e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingginya DMF-T di Provinsi Bangka Belitung Tahun 2011
Bangka Belitung Province is the region with the highest population rate of tooth decay in Indonesia. Riskesdas 2007 reported in Bangka Belitung Province population aged 12 years and over had experienced 86.8% caries and caries active and have not obtained treatment of 50.8%. From earlier research in Bangka Belitung Province it is known that DMF-T index (the average number of tooth decay per-person) was 11.7. The largest component is tooth extraction on average of 6.5 teeth, per person then dental caries average of 4.7 teeth per-person, and the lowest component is a filled teeth/ teeth patched an average of 0.5 teeth per-person. It was also reported about the severity of carious teeth, which all require different treatment, material/drugs different, and tools/instruments different. The aim of the research was to know the affect factors for the high DMF-T in Bangka Belitung Province. The results showed that dentists was still not enough, the quality of the dentist needs to be improved. No special workers of dental health promotion, extension kits were generally not available. Instruments and materials/drugs of dental fillings were very limited, it can have an impact on the service provided tends to extraction. Conclusion of this study shows oral health care in Bangka Belitung province prioritized more curative services (extraction), because of lack or unavailability of materials and equipment to filled teeth/teeth patched.Keywords : the affect factors, dental health status (DMF-T), Bangka Belitung ProvinceAbstrakProvinsi Bangka Belitung merupakan wilayah dengan tingkat kerusakan gigi penduduknya tertinggi di Indonesia. Pada Riskesdas 2007 dilaporkan di Provinsi Bangka Belitung penduduk usia 12 tahun ke atas pernah mengalami karies sebesar 86,8 % dan yang mengalami karies aktif yang belum memperoleh perawatan sebesar 50,8%. Dari penelitian terdahulu di Provinsi Bangka Belitung diketahui bahwa indeks DMF-T (rata-rata jumlah kerusakan gigi per-orang) adalah 11,7. Komponen terbesar adalah pencabutan gigi rata-rata per-orang 6,5 gigi, kemudian karies gigi ratarata per-orang 4,7 gigi, dan komponen terendah adalah gigi yang ditumpat/ditambal rata-rata perorang 0,5 gigi., dilaporkan juga mengenai tingkat keparahan karies giginya. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya DMF-T di Provinsi Bangka Belitung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya manusia (SDM) dokter gigi masih sangat kurang, kualitas dokter gigi perlu ditingkatkan. Tenaga promosi khusus kesehatan gigi tidak ada, kit penyuluhan pada umumnya tidak tersedia. Instrumen dan bahan/obat untuk penumpatan/ penambalan gigi sangat terbatas, hal ini dapat berdampak pada pelayanan yang diberikan cendrung pada pencabutan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Provinsi Bangka Belitung lebih mengutamakan pelayanan kuratif (pencabutan), karena kurang atau tidak tersedianya bahan dan alat menumpat/menambal gigi. Katakunci : faktor-faktor yang berpengaruh, status kesehatan gigi (DMF-T), Provinsi Bangka Belitun
Isolation rate of influenza specimens from influenza surveillance at several public health centers and hospitals in Indonesia in 2013
Latar belakang: Surveilans influenza di Puskesmas dan Rumah Sakit diperlukan untuk memantau aktivitas virus influenza dan tingkat keparahan penyakit di masyarakat. Data surveilans kemudian dilaporkan ke WHO, untuk merumuskan rekomendasi dalam menentukan jenis kandidat vaksin influenza tahun berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi virus influenza yang dikumpulkan dari berbagai kepulauan Indonesia, baik dari kasus ringan maupun berat. Metode: Studi ini merupakan bagian dari surveilans Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) yang rutin dilakukan oleh Badan Litbangkes. Dalam sistem ILI ada 26 sentinel Puskesmas tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Sementara surveilans SARI dilakukan di 6 rumah sakit pada 6 pulau besar di Indonesia. Isolasi spesimen influenza dilakukan dengan menggunakan sel Madin Darby Canine Kidney (MDCK) menurut pedoman WHO. Hasil: Rata-rata jumlah spesimen Polymerase Chain Reaction (PCR) positif dari masing-masing daerah adalah 24,12 untuk ILI dan 8,33 untuk SARI. Sedangkan rata-rata jumlah spesimen yang dapat diisolasi dari masing-masing