e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
Ketersediaan Fasilitas dan Tenaga Kesehatan dalam Mendukung Cakupan Semesta Jaminan Kesehatan Nasional
Ketidakmerataan ketersediaan fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan dan kondisi geografis yang sangat bervariasi, menimbulkan potensi melebarnya ketidakadilan pemanfaatan kesehatan pada masyarakat di beberapa wilayah di Indonesia. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan (khususnya dokter spesialis) dalam mendukung pelaksanaan JKN. Berdasarkan hasil penelitian terbukti bahwa ketersediaan faktor suplai (FKTL, TT, dan tenaga dokter spesialis) dalam mendukung kebijakan JKN secara umum jumlahnya masih belum mencukupi serta distribusinya belum merata di setiap wilayah kab/kota. Rasio FKTP dan FKTL per penduduk cenderung lebih tinggi di wilayah luar Jawa/ Bali. Rasio dokter spesialis per penduduk lebih tinggi di wilayah Jawa/Bali, sedangkan rasio TT di RS cenderung hampir sama range-nya di semua wilayah. Distribusi penyebarannya cenderung tidak merata hampir di semua wilayah. Rekomendasi bagi Pemerintah Daerah diharapkan mempunyai komitmen untuk memenuhi dari sisi suplai pelayanan kesehatan agar penduduk yang sakit dapat mengakses fasilitas kesehatan dengan mudah.Keywords: Fasilitas, tenaga, tempat tidur, rasio rumah sakit, suplai layanan kesehata
Pengorganisasian Desa Siaga di Kabupaten Timor Tengah Utara dalam Upaya Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak (Studi di Desa Tuabatan, Desa Noeltoko dan Desa Noepesu)
Organizing Alert Village is one of the efforts made by the North Central Timor Regency for improving maternal and child health. This study aims to assess the viability and form of participation in the organization of the standby system in particular at the level of the village as well as the specific tradition naketi. The study was conducted in August-November 2012 at the village health center Bijaepasu Tuabatan in the region, as well as the village health center Noeltoko and Noepesu region Eban. Types of non-intervention research with exploratory design. Information was obtained through in-depth interviews and direct observation. As informants are community leaders, religious leaders, LKMD, midwives and members of the network. There were six networks in each village that notification, transportation, planning, funding, and Blood Exclusive breastfeedin, but there is also a network of Community Total Sanitation (STBM) in Tuabatan Village and Disaster networking in Noeltoko Village.Networking meetings are conducted regularly every month, led the meeting with an agenda initiator activity reports of each network , the problems that occurred during the current month as well as alternative solutions. There is a common tradition Naketi at between 7-9 months of gestation, namely the recognition of the wives to their husbands face to face followed by recantation married to a big family (parents/in-laws). Community-based alert system through idle villagers networking proved effective enough to increase public awareness of health in their communities. Indicators of success, terdatanya all pregnant women and women giving birth by the people themselves through their networks, not by medical personnel. All efforts deliveries in health facilities involves a commitment with all networks. Discussion and dialogue is quite intensive in networking meeting to adequately describe their high spirits for the improvement of health in their village. Naketi tradition as a form of local knowledge that is positive for minimal preparation before delivery of maternal psychological side.Naketi as positive tradition form of local wisdom for preparation before delivery. Recomendations: Do allert village establishment in another village with civil society organization and the participation support of the head of the village and across sectors. AbstrakPengorganisasian Desa Siaga merupakan salah satu upaya yang dilakukan Kabupaten Timor Tengah Utara dalam peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak. Penelitian ini bertujuan mengkaji keberlangsungan dan wujud partisipasi masyarakat dalam pengorganisasian sistem siaga khususnya di tingkat desa serta tradisi spesifik naketi. Penelitian dilakukan pada tahun 2012 di Desa Tuabatan wilayah Puskesmas Bijaepasu, serta Desa Noeltoko dan Noepesu wilayah Puskesmas Eban.Jenis penelitian non intervensi dengan desain eksploratif.Informasi diperoleh melalui wawancara mendalam dan pengamatan langsung.Sebagai informan tokoh masyarakat, tokoh agama, LKMD, bidan desa dan anggota jejaring. Terdapat enam jejaring di masing-masing desa