e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
The effect of workload and other risk factors of metabolic syndrome among short-haul commercial pilots in Indonesia
AbstrakLatar belakang: Sindroma metabolik (MS) dapat menyebabkan kecacatan di antara pilot di Indonesia.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko MS antara pilot komersialjarak pendek di Indonesia.Metode: Penelitian potong lintang dengan sampling purposif yang dilakukan di antara pilot komersial yangmelakukan uji medik di Balai Kesehatan Penerbangan Sipil, Jakarta tanggal 27 Juli-30 Agustus 2014. Sindromametabolik dinilai menurutkriterian National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III. Faktorrisiko diperoleh dengan menggunakan kuesioner self-reporting anonim. Data laboratorium diperoleh daricatatan medis. Regresi Cox digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang dominan dari MS.Hasil: Selama pengumpulan data, 2135 pilot melakukan uji medik. Jumlah pilot Asia laki-laki memenuhi kriteriainklusi adalah 864 pilot. Prevalensi MS adalah 18,28%. Dibandingkan dengan kelompok 20-35 tahun, yangberusia berusia 56-65 tahun memiliki risiko 88% lebih tinggi untuk MS [risiko relatif sesuaian (RRa) = 1,88;P = 0,019]. Jika ditinjau dari jumlah sektor dalam 24 jam terakhir, dibandingkan dengan 0-3 sektor, subyekyang memiliki 6-7 sektor mempunyai risiko 66% lebih tinggi untuk MS (RRa = 1,66; P = 0,033), sedangkanyang memiliki 8 atau lebih sektor dalam 24 jam memiliki 82% lebih berisiko untuk MS (RRa = 1,82; P = 0,072).Kesimpulan: Pilot berusia tahun-56-65, yang memiliki 6 atau lebih sektor dalam 24 jam terakhir, memilikirisiko lebih tinggi untuk sindroma metabolik antara jarak pendek pilot komersial di Indonesia. (HealthScience Journal of Indonesia 2015;6:81-6)Kata kunci: Sindroma metabolik, jumlah sektor, pilot, Indonesia Abstract Background: Metabolic syndrome (MS) could cause sudden incapacitation among pilots in Indonesia.The aim of this study was to identify risk factors of MS among short-haul commercial pilots in Indonesia.Methods: A cross-sectional study with purposive sampling was conducted among commercial pilotstaking medical examination at the Civil Aviation Medical Center, Jakarta from July 27-August 30th,2014. Metabolic syndrome was assessed according to the National Cholesterol Education Program AdultTreatment panel III criteria and criteria. Risk factors were collected using anonymous self-reportingquestionnaire. The laboratory data were extracted from medical records. Cox regression was used toidentify dominant risk factors of MS.Results: During data collection, 2135 pilots taking medical examination, Total male Asian pilots metthe inclusion criteria was 864 pilots. Prevalence of MS was 18.28%. Compared to 20-35 year-old group,subjects aged 56-65 years-old had 88% higher risk for MS [adjusted relative risk (RRa) = 1.88; P = 0.019].In term of number of sectors in the last 24 hours, compared to 0-3 sectors, subjects who had 6-7 sectors inthe last 24 hours had 66% higher risk for MS (RRa = 1.66; P = 0.033), while subjects who had 8 or moresectors in 24 hours had 82% more risk for MS (RRa = 1.82; P = 0.072).Conclusions: The pilot aged 56-65 years-old, who had 6 or more sectors in the last 24 hours, had higherrisk for metabolic syndrome among short-haul commercial pilots in Indonesia. (Health Science Journalof Indonesia 2015;6:81-6)Keyword: metabolic syndrome, number of sectors, pilots, Indonesi
The number of sectors and other risk factors related to fatigue among shorthaul commercial pilots in Indonesia
