tulisan berdasarkan isi karya sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita pendek anak-anak yang ada di majalah Bobo mengandung nilai-nilai karakter bangsa yang berkaitan dengan pendidikan moral dan budi pekerti. Cerita yang ditulis orang dewasa itu menggambarkan masalah kehidupan dan mengandung nilai karakter jujur, tanggung jawab, religius, mandiri, disiplin, kerja keras, dan cinta lingkungan
Lingkar Struktur Novel Tarian Setan
The title of Saddam Hussein’s novel, Tarian Setan, from hermeneutic perspective, leads to the behavior of the antagonist that must be resisted and shunned. Human power is not eternal. Power obtained from deceitful means will ultimately be devastating, both for the rulers and the ruled parties. In terms of power and ideology, the leaders will be in the two circles, the circle of positive and negative circle as mandate text. When political ambition and power no longer hold ethics, wherever and whenever, it will destroy the foundations of life in society.
Key Words: hermeneutics; title; theme; plot; characterization
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan muatan politis dan ideologis dalam judul, tema dan alur, tokoh, serta amanat novel Tarian Setan karya Sadam Hussein dengan teori hermeneutik. Sumber data penelitian ini adalah novel berjudul Tarian Setan (terjemahan dari novel Akhreej Minha Ya Mal’un karya Sadam Hussein) yang diterbitkan oleh penerbit Jalasutra tahun 2006. Penelitian menghasilkan temuan bahwa judul novel karya Saddam Hussein, Tarian Setan, dari perspektif hermeneutik, mengarah pada perilaku tokoh antagonis yang harus dilawan dan dijauhi. Kekuasaan manusia tidak abadi. Kekuasan yang diperoleh dengan cara culas akhirnya akan menyengsarakan, baik bagi penguasa maupun pihak-pihak yang dikuasai. Dari sisi kekuasaan dan ideologinya, para tokoh akan berada dalam dua lingkaran, yaitu lingkaran positif dan lingkaran negatif sebagai pengemban amanat teks. Ketika ambisi politik dan kekuasaan tidak lagi memegang etika, di mana pun dan kapan pun, akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan dalam masyarakatPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan muatan politis dan ideologis dalam judul, tema dan alur, tokoh, serta amanat novel Tarian Setan karya Sadam Hussein dengan teori hermeneutik. Sumber data penelitian ini adalah novel berjudul Tarian Setan (terjemahan dari novel Akhreej Minha Ya Mal’un karya Sadam Hussein) yang diterbitkan oleh penerbit Jalasutra tahun 2006. Penelitian menghasilkan temuan bahwa judul novel karya Saddam Hussein, Tarian Setan, dari perspektif hermeneutik, mengarah pada perilaku tokoh antagonis yang harus dilawan dan dijauhi. Kekuasaan manusia tidak abadi. Kekuasan yang diperoleh dengan cara culas akhirnya akan menyengsarakan, baik bagi penguasa maupun pihak-pihak yang dikuasai. Dari sisi kekuasaan dan ideologinya, para tokoh akan berada dalam dua lingkaran, yaitu lingkaran positif dan lingkaran negatif sebagai pengemban amanat teks. Ketika ambisi politik dan kekuasaan tidak lagi meme gang etika, di mana pun dan kapan pun, akan menghancurkan sendi‐sendi kehidupan dalam masyarakat.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan muatan politis dan ideologis dalam judul, tema dan alur, tokoh, serta amanat novel Tarian Setan karya Sadam Hussein dengan teori hermeneutik. Sumber data penelitian ini adalah novel berjudul Tarian Setan (terjemahan dari novel Akhreej Minha Ya Mal’un karya Sadam Hussein) yang diterbitkan oleh penerbit Jalasutra tahun 2006. Penelitian menghasilkan temuan bahwa judul novel karya Saddam Hussein, Tarian Setan, dari perspektif hermeneutik, mengarah pada perilaku tokoh antagonis yang harus dilawan dan dijauhi. Kekuasaan manusia tidak abadi. Kekuasan yang diperoleh dengan cara culas akhirnya akan menyengsarakan, baik bagi penguasa maupun pihak-pihak yang dikuasai. Dari sisi kekuasaan dan ideologinya, para tokoh akan berada dalam dua lingkaran, yaitu lingkaran positif dan lingkaran negatif sebagai pengemban amanat teks. Ketika ambisi politik dan kekuasaan tidak lagi meme gang etika, di mana pun dan kapan pun, akan menghancurkan sendi‐sendi kehidupan dalam masyaraka
Struktur Naratif Cerita Rakyat Sumbawa Barat
