e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
Keberhasilan Pengobatan Massal Filariasis di Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan
ABSTRAK Kecamatan Kusan Hulu merupakan salah satu daerah endemis filariasis di Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan yang telah melaksanakan program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) filariasis secara parsial mulai tahun 2012 dan secara serentak di seluruh Kabupaten Tanah Bumbu mulai tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui endemisitas filariasis pasca POPM pertama pada tahun 2015 di Kecamatan Kusan Hulu dengan melakukan survei darah jari untuk mengetahui microfilaria rate dan mengetahui jenis mikrofilaria. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Kusan Hulu mulai bulan Maret-November tahun 2015. Hasil survey darah jari menunjukkan mf rate sebesar 0,4% dari 500 penduduk. Jenis mikrofilaria yang ditemukan adalah Brugia malayi. Kedua penderita positif berjenis kelamin laki-laki dengan umur >45 tahun. Terjadi penurunan angka mf rate di Kecamatan Kusan Hulu dari sebelum POPM dibandingkan dengan setelah dilaksanakan POPM pertama yaitu dari 12,37% pada tahun 2008, dan 0,91 % pada tahun 2011 menjadi 0,4% pada tahun 2015, sehingga wilayah tersebut menjadi nonendemis (mf rate <1%). Kata kunci: filariasis, pengobatan massal, Kusan Hulu, Tanah Bumbu ABSTRACT Kusan Hulu Sub-district is one of filariasis endemic areas in Tanah Bumbu District of South Kalimantan Province which has implemented partial Mass Drug Administration (MDA) filariasis program starting in 2012 and simultaneously in all area of Tanah Bumbu District starting in 2015. This study aims to determine endemicity filariasis after the first MDA in 2015 in Kusan Hulu Sub-district by conducting a finger blood survey to determine microfilaria rate and know the type of microfilariae. The design of this study was cross sectional. The study was conducted in Kusan Hulu sub-district from March to November 2015. The results of the finger blood survey showed a mf rate of 0.4% of the 500 population. The type of microfilariae found was Brugia malayi. Both positive patients were of male sex with age> 45 years. There was a decrease in mf rate in Kusan Hulu Sub-district from before MDA compared to after the first MDA was conducted from 12.37% in 2008, and 0.91% in 2011 to 0.4% in 2015, so the area became nonendemic (mf rate <1%). Keywords: filariasis, mass drug administration, Kusan Hulu, Tanah Bumb
STATUS VITAMIN A BERDASARKAN DURASI PEMBERIAN ASI Vitamin A Status Based on Breastfeeding Duration
Background. Breastmilk is the best source of vitamin A for children in their early life. However in Indonesia breast feeding practices is still unsatisfactory. This problem can lead to vitamin A deficiency which leads to delayed growth in children. Objective. To study status of vitamin A based on breastfeeding duration. Method. This was an analytic observational study using cross sectional design. Subject of were 89 (12-36 months) children. History of breastfeeding duration was obtained from the result of structured interview with mothers. Vitamin A status measured by HLPC (high performance liquid chromatography) in the SEAMEO-RECFON UI laboratory. Data were analyzed with t- test. Result. The study found 2 underweight subject and 15 severe stunted children. Average duration of breastfeeding was 16 months. The prevalence of exclusive breastfeeding practices was extremely low (2%). Average vitamin A status was 1.59±044 μmol/L There was significant difference in vitamin A status based on the duration of breastfeeding (p=0.02). Children that got breastfeed more than 6 months had lower vitamin A than those who got breastfeed less than 6 months. Conclusion. There was difference of vitamin A status based on breastfeeding duration
KEBIASAAN AKTIVITAS FISIK PASIEN DIABETES MELLITUS TERHADAP KADAR GULA DARAH DI RUMAH SAKIT UMUM dr. FAUZIAH BIREUEN
