e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    HUBUNGAN STATUS HIPERTIROID DENGAN SIKLUS MENSTRUASI PENDERITA HIPERTIROID DI KLINIK LITBANG GAKI MAGELANG

    No full text
    Latar belakang: Gangguan menstruasi sebagai indikator dari fungsi ovarium. Kelainan siklus menstruasi disebabkan oleh kelainan hormonal yang berhubungan dengan gangguan tiroid, termasuk hipertiroid. Tujuan: Penelitian bertujuan mengetahui hubungan antara gangguan siklus menstruasi dengan hipertiroid, usia, Indeks Masa Tubuh (IMT), kecemasan, kontrasepsi hormonal. Metode: Penelitian ini adalah observasional dengan rancangan potong lintang. Sampel wanita usia subur penderita hipertiroid di klinik litbang GAKI, usia 15-50 tahun, jumlah sampel adalah 43 penderita. Variabel penelitian adalah hipertiroid dan siklus menstruasi. Hipertiroid dinyatakan dalam Thyroid Stimulating Hormone (TSH) dan Free Thyroxin (fT4) diukur dengan ELISA. Siklus haid normal adalah 21 sampai 34 hari. Status gizi dinyatakan dengan IMT. Kecemasan diukur dalam Beck Anxiety Inventory (BAI). Analisis data mengunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil: Hasil penelitian 16 (37,2%) penderita hipertiroid mengalami siklus menstruasi tidak teratur dan 27 (62,8%) siklus menstruasinya teratur. Hubungan hipertiroid dengan siklus menstruasi tidak bermakna, (p=0,414). Hubungan usia dengan siklus menstruasi tidak bermakna nilai p=0,331. Hubungan status gizi/Indeks Masa Tubuh (IMT) dengan siklus menstruasi tidak bermakna, nilai p=0,508. Hubungan kecemasan dengan siklus menstruasi tidak bermakna, nilai p=0,552. Hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan siklus menstruasi bermakna, nilai p=0,034. Uji secara multivariate tidak berpengaruh hipertiroid, usia, IMT, kecemasan, dan kontrasepsi hormonal terhadap siklus menstruasi. Kesimpulan: Ketidakteraturan siklus menstruasi tidak dipengaruhi oleh hipertiroid, usia, status gizi, kecemasan, dan kontrasepsi hormonal

    Hospital Waste Management in Queensland, Australia, 2010: A Case Study for Sustainable Hospital Waste Management in Indonesia

    No full text
    AbstractA case study was conducted in Queensland State, Australia, in 2010 to gain information about methods and technology practiced in hospital waste management (HWM) that can be adopted by Indonesian hospitals. The method of the study is a qualitative inquiry through in-depth interviews with hospital personnel and observations of HWM practices in The Royal Brisbane and Women’s Hospital (RBWH).The study also elicits information on regulations and policies governing solid waste within QueenslandState. Data were analyzed descriptively based onthe contents of waste managemen thierarchyincluding collection, treatment and final disposal. The study revealed that Queensland hospitals havea comprehensive on-site policy and strong leadership that focus on waste reduction and safe wastehandling to prevent waste management costs as well as preventing waste related diseases and injuries.The State also implements a new strategy to achieve a low-waste Queensland, under a strong legislative framework by an application of resource recovery strategy including reduce, reuse and recycle (3Rs) to significantly reduce the environmental, social, economic, and health impacts of waste, and in turn, enhance sustainability. The study suggests that Queensland’s experience can be adopted by Indonesian hospitals, particularly in implementing 3Rs approach and appropriate waste handling under a clear onsite policy and leadership to minimize the incidence of waste related diseases and injuries.Keywords: case study, good practice, hospital waste management, 3RsAbstrakSuatu studi kasus telah dilaksanakan di Negara Bagian Queensland, Australia tahun 2010 untukmemperoleh informasi tentang metode dan teknologi yang diterapkan dalam pengelolaan limbah rumah sakit (RS) yang berkelanjutan agar dapat diadopsi oleh RS di Indonesia, yang sampai dengan saat ini masih belum mengelola limbahnya secara berkelanjutan. Masih banyak RS yang tidak memilah limbahnya agar limbah medisnya dapat diolah sesuai persyaratan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Teknologi pengolahan limbah di Indonesia yang paling banyak digunakan adalah insinerasi yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan. Metode dalam pengumpulan data adalah kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pengelola limbah RS dan pengamatan terhadap praktik pengelolaan limbah di Royal Brisbane and Women’s Hospital (RBWH).Studi ini juga mempelajari peraturan perundang-undangan dan kebijakan tentang pengelolaan limbah di Queensland tersebut dan dianalisis secara deskriptif berdasarkan hirarkhi pengelolaan limbah meliputi pengumpulan, pengolahan, dan pembuangan akhir. Hasil studi ini menunjukkan bahwa RBWH maupun RS lainnya mempunyai kebijakan lokal yang menyeluruh dan RBWH mempunyai kepemimpinan yang tegas dengan fokus pada minimisasi limbah dan keamanan dalam penanganan limbah untuk menghemat biaya sekaligus mencegah terjadinya penyebaran penyakit dan kecelakaan karena limbah.Negara bagian ini juga menerapan strategi baru dengan kerangka peraturan yang berorientasi padastrategi “mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur-ulang dalam rangka pemulihan sumberdaya dan mengurangi dampak lingkungan, social, ekonomi menuju kelestarian lingkungan. Studi inimenyarankan bahwa praktik pengelolaan limbah di RBWH ini dapat menjadi contoh untuk pengelolaanlimbah RS di Indonesia, terutama dalam penerapan pengurangan limbah, kebijakan lokal RS danpencegahan penyakit dan kecelakaan karena limbah RS.Kata Kunci: studi kasus, praktik, manajemen pengelolaan limbah, B

