Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Corak Realisme Sosialis dalam Hikayat Kadiroen Karya Semaoen
Selama ini ada anggapan bahwa dalam sejarah sastra Indonesia corak realisme sosialis hanya ada dalam masa Lekra (1950-1965), padahal novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen yang terbit sebelumnya (1920) telah menunjukkan corak realisme sosialis. Oleh karena itu, masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimanakah corak realisme sosialis dalam novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap corak realisme sosialis dalam novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen. Dengan menggunakan metode deskripsi analitis dan teori sastra Marxis penelitian ini menemukan bahwa novel Hikayat Kadiroen sarat dengan propaganda ideologi Marxis dan propaganda ideologi Marxis dalam karya sastra adalah ciri yang melekat pada karya sastra yang bercorak realisme sosialis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tahun 1920 adalah awal munculnya realisme sosialis dalam sejarah sastra Indonesia.
Kata-Kata Kunci: Hikayat Kadiroen, propaganda Marxis, realisme sosialis
Abstract: All this time, there is a presumption that in the history of Indonesian literature, the socialist-realism pattern only existed in Lekra period (1950-1965), whereas Hikayat Kadiroen writ-ten by Semaoen published before (1920) had showed shades of socialist realism. Therefore, the issue that will be raised in this study is how the socialist realism pattern was described in Semaoen’s Hikayat Kadiroen? The aim of this study is to prove the shades of socialist realism in Hikayat Kadiroen. Using the analytical description method and Marxist literary theory, the study found out that Hikayat Kadiroen was full of Marxist ideology propaganda, and this Marxist ideology propaganda is the characteristic of literature with socialist realism shades. Thus, it can be concluded that 1920 was the beginning of the rise of socialist realism in the history of Indonesian literature.
Key Words: Hikayat Kadiroen, Marxist propaganda, socialist realis
Ragam Vegetasi dalam Puisi‐Puisi Palestina
Vegetasi Palestina adalah sekelompok tanaman yang tumbuh di bumi Palestina. Para penyair Palestina, melalui puisinya, mengemukakan beragam vegetasi yang tumbuh di Palestina sehingga menimbulkan permasalahan ragam vegetasi apa saja yang disebut dalam puisi dan apa fungsi penyebutannya? Tujuan penelitian ini adalah mengungkap ragam vegetasi asli Palestina dalam puisi karya penyair Palestina. Teori yang dimanfaatkan adalah teori adab al-muqawamah, yang mengatakan bahwa karya sastra merupakan piranti perlawanan terhadap segala penjajah dalam bentuk kata sehingga karya sastra tersebut dapat menggugah semangat pembacanya untuk berjuang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ragam vegetasi Palestina adalah penanda keberadaan wilayah dan bangsa Palestina yang berarti bahwa ada tanah tempat tanaman itu tumbuh dan ada bangsa yang memanfaatkan tanaman itu dalam kehidupan mereka. Penyebutan ragam vegetasi Palestina itu menjadi simbol perlawanan bangsa Palestina terhadap penjajahan Israel yang menduduki tanah Palestina melalui aneksasi dan kolonialisasi. Puisi perlawanan ini merupakan sebuah upaya untuk membangkitkan kesadaran umat manusia di dunia, khususnya bangsa Palestina, untuk melawan segala bentuk penjajahan di muka bumi.