ABSTRAK Latihan fisik merupakan salah satu pilar penatalaksaan diebets melitus. Latihan fisik teratur bersifat aerobic pada penderita diabetes dapat memperbaiki sensitivitas insulin dan menurunkan penyakit kardiovaskular. Penelitian merupakan analisis lanjut dari penelitian Riset Pembinaan Kesehatan tahun 2014. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum dr.Fauziah Bireuen dengan jumlah subjek 37 pasien dengan diabetes dan 48 pasien non diabetes. Data dianalisis secara bivariat menggunakan uji korelasi. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar glukosa darah puasa pasien DM dengan aktivitas fisik dan olah raga. Pada pasien non DM menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar glukosa darah puasa dengan aktivitas fisik. Namun terdapat hubungan yang signifikan antara kadar gula darah puasa dengan olah raga. Korelasi antara olahraga dan kadar gula darah berada pada rentang sedang dengan arah korelasi negatif. Dianjurkan bagi pasien non DM agar dapat melakukan olahraga secara teratur dan berkesinambungan untuk mencegah timbulnya penyakit diabetes melitus. ABSTRACT One of diabetes mellitus management is physical activity. Aerobic physical activity for diabetes mellitus improve insulin sensitivity and decrease cardiovascular disease. The research was the further analysis of Riset Pembinaan Kesehatan 2014. The study was conducted at the General Hospital of Bireuen dr.Fauziah by the number of subjects 37 patients with diabetes and 48 nondiabetic patients. Data analyze using a correlation test. There was no significant correlation between fasting blood glucose with physical activity and exercise on diabetic patient. There was no significant correlation between fasting blood glucose and physical activity on nondiabetic patient. But, there was a significant correlation between fasting blood glucose and sport. Correlation between exercise and blood glucose is medium and negative direction. Non-diabetic patient is recommended to exercise routine and regularly to prevent diabetes mellitus
TEKNOLOGI TEPAT GUNA LARVITRAP SEBAGAI ALTERNATIF PENGENDALIAN AEDES AEGYPTI DI DESA PLUMBON PULO, KECAMATAN INDRAMAYU, KABUPATEN INDRAMAYU, PROVINSI JAWA BARAT
ABSTRACT Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is a major public health problem in Indonesia and can lead to epidemics. Ae.aegypti mosquitoes is very important in the transmission of this disease. One way of controlling the population of Ae. aegypti mosquitoes was done by using appropriate technology (TTG) larvitrap. This study was aimed to determine the preference and effectiveness of larvitrap TTG against Ae. aegypti. The research was conducted in Plumbon Pulo Village, Indramayu District, Indramayu Regency, West Java Province with experimental design at population level (community). The sample size was 546 larvitrap. Preferences test results showed that 72.0% of larvitrap TTG successfully trapped Ae aegypti larvae. The color and placement height do not affect the effectiveness of the larvitrap TTG. The straw water soaking media (polluted water) was the most preferred medium for Ae. Aegypti as a breeding habitat compared to other aquatic media. It can be concluded that the larvitrap TTG is suitable for Ae. aegypti habitat. so it can be used as an alternative to effective mosquito larvae control. Keywords: TTG larvitrap, Ae.aegypti, preferences, DHF ABSTRAK Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia dan dapat menimbulkan epidemi. Nyamuk Ae.aegypti sangat berperan dalam penularan penyakit ini. Salah satu cara pengendalian populasi nyamuk Ae. aegypti dilakukan dengan menggunakan teknologi tepat guna (TTG) larvitrap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi dan efektivitas TTG larvitrap terhadap Ae. aegypti. Penelitian dilaksanakan di Desa Plumbon Pulo, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat dengan desain eksperimental di tingkat populasi (masyarakat). Jumlah sampel sebanyak 546 larvitrap. Hasil uji preferensi menunjukkan bahwa 72,0% TTG larvitrap berhasil menjebak jentik nyamuk Ae. aegypti. Warna dan ketinggian penempatan TTG lavitrap tidak mempengaruhi efektivitas TTG larvitrap. Media air rendaman jerami (air terpolusi) merupakan media yang paling disukai bagi Ae. aegypti sebagai habitat berkembang biak dibandingkan dengan media air lainnya. Dapat disimpulkan bahwa TTG larvitrap sesuai untuk habitat Ae. aegypti, sehingga dapat digunakan sebagai alternatif pengendalian larva nyamuk yang efektif. Warna dan ketinggian penempatan tidak mempengaruhi efektivitas TTG larvitrap. Kata kunci: TTG larvitrap, Ae.aegypti, preferences, DB
