Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra
Not a member yet
    235 research outputs found

    Novel Aku Mencintaimu Shanyuan Karya Syafruddin Pernyata Dalam Perspektif Perubahan Sosial

    Full text link
    Tema perubahan sosial yang ada di dalam sebuah novel sudah banyak dikaji dari berbagai perspektif karena kebermanfaatannya dalam mengetahui sejauh mana perubahan sosial di masyarakat itu terjadi. Akan tetapi, penelitian-penelitian itu hanya memaparkan bentuk-bentuk perubahan sosial dan faktor­‐faktor penyebabnya yang ada di dalam novel. Oleh karena itu, selain untuk mengungkap bentuk­‐bentuk dan faktor­‐faktor penyebab perubahan sosial, tujuan penelitian ini adalah untuk menggali arah perubahan sosial dan upaya menangkal perubahan yang bersifat negatif di dalam novel Aku Mencintaimu Shanyuan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan didukung oleh pendekatan sosiologi sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam novel Aku Mencintaimu Shanyuan ini terjadi perubahan sosial di masyarakat Desa Resak, Kabupaten Kutai Barat yang diakibatkan oleh interaksi sosial dengan kebudayaan lain. Akan tetapi, perubahan sosial yang disebabkan oleh faktor eksternal itu masih dalam taraf perubahan pada bagian-bagian sistem, sedangkan sistem masih tetap utuh. Oleh karena itu, arah negatif dari perubahan sosial dapat diatasi dengan melestarikan kearifan lokal dan memperdalam agama yang tampak pada tokoh-tokoh dalam novel Aku Mencintaimu Shanyuan. Abstract: The social change theme in a novel has been analyzed from many perspectives for its advantages in understanding how far social change in the society happens. However, those researchers only explain the social change forms and the causal factors. Therefore, in addition to explaining the social change forms and their underlying factors, this research also aims to describe the social change direction and efforts in preventing negative social change in the novel Aku Mencintaimu Shanyuan. The method used in this research is descriptive analysis supported by sociology theory. The result shows that, in the novel, social change occurs among the society of Resak village, West Kutai Regency. The change is the consequence of social interaction with other cultures. However, the social changes caused by external factors are still parts of the system; the system itself is still intact. Therefore, negative social changes can be managed by conserving local genius and deepening the religion shown from the characters in the novel Aku Mencintaimu Shanyuan. Key Words: social change; local genius; Resak Villa

    Perbandingan Antologi Cerpen Batu-Batu Setan Karya M. Fudoli Zaini Dan Lukisan Kaligrafi Karya A. Mustofa Bisri

    Full text link
    Tulisan ini mengkaji konstruksi dunia dan nalar santri dalam prosa karya kiai pesantren, yaitu Batu-Batu Setan karya M. Fudoli Zaini dan Lukisan Kaligrafi karya A. Mustofa Bisri. Teori yang digunakan adalah strukturalisme dan hermeneutik, dengan menggunakan metode bandingan. Dari kajian perbandingan didapatkan pola sistemik pada posisi pengarang sebagai agen dalam ranah produksi kultural. Pola-pola sistemik yang menggambarkan konstruksi dan nalar santri yang bersifat universal dan parsial dengan bersandar pada konsep oposisi biner: sintagmatik dan paradigmatik, dapat dirumuskan dari perbandingan kedua kumpulan cerpen tersebut. Dari kajian tentang karya dua kiai itu, biografi mereka, dan perbandingan antara keduanya terkonstruksikan dunia dan nalar santri. Nalar santri inilah yang menjadi pola berpikir dan cara melihat dari kalangan pesantren di dalam karya dan ‘kehidupan’‐nya. Abstract: This research aims to describe the construction of santri’s sense and the world in short stories written by two kiai, M. Fudoli Zaini’s Batu-Batu Setan and A. Mustofa Bisri’s Lukisan Kaligrafi. To analyze the comparativeness, structuralism and hermeneutics theory is used to describe the problem. We can see that there is a systemic pattern of the writers as an agent in a cultural production environment. Those systemic patterns show the universalities and partialities of santri’s construction and sense according to binary opposition concept, namely syntagmatic and paradigmatic. The differences among the two anthologies, seen from their short stories and biography are constructed by the world and sense of the santri. From their short stories and we can see how the santri think and see using their sense and the world. Key Words: construction of world; santri’s sense; comparative literatur