AbstrakLatar belakang: Kelelahan penerbang sipil, termasuk pada penerbangan jarak dekat, dapat mempengaruhi fungsikognitif penerbang sehingga membahayakan keselamatan penerbangan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasifaktor-faktor yang mempengaruhi kelelahan penerbang sipil pada penerbangan jarak dekat di Indonesia.Metode: Desain penelitian potong lintang dengan purposive sampling dilakukan di antara penerbang jarak dekatdengan rating Boeing 737 series yang melaksanakan pengujian kesehatan di Balai Kesehatan Penerbanganperiode 5-26 Mei, 2014. Kelelahan diukur dengan Self-Reporting Questionnaire, Fatigue Severity Scale (FSS).Data dikumpulkan dengan pengisian kuesioner oleh subyek yang meliputi demografi, pekerjaan, kehilanganwaktu tidur (Epworth Sleepiness Scale - ESS), faktor personal, dukungan manajemen, dan FSS. Analisis regresilinear dipakai untuk menganalisis faktor-faktor dominan berkaitan kelelahan.Hasil: Di antara 785 penerbang yang melaksanakan pengujian kesehatan, 382 bersedia berpartisipasi, dan239 penerbang yang memenuhi kriteria. Rata-rata skala kelelahan adalah 4,66 (standar deviasi 1,202).Faktor-faktor dominan yang mempertinggi skala kelelahan adalah jumlah sektor 24 jam terakhir, jam terbangpenugasan di luar jadwal, dan kehilangan waktu tidur. Setiap penambahan 1 sektor dalam 24 jam terakhirmeningkatkan 0,371 skala kelelahan [koefisien regresi (β) = 0,371; P = 0,000]. Selanjutnya setiap penambahan1 jam terbang penugasan di luar jadwal mempertinggi 0,033 skala kelelahan (β = 0,033; P = 0,000). Sedangkan setiap penambahan 1 nilai ESS mempertinggi 0,043 skala kelelahan (β = 0,043; P = 0,008).Kesimpulan: Penambahan jumlah sektor 24 jam terakhir, kehilangan waktu tidur, dan penambahanjam terbang penugasan di luar jadwal mempertinggi risiko kelelahan di antara penerbang sipil padapenerbangan jarak dekat di Indonesia. (Health Science Journal of Indonesia 2015;6:69-75)Kata kunci: kelelahan, jumlah sektor, penerbang sipil, Indonesia AbstractBackground: Fatigue could impair cognitive function in pilots which may lead to accidents in short-haul flight. Theaim of this study was to identify the risk factors related to fatigue among short-haul commercial pilots in Indonesia.Methods: A cross-sectional study with purposive sampling was conducted among Boeing 737 seriestyped-rating pilots taking medical examination at the Civil Aviation Medical Center, Jakarta from May5-26, 2014. Fatigue was measured with Self-Reporting Questionnaire, Fatigue Severity Scale (FSS). Datawere collected using anonymous self-reporting questionnaire on demographics, workload, sleep restriction(Epworth Sleepiness Scale-ESS), personal factors, and managerial support. Linear regression was used toidentify dominant risk factors related to fatigue.Results: During data collection, 785 pilots were taking medical examination, 382 pilots were willing toparticipate, and 239 pilots met the criteria. The FSS mean was 4.66 ± 1.202. The number of sectors in 24hours, flight times of unplanned flights in 30 days, and sleep restriction were dominant factors of fatigue.Each additional sector increased FSS by 0.371 points [regression coefficient (β) = 0.371; P = 0.000].Furthermore, each additional ESS, increased FSS by 0.043 points (β = 0.043; P = 0.008), while eachadditional unplanned flights increased FSS by 0.033 points (β = 0.033; P = 0.000).Conclusions: Additional number of sectors in 24 hours, additional unplanned flight times within 30 days,and sleep restriction increased the risk of fatigue among short-haul commercial pilots in Indonesia. (HealthScience Journal of Indonesia 2015;6:69-75)Keyword: Fatigue, number of sectors, pilots, Indonesi
The stages of HIV infection and the risk of opportunistic Tuberculosis infection
AbstrakLatar belakang: Infeksi oportunistik (IO) oleh tuberkulosis adalah penyebab kematian tertinggi orangyang terinfeksi HIV di seluruh dunia, terutama pada infeksi HIV yang tidak diobati. Tujuan penelitian iniadalah untuk mengetahui faktor risiko infeksi oportunistik TB pada orang dengan HIV.Metode: Studi dilakukan di klinik konseling sukarela (VCT) di beberapa rumah sakit di tujuh provinsi(Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, danPapua). Desain penelitian adalah potong lintang dan pemilihan responden dengan metode purposivesampling. Sebanyak 490 pasien HIV dimasukkan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan denganmenggunakan kuesioner yang spesifik. Analisis statistik dilakukan menggunakan STATA versi 