e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
HABITAT YANG POTENSIAL UNTUK ANOPHELES VAGUS DI KECAMATAN LABUAN DAN KECAMATAN SUMUR KABUPATEN PANDEGLANG, PROVINSI BANTEN
Abstract. Pandeglang district contain of several sub district areas.Labuan and Sumur sub districts areincluding in the District of Pandeglang. In these areas are categorized as endemic areas of malaria. Malariais a vector borne diseases, it was influenced by three primary factor; Human, parasites and environment.The aim of the study was to assess potential habitat ofAnopheles vagus larvae in Labuan and Sumur subdistricts of the Pandeglang District, Banten Province. The method of the survey was collecting larva withstandard detention of WHO and observation of breeding places of mosquito habitats. The collection oflarva was identified from rearing adult mosquitoes. The habitats of survey was included rice fields, wallow,puddle, excavated wells and dug sand pits, the shores of the moat, irrigation and river estuaries. The result of survey was presenting in which mosquito breeding places in sub-district had differences. Conclusion ofthe observation An. vagus was found on the rice fields, excavated wells, wallow, and puddle inLabuan Sub-district. On the other hand,An. vagus was found in the dug sand pits, wallow and buffalo puddle inSumur Sub district. Almost of all the habitats is potential as breeding places ofAnophelesspecies which can be malaria vector
PEER GROUP DAN UANG SAKU BULANAN MENINGKATKAN RISIKO PERSEPSI BODY IMAGE NEGATIF PADA REMAJA PUTRI DI BEKASI
ABSTRACTAdolescence is a phase of rapid growth experienced in human life. Adolescent girls will experience anincrease in body fat in•order to prepare reproduction. That makes the body more far from the ideal shape.These, sometime make adolescent girlsfeel dissatisfied with their body shape and eager to have an idealbody shape. The desire to have an ideal body shape is also influenced by the surrounding environment suchas peer group and media. This study discusses the determinant factors of body image and efforts to achieveideal body shape among adolescent girls in Bekasi. This is a quantitative research study with crosssectional design. Respondents in this study were 80 girls aged 11-19 years old in Bekasi. Data analysis wasperformed using descriptive, bivariate and multivariate. Chi square analysis was conducted prior to themultiple logistic regression test to determine the determinant variables of body image perceptions amongadolescent girls. The results showed that 73.8 percent of adolescent girlshad a negative body imageperception. The main determinant factors of body image perceptions on adolescent girls were having a peergroup (OR 5.09 ; 95% CI 1.02 -25.42) and monthly allowance (OR 3.61; 95% CI 1.22 -10.73). Effortsmade by respondents to achieve the body image were diet and physical activity, but the results of chisquare test showed that there were no relationship between the diet and physical activity behavior andperceptions of body image.Keywords: Body image, peer group, a monthly allowance ABSTRAKMasa remaja merupakan fase pertumbuhan cepat yang dialami dalam kehidupan manusia. Remaja putrikhususnya akan mengalami peningkatan lemak tubuh sebagai persiapan reproduksi yang membuattubuhnya semakin jauh dari bentuk ideal. Hal ini menyebabkan remaja putri merasa tidak puas akan bentuktubuhnya dan menginginkan bentuk tubuh ideal. Keinginan untuk memiliki tubuh yang ideal ini jugamerupakan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti peer group dan media. Penelitian ini membahasmengenai persepsi body image pada remaja putri di Bekasi dan upaya yang dilakukan untuk mencapaipersepsi body image yang diinginkan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan disain crosssectional. Responden