Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra
Not a member yet
    235 research outputs found

    Identifikasi Ideologi dan Pola Relasinya dalam Novel-­Novel Jacqueline Woodson

    Full text link
    Karya sastra sebagai situs hegemoni menampilkan berbagai ideologi yang ada di dalamnya. Ideologi tentang perbedaan ras, beserta konteks sosial politik yang melatarbelakanginya, menjadi suatu tema penting dalam karya sastra Amerika. Tema tersebut tidak hanya ditulis oleh pengarang kulit hitam, tetapi juga kulit putih. Artikel ini bertujuan untuk mengindetifikasi ideologi tentang perbedaan ras dan pola relasinya dalam sastra kulit hitam Amerika dengan menggunakan teori poskolonialisme dan hegemoni. Dengan menggunakan perspektif hegemoni, seorang pe-neliti sastra populer dapat menemukan hegemoni ideologi tertentu di balik sebuah karya. Artikel ini merupakan hasil kajian pustaka mengenai identifikasi ideologi tentang perbedaan rasial dan pola relasinya dalam novel-novel sastra populer Jacqueline Woodson. Hasil penelitian menun-jukkan bahwa (1) ideologi yang terlibat dalam perbedaan rasial dalam novel-novel Woodson adalah ideologi liberalisme, kapitalisme, dan rasisme; (2) pola relasi antara ideologi tersebut menunjukkan bahwa ideologi liberalisme adalah ideologi yang hegemonik, sedangkan kapitalisme adalah ideologi yang bangkit, dan rasisme adalah ideologi endapan. Literary work as a hegemonic site reflects various kinds of ideology within. Ideology of racial difference, along with its social-political context, has become an important theme in Ame-rican literature. This theme was not only written by black authors, but also white ones. This article aims to identify the ideology of racial difference and its relation in black American literature by using postcolonialism and hegemony theory. By using hegemony perspective, a popular literature reseracher can find certain hegemony of ideology in a literary work. This is a library study on ideo-logy of racial differences along with its relation pattern in the popular works of Jacqueline Woodson. The result shows that (1) ideology involved in racial differences in Woodson’s novels are liberalism, capitalism, and racism; (2) the pattern of ideology relation shows that liberalism is the hegemonic ideology, while capitalism is the emergent one, and racism is the residual one

    Alternatif Solusi Konflik Separatisme dalam Cerita “Calon Arang”

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan memaparkan (a) cerita Calon Arang sebagai mitos otonomi, (b) konteks historis cerita Calon Arang, (c) tradisi otonomi “Duplang Kamal-Pandak” zaman kerajaan, dan (d) implikasi cerita Calon Arang bagi solusi konflik separatisme pada abad modern. Penelitian dilaksanakan dengan menerapkan pendekatan sastra lisan. Sasaran penelitian ini adalah konsep otonomi dalam cerita “Calon Arang” dan relevansinya dengan situs sejarah Rajegwesi-Blambangan kuno di Lawang Seketheng dan situs “Duplang Kamal-Pandak” di Arjasa Jember. Data penelitian ini dikumpulkan dengan metode (a) dokumentasi, (b) observasi, dan (c) wawancara bebas-mendalam. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode heuristik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat “Calon Arang” merupakan mitos ilmu pengetahuan tentang cara mengatasi konflik separatisme di Jawa pada zaman dahulu. Situs Duplang di Arjasa Jember merupakan bukti solusi konflik yang terjadi pada zaman pemerintahan raja Airlangga dengan otonomi daerah. Pengetahuan tentang otonomi dalam cerita Calon Arang relevan untuk dipertimbangkan sebagai solusi alternatif dalam menyelesaikan konflik separatisme. Kata-Kata Kunci: separatisme, otonomi, cerita “Calon Arang” Abstract: This study aims to explain (a) Calon Arang as a myth of autonomy, (b) the historical con-text of Calon Arang, (c) the tradition of “Duplang Kamal-Pandak autonomy, and (d) the implica-tions of Calon Arang as a solution to overcome separatist conflict in the modern age. This research was conducted by applying the oral literature approach. The target of this research is the concept of autonomy in the story of "Calon Arang" and its relevance to the historical sites of Rajegwesi in Lawang Seketheng and "Duplang Kamal-Pandak" in Arjasa Jember. The data were collected by (a) documentation, (b) observation, and (c) in-depth interviews. Data analysis was performed using heuristic methods. The results showed that “Calon Arang folklore” is a scientific myth on how to solve the separatist conflict in Java. “Duplang Kamal-Pandak”in Arjasa Jember is a proof how to solve conflict that occurred during King Airlangga era using regional autonomy approach. Auto-nomy approach in “Calon Arang” is relevant to be considered as a solution in solving the separatist conflict. Key Words: separatism, autonomy, story of "Calon Arang

