Jurnal Puslitbang tekMira (Teknologi Mineral dan Batubara)
Not a member yet
1014 research outputs found
Sort by
INVESTIGASI KEBERADAAN DAN KETERKAITAN UNSUR KELUMIT PADA BATUBARA FORMASI MANUMBAR PIT Y-2 DI CEKUNGAN KUTAI, KALIMANTAN TIMUR
The Kutai Basin, renowned as a coal-bearing basin, ranks among the largest basins in Indonesia. Coal consists of various constituents, including major elements, trace elements, macerals, mineral impurities, and other components. The purpose of this research is to conduct a more in-depth analysis of the content of coal, with a specific focus on trace components. This study aimed to investigate the features, potential, enrichment of trace elements, and their correlation with the total sulfur and ash content in coal. An examination using ICP-OES (Inductively Coupled Plasma – Optical Emission Spectrometer) was conducted on 11 coal seams from Y-2 PIT. This analysis aimed to identify the level of trace elements, main elements, total sulfur, and ash content in the coal. The study's findings revealed that the elements' distribution and characteristics on the chemostratigraphy analysis chart were categorized into five distinct features, subsequently represented as chemozone. Moreover, it is established that the area with the highest potential is chemozone 3, where all trace elements undergo substantial enrichment within this region. It is well-established that several trace elements exhibit a positive correlation with changes in the overall sulfur and ash content of coal. The trace elements shown to be positive correlation linked to variations in the overall sulfur level are Cd, Mn, and Pb. On the other hand, the elements Cr, Cu, Pb, and V are tied positive correlation with changes in the ash content value. This study expands our understanding of the distribution and concentration of trace elements in coal from Indonesia's largest coal producing area. This data can be utilized to create more precise geochemical and stratigraphic models in the future.Cekungan Kutai yang terkenal sebagai cekungan penghasil batubara merupakan salah satu cekungan terbesar di Indonesia. Batubara terdiri dari beberapa unsur penyusun antara lain unsur primer, unsur kelumit, maseral, mineral pengotor, dan komponen lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penyelidikan rinci terhadap komposisi unsur batubara, dengan fokus khusus pada unsur kelumit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat unsur, potensi, dan konsentrasi unsur kelumit dalam batubara, serta hubungannya dengan nilai total sulfur dan kandungan abu. Pemeriksaan menggunakan ICP-OES (Induktif Coupled Plasma – Optical Emission Spectrometer), dilakukan terhadap 11 lapisan batubara PIT Y-2 untuk menilai keberadaan unsur kelumit, unsur utama, nilai total sulfur, dan kandungan abu. Temuan penelitian menjelaskan bahwa distribusi dan konsentrasi elemen kelumit pada grafik analisis kemostratigrafi dikategorikan menjadi lima fitur berbeda, yang kemudian direpresentasikan sebagai kemozon. Selain itu, diketahui bahwa kemozon 3 menunjukkan potensi paling besar, karena semua elemen mengalami pengkayaan substansial di area ini dengan total 304,88 ppm di sampel pada seam E18U1. Telah diketahui bahwa beberapa elemen menunjukkan korelasi dengan fluktuasi keseluruhan konsentrasi sulfur dan abu yang ditemukan dalam batubara. Unsur kelumit Cd, Mn, dan Pb memiliki korelasi positif dengan variasi kadar total sulfur, sedangkan Cr, Cu, Pb, dan V berhubungan dengan korelasi positif terhadap perubahan nilai kandungan abu. Studi ini meningkatkan pemahaman kita mengenai distribusi spasial dan kelimpahan unsur kelumit dalam batubara dari wilayah penghasil batubara terbesar di Indonesia. Data ini dapat dimanfaatkan untuk membangun model geokimia dan stratigrafi yang lebih tepat dalam penelitian selanjutnya
ANALISIS METODE NUMERIK PENGARUH HUJAN TERHADAP KESTABILAN LERENG TUNGGAL TIMBUNAN DI TAMBANG TERBUKA BATUBARA
Indonesia, with its tropical climate and high rainfall, especially near the equator, is prone to slope instability influenced by intense rainfall events. Rainfall increases pore water pressure, reduces effective stress, and decreases shear strength, which in turn lowers the safety factor and increases the probability of failure. However, studies on pore pressure changes during rainfall infiltration have not been extensively studied, particularly in Indonesia. This study aims to analyze the effect of rainfall on the stability of a single slope in a waste dump using a numerical method based on a coupled hydro-mechanical approach. Simulations were conducted using transient finite element analysis (TFEA) to evaluate pore water pressure variations. In addition, the limit equilibrium method (LEM) modeling was also carried out to assess changes in slope safety factors. The analysis was performed using Slide2 software under various rainfall and duration scenarios, with a total of 1,568 model combinations over a 24-hour simulation period. The results show that rainfall events reduce the safety factor value by up to 31.54%. The relationship between the safety factor value and rainfall can be expressed by the equation FK = 2,1607 CH-0,05, which shows a strong correlation with an R2 value of 0,9309.Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis dan memiliki curah hujan yang tinggi terutama di daerah sekitar garis khatulistiwa. Kejadian hujan memengaruhi kestabilan lereng melalui peningkatan tekanan air pori, penurunan tegangan efektif, dan kekuatan geser, yang pada akhirnya menurunkan faktor keamanan serta meningkatkan probabilitas longsor. Belum banyak dilakukan penelitian tentang perubahan tekanan air pori selama proses infiltrasi hujan khususnya di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kejadian hujan terhadap kestabilan lereng tunggal timbunan menggunakan metode numerik dengan pendekatan analisis coupled hydro-mechanical. Simulasi dilakukan dengan pemodelan transient finite element analysis (TFEA) untuk analisis distribusi tekanan air pori selama kejadian hujan. Selain itu, dilakukan pemodelan limit equilibrium method (LEM) untuk mengevaluasi perubahan nilai faktor keamanan lereng. Perangkat lunak Slide2 digunakan pada simulasi skenario variasi curah hujan dan durasi hujan selama 24 jam, dengan total 1.568 kombinasi model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh kejadian hujan menurunkan nilai faktor keamanan mencapai 31,54%. Hubungan nilai faktor keamanan dan curah hujan dapat direpresentasikan melalui persamaan FK = 2,1607 CH-0,05 dan memberikan korelasi yang baik dengan nilai R2 sebesar 0,9309
PREDIKSI CURAH HUJAAN MENGGUNAKAN METODE E. J. GUMBEL UNTUK RENCANA SISTEM PENYALIRAN TAMBANG
The Tailings Storage Facility (TSF) is one of the largest constructions in mining activities involving sediment ponds that is an important and common facility used in mining activities. This study aims to recommend safe and environmentally friendly water management in settling ponds. This research is done by analyzing rainfall using E. J. Gumbel Method and designing a mine drainage system. The prediction results produce a maximum rainfall of 20.99 mm/day and a rain intensity value of 7.28 mm/hour. The catchment area is 380,355 m2 and the total runoff water discharge is 0.64 m3/second. Runoff water enters the settling pond with a volume of 2,438 m3/day. The capacity of the 3 (three) compartments of settling ponds is 4,500 m3 and an area of 500 m2.Tailing Storage Facility (TSF) adalah salah satu konstruksi terbesar yang melibatkan kolam pengendapan dan merupakan fasilitas penting yang digunakan pada kegiatan pertambangan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk merekomendasikan pengelolaan air pada kolam pengendapan secara aman dan ramah lingkungan. Dilakukan analisis curah hujan dengan menggunakan metode E. J. Gumbel dan membuat desain sistem penyaliran tambang. Hasil prediksi menghasilkan curah hujan maksimum sebesar 20,99 mm/hari dan nilai intensitas hujan 7,28 mm/jam. Luas daerah tangkapan hujan adalah 380.355 m2 dan total debit air limpasan sebesar 0,64 m3/detik. Air limpasan masuk ke dalam kolam pengendapan dengan volume 2.438 m3/hari. Daya tampung 3 (tiga) kompartemen kolam pengendapan sebesar 4.500 m3 dan luas 500 m2
PROBABILITAS LONGSOR TIMBUNAN DI AREA IN PIT DUMP ASAM TIMUR DAERAH KONSESI PT ARUTMIN INDONESIA TAMBANG ASAMASAM, KALIMANTAN SELATAN
Open pit mining involves excavation of soil and overburden, which requires a well-planned disposal area to maintain stockpile stability. This is achieved through an analysis of soil bearing capacity and slope stability. The research was conducted at the ASTIM In Pit Dump (IPD) using actual materials. Data were obtained from direct shear tests and physical properties tests, then statistically analyzed to determine the average value, standard deviation, and minimum and maximum relative values. These data were subsquetly input into geotechnical software to perform a slope stability analysis under pessimistic conditions, including water-saturated slopes with a horizontal seismicity coefficient of 0.045. The simulation results did not meet the stability criteria, yielding a safety factor of 0.647. Therefore, engineering design modifications were necessary, including widening the slope angle to 7.61°, consisting of six steps with a level height of 5 meters, a width of 30 meters, and a slope angle of 25°. This redesign resulted in a safety factor (SF) of 1.254 which meets slope stability criteria based on Bowles (1989) and a probability of failure (PoF) of 4.1%, in accordance with the Decree of the Minister of Energy and Mineral Resources No. 