dalam penelitian ini adalah 80 orang remaja putri usia 11-19 tahun di Bekasi.Analisis data dilakukan secara deskriptif, bivariat dan multivariat. Analisis chi square dilakukan sebelumuji regresi logistik ganda untuk menentukan determinan body image pada remaja putri. Hasil penelitianmenunjukkan 73,8 persen remaja memiliki persepsi body image negatif. Faktor determinan persepsi bodyimage remaja adalah kepemilikan peer group dengan nilai OR 5,09 (1,02-25,42) dan uang saku bulanandengan nilai OR 3,61 (1,22-10,73). Upaya yang dilakukan responden untuk mencapai body image yaitu dietdan meningkatkan aktifitas fisik, tetapi hasil uji chi square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antaradiet dan aktifitas fisik dengan persepsi body image.Kata kunci: body image, peer group, uang saku bulana
HUBUNGAN INDEX MASSA TUBUH DENGAN HIPERTENSI PADA WANITA USIA SUBUR (ANALISIS DATA RISKESDAS 2013)
Latar belakang: Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang banyak diderita di dunia termasuk Indonesia. Sebagian besar masyarakat dengan tekanan darah tinggi adalah overweight, dan hipertensi lebih sering terjadi pada obesitas. Pada tahun 2013, prevalensi obesitas perempuan dewasa (>18 tahun) 32,9 persen, naik 19 persen dari tahun 2007 (13,9%) dan naik 17,4 persen dari tahun 2010 (15,5%) ( Riskesdas 2013). Penelitian di China tahun 2004 menunjukkan bahwa obesitas mempunyai risiko 4,9 kali lebih tinggi menjadi hipertensi dibandingkan yang memiliki indeks massa tubuh <25 kg/m2. Tujuan: mengetahui hubungan IMT dengan hipertensi pada WUS. Metode: Penelitian menggunakan data Riskesdas 2013. Disain penelitian cross sectional. Sampel: semua WUS berumur 15-49 tahun dan yang tidak hamil. Disebut hipertensi apabila tekanan darah sistol >140 mmHg atau Diastole > 90 mmHg. IMT WUS dibagi dua: kelompok IMT <25 kg/ m2 dan IMT ≥ 25 kg/m2 . Analisis data univariat, bivariat dan multi variat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan hipertensi pada WUS adalah 21,3 persen. WUS yang memiliki IMT ≥ 25 kg/m2 yaitu 11,5%. Secara statistik ada hubungan yang bermakna antara variabel utama (IMT) dan variabel antara dengan hipertensi (p<0,05). Tidak ada variabel confounding. WUS yang IMT ≥ 25 kg/m2 berpeluang hipertensi 2,272 kali dibandingkan dengan WUS dengan IMT<25 kg/m2. Kesimpulan. WUS yang memiliki IMT ≥ 25 kg/m2 berpeluang 2,272 kali hipertensi. WUS umur 25-49 tahun dengan IMT ≥ 25 kg/m2 berisiko terkena hipertensi 1,91 kali. WUS di perkotaan dengan IMT ≥ 25 kg/m2 berisiko hipertensi 2,70 kali
PEMBERIAN DUKUNGAN UNTUK MENYUSUI ASI EKSKLUSIF ENAM BULAN DI PUSKESMAS KEMIRI MUKA, DEPOK, JAWA BARAT TAHUN 2011
Latar Belakang : Air susu ibu sangat menguntungkan ditinjau dari berbagai segi, gizi, kesehatan, ekonomi maupun sosio-psikologis. Pemberian ASI eksklusif sampai usia bayi enam bulan di Indonesia masih rendah dan belum mencapai target cakupan. Tujuan : Mendapatkan angka proporsi pemberian ASI eksklusif enam bulan dan hubungannya dengan perilaku dalam menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiri Muka Kota Depok. Metode : Penelitian ini menggunakan disain crossectional dengan responden adalah ibu yang mempunyai bayi berumur enam bulan sampai dengan 12 bulan yaitu sebanyak 172 responden. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2011 dengan menggunakan kuesioner tertutup. Hasil : Pemberian ASI eksklusif enam bulan di Kecamatan Kemiri Muka masih rendah yaitu hanya 25,6%. Hanya 45,9% sarana dan tenaga kesehatan melakukan dukungan dengan baik dalam pemberian ASI ekslusif enam bulan. Sebesar 52,3% responden menyatakan mendapat dukungan yang baik dari suami dan sebesar 63,4% mendapat dukungan yang baik dari keluarga (ibu dan ibu mertua). Ada 51,2% responden mempunyai keterpaparan informasi ASI eksklusif dengan baik. Faktor pendukung yang berhubungan bermakna adalah dukungan suami (p=0,001, OR=3,737), sarana dan tenaga kesehatan (p=0,000, OR=3,974) dan keluarga (ibu dan ibu mertua) (p=0,002, OR=4,111). Kesimpulan : Pemberian ASI eksklusif di Kecamatan Kemiri Muka masih rendah, sehingga perlu ditingkatkan. Fasilitas dan tenaga kesehatan di Kota Depok perlu pengawasan yang ketat dalam memberikan susu formula kepada bayi selama bayi berada di fasilitas atau tenaga kesehatan