    Front Matter BPK vol 44 no 3 Th 2016

    No full text

    PENGARUH BEBERAPA DOSIS BACILLUS THURINGIENSIS VAR ISRAELENSIS SEROTYPE H14 TERHADAP LARVA AEDES AEGYPTI DI KALIMANTAN BARAT

    No full text
    One of the dengue control efforts is the use  of Bacillus thuringiensis in order to reduce the dengue vector of Aedes aegypti through its larvas. This was an experimental research using gram-positive bacteria B. thuringiensis var israelensis (Bactivec) serotype H-14 which was applied with several concentrations (0.02 ml, 0.01 ml and 0.007 ml) in 246 ml of water that has been filled with 25 larvas of the 3rd or 4th instars. Larvas were taken from the area of ​​West Kalimantan. Data were analyzed using a completely randomized design to examine the percentage of larval mortality within 3 hours, 9 hours and over 12 hours. The results showed that the concentration of 0,02 bactivec caused 89%  larval mortality, and  concentrations of 0,01 and 0,007 caused 88% and 87% larval mortality, respectively within the 9 hours exposure time. It can be concluded that the use of 0,07 ml of bactivec  is still effective to  control  Aedes aegypti larvae. To determine  the negative of  the use of bactivec,  further studies  are needed.

    NILAI ANAK DALAM KELUARGA DAN UPAYA PEMELIHARAAN KESEHATANNYA (SUATU STUDI ETNOGRAFI DI DESA GADINGSARI, KABUPATEN BANTUL)

    No full text
    Artikel ini menggambarkan nilai anak dalam keluarga yang mendasari sikap dan perilaku orangtua dalam pemeliharaan kesehatan anak yang mereka miliki. Data diambil dari hasil penelitian tentang kesehatan ibu dan anak (KIA) menggunakan pendekatan etnografi di wilayah Kabupaten Bantul Yogyakarta. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi faktor-faktor non medis yang diduga melatarbelakangi kondisi KIA yang cukup baik di Kabupaten Bantul didasarkan pada Indek Pembangunan Kesehatan Masyarakat di kabupaten tersebut yang cukup tinggi. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada sejumlah informan yang terdiri dari ibu hamil atau ibu yang pernah hamil, dan pernah melahirkan, tokoh masyarakat, dukun bayi, dan beberapa warga masyarakat, petugas kesehatan terutama bidan desa. Hasil penelitian menggambarkan bahwa keberadaan anak dalam keluarga mempunyai nilai bagi orang tua. Semula anak merupakan modal bagi keluarga yang diharapkan dapat membantu secara ekonomi keluarga, dan berbakti pada orangtua dengan merawat semasa di hari tuanya. Namun seiring dengan perubahan dan perkembangan jaman, anak diharapkan dapat sekolah hingga mencapai pendidikan yang tinggi sehingga dapat menjunjung tinggi martabat orang tua dan meningkatkan status sosial keluarga. Maka orang tua akan selalu berupaya menjaga kesehatan anak sebaik-baiknya. Ada kalanya orang tua meminta pertolongan pada orang yang dianggap pintar atau dukun karena diyakini penyakit anaknya disebabkan gaib atau gangguan mahluk halus. Kesimpulan dari studi ini: Keberadaan anak memiliki nilai tertentu dimata keluarga sehingga anak akan diperlakukan sedemikian rupa agar terjaga kesehatannya. Anak memiliki nilai ekonomi, sosial dan psikologis. Nilai psikologis anak lebih mendasari sikap dan perilaku orang tua dalam pemeliharaan kesehatan anak

    GAMBARAN KEBAKARAN HUTAN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT ISPA DAN PNEUMONIA DI KABUPATEN BATANG HARI, PROVINSI JAMBI TAHUN 2008