1827 K/30/MEM/2018.Penambangan terbuka melibatkan penggalian tanah dan lapisan penutup yang membutuhkan area pembuangan yang dirancang dengan baik untuk menjaga kestabilan timbunan melalui analisis daya dukung tanah dan kestabilan lereng. Penelitian ini dilakukan di In Pit Dump (IPD) ASTIM menggunakan material aktual dengan data diperoleh dari uji geser langsung dan uji sifat fisik, kemudian dianalisis secara statistik untuk menghitung nilai rata-rata, standar deviasi, serta nilai relatif minimum dan maksimum. Data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam perangkat lunak geoteknik untuk dilakukan analisis kestabilan lereng pada kondisi pesimis, yaitu lereng jenuh air dengan koefisien kegempaan horisontal sebesar 0,045. Hasil simulasi menunjukkan bahwa lereng tidak memenuhi kriteria kestabilan, dengan nilai faktor keamanan sebesar 0,647. Oleh karena itu, perlu dilakukan rekayasa desain dengan memperlebar sudut lereng menjadi 7,61° yang terdiri atas 6 undakan dengan tinggi jenjang 5 meter, lebar 30 meter, dan sudut 25°. Desain ini menghasilkan faktor keamanan (FK) sebesar 1,254 yang memenuhi kriteria kestabilan lereng berdasarkan Bowles (1989) dan probabilitas keruntuhan (PK) 4,1% sesuai dengan Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018
IDENTIFIKASI FAKTOR PENGHAMBAT KEBERHASILAN REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN MANGAN DI TIMOR BARAT
Reclamation of ex-mining land is an obligation that must be carried out by every mining business actors, in order to organize, restore, and improve the quality of the environment and ecosystem so that it can function again according to its designation. However, this obligation has not been carried out consistently by manganese mining companies in West Timor. Based on the results of supervision carried out by mining inspectors, no company has carried out reclamation. This study aims to identify factors that influence the implementation of reclamation governance for ex-mining manganese land in West Timor. Case studies were conducted on eigth location of Izin Usaha Pertambangan (IUP) in West Timor, East Nusa Tenggara Province. Data collection was carried out through questionnaires, interviews, and field observations. Furthermore, data analysis used qualitative descriptive methods. The results of the study indicate that the inhibiting factors for achieving successful reclamation of ex-mining land in West Timor are the licensing process, supervision, competence of mining business actors, and community involvement. In this regard, further research is needed to examine the form of reclamation that is in accordance with the conditions of ex-mining manganese land in West Timor.Reklamasi lahan bekas tambang merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap pelaku usaha pertambangan, guna menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya. Namun demikian kewajiban ini belum dijalankan secara konsisten oleh perusahaan pertambangan mangan di Timor Barat. Berdasarkan hasil pengawasan yang dilakukan inspektur tambang, belum ada perusahaan yang telah melaksanakan reklamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan tata kelola reklamasi lahan bekas tambang mangan di Timor Barat. Studi kasus dilakukan pada 8 wilayah izin usaha pertambangan (IUP) di Timor Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, wawancara, dan observasi lapangan. Selanjutnya analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penghambat pencapaian keberhasilan reklamasi lahan bekas tambang di Timor Barat adalah proses perizinan, pengawasan, kompetensi pelaku usaha, dan keterlibatan masyarakat. Sehubungan dengan itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkaji bentuk reklamasi yang sesuai dengan kondisi lahan bekas tambang mangan di Timor Barat
SEBARAN DAN KORELASI MINERAL KRITIS PADA ENDAPAN SKARN Pb-Zn DI DESA CIHAUR, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT
This research investigates ore samples from Cihaur Village, Sukabumi District, West Java, which exhibit significant skarn alteration in limestone, is examined for its petrographic and mineragraphic features. Secondary minerals identified include pyroxene, garnet, calcite, and opaque minerals, while the primary ore minerals are chalcopyrite (CuFeS2), galena (PbS), and sphalerite (ZnS). Five samples were analyzed geochemical analysis using the ICP-MS method to assess the concentration of important elements including Pb, Zn, Cu, Ag, Sb, Bi, Cd, Mg, Al, Ca, Fe, and As. Element distribution patterns were examined using spider diagrams, providing insight into environmental gradients influencing mineral exploration. The study revealed a high positive correlation between Pb and Zn, suggesting co-deposition in sulfide mineralization. Pb also correlates strongly with Ag and Sb. This study confirms the