Palestine’s vegetation is a group of plants growing in the Palestine’s soil. The Palestinian poets, through their poetries, explained the variety of plants growing in Palestine. Therefore, the research questions are what kinds of native plant growing in Palestine and why the Palestinian poets explain those plants in their poetries? The analysis theory is adab al-muqawamah meaning that literary work is an instrument to fight all forms of occupation and colonialism by using words to inspire the readers to fight. The result is that Palestine’s plant variety is a symbol of the presence of the region and the Palestinians, which means that there is a land where the plants grow and there is a nation that use the plants in their lives. Mentioning the diverse vegetation in poetries has become a symbol of Palestinian resistance against Israeli that has occupied Palestinian land through annexation and colonization. Poetry resistance is an effort to raise awareness of mankind in the world, especially the Palestinians, to fight against all forms of colonialism on this earth
Negosiasi antara Homoerotika dan Budaya Machismo dalam Novel Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe
Artikel ini bertujuan mengungkap negosiasi antara homoerotika dan prinsip machismo yang dijunjung tinggi dalam budaya Meksiko serta pengaruh faktor kelas sosial dan pendidikan keluarga terhadap hubungan tersebut dalam sastra Amerika Latin kontemporer berjudul Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe karya Benjamin Alire Sáenz. Masalah yang menjadi fokus penelitian adalah bagaimana negosiasi antara homoerotika dan prinsip machismo serta bagaimanakah faktor kelas sosial dan pendidikan keluarga memberikan pengaruh terhadapnya dalam novel tersebut. Dengan perspektif teori queer yang dicetuskan Annamarie Jagose dan metode pembacaan cermat, penelitian ini menghasilkan temuan bahwa machismo yang masih kuat dalam masyarakat Meksiko melahirkan perasaan homofobia, bahkan dalam diri kaum homoseksual sendiri. Kare-nanya, para gay cenderung menjadi rendah diri dengan orientasi seksualnya. Latar belakang pendidikan keluarga dan perbedaan kelas sosial memengaruhi persepsi tentangmachismo pada kaum lelaki. Keduanya merupakan faktor penting yang mendasari perilaku seseorang dalam me-nentukan orientasi seksualnya di lingkungan sekitar.
The article strives to reveal the negotiation between homoeroticism and machismo norms highly valued in Mexican culture, as well as the impact of social class and academic background, toward such relationship in a contemporary Latin American literary work, Benjamin Alire Sáenz‘s Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe. The focus of the study is how the negotiation between homoeroticism and machismo values, as well as social class and academic background, affect that relationship. Using Annamarie Jagose’s queer theory and close reading technique, the study results in the fact that machismo, still strongly held in Mexican communities, begets a homophobic feeling even for the homosexuals themselves. Therefore, the gays tend to feel inferior with their sexual orientation. The family’s academic background and social class difference influence the perception about machismo in men. Both prove to be crucial factors in determining one’s sexual orientation toward his social surroundings
Kuasa Orientalis Belanda atas Naskah-Naskah Kuno Indonesia dalam Cerpen “Di Jantung Batavia” Karya Indah Darmastuti
Pascamemproklamasikan kemerdekaan dan sekarang memasuki dunia global, Indonesia tetap menjadi objek penelitian penting para orientalis Belanda yang ingin mengeksplorasi budaya Indonesia. Fenomena ini terepresentasikan dalam cerpen “Di Jantung Batavia” karya Indah Darmastuti. Masalah penelitian ini adalah bagaimanakah strategi-strategi orientalis Belanda dalam menguasai berbagai naskah kuno Indonesia dan bagaimanakah pandangan orang Indonesia terhadap eksistensi orientalis Belanda dalam cerpen “Di Jantung Batavia”? Tujuan penelitian ini adalah mengungkap dan mendeskripsikan berbagai strategi orientalis Belanda dalam menguasai dan mempelajari naskah kuno Indonesia dan menggambarkan pandangan orang Indonesia terhadap orientalis Belanda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orientalis Belanda menjalankan misinya dengan membangun citra kejayaan Belanda di Indonesia, menjalin kedekatan dengan narasumber dari Indonesia, menguasai bahasa Indonesia, dan memburu naskah kuno di Perpustakaan Nasional, serta mengunjungi situs sejarah Indonesia. Orientalis Belanda ini dipandang superior dan sebagai sumber pengetahuan budaya Indonesia oleh orang Indonesia.
After declaring its independence and presently entering the global world, Indonesia still continues to be the research object of Dutch orientalists wanting to explore Indonesian culture. This phenomenon is represented in Indah Darmastuti’s short story, “Di Jantung Batavia”. The problems of this research are how the orientalist’s strategies are in gaining authority toward old manuscripts of Indonesia and how the Indonesians see the existence of Dutch orientalists as portrayed in “Di Jantung Batavia”. The research objectives are to reveal the orientalist’s strategies to gain authority toward old manuscripts of Indonesia and to describe the Indonesians’ viewpoint toward the Dutch orientalists. The finding of this research shows that Dutch orientalists carried out missions through constructing the image of the glory of the Dutch in the past in Indonesia, building close relationship with an Indonesian, mastering Indonesian language, and searching for old manuscripts in Indonesian National Library and observing historical sites. Dutch orientalists are regarded as superior and sources of knowledge on Indonesian culture
Problem Etnisitas India Dalam Cerita Pendek Malaysia
Karya sastra adalah dokumen kemanusiaan dan kebudayaan. Kumpulan cerita pendek Menara 7 (1998), terutama enam cerpen yang ditulis oleh pengarang Malaysia beretnis India, memberi gambaran problem kehidupan etnis India di Malaysia. Dengan meminjam teori etnisitas sebagai landasan, tulisan ini bertujuan mengungkap problem etnisitas India di Malaysia. Problem etnis India terkait dengan kemiskinan, pendidikan, gender, religi, budaya, dan persatuan. Keberadaan etnis India di Malaysia secara historis merupakan bagian dari kolonialisme Inggris di masa lampau. Residu kolonialisme menciptakan jejak hitam kemanusiaan yang mendalam. Sebagai pendatang, tersirat ada ketegangan sosial-budaya yang dialami etnis India, tetapi bukan konflik. Problem etnis India dalam cerpen Malaysia adalah sarana untuk becermin bagi masyarakat dalam negara yang multietnis.
