E-Jurnal Universitas Tunas Husada Tasikmalaya
Not a member yet
22393 research outputs found
Sort by
PROFIL FISIKA KIMIA MADU FERMENTASI DENGAN BAWANG PUTIH TUNGGAL
Honey has been used in traditional medicine since antiquity. Honey is often used as a beauty and medical ingredient, namely reducing cholesterol, and curing wounds and dead tissues. Combining single garlic and honey is a trend in medicine. They are often used to treat stomach ulcers and stomach acids, inhibit the growth of cancer cells, lower very high cholesterol levels, anti-viral and anti-bacterial, flu, insomnia, and many more uses in health. This research was inspired by the use of diverse honey, with the theme of research on the chemical physics profile of fermented honey with a clove of single garlic. The purpose of this study is to see the chemical-physical profile of honey quality before and after fermentation with single garlic based on SNI 2018. This study used a descriptive method of analysis to observe differences in the physical properties of honey before and after fermentation. Testing includes observations of organoleptic, viscosity, moisture content, and acidity tests.The results obtained by the viscosity of pure honey and fermented honey decreased from 18.50 poise to 1.76 poise. The moisture content before and after fermentation increased from 19.5% to 48.03% as well as the acidity increased from 73.7 mL/kg of honey to 113.00 mL/kg of honey. The chemical physics profile of honey includes organoleptic viscosity and moisture content before meeting the requirements of SNI 8664 2018. While the acidity of honey is higher than the criteria set by SNI. Honey fermented for 2 weeks gets results less following organoleptic awareness, the viscosity value of honey is less than 10 poise, namely 1.7 poise, water content is 48.032%, and acidity of honey is 113.00%
HUBUNGAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI TERHADAP PENILAIAN KONSUMEN TENTANG PERAN APOTEK SEBAGAI TEMPAT PELAYANAN INFORMASI OBAT
ABSTRACTPharmaceutical service is an attendance that for appertain related to information on medicines and medical devices which is responsible to consumers to prevent disease, treat disease, and improve the quality of life. Currently, people need good pharmaceutical services to get information about various kinds of pharmaceutical preparations. One of them is pharmaceutical services in pharmacies which are required to change their orientation from product/drug oriented to patient oriented. Drug information services are significant in health services for the community because the medicines can cause unwanted side effects if inappropriate use. Therefore, giving correct, objective, and complete drug information greatly supports the provision of health services so that the community can increase the benefits and safety of drug use. This study aims to determine the relationship of sociodemographic factors to consumer assessment of the role of the pharmacy as a place for drug information services in Barabai District, South Kalimantan. This type of research is descriptive-analytic, using a cross-sectional survey method with a sampling technique that is proportional stratified random sampling using a questionnaire with generally 397 respondents. The data analysis used was univariate and bivariate with the chi-square test. The results showed that consumers\u27 evaluation of the role of the pharmacy as a place for drug information services in Barabai District, South Kalimantan, was good for 56 people (14.1%) and quite good for 341 people (85.9%). Statistical test results showed that there was a relationship between the sociodemographic factor of gender and consumers\u27 assessment of the role of the pharmacy as a place for drug information services with p-value = 0.037 <α = 0.05, while there was no relationship between sociodemographic factors namely age, occupation, education, and income on consumers\u27 assessment of the role of the pharmacy as a place for drug information services. There is a relationship between sociodemographic factors of gender on consumers\u27 assessment of the role of the pharmacy as a place for drug information services, while there is no relationship between sociodemographic factors, namely age, occupation, education, and income on consumer assessments of the role of pharmacies as a place for drug information services.ABSTRAKPelayanan kefarmasian merupakan suatu pelayanan yang diberikan secara langsung berkaitan tentang informasi obat-obatan dan alat kesehatan