e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
Keragaman Jenis dan Aktivitas Mengisap Darah Anopheles spp. di Desa Simpang Empat Kecamatan Lengkiti Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan
Abstract. Lengkiti districts have high number of malaria cases with Annual Paracite Incidence (API) was 13.02 ‰in 2012. The entomology information aboutthe vector mosquito species is needed in vector control purpose. However, information about Anopheles spp. in Simpang Empat Village of District Lengkiti is unknown. The purpose of this study was to identify the diversity of Anopheles spp., which potentially acts as vectors of malaria. Research was conducted in Simpang Empat village, Lengkiti district, Ogan Komering Ulu (OKU), South Sumatra, from March to October 2014 which. This research collected adult mosquitoes; both by human and cattle bait traps methods. The results showed that there were 10 species of Anopheles spp. caught along 8 catching times with Anopheles philippinensis as the most captured species. Biting activity of Anopheles spp. was higher outside of the houses and it occured all night except at 01.00-02.00 a.m and at 04.00-05.00 a.m, a biting peak was at 06.00-07.00 p.m. Man Hour Density (MHD) inside and outside of houses ranged from 0.0025 to 0.0075 mosquito/ person/ hour. Anopheles spp. that have been found were An. philippinensis, An. vagus, An. maculatus, An. minimus, An. kochi, An. barbirostris, An. flavirostris, An. leucosphyrus group, An. sinensis and An. nigerrimus. An. vagus density was highest in outdoors, , while An. philippinensis was the most dominant mosquito. Keywords: malaria, Anopheles, diversity, Simpang Empat village, South Sumatera Abstrak. Kecamatan Lengkiti merupakan kecamatan dengan jumlah kasus malaria yang masih tinggi dengan nilai Annual Paracite Incidence (API) pada tahun 2012 sebesar 13,02 ‰. Data entomologi tentang spesies nyamuk vektor diperlukan di dalam upaya pengendalian vektor itu sendiri, sedangkan informasi tentang nyamuk Anopheles spp. di Desa Simpang Empat, Kecamatan Lengkiti belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi keragaman nyamuk Anopheles spp. yang berpotensi sebagai vektor malaria. Penelitian dilakukan di Desa Simpang Empat, Kecamatan Lengkiti, Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, dari bulan Maret sampai Oktober 2014 dengan cara penangkapan nyamuk dewasa melalui umpan orang dan umpan sapi. Hasil penelitian menunjukkan nyamuk Anopheles spp. yang tertangkap selama 8 kali penangkapan terdiri dari 10 spesies dan yang paling banyak tertangkap adalah Anopheles philippinensis. Aktivitas mengisap darah Anopheles spp. lebih cenderung di luar rumah dan terjadi sepanjang malam kecuali pukul 01.00-02.00 dan pukul 04.00-05.00, puncaknya pada pukul 18.00-19.00. Kepadatan nyamuk per orang per jam (MHD) pada penangkapan nyamuk umpan orang dalam dan luar berkisar antara 0,0025-0,0075 nyamuk/orang/jam. Anopheles spp. yang ditemukan yaitu An. philippinensis, An. vagus, An. maculatus, An. minimus, An. kochi, An. barbirostris, An. flavirostris, An. leocosphyrus group, An. sinensis, dan An. nigerrimus. Kepadatan nyamuk tertinggi terdapat di luar rumah yaitu pada spesies An. vagus. Nyamuk An. philippinensis merupakan spesies yang paling dominan. Kata Kunci: malaria, Anopheles,keragaman jenis, Desa Simpang Empat, Sumatera Selatan
Uji Stabilitas Kit Cair Tetrofosmin pada Berbagai Kondisi Penyimpanan
Tetrofosmin radiopharmaceutical compound that is being developed by PTRR BATAN for use as myocardial perfusion imaging agent and cancer diagnostic agent in nuclear medicine. The aim of this study is observe the stability of this liquid kits after stored in various condition to determine its expire date various condition. The stability test was done of 1 hour, 3 hours, 5 hours and 7 hours after labeling. The radiochemical was determined its radiochemical purity has to be ≥ 90 %. Analysis of radiochemical purity was carried out by separation method which using Sep-Pak C18 cartride. Storage condition of tetrofosmin kit was carried out at various temperatures as in the deep freezer (-800C), freezer (-180C), refrigerator (2-60C) and cool box (2-60C). The result showed that the liquid tetrofosmin kits stored in deep freezer, freezer, refrigerator were stable up to 23 months, 8 weeks and 4 days respectively. Simulation of stability test after stored in a cool box was done by observing the temperature of cool box, and the result showed that the temperature in the cool box was constant as in refrigerator for up to 24 hours. Tetrofosmin which has been labeled with technetium-99m can with stand up 7 hours. It is concluded that expiry date of liquid tetrofosmin kit related with storage temperature, the lower the temperature the longer the expiry date of the kits