Abstract:
Literature is a document of humanity and culture. A collection of short stories Menara 7 (1998), especially five short stories written by Malaysian Indian, gives an overview of Indian ethnic problems in Malaysia. Using postcolonial theory as an anchor, their problems are poverty, education, gender, religion, culture, and unity. The existence Malaysian Indian was British colonial legacy. The leftover of colonialism deeply creates dark footprints of humanity. As a newcomer, it’s implied there was social-cultural tension, but not conflict, experienced by Malaysian Indian. The problems in Malaysia short stories are a tool of reflection in a multiethnic society.
Key Words: problem, ethnic, ethnicity, short stor
Pengaruh Globalisasi Terhadap Perkembangan Kesusastraan Bali
Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh globalisasi terhadap budaya dan perkembangan sastra Bali dengan landasan teori globalisasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pustaka melalui langkah-langkah, di antaranya observasi, menyimak, dan mencatat pada kartu data. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa budaya Bali sejak lama sudah bersentuhan dengan globalisasi. Potensi budaya dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Bali dapat bersinergi dengan pengaruh globalisasi itu. Dalam bidang sastra khususnya, pengaruh globalisasi menunjukkan sesuatu yang positif. Semua itu dapat dibuktikan dengan semakin tingginya tingkat kreativitas dalam penciptaan karya sastra Bali, baik dalam bentuk tradisional maupun modern.
Abstract:
The paper aims to describe the effect of globalization toward the Balinese culture and literary development with the basic theory of globalization. The method used in this research is the literary method through some steps, including observes, observe, and noted on data cards. Data analysis uses qualitative of the descriptive method. Based on the result of the research it is found that Balinese culture has long been touched with globalization. The potency of culture and local genius of Balinese community can synergize with the effects of globalization. In the field of literature particularly, the effects of globalization mostly show something positive. All can be proved by the increasing creativity in creating literary works, both in traditional and modern forms.
Key Words: globalization; influence; culture; Balinese literature; creativit
Perbandingan Motif Novel Memoirs Of A Geisha Karya Arthur Golden Dengan Primadona Karya N. Riantiarno
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan intertekstual antara Primadona dan Memoirs of a Geisha. Kedua karya sastra tersebut dipilih karena kemiripan yang menimbulkan asumsi bahwa terdapat kaitan intertekstual antara kedua karya itu. Sumber data penelitian ini adalah novel Memoirs of a Geisha (2002) karya Arthur Golden dan Primadona (2006) karya R. Riantiarno. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa novel Memoirs of A Geisha dan Primadona mempunyai kemiripan pada beberapa aspek penting pembangun cerita, yakni motif dan penokohan. Primadona sebagai teks yang muncul terlebih dahulu diduga sebagai teks yang melatarbelakangi lahirnya Memoirs of a Geisha. Berdasarkan perbandingan motif-motif dan penokohan ditemukan adanya relasi intertekstual antara Memoirs of A Geisha dan Primadona.
Abstract:
This research aims to analyze the intertextuality between Primadona and Memoirs of a Geisha. Memoirs of a Geisha and Primadona were selected by an assumption that some texts were present inside another text. The source data of this study are Arthur Golden’s Memoirs of a Geisha (2002) and N. Riantiarno’s Primadona (2006). The result of this research is the spell out of motif and character. Primadona as a novel that publish previously was expected as the text that underlying the birth of Memoirs of a Geisha. Beside, with the comparison of the similar aspects, relation the both of Memoirs of a Geisha and Primadona.