9.0.Hasil: Di antara 490 pasien HIV, 238 (48,6%) pasien melaporkan TB sebagai IO. Semakin muda kelompoksubyek dengan HIV semakin besar persentase IO TB. Penderita HIV laki-laki mempunyai risiko 24% lebihtinggi terinfeksi TB dibandingkan perempuan [risiko relatif suaian (RRa) = 1,24; P = 0,023]. Sedangkansubyek dengan tingkat stadium 1 sampai dengan 3 dibandingkan subyek dengan tingkat stadium akhirberisiko 52% terinfeksi TB (RRa = 1,55; P = 0,000).Kesimpulan: Infeksi HIV stadium 4 dan penderita laki-laki lebih berisiko terkena IO TB. (Health ScienceJournal of Indonesia 2015;6:121-5)Kata kunci: Tuberkulosis, HIV, infeksi oportunistik, Indonesia AbstractBackground: Opportunistic infection (OI) by tuberculosis is the most common cause of death for peopleinfected with HIV worldwide, mainly in persons with untreated HIV infection. The aim of the study wasto determine the risk factors associated with TB as an OI of HIV-infected patients.Methods: The study conducted in Voluntary Counseling Testing (VCT) clinics in several hospitals ofseven provinces (North Sumatera, West Sumatera, Riau Islands, South Sulawesi, North Sulawesi, Maluku,and Papua). This was a cross sectional study and the respondents selected by purposive sampling. Therewere 490 HIV patients included in this study. Data were collected using a specific questionnaire. Statisticalanalyses were done using STATA 9.0 version.Results: Among 490 HIV patients, there were 238 (48.6%) patients with TB as IO. The precentage ofTB as OI in the younger HIV-infected group was higher than the older group. Among the HIV-infectedpersons, males had a 24 % higher risk of becoming infected with TB than females [adjusted relative risk(RRa)=1.24; P=0.023]. Stage 4 HIV-infected persons had 52% risk of TB as OI compared to stages 1-3(RRa=1.55; P=0.000).Conclusion: Patients with stage 4 HIV infection and male were more at risk for developing opportunistictuberculosis infection. (Health Science Journal of Indonesia 2015;6:121-5)Keywords: Tuberculosis, HIV, opportunistic infection, Indonesi
PEMETAAN MODEL KERAWANAN LEPTOSPIROSIS BERDASARKAN FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN DAN TRAP SUCCESS DI BANTUL, YOGYAKARTA
ABSTRACTLeptospirosis is zoonotic disease, which is caused by leptospira bacteria and transmitted to human bycontact with contaminated animal urine. Bantul District is endemic area of leptospirosis, case fatality rateas much 11% in 2010. The aim of this research was to study distribution of spatial epidemiologyleptospirosis, and mapping of vulnerable leptospirosis model by using Geographical Information Systembased on environmental risk factor and trap success in Bantul.This research done in March until November2011, and applied spatial analysis by using cross sectional design. Result of this research• showedleptospirosis cases in 2011 reaching 135 cases, and group of adult men was dominant, mostly as farmer andveteriner worker. There were three claster with average distance between cases: 0 km and furthermost 30km. Leptospirosis pattern increased in March and April when high rainfall. Medium rainfall spatial,lowland, vegetation index medium, alluvial type of soil, existence of rat and landuse of ricefield wereenvironmental variable influence leptospirosis cases. High vulnerable leptospirosis zone located in Centerand West Bantul.Keyword : Mapping, leptospirosis, vulnerable model. ABSTRAK Leptospirosis merupakan penyakit bersumber rodensia, disebabkan oleh bakteri leptospira, menular melalui kulit luka atau mukosa dengan air/tanah tercemar leptospira dariurine binatang. Kabupaten Bantul merupakan daerah endemis leptospirosis,case fatality rate mencapai11% pada tahun2010. Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui persebaran epidemiologi spasial leptospirosis, dan pemetaanmodel daerah rawan Leptospirosisdi Kabupaten Bantul berdasarkan faktor risiko lingkungan dan trap success tikus dengan aplikasi Sistem Informasi Geografis. Penelitian ini dilakukanpada Bulan Maret sampaiNovember 2011, menggunakan metode analisis spasial deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Hasil: Kasus leptospirosispada tahun2011 mencapai135 kasusyang didominasi oleh kelompok laki-laki dewasa merupakan kelompok produktif sebagai petani dan pengelola ternak. Terdapat tiga klaster kasus dengan jarak terdekat antar kasus: 0 km dan terjauh30 km. Pola kasus leptospirosis terjadipada Bulan Maret dan April sesuai dengan pola curah hujanpada bulan tersebut. Spasial curah hujan sedang, dataran rendah, vegetasi sedang, jenis tanahalluvial, keberadaan tikus serta penggunaan lahan persawahan merupakan varibel lingkunganyang mempengaruhi kejadian leptospirosis.Zona daerah rawan tinggi beradadi bagian Tengah dan Barat wilayah Bantul.Kata Kunci : Pemetaan, leptospirosis,model kerawana
IMPLEMENTASI PENGELOLAAN AIR MINUM RUMAH TANGGA (PAM RT) DI JAWA BARAT DAN (NUSA TENGGARA TIMUR)
Abstract In order to reduce waterborne diseases, the current government and its partners are developing ahousehold water treatment and safety storage (HWTS). This article is part of a study on Development ofAn Evidence-Based Guidelines for Promotion of HWTS which is conducted in three pilot sites: Bandungcity, Bandung district (West Java) and Sikka district (East Nusa Tenggara) in 2008. The aim of this studywas to find out how the program was implemented and how is the public opinion about the management(processing and storage) of drinking water. Data collection was done by interview through a questionnaire.Data source were health officers and partners (qualitative data) and the community (quantitative data).Qualitative data processing was performed by the content and the domain method, while quantitative datawas processed through SPSS software. The results show that the government develop the HWTS alongwith its partner: Aman Tirta (Bandung City), Pelita Indonesia (Bandung District), and Dian Desa (SikkaDistrict). Activity of HWTS was done through several stages, such as preparation/dissemination,implementation, monitoring and evaluation. Every partner will have its own way in carrying out the stagesof activity. Not all health officers of district/city states involved in the implementation of the HWTSprogram. It was only Sikka District Health officer that claimed to have fully engaged in the implementationof HWTS in the region. The results of processing and data analysis showed that more than 80% ofrespondents said the HWTS methods were suitable with drinking water treatment for their region. In termsof increasing the water quality, price of materials/tools, and easyness in the water treatment; respondents'opinions very widely.Keywords: HWTS, drinking water, water treatment Abstrak Dalam upaya menurunkan penyakit yang ditularkan melalui air, saat ini pemerintah dan mitrasedang mengembangkan pengelolaan air minum rumah tangga (PAM RT atau household water treatmentand safety storage). Tulisan ini merupakan bagian dari studi tentang Development Of An Evindence-BasedGuideline For Promotion Of HWTS yang dilakukan di di 3 lokasi percontohan yaitu Kota Bandung,Kabupaten Bandung, (Jawa Barat) dan Kabupaten Sikka (NTT). Studi dilakukan pada tahun tahun 2008,dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi program dan pendapat masyarakat tentangpengelolaan (pengolahan dan penyimpanan) air minum. Data yang dikumpulkan meliputi data kualitatif(mitra dan petugas kesehatan) dan kuantitatif (masyarakat). Pengumpulan data dilakukan dengan carawawancara menggunakan daftar pertanyaan (kualitatif) dan kuesioner (kuantitatif). Pengolahan datakualitatif dilakukan dengan content dan domain, sedangkan data kuantitatif dilakukan denganmenggunakan software SPSS. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwapemerintah mengembangkan PAM RT bersama dengan mitra Aman Tirta (Kota Bandung), Pelita Indonesia(Kabupaten Bandung), dan Dian Desa (Kabupaten Sikka). Implementasi PAM RT dilakukan melaluibeberapa tahap, yaitu persiapan/sosialisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi.Setiap mitra mempunyaicara tersendiri dalam melaksanakan tahapan kegiatan tersebut. Hanya petugas Dinas Kesehatan KabupatenSikka yang menyatakan telah terlibat secara penuh dalam implementasi PAM RT di wilayahnya. Hasilwawancara terhadap masyarakat menunjukkan bahwa lebih dari 80% responden menyatakan metode dalamPAM RT sesuai untuk pengolahan air minum di wilayahnya. Dalam hal menjadikan kualitas air menjadilebih baik, harga bahan/alat, dan kemudahan pengeolahan air, pendapat responden sangat bervariasi.Kata kunci: PAM RT, air minum, pengolahan ait minu