    No full text
    Abstract Forest extinguisher is one of the problems that it has disastrous harm to the environment andhealth. A fume from fires is the one of environmental pollution factors that it can be causes diseases such asARI (Acute Respiratory infections) and pneumonia. This article contains research data derived fromsecondary data on health districts Batanghari, Jambi Province in 2008. The design was a cross-sectionalstudy to see the possibility of a fire by looking at an increase of hotspots. Those data was compareddescriptively with rainfall data, ARI diseases and pneumonia. Data have obtained point an increased thefire occurred in August as 70 of hotspots and inceasing of rainfall was 245 mm. Other results illustrate thatthere is a correlation was found between the increase in rainfall of 331 mm with a reduction in fire as manyas 4 points in March. From the data obtained prevalesi 55.9% for respiratory disease and pneumonia with prevalence of 7.35% and in 2008. The results of air pollution parameters showed an increase in air qualityparameters such as PM10, SO2, CO and O3 although still below of the standard. The conclusion of thisstudy was indicated that the increased in hotspots did not occurred of the rainfall influenced in certainmonths, while the forest extinguisher was indirect affect of the incidence rate of ARI and pneumonia.According to the results, data is needed to continue analysis annually to monitoring and support efforts toprevent forest fires and land especially areas prone to fires.Keywords: Forest Extinguisher, ARI, Pneumonia, Hotspot and Rainfall AbstrakKebakaran merupakan salah satu permasalah yang menimbukan dampak buruk bagi lingkungandan kesehatan. Asap yang berasal dari kebakaran merupakan salah satu faktor pencemaran lingkungan yangdapat menimbulkan penyakit seperti ISPA dan pneumonia. Artikel ini memuat data penelitian yang diambildari data sekunder pada dinas kesehatan Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi tahun 2008. Desainpenelitian ini berupa potong lintang untuk melihat kemungkinan terjadi kebakaran dengan melihatpeningkatan titik api. Dari data tersebut di analisis secara deskriptif dengan data curah hujan, penyakitISPA dan Pneumonia. Dari data tersebut didapatkan peningkatan titik api terjadi pada bulan Agustussebanyak 70 titik api dan peningkatan curah hujan sebesr 245 mm. Hasil lain ditemukan gambaran bahwaada korelasi antara peningkatan curah hujan sebesar 331 mm dengan penurunan titik api sebanyak 4 padabulan Maret. Dari data tersebut didapatkan prevalesi penyakit ISPA sebesar 55.9% dan pneumonia denganprevalensi sebesar 7.35 % dan pada tahun 2008. Hasil parameter pencemaran udara yang diperolehmenunjukkan terjadi peningkatan parameter kualitas udara seperti PM10, S02, CO dan 03 walaupunmasih di bawah baku standar. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa curah hujan yang terjaditidak mempengaruhi peningkatan titik api pada bulan-bulan tertentu, sedangkan kebakaran hutan tidakmempengaruhi secara langsung terhadap prevalensi ISPA dan pneumonia. Tetapi analisis data perludilakukan untuk tahun berikutnya dalam rangka menunjang monitoring dan upaya pencegahan terjadinyakebakaran hutan dan lahan terutama daerah rawan kebakaran.Kata kunci: Kebakaran Hutan, ISPA, Pneumonia, Titik api dan Curah huja

    HUBUNGAN STATUS GIZI, GAYA PENGASUHAN ORANGTUA DAN FAKTOR LAINNYA DENGAN KETERLAMBATAN PERKEMBANGAN ANAK USIA 2-5 TAHUN STUDI KASUS DI KELURAHAN KEBON KALAPA KOTA BOGOR