daerah untuk ILI adalah 1,77 dan 0,83 untuk spesimen SARI. Spesimen tersebut terdiri dari influenza B (Brisbane, Florida, dan Wisconsin), H1N1pdm09, dan H3N2. Tingkat isolasi yang diperoleh pada penelitian ini (7,3% untuk ILI dan 10% untuk SARI) sebanding dengan lamanya waktu perjalanan yang juga mempengaruhi suhu spesimen. Kesimpulan: Persentase spesimen influenza yang dapat diisolasi adalah 7,3% untuk ILI dan 10% untuk SARI. Mayoritas virus influenza yang beredar di Indonesia yang ditemukan dalam penelitian ini sesuai dengan rekomendasi WHO untuk komposisi vaksin. (Health Science Journal of Indonesia 2016;7(2):75-79) Kata kunci: Isolasi influenza, ILI, SARI Abstract Background: Influenza surveillance in the public health centers (PHC) and hospitals is conducted to monitor influenza activity and severity in the community. The data reported to the WHO, to generate recommendations for the next vaccine candidate. This study aimed to isolate the influenza virus that spread in the Indonesia archipelago, from mild and severe cases. Methods: The study is part of ILI and SARI surveillance which routinely conducted by the NIHRD. In ILI system there were 26 PHC sentinels spread in various provinces in Indonesia. While SARI surveillance conducted in 6 hospitals representing 6 major islands in Indonesia. We isolated the influenza specimens in the Madin Darby Canine Kidney (MDCK) cells according to WHO guideline. Results: The average number of Polymerase Chain Reaction (PCR) positive specimens from each area was 24.12 for ILI and 8.33 for SARI. While the average number of specimens that can be isolated from each region for ILI was 1.77 and 0.83 for SARI specimens. It consists of flu B (Brisbane, Florida, and Wisconsin), H1N1pdm09, and H3N2. The isolation rate in this study (7.3% for ILI and 10% for SARI) is correspond to the transportation length that also affecting the specimens temperature. Conclusion: The percentage of influenza specimens that can be isolated for ILI was 7.3% and 10% for SARI. The majority of influenza viruses circulating in Indonesia that found in this study are in accordance with WHO recommendation for vaccine composition. (Health Science Journal of Indonesia 2016;7(2):75-79) Keywords: Influenza isolation, ILI, SARI
The effects of combined medicinal plants infusion on blood glucose, cholesterol, and triglyceride levels in hyperglycemic Sprague-Dawley rats
AbstrakLatar belakang: Kadar glukosa, kolesterol dan trigliserid darah yang tinggi dapat memicu terjadinya berbagaipenyakit sehingga diperlukan cara untuk mengontrol ketiga parameter tersebut, salah satunya dengan obattradisional. Penelitian dilakukan untuk membuktikan efek penurunan kadar glukosa, kolesterol dan trigliseriddarah tikus Sprague-Dawley (SD) dari infusa kombinasi sambiloto, salam, kayu manis, dan temulawak.Metode: Penelitian terhadap 3 kelompok uji (kontrol, perlakuan, dan metformin sebagai kontrol positif)dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2014 di laboratorium hewan coba B2P2TOOT Jawa Tengah CentralJava. Hewan uji adalah tikus galur SD usia?. Induksi hiperglikemik tikus uji dengan pemberian highfructose diet (HFD), yaitu campuran fruktosa (36%), kuning telur (20%), dan pellet standar (44%) dalam0,36 g /200 g Berat Badan (BB) selama 70 hari. Setelah diperoleh tikus hiperglikemik pada hari ke-70, dilanjutkan pemberian infusa formula selama 7 hari. Ketiga parameter uji meliputi kadar glukosa,trigliserida, dan kolesterol total tikus uji hari ke-77 dibandingkan dengan hari ke-70. Pemeriksaanhistopatologi organ pankreas dilakukan pada di akhir percobaan.Hasil: Pemberian HFD selama 70 hari menyebabkan peningkatan signifikan kadar glukosa (p=0,0001),kolesterol (p=0,001) dan trigliserid total (p=0,006) darah. Peningkatan berat badan tikus uji dibandingkantikus kelompok kontrol tidak berbeda bermakna (p=0,792). Pemberian infusa ramuan sambiloto, salam,kayu manis, dan temulawak dosis 491,4 mg/200 g BB menurunkan kadar glukosa, kolesterol, dantrigliserida darah tikus uji berurutan sebesar 37,09% 19,51%, dan 79,29%.Kesimpulan: Pemberian infusa ramuan sambiloto, salam, kayu manis, dan temulawak dosis 491,4 mg/200g BB selama 7 hari secara signifikan menurunkan kadar glokosa darah, kolesterol. dan trigliserida tikushiperglikemik. (Health Science Journal of Indonesia 2015;6:99-104)Kata kunci: hiperglikemik, tikus, glukosa, sambilot
