E-Jurnal Universitas Tunas Husada Tasikmalaya
Not a member yet
    22393 research outputs found

    POTENSI SENYAWA ANTI INFLAMASI DARI DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) PADA ENZIM COX-2 SECARA IN SILICO

    Full text link
    Inflammation is still a major cause of death in the world, especially in tropical regions (including Indonesia). The use of non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) has many side effects and is even toxic. Efforts to find drugs with low toxic effects require long stages and high costs. This effort can be accelerated with a computational approach in the early stages of drug development through the CADD technique by minimizing the risk of failure in later stages. The protein that plays a role in delaying inflammation is the cyclooxygenase (COX) enzyme. Inhibition of COX-2 has much lower side effects than inhibition of COX-1. COX-2 is induced by inflammatory stimuli expressed in synovial cells, leukocytes, fibroblasts, and macrophages, therefore becoming one of the target proteins in inflammation. Natural compounds of the phenolic, flavonoid, and alkaloid groups have been reported to have potential as anti-inflammatories. Soursop leaves are known to be rich in flavonoids. The empirical efficacy of soursop leaves (Annona muricata L.) has been known by the Indonesian people in the treatment of rheumatism or rheumatoid arthritis, anti-inflammatory, antipyretic, and analgesic. This study was conducted in silico with a molecular docking approach using iGemDock v2.1 software. The binding between ligand-target (COX enzyme) was evaluated using Discovery Studio Visualizer. The results showed that all test compounds inhibited COX-2, the isohamnetin 3 robinobioside compound has the potential to be a selective inhibitor of COX-2 when compared to other test compounds and with a reference drug (ibuprofen).Inflamasi masih menjadi penyumbang kematian di dunia terutama di wilayah tropis (termasuk Indonesia). Penggunaan obat antiinflamasi non streroid (ANS) banyak menimbulkan efek samping bahkan toksik. Upaya penemuan obat yang rendah efek toksik memerlukan tahapan yang panjang dan biaya yang besar. Upaya ini dapat dipercepat dengan pendekatan komputasi pada tahap awal pengembangan obat melalui teknik CADD dengan meminimalkan resiko kegagalan pada tahap selanjutnya. Protein yang berperaan dalam penunda inflamasi adalah enzim cyclooxygenase (COX).  Penghambatan COX-2 jauh lebih rendah efek sampingnya dibandingkan penghambatan COX-1. COX-2 diinduksi oleh rangsangan inflamasi terekspresi pada sel sinovial, leukosit, fibroblas dan makrofag, oleh karena itu menjadi salah satu protein target pada inflamasi. Senyawa bahan alam golongan fenolik, flavonoid, dan alkaloid dilaporkan memiliki potensi sebagai antiinflamasi. Daun sirsak diketahui kaya akan kandungan flavonoid. Khasiat empiris dari daun sirsak (Annona muricata L.)  telah dikenal oleh masyarakat Indonesia dalam pengobatan rematik atau rheumatoid arthritis, anti inflamasi, anti piretik, dan analgetik. Penelitian ini dilakukan secara in silico dengan pendekatan penambatan molekul menggunakan perangkat lunak iGemDock v2.1. Ikatan antara ligan-target (enzim COX) dievaluasi menggunakan Discovery Studio Visuzlizer. Hasil penelitian menunjukan semua senyawa uji menghambat COX-2, senyawa isohamnetin 3 robinobioside berpotensi menjadi penghambat selektif COX-2 jika dibandingkan dengan senyawa uji lainnya serta dengan obat pembanding (ibuprofen)

    Potensi Ekstrak Tanaman Sebagai Antibakteri Streptococcus Pneumoniae Penyebab Pneumonia Secara In Vitro: Systematic Literature Review: Potential Of Plant Extracts As Anti-Streptococcus Pneumoniae, The Cause Of Pneumonia, In Vitro: Systematic Literature Review