EKTOPARASIT (FLEAS) PADA RESERVOIR DI DAERAH FOKUS PEST DI KABUPATEN BOYOLALI PROVINSI JAWA TENGAH
ABSTRACTRat is a rodent (rodensia) which cannot be separated from parasitic organism attacks the ectoparasites(fleas). In the presence of fleas plague focus areas need to watch out, for no increase in cases of plague(outbreak). Pest is a zoonosis in rat that can be transmitted to humans through the bite of fleas Xenopsyllacheopsis containing Yersinia pestis. Boyolali District is one of the plague focus areas in Central Java. Thisstudy aims to identify the species of rats and fleas, trap succes, flea infestation in rats and flea index as anindicator of vulnerability to transmission of plague. The study is a descriptive survey with cross sectionaldesign. The population is all the rats and fleas in Boyolali district. Samples are rats and fleas that werecaught using live trap with coconut roasted and salted fish is placed inside and outside the home (each 2trap). Rat combed for fleas. The results showed the number of mouses caught were 245. There are 4 speciesrats and small mammals found in R. tanezumi, R. tiomanicus, R. exulans, N. fulvescens and S.murinus withsucces trap at 5.71%. Only 3 species and S.murinus of infected fleas. Species of flea is X. cheopis and S.cognatus. Specific flea index: Xenopsylla cheopis by 1.67; flea index cognatus Stavilus common flea indexof 0.88 and 2.55. Based on the warning system indicator about the bubonic plague spreading,which isspecific flea index of X.cheopis >1 and fleas index >2, Selo sub distric should be aware to the spreading ofbubonic plague in its area, so that it is important to carry out the controlling of rat and flea population.Keyword: ectoparasite, reservoir, fleas, plague. ABSTRAK Tikus adalah hewan mengerat (rodensia)yang tidak lepas dari serangan organisme parasit yaitu ektoparasit (pinjal).Pada daerah fokus pestt keberadaan pinjal perlu diwaspadai,agar tidak terjadi peningkatan kasus pestt (KLB). Pest merupakan zoonosispada tikusyang dapat ditularkan kepada manusia melalui gigitan pinjal Xenopsylla cheopsis yang mengandung Yersinia pestis. Kabupaten Boyolali merupakan salah satu daerahfocus pest di Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies tikus dan pinjal, menghitung kepadatan tikus, infestasi pinjalpada tikus dan indeks pinjal sebagai indikator kerentanan terhadap penularanpest. Penelitian merupakan survei deskriptif dengan desain cross sectional. Populasi adalah semua tikus dan pinjalyang adadi Kabupaten Boyolali. Sampel adalah tikus dan pinjalyang berhasil ditangkap menggunakan life trap dengan umpan kelapa bakar dan ikan asinyang diletakkandi dalam dan luar rumah (masing-masing2 perangkap). Tikus disisir untuk mendapatkan pinjal. Hasil penelitian menunjukkan jumlah tikusyang tertangkap247 ekor. Terdapat4 jenis tikus dan mamalia kecil yang ditemukan R. tanezumi,R. tiomanicus,R. exulans,N. fulvescens dan S.murinus dengantrap succes sebesar5,71%. Hanya3 jenis tikus dan S.murinus yang terinfeksi pinjal. Spesies pinjalyang ditemukan X. cheopis dan S. cognatus. Indeks pinjal khusus : Xenopsylla cheopis sebesar1,67; indeksflea (pinjal) Stavilus cognatus0,88 dan indeks pinjal umum2,55. Indikator sistem kewaspadaan terhadap penularan pest dengan indeks pinjal khusus >1 dan indeks pinjal umum >2, maka KecamatanSelo perlu waspada terhadap kemungkinan penularanpest di wilayahnya sehingga perlu upaya pengendalian populasi tikus dan pinjal.Kata kunci: ektoparasit,reservoir, fleas, pes