Validity and reliability of Morisky Medication Adherence Scale 8 Bahasa version to measure statin adherence among military pilots
Latar belakang: Hiperkolesterolemia merupakan penyebab penyakit kardiovaskular yang dapat menyebabkan inkapasitasi dalam penerbangan. Salah satu cara untuk mengontrol hiperkolesterolemia adalah dengan minum obat antikolesterol golongan statin, namun belum ada instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur kepatuhan minum obat statin di kalangan penerbang militer di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah melakukan uji validitas dan reliabilitas kuesioner Morisky Medication Adherence Scale 8 (MMAS-8) versi bahasa Indonesia untuk mengukur kepatuhan konsumsi statin pada penerbang militer di Indonesia. Metode: MMAS 8 diterjemahkan secara sistematik ke dalam bahasa Indonesia. Uji validitas dan reliabilitas MMAS 8 pada 40 penerbang militer di Skadron Udara Halim Perdanakusuma dilaksanakan pada tanggal 6 April-15 Mei 2016. Validitas diuji dengan validitas kriteria. Reliabilitas diuji dengan konsistensi internal dan uji ulang (test-retest). Hasil: Sebagian besar penerbang (52,5%) memiliki kadar kolesterol tinggi (>200 mg/dL) dan tingkat kepatuhan minum statin yang rendah (74,4%). Didapatkan korelasi negatif lemah dan tidak ditemukan hubungan bermakna antara antara kadar kolesterol dan tingkat kepatuhan minum statin (koefisien Spearman -0,199; p=0,218). Konsistensi internal moderat (Cronbach’s α=0,759) dengan reliabilitas tes ulang yang baik (koefisien Spearman=0,860). Kesimpulan: Hasil uji validitas dan reliabilitas MMAS 8 versi bahasa Indonesia pada penerbang militer. (Health Science Journal of Indonesia 2016;7(2):129-133) Kata kunci: statin; kepatuhan; validitas; reliabilitas; penerbang; militer; Indonesia Abstract Background: Hypercholesterolemia is the cause of cardiovascular disease which lead to inflight incapacitation. One of the way to control hypercholesterolemia is using statin medication, however there has not been an instrument to measure statin adherence in military pilots in Indonesia. The aim of this study was to analyze the validity and reliability of MMAS 8 Bahasa version to measure statin adherence among military pilot in Indonesia. Methods: MMAS 8 sistematically translated into Bahasa. Validity and reliability test among 40 military pilots in Halim Perdanakusuma Air Force Base was held on April 06th - May 15th 2016. Validity was confirmed using crirerion-related validity. Reliability was tested for internal consistency and test-retest reliability. Results: Most of the pilots (52.5%) had high cholesterol level and 74.4% had low statin adherence. Negative weak correlation and no significant association between cholesterol and statin adherence level (Spearman coefficient -.199, p=0.218) was found. Moderate internal consistency and excellent test-retest reliability were found (Cronbach’s α=0.759; Spearman correlation=0.860). Conclusion: Validity and reliability of MMAS 8 Bahasa version has not been able to be used to measure statin adherence among military pilots in Indonesia. (Health Science Journal of Indonesia 2016;7(2):129-133) Keywords: statin; adherence; validity; reliability; pilots; military; Indonesia
Predominant clinical symptom of influenza A in pre-school children (3-6 years old)
Latar Belakang: Sebagian besar kasus Influenza-Like Illness (ILI) dari surveilans ILI yang dilaksanakan pada tahun 2011 adalah anak-anak yang terinfeksi oleh Influenza A. Identifikasi terhadap gejala khas Influenza pada anak dapat menghindarkan anak dari terapi antibiotik yang tidak perlu. Gejala klinis ILI pada anak-anak telah dipelajari secara luas, namun gejala khas ILI pada anak usia 3-6 tahun belum diidentifikasi. Tujuan dari studi ini adalah untuk menentukan gejala klinis dominan Influenza A pada anak prasekolah (3-6 tahun) dengan ILI. Metode: Kasus berusia 3-6 tahun yang sesuai definisi kasus ILI dilibatkan dalam studi ini. Data yang digunakan meliputi data demografi (jenis kelamin), gejala klinis (demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan dan nyeri otot) dan hasil PCR yang diperoleh dari surveilans ILI. Untuk analisis statistik digunakan aplikasi STATA 9. Odd Ratio (OR) ditentukan menggunakan metode maximum likelihood. Gejala klinis dianggap dominan ketika uji bivariat p-value <0,25 dan faktor dominan ini akan dipilih sebagai calon pemodelan multivariat bersama dengan