e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Ekstrak n-Heksana Jinten Hitam (Nigella sativa Linn) Meningkatkan Aktivitas Estrogenik pada Sel CHO-K1

    No full text
      Estrogen berperan dalam proliferasi sel, diferensiasi, dan fungsi organ spesifik. Defisiensi hormon estrogen menimbulkan berbagai gangguan fungsi fisiologis. Fenomena defisiensi estrogen dapat diatasi dengen memanfaatkan fitoestrogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi jinten hitam dalam memodulasi efek estrogenik pada sel CHO-K1. Jinten hitam dimaserasi selama 42 jam untuk mendapatkan ekstrak kental dan kemudian digunakan dalam penelitian ini. Analisis fitokimia ekstrak kental diidentifikasi kandungan timokuinon menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT). Uji aktivitas estrogenik meliputi uji sitotoksik dan proliferasi menggunakan metode MTT, uji pengamatan ekspresi protein penanda proliferasi menggunakan metode Western blot, dan uji interaksi molekuler senyawa timokuinon dengan protein proliferasi secara in silico. Bercak pada kromatogram menunjukkan posisi yang berdekatan dengan bercak pembanding yang digunakan. Hasil uji sitotoksik menunjukkan fenomena proliferasi diprediksi terjadi pada konsentrasi di bawah 200 µg/mL dan terkonfirmasi pada uji proliferasi. Intensitas ekspresi protein penanda proliferasi, cyc-e, paling tinggi terjadi pada konsentrasi 100 µg/mL. Data-data in vitro ini diperkuat dengan data in silico yang membuktikan bahwa kemungkinan interaksi antara senyawa kandungan EJH dengan senyawa target dapat terjadi karena lingkungan yang sama. Dengan demikian, dapat dikatakan EJH mampu memodulasi efek estrogenik pada sel CHO-K1 dengan kecenderungan meningkatkan efeknya. EJH potensial dikembangkan sebagai produk fitoestrogen selanjutnya

    PENGGUNAAN SUPLEMEN BAHAN ALAM OLEH PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KALIMANTAN TIMUR

    No full text
    Demam berdarah dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia. Propinsi Kalimantan Timur selalu masuk dalam lima besar propinsi dengan insiden DBD tertinggi di Indonesia sepanjang tahun 2012 hingga 2015. Pasien DBD memerlukan rawat inap pada keadaan tertentu, namun tidak ada penatalaksanaan spesifik untuk pasien DBD yang rawat inap, selain monitoring pasien dan pemberian terapi cairan intravena. Dengan demikian banyak pasien yang mencari alternatif suplemen bahan alam untuk penyakitnya tersebut. Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang dilakukan pada pasien DBD yang menjalani rawat inap di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda Kalimantan Timur. Sebanyak 79,6% pasien DBD menggunakan suplemen bahan alam selama menjalani perawatan di rumah sakit. Terdapat 7 macam bahan alam yang sering digunakan oleh pasien, yaitu jambu biji (Psidium guajava), kurma (Phoenix dactylifera), pepaya (Carica papaya), meniran (Phyllanthus niruri), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma longa), dan angkak (Monascus purpureus). Diperlukan upaya promosi dan edukasi yang lebih baik untuk penggunaan suplemen bahan alam yang tepat bagi pasien DBD yang menjalani rawat inap, khususnya di Kalimantan Timur. Dengue hemorrhagic fever (DHF) is the main health problem in Indonesia. East Kalimantan always in top five provinces with the highest DHF incidence in Indonesia from 2012 to 2015. DHF patient needs to be hospitalized in a certain condition, but without specific treatment rather than monitoring and intravenous fluid therapy. From that condition, many patients seeking alternative herbal supplement for DHF. This is a descriptive study conducted on DHF patients in Abdul Wahab Sjahranie County Hospital Samarinda East Kalimantan. The majority of DHF patients (79.6%) using herbal supplement along with DHF treatment in hospital. There is seven herbal used by DHF patients, i.e. guava (Psidium guajava), dates (Phoenix dactylifera), papaya (Carica papaya), meniran (Phyllanthus niruri), temu hitam (Curcuma aeruginosa), turmeric (Curcuma longa), and red yeast rice (Monascus purpureus). Better promotion and education efforts of herbal supplement usage for DHF patient in the hospital needed, especially in East Kalimantan