dimana bertanggung jawab kepada konsumen yang bertujuan untuk mencegah penyakit, mengobati penyakit dan meningkatkan mutu kehidupan, Saat ini masyarakat sangat memerlukan pelayanan kefarmasian yang baik untuk mendapatkan informasi tentang berbagai macam sediaan farmasi. Salah satunya adalah pelayanan kefarmasian di Apotek yang dituntut untuk merubah orientasinya dari product /drug oriented menjadi patient oriented. Pelayanan informasi obat merupakan hal yang penting dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat karena obat dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan apabila penggunaannya tidak tepat. Oleh sebab itu penyediaan informasi obat yang benar, objektif dan lengkap akan sangat mendukung dalam pemberian pelayanan kesehatan sehingga masyarakat dapat meningkatkan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor sosiodemografi terhadap penilaian konsumen tentang peran apotek sebagai tempat pelayanan informasi obat di Kecamatan Barabai Kalimantan Selatan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik, menggunakan metode survey cross-sectional dengan teknik pengambilan sampel yaitu proportional stratified random sampling menggunakan kuesioner dengan jumlah responden sebanyak 397 orang. Analisis data yang digunakan yaitu univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian konsumen tentang peran apotek sebagai tempat pelayanan informasi obat di Kecamatan Barabai Kalimantan Selatan adalah baik sebanyak 56 orang (14,1%) dan cukup baik sebanyak 341 orang (85,9%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara faktor sosiodemografi jenis kelamin terhadap penilaian konsumen tentang peran apotek sebagai tempat pelayanan informasi obat dengan p-value = 0,037 < α = 0,05, sedangkan tidak ada hubungan antara faktor sosiodemografi yaitu usia, pekerjaan, pendidikan, dan penghasilan terhadap penilaian konsumen tentang peran apotek sebagai tempat pelayanan informasi obat. Terdapat hubungan faktor sosiodemografi jenis kelamin terhadap penilaian konsumen tentang peran apotek sebagai tempat pelayanan informasi obat sedangkan tidak ada hubungan antara faktor sosiodemografi yaitu usia, pekerjaan, pendidikan, dan penghasilan terhadap penilaian konsumen tentang peran apotek sebagai tempat pelayanan informasi obat
PENDAMPINGAN PENINGKATAN MANAJEMEN REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN DI PUSKESMAS KARANGNUNGGAL KABUPATEN TASIKMALAYA
Fasilitas kesehatan termasuk puskesmas dan klinik diwajibkan untuk memberikan pelayanan manajemen informasi kesehatan, pelayanan tersebut berdasar pada data dan informasi kesehatan bersumber dari Rekam Medis (RM) yang bermutu serta terintegrasi. Salah satu bagian penting dalam pelayanan di FKTP adalah manajemen informasi kesehatan dan rekam medis, pelayanan ini merupakan pelayanan yang tidak terpisahkan dari pelayanan mulai dari pendaftaran, pencatatan, pengelolaan, bukti hukum hingga bagian penyimpanan. Puskesmas yang bekerja sama dengan BPJS wajib diakreditasi setidaknya tiga tahun sekali,dan akreditasi tersebut juga salah satu syarat untuk kredensial. Puskesmas Karangnunggal adalah salah satu puskesmas di Kabupaten Tasikmalaya, yang pada tahun 2020 akan dilakukan reakreditasi. Untuk mendapatkan hasil terbaik akreditasi dalam standar Manajemen Informasi dan Rekam Medis, khususnya Puskemas Karangnunggal perlu mendapatkan pendampingan dalam peningkatan manajemen Rekam Medis dan Informasi Kesehatan. Pengabdian Kepada masyarakat telah dilaksanakan dengan metoda workshop dan bimbingan penyusunan dokumen kebijakan dan prosedur serta formulir rekam medis. Dan luaran dari kegiatan ini adalah telah tersusunnya dokumen kebijakan dan prosedur, masukkan untuk revisi formulir rekam medis serta penerapan e-family folder
PELATIHAN PEMANFAATAN BAHAN HERBAL SEBAGAI JAMU IMUNOSTIMULAN BAGI KELOMPOK PKK RW 001 DESA MAJASETRA KECAMATAN MAJALAYA KABUPATEN BANDUNG
Sampai saat ini, dapat dikatakan kita masih berada dalam kondisi pandemic COVID-19, khususnya di Indonesia. Telah kita ketahui bersama bahwa dalam menghadapi pandemic COVID-19 ini kita harus menjaga sistem kekebalan tubuh untuk meminimalisir kemungkinan terpaparnya tubuh oleh virus COVID-19 dan patogen lainnya. Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Kp. Pangkalan RW. 001 Desa Majasetra, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung berupa pelatihan pemanfaatan bahan herbal sebagai jamu imunostimulan atau peningkat daya tahan tubuh kepada kelompok PKK setempat yang nantinya akan disebarluaskan kepada masyarakat. Dari hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, warga RW 001 Kp. Pangkalan, Desa Majasetra, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung telah menerima pemahaman akan pentingnya menjaga daya tahan tubuh terlebih dalam situasi pandemi dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar kita
