e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
DETERMINAN PERSALINAN SEKSIO SESAREA PASIEN KELAS TIGA DI DUA RUMAH SAKIT DI JAKARTA TAHUN 2011
Latar belakang: Angka kejadian persalinan seksio sesarea di banyak negara terus meningkat begitu juga di Indonesia, baik di rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit swasta. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan persalinan seksio sesarea pasien kelas tiga di dua rumah sakit di Jakarta tahun 2011. Metode: Metode penelitian adalah cross sectional. Data merupakan bagian dari Penelitian Studi Indikasi Sectio Caesarea di dua Rumah Sakit di Jakarta”. Data didapatkan dari rekam medik pasien yang melahirkan pada periode 1 Januari sampai 31 Desember 2011. Hasil: Jumlah seluruh persalinan di dua rumah sakit tersebut 4190, dan yang memenuhi kriteria untuk di analisis sebanyak 4152 persalinan. Dari 4152 persalinan, ada 3154 persalinan (76,0%) di rawat inap di kelas tiga. Proporsi persalinan seksio sesarea pada pasien kelas tiga sebesar 57,3%. Determinan persalinan seksio sesarea adalah pendidikan tinggi (OR=1,80; 95%CI 1,46-2,14), menggunakan asuransi (OR=1,70; 95%CI 1,43-2,04), dan hipertensi (OR=1,30; 95%CI 1,03-1,62). Kesimpulan: Proporsi persalinan seksio sesarea pasien rawat inap di kelas tiga relatif tinggi (57,3%), dan indikasi medis pada seksio sesarea adalah hipertensi. Perlu dilakukan intervensi pada perempuan hamil agar rutin melakukan pemeriksaan kehamilannya dan keseriusan pemerintah pada penegakan pedoman praktek.
SERUM RETINOL DAN STATUS GIZI IBU MENYUSUI MENENTUKAN KADAR VITAMIN A DALAM ASI
Latar Belakang: Status vitamin A ibu menyusui dan bayinya telah dibuktikan mempunyai hubungan yang erat. Bayi dari ibu yang menderita kurang vitamin A mempunyai risiko yang tinggi menderita KVA. Asumsinya hubungan tersebut dimediasi oleh kadar vitamin A dalam ASI sebagai sumber vitamin A utama. Tujuan: Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status vitamin A ibu menyusui dan kadar vitamin A dalam ASI. Metode: Studi dilakukan pada 440 ibu menyusui yang bayinya umur 6-12 bulan di Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis. Serum vitamin A dalam darah dan kadar vitamin A dalam ASI dikumpulkan dan dianalisis dengan metode HPLC. Kovariat antropometri, morbiditas, karakteristik ibu dan bayi yang berperan dalam serum vitamin A dan vitamin A ASI dikumpulkan. Analisis uji-t, ANOVA dan ANCOVA dilakukan untuk menguji peran status vitamin A ibu terhadap vitamin A ASI. Hasil: Hasil studi menunjukkan KVA ibu menyusui berpengaruh secara signifikan terhadap rendahnya kadar vitamin A dalam ASI setelah dikontrol oleh kovariat status gizi ibu menyusui. Rerata vitamin A dalam ASI pada ibu yang KVA dan non KVA 47,0 μg/dL dan 88,2 μg/dL. Kesimpulan: Setelah dikontrol oleh kovariat status gizi ibu menyusui, kurang vitamin A pada ibu menyusui berpengaruh secara signifikan terhadap rendahnya kadar vitamin A dalam ASI
FAKTOR RISIKO HIPERTENSI PADA WANITA HAMIL DI INDONESIA (ANALISIS DATA RISKESDAS 2013)
Pendahuluan : Hipertensi (termasuk preeklampsi) pada wanita hamil terjadi pada sekitar 10% dari kehamilan di seluruh dunia dan menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada ibu dan bayi yang dilahirkannya. Diperkirakan 13 persen angka kematian ibu disebabkan oleh hipertensi pada kehamilan. Tujuan : mempelajari faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada wanita hamil di Indonesia Metode : Penelitian ini adalah studi observasional analitik dengan desain cross sectional study, menggunakan data Riskesdas 2013. Hasil :Hipertensi pada wanita hamil di Indonesia 2013 sebesar 6,3%. Determinan hipertensi pada wanita hamil adalah riwayat pernah didiagnosis hipertensi (OR : 5,1), status gizi yang digambarkan oleh lingkar lengan atas (LILA)> 30 cm (OR : 2,9), umur diatas 35 tahun (OR : 1,8), kebiasaan makan makanan asin tiap hari (OR : 1,6), pendidikan kurang dari SMP (OR : 1,6), dan kawasanbukan Jawa-Bali (OR : 1,3), kesemuanya signifikan secara statistik (p<0,05). Kesimpulan : hipertensi pada wanita hamil utamanya dikarenakan riwayat hipertensi sebelumnya, usia > 30 tahun, status gizi lebih (LILA > 30 cm), kebiasaan makan makanan asin tiap hari, dan pendidikan rendah (< SMP). Saran :dalam upaya promotif-preventif hipertensi, penyuluhan diutamakan pada kelompok berisiko
Herbal Therapy Assessment Study in Holistic at Jamu Registry