    Front Matter

    No full text

    Ekspresi dan Purifikasi Protein Rekombinan Non-Struktural NS1 Virus Dengue Serotipe 1 Strain Indonesia Pada Pichia Pastoris

    No full text
    Dengue infection remains a public health problem in Indonesia. In the framework of the independence of the national product, pursued research and development of raw materials that can be used for diagnostic kit and vaccine candidates. The objective of this study was to express and purify recombinant proteins non-structural NS1 dengue virus serotype 1 (DENV-1) of Indonesia strain (915 846) in Pichia pastoris expression system with “halal” system that can be used for the development of diagnostic kits and vaccines. The dengue virus serotype 1 strain Indonesia (915846) was used to construct the NS1 DENV-1 gene by PCR. Then NS1 DENV-1 gene cloned into the vector pPICZαB and transformed into Pichia pastoris yeast cells, then verified with sequencing. Recombinant protein NS1 DENV-1 was secreted expression in P. pastoris. Characterization of antigenicity was did by ELISA, Western Blot and purified by the method of metal-chelating affinity chromatographic (MCAC) column. The recombinant protein with a size of 45 kDa secreted into the supernatant of P. pastoris with methanol induction and purified. The recombinant protein can bind to monoclonal antibodies and serum of patients infected with dengue virus serotype 1. These results indicate that the recombinant protein NS1 DENV-1 strain Indonesia (915 846) can be produced efficiently in P. pastoris secreted expression system is halal and still functional as an antigen that can be used for the development of diagnostic kits and vaccines

    Faktor Risiko Kejadian Penyakit Filariasis pada Masyarakat di Indonesia

    No full text
    Malaria adalah masalah kesehatan yang berkaitan dengan kemiskinan. Di beberapa tempat, hutan merupakan sumber mata pencaharian bagi masyarakat miskin. Desa Pagar Desa merupakan salah satu pemukiman Suku Anak Dalam di Propinsi Sumatera Selatan. Penelitian PSP masyarakat bertujuan mengetahui seberapa jauh pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang penyakit malaria. Penelitian dilakukan tahun 2006 dengan disain penelitian cross- sectional study. Penelitian menunjukkan bahwa semua masyarakat tahu tentang penyakit malaria dan 85% mengakui pernah mengalami gejala-gejala malaria. Gejala malaria yang dialami adalah demam, mengigil dan berkeringat (83,9%). Seluruh responden tidak tahu penyebab penyakit malaria dan 79,6% tahu bahwa malaria merupakan penyakit berbahaya. Mayoritas responden tahu bahwa malaria penyebab kematian (77,4%) dan 54,8% tidak tahu bahwa malaria merupakan penyakit menular, 23,7% mengatakan tahu cara menghindarkan diri dari penyakit malaria yaitu menghindari gigitan nyamuk. Sikap masyarakat pada umumnya positif terhadap pencegahan dan pengobatan malaria. Pengobatan yang dilakukan sebagian besar masyarakat (41,9%) adalah membeli obat di warung. Kebiasaan keluar rumah pada malam hari dilakukan oleh sebagian besar masyarakat (66,7%) untuk mengobrol di warung-warung, menonton TV di rumah tetangga dan melakukan kegiatan Mandi, Cuci, Kakus. Sebesar 95,7% masyarakat tidak memakai perlindungan khusus untuk menghindari gigitan nyamuk selama di luar rumah pada malam hari, namun bila di dalam rumah menggunakan kelambu dilakukan oleh sebanyak 41,9% responden dan menggunakan obat nyamuk bakar sebanyak 24,7% responden. Perlu dilakukan peningkatan pengetahuan malaria demi peningkatan perilaku positif pencegahan malaria dengan mengadakan penyuluhan, selain itu perlu disediakan pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau masyarakat