POTENTIAL MALARIA TRANSMISSION IN SIGEBLOG VILLAGE, BANJARMANGU SUBDISTRICT, BANJARNEGARA DISTRICT
Kecamatan Banjarmangu merupakan salah satu daerah endemis malaria dengan jumlah kasus tertinggi di Kabupaten Banjarnegara. Pada Mei 2014 terjadi peningkatan kasus malaria di Desa Sigeblog. Oleh sebab itu, segera dilakukan investigasi pada waktu tersebut untuk mengetahui potensi penularan vektor malaria dan tempat perkembangbiakannya, serta aktivitas penderita di luar rumah pada malam hari. Penangkapan nyamuk dilakukan dengan umpan manusia dan penangkapan nyamuk hinggap. Sedangkan tempat perkembangbiakan dilakukan dengan cidukan larva. Data aktivitas penderita didapat dengan wawancara terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan kepadatan rata-rata Anopheles aconitus dan An. maculatus relatif lebih tinggi di kandang dengan aktivitas menggigit pukul 18.00-19.00 WIB. Tempat perkembangbiakan Anopheles yang ditemukan adalah genangan air di kebun salak, mata air dan parit kecil. Penularan malaria terjadi di Desa Sigeblog oleh Anopheles aconitus dan An. maculatus, serta aktivitas penderita berkunjung ke rumah tetangga pada malam hari.
Kata kunci: vektor, malaria, Sigeblo
Keanekaragaman dan Dominasi Nyamuk di Daerah Endemis Filariasis Limfatik, Kota Pekalongan
Lymphatic filariasis is a communicable disease caused by infection of filaria worm whichis transmitted by various mosquitoe species. Pabean Village in Pekalongan City, CentralJava, was an endemic area of filariasis with microfilariae rate > 1%. The objective of thisresearch was to identify and reconfirm the potential vector mosquito species of filariasisand its breeding places. This was an observational study employing cross-sectional designwhich collected mosquitoes from indoor, outdoor, and livestock cages, larvae dipper, andbreeding sites . The mosquitoes were collected twice a week by using landing collectionand ligth trap with dry ice method. This survey found 13 mosquito species, which werefour spesies of Culex (Cx. quinquefasciatus, Cx. bitaeniorhynchus, Cx. tritaeniorhynchus,Cx.vishnui), five spesies of Anopheles (An. subpictus, An. vagus, An. indifinitus, An.barbirostris, An. vecan), three spesies of Aedes (Ae. aegypt, Ae. albopictus, Ae. anandeli),and one Malaya spp. Among these species, Cx. Quinquefasciatus was the dominantmosquito with highest relative abundance. Water sewages polluted by industrialwastewater (painting and “batik”) accross the population residence was the breadingplaces of these mosquitoes . Cx. quinquefasciatus was the potential mosquito vector offilariasis. Filariasis limfatik adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksicacing filaria. Penyakit ini ditularkan oleh berbagai spesies nyamuk. Kelurahan Pabeandi Kota Pekalongan, Jawa Tengah, adalah salah satu daerah endemis dengan angkamikrofilaria > 1 % . Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengonfirmasiulang spesies nyamuk vektor potensial filariasis dan tempat perkembangbiakannya.Penelitian ini merupakan studi observasional dengan rancangan cross-sectionaldengan menangkap nyamuk dalam rumah, luar rumah, dan kandangternak.Penangkapan nyamuk dilakukan dua kali setiap minggu dengan umpan orangdan light trap yang dilengkapi es kering. Hasilnya, ditemukan 13 spesies nyamuk, yaitu4 spesies dari genus Culex (Cx. quinquefasciatus, Cx. bitaeniorhynchus, Cx.tritaeniorhynchus, Cx.vishnui), 5 spesies dari genus Anopheles (An.subpict us, An. vagus,An. indifinitus, An. barbirostris, An.vecan), 3 spesies dari genus Aedes (Ae.aegypt,Ae.albopictus, Ae.anandeli), dan satu spesies Malaya spp. Di antara spesies-spesies itu,Cx. quinquefasciatus adalah nyamuk yang dominan dengan kelimpahan nisbi palingtinggi. Saluran pembuangan air limbah yang tercemari oleh limbah cair industri (catdan batik) sepanjang permukiman penduduk merupakan tempat perkembangbiakannyamuk. Nyamuk Cx. quinquefasciatus merupakan spesies nyamuk vektor potensialpenyakit filariasis
Gambaran Faktor Resiko Kecacingan pada Anak Sekolah Dasar di Kota Banjarmasin