Key Words: Memoirs of a Geisha; Primadona; intertex
Kerelaan Berbagi dan Keberanian Berbeda Perubahan Identitas Priyayi dalam Dwilogi Para Priyayi Karya Umar Kayam
Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana dua elemen budaya Jawa, yaitu kerelaan berbagi dan keberanian berbeda mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Upaya itu dilakukan dengan menganalisis dwilogi novel Para Priyayi dan Jalan Menikung karya Umar Kayam. Un tuk mencapai tujuan tersebut digunakan konsep-konsep yang dikemukakan oleh Kayam sendiri dalam menciptakan novel-novelnya. Selain itu, digunakan juga konsep model of dan model for yang dikemukakan oleh Clifford Geertz dalam menginterpretasikan kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam dwilogi karya Umar Kayam nilai kerelaan berbagi diwujudkan dalam berbagai relasi, baik relasi antar anggota keluarga maupun relasi sosial dari waktu ke waktu. Berbeda dengan nilai tersebut, nilai keberanian berbeda sulit diwujudkan dalam berbagai relasi, baik relasi antar anggota keluarga maupun relasi sosial. Kesulitan itu terjadi karena ada perbedaan kelas sosial, perbedaan orientasi dalam beragama Islam, perbedaan pandangan tentang kesempatan bagi wong cilik untuk mengenyam pendidikan, perbedaan agama, perbedaan orientasi politik di dalam dua novel tersebut. Namun, dalam hal perbedaan kelas sosial dan perbedaan agama tidak selamanya berani berbeda itu tidak bisa bersama.Abstract: This research aims to interpret how two elements of Javanese culture, those are a willingness to divisible and bravery to difference change from time to time. That effort has done with analyze Umar Kayam's novel Para Priyayi and Jalan Men Kung. This reasearch uses Kayam's concepts in the creative process. Besides that, is used the model of and model for concepts from Clifford Geertz in the interpretation of culture. The result of this research shows that in Kayam's novel values of willingness to divisible shown in the relation between members of the family or social relationship, from time to time. Different from a willingness to divisible, values of bravery to difference difficult to show in relation between members of the family or social relationship. The difficulties are happened because be found the difference of social class, a difference of orientation in Islam as religion, a difference of view about the opportunity for wong cilik to access education, difference of religion, difference of political orientation. Nevertheless, in the difference of social class and difference of religion is not forever bravery of difference is can't together.Key Words: willingness to divisible, bravery to difference, model of, model fo
Struktural (dan) Semantik: Teropong Strukturalisme dan Aplikasi Teori Naratif A.J. Greimas
Artikel berjudul Struktural (dan) Semantik: Teropong Strukturalisme dan Aplikasi Teori Nratif A.J. Greimas merupakan upaya untuk menguji kontribusi dan relevansi strukturalisme, baik sebagai teori, metode, maupun paradigma, dalam perkembangan kajian sastra dan budaya mutakhir. Adapun Struktural Semantik adalah buku yang ditulis A.J. Greimas, salah seorang strukturalis yang teorinya tentang naratif teks kerap digunakan. Penelitian ini disusun dengan metode deskripsi kritis yang dikonkretkan dengan aplikasi teori A.J. Greimas terhadap teks cerpen “Filosofi Kopi” untuk menunjukkan jangkauan serta limitasi teori yang didasarkan pada paradigma strukturalisme tersebut. Hasilnya, strukturalisme sebagai suatu teori dan metode berhasil mengidentifikasi makna secara rigid, namun tidak atau kurang mampu mengelaborasi makna secara lebih kompleks. Meskipun demikian, strukturalisme tetap perlu dilakukan sebagai salah satu tahap analisis yang darinya elaborasi dimungkinkan terjadi.
Abstract:
The article entitled Structural (and) Semantic: Perspective on Structuralism and the Application of A.J Greimas’ Narrative Theory examines the relevance of structuralism as well as its contribution either as a theory, method, or paradigm, in the development of contemporary literature and cultural studies. Structural Semantic is a book written by A.J. Greimas, a structuralist whose narrative theory is widely used. This research used critical descriptive method, concreted by
Greimas' theory applied to a short story entitled “Filosofi Kopi”, in order to reveal its scope and limitation based on the paradigm of the structuralism. The result suggested that structuralism, both as theory and method, could identify meaning rigidly, yet structuralism could not elaborate meaning more complexly. However, structuralism is still necessary as a stage of analysis from which elaboration is possible.
Key Words: structuralism, narrative, paradigm, acta