    Appendix Atavisme Vol. 19 No.2

    No full text

    Legenskap Masyarakat Bangkalan dan Unsur-­Unsur Pembentuknya

    Full text link
    Tujuan pelitian ini adalah menjelaskan legenskap di Kabupaten Bangkalan. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis data interaktif yang diusulkan oleh Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis legenda yang terdapat pada masyarakat Bangkalan ada lima, yaitu asal muasal berdirinya sebuah daerah, kesaktian tokoh masyarakat yang telah meninggal dan kuburannya dianggap keramat, tempat-tempat mistik, penyebaran agama Islam, dan asal-usul munculnya sebuah budaya. Sebaran layer berdasarkan waktu terbentuknya, terbagi menjadi lima, yaitu legenda klasik, neoklasik, zaman tengah, zaman baru, dan masa kini. Berdasarkan hubungan cerita, Kabupaten Bangkalan dibagi menjadi empat kontur legenda, yaitu kontur utara, barat, selatan, timur, dan tengah. Penelitian ini juga menemukan dua fakta menarik yaitu adanya empat legenda yang melibatkan karakter perempuan Madura yang kuat bernama Bendoro Gung, Dewi Retnadi, Syarifah Ambami, dan Dewi Nawang Wulan. Keempat wanita ini sangat dihormati orang Madura padahal budaya Madura terkenal dengan patriarkatnya. Fakta kedua adalah jejak Pangeran Trunojoyo yang begitu terkenal di Madura namun tidak tampak menghiasi skap legenda masyarakat Bangkalan. The purpose of this study is to explain the Bangkalanese legendscape. The method used to analyze the data was the interactive data analysis, which was proposed by Miles and Huberman. From the data analysis, it has been found that there are five types of Bangkalan legends, namely: the origin of the establishment of a region, respectful leaders who died, living his/her sacred grave, mystical places, the spread of Islam, and the origins of the emergence of a culture. It has also been found the distributional of layers of legends existance namely: classics, neoclassic, middle ages, new era, and present layers. Based on the legend interrelations, it has been found four contours of legends, namely the north, west, the south, the east, and the central contours. In addition, this study also reveals two other interesting facts. The first is about the existence of four legends involving Madura strong female characters named Bendoro Gung, Dewi Retnadi, Syarifah Ambami, and Dewi Nawang Wulan. The four women are highly respected by Madurese. This is contradictory to Madurese culture which admires patriarchy (man’s power) very much. The second is about Trunojoyo’s traces. This figure is so well known in Madura yet his footsteps are not so visible in Bangkalan legendscape

    Resistensi Perempuan terhadap Wacana Ratu Rumah Tangga dalam Cerpen Intan Paramaditha

    Full text link
    Tulisan ini membahas masalah resistensi perempuan terhadap konstruksi budaya yang telah dibumikan oleh kaum patriarkat dalam cerpen karya Intan Paramaditha yang berjudul “Mak Ipah dan Bunga-Bunga” dan “Sejak Porselin Berpipi Merah Itu Pecah”. Tujuan tulisan ini adalah menunjukkan dan mendeskripsikan resistensi yang dilakukan oleh kaum perempuan terhadap kemapanan konstruksi budaya patriarkat, khususnya tentang wacana ratu rumah tangga. Metode deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Teori yang digunakan adalah teori kritik sastra feminis. Hasil analisis terhadap cerpen ini adalah tokoh perempuan yang dimunculkan dalam cerpen ini merupakan bentuk perempuan yang selama ini terbungkam oleh sistem budaya yang dikonstruksi oleh kaum patriarkat. Teks digunakan oleh pengarang untuk meresistensi mitos ratu rumah tangga yang ‘dibumikan’ oleh kaum patriakat. Kata-Kata Kunci: resistensi, wacana, ratu rumah tangga. Abstract: This study is discussing women's resistance against cultural construction that has been proposed by the patriarchal community in Intan Paramaditha’s short stories: “Mak Ipah dan Bunga-Bunga” and “Sejak Porselin Berpipi Merah itu Pecah”. This paper is aimed at showing and describing women’s resistance against the established patriarchal culture construction, particularly on a discourse of women as the queen of the house. Descriptive method was applied in this study. The theory applied in this study was feminist literary criticism. The conclusion of the analysis on the two short stories was that a female character presented in these short stories was representing the women voice that had been silenced by a cultural system of patriarchal construction. Texts were employed by the author to resist against a myth of women as the queen of the house 'proposed' by the patriarchal community. Key Words: resistance, discourse, queen of the househol

