E-Jurnal Universitas Tunas Husada Tasikmalaya
Not a member yet
22393 research outputs found
Sort by
INOVASI PENGOLAAN SAMPAH PLASTIK MELALUI PEMBUATAN ECOBRICK DI KAMPUS SEBAGAI SOLUSI PENGURANGAN LIMBAH NON-BIODEGRADABLE
Permasalahan sampah plastik merupakan isu lingkungan yang semakin mendesak untuk ditangani, terutama di lingkungan kampus yang aktivitasnya menghasilkan limbah non-biodegradable cukup tinggi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sivitas akademika terhadap pengelolaan sampah plastik melalui inovasi pembuatan ecobrick sebagai solusi kreatif dan berkelanjutan. Metode pelaksanaan meliputi tahap sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan evaluasi hasil karya ecobrick. Sasaran kegiatan adalah mahasiswa dan tenaga kependidikan di kampus, dengan fokus pada penerapan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R). Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman dan partisipasi peserta terhadap pengelolaan sampah plastik. Produk ecobrick yang dihasilkan berhasil dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi sederhana untuk taman dan area publik kampus, sehingga memberikan nilai estetika sekaligus edukatif. Kegiatan ini berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan ke-11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan), tujuan ke-12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan tujuan ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim). Dengan demikian, program ini tidak hanya berfungsi sebagai solusi pengurangan limbah plastik, tetapi juga menjadi model pembelajaran ekologi praktis di lingkungan pendidikan tinggi
INOVASI PENGOLAHAN SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN MANGGOT SEBAGAI PAKAN IKAN DI TPS 3R DESA TAWANGSARI, SIDOARJO
Kegiatan pengabdian masyarakat ini mengembangkan proses berkelanjutan untuk mengolah sampah organik
rumah tangga menjadi biomassa larva Black Soldier Fly (maggot) dan selanjutnya diolah menjadi pelet pakan
ikan. Tujuan kegiatan adalah (1) menganalisis strategi pemanfaatan sampah rumah tangga sebagai media
budidaya maggot di TPS Tawangsari Sidoarjo; (2) menjelaskan proses biologis maggot dalam menguraikan
sampah organik menjadi bahan pakan bernutrisi; (3) mendesain dan menguji alat pembuat pellet berbasis maggot
untuk pakan ikan; (4) mengevaluasi dampak lingkungan dan sosial ekonomi dari penggunaan pellet maggot
sebagai pakan alternatif. Metode yang digunakan meliputi pelatihan masyarakat, budidaya lapangan (pemberian
pakan, pengelolaan media, panen), dan modifikasi mesin pencetak pelet. Alat pembuat pelet memiliki kapasitas
5-10 kg maggot per jam dalam bentuk maggot kering. Hasil menunjukkan penurunan volume sampah organik dan
produksi biomassa kaya protein yang potensial sebagai bahan pakan. Implementasi pilot project menunjukkan
produksi tepung maggot dan pelet yang layak secara teknis dan ekonomi skala kecil. Kegiatan ini meningkatkan
kapasitas masyarakat lokal dan menyediakan alternatif pakan yang lebih murah untuk budidaya perikanan skala
kecil. Serta mewujudkan Suistanable Development Goals yaitu Good Health and Well-being (Kehidupan Sehat
dan Sejahtera
SISTEM PENYIRAMAN TANAMAN OTOMATIS BERBASIS KONSEP INTERNET OF THING UNTUK MENUJU PERTANIAN CERDAS DAN BERKELANJUTAN
.Perkembangan teknologi Internet of Things memberikan peluang besar untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian, khususnya pada komoditas sayuran seperti selada yang membutuhkan pengelolaan air secara presisi. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan sistem penyiraman tanaman otomatis berbasis Internet of Things sebagai upaya pemberdayaan petani selada menuju pertanian cerdas dan berkelanjutan. Sistem ini terdiri atas sensor kelembapan tanah, mikrokontroler dan pompa air yang terhubung dengan platform pemantauan berbasis web. Metode penelitian menggunakan pendekatan partisipatif masyarakat dengan melibatkan tiga petani selada di daerah Lembang dalam proses perancangan, uji coba, dan evaluasi sistem agar teknologi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan lapangan. Sistem bekerja secara otomatis dengan mengaktifkan pompa air ketika kelembapan tanah berada di bawah ambang batas yang telah ditetapkan, sehingga tanaman memperoleh air sesuai kebutuhan tanpa penyiraman manual. Hasil implementasi menunjukkan bahwa sistem mampu menghemat penggunaan air hingga tiga puluh persen dan mengurangi beban kerja petani secara signifikan. Selain itu, kegiatan ini turut meningkatkan pemahaman petani terhadap penerapan teknologi digital dalam aktivitas pertanian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem penyiraman otomatis berbasis Internet of Things dapat menjadi model inovatif pemberdayaan petani selada yang berpotensi direplikasi untuk komoditas hortikultura lain dalam mendukung pertanian cerdas dan berkelanjutan