    Hubungan Antara Perilaku Penggunaan Insektisida Rumah Tangga Dengan Riwayat Pernah Sakit Demam Berdarah di Provinsi Bali Tahun 2011

    No full text
    Abstract Since 1973 Bali become dengue endemic areas. Ones of 3M Plus efforts include the use of household insecticides to prevent mosquito bites. Long period used chemical insecticides cause resistance of Aedes aegypti from their active ingredient. This study aimed to determine the relationship between behavior of household insecticides usage with dengue incidence in Bali Province. This research conducted in 2011 using cross-sectional study method. Independent variable is behavior of household insecticide usage and the incidence of dengue as dependent variable. The Result showed that there is no significant relationship between behavior of household insecticides usage with a history of dengue incidence, indicates that the respondent behavior of household insecticide usage has not been directly affected by cases of dengue, this is mainly due to the source of vector habitat that are likely still available. To support dengue prevention measure, using the household insecticides to prevent contact with dengue vectors are also advised to conduct mosquito nest eradication (PSN) which includes 3M Plus. Prevention of mosquitoes contact can be done when the household insecticides performed well, right, and proper dosage. Keywords: Household insecticides, DHF, BaliAbstrakSejak tahun 1973 Bali termasuk daerah endemis demam berdarah dengue (DBD). Salah satu upaya 3M Plus antara lain pemakaian insektisida rumah tangga untuk mencegah gigitan nyamuk. Penggunaan insektisida dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan terjadinya resistensi nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini bertujuan untuk sejauh mana hubungan perilaku pemakaian insektsida rumah tangga dengan riwayat kejadian DBD. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2011 dengan desain studi deskriptif potong lintang (cross sectional). Jumlah sampel total 88 orang yang berasal dari wilayah Kota Denpasar, Kabupaten Gianyar, dan Kabupaten Badung Provinsi Bali. Variabel yang diteliti meliputi perilaku pemakaian insektisida rumah tangga (variabel bebas), sedangkan riwayat kejadian DBD merupakan variabel terikat. Tidak ada hubungan yang signifikan antara perilaku pemakaian insektisida rumah tangga dengan riwayat kejadian DBD menunjukkan bahwa perilaku pemakaian insektisida responden belum secara langsung mencegah responden terkena DBD. Hal ini terutama disebabkan sumber habitat/sarang vektor nyamuk yang kemungkinan masih tersedia sehingga untuk mendukung tindakan pencegahan DBD, selain memakai insektisida rumah tangga untuk mencegah kontak dengan vektor dengan baik dan benar juga disarankan untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang meliputi 3M Plus. Pencegahan kontak dengan vektor nyamuk DBD dapat efektif ketika pemakaian insektisida rumah tangga dilakukan secara baik, benar, serta tepat dosisnya.Kata Kunci: Insektisida rumah tangga, DBD, Bal

    Front Matter Spirakel Volume 7 No.1 2015

    No full text

    Identification of HMG-CoA Reductase Inhibitor Active Compound in Medicinal Forest Plants