    Teks, Konteks, Dan Pola Kebertahanan Wayang Kulit Betawi

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi cara wayang kulit bertahan hidup dan upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan daya hidupnya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan struktural dan metode kuantitatif. Pembahasan difokuskan pada teks, konteks, dan kebertahananya. Dari penelitian ini dapat dibuktikan bahwa wayang Betawi termarginalisasi. Jika pada tahun 1980‐an satu bulan wayang Betawi ditanggap rata­‐rata dua kali, pada tahun 2013-2014, dalam setahun hanya satu kali. Penanggap itu pun berasal dari instansi pemerintah, seperti Museum Wayang, bukan masyarakat pemangkunya. Hal itu menandakan bahwa wayang Betawi semakin terpinggirkan oleh suku Betawi sendiri dan masyarakat pada umumnya. Keprihatinan itu semakin jelas dengan sistem pewarisan pedalangan wayang Betawi. Kini rata­‐rata dalang wayang Betawi sudah tua. Agar wayang kulit Betawi tetap bertahan hidup, para dalang harus melakukan inovasi seperti yang dilakukan Sukarlana dan upaya pelindungan dilakukan dengan cara revitalisasi dan aktualisasi. Abstract: This study aims to identify the way Betawi puppets has survived and what efforts need to take. The method used was a qualitative one with a structural approach and quantitative method. The study focused on the text, context, as well as patterns of Betawi puppet’s way to survive. This study proved that Betawi puppet has been marginalized. If in the eighties, the puppet performance could appear two or three times a month, in 2013—2014 there is only one performance in a year. In fact, the order came from government agencies such as Museum Wayang, and none from its own society. This indicates that the Betawi puppet was demoted by Betawi ethnic community itself and the society in general. This concern conditions is increasingly discernable with Betawi puppetry inheritance system. Recently the Betawi puppeteers on average are elders. In preserving Betawi puppet, the puppeteers must make inovation just like what Sukarlana has been doing and preservation efforts revitalitation and actualization. Key Words: marginalized; endangered; conservation; revitalizatio

    The Heroines of Don Juan

    Full text link
    In spite of the large number of female characters who play the major part in the life of the main character in Byron’s Don Juan, it is still the main character himself, Don Juan, who has garnered great attention from the critics. Hence, the present research will focus on the female characters of Byron’s Don Juan and reveal how their sexuality and femininity are represented. It is found that while there are subversion and challenging of femininity and sexuality, such as female unusual sexual prowess exhibited by Gulbeyaz and some other female characters, it is precisely the challenging of feminine conventions and the inability to suppress their sexuality that lead the female characters to their doom. Meanwhile, the female characters who successfully suppress their sexuality have a better ending, or at least, manage to survive. Abstrak: Meskipun terdapat banyak karakter perempuan yang berperan penting dalam kehidupan karakter utama Don Juan karya Byron, tetap saja yang selama ini menjadi pusat perhatian para kritikus sastra adalah karakter utamanya, yaitu Don Juan. Oleh karena itu, penelitian ini akan fokus pada karakter-karakter perempuan dalam Don Juan karya Byron dan mengungkap bagaimana femininitas dan seksualitas mereka direpresentasikan. Ditemukan bahwa meskipun ada sub versi dan penentangan terhadap konvensi femininitas dan seksualitas perempuan, seperti yang ditunjukkan oleh kekuatan seksual Gulbeyaz dan beberapa karakter perempuan lainnya, justru sub versi dan penentangan serta ketidakmampuan mereka menahan seksualitasnya yang membawa karakter-­karakter perempuan ini pada kesengsaraan. Sementara itu, karakter perempuan yang berhasil menahan seksualitasnya hidupnya berakhir bahagia, atau setidaknya bisa bertahan hidup. Kata-­kata Kunci: Don Juan; feminitas; karakter perempuan; seksualita