Oral literature will always change according to the dynamic of their community. Some oral literary works in Indonesia are extinct already due to not yet documented. Oral literature is, actually, a cultural treasure of Indonesia able to show the rich variety of cultures and values and the incredible creativity of their community. Change and the loss of a variety of oral literature mean the extinction or change of property contained in them. One form of Indonesian oral literature still enjoyed today is folklores of West Sumbawa. Therefore, this study aims to document the oral literature of West Sumbawa in the form of folklores. Furthermore, the folklores collected will be analyzed by using Vladimir Propp’s theory of narrative structure. The result shows that the folklores of West Sumbawa have fourteen actor functions. The fourteen functions can be distributed into five environmental actions. Oral literatures will always change according to the dynamic of their community. Some oral literary works in Indonesia are extinct already due to not yet documented. Oral literature is, actually, a cultural treasure of Indonesia able to show the rich variety of cultures and values and the incredible creativity of their community. Change and the loss of a variety of oral literature mean the extinction or change of property contained in them. One form of Indonesian oral literature still enjoyed today is folklores of West Sumbawa. Therefore, this study aims to document the oral literature of West Sumbawa in the form of folklores. Furthermore, the folklores collected will be analyzed by using Vladimir Propp’s theory of narrative structure. The result shows that the folklores of West Sumbawa have fourteen actor functions. The fourteen functions can be distributed into five environmental actions.
Key Words: oral literature; folklore; narrative structure
Abstrak:
Kehidupan sastra lisan akan selalu berubah sesuai dengan dinamika komunitas pemiliknya. Ada beberapa sastra lisan di Indonesia, yang telah hilang karena belum didokumentasikan, sedangkan sastra lisan adalah kekayaan budaya Indonesia yang kaya akan khazanah kearifan lokal dan merupakan kreativitas yang luar biasa dari komunitas pemiliknya. Perubahan dan hilangnya sastra lisan berarti punahnya kearifan lokal dan khazanah budaya yang terkandung di dalamnya. Salah satu bentuk sastra lisan Nusantara yang masih hidup hingga saat ini adalah cerita rakyat Sumbawa Barat. Cerita rakyat yang berhasil didokumentasikan dikaji struktur naratifnya berdasarkan pada struktur naratif yang dikemukakan oleh Vladimir Propp. Penelitian ini akan mendokumentasikan sastra lisandari Sumbawa Barat yang berwujud cerita rakyat. Dari hasil kajian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa cerita rakyat Sumbawa Barat memiliki empat belas fungsi pelaku. Keempat belas fungsi pelaku tersebut dapat didistribusikan ke dalam lima lingkungan tindaka
Kearifan Lokal Dalam Sastra Lisan Suku Moy Papua
This research is aimed at describing the local wisdom in the oral literature of Moy tribe in Papua. The main data of this research is the oral literature of Moy tribe. Based on the analysis, there are some local wisdom found in the oral literature of Moy Tribe, such as the using of clay as a basic material of ceramics; the using of bia (shell) as a horn; building the harmony with nature, human being, and God; identifying the spirit of jungle and the way to overcome their disturbance; giving a name to such animal or a plan; prohibition of committing adultery; spell of covering snow; martial knowledge and strategy; and concept of mountain as the source of water. This research is aimed at describing the local wisdom in the oral literature of Moy tribe in Papua. The main data of this research is the oral literature of Moy tribe. Based on the analysis, there are some local wisdom found in the oral literature of Moy Tribe, such as the using of clay as a basic material of ceramics; the using of bia (shell) as a horn; building the harmony with nature, human being, and God; identifying the spirit of jungle and the way to overcome their disturbance; giving a name to such animal or a plan; prohibition of committing adultery; spell of covering snow; martial knowledge and strategy; and concept of mountain as the source of water.