Pengaruh Seragamisasi Celana/Rok Panjang dalam Mencegah Kejadian Demam Berdarah Dengue pada Siswa Sekolah Dasar
ABSTRAK Demam Berdarah Dengue masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, khususnya di Kota Semarang. Berdasarkan data tahun 2014 dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, DBD dialami oleh kelompok umur 1-14 tahun sebanyak 1.065 penderita (65%), sedangkan pada kelompok anak usia 6-12 tahun tercatat 336 penderita (20,6%). Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kejadian DBD pada anak-anak adalah pemakaian celana/rok panjang, penggunaan repellent, pemasangan kelambu, pemasangan kasa nyamuk. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah pemakaian celana/rok panjang dapat mencegah kejadian DBD pada siswa sekolah dasar. Desain yang digunakan adalah studi case control. Total sampel adalah 160 anak (tiap kelompok 80 anak) dipilih secara proporsional random sampling dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data secara bivariat dengan uji chi-square dan multivariat dengan uji regresi logistik. Terdapat 2 variabel yang berpengaruh terhadap kejadian DBD pada anak sekolah yaitu pemakaian celana/rok panjang di rumah (p=0,003; OR=2,781; 95% CI=1,412-5,476), pemasangan kasa di jendela rumah (p=0,018; OR=2,462; 95% CI=1,166-5,200). Hasil penelitian ini menunjukkan faktor pelindung gigitan nyamuk yang terbukti paling berpengaruh terhadap kejadian DBD adalah pemakaian celana/rok panjang di rumah, kemudian diikuti oleh faktor pemasangan kasa nyamuk di jendela rumah. Kata kunci: Demam Berdarah Dengue, celana/rok panjang, siswa SD ABSTRACT DHF is still remains a health problem in Indonesia, especially in Semarang City. Based on data from Semarang City Health Office at 2014, DHF affected the age group 1-14 years as many sufferers of 1,065 (65%), in children ages 6-12 years old groups only has recorded 336 sufferers (ITP 20.6%). Several protective factors that prevent mosquito bite in children is wearing pants/skirt length, use of repellent, installation of bednet, and installation of net mosquitoes. The aims of this research was toprove whether wearing long pants/skirt could prevent the occurrence of DHF in elementary students. The design was a case control study. Total sample was 160 children (80 children per group) selected by proportional random sampling with due regard to inclusion and exclusion criteria. Data analysis was bivariate with chi-square test and multivariate logistic regression. There were variables that may prevented the incidence of DHF in school children which were wearing pants/long skirts at home (p=0.003; Or=2,781; 95% CI=1,412-5,476), installation of net mosquitoes in the windows (p=0,018; Or=2,462; 95% CI=1,166-5,200). Results of this research showed that the occurrence of DHF in children can prevented by wearing pants/long skirts at home, and the installation of net mosquitoes at windows home. Keywords: DHF, pants/long skirt, elementary students
Evaluasi Keamanan dan Manfaat Ramuan Jamu untuk Hiperurisemia