STUDI BIOAKUMULASI MERKURI DARI JALUR AIR LAUT OLEH KERANG DARAH (ANADARA GRANOSA) DAN KERANG HIJAU (PERNA VIRIDIS)
ABSTRACT Blood cockle and green mussel are source of protein that vulnerable to contamination by mercury (Hg) through bioaccumulation process. The research of Hg2+ bioaccumulation ability by bloodcockle (Anadara granosa) and green mussel (Perna viridis) using the radiotracer 203Hg2+ was conducted based on laboratory experiments design. Biokinetic parameters, such as the uptake and depuration rate and Concentration Factor, were determined to obtain predictions of Bioconcentration Factor (BCF) and steady state conditions. The results of experiment using non-linear model showed that blood cockle and green mussel have the capability to accumulate Hg2+ by 15429.38 and 6963.68 times higher than its concentration in seawater after 51 days. Based on the BCF value obtained from the experiments, the predicted concentration of mercury in Anadara granosa and Perna viridis from Jakarta Bay was 1.327 and 0.599 mg.Kg-1 respectively. The predicted concentration of Hg2+ in Anadara granosa exceeds those required by ISO 7387:2009. On the other hand, the predicted in Perna viridis still meet the requirements of ISO 7387 2009. Keywords: Bioaccumulation, mercury, Perna viridis, Anadara granosa ABSTRAK Kerang darah dan kerang hijau merupakan salah satu sumber protein yang rentan terkontaminasi merkuri (Hg) melalui proses bioakumulasi. Penelitian kemampuan bioakumulasi Hg2+ oleh kerang darah (Anadara granosa) dan kerang hijau (Perna viridis) menggunakan radiotracer 203Hg2+ dilakukan dengan desain eksperimen di laboratorium. Parameter biokinetika seperti kecepatan pengambilan, kecepatan pelepasan dan Faktor Konsentrasi ditetapkan untuk memprediksi Faktor Biokonsentrasi dan kondisi steady state proses bioakumulasi. Hasil percobaan yang dimodelkan dalam persamaan non linier menunjukkan bahwa Anadara granosa maupun Perna viridis mampu mengakumulasi Hg2+ masing-masing 15429,38 dan 6963,68 kali dari konsentrasinya di dalam air laut setelah 51 hari. Berdasarkan nilai BCF masing-masing kerang yang diperoleh dari eksperimen maka prediksi konsentrasi merkuri dalam tubuh Anadara granosa dan Perna viridis di perairan Teluk Jakarta masing-masing adalah 1,327 mg.kg-1 dan 0,599 mg.kg-1. Prediksi konsentrasi Hg2+ dalam Anadara granosa melebihi yang dipersyaratkan oleh SNI 7387:2009. Di sisi lain, prediksi konsentrasinya dalam Perna viridis masih memenuhi persyaratan SNI 7387:2009. Kata kunci: Bioakumulasi, merkuri, perna viridis, Anadara granosa
DISTRIBUSI SPASIAL DEMAM BERDARAH DENGUE DI KABUPATEN BANYUMAS, PROVINSI JAWA TENGAH
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia yang perlu mendapat perhatian serius karena di beberapa daerah masih sering terjadi kejadian luar biasa. Di Kabupaten Banyumas kasus DBD selalu tinggi setiap tahunnya, tahun 2011 jumlah kasus menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan distribusi spasial dari DBD di Kabupaten Banyumas berdasarkan lokasi, ketinggian, tataguna lahan, dan kepadatan penduduk serta pola kasus berdasarkan curah hujan. Kajian ini dilakukan dengan penelusuran data sekunder kasus DBD di Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. Data peta topografi skala 1: 25000 diperoleh dari Information ofGeospasial Unit dan Bappeda Kabupaten Banyumas. Proses pengolahan data dan analisis spasial DBD secara tumpang susun menggunakan aplikasi Arc Gis.10. Jumlah kasus DBD tahun 2012 sebesar 200, tersebar hampir di setiap kecamatan (75 %). Terdapat klaster kasus DBD di wilayah Purwokerto Timur, Purwokerto Selatan dan Purwokerto Utara yang merupakan daerah dataran rendah (12 -250) mdpl, lingkungan pemukiman dekat persawahan, serta merupakan area perkotaan dengan pemukiman padat penduduk. Pola kasus meningkat pada bulan Januari-Mei sesuai dengan pola musim hujan yang meningkat pada bulan tersebut. Secara spasial kasus DBD terzonasi di wilayah dataran rendah dengan pemukiman padat penduduk dekat persawahan. Kasus DBD meningkat pada saat musim hujan tinggi antara Januari – Mei.