PELAKSANAAN SURVEILANCA KASUS PTM MELALUI PEMANFAATAN M-HEALTH SILEMHAT-PTM
Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan komorbid Covid-19. PTM memerlukan penanganan yang intens, yang diawali dengan deteksi dini faktor resiko yang menjadi penyebab terjadinya PTM. Kegiatan deteksi dini dapat dikembangan dengan penggunaan teknologi informasi di era pandemi dalam bentuk mobile health (m-Health). Kader Posbindu merupakan sukarelawan bidang kesehatan yang memiliki potensi dalam surveillance PTM. Kota Tasikmalaya memiliki empat wilayah kerja Puskesmas dengan kejadian PTM tertinggi, yaitu Puskesmas Tawang, Tamansari, Cipedes, dan Cibeurerum. Kegiatan surveilance dilakukan oleh kader dengan pemanfaatan M-Health SILEMHAT-PTM. M-Health SILEMHAT-PTM telah digunakan sebagai alat skrining dan surveillance PTM masyarakat di Kota Tasikmalaya. Database pelaporan survaillance dapat digunakan sebagai database pemetaan, kajian, dan penyusunan rencana pencegahan PTM bagi Puskesmas. Hasil surveillance terhadap 1258 orang penduduk di empat wilayah puskesmas Kota Tasikmalaya sebagian besar hasil surveillance mengalami obesitas dan hipertensi. Surveillance sebaiknya dilakukan secara berkala untuk mendeteksi resiko kejadian PTM di masyarakat
Formulasi dan Uji Stabilitas Sediaan Masker Serbuk Amylum Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)
Curcuma is a medicinal plant that contains curcuminoids as active components consisting of curcumin, demethoxycurcumin and bisdemethoxycurcumin. Curcuminoids in curcuma can function to brighten the skin or as a tyrosinase inhibitor and as an antioxidant. This study aims to examine the best formulation of powdered mask preparations from starch curcuma based on physical evaluation and stability tests of preparations. The test methods used were total plate count test, organoleptic test, particle size test, flow time test and angle of repose, pH test, homogeneity test, hedonic test and stability test. The test results showed that F3 was the best formula and had good stability in oven storage at 40º. The characteristics of the mask were in powder form, yellowish white in color, with a characteristic scent curcuma. It has a particle size value of 1 mm, a poor flow time, and an angle of repose value of 40º. The results of the 6.3 cm spreadability test and the pH value of the preparation were 5. The conclusion of the study showed that F3 was the best formula and had resistance at 400C storage temperature
Arang Aktif Cangkang Telur Bebek Termodifikasi Tween 80 sebagai Adsorben Tetrasiklin Hidroklorida
Kerusakan terhadap lingkungan perairan telah menjadi isu global saat ini yang salah satunya disebabkan oleh paparan antibiotik seperti tetrasiklin hidroklorida. Material berbasis karbon seperti arang aktif sangat sering digunakan untuk menyerap tetrasiklin hidroklorida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan daya serap dari cangkang telur bebek yang dimodifikasi dengan tween 80. Tween 80 merupakan surfaktan yang bersifat hidrofilik dan bisa menurunkan tegangan permukaan. Penentuan kemampuan daya serap cangkang telur bebek menggunakan metode Batch. Arang aktif di modifikasi dengan tween 80 dibuat tiga perbandingan yaitu 100:100, 100:75, 100:50. Penyerapan arang aktif yang termodifikasi dengan tween 80 dengan perbandingan 100:50 memiliki daya serap paling tinggi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa semakin banyak tween 80 yang di tambahkan, maka semakin tinggi daya serap dari arang aktif cangkang telur bebek terhadap Tetrasiklin Hidroklorida. Oleh karena itu, material arang aktif dari cangkang telur bebek yang dimodifikasi menggunakan tween 80 dapat dapat berpotensi sebagai salah satu pilihan dalam mengurangi kerusakan lingkungan perairan yang disebabkan oleh paparan antibiotik
Evaluasi dan Pengendalian Obat dengan Metode ABC Indeks Kritis di Rumah Sakit Umum Daerah Pandega Kabupaten Pangandaran