PENINGKATAN PEMAHAMAN KEPESERTAAN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN) DAN MEKANISME ALUR PELAYANAN DI DUSUN CICURUG, INDRAJAYA, TASIKMALAYA
Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan merupakan upaya pemerintah untuk mewujudkan Universal Health Coverage (UHC). Namun, rendahnya pemahaman masyarakat terkait kepesertaan dan mekanisme alur pelayanan masih menjadi tantangan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan masyarakat Dusun Cicurug, Desa Indrajaya, mengenai kepesertaan dan alur pelayanan JKN, termasuk pemanfaatan aplikasi Mobile JKN. Metode yang digunakan berupa workshop, ceramah interaktif, serta demonstrasi pendaftaran dan penggunaan aplikasi, yang dilengkapi dengan media poster edukatif. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test, kemudian dianalisis menggunakan Excel dan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pemahaman masyarakat, dari kategori “cukup” pada pre-test menjadi “baik” pada post-test, dengan nilai uji paired sample t-test (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi berbasis komunitas efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai JKN. Kegiatan ini dapat dijadikan model strategis untuk memperluas cakupan literasi kesehatan, mendukung pemanfaatan layanan digital, serta mempercepat pencapaian UHC di Indonesia
PERAN STRATEGIS SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT (SIMRS) DALAM EKOSISTEM RUMAH SAKIT: PERSPEKTIF MAHASISWA LINTAS DISIPLIN
Transformasi digital telah menjadikan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) sebagai tulang punggung strategis dalam ekosistem pelayanan kesehatan, namun implementasi teknologi ini sering terkendala oleh pemahaman yang terkotak-kotak (siloed) dan kurangnya kolaborasi antar profesi. Tujuan: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan tersebut dan memantik gagasan kolaborasi lintas disiplin antara mahasiswa vokasi dan akademik mengenai peran strategis SIMRS. Metode: Pelaksanaan kegiatan menggunakan metode sosialisasi dan demonstrasi langsung (live demonstration) aplikasi SIMRS Universitas BTH secara daring melalui Zoom Meeting. Partisipan terdiri dari 110 mahasiswa S1 tingkat akhir yang dipilih secara acak. Efektivitas kegiatan diukur menggunakan desain kuantitatif one-group pre-test post-test. Hasil: Analisis data menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan, dengan skor rata-rata peserta meningkat dari 83,76 pada pre-test menjadi 94,27 pada post-test. Selain itu, 5% peserta berhasil mencapai skor sempurna (100) pasca-intervensi, dan pemahaman tinggi ini terdistribusi merata baik pada mahasiswa rumpun kesehatan maupun non-kesehatan. Simpulan: Metode sosialisasi yang dikombinasikan dengan demonstrasi aplikasi terbukti efektif dalam membangun pemahaman bersama (common ground) yang esensial untuk mendukung inisiatif penelitian dan kolaborasi teknologi kesehatan di masa depa
Evaluation of the Antidiarrheal Effectiveness of Red Betel Leaf (Piper crocatum) Infusion in Mice Using the Intestinal Transit Method: EVALUATION OF THE ANTIDIARRHEAL EFFECTIVENESS OF RED BETEL LEAF (PIPER CROCATUM) INFUSION IN MICE USING THE INTESTINAL TRANSIT METHOD
Diare dapat menyebabkan dehidrasi dan gangguan elektrolit. Salah satu alternatif pengobatan diare adalah penggunaan tanaman obat seperti daun sirih merah (Piper crocatum), yang diketahui memiliki kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, minyak atsiri, dan alkaloid. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antidiare infusa daun sirih merah pada mencit putih jantan menggunakan metode transit intestinal. Penelitian dilakukan dengan membandingkan rasio panjang usus yang dilalui marker norit terhadap panjang total usus mencit. Mencit dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kontrol negatif (Na-CMC 0,5%), kontrol positif (loperamide), dan tiga kelompok perlakuan infusa daun sirih merah 10% dengan dosis 0,1 ml, 0,05 ml, dan 0,025 ml/20 g berat badan mencit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 0,1 ml merupakan dosis terbaik dengan efek antidiare paling signifikan, ditandai dengan rasio lintasan marker sebesar 