e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    GAMBARAN PENGETAHUAN PETUGAS KESEHATAN MENGENAI DESA SIAGA DI LIMA PROPINSI

    No full text
    In the year 2006 has done research into the mapping of potential rural villages in five provincesstandby. Standby Village is a rural village whose inhabitants have the readiness resources and the abilityand willingness to prevent and resolve health problems independently in order to create a healthy village.Depiction about knowledge of health workers about the information, definitions and characteristics ofprepared villages in five provinces. Source data used are primary data using a questionnaire distributed tohealth workers who became respondents of research using comparative analysis. The results showed,knowledge of health workers is known that most have heard about the alert village. But there are many(33.3% - 81.2%) health workers who do not understand very well about the definition of the concept ofstandby village. And (62.5% -100%) did not know about it right on the standby village characteristics.Therefore, knowledge and motivation of health workers on standby village still needs to be improved, sothat they can be a facilitator in addressing problems faced by the community.Keywords: Knowledge Village standby, Health Office

    HUBUNGAN KESINAMBUNGAN PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN MATERNAL DENGAN PEMBERIAN IMUNISASI LENGKAP DI INDONESIA

    No full text
    ABSTRAK Background: Morbidity and mortality due to infections in children can be reduced by immunization program. Some studies indicate that sustainability utilization of maternal health care will improvematernal health and the quality of child care including immunization.Objective: The aim of the analysis is to determine the relationship between sustainability utilization ofmaternal health services with complete immunization of children aged 12-23 months in Indonesia.Methods: Secondary data analysis of Baseline Health Research 2013. The samples in this analysis werechildren aged 12 – 23 months of mothers aged 10 – 54 years who has history of immunization recorded onKMS / KIA / infant health records. The main independent variable was the sustainability utilization ofmaternal health services. The dependent variable is the immunization status. Odds ratios and 95%Confidence were calculated by logistic regression.Result: Pregnant women who were not sustainably utilize maternal health services were 1.58 times morelikely to not provide complete immunization to their children compare to women who continuously utilizedmaternal health services adjusted by economic status and number of children in family.Conclusion: The sustainability utilization of maternal health care significantly related with completeimmunization of children aged 12 – 23 months in Indonesia. Latar Belakang: Upaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena infeksi pada anak dapatdilakukan dengan program imunisasi. Beberapa studi menunjukkan bahwa kesinambungan pemanfaatanpelayanan kesehatan maternal akan meningkatkan derajat kesehatan ibu serta kualitas perawatan anaktermasuk didalamnya imunisasi.Tujuan: Analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesinambungan pemanfaatan pelayanankesehatan maternal dengan pemberian imunisasi lengkap anak umur 12 – 23 bulan di Indonesia.Metodologi: Data yang digunakan di dalam analisis ini ialah data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013.Sampel di dalam analisis ini ialah anak umur 12 – 23 bulan dari ibu umur 10 – 54 tahun yang memilikiriwayat imunisasi yang tercatat pada buku KMS/KIA/catatan kesehatan bayi. Variabel bebas utama ialahkesinambungan pemanfaatan pelayanan kesehatan maternal. Variabel terikat ialah status imunisasi dasarlengkap. Analisis regresi logistik dilakukan dengan perhitungan odds ratio dan 95% Confidence Interval.Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa ibu hamil yang tidak berkesinambungan memanfaatkanpelayanan kesehatan maternal, memiliki kecenderungan 1,58 kali untuk tidak memberikan imunisasilengkap kepada anaknya dibandingkan dengan ibu hamil yang berkesinambungan memanfaatkanpelayanan kesehatan maternal.Kesimpulan: Kesinambungan pemanfaatan pelayanan kesehatan maternal berhubungan signifikan denganpemberian imunisasi lengkap anak umur 12 – 23 bulan di Indonesia. 

    Front Matter Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol. 6 No. 2 Agustus 2015