AbstractHyperuricemia is a condition where there is an elevated blood uric acid level above normal range. Hyperuricemia occurs due to increased uric acid metabolism, decreased uric acid expenditure, or a combination of both. The Jamu formula containingPiper retrofractum, Plantago majorandApiumgraveolens have the potential to overcome hyperuricemia. This study aims to evaluate the safety and efficacy of formula inhuman subjects with hyperuricemia. The method used was pre and posttest design for 28 days. Safety parameters were assessed by renal function (urea and creatinine) and liver function (SGOT and SGPT). The parameters of efficacy were measured by uric acid change (H0, H14, and H28), improvement of clinical symptoms and quality of life (SF-36). This study showed that kidney and liver function still in the normal rangeafter28 days of intervention. The levels of uric acid showed a significant decrease (p <0.05). Clinical symptoms of the subjectsimproved after 17 daysofintervention. SF-36indicated significant improvement (p <0.05). It can be concluded that the formula was proved to be safe and effective for 28 daysof intervention.Key words: hyperuricemia, jamu, safety, efficacyAbstrakHiperurisemia adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan kadar asam urat darah di atas rentang normal. Hiperurisemia terjadi karena adanya peningkatan metabolisme asam urat, penurunan pengeluaranasam urat, atau gabungan keduanya. Ramuan jamu yang terdiri dari buah cabe jawa (Piper retrofractum), daun sendok (Plantago major) dan herba seledri (Apium graveolens) berpotensi dalam mengatasi hiperurisemia. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi keamanan dan manfaat ramuan jamudengan subjek manusia dengan hiperurisemia. Metode yang digunakan adalah quasi eksperimental pre and post test design selama 28 hari dengan 50 subjek. Parameter keamanan dinilai berdasarkan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin) dan fungsi hati (SGOT dan SGPT). Parameter manfaat dilihat dari perubahan asam urat subjek (H0, H14, H28), perbaikan gejala klinis dan pengukuran kualitas hidup (SF-36). Fungsi ginjal dan hati subjek setelah intervensi dalam rentang nilai normal. Kadar asam urat menunjukkan penurunan yang signifikan (p<0,05). Gejala klinis subjek membaik setelah intervensi selama 17 hari.Perubahan kualitas hidup subjek juga mengalami perbaikan yang signifikan (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa ramuan jamu terbukti aman dan bermanfaat dalam mengatasi hiperurisemia selama 28 hari.Kata kunci: Hiperurisemia, jamu, keamanan, khasia
Perubahan Jumlah Limfosit pada Penderita Malaria Falciparum dan Vivax
AbstractA definitive diagnosis of malaria is done by microscopic examination since it remains the gold standard..Number of leukocytes among malaria patients changes in lymphocyte cells as an indicator of infection.Preparations of blood samples obtained from mass blood survey methods (MBS) in Central Sumba District,2015. There were 50 blood samples of 25 positive fasciparum and 25 positive vivax. It is found 84%increase in lymphocytes in patients with plasmodium falciparum and an increased of 72% of lymphocytescells among patients with plasmodium vivax compared to reference value. The average number of P.falciparum is 39,7200 lymphocytes and P.vivax is of 21,6000. A statistical test found that p value of<0.05 indicating there is a significant difference between the number of lymphocytes in P. falciparumand P. vivax. Iincreased cells significantly found in old stage of trofosoit with a density between 12-4156mL. It can be concluded that significant increase of lymphocyte cells and its morphology of plasmodiumfalciparum and vivax can be used to diagnose malaria patientswith microscopic methods.Keywords: lymphocytes, Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, microscopic AbstrakDiagnosis pasti malaria dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis karena hingga saat ini masihmerupakan "baku emas" Pada penderita malaria dalam darah ditemukan adanya perubahan jumlah selleukosit oleh karena itu penderita dengan perubahan jumlah sel limfosit dihubungkan dengan infeksimalaria. Sampel adalah pasien yang dicari secara aktif di masyarakat dengan metode survei darah masal(MBS) di Kabupaten Sumba Tengah Provisi Nusa Tenggata Timur tahun 2015. Total sampel adalah 50orang positif malaria, terdiri