faktor dominan lainnya. Hasil: Tidak ada perbedaan yang signifikan influenza A pada anak laki-laki dan perempuan. Namun laki-laki memiliki risiko yang lebih besar. Lebih dari 90% anak-anak dengan influenza A mengalami batuk dan pilek namun secara statistik tidak signifikan. Prediktor multivariat terbaik dari influenza A infeksi pada anak prasekolah (3-6 tahun) adalah demam dan nyeri otot dengan p = 0,001 dan p = 0,034. Kesimpulan: Gejala dominan influenza A pada anak prasekolah (3-6 tahun) dengan ILI adalah demam dan nyeri otot. Studi lanjut tentang gejala klinis influenza A pada anak diperlukan untuk mempertajam diagnosis klinis influenza pada anak sehingga terapi antibiotik yang tidak perlu dapat dihindari. (Health Science Journal of Indonesia 2016;7(2):80-83) Kata kunci: gejala klinis, Influenza A, anak-anak Abstract Background: Most cases visiting public health centers with Influenza-like Illness (ILI) in 2011 were children infected by Influenza A. Defined clinical symptom in Influenza infection can avoid unnecessary antibiotic therapy in children. Clinical features of ILI associated with influenza infection in children have been studied widely. Unfortunately no typical symptom for preschool children has been identified. The study aim to determine the predominant clinical symptom of Influenza A virus infection among preschool age (3-6 years old) with ILI. Method: Cases age 3-6 years old who met the ILI case definition were included. For the analyses, demographic data (sex), clinical symptom (fever, cough, runny nose, sore throat and muscle aches) and PCR result obtained from ILI surveillance. Statistical analyses performed using STATA 9 software. Odd Ratio (OR) value were determined using the maximum likelihood method. Clinical symptoms considered dominant when the bivariate test p-value <0.25 and the next dominant factor will be selected as candidates for multivariate modeling along with other dominant factors. Result: There was no significant difference between male and female cases with influenza A. However, male had greater risk. Most children with influenza A reported cough (p=0.346) and runny nose (p=0.798). The best multivariate predictor of influenza A infection in preschool children (3-6 years old) were fever with p=0,001 and muscle aches with p=0,034. Conclusion: The predominant symptoms of influenza A infection among preschool children (3 - 6 years) with ILI were fever and muscle aches. Accurate identification of influenza in children is becoming very important to avoid unnecessary antibiotic therapy in children. (Health Science Journal of Indonesia 2016;7(2):80-83) Key words: Clinical symptom, Influenza A, children
ANALISA KESIAPAN INTEGRASI JAMINAN KESEHATAN DAERAH (JAMKESDA)
ABSTRACTThe implementation Of National Social Health Insurance by BPJS-Health that has been started on January,I, 2014 gives an impact to integrating local health insurance into national scheme.This study aims to describe implementation of local social health insurance as a basic in formulating policy model whichallows integration of local health insurance, particularly in the area of management, benefit packages, and government payed member in the frame of health decentralization policy. Study design is embeddedmulticases, using case study interpretatif method. Primary and secondary data were collected by explorativeapproach. Study area includes implementation of social local health insurance at 33 provinces, conducted in2013-2014. Results of this study show a gap in understanding and capacity of local authorities in managinglocal health insurance; various characteristics of local social health insurance in term of local monetarycapacity, benefit packages, management, and government payed member. This study recommends toaccomodate public health effort financing into benefit packages scheme, perception equalizing betweennational and local policy maker in understanding policy steps, and giving more flexibility forprovince/district/municipal in local social health insurance integration policy.Keywords: Integration, local social health insurance, national social health insurance ABSTRAKPemberlakuan Jaminan Kesehatan Nasional terhitung I Januari 2014 dengan pengelolaan terpusat melaluiBPJS Kesehatan berdampak pada integrasinya Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) ke dalam JaminanKesehatan Nasional. Penelitian bertujuan memperoleh