    Perlawanan Terhadap Penjajahan dalam Puisi-Puisi Indonesia dan Korea

    Full text link
    Penjajahan di muka bumi, seperti yang dialami Indonesia dan Korea telah mengakibatkan kerugian materiil dan non materiil. Akibat-a­kibat dari kolonialisme ini mendapat respon puitik dari para penyair Indonesia dan Korea yang tidak hanya menulis puisi namun juga bersentuhan dengan gerakan perlawanan untuk menggapai kemerdekaan. Artikel ini membahas resistensi terhadap penjajahan sebagaimana tercermin dalam puisi-puisi para penyair Indonesia dan Korea. Untuk meneliti puisi-puisi tersebut konsep sastra bandingan digunakan dan dielaborasi bersama dengan teori kolonialisme. Sumber data penelitian ini adalah antologi puisi Korea yang berjudul Puisi buat Rakyat Indonesia (terjemahan Chung Yong Rim tahun 2013) dan antologi puisi Indonesia Aku ini Binatang Jalang karya Chairil Anwar cetakan tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman ketika dijajah Jepang membuat para penyair kedua negara ini melahirkan puisi-puisi yang secara tematis menggambarkan berbagai akibat kolonialisme dan semangat antipenjajahan yang lahir sebagai bentuk perlawanan. Abstract: Colonization as experienced by Indonesia and Korea brought about impacts on infrastructure and people of both countries. Those effects triggered Indonesian and Korean poets to give poetical response. These poets not only wrote poems but also involved in the movement in gaining independence. This article discusses the resistance toward colonization as represented in the poems by Indonesian and Korean Poets. The concept of comparative literature and colonialism are employed in this research. Sources of the data in this research are taken from the anthology of Korean poems entitled Puisi buat Rakyat Indonesia (translated into Indonesian by Chung Yong Rim in 2013) and anthology of Indonesian poems by Chairil Anwar entitled Aku ini Binatang Jalang published in 2015. The result of the research shows that colonization in Indonesia and Korea inspired the poets from these two colonized countries to write poems that delineate the impacts of colonization and spirit of anti colonization as the foundation of the resistence. Key Words: colonization, resistance, Indonesian and Korean poem

    Representasi Perilaku Priayi Dalam Novel Gadis Pantai: Kisah Seorang Gundik Bendoro Santri

    Full text link
    Di lingkungan masyarakat Jawa masih terdapat otoritas tradisional yang membawa kewibawaan dan mempunyai status sosial tinggi di mata rakyat, otoritas tradisional tersebut adalah golongan priayi. Golongan priayi mempunyai gaya hidup yang spesifik jika dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Ciri­‐ciri gaya hidup golongan priayi antara lain berupa adat istiadat yang baik, perilaku sopan santun, dan selalu berbicara dengan bahasa yang halus. Secara fisik dapat dilihat dari bentuk rumah kediaman, pakaian kebesaran, gelar kekuasaan, ritualisasi, serta simbol­‐simbol yang melekat padanya. Jadi, golongan priayi adalah kaum bangsawan termasuk para bupati, pegawai pemerintah kolonial, serta keturunan raja-raja di pulau Jawa. Namun, kaum priayi dalam novel Gadis Pantai adalah seorang bangsawan yang berperilaku kasar, biadab, serta berbuat kekejaman terhadap wanita yang pernah dipeliharanya. Akhirnya, otoritas tradisional ini berubah menjadi carut marut tanpa terkendali karena kebiasaan memperlakukan para gundiknya secara tidak manusiawi bahkan agama digunakan sebagai kedok untuk melecehkan kaum santri. Abstract: Javanese society recognizes a traditional authority that shows esteem and possesses high social status in the eyes of the society. This traditional authority is called “priayi”. The life style of this priayi compare to the other group of society’s life style is specific. The natures of their life style among others are politeness, good conduct, and the use of fine language for communication. This group of society can be identified from their physical existence such as their houses, outfits, titles, rituals, and symbols attached to them. The priayi society group is the group of noblemen including the city council, employees working for colonial government, kings and their ancestors in Java. Nevertheless, priayi in the novel Gadis Pantai is unlike the typical priayi member. In this novel, the priayi is the group of people with harsh conduct, bad manner, disrespect, and cruelty to their concubines. At the end, this traditional authority went out of control and turned into disarray due to their inhumane treatment toward their concubines. To some extent, they even exploited religion as a tool to misjudge the group santri ‘strict adherent of Islam’. Key Words: priayi; santri; concubine