dari positif falciparum 25 orang dan positif vivax 25 orang. Pada penderitamalaria falciparum ditemukan 84% terjadi peningkatan sel limfosit dari nilai rujukan sedangkan malariavivax 72% mengalami peningkatan sel limfosit dan 28% berada dalam nilai rujukan. Rata-rata jumlahlimfosit P. falciparum 39,7200 dan P.vivax 21,6000 hasil uji statistik didapatkan nilai (P) berarti nilai P <0,05 menunjukan ada perbedaan yang signifikan antara jumlah limfosit pada P.falciparum dan P. vivax.Peningkatan sel secara bermakna ditemukan pada stadium trofosoit tua dengan kepadatan antara 12-4156 parasit/μl. Kesimpulan berdasarkan hasil analisis didapatkan jumlah peningkatan sel limfosit padapenderita malaria falciparum dan vivax yang menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan maka dapatdipakai dalam diagnosa mikroskopis malaria penderita positif dengan jumah sel limfosit lebih banyak danditemukan morfologi P.falcifarum.Kata Kunci : persentase limfosit, Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, mikroskopi
Perbandingan Kualitas Pelayanan Puskesmas Kecamatan Koja dan Tarumajaya terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Tuberkulosis
AbstractWHO global data indicated that Indonesia is in the second rank of a country with largest prevalance of pulmonary tuberculosis after India. The main cause of healing failure in health centers is patients’ compliance in taking medication. The purpose of this study is to analyze the influence of health services to medication adherence among pulmonary TB patients in health centers. The study design was crosssectional comparative study using data from questionnaires and medical status records. The populationwas all pulmonary TB patients aged 15 years and above and being a category one in the Koja and Tarumajaya health centers from January until May 2016. Data analysis was a chi square test and multiple logistic regression method. The result showed that service quality provided for the TB patients between the two health centers were the service including accessible location, incomplete indoor facilities and active caregivers. There is a significant relationship between adequacy of seating facilities (p-value 0.038) and accessible location (p-value 0.038) in both health centers on the level of medication compliance. Medication service quality (p-value 0.042; OR 1.66) active caregivers (p-value 0.000; OR 2.4) and otheradditional medication (p-value 0.01; OR 0.5) are the determinants of TB patients’ medication compliance.Keywords: Service quality, adherence, pulmonary tuberculosis, health centerAbstrakWHO menyatakan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara yang mempunyai prevalensi TB paru terbesar setelah India. Penyebab gagalnya penyembuhan pasien TB paru di Puskesmassalah satunya adalah kepatuhan pasien dalam minum obat tuberkulosis. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan pelayanan terhadap kepatuhan minum obat pasien TB paru di Puskesmas. Desain penelitianyang digunakan adalah studi komparatif dengan desain potong lintang menggunakan data kuesioner dan kartu status pengobatan TB paru. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien TB paru berumur 15tahun ke atas kategori satu di Puskesmas Koja dan Tarumajaya pada bulan Januari sampai dengan Mei 2016. Analisis data menggunakan uji chi square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkanbahwa penilaian pelayanan di Koja lebih baik daripada di Tarumajaya dalam hal akses, ketersediaan tempat duduk yang mencukupi dan adanya pengawas minum obat (PMO). Terdapat hubungan yang signifikan antara pelayanan fasilitas tempat duduk yang mencukupi (p-value 0,038) dan lokasi mudah terjangkau (p-value 0,038) di kedua puskesmas terhadap tingkat kepatuhan minum obat. Pelayanan obat yang baik (p-value 0,042; OR 1,66) dan PMO yang aktif (p-value 0,000; OR 2,4) merupakan determinan dalam meningkatkan kepatuhan minum obat pada pasien TB.Kata kunci : Kualitas Pelayanan, Kepatuhan, Tuberkulosis, Puskesma