considerable economic potential of the Sukabumi skarn deposits for Pb, Zn, Cu, and precious metals such as Ag. Exploration value is increased when essential minerals like Sb and Cd are present. Variations in geochemical conditions indicate the influence of magmatic intrusions and hydrothermal activity on element distribution. These results provide a solid foundation for further exploration to delineate mineralization zones in the regionPenelitian ini mengkaji sampel bijih dari Desa Cihaur, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat yang menunjukkan perubahan skarn yang signifikan pada batugamping. Sampel ini dianalisis berdasarkan karakteristik petrografi dan mineragrafi. Mineral sekunder yang teridentifikasi meliputi piroksen, garnet, kalsit, dan mineral opak, sedangkan mineral bijih primernya adalah kalkopirit (CuFeS2), galena (PbS), dan sfalerit (ZnS). Lima sampel dianalisis secara geokimia menggunakan metode ICP-MS untuk mengetahui keberadaan unsur-unsur mineral kritis termasuk Pb, Zn, Cu, Ag, Sb, Bi, Cd, Mg, Al, Ca, Fe, dan As. Pola distribusi unsur-unsur tersebut dianalisis menggunakan diagram spider, yang menjelaskan gradien lingkungan yang mempengaruhi eksplorasi mineral. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif yang kuat antara, Pb dan Zn, yang mengindikasikan adanya pengendapan bersama dalam mineralisasi sulfida. Selain itu, Pb juga memiliki korelasi yang kuat dengan Ag dan Sb. Studi ini menegaskan potensi ekonomi yang besar dari endapan skarn di Sukabumi untuk unsur Pb, Zn, Cu, dan logam mulia seperti Ag. Nilai prospek eksplorasi juga meningkat dengan adanya mineral esensial seperti Sb, dan Cd. Variasi kondisi geokimia mengindikasikan pengaruh intrusi magma dan aktivitas hidrotermal terhadap distribusi elemen yang terlihat di berbagai lokasi. Hasil ini memberikan landasan yang kuat untuk eksplorasi lanjutan serta rekomendasi penelitian tambahan yang bertujuan mengidentifikasi zona mineralisasi paling prospektif di wilayah tersebut
PENGARUH PROSES HIDROTERMAL TERHADAP PENINGKATAN NILAI KALOR DAN PENURUNAN KADAR AIR PADA BATUBARA PERINGKAT RENDAH
As a low-rank coal, brown coal is characterized to have high water content. It is required a method to improve coal quality that can be used for effective coal utilization. One of the methods is to apply thermal dewatering technology which focuses on improving the quality of low-rank coal using water medium and autoclave. The purpose of this study was to determine the effect of coal to water ratio (w/v) and the effect of particle size of a low rank-coal on water content and calorific value using the hydrothermal method. Coal was processed under hydrothermal conditions at 150 °C for 60 min. For a mixture of 100 g of 25 mesh coal and 50 mL of water, the calorific value and water content after the hydrothermal process reached 5,849 kcal/kg and 5.10% (adb), respectively. While for a mixture of 100 g of 40 mesh coal and 50 mL of water, the calorific value and water content after the hydrothermal process reached 5,789 kcal/kg and 4.94% (adb), respectively. The calorific value obtained increased from the initial value of 3,296 kcal/kg and the water content decreased from the initial value of 44.34% for the coal condition before hydrothermal process. It can be concluded that the hydrothermal process with heating without oxygen carried out by a hydrothermal reactor could increase the calorific value of low-rank coal and reduce water content.Batubara coklat sebagai batubara peringkat rendah mempunyai kandungan air yang tinggi. Diperlukan metode untuk meningkatkan kualitas batubara yang dapat digunakan untuk pemanfaatan batubara secara efektif. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan teknologi hidrotermal yang fokus pada peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan media air dan alat autoklaf. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh dua variabel proses hidrotermal yaitu perbandingan batubara dengan air (b/v) dan ukuran partikel batubara peringkat rendah, terhadap kadar air dan nilai kalor. Pada proses hidrotermal, batubara dipanaskan pada suhu 150 °C dengan waktu pemanasan ±60 menit. Untuk campuran 100 g batubara berukuran 25 mesh dan 50 mL air, nilai kalor dan kadar air setelah proses hidrotermal masing-masing mencapai 5.849 kkal/kg dan 5,10%. Sedangkan untuk campuran 100 g batubara berukuran 40 mesh dan 50 mL air, nilai kalor dan kadar air mencapai 5.789 kkal/kg dan 4,94%. Nilai kalor yang diperoleh ini meningkat dari nilai awal sebesar 3.296 kkal/kg dan kadar air menurun dari nilai awal sebesar 44,34% untuk kondisi batubara sebelum mengalami proses hidrotermal. Dapat disimpulkan bahwa proses hidrotermal dengan kondisi dan variabel proses penelitian dapat meningkatkan nilai kalor batubara peringkat rendah dan menurunkan kadar air