    Kode-Kode Budaya Dalam Sastra Lisan Biak Papua

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kode-kode budaya yang terdapat dalam sastra lisan Biak di Papua. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan struktur dan semiotik Umberto Eco. Sumber data penelitian ini adalah sastra lisan Biak yang diambil di Kampung Opiaref, Distrik Biak Timur. Melalui analisis semiotik sistem sintaktik diperoleh kode­‐kode yang signifikan antara lain: latar darat dan laut, tokoh Manarmakeri dan Marmar, serta mitos sebagai penanda hak ulayat. Dari analisis semiotik sistem semantik diperoleh kode­‐kode yang signifikan seperti: nyambondi, tifa Aryam, farbuk idadwer, patrilokal, eksistensi anak laki­‐laki dalam kekerabatan patrilineal, ararem, abeyap srendi, munara, dan totem ikan sako. Makna dari kode­‐kode budaya tersebut mengomunikasikan tentang proyeksi berfikir mereka yang bermuara pada eksistensi dan gengsi keret. Abstract: This research aims to describe the cultural codes in oral literature of Biak in Papua. It is a descriptive qualitative research with structure and Umberto Eco’s semiotic approach. The main data of this research are the oral literature of Biak, exactly from Opiaref Village, East Biak District. Based on the semiotic analysis of syntactic system, there are some significant codes such as the setting of land and sea, the characters of Manarmakeri and Marmar, and myth as a claim of land possession. Based on the semiotic analysis of semantic system, there are some significant codes such as nyambondi, tifa Aryam, farbuk idadwer, patrilocal custom, the existence of a man in patrilineal clan, ararem, abeyap srendi, munara, and totem of sako fish. The significance of those cultural codes communicate their way of thinking, emphasizes on clan existence and prestige. Key Words: oral literature; cultural codes; meanin

    Potret Perempuan dalam Sastra Indonesia Tahun 1920­‐an: Sebuah Pembacaan Kritik Sastra Feminis

    Full text link
    Abstract: Modern Indonesian literature can be said to be born around 1920s with the publication of modern Indonesian literary works by Balai Pustaka. Amongst the works published by Balai Pustaka in the 1920s ; there are most popular works namely Sitti Nurbaya (1922) ; Azab dan Sengsara(1927) and Salah Asuhan (1928) representing the tone of 1920s literary productions. This paper aims to look at images of women in those three works written by male authors ; using feminist literary criticism. By means of close reading technique; the study uses feminist literary criticism to examine and (re)examine the images of women portrayed in those three works. The finding shows that on one hand some women are still trapped with the shackle of patriarchy, but, on the other hand, some women are not simply passive victims of patriarchy: these women still attempt to escape from the patriarchal chain and cut out the patriarchal oppression. Key Words: modern Indonesian literature; 1920s; Balai Pustaka; women; feminist literary criticism Abstrak: Sastra Indonesia modern dapat dikatakan lahir sekitar tahun1920-an dengan publikasi