    No full text
    Cardiovascular disease is a leading cause of death worldwide, hypercholesterolemia is one of the causes. Three medicinal forest plants are potential natural resources to be developed as cholesterol-reducing herbal product, but scientific informations on their mechanism is still limited. The objective of this research is to explore the potency of the leaf of Jati Belanda (Guazuma ulmifolia), Jabon (Antocephalus macrophyllus), and Mindi (Melia azedarach) as inhibitor of HMG-CoA reductase (HMGR), a key enzyme in the regulation of cholesterol biosynthesis. Samples were macerated in ethanol 96% and the filtrate was partitioned using n-hexane and chloroform to obtain the ethanolic flavonoid extract. The effect of each extracts on the HMG-CoA reductase activity were analyzed using HMGR assay kit. At concentration of 10 ppm the G.ulmifolia ethanolic extract showed the highest inhibitory activity as well as pravastatin control inhibitor.  The phenolic content of the ethanolic extracts of G.ulmifolia, A.macrophyllus, and M.azedarach were: 11.00, 34.83, and 13.67 mg gallic acid AE/g dried leaves, respectively. The flavonoid content of the ethanolic extracts of G.ulmifolia, A.macrophyllus, and M.azedarach were: 0.22, 0.64, and 0.78 mg QE/g dried leaves, respectively. Interestingly, G.ulmifolia extract the lowest concentration of phenolic and flavonoid content. HPLC analysis showed that all samples contain quercetin at similiar small concentrations (6.7%, 6.6%, and 7.0% for G.ulmifolia, A.macrophyllus, and M.azedarach, respectively). This indicating other active compounds may play some roles in this inhibitory action on HMG-CoA reductase activity. Further identification using LC-MS/MS showed that G.ulmifolia flavonoid extract contained an unidetified coumpound with molecural weight of 380.0723 Da.

    STUDI EFIKASI DAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM PENGGUNAAN KELAMBU BERINSEKTISIDA DI DESA SUNGAI NYAMUK, PULAU SEBATIK, KALIMANTAN UTARA

    No full text
    ABSTRACT In an attempt to eliminate malaria, government tries to control the vector of the disease through the distribution of Long Lasting Insecticide nets. In the process of use, users of this type of mosquito net need to do maintenance to ensure its effectiveness. This study  aim to analyze the effectiveness of insecticide treated mosquito net against Anopheles sp. and knowing the knowledge, attitude, behavior of the community on the use and maintenance of the LLiNs. The research was conducted in Sungai Nyamuk Village, Sebatik Sub-district, Nunukan District, North Kalimantan with cross-sectional design. Data on the effectiveness of mosquito nets were obtained by performing Bioassay Cone Test (efficacy test) on insecticide and non-insecticide treated nets in households that have been using mosquito nets for more than 6 months. The community’s Knowledge, Attitude, and Practise data were obtained by interviewing selected respondents using questionnaires. Processing and data analysing was done univariat and bivariat. The results showed that the most effective mosquito insecticide was the mosquito net that had been used for 6 months. The bed nets that had been used for 12-24 months had started to be less effective. All respondents (100%) agreed with the distribution of insecticide nets, but only 87% said they were willing to use it. All respondents (100%) did the installation of mosquito nets correctly, and had never washed the mosquito net. Can be concluded that insecticidal nets that have been used for more than 12 months have begun to be ineffective in controlling the vector of Anopheles sp. mosquito. Almost all respondents did not treat/wash the insecticide treated mosquito nets. In order to eliminate malaria in Sungai Nyamuk village there need to be an increase of active community participation (netting treatment) in the effort of vector control (Anopheles sp.). Keywords: Long Lasting Insecticide Nets (LLiNs), washed, Bioassay Cone Test    ABSTRAK Dalam upaya melakukan eliminasi malaria, pemerintah berusaha mengendalikan vektor penyakit tersebut melalui pembagian kelambu berinsektisida. Dalam proses penggunaannya, pengguna kelambu jenis ini perlu melakukan pemeliharaan untuk menjamin efektifitasnya. Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk menganalisis efektifitas kelambu berinsektisida terhadap nyamuk Anopheles sp. dan mengetahui pengetahuan, sikap, perilaku masyarakat terhadap penggunaan dan pemeliharaan kelambu tersebut. Penelitian dilakukan di Desa Sungai Nyamuk, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan-Kalimantan Utara dengan desain cross sectional. Data efektivitas kelambu diperoleh dengan cara melakukan Bioassay Cone Test (uji efikasi) terhadap kelambu berinsektisida dan yang tidak berinsektisida di rumah tangga yang telah menggunakan kelambu lebih dari 6 bulan. Data PSP masyarakat diperoleh dengan cara wawancara terhadap responden terpilih dengan menggunakan kuesioner. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelambu berinsektisida yang paling efektif adalah kelambu telah digunakan selama 6 bulan.  Kelambu yang telah digunakan 12-24 bulan sudah mulai tidak efektif. Seluruh responden (100%) setuju dengan pembagian kelambu berinsektisida, tetapi hanya 87% yang menyatakan  bersedia menggunakannya. Seluruh responden (100%) melakukan pemasangan kelambu dengan benar, dan belum pernah mencuci kelambu yang dibagikan. Dapat disimpulkan bahwa kelambu berinsektisida yang telah digunakan lebih dari 12 bulan sudah mulai tidak efektif  dalam mengendalikan vektor nyamuk Anopheles sp. Hampir seluruh responden tidak  merawat/melakukan pencucian kelambu berinsektisida yang dibagikan. Dalam rangka eliminasi malaria di Desa Sungai Nyamuk perlu adanya peningkatan partisipasi aktif masyarakat (perawatan kelambu) dalam upaya pengendalian vektor (Anopheles sp.). Kata kunci: Efikasi, kelambu berinsektisida, perawatan kelambu, Bioassay Cone Tes