    Full text link
    Pneumonia merupakan penyakit infeksi paru yang banyak disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae dan semakin sulit ditangani akibat meningkatnya resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan menelaah potensi ekstrak tanaman sebagai antibakteri terhadap Streptococcus pneumoniae secara in vitro melalui metode Systematic Literature Review (SLR). Pencarian literatur pada basis data Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan Garuda dalam lima tahun terakhir menghasilkan 11 artikel yang dianalisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak tanaman memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter zona hambat berkisar antara ±4–44 mm, dari kategori lemah hingga sangat kuat. Ekstrak rimpang Zingiber zerumbet menunjukkan aktivitas antibakteri paling kuat dengan diameter zona hambat tertinggi, diikuti oleh ekstrak rimpang Alpinia conchigera. Aktivitas antibakteri meningkat seiring kenaikan konsentrasi ekstrak dan berkaitan dengan kandungan senyawa fitokimia seperti flavonoid, alkaloid, tanin, terpenoid, dan minyak atsiri. Kesimpulannya, ekstrak tanaman, khususnya rimpang Zingiber zerumbet dan Alpinia conchigera, berpotensi dikembangkan sebagai agen antibakteri alami dan terapi komplementer pada pneumonia akibat Streptococcus pneumoniae, meskipun masih diperlukan penelitian lanjutan secara in vivo dan uji klinis. Kata Kunci : Antibakteri, ekstrak,  in vitro,  Streptococcus pneumoni, tanama

    Development and Characterization of Effervescent Granules Containing Cinnamomum burmanii Ethanolic Extract with Potent Antioxidant Activity

    No full text
    The study aimed to develop effervescent granules containing Cinnamomum burmanii extract with strong antioxidant activity, good physicochemical stability, and consumer acceptability. Ethanolic extraction was employed to maximize the recovery of phenolic and flavonoid compounds, followed by formulation through controlled wet granulation using citric acid, tartaric acid, sodium bicarbonate, polyvinylpyrrolidone, and aspartame. The resulting extract showed potent antioxidant capacity with an IC₅₀ of 7.82 ppm, indicating high radical-scavenging activity. Three formulations (F1–F3) were evaluated for physical properties, dissolution, pH, and sensory characteristics. The optimized formulation (F3) demonstrated rapid effervescence (<3 minutes), suitable acidity (pH 3.7–4.2), low moisture content (<5%), and strong consumer acceptance. Although antioxidant activity slightly decreased after granulation (IC₅₀ ≈ 69 ppm), the product maintained significant efficacy and stability. These results confirm that ethanol extraction combined with optimized wet granulation effectively produces a stable, functional, and palatable herbal effervescent formulation. The study establishes a scientific basis for converting C. burmanii into a modern nutraceutical product and supports its potential application in antioxidant beverages. Future work should explore bioavailability enhancement and synergistic formulations with other botanical extracts to maximize therapeutic value and product performance

    Review Artikel: Perkembangan Evaluasi Stabilitas Sediaan Sirup Berbagai Formula Dengan Bahan Aktif Yang Berbeda

    Full text link
    Stabilitas sediaan sirup adalah faktor penentu mutu karena mempengaruhi keamanan, efektivitas, dan penerimaan pasien. Sirup merupakan larutan oral bergula yang mengandung zat aktif, pelarut, pemanis, penstabil, pengawet, dan pengental, sehingga rentan mengalami perubahan fisikokimia selama penyimpanan. Untuk menjaganya, berbagai pendekatan formulasi dan metode evaluasi terus dikembangkan. Pendekatan berbasis Quality by Design kian diadopsi karena mampu memetakan Critical Quality Attributes, memperluas parameter uji, dan menstandarkan kondisi pengujian agar hasil dapat dibandingkan lintas studi. Kajian ini disusun menggunakan metode narrative review dengan analisis deskriptif terhadap literatur yang relevan. Artikel ilmiah periode 2014–2024 dikumpulkan dari jurnal nasional terakreditasi dan platform seperti Connected Papers, Elsevier, PubMed, serta Google Scholar. Kata kunci yang digunakan dalam penelusuran literatur meliputi: “stabilitas sediaan sirup”, “stabilitas fisik sirup”, “pengaruh pH terhadap stabilitas sirup”, “formulasi sirup parasetamol”, “sirup dengan bahan aktif alami”, dan “evaluasi mutu sediaan sirup”. Hasil menunjukkan pergeseran dari uji dasar seperti organoleptik, pH, dan homogenitas menuju panel yang lebih spesifik, yaitu viskositas, bobot jenis, kejernihan, waktu tuang, volume yang terpindahkan, serta uji hedonik untuk menangkap penerimaan pengguna. Panel ini membuat pemantauan produk lebih rinci, konsisten, dan relevan dengan praktik industri. Pengembangan terbaru menonjolkan penggunaan kosolven non sukrosa seperti sorbitol, propilen glikol, dan gliserol; sejumlah studi juga mengintegrasikan uji aktivitas biologis pada sirup herbal dan menyesuaikan kondisi penyimpanan uji agar lebih representatif. Kesimpulannya, uji stabilitas sirup terus berevolusi dan kian spesifik, sehingga evaluasi kini lebih menyeluruh untuk menjamin mutu, keamanan, dan kenyamanan penggunaan

