Jurnal Puslitbang tekMira (Teknologi Mineral dan Batubara)
Not a member yet
    1014 research outputs found

    Kata Pengantar

    No full text

    EKSPLORASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA INDIGENOS PADA ARENGA PINNATA MERR DI LAHAN PASCATAMBANG

    Get PDF
    Mining activities have a positive impact that can generate income for the state, but the activities also cause negative impacts in the form of soil damage, vegetation and animal losses to disrupt the ecosystems. Therefore, it is necessary to carry out a reclamation with revegetation using local plant species. PT Berau Coal has conducted revegetation using a local sugar palm plant (Arenga pinnata). The success of sugar palm plant growth in post-mining reclamation land is influenced by several factors, one of it is the symbiosis of the arbuscula mycorrhizal fungi (AMF) with the sugar palm planted by PT Berau Coal. The purpose of this study was to determine the diversity of indigenous spores in the arenga rhizosphere and root colonization of sugar palm plants. Identification of the AMF diversity was carried out by observing the soil taken from the palm rhizosphere with a depth of 0-20 cm and 20-40 cm. Isolation of spores using the wet pouring technique method with centrifuges and AMF spores were identified using the INVAM methods. The observation of AMF colonization on plant roots was carried out through the root staining technique with the Clapp modification method. The results showed that the AMF spores were found in 3 AMF genera at the observation site, namely genus Glomus (15 sp), Acaulospora (3 sp), and Gigaspora (1 sp). The highest spore abundance is genus Glomus sp at a soil depth of 0-20 cm. The AMF structures found colonizing the roots of sugar palm plants are hyphae, vesicles, and spores.Kegiatan pertambangan memiliki dampak positif yang dapat menghasilkan pendapatan bagi negara, namun juga menimbulkan dampak negatif berupa rusaknya tanah, hilangnya vegetasi dan satwa hingga mengganggu ekosistem, oleh karena itu perlu dilakukan reklamasi dengan revegetasi menggunakan jenis tanaman lokal. PT Berau Coal telah melakukan revegetasi menggunakan tanaman lokal aren (Arenga pinnata). Keberhasilan pertumbuhan tanaman aren pada lahan reklamasi pascatambang dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah adanya simbiosis fungi mikoriza arbuskula (FMA) dengan tanaman aren yang ditanam oleh PT Berau Coal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman spora indigenous pada rizosfer aren dan kolonisasi akar pada tanaman aren. Identifikasi keanekaragaman FMA dilakukan pengamatan pada tanah yang diambil dari rizosfer aren dengan kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm. Isolasi spora menggunakan metode teknik tuang saring basah dengan sentrifugase dan spora FMA diidentifikasi dengan metode INVAM. Pengamatan kolonisasi FMA pada akar tanaman dilakukan melalui teknik pewarnaan akar (staining) dengan metode modifikasi Clapp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spora FMA yang ditemukan di lokasi pengamatan ada 3 genus FMA yaitu Glomus (15 sp), Acaulospora (3 sp) dan Gigaspora (1 sp) dengan kelimpahan spora terbanyak adalah genus Glomus sp pada kedalaman tanah 0-20 cm. Struktur FMA yang ditemukan mengkolonisasi akar tanaman aren adalah hifa, vesikula dan spora