karya sastra Indonesia modern oleh Balai Pustaka. Di antara karya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1920-an; terdapat karya yang paling populer seperti Sitti Nurbaya (1922); Azab dan Sengsara (1927); dan Salah Asuhan (1928) yang mewakili suara produksi sastra tahun 1920-an. Makalah ini bertujuan untuk melihat potret perempuan dalam tiga karya yang ditulis oleh penulis laki-laki dengan menggunakan pendekatan kritik sastra feminis. Melalui teknik pembacaan yang mendalam (close reading technique); penelitian ini menggunakan kritik sastra feminis untuk menelaah potret perempuan dalam tiga karya tersebut. Temuan dalam tulisan ini menunjukkan bahwa di satu sisi perempuan masih terbelenggu oleh patriarkat; tetapi di sisi lain perempuan bukanlah korban patriarkat yang pasif: perempuan tetap berupaya untuk keluar dari belenggu ini dan memutus rantai penindasan patriarkat melalui kebebasan dan otonomi personal. Kata-Kata Kunci: sastra Indonesia modern; tahun 1920-an; Balai Pustaka; perempuan; kritiksastra feminisSastra Indonesia modern dapat dikatakan lahir sekitar tahun 1920‐an dengan publikasi karya sastra Indonesia modern oleh Balai Pustaka. Di antara karya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1920‐an, terdapat karya yang paling populer seperti Sitti Nurbaya (1922), Azab dan Sengsara (1927), dan   Salah    Asuhan  (1928) yang mewakili suara produksi sastra tahun 1920-an. Makalah ini bertujuan untuk melihat potret perempuan dalam tiga karya yang ditulis oleh penulis laki‐laki dengan menggunakan pendekatan kritik sastra feminis. Melalui teknik pembacaan yang mendalam (close reading  technique), penelitian ini menggunakan kritik sastra feminis untuk menelaah potret perempuan dalam tiga karya tersebut. Temuan dalam tulisan ini menunjukkan bahwa di satu sisi perempuan masih terbelenggu oleh patriarkat, tetapi di sisi lain perempuan bukanlah korban  patriarkat  yang  pasif:  perempuan  tetap berupaya  untuk  keluar dari  belenggu ini dan memutus rantai penindasan patriarkat melalui kebebasan dan otonomi personal.Sastra Indonesia modern dapat dikatakan lahir sekitar tahun 1920‐an dengan publikasi karya sastra Indonesia modern oleh Balai Pustaka. Di antara karya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1920‐an, terdapat karya yang paling populer seperti Sitti Nurbaya (1922), Azab  dan Sengsara (1927), dan Salah Asuhan (1928) yang mewakili suara produksi sastra tahun 1920-an. Makalah ini bertujuan untuk melihat potret perempuan dalam tiga karya yang ditulis oleh penulis laki‐laki dengan menggunakan pendekatan kritik sastra feminis. Melalui teknik pembacaan yang mendalam (close reading    technique), penelitian ini menggunakan kritik sastra feminis untuk menelaah potret perempuan dalam tiga karya tersebut. Temuan dalam tulisan ini menunjukkan bahwa di satu sisi perempuan masih terbelenggu oleh patriarkat, tetapi di sisi lain perempuan bukanlah korban  patriarkat  yang  pasif:  perempuan  tetap  berupaya  untuk  keluar dari  belenggu ini dan memutus rantai penindasan patriarkat melalui kebebasan dan otonomi personal