    No full text

    PENGGUNAAN KONTRASEPSI PADA WANITA PASCA MELAHIRKAN DAN PASCA KEGUGURAN, SDKI 2012

    No full text
    Latar Belakang: Usaha pemerintah untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk adalah penurunan pertumbuhan penduduk sebesar 2,32 persen per tahun selama periode 1970-1980 menjadi 1,49 persen per tahun pada periode 2000-2010. Dengan  menekan angka kelahiran akan menunjukkan penurunan yang konsisten. Namun pada dasawarsa terakhir penurunan angka pertumbuhan penduduk maupun angka kelahiran melambat. Tujuan: Analisis ini untuk mengetahui penggunaan kontrasepsi pasca persalinan dan pasca keguguran. Metode : Analisis menggunakan data kalender dalam modul Wanita Usia Subur SDKI 2012. Sampel adalah wanita usia 15-49 tahun yang mengalami kehamilan dalam 5 tahun sebelum survey, sebanyak 18.594 kehamilan. Hasil : Ada pemakaian kontrasepsi PP dan PK pada tahun 2012 dibandingkan dengan 2007. Sebanyak 98,43 persen dari seluruh kehamilan adalah lahir hidup, 4,82 persen kehamilan mengalami keguguran, 0,02 persen kehamilan yang terjadi digugurkan, 0,42% kehamilan ternyata lahir mati dan sebanyak 4,31 persen sedang hamil saat wawancara. Sebanyak 76,8 persen menggunakan kontrasepsi dan sisanya sebanyak 23,2 persen tidak menggunakan pasca kehamilannya. Yang menggunakan kontrasepsi 7,3 persen menggunakan metoda jangka panjang (MKJP) dan (69,5 persen) menggunakan non MKJP. Sumber pelayanan KB PP dan PK terbanyak dari bidan praktek swasta (38,4 persen) dan bidan di desa (20,4 persen). Kesimpulan: Penggunaan KB PP dan PK untuk MKJP persentasenya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan non MKJP. Penggunaan MKJP makin meningkat dengan meningkatnya umur ibu, pendidikan ibu dan pada ibu yang tinggal di perkotaan, menurut tingkat kesejahteraan tidak menunjukkan perbedaan bermakna (p > 0,05)

    FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONSUMSI TABLET BESI PADA IBU HAMIL DI KELURAHAN KEBON KELAPA, BOGOR

    No full text
    Latar Belakang: Anemia pada ibu hamil masih menjadi permasalahan global terutama di negara berkembang dan separuh lebih kasus anemia disebabkan karena defisiensi zat besi (Fe). Kementerian Kesehatan RI membuat program suplementasi besi untuk ibu hamil pada saat pemeriksaan rutin ibu hamil (antenatal care) sebanyak minimal 90 tablet selama kehamilan. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan terhadap konsumsi tablet besi pada ibu hamil di Kelurahan Kebon Kelapa, Bogor. Penelitian  deskriptif ini menggunakan metode potong lintang (cross sectional). Sebanyak 122 responden dari Studi Kohort Tumbuh Kembang Anak dianalisis menggunakan metode regresi logistik untuk melihat hubungan setiap faktor terhadap konsumsi tablet besi. Hasil: Keluhan meminum tablet besi memberikan hubungan signifikan terhadap konsumsi tablet besi pada ibu hamil (nilai p:0,002). Ibu tanpa keluhan mempunyai peluang 3,4 kali lebih besar untuk mengkonsumsi tablet besi sesuai anjuran (minimal 90 tablet selama kehamilan) dibandingkan ibu dengan keluhan minum tablet besi. Kesimpulan: Keluhan meminum tablet besi memiliki hubungan yang bermakna dengan konsumsi tablet besi pada ibu hamil. Hal ini dapat dijadikan rekomendasi kepada pemerintah untuk mengkaji komposisi dan dosis minum tablet besi yang ada

    ANALISIS DETERMINAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH (BBLR) PADA ANAK USIA 0-59 BULAN DI NUSA TENGGARA TIMUR, KALIMANTAN TENGAH DAN PAPUA

    No full text
    AbstractLow birth weight (LBW) incident in children is a public health indicator because it is related tomorbidity rate, mortality rate and malnutrition problems in the future. Therefore, prevention should be donesince the baby in fetus, infact in preconception period. The aim of the study is to analyse the determinantfactors of low birth weight of children under five years in three province with high prevalence of LBW,which are NTT, central Kalimantan and Papua, based on Riskesdas 2010. This study used the secondarydata from Riskesdas 2010. Respondent are mother with LBW children in 0-59 months age. The analysisusing descriptive analysis, chi square, and multiple regression logistic. The results show that 9,2% ofmother having LBW children. The main determinant factors of LBW are gestational age with OR 7,01(2,68-18,35), the frequency of antenatal care with OR 3,83 (2,24-6,56), maternal smoking with OR 3,29(1,45-7,488), and mother's height with OR 2,55 (1,37-4,75).Keywords: low birth weight, gestational age, antenatal care, maternal smoking and mother's height. AbstrakKejadian berat bayi lahir rendah (BBLR) merupakan indikator kesehatan masyarakat karena erathubungannya dengan angka kematian, kesakitan dan kejadian kurang gizi dikemudian hari. Oleh karena itu,pencegahan BBLR perlu dilakukan sejak janin masih dalam kandungan bahkan saat pra konsepsi atausebelum kehamilan terjadi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor determinan berat bayi lahir(BBLR) pada anak usia 0-59 bulan di tiga propinsi dengan prevalensi BBLR tinggi berdasarkan Riskesdas2010 (Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah dan Papua). Penelitian ini menggunakan data Riskesdas2010. Responden adalah ibu yang memiliki anak usia 0-59 bulan yang memiliki data berat lahir dan dataindependen lainnya lengkap. Analisis data dilakukan secara deskriptif, chi square dan regresi logistikganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 9,2 % ibu memiliki anak yang ketika lahir berstatus BBLR.Faktor determinan utama berat bayi lahir rendah adalah usia kandungan ibu saat persalinan dengan nilaiOR 7,01 (2,68-18,35), jumlah pemeriksaan kehamilan (antenatal care) dengan nilai OR 3,83 (2,24-6,56),kebiasaan merokok ibu dengan nilai OR 3,29 (1,45-7,488), dan tinggi badan ibu dengan nilai OR 2,55(1,37-4,75).Kata kunci: BBLR, determinan BBLR, 3 propinsi dengan prevalensi BBLR tingg