yaitu Notifikasi, Transportasi, KB, Dana, ASI Eksklusif dan Golongan Darah, namun juga terdapat jejaring Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Tuabatan dan jejaring Siaga Bencanadi Desa Noeltoko. Pertemuan jejaring dilakukan secara berkala tiap bulan,dipimpin inisiator pertemuan dengan agenda laporan kegiatan, masalah yang terjadi selama bulan berjalan serta alternatif pemecahannya. Terdapat tradisi Naketi yang biasa dilakukan pada waktu usia kehamilan antara 7–9 bulan, yaitu pengakuan kesalahan istri kepada suami dengan cara bertatap muka dilanjutkan pengakuan kesalahan suami istri kepada orang tua/mertua. Pengorganisasian Desa Siaga terbukti cukup efektif untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan warga desanya. Indikator keberhasilan adalah terdatanya semua ibu hamil dan ibu bersalin oleh masyarakat sendiri lewat jejaring, bukan oleh tenaga kesehatan.Semua upaya persalinan pada fasilitas kesehatan menjadi komitmen bersama melibatkan semua jejaring.Tradisi Naketi merupakan wujud kearifan lokal yang positif bagi persiapan menjelang persalinan. Dilakukan pembentukan Desa Siaga di desa yang lain dengan swadaya masyarakat dan mendapatkan dukungan dari Kepala Desa serta lintas sektor
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN SITOTOKSIK EKSTRAK METANOL KULIT BATANG KAMBOJA (Plumeria acuminata) TERHADAP SEL KANKER LEHER RAHIM
Kanker leher rahim adalah kanker pada leher rahim yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18. Kanker leher rahim merupakan penyebab kematian terbesar pada wanita di negara berkembang, sehingga diperlukan suatu pengembangan pengobatan berbasis ekstrak senyawa aktif tanaman Indonesia. Kulit batang kamboja (Plumeria acuminata) dilaporkan memilki aktivitas antioksidan dan potensi bahan antikanker. Kulit batang kamboja diekstraksi dengan metode maserasi bertingkat dan identifikasi kandungannya menggunakan metode spektrofotometri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan sitotoksik ekstrak metanol kulit batang kamboja terhadap sel kanker leher rahim (sel HeLa). Aktivitas antioksidan diukur dengan metode spektrofotometri menggunakan DPPH. Aktivitas sitotoksik terhadap sel HeLa dilakukan dengan metode MTT assay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol kulit batang kamboja bersifat antioksidan, dengan memiliki nilai IC50 sebesar 136,43 ppm. Aktivitas sitotoksik ekstrak metanol kulit batang kamboja terhadap sel HeLa sebesar 8,38 ppm. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak metanol kulit batang kamboja berpotensi sebagai bahan antikanker leher rahim. Kata Kunci : kanker leher rahim, kulit batang kamboja, antioksidan, sitotoksik, dan sel HeL
Sebaran Nyamuk Vektor Di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi
AbstractMosquito-borne disease still a public health problem, both in urban and rural areas, such as: dengue hemorrhagic fever (DHF), malaria, lymphatic filariasis (elephantiasis), chikungunya and japanese encephalitis. Muaro Jambi is one of regencies in Jambi Province were found to vector borne diseases. The aim of this study is to get more information about the mosquito diversity in Muaro Jambi Regency for comprehensive data. The activities carried out are catching mosquitoes at night using human landing and resting collection methods. There were a total of 1.722 mosquitoes of four genera were collected (Aedes, Anopheles, Culex and Mansonia) that consists of 24 species. The results of this study give additional information on the diversity of mosquitoes found in Muaro Jambi Regency.Keywords: Mosquito, vector, Muaro Jambi RegencyAbstrakPenyakit yang ditularkan oleh nyamuk masih merupakan masalah kesehatan bagi masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan, seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis (kaki gajah), chikungunya dan japanese encephalitis. Muaro Jambi merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jambi yang ditemukan beberapa penyakit tular vektor. Tujuan penelitian ini adalah untuk menambah informasi mengenai fauna nyamuk di Kabupaten Muaro Jambi untuk mendapatkan data yang komprehensif. Kegiatan yang dilakukan yaitu penangkapan nyamuk pada malam hari dengan metode human landing collection dan nyamuk istirahat (resting collection). Sebanyak 1.722 ekor nyamuk berhasil diangkap yang terdiri dari empat genera (Aedes, Anopheles, Culex dan Mansonia) meliputi 24 spesies. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi mengenai keragaman nyamuk yang ditemukan di Kabupaten Muaro Jambi.Kata Kunci: Nyamuk, vektor, Kabupaten Muaro Jamb
Potensi Tanaman Di Indonesia Sebagai Larvasida Alami Untuk Aedes aegypti
