Jurnal Puslitbang tekMira (Teknologi Mineral dan Batubara)
Not a member yet
1014 research outputs found
Sort by
PENGARUH KONSUMSI BAHAN BAKAR FOSIL TERHADAP PRODUK DOMESTIK BRUTO INDONESIA DAN HUBUNGAN TIMBAL BALIK DI ANTARA KEDUANYA
Penggunaan energi di Indonesia sampai saat ini berperan sangat penting sebagai salah satu faktor produksi dalam menunjang pertumbuhan ekonomi. Energi yang digunakan berasal dari bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas bumi, dan batubara. Alat ukur yang digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi suatu negara salah satunya adalah produk domestik bruto (PDB). Tujuan analisis adalah untuk mengetahui hubungan antara energi dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Metode yang digunakan adalah analisis korelasi dan regresi menggunakan variabel yang mewakili hubungan tersebut yaitu konsumsi bahan bakar fosil (KBBF) dan produk domestik bruto (PDB). Hasil analisis menunjukan bahwa antara KBBF dan PDB memiliki hubungan yang sangat kuat dengan nilai sebesar 0,83. KBBF memberi sumbangan pengaruh terhadap PDB sebesar 68,41% dan sisanya sebesar 31,59% berasal dari faktor produksi lain. Model yang dihasilkan dari perhitungan regresi linier sederhana adalah PDB = 0,65 KBBF – 35,81. Maksud nilai tersebut adalah apabila KBBF bernilai konstan, maka PDB sebesar -35,81 quadrillion (105), dan koefisien regresi bernilai 0,65 quadrillion (105) per % total yang berarti bahwa setiap kenaikan satu unit KBBF akan meningkatkan kenaikan PDB sebesar 0,65. Model tersebut dapat diterima karena hasil uji t statistik (t hitung) lebih besar dari t tabel (6,24 > 2,101). Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa energi memiliki peranan yang sangat penting dalam menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia
ANALISIS NILAI KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN BENTANG ALAM PASCA TAMBANG BATUBARA PADA AREAL IZIN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN
Penelitian ini dilakukan di lokasi perusahaan tambang batubara yang terdapat pada empat kabupaten, yaitu: Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat dan Berau. Keempat daerah tersebut merupakan daerah tambang terbesar di Kalimantan Timur. Tujuan penelitian adalah menganalisis keberlanjutan pengelolaan bentang alam pasca tambang batubara di areal Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) yang dikelola perusahaan berstatus usaha Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). Metodologi yang digunakan adalah multi-dimensional scaling (MDS) berdasarkan lima dimensi, yaitu: ekologi, ekonomi, sosial budaya, hukum dan kelembagaan, serta infrastruktur dan teknologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa keberlanjutan pengelolaan bentang alam pasca tambang batubara di lokasi tersebut memiliki dua kategori status, yaitu: (1) status cukup berkelanjutan, terdiri dari: dimensi ekologi (54,26), dimensi ekonomi (55,06), dimensi hukum dan kelembagaan (55,08), dimensi infrastuktur dan teknologi (60,79); (2) status kurang berkelanjutan adalah dimensi sosial (49,10). Terdapat 22 atribut yang dinilai sensitif (leverage attribute) bagi keberlanjutan pengelolaan bentang alam pasca tambang batubara pada kawasan tersebut, sehingga perlu diambil strategi kebijakan yang tepat untuk meningkatkan pengelolaannya, seperti melakukan rutinitas pengawasan, intervensi kebijakan dan perbaikan kinerja. Peran pemerintah sangat dibutuhkan di sini, agar strategi kebijakan memiliki kekuatan untuk ditaati dan fokus ke arah keberlanjutan bentang alam pasca tambang batubara di kawasan IPPKH
THE AVAILABILITY OF INDONESIAN COAL TO MEET THE 2050 DEMAND
Coal is the important energy source for industry and power plant in Indonesia. Its reserve is quite abundant around 28.5 billion tons. The Government of Indonesia issued the National Energy Policy (NEP) to target 25% of coal use of the national energy mix in 2050. The NEP directs the national energy management for the provision and utilization of primary energy. However, there are worries about the ability of coal reserve in accommodating the demand from domestic and export needs. The National Energy Council recommended coal production restriction policy for anticipation measures. This research investigated the current state of the coal reserves and the government policy to meet the target in 2050 using Vensim program. In the Vensim, a model was built to represent a coal supply-demand system. Several scenarios were simulated to analyze the relationship between the government policy and the coal reserve. The result shows that government intervention such as coal production restriction policy is needed to ensure Indonesia’s coal reserve can fulfill domestic demand for power generation and industry by 2050
STUDY ON REDUCTION OF IRON ORE CONCENTRATE IN ROTARY KILN TO PRODUCE DIRECT REDUCED IRON
A direct reduced iron (DRI) was prepared using iron concentrate pellets and a coal as a reductant through three stages, namely, the first: iron concentrate pellets were dried by slow heating at 150°C to remove water content, the second: they were heated at 1,200°C to reduce magnetite into hematite which was treated in two different conditions, namely by oxygen and without oxygen injections; and the third: they were reduced in an atmosphere of CO/CO2 at various temperatures of 950-1,200°C. In this reduction process of iron oxide would be reduced by CO to metallic iron (Fe). The experimental results showed that the metallization without oxygen injection produced the best metallization at 1,100°C and the ratio of carbon/iron (FC/Fe) of 0.52 to result 84.54%, contained 74.68% Fe and 88.34% Fetotal. The metallization by oxygen injection produced the best metallization at 1,100°C, providing result of 96.81%, Femetal of 87.88% and 90.78% of Fetotal. The iron oxides on the DRI were relatively low, namely 2.9%. In this research, prior pellets preparation a magnetic oxidation process on iron ore concentrate was also conducted and changed the magnetite into hematite. The reduction process on its pellets produced 94.15% metallization at 1,100°C, and the DRI contained 97.85% of Fetotal, 85.32% of Femetal and 5.35% of Fe oxides. Furthermore, analyzing a remained carbon of the DRI using microscopy to seek the metal structure formed. The remained carbon was reported around 1-6% C. Next smelting process, it is suggested to have a high residual carbon concentration as there will be a carbon boil mechanism to reduce iron oxides that are still lagging on the DRI