51,25%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah infusa daun sirih merah memiliki potensi sebagai agen anti diare alami, dengan dosis 0,1 ml/20 g berat badan sebagai dosis paling efektif dibandingkan dosis lainnya.Diarrhea can lead to dehydration and electrolyte imbalance. One alternative treatment for diarrhea is the use of medicinal plants such as red betel leaf (Piper crocatum), which contains active compounds like flavonoids, tannins, essential oils, and alkaloids. This study aimed to evaluate the antidiarrheal activity of red betel leaf infusion in male white mice using the intestinal transit method. The study was conducted by comparing the ratio of intestinal length traversed by the charcoal marker to the total length of the intestine. Mice were divided into five groups: negative control (0.5% Na-CMC), positive control (loperamide), and three treatment groups receiving red betel leaf infusion at doses of 0.1 ml, 0.05 ml, and 0.025 ml per 20 g body weight. The results showed that the 0.1 ml dose demonstrated the best antidiarrheal effect with a transit length ratio of 51.25%. In conclusion, red betel leaf infusion has the potential to serve as a natural antidiarrheal agent, with the 0.1 ml/20 g body weight dose being the most effective compared to other doses.
Keywords: Diarrhea, red betel leaf, antidiarrheal, intestinal transi
REVIEW ARTIKEL EFEKTIVITAS EKSTRAK BAHAN ALAM SEBAGAI ANTIBAKTERI PADA PENYEMBUHAN ULKUS DIABETES
ABSTRAKUlkus diabetes merupakan salah satu komplikasi serius yang sering disertai infeksi bakteri, sehingga memerlukan terapi antibakteri yang efektif. Resistensi antibiotik menjadi tantangan dalam pengobatan ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekstrak bahan alam sebagai antibakteri dalam penyembuhan ulkus diabetes dengan metode literatur review, metode digunakan dengan meninjau berbagai artikel ilmiah yang memuat data tentang efektivitas ekstrak bahan alam, bakteri target, konsentrasi dan metode uji. Hasil menunjukkan bahwa bahan alam seperti daun pisang ambon (Musa paradisiaca var. sapientum), daun manggis (Garcinia mangostana), dan marshmallow (Althaea officinalis) efektif sebagai antibakteri penyebab ulkus diabetes, termasuk Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan Escherichia coli dengan menunjukkan zona hambat pada metode uji. Disimpulkan bahwa ekstrak bahan alam memiliki prospek yang menjanjikan sebagai terapi komplementer antibakteri dalam pengobatan ulkus diabetes.Kata Kunci: antibakteri, bahan alam, terapi komplementer, ulkus diabetes.ABSTRAK
Latar belakang: ulkus diabetes merupakan salah satu komplikasi serius yang sering disertai infeksi bakteri, sehingga memerlukan terapi antibakteri yang efektif. Namun, resistensi antibiotik menjadi tantangan dalam pengobatan ini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekstrak bahan alam sebagai antibakteri dalam penyembuhan ulkus diabetes. Metode: Literatur review digunakan dengan meninjau berbagai artikel ilmiah yang memuat data tentang efektivitas ekstrak bahan alam, bakteri target, konsentrasi dan metode uji. Hasil: Menunjukkan bahwa bahan alam seperti daun pisang ambon (Musa paradisiaca var. sapientum), daun manggis (Garcinia mangostana), dan marshmallow (Althaea officinalis) efektif sebagai antibakteri penyebab ulkus diabetes, termasuk Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan Escherichia coli dengan menunjukkan zona hambat pada metode uji. Kesimpulan: Ekstrak bahan alam memiliki prospek yang menjanjikan sebagai terapi komplementer antibakteri dalam pengobatan ulkus diabetes. Namun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk validasi klinis serta optimalisasi formulasi
STUDI PERBANDINGAN KETAJAMAN PENGLIHATAN DENGAN SNELLEN CHART, LOGMAR CHART DAN APLIKASI SMART OPTOMETRY
ABSTRAK
Ketajaman penglihatan (visual acuity) merupakan parameter utama dalam evaluasi kesehatan mata. Seiring berkembangnya teknologi, aplikasi digital seperti Smart Optometry mulai digunakan sebagai alat skrining alternatif, meskipun validitasnya masih perlu dibandingkan dengan metode konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pengukuran ketajaman penglihatan menggunakan Snellen chart, LogMAR chart, dan aplikasi Smart Optometry pada mahasiswa S1 Farmasi berusia 19–21 tahun. Desain penelitian ini adalah cross-sectional non-intervensional dengan pendekatan komparatif terhadap 105 responden (210 mata). Pemeriksaan dilakukan secara monokular menggunakan Snellen chart pada jarak 5 meter, LogMAR chart pada jarak 