Background: The Study of Jamu Registry has been done, which is an observational longitudinal study to record the treatment of herbal medicine by physician practices. Respondents are a network of physicians who practice herbal medicine as complementary services. Methods: As researchers did not introduce any interventions, the study is basically observational study. Result: From patient’s jamu medical data records, wich is delivered to Registry Center, there were 1452 patients visited, divided into 908 initial visits and 544 follow-up visits. The most usage of the modalities was jamu (63.5%), followed by combination of jamu and conventional drug (22.26%) and jamu combined body-based therapy (5.2%). Assessment holistic therapy can be enhanced by the patient’s symptoms (anamnesis) and scores of Quality of Life (QoL) on the second visit (372 patients). There were a decrease of all the symptoms, the most decrease was common symptom (30%), respiratory tract (21.3%), musculoskeletal (15.5%), neurological (11.4%), gastrointestinal (10.2%), cardio vascular (1.5%) and urinary tract symptoms (3.8%). Based on the modalities given to the patient, who stands out is that the administration of jamu, lowering the general, musculoskeletal and neurological symptom. The combination of herbal medicine and conventional drug lowers the common and neurological symptom. Improvement of Quality of life patients can described as Qol “improved” category rising 20.1%, Qol “settled” category decreased 20.0% and “worsten” category decreased 1%. Conclusion: Based on type of modality used, there was increasing the value of improved QoL categories, respectively: the combination of herbal and conventional drugs, a combination of herbs and body based therapy, and combination jamu, body based therapy and conventional drugs. Recommendation: improvement of holistic therapy in the registry jamu can be used as a baseline formula of jamu, which can be developed for clinical observational studies or clinical trials
POLA PERESEPAN TANAMAN OBAT ANTIDIABETES DI RUMAH RISET JAMU “HORTUS MEDICUS” TAWANGMANGU PERIODE JANUARI-MARET 2016
Diabetes is a degenerative disease characterized by hyperglycemia condition. The change of lifestyle is the main risk factor of DM. In addition to the conventional treatment using modern drug, medicinal plants can be used as complementary therapy. The aim of this study was to identify the prescribing profiles of medicinal plants used to treat patients with DM during January-March 2016. Retrospective descriptive cross sectional study design was used in this study with 242 diabetic related prescriptions from January to March were evaluated. Medicinal plant that prescribed most for DM were bay leaf 239 prescriptions (98,72%), Tinospora crispa 236 prescriptions (97,44%), while gotu kola 146 prescriptions (60,26%), cogone grass 133 prescriptions (55,13%) and alexia 133 prescriptions (55,13%) were prescribed often. Prescribing profile that widely used were a combination of Tinospora crispa, bay leaf and gotu kola as many as 113 prescriptions (46.69%) and combination of Tinospora crispa and bay leaf as many as 99 prescriptions (40.91%).AbstrakDiabetes merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan hiperglikemia yang angkanya cukup tinggi di Indonesia. Pola hidup masyarakat yang telah banyak berubah merupakan faktor resiko terjadinya DM. Penyakit ini selain dapat diatasi dengan obat-obatan modern juga dapat diatasi dengan pengobatan alami dengan memanfaatkan tanaman obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemilihan jenis simplisia untuk pasien DM yang diresepkan pada RRJ Hortus Medicus pada periode Januari-Maret 2016. Desain penelitian potong lintang deskriptif retrospektif dengan sampel 242 resep pasien yang berobat di Rumah Riset Jamu ”Hortus Medicus” Tawangmangu pada bulan Januari tahun 2016 dengan pasien yang terdiagnosis oleh dokter menderita DM, dan mendapatkan jamu dalam bentuk simplisia. Tanaman obat yang yang paling banyak diresepkan pada pasien DM adalah salam (Eugenia polyantha) 239 resep (98,72%) dan brotowali (Tinospora crispa) 236 (97,44%), sedangkan yang terkadang digunakan adalah pegagan (Centela asiatica) 146 resep (60,26%), alang (Imperata cylindrica) 133 resep (55,13%) dan pulosari (Alexia reindwartii) 133 resep (55,13%). Pola peresepan antidiabetes yang paling banyak digunakan adalah kombinasi brotowali, salam, dan pegagan sebanyak 113 resep (46,69%) dan kombinasi brotowali dan salam sebanyak 99 resep (40,91%)
Gambaran Mikroksopis, Molekular dan Klinis Kasus Malaria Hasil Survey Darah Masal di Kabupaten Katingan dan Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah
Teknik Long Polymerase Chain Reaction (LPCR) Untuk Perbanyakan Kerangka Baca Terbuka Gen Pengkode Polimerase Virus Hepatitis B