PELAKSANAAN KELAS IBU HAMIL DI INDONESIA
Kelas Ibu Hamil telah dicanangkan sekitar tahun 2009. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program KesehatanIbu dan Anak. Kegiatan Kelas Ibu Hamil adalah bentuk intervensi pada tahap awal siklus hidup manusia.Diharapkan KIH mampu membentuk generasi yang sehat dan kuat. Namun demikian keberhasilan pelaksanaanKelas Ibu Hamil masih banyak kendala. Untuk itu akan dilakukan telaah pelaksanaan Kelas Ibu Hamil.Tujuan: Menelaah pelaksanaan Kelas Ibu Hamil dengan tahapan, studi literatur.Metode: Analisis menggunakan SWOT ((strengths, weaknesses, opportunities, threats) dan QSPM(Quantitative Strategic Planning Matrix).Hasil: Telaah berdasarkan literatur/penelitian sampai dengan 2014. Posisi KIH yang terlihat adalah posisiKuadran III (negatif, positif). Posisi ini menandakan sebuah organisasi (KIH) yang lemah namun sangatberpeluang. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Ubah Strategi. Maksudnya adalah pelaksanaan KIHdisarankan untuk mengubah strategi sebelumnya karena strategi yang sudah berjalan dikhawatirkan sulit untukdapat menangkap peluang yang ada sekaligus memperbaiki kinerja KIH. Strategi lama KIA merupakan kegiatanpenunjang program KIA dan pelaksana/fasilitator di tingkat bawah menjadi tanggung jawab bidan desa.Masyarakat masih belum mengenal KIH. Upaya perbaikan kinerja program Kelas Ibu Hamil antara lain,memperhatikan kondisi kinerja fasilitator di tingkat puskesmas, di tingkat dinas kesehatan kabupaten danprovinsi, meningkatkan profesionalitas fasilitator, mengenalkan Kelas Ibu Hamil kepada masyarakat luasdengan cara promosi dan iklan secara terus menerus, melalui teknologi informasi dan mengajak seluruh stakeholder untuk terlibat pelaksanaan KIHKesimpulan: Pelaksanaan KIH masih berpeluang dilaksanakan dan perlu promosi di sosial media
Some epitopes conservation in non structural 3 protein dengue virus serotype 4
AbstrakLatar belakang: Protein Non Struktural 3 (NS3) virus dengue menginduksi respon antibodi netralisasidan respon sel T CD4+ dan CD8+, serta berperan dalam replikasi virus. Protein NS3 memiliki epitopepitopsel T dan B yang terdapat perbedaan kelestarian pada berbagai strain virus dengue serotipe 4(DENV-4). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelestarian epitop sel T dan B pada protein NS3DENV-4 strain-strain dunia dan keempat serotipe virus dengue strain Indonesia.Metode: Penelitian ini dilakukan di Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UI sejak Juni 2013 - April2014. Sekuens asam amino NS3 DENV-4 strain 081 didapatkan setelah produk PCR gen NS3 DENV-4 081disekuensing. Epitop-epitop sel T dan sel B protein NS3 DENV-4 081 dianalisis dan dibandingkan dengansekuens asam amino protein NS3 dari 124 strain DENV-4 di dunia dan keempat serotipe DENV strain Indonesia.Strain-strain dunia merupakan strain yang ada di benua Amerika (Venezuela, Colombia, dll) dan Asia (Cina,Singapura, dll). Referensi posisi epitop sel T dan B protein NS3 diperoleh dari laporan penelitian terdahulu.Hasil: Delapan epitop sel T dan 2 epitop sel B dari protein NS3 DENV-4 081 ternyata identik dan lestaripada protein NS3 dari 124 strain DENV-4 dunia. Epitop sel B di posisi asam amino 537-544 pada proteinNS3 DENV-4 081 ternyata identik dan lestari dengan epitop sel B protein NS3 