    Tinjauan Literatur: Peran Penyalutan Dalam Meningkatkan Stabilitas Dan Kualitas Obat Pada Sediaan Tablet

    Full text link
    Proses penyalutan tablet merupakan tahap penting dalam pengembangan sediaan padat karena berperan langsung terhadap stabilitas, mutu fisik, dan efektivitas obat. Penyalutan tidak hanya berfungsi sebagai pelindung zat aktif dari pengaruh lingkungan seperti kelembaban, panas, dan cahaya, tetapi juga berperan dalam pengendalian pelepasan obat dan peningkatan kenyamanan penggunaan. Artikel ini merupakan tinjauan sistematis terhadap 17 publikasi ilmiah periode 2015-2025 yang diperoleh melalui basis data Google Scholar, PubMed, dan Sci-Hub. Kata kunci pencarian meliputi “tablet salut film”, “stabilitas fisik tablet”, “penyalutan enterik”, “film coating optimization”, dan “Quality by Design tablet coating”. Hasil telah menunjukkan bahwa parameter utama penilaian mutu tablet meliputi keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu hancur, dan profil disolusi. Secara umum, penyalutan terbukti meningkatkan kekerasan tablet, menurunkan kerapuhan, menjaga keseragaman ukuran dan bobot, serta mempertahankan stabilitas kimia zat aktif. Polimer pelapis seperti OPADRY, Kollicoat, Eudragit, dan HPMCP terbukti efektif dalam meningkatkan ketahanan terhadap kondisi asam dan memperpanjang masa simpan obat. Pendekatan berbasis Quality by Design juga semakin diadopsi untuk memetakan atribut mutu kritis dan parameter proses penting guna menghasilkan sediaan yang konsisten dan terstandar. Kesimpulannya, penyalutan tablet merupakan strategi formulasi yang krusial untuk menjamin stabilitas, keamanan, dan performa terapeutik obat melalui peningkatan kualitas fisik dan pengendalian pelepasan zat aktif

    Hubungan Faktor Karateristik Individu Dengan Kehilangan Gigi Pada Lanjut Usia (Lansia)

    Full text link
    Masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling sering dialami oleh kelompok lanjut usia adalah kehilangan gigi, yang dapat berdampak pada gangguan fungsi pengunyahan, penampilan estetik, dan kemampuan bicara. Kehilangan gigi pada kelompok lanjut usia merupakan kondisi yang umumnya berkaitan dengan proses karies gigi dan penyakit periodontal, serta dipengaruhi oleh berbagai determinan, termasuk karakteristik personal seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Penelitian ini dilaksanakan sebagai studi survei dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Partisipan penelitian terdiri atas 2.000 lansia yang direkrut dari lima kelurahan di Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, dan memenuhi kriteria inklusi, yakni berusia ≥60 tahun, berdomisili di wilayah penelitian, memiliki kemampuan komunikasi yang memadai, serta menyatakan kesediaannya untuk terlibat sebagai responden. Variabel terikat adalah kehilangan gigi, sedangkan variabel bebas adalah usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik biner. Hasil analisis chi-square menunjukkan bahwa umur dan tingkat pendidikan berhubungan dengan kehilangan gigi. Analisis regresi logistik biner menunjukkan bahwa lansia dengan usia lebih tua memiliki risiko lebih besar mengalami kehilangan gigi, sedangkan tingkat pendidikan yang lebih tinggi berperan sebagai faktor protektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa karakteristik individu, terutama umur dan pendidikan, merupakan faktor penting yang memengaruhi kehilangan gigi pada lansia, dengan umur sebagai determinan utama dalam kejadian tersebut