Key Words: oral literature, local wisdom
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kearifan lokal dalam sastra lisan suku Moy di Papua. Sumber data penelitian ini adalah sastra lisan suku Moy. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa kearifan lokal yang dimiliki oleh suku Moy, antara lain sebagai berikut: pembuatan keramik dari kanah liat; pemanfaatan kulit bia sebagai alat pemanggil; membangun harmoni dengan alam, manusia, dan Tuhan; mengenali makhluk penunggu hutan dan cara mengatasi gangguan makhluk tersebut; pemberian nama pada jenis binatang dan tanaman tertentu; larangan berbuat zina; ilmu salju tutup; strategi dan ilmu perang; serta konsep gunung sebagai sumber mata ai
A Prose Fiction Theory Of Javanese Literature Based on Folktales
his study aims to build the theory of prose fiction of Javanese literature based on the study of folktale as a first step towards the development of the study of native literature. This study’s objects are ten pieces of folktale, consisting of 93 story’s episodes, which were published in Panjebar Semangat magazine between 2006-2010. This study uses structural‐phenomenological-hermeneutic approach, by applying phenomenological reduction, eidetic reduction, and transcendental reduction. The results of phenomenological reduction are nine elements of the work: author, a title of the story, special object, language, setting, character, emotional event, plot, and idea. The results of eidetic reduction are opposition rule, internal relation rule, and external relation rule. The results of transcendental reduction are the values of holiness, truth, and kindness. his study aims to build the theory of prose fiction of Javanese literature based on the study of folktale as a first step towards the development of the study of native literature. This study’s objects are ten pieces of folktale, consisting of 93 story’s episodes, which were published in Panjebar Semangat magazine between 2006-2010. This study uses structural‐phenomenological‐hermeneutic approach, by applying phenomenological reduction, eidetic reduction, and transcendental reduction. The results of phenomenological reduction are nine elements of the work: author, a title of a story, special object, language, setting, character, emotional event, plot, and idea. The results of eidetic reduction are opposition rule, internal relation rule, and external relation rule. The results of transcendental reduction are the values of holiness, truth, and kindness.
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk membangun teori prosa fiksi sastra Jawa berbasis pada kajian cerita rakyat sebagai langkah pertama menuju pengembangan studi sastra kepribumian. Penelitian ini menggunakan objek kajian sepuluh buah cerita rakyat, terdiri atas 93 episode cerita, yang dimuat di majalah Panjebar Semangat antara tahun 2006-2010. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis struktura‐fenomenologis-hermeneutik, dengan menerapkan reduksi fenomenologis, reduksi eidetis, dan reduksi transendental. Hasil dari reduksi fenomenologis adalah sembilan unsur karya: pengarang, judul cerita, objek khusus, bahasa, latar cerita, tokoh cerita, peristiwa emosional, alur cerita, dan gagasan. Hasil dari reduksi eidetis adalah kaidah oposisi, kaidah relasi internal, dan kaidah relasi eksternal. Hasil dari reduksi transendental adalah nilai kekudusan, nilai kebenaran, dan nilai kebaikan.