PENERAPAN PENDEKATAN SOSIAL DAN EKOLOGI PADA UPAYA PROMOSI KESEHATAN
AbstractIn line to development of social epidemiology, WHO develops social determinant of healthapproach, in relation to this approach among health promotion experts socioecology determinant has beendeveloped. This manuscript describe development of socioecology approach which has been linked withdevelopment of health promotion started with ottawa charter . To look for socioecological determinant ofobesity at university students , an indepth interviews of 16 obese students and five of their parents, 7 vicedean/ rector for student affairs, and 10 food vendors at the university and 5 manager of fast food industrynear campus it describes the socioecological determinant of obesity at university student, discuss how toextend paradigm of health promotion from changing personal behaviour to changing personal, communitybehaviour and changing policy relate to daily life/ Sociecological determinant .It discuss how to implementthis approach as part of development of public health and community medicine to overcome public healthproblems.Keywords: health promotion, socio ecology Abstrak Sejalan dengan berkembangnya sosial epidemiologi,WHO mengembangkan pendekatan determinan sosial kesehatan . Berkaitan dengan pendekatan itu diantara pemerhati promosi kesehatan konsep sosioekologi determinan juga berkembang, Makalah ini menguraikan perkembangan pendekatan sosioekologi dikaitkan dengan perkembangan upaya promosi kesehatanyang dimulia melalui ottawa charter. Untuk melihatmodel determinan sosioekologi dari obesitaspada mahasiswa dilakukan wawancara mendalampada 16 mahasiswa gemuk, danlima orang tua mereka,7 pembantu dekan/rektor urusan mahasiswa,10 pedagang makanan dan5 pengelola wirausaha makanan siap sajiyang berdekatan dengan kampus. Diuraikan faktor lingkunganyang berkaitan dengan kejadian obesitaspada kelompok mahasiswa di perguruan tinggiJakarta, dikemukakan perlunya perubahan paradigma promosi kesehatan diperluas dari perubahan perilaku individu menjadi perubahan perilaku individu, komunitas dan kebijakan pelbagai sektor kehidupanyang mendukung terciptanya keadaan kesehatan bagi seluruh penduduk. Dibahas langkahyang dapat dilakukan sebagai bagian pengembangan kesehatan masyarakat dan kedokteran komunitas untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakatyang makin kompleks.Kata kunci: promosi kesehatan, sosio ekolog
POLA PENYEBAB KEMATIAN MELALUI PENINGKATAN SISTEM REGISTRASI KEMATIAN DI KOTA METRO TAHUN 2007
Statistics of mortality is an apart of vital registration system. Registraction system ie. fertility,mortality, merriage and migration. Age spesific by cause of death and age spesifics death rate are keyindicators of health status in population. Cause of data data is more effectif from mortality registrationsystem. In this system, every mortality is recorded by medic about cause of death. The MortalityRegistration Strengthening System Project will be developed mortality registration system comprehensifillyboth death even and cause of death. Objection: to determine cause of death in Metro City from MortalityRegistration System. Every mortality in Metro City was recorded by cause of death in MCCD based onICD 10. The source information to fill MCCD was medical record (mortality cases in health facility) andautopsi verbal questionnaire (mortality cases at home). Autopsy verbal was collected by nurses andparamedics then the doctors was resumed and cause of death code in MCCD. The analyses data wasUnderlying causes of death based on 1CD 10. There are 613 mortality in Metro City in 2007, included 9still births. The place of mortality most at home (70%) and 30% only in health facility. The main cause ofdeath in Metro City is stroke (25%). The mortality was rised by increasing of age. There are transition ofepidemiology in Metro City, communicable diseases turn to non communicable diseases as cause of death.Keywords: Mortality, Cause Of Death, Registration Syste