Pelayanan Instalasi farmasi rumah sakit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit. Di rumah sakit,Instalasi Farmasi Rumah Sakit merupakan bagian yang termasuk profit center, oleh karena itu diperlukan pengelolaan yang efektif dan efisien agar tidak terjadi kerugian dalam investasi dan menurunnya pelayanan kepada pasien. Untuk hal tersebut perlu dilakukan evaluasi dan pengendalian obat menggunakan metode ABC Indeks Kritis. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan analisis deskriptif secara retrospektif dengan menggunakan data kualitatif dan kuantitatif dari bulan Oktober sampai bulan Desember 2021. Metode ABC Indeks kritis merupakan metode yang didasarkan pada kekritisan obat, yang dapat digunakan dalam perencanaan obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengelompokan obat kedalam kelompok A, B, dan C dengan menggunakan metode ABC Indeks Kritis, serta mengevaluasi sistem pengelolaan obat selama bulan Oktober sampai Desember 2021. Metode ABC indeks kritis dimulai dari pengelompokan obat berdasarkan nilai pakai dan nilai investasi, kemudian dilanjutkan dengan penetapan nilai kritis obat berdasarkan kelompok V (vital), E (esensial), dan N (non esensial) Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa jumlah item yang termasuk kelompok A sebanyak 18 item (3,26%) dengan nilai kritis rata-rata sebesar 10,30 Kelompok B sebanyak 203 item (36,84%) dengan nilai indeks kritis rata-rata 7,67 Dan kelompok C sebanyak 330 item (59,89 %) dengan nilai indeks kritis rata-rata 5,19 Dari hasil penelitian juga menunjukan bahwa pengelolaan obat sudah sesuai dengan Permenkes nomor 73 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah sakit
Isolasi Kolagen dari Limbah Tulang Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) serta Pemanfaatan sebagai Sediaan Hand Gel Lotion
Penggunaan kolagen dalam bidang kosmetika diantaranya pencegahan keriput meningkatkan kelembaban kulit, menjaga paparan radikal bebas, serta elastisitas kulit akan tetapi masih sedikit yang melakukan pemanfaatan bahan protein lain sebagai sumber kolagen. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh kolagen hasil hidrolisis menggunakan pelarut HCl serta optimasi antara penambahan NaCl dan NaOH terhadap kualitas kolagen menurut standar GME 2020 serta memperoleh sediaan hand gel lotion dengan variasi penggunaan Cremophor RH 40 dan PEG 400 yang memenuhi syarat evaluasi. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratory. Dengan pengujian karakterisasi kolagen berdasarkan standar GME 2020, serta dilakukan evaluasi sediaan pada sediaan hand gel lotion . Hasil optimasi hidrolisis penambahan NaCl dan NaOH didapati nilai rendemen berturut-turut 18,615% b/b, dan 21,333% b/b. Berdasarkan GME pada kadar air kolagen dengan NaCl memenuhi standar sebesar 14,40%. Dan pH kolagen NaCl dan NaOH berturut-turut 4,65 dan 6,88. Pada pengujian FTIR tidak ada perbedaan gugus fungsi. Hasil evaluasi homogenitas pada formula 2 tidak terbentuknya partikel kasar, dengan nilai pH yang dihasilkan memenuhi pH kulit yakni 5,23, serta nilai viskositas 2726,667 cPs
Prediksi Aktivitas Senyawa Turunan Terpenoid dari Tanaman Wortel (Daucus carota) sebagai Kandidat Antimelanogenesis secara In Silico
Proses biosintesis melanin (melanogenesis) yang meningkat dapat menyebabkan kelainan kulit seperti hiperpigmentasi. Salah satu target dalam pengembangan antimelanogenesis adalah enzim tirosinase yang berperan sebagai katalisator proses oksidasi L-tirosin menjadi dihydroxyphenylalanine (DOPA) yang kemudian membentuk melanin. Penelitian terdahulu melaporkan bahwa ekstrak wortel (Daucus carota) menunjukkan aktivitas inhibitor tirosinase yang kuat, namun spesifik senyawa yang berpotensinya belum diketahui. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mempelajari interaksi senyawa turunan terpenoid dari tanaman wortel (Daucus carota) terhadap reseptor enzim tirosinase (PDB ID: 5I38). Penelitian dilakukan secara in silico melalui studi prediksi toksisitas dan farmakokinetika, screening ligand based drug likeness (drug scan), docking serta simulasi dinamika molekul. Hasil docking menunjukkan bahwa senyawa terbaik dengan binding energy paling rendah dibandingkan senyawa uji lainnya yaitu senyawa terpinolene dengan nilai ΔG -5,83 kkal/mol dan Ki 53,61 μM, setelah sebelumnya diprediksi memenuhi standar toksisitas, farmakokinetika, dan drug scan. Hasil docking tersebut dibuktikan dengan simulasi dinamika molekul selama 20 ns menggunakan metode MM-GBSA dengan ΔGTOTAL bernilai -7,4879 kkal/mol dan berinteraksi dengan sisi aktif reseptor enzim tirosinase yaitu asam amino His208 dan Arg209. Dalam aspek toksisitas dan farmakokinetika, senyawa terpinolene lebih baik dibandingkan kojic acid. Senyawa terpinolene diprediksi dapat digunakan sebagai kandidat antimelanogenesis