    Daftar Isi

    No full text

    Dari Editor

    No full text

    KARAKTERISTIK ABU LAYANG (FLY ASH) DARI PLTU TANJUNG SELOR DAN POTENSINYA SEBAGAI PREKURSOR MATERIAL ALUMINOSILIKAT

    No full text
    Around 500 million tonnes of coal combustion by-products are produced annually, with Fly Ash accounting for about 70% of the by-product. Therefore, using Fly Ash is crucial because if it is not processed and utilized correctly, it can harm the environment and human health. The use of Fly Ash is strongly influenced by its characteristics, which are different for each source because it depends on the type of coal, combustion, and cooling conditions. Therefore, characterization was carried out in this study using XRF and XRD on Fly Ash from Tanjung Selor PLTU. Based on ASTM C618, PLTU Fly Ash Tanjung Selor is class F Fly Ash because the amount of SiO2+Al2O3+Fe2O3 is 71,4% (>70%) and the amount of CaO is 13,83% (<15%). The XRD results also show that Fe2O3 and SiO2 dominate the Fly Ash with the appearance of the peak of Fe2O3 (hematite) at 2θ = 33,44; 35,57; 43,27° (PDF 01-073-0603) and SiO2 (quartz) at 2θ = 20,81; 26,63; 50,14; 57,26; 68,34° (PDF 01-085-0335). The characteristics of this Fly Ash indicate that it has the potential as a precursor for the synthesis of zeolite X and P because it has a SiO2/Al2O3 ratio of 1,63. In addition, due to the dominant Si and Al content, Fly Ash has the potential as a geopolymer precursor; the dominant Fe content (27%) can also increase the geopolymer's development strength.Sekitar 500 juta ton hasil samping pembakaran batu bara diproduksi setiap tahun, dengan abu layang yang menyumbang sekitar 70% dari produk samping tersebut. Oleh karena itu, pemanfaatan abu layang menjadi sangat penting karena jika tidak diolah dan dimanfaatkan dengan benar dapat berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan manusia. Pemanfaatan abu layang sangat dipengaruhi oleh karakteristiknya yang berbeda-beda pada setiap sumbernya karena dipengaruhi oleh jenis batu bara, kondisi pembakaran, dan pendinginan. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan karakterisasi dengan menggunakan XRF dan XRD pada abu layang yang berasal dari PLTU Tanjung Selor. Berdasarkan ASTM C618, abu layang PLTU Tanjung Selor merupakan abu layang Kelas F karena memiliki total kandungan SiO2+ Al2O3 + Fe2O3 adalah 71,4% (>70%) dan CaO sebesar 13,83% (<15%). Hasil XRD juga menunjukkan bahwa abu layang ini didominasi oleh Fe2O3 dan SiO2 dengan munculnya puncak Fe2O3 (hematit) pada 2θ= 33,44; 35,57; 43,27° (PDF 01-073-0603) dan SiO2 (kuarsa) pada 2θ = 20,81; 26,63; 50,14; 57,26; 68,34° (PDF 01-085-0335). Karakteristik dari abu layang ini menunjukkan bahwa abu layang ini memiliki potensi sebagai prekursor untuk sintesis zeolit X dan P karena memiliki rasio SiO2/Al2O3 1,63. Selain itu, karena kandungan Si dan Al yang dominan abu layang ini juga berpotensi sebagai prekursor geopolimer, kandungan Fe yang dominan (27%) juga mampu meningkatkan kekuatan dari geopolimer

    STUDI PENDAHULUAN: EKSTRAKSI LITIUM DARI FLUIDA PANAS BUMI DIENG MELALUI EKSTRAKSI PELARUT

    No full text
    This preliminary study aims to obtain the lithium compounds from a geothermal brine through a solvent extraction. The brine samples were collected from PT Geodipa Energi Geothermal Power Plant in Dieng, Central Java, Indonesia. The ICP analysis was conducted to measure brine chemical composition. Brine’s lithium content was 62.73 ppm with the dominant impurities silica (Si), calcium (Ca), potassium (K), sodium (Na), and boron (B). Silica removal was conducted by centrifugation technic with the addition of flocculants, while calcium removal was achieved by adding sodium carbonate. The CYANEX® 936P was used for the extraction process and was diluted in kerosene (1:1 O/A ratio). The extraction pH was adjusted by adding 10% H2SO4 solution (acid condition) and 10% NH4OH (alkaline condition). The optimum condition for lithium extraction was observed at pH = 11, with the highest lithium recovery of 90%. The eluate from the stripping process was then precipitated by adding Na2CO3 to produce lithium carbonate powder.Melalui ekstraksi pelarut, studi pendahuluan ini bertujuan untuk memperoleh senyawa litium dari fluida/brine panas bumi. Percontoh brine diambil dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi PT Geo Dipa Energi di Dieng, Jawa Tengah, Indonesia. Analisis ICP dilakukan untuk mengukur komposisi kimia brine. Kandungan litium brine adalah 62,73 ppm dengan pengotor dominan berupa silika (Si), kalsium (Ca), kalium (K), natrium (Na), dan boron (B). Penghilangan silika dilakukan dengan proses sentrifugasi dan penambahan flokulan, sedangkan proses penghilangan kalsium dilakukan dengan penambahan natrium karbonat. CYANEX® 936P digunakan untuk proses ekstraksi dan dilarutkan dalam kerosin (rasio O/A 1:1). Pengaturan pH saat proses ekstraksi dilakukan dengan menambahkan larutan H2SO4 10% (kondisi asam) dan NH4OH 10% (kondisi basa). Kondisi optimum untuk ekstraksi litium terjadi pada pH = 11, dengan perolehan litium tertinggi sebesar 90%. Eluat dari proses stripping kemudian diendapkan dengan menambahkan Na2CO3 sehingga terbentuk padatan litium karbonat