Kata-Kata Kunci: teori prosa fiksi sastra Jawa; cerita rakyat; pendekatan struktural-fenomeno logis-hermeneuti
Sula’s Existential Freedom In Toni Morrison’s Novel Entitled Sula
This paper aims to analyze the problems concerning the existential freedom of the young, black, female, main character. Several concepts are used in the analysis; namely, black women existentialism, existential backlash, power feminism, and black feminism. The analysis is also done in the frame of feminist criticism. The result of the analysis shows that it is not easy for a young, black, female character to construct, keep, and/or perform her critical opinion concerning her own existential freedom. There are various kinds of existential backlashes that have to be faced by the female character. Finally, the female character who insists on keeping her own critical opinion concerning her own existential freedom, after she fails to put it into practice in daily life, still has to face a tragic ending. This paper aims to analyze the problems concerning the existential freedom of the young, black, female, main character. Several concepts are used in the analysis; namely, black women existentialism, existential backlash, power feminism, and black feminism. The analysis is also done in the frame of feminist criticism. The result of the analysis shows that it is not easy for a young, black, female character to construct, keep, and/or perform her critical opinion concerning her own existential freedom. There are various kinds of existential backlashes that have to be faced by the female character. Finally, the female character who insists on keeping her own critical opinion concerning her own existential freedom, after she fails to put it into practice in daily life, still has to face a tragic ending
Abstrak:
Makalah ini bertujuan untuk mengkaji permasalahan seputar kebebasan eksistensial tokoh utama perempuan muda kulit hitam. Beberapa konsep digunakan dalam kajian; yaitu, eksistensialisme perempuan kulit hitam, lecut balik eksistensial, feminisme yang mengandalkan kekuatan, dan feminisme kulit hitam. Kajian juga dilakukan dalam kerangka kritik feminis. Hasil kajian menunjukkan bahwa tidak mudah bagi perempuan muda kulit hitam untuk mengkonstruksi, menyimpan, dan/atau menerapkan pemikirannya yang kritis berkenaan dengan kebebasan eksistensialnya sendiri. Ada berbagai lecut balik eksistensial yang harus dihadapinya. Akhirnya, tokoh perempuan yang bersikeras menyimpan pemikirannya yang kritis berkenaan dengan kebebasan keberadaannya tersebut, setelah ia gagal menerapkannya dalam kehidupan sehari‐hari, masih harus menghadapi akhir yang tragis.
Kata-Kata Kunci: eksistensialisme perempuan kulit hitam; lecut balik eksistensial; feminisme yang berbasis kekuatan; feminisme kulit hitam
Muatan Politik Propaganda Kolonial Jepang dalam Cerpen dan Drama Karya Idrus
Penelitian ini bertujuan mengungkap bentuk propaganda yang dilakukan oleh pihak kolonial Jepang dalam cerpen “Ave Maria” dan drama empat babak “Kejahatan Membalas Dendam” karya Idrus. Teori yang digunakan untuk mengungkap hal tersebut adalah teori hegemoni Gramsci. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kepustakaan, deskriptif analitik, dan penyajian secara naratif. Hasil analisis menunjukkan bahwa karya Idrus yang ditulis pada masa pendudukan Jepang di Indonesia sarat dengan muatan politis, yaitu politik propaganda yang diterapkan oleh pemerintah Jepang untuk menggelorakan semangat perjuangan rakyat Indonesia. Muatan propaganda yang tercermin dalam karya tersebut adalah agar rakyat Indonesia tidak hanya memikirkan atau mementingkan kepentingan pribadi tetapi juga harus memikirkan atau mementingkan kepentingan bangsa dan agar rakyat Indonesia giat bekerja untuk membantu perjuangan dalam mencapai kemerdekaan nusa dan bangsa, sebagaimana yang telah dijanjikan oleh pemerintah Jepang pada saat memerintah Indonesia.
Abstract:
In this study, the forms of Japanese propaganda is revealed in Idrus’s short story “Ave Maria” and drama “Kejahatan Membalas Dendam”. Gramsci’s hegemony theory is applied to reveal them. The method used in analyzing the data is descriptiveanalytic. The whole research is written in the narrative text. The result of the analysis shows that Idrus’s works written in the Japanese colonization have many of political contents, which was utilized by the Japanese government to spur the Indonesians’ spirit of war. The propaganda contents which were described in the works have the intention that the Indonesians must not only think their personal interest, but also the public interest. Another content is that Indonesian had to work hard to assist Japan in the war with Ally, in order to achieve Indonesian independence, as it had been promised by the Japanese government at the time.
Key Words: propaganda; politic; hegemony; colonizatio