dari keempat serotipeDENV strain Indonesia.Kesimpulan: Kelestarian yang luas dari epitop sel T dan B pada hampir seluruh strain DENV-4 dunia danserotipe-serotipe DENV strain Indonesia. (Health Science Journal of Indonesia 2015;6:126-31)Kata kunci: virus dengue, protein NS3, epitop sel T, epitop sel B AbstractBackground: Non Structural 3 (NS3) protein of dengue virus (DENV) is known to induce antibody, CD4+and CD8+ T cell responses, and playing role in viral replication. NS3 protein has T and B cell epitopes,which has conservation difference between DENV-4 strains. This study aimed to identify conservation ofT and B cell epitope in NS3 protein among DENV-4 strains and four serotypes DENV of Indonesia strains.Methods: Research was held at the Department of Microbiology, Faculty of Medicine, UniversitasIndonesia, June 2013 to April 2014. NS3 amino acid sequence of DENV-4 081 strain was obtained afterNS3 gene of DENV-4 081 PCR products were sequenced. T and B cell epitopes of NS3 protein of DENV-4081 strain were analysed and compared to NS3 proteins of 124 DENV-4 strains around the world and fourserotypes of Indonesia strains. World strains were isolated from America (i.e. Venezuela, Colombia, etc.)and Asia (i.e. China, Singapore, etc.). For the comparison, T and B cell epitope positions of NS3 proteinwere obtained from published report.Results: Eight positions of T cell epitopes and two positions of B cell epitopes of NS3 DENV-4 081 wereidentical and conserved to NS3 protein of 124 DENV-4 strains around the world. B cell epitope of NS3 DENV-4 081 protein at aa 537-544 was found identical and conserved to four serotypes DENV of Indonesia strains.Conclusion: This wide conservation of T and B epitopes in almost all DENV-4 strains around the worldand all serotypes of Indonesia strains. (Health Science Journal of Indonesia 2015;6:126-31)Keywords: dengue virus, NS3 protein, T cell epitope, B cell epitop
Type of female sex worker and other risk factors of syphilis
AbstrakLatar belakang: Sifilis termasuk salah satu dari penyakit infeksi menular seksual kronis disebabkankuman Treponema pallidum yang dapat menyebabkan kecacatan pada penderita dan anak yang dilahirkan.Tujuan analisis ini adalah untuk melihat hubungan tipe dan lama kerja sebagai Wanita Pekerja Seks(WPS) dengan kejadian penyakit sifilis di 7 kota di Indonesia.Metode: Data dari Survei WPS menggunakan kuesioner terstruktur di 7 kota (Kupang, Samarinda,Pontianak, Yogyakarta, Timika, Makassar dan Tangerang) di Indonesia tahun 2007, desain potong lintangdan responden dipilih secara cluster random sampling dari WPS langsung dan tidak langsung yangmemenuhi kriteria definisi operasional. Diagnosa Sifilis ditegakkan dengan pemeriksaan laboratoriumRapid Plasma Reagent (RPR) dan Treponema pallidum Haemaglutination Assay (TPHA).Hasil: Sebanyak 1750 responden ikut dalam penelitian dan 12.2% terindikasi sifilis. Kota Makassar mempunyaiprevalensi yang tertinggi sebesar 55,2%. WPS yang berlokasi di luar pulau Jawa memiliki risiko terinfeksi sifilis3,16 kali lebih tinggi dibandingkan dengan WPS yang berlokasi dipulau Jawa [risiko relatif suaian (RRa) = 3,16 ;P= 0,000]. Tipe WPS tidak langsung memiliki risiko 46% lebih banyak untuk terinfeksi sifilis dibandingkan denganWPS langsung (RRa = 1,46 ; 95%; P = 0,002), sedangkan WPS yang mencari pengobatan ke dokter memiliki risiko58% lebih besar dibandingkan yang berobat ke sarana kesehatan langsung (RRa = 1,58; P = 0.006).Kesimpulan: Lokasi WPS yang berada di luar pulau Jawa, tipe WPS tidak langsung memiliki risiko lebihtinggi untuk terinfeksi penyakit sifilis. Wanita pekerja seks yang mencari pengobatan ke dokter menyebabkanpenyakit terindikasi lebih tinggi dibandingkan jika berobat ke sarana pelayanan kesehatan lainnya. (HealthScience Journal