    Deforestasi Pantai Timur Sumatra Dalam Novel Berpacu Nasib Di Kebun Karet, Kuli, Dan Doekoen Karya Madelon Szekely-Lulofs

    Full text link
    The Novels Berpacu Nasib di Kebun Karet, Kuli, and Doekoen by Szekely­‐Lulofs written on the basis of author's involvement in plantation companies on the East Coast of Sumatra, represents the world of a plantation with all of its characteristics. Through Berpacu Nasib di Kebun Karet, Kuli, and Doekoen, Szekely-Lulofs delivers reportage on the deforestation of the Sumatran East Coast being converted to plantation lands and the growth of plantation companies in Deli and its surrounding areas in the 1930s. Exploitation of forest resources was largely carried out by the Dutch and other foreign companies which secured concessions from the Dutch Colonial Government. This study attempts to explain the ecological transformation of the Sumatran East Coast in the form of deforestation and conversion of the new land as plantation, describes the practices of dehumanization against the plantation workers as the excesses of the achievement of certain economic targets, describes the new lifestyle of the planters as the impact of economic growth occurred in the area. To achieve that goals, the researcher conducts close and contrapuntal reading to expose the ecological colonialism practice. The theory used are postcolonial ecology based on the assumption that colonialism does not only change the structure of social, political, and cultural of colonized society but also radically changes the ecology and traditional livelihood patternsThe Novels Berpacu Nasib di Kebun Karet, Kuli, and Doekoen by Szekely-­‐Lulofs written on the basis of author's involvement in plantation companies on the East Coast of Sumatra, represents the world of a plantation with all of its characteristics. Through Berpacu Nasib di Kebun Karet, Kuli, and Doekoen, Szekely-Lulofs delivers reportage on the deforestation of the Sumatran East Coast being converted to plantation lands and the growth of plantation companies in Deli and its surrounding areas in the 1930s. Exploitation of forest resources was largely carried out by the Dutch and other foreign companies which secured concessions from the Dutch Colonial Government. This study attempts to explain the ecological transformation of the Sumatran East Coast in the form of deforestation and conversion of the new land as plantation, describes the practices of dehumanization against the plantation workers as the excesses of the achievement of certain economic targets, describes the new lifestyle of the planters as the impact of economic growth occurred in the area. To achieve that goals, the researcher conducts close and contrapuntal reading to expose the ecological colonialism practice. The theory used are postcolonial ecology based on the assumption that colonialism does not only change the structure of social, political, and cultural of colonized society but also radically changes the ecology and traditional livelihood patterns Key Words: deforestation; transformation; ecology; exploitation; dehumanization Abstrak: Novel Berpacu Nasib di Kebun Karet, Kuli, dan Doekoen karya Szekely-Lulofs yang ditulis berdasarkan keterlibatan pengarang di perusahaan perkebunan di Pantai Timur Sumatra merepresentasikan dunia perkebunan dengan segala karakteristiknya. Melalui Berpacu Nasib di Kebun Karet, Kuli, dan Doekoen, Szekely­‐Lulofs menyampaikan reportase tentang deforestasi Pantai Timur Sumatra yang dikonversikan sebagai lahan perkebunan dan pertumbuhan perusahaan perkebunan di Deli dan sekitarnya pada tahun 1930­‐an. Eksploitasi sumber daya hutan ini sebagian besar dilakukan oleh perusahaan Belanda dan perusahaan asing lain yang mendapatkan konsesi dari Pemerintah Kolonial Belanda. Penelitian ini berupaya untuk menjelaskan transformasi ekologi berupa deforestasi Pantai Timur Sumatra dan konversi lahan baru itu sebagai lahan perkebunan; menjelaskan praktik dehumanisasi terhadap para pekerja perkebunan sebagai ekses dari pencapaian target ekonomi tertentu; menjelaskan gaya hidup baru dari para pekebun sebagai dampak dari pertumbuhan ekonomi yang terjadi di daerah itu. Untuk mencapai tujuan itu dilakukan pembacaan dekat (close reading) dan teknik pembacaan kontrapuntal (contrapuntal reading) untuk menyingkap praktik kolonialisme ekologis itu. Adapun teori yang digunakan adalah teori ekologi pascakolonial yang bertolak dari asumsi bahwa kolonialisme tidak hanya mengubah struktur sosial, politis, dan kultural masyarakat terjajah, tetapi juga secara radikal mengubah ekologi dan pola­‐pola penghidupan tradisional

    Fungsi Teater Rakyat Ubrug Bagi Masyarakat Banten

    Full text link
    The purpose of this research is to describe the functions of the ubrug folk theater for Bantenese people. This study uses function theory and cultural studies. The data resources for the article is Mang Cantel’s Ubrug folk theater because it still often accepts the offer to perform on stage in wedding events in the area around Serang and Pandeglang. The method used in this research is a descriptive qualitative method. Meanwhile, the data collecting techniques are recording, interviewing, observing, making a transcription, and translating. The result of this research shows that ubrug folk theater has several functions for Bantenese people. The first function of ubrug is as a preservation media for Bantenese languages which are Serang Javanese and Banten Sundanese. Moreover, ubrug has become the media in moral education, media in a publicizing government program such as family planning (KB), and media of entertainment. Key Words: folk theater; function; ubrug Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan fungsi teater rakyat ubrug bagi masyarakat Banten. Teori yang digunakan adalah teori fungsi dan kajian budaya. Sumber data penelitian ini adalah teater rakyat ubrug Mang Cantel karena ubrug Mang Cantel masih sering menerima tawaran pentas pada acara-acara hajatan di daerah sekitar Serang dan Pandeglang. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik perekaman, wawancara, pengamatan, transkripsi, dan terjemahan. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa teater rakyat ubrug memiliki beberapa fungsi bagi masyarakat Banten. Ubrug berfungsi sebagai media pemertahanan bahasa Jawa Serang dan Sunda Banten. Bahasa yang digunakan tersebut menjadi ruh pertunjukan sehingga dapat menjadi alat untuk mempertahankan bahasa dan budaya Banten. Selain itu, ubrug dapat menjadi media penanaman pendidikan moral, media informasi program pemerintah seperti Keluarga Berencana (KB), dan sebagai media hibura

    156

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