gambaran implementasi jaminan kesehatan daerahsebagai dasar bagi formulasi model kebijakan yang mampu mengintegrasikan sistem Jamkesda.khususnyadalam manajemen pengelolaan, paket manfaat maupun penerima bantuan iuran dengan tetap berlandaskanpada kerangka desentralisasi. Desain penelitian merupakan multikasus terjalin, menggunakan metode casestudy interpretatif melalui pendekatan eksploratif dengan pengumpulan data primer dan sekunder. Area penelitian meliputi pelaksanaan Jamkesda di 33 provinsi, dilakukan tahun 2013-2014. Hasil penelitianmenunjukkan adanya kesenjangan dalam pemahaman dan kemampuan daerah dalam mengelola Jamkesda masing-masing provinsi; beragamnya karakteristik jaminan kesehatan daerah dari sisi kemampuan fiskaldaerah, paket manfaat, manajemen pengelolaan, kepesertaan penerima bantuan iuran. Disarankan untuk pengutamaan pembiayaan upaya kesehatan masyarakat dalam paket manfaat, penyamaan persepsi danpemahaman pelaku kebijakan dalam memahami langkah kebijakan, serta memberikan ruang fleksibilitasyang lebih besar bagi daerah dalam kebijakan integrasi jamkesda. Kata kunci: Integrasi, Jamkesda, jaminan kesehatan nasiona
DUKUNGAN TENAGA KESEHATAN TERHADAP PELAKSANAAN IMD: STUDI KASUS DI RS SWASTA X DAN RSUD Y DI JAKARTA
Abstract Background: Early Initiation of Breastfeeding (IMD) aims to encourage the provision of colostrum to the newborn, as well as to prevent neonatal deaths. The role of health workers are needed to support the successful implementation of the IMD. Objective: This study aims to identify the role of health professionals and hospital on the implementation of the IMD shortly after childbirth. Methods: This is a qualitative study on 30 mothers who had delivery, both with pervaginam or cesarean section methods in two hospitals in Jakarta, private and government hospital. Data were collected through in-depth interview. Triangulation of data was obtained through in-depth interviews to informants of health workers, including midwives, lactation counselors and obstetricians. Results: Health workers’ support was reflected from the efforts of health workers to inform the IMD practice and benefits, as well as accompany the mother whiled conducting IMD. Health personnels in private hospital were tend to be more supportive than those who work in public hospital. This was due to their high commitment and positive attitude supported by clear regulations regarding the practice of IMD. Conclusion: The role of health professionals in supporting the implementation of IMD needs to be improved not only through improving the technical skills of IMD, but also building a positive attitude, so health professionals become more serious in running the IMD program.Keywords: Early Initiation of Breastfeeding, Health Workers, Support Abstrak Latar Belakang: Program Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan upaya untuk mendorong pemberian kolostrum pada bayi baru lahir, sekaligus mencegah kematian neonatal. Peran tenaga kesehatan tentunya dibutuhkan guna mendukung keberhasilan pelaksanaan IMD. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran dukungan tenaga kesehatan dan pegawasan Rumah Sakit terhadap pelaksanaan IMD sesaat setelah proses persalinan. Metode: Penelitian ini adalah penelitian kualitatif pada 30 informan ibu yang baru melahirkan, baik dengan metode pervaginam maupun seksio sesarea di dua RS di Jakarta, yaitu RS Swasta X dan RSUD Y. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam. Triangulasi data diperoleh melalui hasil wawancara mendalam terhadap informan tenaga kesehatan, di antaranya bidan, konselor laktasi dan dokter spesialis kebidanan. Hasil: Dukungan tenaga kesehatan terlihat dari upaya tenaga kesehatan untuk menginformasikan tata laksana dan manfaat IMD, serta mendampingi ibu saat proses IMD dilakukan. Tenaga kesehatan di RS Swasta X cenderung lebih mendukung praktik IMD dibandingkan mereka yang bekerja di RSUD Y. Hal ini disebabkan oleh adanya komitmen tinggi dan sikap positif tenaga kesehatan ditunjang dengan peraturan yang jelas mengenai praktik IMD. Kesimpulan: Peran tenaga kesehatan dalam mendukung pelaksanaan IMD perlu ditingkatkan tidak hanya melalui peningkatan keterampilan teknis tentang IMD,melainkan juga denganmembangun sikap positif agar tenaga kesehatan menjadi lebih serius dalam menjalankan program IMD.Kata Kunci: Inisiasi Menyusu Dini, Tenaga Kesehatan, Dukunga