AbstractDengue Hemorrhagic Fever (DHF) still become one of the health problems in Indonesia. This disease has emerged since 1968 and has become one of the deadliest disease in various regions in Indonesia. Indonesia has not implemented an effective dengue vaccine program to provide protection against all four serotypes of the dengue virus. Vector control using chemical insecticides has made the vectors resistant to the insectisides. One option to avoid those bad effect is natural larvicide. The lack of literature that can be used as a foundation for further studies on the natural larvicidal is the reason why a review of several articles and research results is needed. We use the method of literature review. Our literature reveals that 68% of the 25 plants species are categorized as highly effective with LC50 <750 ppm. Jasmine, Zodia and Tobacco have the highest effectivity compared to the other plants use in this literature review. The LC50 of these plants are 0.999 ppm, 1.94 ppm, and 1.94 ppmrespectively. All twenty five plants that we present suitable to be cultivated in the region of Indonesia with tropical climate so that people can easily cultivate and use it as a natural larvicides.Keyword: Natural larvicides, Aedes aegypti, LC50, and essential oilAbstrakPenyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sampai saat ini masih menjadi salah satu permasalahan dunia kesehatan di Indonesia. Penyakit yang muncul sejak tahun 1968 ini telah banyak menelan korban di berbagai daerah dan hingga saat ini, Indonesia belum menerapkan program vaksin yang efektif untuk memberikan perlindungan terhadap empat serotipe dari virus dengue. Pengendalian vektor menggunakan bahan insektisida kimiawi banyak memberikan efek resisten terhadap insektisida tersebut. Salah satu pilihan untuk menghindari hal tersebut dibutuhkan adanya larvasida alami. Oleh karena masih tersebarnya informasi yang dapat dijadikan dasar untuk studi lanjut mengenai larvasida alami, maka tulisan ini merangkum dari beberapa hasil penelitian. Berdasarkan hasil penelusuran pustaka diperoleh informasi bahwa 68% dari 25 jenis tanaman memiliki efektifitas yang tinggi LC50<750 ppm. Melati, Zodia dan Tembakau merupakan tanaman dengan efektifitas yang paling tinggi dibandingkan dengan yang lainnya dengan nilai LC50 yaitu 0,999 ppm, 1,94 ppm dan 1,94 ppm. Kedua puluh lima tanaman yang kami sajikan cocok dibudidayakan di wilayah Indonesia dengan iklim tropis sehingga masyarakat dapat dengan mudah membudidayakannya dan memanfaatkannya sebagai larvasida nabati.Kata Kunci: Larvasida alami, Aedes aegypti, LC50, dan minyak atsiri
Indeks Entomologi Dan Transmisi Transovari Yang Mendukung Peningkatan Kasus Demam Berdarah Dengue Di Kabupaten Banjarnegara
AbstractDengue hemorrhagic fever (DHF) is a well-known, important arboviral disease transmitted by Aedes aegypti. The capacity of Ae.aegypti to transmit dengue virus transovarially is still controversial. The current study was conducted to elucidate the potential of Ae. aegypti mosquitoes in Wanadri village, Banjarnegara Regency, to transmit dengue virus transovarially in the wild, by determining the presence of dengue virus within adult stages from developed larvae. This was a descriptive observational study. Ae. aegypti larvae were collected from Wanadri village. The collected larvae were reared to 7 days old mosquito in laboratory. Viral examination used RT-PCR technique with 4 primer serotypes specific against dengue viruses (DEN-1, DEN-2, DEN-3, and DEN-4). The results showed that House index and Container index in Wanadri village were found to be 21.7% dan 15.9%. RT-PCR assay showed the formation of bands conforming to base pair of DEN-3. The remaining groups did not show any dengue viral base-pair bands. It was concluded that entomological aspect in Wanadri village were strongly support the indigenous transmission of Dengue virus.Keywords: Dengue hemorrhagic fever (DHF), transovarial transmission (TOT), Aedes aegypti, BanjarnegaraAbstrakDemam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit arboviral yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Kapasitas Ae. aegypti untuk menularkan virus dengue transovari masih perlu dikaji lebih jauh. Studi ini dilakukan untuk menjelaskan potensi Ae. aegypti di desa Wanadri, Kabupaten Banjarnegara untuk menularkan virus dengue transovari di alam, dengan menentukan keberadaan virus dengue pada nyamuk dewasa yang dikumpulkan sejak stadium larva. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional. Sampel penelitian berupa larva yang diambil dari Desa Wanadri, Banjarnegara. Larva dipelihara menjadi nyamuk dewasa hingga mencapai umur 7 hari. Pemeriksaan virus menggunakan teknik Reverse Transcription-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) dengan 4 serotipe primer terhadap virus Dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai House Index dan Container Index di Desa Wanadri adalah sebesar 21,7% dan 15,9%. Pemeriksaan PCR menunjukkan adanya pita DNA pada posisi yang sesuai dengan posisi DEN-3. Serotipe yang lain tidak ditemukan. Disimpulkan bahwa aspek entomologi di Desa Wanadri sangat mendukung transmisi setempat virus dengue.Kata Kunci: Demam berdarah dengue (DBD), transmisi transovari, Aedes aegypti, Banjarnegar