4 meter, dan aplikasi Smart Optometry pada jarak 40 cm. Rerata hasil pengukuran ketajaman penglihatan secara keseluruhan menunjukkan bahwa aplikasi Smart Optometry memberikan nilai lebih tinggi (0,88) dibandingkan LogMAR (0,78) dan Snellen chart (0,79). Pada kelompok dengan visus normal (LogMAR = 1,0), rerata hasil aplikasi mencapai 0,98, sedikit lebih tinggi dibanding Snellen (1,0). Namun, pada kelompok dengan visus buruk (LogMAR > 1,0), hasil aplikasi menunjukkan perbedaan yang mencolok (rata-rata 0,73) dibanding Snellen (0,47) dan LogMAR (0,45). Analisis statistik menggunakan uji Friedman dan Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan antara aplikasi dan metode konvensional (p < 0,0001). Hasil ini menunjukkan bahwa aplikasi Smart Optometry cenderung menghasilkan nilai visus lebih tinggi dibandingkan Snellen chart dan LogMAR, terutama pada kelompok dengan visus kurang. Aplikasi ini berpotensi digunakan sebagai alat skrining awal, namun memerlukan kalibrasi lebih lanjut untuk kelompok visus rendah.
Kata Kunci : aplikasi digital, ketajaman penglihatan, LogMAR, smart optometry, Snellen
Ketajaman penglihatan (visual acuity) merupakan parameter utama dalam evaluasi kesehatan mata. Seiring berkembangnya teknologi, aplikasi digital seperti Smart Optometry mulai digunakan sebagai alat skrining alternatif, meskipun validitasnya masih perlu dibandingkan dengan metode konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pengukuran ketajaman penglihatan menggunakan Snellen chart, LogMAR chart, dan aplikasi Smart Optometry pada mahasiswa S1 Farmasi berusia 19–21 tahun. Desain penelitian ini adalah cross-sectional non-intervensional dengan pendekatan komparatif terhadap 105 responden (210 mata). Pemeriksaan dilakukan secara monokular menggunakan Snellen chart pada jarak 5 meter, LogMAR chart pada jarak 4 meter, dan aplikasi Smart Optometry pada jarak 40 cm. Rerata hasil pengukuran ketajaman penglihatan secara keseluruhan menunjukkan bahwa aplikasi Smart Optometry memberikan nilai lebih tinggi (0,88) dibandingkan LogMAR (0,78) dan Snellen chart (0,79). Pada kelompok dengan visus normal (LogMAR = 1,0), rerata hasil aplikasi mencapai 0,98, sedikit lebih tinggi dibanding Snellen (1,0). Namun, pada kelompok dengan visus buruk (LogMAR > 1,0), hasil aplikasi menunjukkan perbedaan yang mencolok (rata-rata 0,73) dibanding Snellen (0,47) dan LogMAR (0,45). Analisis statistik menggunakan uji Friedman dan Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan antara aplikasi dan metode konvensional (p < 0,0001). Hasil ini menunjukkan bahwa aplikasi Smart Optometry cenderung menghasilkan nilai visus lebih tinggi dibandingkan Snellen chart dan LogMAR, terutama pada kelompok dengan visus kurang. Aplikasi ini berpotensi digunakan sebagai alat skrining awal, namun memerlukan kalibrasi lebih lanjut untuk kelompok visus rendah
FORMULASI GUMMY CANDIES BELIMBING WULUH KOMBINASI LEMON DENGAN VARIASI KONSENTRASI DAUN CINCAU HIJAU
ABSTRAK
Nutraseutikal adalah produk suplemen makanan atau herbal yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan dalam pencegahan dan pengobatan penyakit yang berasal dari bahan-bahan alami. Gummy candies yaitu suatu sediaan produk manisan yang berbentuk lunak seperti jelly. Tekstur permen jelly dipengaruhi oleh bahan pembentuk gel atau hidrokoloid yang digunakan Salah satu tanaman yang mengandung antioksidan tinggi adalah belimbing wuluh. Belimbing wuluh digunakan sebagai zat aktif dalam sediaan gummy candies. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui karakteristik gummy candies berdasarkan gelling agent alami yang digunakan dari sari daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers.). Sediaan gummy candies dibuat dengan variasi konsentrasi yaitu 10% (F1), 20% (F2), 30% (F3), dan 40% (F4). Sediaan gummy candies dilakukan uji evaluasi meliputi organoleptis, pH, kadar air, keseragaman bobot, elastisitas, dan uji hedonik berdasarkan bentuk, warna, rasa, dan tekstur. Evaluasi hasil uji organoleptis berwarna merah, memiliki rasa pisang ambon, aroma khas, dan tekstur sangat kenyal. Uji pH (5,13-5,20), Uji kadar air (66%-72%), Uji keseragaman bobot kurang (1,093-1,269), Uji elastisitas (1,06-1,76). Berdasarkan hasil uji hedonik diketahui bahwa formulasi 3 dengan kadar sari daun cincau hijau sebanyak 30% adalah formulasi paling optimal karena lebih disukai oleh responden dan diterima dengan baik, dari sisi bentuk, warna, rasa, dan tekstur. Formulasi terbaik pada penelitian ini yaitu formula 3.