Teknik PCR dapat dikembangkan untuk mengamplifikasi potongan DNA dengan ukuran panjang. Salah satu teknik yang digunakan adalah Long PCR (LPCR). Teknik LPCR sering digunakan untuk mengamplifikasi gen atau potongan DNA yang berukuran lebih panjang ketika PCR standar tidak dapat diaplikasikan untuk amplifikasi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh kerangka baca terbuka gen pengkode polimerase virus hepatitis B (PolHBV) menggunakan metode LPCR, dan menentukan urutan nukleotida potongan DNA tersebut. Amplifikasi dilakukan menggunakan Taq polimerase. Kerangka baca terbuka gen pengkode PolHBV telah berhasil diamplifikasi dengan LPCR yang telah dimodifikasi. Hal tersebut diindikasikan dengan keberadaan pita DNA berukuran pasangan basa (bp) pada elektroforesis gel agarosa yang mendekati ukuran teoritisnya yaitu 2532 bp. Hasil penentuan urutan nukleotida parsial menunjukkan bahwa potongan DNA yang diperoleh memiliki homologi 98% dengan gen PolHBV yang dideposit di GenBank.Technique of PCR can be improved to permit the amplification of longer DNA fragment. One of this technique is Long PCR (LPCR). LPCR is often used to amplify larger genes or large segment of DNA which standard PCR is not applicable. The objective of this study is to obtain the open reading frame of gene encoding polymerase of HBV (polHBV) using LPCR method, and to determine the nucleotide sequence of DNA fragment encoding polHBV. The amplification was conducted using Taq polymerase. The open reading frame of gene encoding polHBV was successfully amplified using modified LPCR method. It was identified by a band between 2000 dan 3000 base pairs (bp) DNA marker. The determination of nucleotide sequence informed that DNA fragment obtained was 98% homologue to the gene encoding PolHBV deposited on GenBank.
Pengetahuan dan Perilaku Masyarakat dalam Pencegahan Demam Berdarah Dengue di Provinsi Jawa Barat dan Kalimantan Barat
Abstract. Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a public health problem in tropical regions and caused the social and economic impacts. The rapid spread of dengue fever due to dengue virus easily infect humans and supported by the attitudes and knowledge about the lack of this disease prevention. The aim of this research is to determine the knowledge and habits of society to control the prevention of Dengue Hemorrhagic Fever in West Java and West Kalimantan. This study using a cross sectional design with a questionnaire as an instrument of research, conducted on 600 respondents in four City / County that has the most high endemicity related to the research problem, which is taken by simple random sampling. The results showed 92.8% of respondents had never heard of dengue fever, 77% of respondents have knowledge of dengue as infectious diseases, 81.5% of respondents know the modes of transmission of dengue by mosquito bites and about 63.7% of respondents take precautions through PSN (Breeding place control) plus Abate. This study revealed that the knowledge towards the prevention of dengue fever in the two provinces still classified as less positive, as well as people's habits which is still relatively poor in controlling the dengue.Keywords: Knowledge, Behavior, dengue feverAbstrak. Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di wilayah tropis, yang menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Penyebaran Demam Berdarah Dengue secara pesat karena virus dengue semakin mudah dan banyak menulari manusia didukung oleh sikap dan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan penyakit yang masih kurang. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengetahuan, dan perilaku masyarakat terhadap pengendalian pencegahan DBD di Provinsi Jawa Barat dan Kalimantan Barat. Rancangan penelitian menggunakan Cross Sectional dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian, dilakukan pada 600 responden pada empat Kota/Kabupaten yang mempunyai endemisitas yang paling tinggi yang berkaitan dengan masalah penelitian, yang diambil secara simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan 92,8 % responden tidak pernah mendengar Demam Berdarah Dengue, 77 % responden memiliki pengetahuan Demam Berdarah Dengue sebagai penyakit menular, 81,5 % responden memiliki pengetahuan cara penularan Demam Berdarah Dengue dengan gigitan nyamuk dan sebesar 63,7 % responden melakukan tindakan pencegahan melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk. Kesimpulan yang didapatkan yaitu pengetahuan dan kebiasaan masyarakat terhadap pencegahan Demam Berdarah Dengue di Provinsi Jawa Barat dan Kalimantan Barat tergolong masih kurang dalam pengendalian Demam Berdarah Dengue di lokasi penelitian.Kata kunci : Pengetahuan , Perilaku, Pencegahan, Demam berdarah dengue