of Indonesia 2015;6:132-6)Kata kunci: sifilis, wanita pekerja seks, Indonesia AbstractBackground: Syphilis is one of the chronicle sexual transmission diseases which is caused by Treponema pallidumbacteria that can cause disability in patients and babies born. This analysis aims at looking at the relationship typeand work duration as Female Sex Workers (FSW) and the syphilis cases within 7 cities in Indonesia.Methods: The data was taken from Survey on FSW using a structured questionnaire in 7 cities (Kupang,Samarinda, Pontianak, Yogyakarta, Timika, Makassar and Tangerang) in Indonesia in 2007, the crosssectionaldesign and respondents are selected by cluster random sampling directly and indirectly towardsthe WPS who fulfill the operational definition criteria. Syphilis diagnosis was confirmed by laboratorytests Rapid Plasma Reagents (RPR) and Treponema pallidum Haemaglutination Assay (TPHA).Results: There were 1750 respondents who participated in the study and about 12.2% were infected withthe syphilis. Makassar has the highest prevalence about 55.2%. The WPS who are located outside of Javahave the syphilis infection risk about 3.16 times higher than the WPS located in Java (adjusted relative risk(RRa) = 3.16; P = 0.000). The indirect WPS had 46% more risk for syphilis infection compared to directWPS (RRa = 1.46; P = 0.002), whereas the FSW who seek treatment from doctor have a risk about 58%tmore risk compared to the direct health facilities treatment [RRa = 1.58; P = 0.006).Conclusion: The location of FSW which is outside of Java, the FSW does not directly have a higher riskof being infected with syphilis. Female sex workers who seek the doctor treatment are able to be indicatedearlier rather than they are who seek treatment to other health care facilities. (Health Science Journal ofIndonesia 2015;6:132-6)Keyword: Syphilis, Female Sex Worker, Indonesi
GAMBARAN STATUS KESEHATAN PENDUDUK DI DAERAH PERBATASAN
AbstractThe border region is a regional / geographic region associated with neighboring countries, withpeople living in this region united by ties of socio-economic and socio-cultural scope of a particularadministrative region after an agreement between states that border. Community health status can beknown of the status or disease morbidity, mortality or death status of the population or the nutritional statusof residents in the community. The health status of people living in border regions is expected to remainvery low when compared with other regions. Based on the data, Riskesdas 2007, data SUSENAS 2007, anddata Podes 2008, doing research to find out the picture of the health status of populations in border areas.This review is expected to be used by policy makers and the improvement of data base that affect the healthstatus of people residing in border areas. Total Samples 19 district border area. Sample population living inborder areas in 19 district : district Natuna, district Kupang, TTU, Belu, Sambas, Sanggau, Sintang, KapuasHulu, Bengkayang, Kutai Barat, Malinau, Nunukan, Kep. Talaud, North Halmahera, Jayapura, Merauke,Pegunungan Bintang, Boven Digoel and Keerom. Nutritional status of children of weight for age (27.1%),height for age (43.5%) and weight for height (16.2%) and this condition is still high compared with otherregions. Complete immunization coverage (44.2%) and neonatal visits to health care workers (KN1: 40%and KN2: 23.5%) were still low when compared with other regions. The scope of delivery by trained healthaides (48%) is still very low when compared with other regions. Instead exclusive breastfeeding (45.1%)better than other regions. Coverage of Ante Natal Care (Kl: 76.1%) is quite high compared to otherregions. The prevalence of infectious diseases / communicable still high in the Border