Kata Kunci : Belimbing wuluh, Gummy candies, Cincau hijau, Pektin, Gelatin.Nutraseutikal adalah produk suplemen makanan atau herbal yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan dalam pencegahan dan pengobatan penyakit yang berasal dari bahan-bahan alami. Gummy candies yaitu suatu sediaan produk manisan yang berbentuk lunak seperti jelly. Tekstur permen jelly dipengaruhi oleh bahan pembentuk gel atau hidrokoloid yang digunakan Salah satu tanaman yang mengandung antioksidan tinggi adalah belimbing wuluh. Belimbing wuluh digunakan sebagai zat aktif dalam sediaan gummy candies. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui karakteristik gummy candies berdasarkan gelling agent alami yang digunakan dari sari daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers.). Sediaan gummy candies dibuat dengan variasi konsentrasi yaitu 10% (F1), 20% (F2), 30% (F3), dan 40% (F4). Sediaan gummy candies dilakukan uji evaluasi meliputi organoleptis, pH, kadar air, keseragaman bobot, elastisitas, dan uji hedonik berdasarkan bentuk, warna, rasa, dan tekstur. Evaluasi hasil uji organoleptis berwarna merah, memiliki rasa pisang ambon, aroma khas, dan tekstur sangat kenyal. Uji pH (5,13-5,20), Uji kadar air (66%-72%), Uji keseragaman bobot kurang (1,093-1,269), Uji elastisitas (1,06-1,76). Berdasarkan hasil uji hedonik diketahui bahwa formulasi 3 dengan kadar sari daun cincau hijau sebanyak 30% adalah formulasi paling optimal karena lebih disukai oleh responden dan diterima dengan baik, dari sisi bentuk, warna, rasa, dan tekstur. Formulasi terbaik pada penelitian ini yaitu formula 3
REVIEW ARTIKEL : PENINGKATAN KELARUTAN FUROSEMIDE DENGAN BERBAGAI METODE DISPERSI PADAT
Furosemide adalah obat diuretik terutama digunakan dalam pengobatan hipertensi. Obat ini diklasifikasikan sebagai obat kelas IV sesuai sistem klasifikasi biofarmasi dan memiliki kelarutan dan ketersediaan hayati oral yang rendah Kelarutan merupakan parameter yang penting bagi industri farmasi dalam mendesain bentuk sediaan yang tepat, karena kelarutan obat menentukan absorpsi obat dan berpengaruh pada efektivitas terapinya. Dispersi padat bertujuan untuk meningkatkan kelarutan dan ketersediaan hayati obat yang sulit larut dalam air. Obat yang sulit larut dalam air umumnya memiliki laju disolusi yang rendah, sehingga penyerapannya ke dalam aliran darah juga rendah. Metode dispersi padat telah digunakan secara luas untuk meningkatkan karakteristik kelarutan dan disolusi obat furosemide, dapat ditingkatkan kelarutan dan laju disolusinya dengan berbagai metode pembuatan dispersi padat seperti metode Solvent Evaporation, Fusion Methode, Differential Scanning Calorimeter (DSC), Dan Co-Grinding. Berbagai polimer pembawa yang dapat digunakan dalam pembuatan dispersi padat juga direview dalam artikel ini. Dari hasil review terbukti bahwa kelarutan furosemide dapat di tingkatkan dengan menggunakan polimer yang sesuai dan metode dispersi padat yang sesuai