    No full text
    ABSTRACT The first five years period of children is an important time of growth and development which will be the basis of further development of the child, so often called "golden period”. Child development can be influenced by nutrition, health, and parenting which are related to each other. This article investigate the relationship between nutritional factor, parenting style and other factors to the development of children aged 2-5 years in the Kebon Kalapa, Central Bogor District, Bogor. The article were using the Risbinkes research data at 2013. Samples were a hundred pairs of mothers and child. Data were analyzed descriptively, chi-square and multiple logistic regression. Chi-square test results did not show any factors significantly associated with the development of the child. Four variables child's nutritional status, family size, exclusive breastfeeding and maternal parenting style substantially related to child development were analyzed using multiple regression logistic. The main determinant of child development is the maternal parenting style. This means that mother who have undemocratic parenting style has a more than two times higher risk of having children who have developmental delays (OR 2,66; 95% CI=1,09-6,44). Parents especially mothers should receive counseling on parenting that developmental delay can be prevented. Keywords: Nutritional status, parenting style, child development   ABSTRAK Periode usia anak lima tahun kehidupan pertama merupakan masa penting tumbuh kembang yang akan menjadi dasar perkembangan anak selanjutnya sehingga sering disebut “masa keemasan”(golden period). Tumbuh kembang anak dapat dipengaruhi oleh faktor gizi, kesehatan, dan pengasuhan yang terkait satu sama lain. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara faktor gizi, gaya pengasuhan serta faktor lainnya dengan perkembangan anak usia 2-5 tahun di Kelurahan Kebon Kalapa, Kecamatan Bogor Tengah, Bogor pada tahun 2013. Jumlah sampel sebesar 100 anak usia 2-5 tahun dan sebagai responden adalah ibu (kandung?). Analisis menggunakan uji regresi logistik gandadengan melibatkan empat variabel yang secara statistik berkaitan dengan perkembangan anak, yaitu status gizi anak, besar keluarga, pemberian ASI eksklusif dan gaya pengasuhan ibu. Gaya pengasuhan ibu merupakan faktor dominan dalam perkembangan anak. Ibu dengan gaya pengasuhan tidak demokratis berisiko 2 kali lebih tinggi untuk memiliki anak yang mengalami keterlambatan perkembangan (OR 2,66; 95% CI=1,09-6,44). Perlu dilakukan penyuluhan kepada orang tua tentang pengasuhan anak yang benar agar keterlambatan perkembangan dapat dicegah. Kata kunci: Status gizi, gaya pengasuhan, perkembangan ana

    KEPUASAN MASYARAKAT TERHADAP PENGOLAHAN DAN PENYIMPANAN AIR MINUM RUMAH TANGGA (PAM RT) BANDUNG (JAWA BARAT) DAN SIKKA (NUSA TENGGARA TIMUR)

    No full text
    The low level of public access to safe drinking water and sanitation is one of the causes fordiarrhea high prevalence in Indonesia. The government together with its partners has developed ahousehold-scale drinking water treatment and storage programs known as the household water treatmentand safety storage (HWTS) program. This article is part of a study of the implementation HWTS whichaimed to find out the level of community satisfaction of HWTS program in terms of its implementation aswell as the water quality after the processing. The locations of study were Bandung City, Bandung andSikka Districts. The number of respondents in each location was 34 (Bandung City), 34 (BandungDistricts), and 40 (Sikka Districts). Data was collected by interviewing public health officials and healthcenters each location. The results showed that the satisfaction level of in the three study sites variedenough. All the respondents satisfied and very satisfied for the implementation HWTS program. There isstill lack of respondents who expressed satisfaction (11.8%) and dissatisfied (12.5%) over the price/cost ofwater treatment, felt less satisfied with the quality (26.5%), information provided by partners (17.6 %), andconvenience/practicability water treatment (8.8%).Keywords: Satisfaction level, water treatment and storage, communit

    KANDUNGAN TSP DAN PM-10 DI UDARA JAKARTA DAN SEKITARNYA

    No full text
    Abstract. A survey was performed to assess the quality of ambient air in Jakarta, Bogor,Depok,  Tangerang  and Bekasi.  Ambient air samples were collected from 33 sampling points at a distance of 0meter and 120 meters from each main roads respectively. The highest average content of TSP in ambientair at 0 meter was found in West Jakarta (652.02 p.g/cu.m) and that of 120 meters from the main road was in Bekasi (445.46µg/cu.m ). The highest difference of the TSP content between the two sampling pointswas in Kebon  Jeruk, West Jakarta (96.62 %),  and the lowest one was inCikarang, Bekasi (1.63 %).  Furthermore, the highest difference of the PM-10 content between the two sampling points was inJalan  Raya Bogor, Depok  (96.86 %),  and the lowest one was in Cikarang,  Bekasi (17.26%). In the whole areasof study, the average content of TSP  was 522.44.tg/cu.m  (0 meter), and178.09µg/cu.m (120 meters),  so the difference of the pollutant content between the two sampling points was 65.91%. Meanwhile, theaverage content of PM-10 was 326.25µg/cu.m  (0 meter), and97.09µg/cu.m (120 meters), so the difference of the pollutant content between the two sampling points was 70.24 %. The difference of the means ofboth TSP  and PM-10 content levels between the two sampling sites were significant. The percentages ofsampling points complying withTSP level standard were 9.52 %  (0 meter) and 75.76% (120 meters from the road sides). While that of PM-10 were 18.18%  (road side sampling) and 78.79% (120 meters from theroad sides).Crusial  measure for controlling theTSP  and PM-10 pollution should also be addressed tomobile sources, such as reducing diesel motorized-vehicles and providing proper mass transportation

    Back Matter Jurnal Media Litbangkes Volume 26 No 2 Juni 2016

    No full text

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