region from otherregions. The prevalence of non-communicable diseases including mental disorders in the areas mostDisadvantaged from other regions. The prevalence of underweight in adults is quite high compared to otherregions. While the prevalence of overweight and obesity is still low compared with other regions.Environmental health status is poor 1 low (household access to clean water: 48.6%, household accesslatrine: 29.9%, density of occupancy: 75.9%, and the ground floor: 83.1%) when compared with otherregions . In the border areas, the ratio of doctors (17.4/100 000 population) below average, and the ratio ofdentists (4.8/100 000 population), manteri ratio of health personnel (55.6/100 000 population) aboveaverage, even midwife ratio (76.4/100 000 population) is more than twice the national average, but stilldoes not reach the target INA 2010, 100/100, 000. May be required as follows: more specific policies areneeded to improve the health of people living in border areas (DTPK), need special attention to reduce theincidence of infectious diseases. Nevertheless, the construction of health institutions in each region/city orhospital or border health center. Policies should be specialized in health workers and even a doctor to theborder area.Keywords: Morbidity status, nutrition, access to clean water, health facilities and personnel in the borderareas AbstrakDaerah Perbatasan merupakan kabupaten/wilayah geografis yang berhadapan dengan negaratetangga, dengan penduduk yang bermukim di wilayah tersebut disatukan melalui hubungan sosioekonomi,dan sosio budaya dengan cakupan wilayah administratif tertentu setelah ada kesepakatan antarNegara yang berbatasan. Status kesehatan masyarakat dapat diketahui dari status morbiditas atau penyakit,status mortalitas atau tingkat kematian penduduk atau status gizi pada penduduk dalam masyarakat. Statuskesehatan masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan diperkirakan masih sangat rendah biladibandingkan dengan daerah yang lain. Berdasarkan data Riskesdas 2007, data Susenas 2007, dan dataPodes 2008, dilakukan kajian untuk mengetahui gambaran status kesehatan penduduk di daerah perbatasan.Kajian ini diharapkan dapat dipergunakan oleh pengambil kebijakan dan sebagai data dasar perbaikan yangberdampak ke status kesehatan masyarakat yang berada di daerah perbatasan. Sampel 19 kabupaten daerahperbatasan. Sampel penduduk yang tinggal di 19 Kab daerah Perbatasan yaitu Kabupaten Natuna, KabKupang, TTU, Belu, Sambas, Sanggau, Sintang, Kapuas Hulu, Bengkayang, Kutai Barat, Malinau,Nunukan, Kep. Talaud, Halmahera Utara, Kota Jayapura, Merauke, Pegunungan Bintang, Boven Digoeldan Keerom. Hasilnya status gizi balita BB/U (27,1%), TB/U (43,5%) dan BB/TB (16,2%) dan kondisi inimasih tinggi dibandingkan daerah yang lain. Cakupan imunisasi lengkap (44,2%) dan kunjungan neonatalke petugas kesehatan (KN1: 40% dan KN2: 23,5%) masih rendah bila dibandingkan daerah lain. Cakupanpenolong persalinan oleh tenaga kesehatan (48%) masih sangat rendah bila dibandingkan dengan daerah lain. Sebaliknya ASI Eksklusif (45,1%) lebih baik bila dibandingkan daerah lain. Sedangkan cakupan AnteNatal Care (K1: 76,1%) cukup tinggi dibandingkan daerah lain. Prevalensi penyakit Infeksi/menular masihtinggi di daerah Perbatasan dibandingkan daerah lain. Prevalensi penyakit tidak menular termasukgangguan mental paling banyak di daerah Tertinggal dibandingkan daerah lain. Prevalensi kurus padaorang dewasa cukup tinggi dibandingkan daerah lain. Sedangkan prevalensi berat badan lebih dan obesemasih rendah dibandingkan daerah lain. Status kesehatan lingkungan masih jelek/rendah (akses RT airbersih: 48,6%, akses RT jamban: 29,9%, kepadatan hunian: 75,9%, dan lantai tanah: 83,1%) biladibandingkan daerah lain. Di daerah