    Identifikasi Risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) Pada Petugas Manual Handling Di Lingkungan Warehouse PT MK Ragunan Jakarta Selatan Tahun 2021

    Full text link
    Aktivitas manual material handling (MMH) yang dilakukan secara tidak ergonomis berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan kerja dan menimbulkan keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) pada pekerja. Paparan beban statis yang diterima otot secara berulang dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan gangguan pada sendi, ligamen, dan tendon. Kondisi kerja manual di area warehouse dengan keterbatasan fasilitas bantu menjadi faktor penting yang perlu dikaji terkait risiko ergonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko ergonomi yang berhubungan dengan keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) pada petugas warehouse PT MK di Ragunan, Jakarta Selatan tahun 2021. Penelitian menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross-sectional pada 50 responden. Penilaian risiko ergonomi dilakukan menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA), sedangkan keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) diukur dengan kuesioner Nordic Body Map (NBM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) berhubungan secara signifikan dengan usia, masa kerja, postur kerja, berat beban, durasi dan frekuensi kerja, waktu kerja, tingkat pencahayaan, serta kondisi workstation. Postur kerja yang tidak ergonomis dan aktivitas angkat-angkut dengan beban berat merupakan faktor dominan terhadap peningkatan keluhan musculoskeletal disorders (MSDs). Dapat disimpulkan bahwa aktivitas manual handling dengan risiko ergonomi tinggi berperan penting terhadap terjadinya musculoskeletal disorders (MSDs) pada pekerja warehouse. Oleh karena itu, diperlukan pengendalian ergonomi melalui perbaikan postur kerja, penyesuaian beban dan waktu kerja, peningkatan kondisi lingkungan kerja, serta penerapan program K3 secara berkelanjutan

    Pola Makan dan Konsumsi Makanan Berisiko Pada Mahasiswa dengan Riwayat Gastritis di Universitas Pendidikan Indonesia: Dietary Patterns And Risky Food Consumption Among University Students With a History of Gastritis at Universitas Pendidikan Indonesia

    Full text link
    Gastritis adalah salah satu gangguan saluran pencernaan yang umum terjadi pada mahasiswa, terutama akibat pola makan yang tidak teratur serta kebiasaan mengonsumsi makanan berisiko seperti makanan pedas, asam, dan minuman berkafein. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pola makan dan konsumsi makanan berisiko pada mahasiswa dengan riwayat di Universitas Pendidikan Indonesia Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik probability sampling, melibatkan 100 responden berusia 18-25 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang mencakup identitas responden, frekuensi dan porsi makan, keteraturan waktu makan, porsi karbohidrat, konsumsi makanan pedas, asam, minuman berkafein, alkohol, dan kebiasaan merokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62% responden memiliki riwayat gastritis, mayoritas berjenis kelamin perempuan (83%), dan sebagian besar memiliki pola makan tidak teratur. Responden dengan riwayat gastritis lebih sering mengkonsumsi makanan pedas 3-4 kali per minggu, makanan asam 1-2 kali per minggu, dan minuman berkafein 1-4 kali per minggu dibandingkan kelompok tampa riwayat gastritis, Porsi makan karbohidrat pada kedua kelompok umumnya sedang, tetapi frekuensi makan dua kali per hari lebih banyak ditemukan pada kelompok gastritis. Kebiasaan merokok dilaporkan rendah pada kedua kelompok,, tetapi tetap menjadi faktor risiko potensial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pola makan tidak teratur, tingginya konsumsi makanan berisiko, dan kebiasaan. merokok berkontribusi terhadap peningkatan risiko gastritis pada mahasiswa. Implikasi temuan ini menekankan perlunya program edukasi gizi di perguruan tinggi untuk mendorong keteraturan makan, membatasi konsumsi makanan pemicu, dan menghindari kebiasaan merokok guna menurunkan prevalensi gastritis