Helminthiasisis is an endemic and chronic diseases caused by parasitic worms that tendnot lethal but undermined the health of the human body. Helminthiasis is closely related topeople's behavior, especially personal hygiene and sanitation. The goal of this researchwere identify the risk factors of helminthiasis in primary school-student that can be usedas a basic information in determining the model of interventions and prevention forhelmint transmission and infestation effectively and efficiently in Banjarmasin. The studydesign was observational analytic studies conducted in period of April to December 2011in Banjarmasin. Data were obtained by interview questionnaire. The population was allelementary school students and their parents/guardians in Banjarmasin. Stools sampleswas taken from elementary school children and questionnaire sample was done by doinginterview to their parents /guardians. Based on stool examination there were 11(3%)positive samples identified (3%), which 7 (1,9%) was caused by T. trichiura, 1 (0,3%) wascaused by E. vermicularis, and 3 (0,8%) was caused by Hymenoepis sp. Questioneire dataof parents/guardians about helminthiasis showed that 56,3% parents classified as goodknowledge category, 66,6% in good attitude category and 56,3% in good behaviorcategory. Kecacingan merupakan penyakit endemik dan kronik yang diakibatkan oleh cacingparasit yang cenderung tidak mematikan namun menggerogoti kesehatan tubuhmanusia. Penyakit kecacingan erat kaitannya dengan perilaku masyarakat dalam halkebersihan perorangan dan sanitasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui faktor risiko kecacinganpada anak Sekolah Dasar (SD) yang dapatdigunakan sebagai dasar dalam menentukan model intervensi pencegahan penularandan penanggulangan kecacingan secara efektif dan efisien di Kota Banjarmasin.Penelitian menggunakan rancangan studi observasional analitik yang dilakukan padabulan April-Desember 2011 di Kota Banjarmasin. Data diperoleh dengan melakukanwawancara kuesioner. Populasi adalah semua anak SD dan orang tua/ wali anaksekolah dasar di kota Banjarmasin. Sampel untuk pengambilan feses adalah anak SDdan sampel untuk wawancara kuesioner adalah orang tua/ wali anak SD di kotaBanjarmasin. Pemeriksaan feses yang dilakukan pada anak SD didapat hasil positif 11(3%) sampel tinja, 7 orang (1,9%) disebabkan oleh Trichuris trichiura, 1 orang (0,3%)disebabkan oleh Enterobius vermicularis, dan 3 orang (0,8%) disebabkan olehHymenoepis sp. Pengetahuan orang tua/wali anak SD mengenai kecacingan dengankategori baik (56,3%), memiliki sikap pada kategori baik (66,6%) dan memilikiperilaku yang berada pada kategori baik (56,3%)
NEMATODA PADA FAMILI MURIDAE (TIKUS DAN MENCIT) DI PEMUKIMAN DI KABUPATEN BANJARNEGARA
ABSTRACTMuridae Famili that live in Java includes 10 genera and 22 species. Muridae Famili that often found inhuman residents are Rattus norvegicus ("riul" rats), Rattus tanezumi (asian house mouse) and Musmusculus ("piti" mouse). Nematode (roundworm) is rodents parasiticon. Some species of these worms canalso infest humans (zoonosis). This study conducted in 2010 aims to determine the type of parasiticnematodes that infest Muridae Famili (rats and mice) in human residents in the Banjarnegara District.Thisstudy used a descriptive research design and laboratory research type. The data was collected throughcapturing Muridae using live traps placed for consecutive 3 days. Result this study, Muridae capturing tookplace Kutabanjarnegara Semampir village with trap success 11.77% and 7.77% respectively. Muridaespecies that obtained were Rattus tanezumi, and Mus muscull, Rattus tiomanicus. While nematodesobtained were Syphacia muris from Kutabanjarnegara village 15,38% and semampir village 31,25%,Nippostrongilus brasilliensis from Kutabanjarnegara 5,76%, also founded form Semampir villageGongylonema neoplasticum 31,25%, Masthoporus muris 33,33% and Tikusnema javaense 33,33%meanwhile nematodes reported to be zoonotic were Syphacia muris and Gongylonema neoplasticum.Keyword: Muridae, nematodes, rat, mice. ABSTRAKFamili Muridae di Jawa meliputi 10 marga dan 22 spesies. Famili Muridae yang sering di pemukimanadalah Rattus norvegicus (tikus got atau tikus riul), Rattus tanezumi (tikus rumah asia) dan Mus musculus(tikus piti). Nematoda (cacing gilig) merupakan parasit pada rodensia. Beberapa spesies cacing ini jugadapat menginfestasi manusia (zoonosis). Penelitian ini dilakukan pada tahun 2010 bertujuan untukmengetahui jenis Nernatodct parasit yang menginfestasi famili Muridae (tikus dan mencit) di pemukiman diKabupaten Banjarnegara. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif. Pengumpulan datadilakukan melalui penangkapan Muridae menggunakan perangkap hidup yang dipasang selama 3 hariberturut-turut. Penangkapan Muridae dilakukan di Kelurahan Kutabanjarnegara dan Kelurahan Semampir.Hasil penelitian mengatakan bahwa trap success 11,77% dan 7,77%. Spesies Muridae yang ditemukanadalah Rattus tanezumi, Rattus tiomanicus dan Mus muscullus. Sedangkan Nematoda yang didapatkanadalah Syphacia muris di Kelurahan Banjarnegara 15,38% dan Kelurahan Semampir 31,25%,Nippostrongilus brasilliensis di Kelurahan Kutabanjarnegara 5,76%. Selain itu di Kelurahan Semampirditemukan Gongylonema neoplasticum 31,25%, Masthoporus muris 33,33% dan Tikusnema javaense33,33% sementara Nematoda yang dilaporkan bersifat zoonosis Syphacia muris dan Gongylonemaneoplasticum.Kata kunci: Muridae, Nematoda, tikus, menci
FACTORS ASSOCIATED WITH OVERWEIGHT/OBESITY AMONG ADULTS IN URBAN INDONESIA
Overweight/obesity is increasing in developing countries, including Indonesia, being more prevalent in urban than rural areas. Understanding about associated factors of overweight/obesity is important for intervention purposes. The study objective was to assess factors associated with overweight/obesity in urban Indonesians. This cross-sectional study involved primary data collection among 864 adults aged 18-45 years in five major urban cities of Indonesia. Weight, height, waist and hip circumference were measured, and overweight/obesity was defined as BMI>25 kg/m2. Factors associated to overweight/obesity was ellicited by logistic regression. The study showed that proportion of overweight/obesity was significantly higher among women than men (42.8% and 29.2%). Median total energy intake was 1974 kcal/day, and median fat intake was high (75.3 g; 25th-75th percentile: 49.6-109.4 g). More than 70 percent of subjects consumed high energy dense food/beverages often. Only around 27 percent of the subjects had high intensity physical activity/PA level and more than 50 percent spent >6 hours using TV/computer, indicating low PA level. After adjusting for confounders, often consumption of high energy dense food consistenly showed association, although not signficant, with overweight/obesity. Moreover, men with higher sedentary activities indicated by TV/computer usage >6 hours/day and women with less days of performing vigorous PA had 1.4 and 3 times higher odds to become overweight/obese, respectively. Thus, overweight/obesity prevention should focus on reduction of consumption of high-dense energy food, including fat intake; coupled with increasing PA level by having more days of vigourous recreational PA and reduction of TV/computer usage, especially among married older urban adult
ASUPAN ZAT BESI, VITAMIN A DAN ZINK ANAK INDONESIA UMUR 6-23 BULAN
Anak di bawah dua tahun paling rentan terhadap kekurangan gizi. Oleh karena itu, seribu hari kehidupan pertama merupakan periode kritis anak untuk mendapatkan kesehatan dan status gizi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur asupan zat besi, vitamin A dan zink dari makanan anak yang berkontribusi terhadap masalah kurang gizi mikro. Desain penelitian ini potong-lintang dengan sampel 1,177 anak umur 6-23 bulan di 48 kabupaten di Indonesia. Asupan makanan diukur menggunakan metoda recall 24 jam asupan makan, oleh enumerator terlatih. Asupan zat gizi dihitung berdasarkan Daftar Komposisi Bahan Makanan Indonesia. Variabel lainnya seperti karakteristik rumah tangga, ASI dan praktik pemberian makanan pendamping ASI, pelayanan kesehatan, angka kesakitan, antropometri dan hemoglobin. Hasil penelitian menunjukkan rerata asupan vitamin A, zat besi dan zink adalah 298+9 µg, 4,6+0,2 mg, and 3,3+0,1 mg. Bila dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan (AKG) vitamin A, zat besi, dan zink adalah 74,6+1,8%, 60,3+2,7%, dan 41,0+1,1%. Prevalensi anemia sebesar 56,4 persen. Analisis ANCOVA menggambarkan bahwa asupan berhubungan secara nyata dengan tempat tinggal (desa/kota), status sosial ekonomi, umur, morbiditas (kesakitan), nafsu makan, pemberian ASI dan konsumsi susu dan hasil olahnya. Walaupun demikian, analisis dengan regresi logistik ganda menggambarkan bahwa asupan rendah vitamin A dibawah AKG berhubungan dengan umur anak yang lebih muda, status sosial ekonomi rendah, penyapihan dan nafsu makan yang rendah. Asupan zat besi rendah berhubungan dengan umur, tempat tinggal, status sosiaI ekonomi rendah, sedangkan asupan zink berhubungan dengan status sosial ekonomi rendah dan penyapihan. Anak dengan konsumsi zat besi kurang dari AKG berhubungan dengan prevalensi anemia