    ANALISIS IMPLEMENTASI STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KESEHATAN KABUPATEN/KOTA

    No full text
    Ministry of Health has set a Health Minimum Service Standards (HMSS) for District/City by Minister of Health Decree No. 741/Menkes/Per/VII/2008, which consist of 18 indicators. After three years of implementation, an analysis of the HMSS implementation has conducted. Using a cross-sectional study design, site selection is done purposively to represent Eastern, Central, and Western part of Indonesia. There were nine districts/cities of 9 provinces selected. The analysis showed that problems in the implementation of HMSS are: some indicators do not meet the SMART criteria, inconsistency between the title of indicators, operational definitions and formulas, wide gap in the coverage both within the district at different times and among districts/cities. Differences also occur at the operational level, including dissemination of HMSS, advocacy, monitoring and evaluation. It is recommended that the Ministry of Health should provide sufficient training, proper socialization of HMSS, set up a special unit to monitor and facilitate the implementation of HMSS. The existing MSS should be revised, no longer focusing on the achievement of the program but rather based on a form of health care provided. In addition, revision is necessary to gain consistency between definitions, operational definitions and formulas of HMSS indicators

    PERBEDAAN DURASI TIDUR MALAM PADA ORANG DEWASA OBESITAS DAN NON-OBESITAS: META-ANALISIS STUDI CROSS-SECTIONAL 2005-2012

    No full text
    Tidur berperan dalam mekanisme pengaturan energi. Berbagai penelitian terkini menunjukkan bahwa durasi tidur yang pendek berhubungan dengan kejadian obesitas pada orang dewasa. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan durasi tidur pada orang dewasa yang mengalami obesitas dengan orang dewasa yang tidak obesitas. Penelitian yang diikutsertakan dalam meta-analisis merupakan penelitian yang dipublikasikan pada rentang tahun 2005 hingga 2012. Identifikasi penelitian secara sistematis dilakukan menggunakan PubMed dan e-resource PNRI. Identifikasi penelitian secara manual dilakukan berdasarkan daftar referensi pada penelitian yang diidentifikasi secara sistematis. Proses identifikasi menghasilkan 62 penelitian potensial untuk dianalisis. Dari jumlah tersebut, 9 penelitian memenuhi kriteria inklusi menjadi bahan untuk dilakukan meta-analisis. Ke-sembilan penelitian tersebut mencakup 78.119 partisipan. Durasi tidur malam pada kelompok obesitas adalah kurang dari 7 jam, sedangkan durasi tidur kelompok non obesitas adalah 7-9 jam. Meta-analisis menghasilkan OR gabungan 1,42 (95% CI: 1,25-1,61). Analisis dengan membedakan dua kelompok durasi tidur, yaitu ≤ 5 jam dan 5-7 jam OR menghasilkan OR gabungan 1,73 (95% CI: 1,47-2,03) pada durasi tidur kurang dari lima jam dan 1,21 (95% CI: 1,05-1,39) pada kelompok lainnya. Disimpulkan bahwa orang dewasa dengan durasi tidur yang lebih singkat memiliki resiko lebih besar mengalami obesitas

    The Contributing Factors to Injury’s Length of Stay in Hospital Among Productive Age Workers in Indonesia

    No full text
    Background: Injury is one of the factors that contribute to health problems and disabilities. In Indonesia, the data oninjury and its impact are still limited and only focus on formal workers. Methods: This research aimed to describe thecharacteristics of injury by occupation and to identify factors contributed to severity (length of stay in hospital) amongproductive age workers in Indonesia, using the data of National Health Research (Riskesdas) in 2013. Results: We analyzed30.455 data using complex samples at 95% confi dence level. People worked as farmer, fi sherman, labor, entrepreneur,and others had more injuries in 12 months than employee (p = 0.0001). Non traffi c accident as cause of injury was alsohigher in those group of occupations than employee (p = 0.0001). The contributing factors of length of stay in hospital werethe injury with concussion (OR 23.1; 95% CI 9.2–58.1 p = 0.0001), fractures (OR 6.3; 95%CI 4.6–8.6 p = 0.0001), eyeinjury (OR 3.0; 95% CI 1.2–7.3 p = 0.0001), followed by road traffi c accident (OR 2.1; 95% CI 1.5–2.9 p = 0.0001), andinjury occurred in the business/industry/construction/farm area (OR 1.7; 95% CI 1.2–2.4 p = 0.006). Conclusion: Factorsthat contributed to the length of stay in hospital of the injury were the type of injury, cause of injury, and the area of injury.Recommendation: Efforts to overcome the injury need to be improved, especially for traffi c accidents and injury in thebusiness/industry/construction/farm area

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