    Formulasi Dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Mikroemulsi Ekstrak Etanol Kulit Batang Rasamala (Altingia excelsa Noronha) Sebagai Antioksidan

    Full text link
    Radikal bebas merupakan salah satu faktor utama penyebab stres oksidatif yang berkontribusi terhadap berbagai penyakit degeneratif. Rasamala (Altingia excelsa Noronha) diketahui mengandung senyawa bioaktif, terutama flavonoid dan fenolik, yang memiliki potensi antioksidan kuat. Namun, keterbatasan kelarutan dan bioavailabilitas ekstrak alami sering menjadi hambatan dalam pengembangan sediaan farmasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan mikroemulsi ekstrak etanol kulit batang rasamala, mengevaluasi stabilitas fisiknya, serta menguji aktivitas antioksidan sediaan yang dihasilkan. Metode penelitian meliputi ekstraksi dengan maserasi menggunakan etanol 96%, penapisan fitokimia, formulasi mikroemulsi dengan variasi surfaktan Tween 80, serta evaluasi karakteristik fisik berupa organoleptik, pH, viskositas, stabilitas, sentrifugasi, transmitan, ukuran partikel, indeks polidispersitas, dan uji iritasi. Aktivitas antioksidan diuji dengan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroemulsi yang diformulasikan stabil secara fisik, memiliki ukuran partikel nano (13 nm) dengan indeks polidispersitas rendah (0,134–0,199), transmitan tinggi (>96%), tidak menimbulkan iritasi kulit, serta memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat dengan nilai IC50 2,9–4,7 ppm. Dengan demikian, formulasi mikroemulsi ekstrak kulit batang rasamala berpotensi dikembangkan sebagai kandidat sediaan farmasi atau kosmetik dengan aktivitas antioksidan tinggi

    Penggunaan Insulin dan Tren Berdasarkan Jenis Kelamin pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Jalan di RS Islam Faisal: Insulin Use and Gender Based Trends in Type 2 Diabetes Mellitus Outpatients at Faisal Islamic Hospital

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pola penggunaan insulin pada pasien diabetes melitus tipe 2 rawat jalan di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar selama periode Februari hingga April 2025. Metode yang digunakan adalah desain observasional deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan metode retrospektif, dengan data yang diperoleh dari laporan penggunaan insulin di DEPO rawat inap dan rawat jalan selama tiga bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan insulin Sansulin Rapid pada bulan Februari tercatat 43,75% pada laki-laki dan 56,25% pada perempuan, dengan peningkatan pada bulan Maret dan April (80% pada perempuan dan 20% pada laki-laki). Penggunaan Sansulin Log-G pada Februari adalah 35,29% untuk laki-laki dan 64,71% untuk perempuan, dengan persentase yang lebih seimbang pada bulan Maret dan April (42,85% laki-laki dan 57,15% perempuan). Uji one-sample t-test menunjukkan perbedaan signifikan antar bulan (p < 0,001), mengindikasikan adanya variasi penggunaan insulin yang signifikan. Kesimpulannya, penggunaan insulin di RS Islam Faisal Makassar didominasi oleh pasien perempuan, dengan jenis insulin yang lebih sering digunakan adalah Sansulin Log-G. Penggunaan insulin tertinggi terjadi pada bulan Februari, menurun pada Maret, dan sedikit meningkat pada April, menunjukkan pola yang rasional dan adaptif dalam terapi insulin, meskipun diperlukan evaluasi lanjutan terhadap efektivitas terapi untuk mencapai kontrol glikemik yang optimal

    784

    full texts

    22,393

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal Universitas Tunas Husada Tasikmalaya
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