    Appendix Atavisme Vol. 19 No.1

    No full text

    Pembongkaran Eksistensi Tokoh Utama dalam Peeling Karya Peter Carey

    Full text link
    Tulisan ini bertujuan untuk membongkar pengonstruksian eksistensi tokoh utama perempuan yang dilakukan oleh narator yang sekaligus bertindak sebagai tokoh utama laki-laki dan sebaliknya. Penelitian ini menggunakan metode dekonstruksi Jacques Derrida, dengan cara menelusuri permainan sistem penandaan (signifying practices). Penelitian ini menemukan paradoks yang bersirkulasi dan berantai dalam signifying practices menunjukkan ketidakstabilan (kontradiksi) makna yang mengindikasikan tidak hanya proses konstruksi monologis perempuan, hasrat erotis homoseksual terepresi tokoh utama laki-laki ataupun demitologisasi peran perempuan, tetapi juga cerita pendek bergenre dystopia ini (Peeling) memperlihatkan kekaburan demarkasi makna yang disebabkan asimetris jaringan penanda/petanda dalam lapisan misteri eksistensi kedua tokoh utama tersebut. Kata-Kata Kunci: eksistensi, dekonstruksi, signifying practices, kekaburan demarkasi. Abstract: This paper aims to deconstruct the existence of a main female character conducted by the male narrator agent and vice versa. This research employed Derridas deconstruction method by way of tracing the signifying practices in Peeling. It is found that the paradox circulates and intertwines in the signifying practices demonstrating the instability (contradiction) of meanings that indicates not only the monologic construction of woman, repressed homo-erotic desire of the main male character, demythologisation of womens roles, but also that this dystopian short story shows the obscure demarcation of meaning due to the asymmetrical web of signifier/signified in the mystery of existence of both main characters. Key Words: existence, deconstruction, signifying practices, obscure demarcatio

    Back Cover

    No full text

    Front Cover

    No full text

    Urbanisme, Urbanisasi, dan Masyarakat Urban di Jakarta dalam Novel Senja di Jakarta

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan memahami aspirasi dan gagasan kelompok sosial pengarang yang diekspresikan melalui sebuah pandangan dunia. Urbanisme merupakan tradisi urban yang berkaitan erat dengan pembentukan negara dan sistem dominasi. Oleh karena itu, perpindahan penduduk dari desa ke kota bertujuan mencari pekerjaan. Namun, para urbanis justru tidak mendapatkan pekerjaan yang layak, bahkan terjebak oleh hasutan kelompok komunis. Sebaliknya, penguasa yang berasal dari pedalaman memperoleh tempat strategis dalam pekerjaan karena bekerja sama dengan partai politik. Akibatnya, mereka melakukan tindak korupsi dan pelanggaran, baik di bidang demokrasi, nasionalisme, maupun agama. Teori yang digunakan adalah teori strukturalisme-genetik dengan metode dialektis Lucien Goldmann. Hasil penelitian yang diperoleh: de-mokrasi telah mati, agama tersingkir dari kehidupan masyarakat, dan nasionalisme, meskipun masih eksis, kalah oleh kaum kapitalis. Akibatnya, masyarakat urban tidak mengenal arti demokrasi, nasionalisme, dan menganggap agama hanya sebagai sebuah mitos. Pandangan dunia yang diekspresikan adalah kembalikan demokrasi, hargailah kaum nasionalis, dan gunakan agama sebagai pegangan hidup. This research aims to conceive the aspiration and thought prevailing at the author’s social group commonly expressed through the author’s world view. The migration of villagers to cities has the goal of getting jobs. Unfortunately, the urbans cannot get descent jobs. In contrast, the village ruling class hold strategic positions in their jobs for being involved with the political parties. Consequently, they engage in corruption, violations in democracy, nationalism, and infringement on values of religion. This research used genetic structuralism with Lucien Goldmann’s dialectic method. The result shows that democracy has failed, religion is swept away from the peoples’ lives, and nationalism, though still exists, is defeated by the capitalist. Consequently, urbans do not recognize the meaning of democracy and nationalism, and considers religion as a myth. The author’s world visions expressed are the restoration of democracy, respecting the nationalists, and using religion as the value of life

    156

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