perbatasan, ratio tenaga dokter (17,4/100.000 penduduk) masih beradadibawah rata-rata nasional, sedangkan ratio dokter gigi (4,8/100.000 penduduk), ratio tenaga menterikesehatan (55,6/100.000 penduduk) berada diatas rata-rata nasional, bahkan ratio bidan (76,4/100.000penduduk) dua kali lebih banyak dari rata-rata nasional tetapi masih belum mencapai target INA 2010 yaitu100/100,000 penduduk. Dapat disarankan sebagai berikut: diperlukan kebijakan yang lebih khusus untukpeningkatan status kesehatan masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan (DTPK), perlu mendapatperhatian khusus untuk menurunkan angka kesakitan penyakit menular. Masih diperlukan pembangunansarana kesehatan di setiap kab/kota baik Rumah Sakit atau Puskesmas Perbatasan. Perlu kebijakan khususdalam penempatan tenaga kesehatan dokter yang merata sampai ke daerah perbatasan.Kata kunci: Status morbiditas, status gizi, akses air bersih, sarana dan tenaga kesehatan, daerah perbatasa
EFEK INFUSA DAUN Mangifera foetida L. TERHADAP KADAR ALBUMIN DAN TOTAL PROTEIN SERUM TIKUS DENGAN KEKURANGAN ENERGI PROTEIN
Albumin sebagai komponen terbesar serum protein merupakan penanda paling sering untuk status gizi. Kekurangan energi protein (KEP) dapat mengurangi kadar albumin serum ini. Mangga bacang adalah tanaman khas Kalimantan Barat yang mengandung berbagai metabolit sekunder pada daunnya. Penelitian ini akan melihat efek infusa daun mangga bacang terhadap kadar albumin dan protein total serum tikus yang mengalami KEP. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain penelitian post-test only with control groups. Tiga puluh tikus berusia 3 minggu dibagi dalam 3 kelompok: normal (n=6), restriksi (n=6) dan tikus yang diberikan infusa (infusa, n=18 dengan dosis 10 mg/kgBB, 20 mg/kgBB dan 40 mg/kgBB). Kadar albumin and protein total diukur menggunakan metode Bromocresol Green dan biuret. Kadar albumin dan total protein serum kelompok restriksi lebih rendah dibandingkan dengan kelompok normal (p=0,000). Terjadi peningkatan kadar serum albumin dan total protein dari 3 kelompok infusa yang berbanding lurus dengan dosis infusa yang diberikan dengan peningkatan tertinggi adalah pada pemberian dosis 40 mg/kgBB (p=0,006 dan p=0,024). Pemberian infusa daun mangga bacang dapat meningkatkan kadar serum albumin dan total protein tikus yang mengalami KEP
HUBUNGAN ASUPAN ENERGI, LEMAK DAN SERAT DENGAN RASIO KADAR KOLESTEROL TOTAL-HDL
Perubahan pola hidup menyebabkan pola penyakit berubah, dari penyakit infeksi dan rawan gizi ke penyakit-penyakit degeneratif, diantaranya adalah penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) dan akibat kematian yang ditimbulkannya. Penyakit jantung merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Penyakit jantung adalah penyakit yang mengganggu sistem pembuluh darah atau lebih tepatnya menyerang jantung dan urat-urat darah. Penyakit kardiovaskuler (PKV) mempunyai hubungan yang erat dengan zat gizi dan makanan. Hipotesis “makanan-jantung“ atau diet-heart hypothesis menerangkan bahwa adanya hubungan antara makanan dengan penyakit jantung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan rasio kadar kolesterol total/HDL. Desain penelitian ini adalah potong lintang/cross sectional dengan variabel independen (asupan energi, asupan lemak jenuh, lemak tak jenuh, kolesterol dan serat) dan variabel dependen (rasio kadar kolesterol total/HDL). Jumlah populasi 760 dan sampel sebanyak 45 responden. Sampel penelitian diambil secara accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara asupan energi, lemak jenuh, lemak tak jenuh dan kolesterol dengan rasio kadar kolesterol total/HDL. Tidak ada hubungan yang bermakna antar asupan serat dengan rasio kadar kolesterol total/HDL. Faktor yang paling berhubungan adalah asupan lemak jenuh