Jurnal Puslitbang tekMira (Teknologi Mineral dan Batubara)
Not a member yet
1014 research outputs found
Sort by
STUDI PERBANDINGAN PROSES PELINDIAN UNTUK EKSTRAKSI SKANDIUM DARI TERAK RESIDU BAUKSIT
Scandium is classified as a rare earth element. Its existences are geochemically in small amounts as associate minerals. Consequently, scandium production is minimally from processing residues of major minerals. Indonesia has large bauxite deposits, and it is processed into alumina, producing bauxite residue as a by-product. The bauxite residue contains rare earth metals, including scandium. In this study, various ways of extracting scandium from bauxite residue slag were carried out. The bauxite residue beneficiation process was done through a smelting reduction process followed by magnetic separation. Scandium extractions were carried out from the bauxite residue slag through a leaching process with concentrated sulfuric, sulfation, alkali fusion, and a 2-stage acid leaching. The best percentage of scandium extracted was obtained at 88.40%, using the 2-stage acid leaching at the acid concentration of 500 g/kg, the temperature of 90oC, and the leaching time at 3 hours for each leaching stage. In addition, the best neodymium extracted achieved 76,97%, using the alkali fusion, fused in NaOH at 700oC for 3 hours.Skandium diklasifikasikan sebagai unsur tanah jarang. Keberadaannya secara geokimia dalam jumlah kecil sebagai mineral ikutan. Akibatnya, produksi skandium sangat terbatas dan dihasilkan dari sisa pengolahan mineral utama. Indonesia memiliki deposit bauksit yang besar dan diolah menjadi alumina yang menghasilkan residu bauksit sebagai produk samping. Residu bauksit mengandung logam tanah jarang termasuk skandium. Pada penelitian ini dilakukan berbagai cara untuk mengekstraksi skandium dari terak residu bauksit. Proses benefisiasi residu bauksit dilakukan melalui proses reduksi dan peleburan yang dilanjutkan dengan pemisahan magnetik. Ekstraksi skandium dilakukan dari terak residu bauksit melalui proses pelindian dengan asam sulfat pekat, sulfatasi, alkali fusion (peleburan basa), dan pelindian asam 2 tahap. Persen ekstraksi skandium terbaik diperoleh dengan menggunakan pelindian asam 2 tahap yaitu 88,40%, pada konsentrasi asam 500 g/kg, suhu 90°C, dan waktu pelindian 3 jam untuk setiap tahap pelindian. Selain itu dihitung juga persen ekstraksi neodimium dengan nilai terbaiknya adalah 76,97%, menggunakan alkali fusion, pada kondisi peleburan dalam NaOH, suhu 700°C selama 3 jam
ANALISIS NERACA AIR PASCATAMBANG PADA TAILING STORAGE FACILITY
Tailings Storage Facility (TSF) has environmental impacts and risks arising from the tailings storage. Water balance is an important component in TSF management. In this study, the water balance was analyzed to determine the method of handling TSF during mine closure, to reduce the risk of environmental pollution. Analysis of the rainfall and potential evaporation parameters was used to calculate the water discharge that must be managed in mine closure. The method of selecting daily maximum rainfall data was used to analyze the need for TSF facilities. Meanwhile, for mine closure TSF filling, scenarios for extreme climate conditions were made for the rainfall and potential evaporation parameters which were then analyzed to determine the water balance. Based on the daily data analysis, the maximum amount of water discharge that must be managed at the TSF was 1.511 m3/s. Meanwhile, for TSF charging, it was found that the fastest charging scenario took 31.8 months and for the longest charging it took 110.4 months. To determine the method of handling TSF during mine closure, the results of water balance analysis for several scenarios of climatic conditions resulted in the minimum thickness of the water column ranging from 6 - 8 m. Based on the analysis of several scenarios of climatic conditions, the mine closure method for handling TSF was water cover.Tailing Storage Facility (TSF) adalah media pembuangan tailing yang memiliki dampak lingkungan serta risiko dari penyimpanan tailing tersebut. Neraca air merupakan komponen penting dalam pengelolaan TSF. Dalam penelitian ini dilakukan analisis neraca air untuk mengetahui metode penanganan TSF paling tepat saat pascatambang, sehingga dapat menurunkan risiko pencemaran lingkungan. Analisis terhadap parameter curah hujan dan evaporasi potensial digunakan untuk menghitung debit air yang harus dikelola saat pascatambang. Metode pemilihan data hujan maksimum harian menjadi data yang digunakan untuk menganalisis kebutuhan sarana TSF. Sedangkan untuk