Deteksi Leptospira Patogen Pada Tersangka Penderita Leptospirosis Di Kabupaten Ponorogo
AbstractUp to March 2012, there were increasing leptospirosis cases in Ponorogo. A total of 11 cases of leptospirosis were reported by the Ponorogo District Health Center. This study aims to detect pathogenic Leptospira bacteria using Polymerase Chain Reaction (PCR) in suspected leptospirosis in Ponorogo. Collection of blood samples carried out by the local health care medical personnel (doctor, midwife or nurse) was accompanied by a team of researchers. Subjects were people with fever (temperature >380C) or fever accompanied by headache, muscle aches, and rash conjunctivitis. Blood and urine samples were taken purposively. Active case detection was also conducted in communities around the previous patients who had a history of infection risk and relationship of leptospirosis. Further blood samples examined by two different methods, Lepto Tek Lateral Flow and Polymerase Chain Reaction (PCR). Ninety blood and urine samples was collected. Four samples were positive for pathogenic Leptospira DNA consisted of two samples of blood (whole blood) and two samples of urine. PCR-positive samples in the blood has negative results of Lepto Tek examination. While the PCR-positive samples in the urine, Lepto Tek was positive. Lepto tek showed lower sensitivity in early detection of leptospirosis. Examination of blood and urine samples using PCR can support the early discovery of leptospirosis cases.Keywords: Leptospirosis, Ponorogo, PCRAbstrakSampai dengan bulan Maret 2012 terjadi peningkatan kasus leptospirosis di Ponorogo. Sebanyak 11 kasus leptospirosis dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi bakteri Leptospira patogen menggunakan teknik Polimerase Chain Reaction (PCR) pada tersangka penderita leptospirosis di Kabupaten Ponorogo. Pengumpulan sampel darah dilakukan oleh tenaga medis Puskesmas setempat (dokter, bidan atau perawat) didampingi oleh tim peneliti terhadap penduduk yang mengalami demam (suhu badan > 380C) atau demam disertai sakit kepala, nyeri otot, kongjungtivitis dan ruam. Selain sampel darah, diambil pula sampel urin. Pencarian kasus juga dilakukan pada masyarakat di sekitar penderita sebelumnya yang memiliki risiko dan hubungan riwayat penularan leptopsirosis. Selanjutnya sampel darah diperiksa dengan dua metode berbeda yaitu menggunakan Lepto Tek Lateral Flow dan metode Polimerase Chain Reaction (PCR). Hasil pengumpulan sampel diperoleh 90 sampel darah dan 90 sampel urin. Ditemukan 4 sampel yang positif mengandung DNA Leptospira patogen, dua sampel dari darah (whole blood) dan dua sampel dari urin. Sampel yang menunjukkan hasil positif pemeriksaan PCR pada darah, namun hasil pemeriksaan Lepto Tek-nya negatif, sedangkan sampel positif pemeriksaan PCR pada urin, hasil Lepto Tek-nya positif. Deteksi dini Leptospirosis menggunakan Lepto Tek menunjukkan sensitivitas rendah. Pemeriksaan sampel darah dan urin menggunakan metode PCR dapat mendukung upaya penemuan kasus leptospirosis sejak dini. KataKunci: Leptospirosis, Ponorogo, PCR
Vaksin Malaria : Perkembangan dan Tantangan
Salah upaya strategis pengendalian malaria yang saat ini tengah intensif dikembangkan oleh para peneliti dunia adalah pengembangan vaksin malaria. Raja Microsoft sekaligus salah satu orang terkaya di dunia turut mendanai program pengembangan vaksin malaria. Tantangan utama dalam pengembangan vaksin malaria yang efektif adalah kemampuan memberikan perlindungan terhadap berbagai bentuk parasit malaria.3 Tantangan utama lainnya adalah para peneliti vaksin malaria belum memahami respons imun spesifik (specific immune responses) kaitannya dengan perlindungan terhadap parasit. Oleh karena parasit malaria bersifat sangat kompleks, maka arah pengembangan vaksin dilakukan dengan beberapa pendekatan yang berbeda. Banyak yang percaya bahwa beberapa pendekatan ini mampu mencapai tingkat kemanjuran (efficacy) yang tinggi