    PERSEPSI DAN SIKAP KONSUMEN TERHADAP PENERAPAN TRAFFIC LIGHT CARD PADA PRODUK PANGAN KEMASAN (CONSUMER’S PERCEPTION AND ATTITUDE TOWARDS IMPLEMENTATION OF TRAFFIC LIGHT CARD FOR PACKAGED FOOD PRODUCTS)

    No full text
    ABSTRACT There has been an increase in number of deaths caused by noncommunicable diseases. It is related to the intensification of packaged products consumption that contain high sugar, fat, and sodium compositions. Thus, a clear and transparent product label is needed to prevent unnecessary mistake in choosing the right food. Traffic Light (TL) is a format of colour-coded nutrition label that has been implemented on packaged foods in various countries. Previous research conducted in the United Kingdom and Australia indicate that the TL system allowed consumers to more easily and accurately select healthier food products compared with other labelling systems. Research about TL has never been conducted in Indonesia. This study aimed to identify perception and attitude of consumers towards Traffic Light Card (TLC) for packaged food products. An exploratory survey on 95 consumers were done at a supermarket in Yogyakarta, supported by data from in-depth interview. Eighty-six percent of consumers perceive TLC as having clear nutrition information, was easy to use, and helpful for choosing packaged foods. Seventy percent of consumers also support the implementation of TLC for selecting healthy products with “green colour” as well as applying TLC as a label format in Indonesia. Future study should be done in different population and measuring practice of TLC use. This study may serve as basis for policy evaluation of nutrition labelling.ABSTRAK Peningkatan prevalensi penyakit degeneratif berkaitan dengan meningkatnya konsumsi pangan kemasan yang tinggi kandungan gula, lemak, dan natrium. Label gizi yang jelas dan informatif diperlukan untuk membantu konsumen dalam pemilihan produk makanan. Traffic Light (TL) merupakan format label dengan kode warna yang dikembangkan oleh The UK Food Standards Agency (FSA) dan telah diterapkan pada produk pangan kemasan. Beberapa studi di Inggris dan Australia menunjukkan bahwa TL lebih berhasil membantu konsumen memilih produk yang sehat dibanding format label gizi lain. Penelitian format label TL belum pernah dilakukan di Indonesia. Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi dan sikap konsumen terhadap penerapan Traffic Light Card (TLC) pada produk pangan kemasan. Penelitian menggunakan metode mixed researchs yaitu survei yang bersifat eksploratif didukung data wawancara mendalam. Subjek penelitian adalah 95 orang konsumen pusat perbelanjaan di Yogyakarta. Analisis data kuantitatif menggunakan statistik deskriptif sedangkan data kualitatif diolah dalam bentuk transkrip. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 86,3 persen dan 70,5 persen konsumen memiliki persepsi baik dan sikap baik terhadap penerapan TLC. Konsumen memiliki persepsi bahwa TLC mengandung informasi yang jelas, mudah digunakan, dan bermanfaat sebagai pedoman memilih pangan kemasan yang berkaitan dengan perilaku pencegahan penyakit degeneratif. Konsumen memiliki sikap yang mendukung penggunaan TLC untuk memilih produk dengan warna hijau serta mendukung TL sebagai format label gizi di Indonesia. Perlu dilakukan penelitian lanjutan pada populasi yang berbeda dan mengukur praktek penggunaan TLC. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah untuk evaluasi kebijakan pelabelan gizi.ABSTRACT There has been an increase in number of deaths caused by noncommunicable diseases. It is related to the intensification of packaged products consumption that contain high sugar, fat, and sodium compositions. Thus, a clear and transparent product label is needed to prevent unnecessary mistake in choosing the right food. Traffic Light (TL) is a format of colour-coded nutrition label that has been implemented on packaged foods in various countries. Previous research conducted in the United Kingdom and Australia indicate that the TL system allowed consumers to more easily and accurately select healthier food products compared with other labelling systems. Research about TL has never been conducted in Indonesia. This study aimed to identify perception and attitude of consumers towards Traffic Light Card (TLC) for packaged food products. An exploratory survey on 95 consumers were done at a supermarket in Yogyakarta, supported by data from in-depth interview. Eighty-six percent of consumers perceive TLC as having clear nutrition information, was easy to use, and helpful for choosing packaged foods. Seventy percent of consumers also support the implementation of TLC for selecting healthy products with “green colour” as well as applying TLC as a label format in Indonesia. Future study should be done in different population and measuring practice of TLC use. This study may serve as basis for policy evaluation of nutrition labelling.ABSTRAKPeningkatan prevalensi penyakit degeneratif berkaitan dengan meningkatnya konsumsi pangan kemasan yang tinggi kandungan gula, lemak, dan natrium. Label gizi yang jelas dan informatif diperlukan untuk membantu konsumen dalam pemilihan produk makanan. Traffic Light(TL) merupakan format label dengan kode warna yang dikembangkan oleh The UK Food Standards Agency (FSA) dan telah diterapkan pada produk pangan kemasan. Beberapa studi di Inggris dan Australia menunjukkan bahwa TL lebih berhasil membantu konsumen memilih produk yang sehat dibanding format label gizi lain. Penelitian format label TL belum pernah dilakukan di Indonesia. Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi dan sikap konsumen terhadap penerapan Traffic Light Card (TLC) pada produk pangan kemasan. Penelitian menggunakan metode mixed researchs yaitu survei yang bersifat eksploratif didukung data wawancara mendalam. Subjek penelitian adalah 95 orang konsumen pusat perbelanjaan di Yogyakarta. Analisis data kuantitatif menggunakan statistik deskriptif sedangkan data kualitatif diolah dalam bentuk transkrip. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 86,3 persen dan 70,5 persen konsumen memiliki persepsi baik dan sikap baik terhadap penerapan TLC. Konsumen memiliki persepsi bahwa TLC mengandung informasi yang jelas, mudah digunakan, dan bermanfaat sebagai pedoman memilih pangan kemasan yang berkaitan dengan perilaku pencegahan penyakit degeneratif. Konsumen memiliki sikap yang mendukung penggunaan TLC untuk memilih produk dengan warna hijau serta mendukung TL sebagai format label gizi di Indonesia. Perlu dilakukan penelitian lanjutan pada populasi yang berbeda dan mengukur praktek penggunaan TLC. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah untuk evaluasi kebijakan pelabelan gizi

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