    Note for Contributor

    No full text

    STUDI PENGARUH PENGGILINGAN KONDISI KERING DAN BASAH TERHADAP KINETIKA DAN KARAKTERISTIK DISTRIBUSI UKURAN BUTIR BIJIH SULFIDA KOMPLEKS GALENA SFALERIT – UJI PENDAHULUAN

    No full text
    Grinding is generally carried out in wet conditions, but issues regarding water conservation and high-water treatment costs encourage the application of grinding in dry conditions. Both produce products with certain characteristics that affect the success of the next process. Grinding of P100 6 mesh (3.36 mm) ore was performed using steel ball media with dry and wet grinding with 33.33% solids for 5, 10, 15, 20, 25, and 30 minutes. Particle size distribution of the grinding product was obtained from the wet sieving process and the -200 mesh (-75µm) ore particles were analyzed using a laser diffraction particle size analyzer. The Alyavdin grinding kinetics equation model was used to study the kinetics of ore grinding behavior and the particle size distribution and its characteristics consisting of uniformity index, size modulus and fractal dimension were studied using the logistic, Rosin-Rammler (RR) and Gates-Gaudin-Schuhmann (GGS) equation model. Equivalent particle size (EPS) and specific surface area (SSA) observations were carried out on the -200 mesh (-75µm) grinding product. Grinding in dry condition is more effective in reducing the size of complex galena-sphalerite sulphide ore, indicated by high grinding rate with the highest K value of 0,135/minute, high cummulative % undersize, low size modulus, high uniformity index, high fine particle and high SSA compared to wet grinding. Alyavdin's kinetics model can describe the grinding kinetics of galena sphalerite complex sulfide ore, while the particle size distribution follows the logistic equation model.Penggilingan umumnya dilakukan dalam kondisi basah, namun isu mengenai konservasi air dan biaya pengolahan air yang tinggi mendorong pengaplikasian penggilingan dalam kondisi kering. Keduanya menghasilkan produk dengan karakteristik tertentu yang mempengaruhi keberhasilan proses selanjutnya. Penggilingan bijih berukuran P100 6 mesh (3,36 mm) dilakukan menggunakan media steel ball dengan variasi kondisi penggilingan kering dan basah dengan 33,33 % solid selama 5, 10 ,15 ,20 ,25, dan 30 menit. Analisis distribusi ukuran butir produk penggilingan didapat dari pengayakan basah dan partikel bijih hasil pengayakan berukuran -200 mesh (-75µm) dianalisis menggunakan laser diffraction particle size analyzer. Model persamaan kinetika Alyavdin digunakan untuk mempelajari perilaku kinetika penggilingan bijih sedangkan distribusi ukuran butir dan karakteristiknya yang terdiri dari indeks keseragaman, modulus ukuran dan fractal dimension dipelajari menggunakan model persamaan logistic, Rosin-Rammler (RR) dan Gates-Gaudin-Schuhmann (GGS). Pengamatan equivalent particle size (EPS) dan specivic surface area (SSA) dilakukan terhadap produk variasi kondisi penggilingan berukuran -200 mesh (-75µm). Penggilingan dalam kondisi kering lebih efektif dalam mereduksi ukuran bijih sulfida kompleks galena-sfalerit, ditunjukkan oleh laju penggilingan tinggi dengan nilai K tertinggi sebesar 0,135/menit, % berat kumulatif lolos tinggi, modulus ukuran rendah, indeks keseragaman tinggi, partikel halus tinggi dan nilai SSA tinggi dibanding penggilingan dalam kondisi basah. Model kinetika penggilingan Alyavdin dapat menggambarkan perilaku kinetika penggilingan bijih sulfida kompleks galena sfalerit, sedangkan distribusi ukuran butir produk kedua kondisi penggilingan mengikuti model persamaan logistic

    Lampiran

    No full text

    Kata Pengantar

    No full text

    50

    full texts

    1,014

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Puslitbang tekMira (Teknologi Mineral dan Batubara)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