pengisian TSF saat pascatambang dilakukan pembuatan skenario kondisi iklim ekstrim untuk parameter curah hujan dan evaporasi potensial yang kemudian dianalisis untuk mengetahui neraca air. Berdasarkan analisis data harian maksimum diperoleh besaran debit air yang harus dikelola pada TSF sebesar 1,511 m3/s. Sedangkan untuk pengisian TSF, skenario pengisian paling cepat membutuhkan waktu 31,8 bulan dan paling lama membutuhkan waktu 110,4 bulan. Untuk menentukan metode penanganan TSF saat pascatambang diperoleh hasil analisis neraca air untuk beberapa skenario kondisi iklim menghasilkan ketebalan minimum kolom air berkisar antara 6 – 8 m. Berdasarkan hasil analisis beberapa skenario kondisi iklim, metode penanganan TSF saat pascatambang adalah penundungan dengan air (water cover)
OPTIMASI DOSIS PUPUK NPK DAN ASAM HUMAT DALAM MEMPERBAIKI KUALITAS TANAH BEKAS TAMBANG BATUBARA DAN PERTUMBUHAN SENGON SOLOMON
Solomon Sengon (Paraserianthes mollucana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) is a plant species in land reclamation activities for former coal mines. This is because Solomon sengon has advantages including: very fast growth, adaptive to extreme environments, and quite high economic and ecological values. Former coal mining soils are generally degraded and have low organic matter content, essential nutrient availability, CEC, and base saturation. These conditions do not support optimal plant growth. The aim of this study was to examine the effect of NPK plus humic acid fertilizer on several soil chemical properties and the growth of the Solomon sengon plant. This research was carried out in the coal mining concession area in Amplelu Mudo Village, Tembesi District, Batang Hari Regency, Jambi Province. The study used a randomized block design (RBD) with doses of NPK plus humic acid fertilizer in 9 levels and repeated 3 times, so there were 27 plots or experimental units. The observed variables were: pH, Al-dd, available-P, K-dd, height increase, diameter increase and root dry weight. The results showed that the application of NPK fertilizer 100 g plus humic acid 20 g/plant hole (P5) was the best treatment in improving soil K-dd with an increase in plant height of 110.83 cm, diameter of 28.65 mm and BKA of 10.63 g , there was an increase in the height of the Solomon sengon plant by 101.21%, diameter by 65.13% and BKA by 75.12% compared to the administration of 50 g NPK plus 10 g humic acid (P1). Increasing the dose of NPK and humic acid from 50 g of NPK plus 10 g of humic acid to 100 g of NPK and 20 g of humic acid has the potential to significantly increase the growth of the Solomon sengon plant.Sengon Solomon (Paraserianthes mollucana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) adalah salah satu spesies tanaman yang digunakan pada kegiatan revegetasi untuk reklamasi tanah bekas tambang batubara. Tanaman sengon Solomon memiliki beberapa kelebihan yaitu cepat tumbuh (fast growing), mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang ekstrim, serta mempunyai nilai ekologi dan ekonomi yang tinggi. Tanah bekas tambang batubara secara umum terdegradasi, serta memiliki kandungan bahan organik, ketersediaan hara esensial, KTK dan kejenuhan basa yang tergolong rendah. Kondisi ini kurang mendukung pertumbuhan tanaman yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh aplikasi pupuk NPK dan asam humat terhadap sifat kimia tanah serta laju pertumbuhan tanaman sengon Solomon. Penelitian dilaksanakan di area reklamasi PT. Nan Riang, perusahaan pertambangan batubara di Desa Ampelu Mudo, Kecamatan Tembesi, Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi. Penelitian ini menerapkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan dosis pupuk NPK Plus asam humat sebanyak 9 taraf dan pengulangan sebanyak 3 kali, sehingga diperoleh 27 petak atau unit percobaan. Variabel yang diamati adalah pH, P-tersedia, Al-dd, K-dd, pertambahan tinggi, pertambahan diameter dan berat kering akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK sebanyak 100 g plus asam humat sebanyak 20 g /lubang tanam (P5) merupakan perlakuan terbaik dalam memperbaiki K-dd tanah dengan pertambahan tinggi tanaman 110,83 cm, diameter 28,65 mm dan BKA sebesar 10,63 g, terjadi peningkatan pertambahan tinggi tanaman sengon Solomon sebesar 101,21%, diameter sebesar 65,13% dan BKA sebesar 75,12 % dibandingkan dengan pemberian 50 g NPK plus 10 g asam humat (P1). Peningkatan dosis NPK dan asam humat dari 50 g NPK Plus 10 g asam humat menjadi 100 g NPK dan 20 g asam humat berpotensi meningkatkan pertumbuhan tanaman sengon Solomon secara nyata