e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Kajian Kebijakan dan Penanggulangan Masalah Gizi Stunting di Indonesia

    No full text
    AbstractStunting prevalence in Indonesia has been almost stagnant at 37% from year 2007 to 2013. With the cutoff point greater than 20%, WHO classified Indonesia has a public health problem. The purpose of this review is to analyze policy related problems and gaps that could be filled as a policy option. Policy analysis was conducted through searching and analyzing legal documents, policy as well as programs following the policy formulation. Finally, round table discussion inviting experts was conducted to construct a recommendation. Stunting prevalence has barely reducing within the last ten year which was only 4% from 1992 to 2013, though programs and budget allocation has been made, even scaling up nutrition is mentioned in Presidential Regulation no.42/2013 through National Movement of First Thousand Days of Life. Stunting has a long term effect that bring about non communicable diseases causing economic burden, although stunting can be corrected. Serious integrated effort should be taken into account at all levels as a policy recommendation. Mothers or future brides should be given information of healthy pregnancy and nutrition. Exclusive breast feeding should be done mandatory to healthy delivery mothers. In addition, proper complementary feeding should be well understood by mothers and health workers.Keywords: stunting, policy analysis, IndonesiaAbstrakPrevalensi stunting di Indonesia memiliki angka cukup stagnan dari tahun 2007 hingga 2013. WHO menetapkan batasan masalah gizi tidak lebih dari 20%, sehingga dengan demikian Indonesia termasuk dalam negara yang memiliki masalah kesehatan masyarakat. Tujuan kajian ini adalah untuk mengkaji kebijakan dan kesenjangan yang dapat dipecahkan melalui opsi kebijakan melalui analisis dokumen legal dan literatur lainnya serta program yang telah dikembangkan. Kemudian dilakukan forum diskusi dengan melibatkan pakar dalam menyusun hasil sebagai opsi kebijakan. Penurunan angka stunting hanya mencapai 4% antara tahun 1992 hingga 2013. Perpres no. 42/2013 telah menetapkan Gerakan Nasional Seribu Hari Pertama Kehidupan dalam upaya meningkatkan status gizi balita yang diikuti oleh pengembangan program termasuk anggarannya. Stunting memiliki risiko panjang yakni PTM pada usia dewasa, walaupun masih dapat dikoreksi pada usia dini. Upaya penurunan masalah gizi harus ditangani secara lintas sektoral di semua lini. Ibu dan calon pengantin harus dibekali dengan pengetahuan cukup tentang gizi dan kehamilan, ASI Eksklusif pada ibu bersalin yang sehat. Selanjutnya MPASI harus dipahami oleh para ibu dan tenaga kesehatan secara optimal.Kata kunci: stunting, policy analysis, Indonesi

    Kesinambungan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Maternal di Indonesia

    No full text
    AbstractIn an effort to decrease the maternal mortality rate in Indonesia, the government implements a lot of strategies and health programs by means of continum of care. This article aims to determine the factors of mothers affecting sustainable maternal health services using the 2013 Riskesdasdata. Data analyses were done by calculating the difference in the percentage of coverage of health indicators in each district/city and continuing to find a model determining the relationship of maternalcharacteristics factors related to the continuation of maternal health care by logistic regression. The sustainability of maternal health service utilization in Indonesia is only 46%. The factors are the mother's education (OR = 1.79 and 2.58), the work of mothers (OR = 1.38), economic status (OR= 1.65), pregnancy status (OR = 1.33), method of delivery (OR = 0.71 and 0.37), complications of pregnancy (OR = 1.13), birth complications (OR = 0.79), the travel time to health facilities (OR = 0.61 and 1.59), age at delivery (OR = 1.23). The study reveals that continuity of maternal healthservices remain unsatisfactory. Government should pay more attention to improve the quality and access to maternal health services as to encourage mothers to sustain their health care.Keywords: continuum of care, maternal health, Riskesdas 2013AbstrakDalam upaya menurunkan angka kematian ibu di Indonesia, pemerintah melakukan banyak strategi dan program kesehatan di antaranya continum of care. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui faktor dan karakteristik ibu yang mempengaruhi kesinambungan pelayanan kesehatan maternal. Data yang digunakan dalam analisis ini adalah data Riskesdas 2013. Analisis dilakukan dengan menghitung selisih persentase cakupan indikator kesehatan di tiap kabupaten/kota. Analisis kemudian dilanjutkandengan mencari model untuk mengetahui hubungan karakteristik ibu dan faktor terkait lain dengan kelanjutan perawatan kesehatan ibu dengan regresi logistik. Persentase kesinambungan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu di Indonesia masih rendah yaitu 46%. Faktor yang mempengaruhi adalah pendidikan ibu (Adjusted OR=1,79 dan 2,58), pekerjaan ibu (Adjusted OR=1,38), status ekonomi (Adjusted OR=1,65), status kehamilan (Adjusted OR=1,33), metode persalinan (Adjusted OR=0,71 dan 0,37), komplikasi kehamilan (Adjusted OR=1,13), komplikasi persalinan (Adjusted OR=0,79), waktu tempuh ke fasilitas kesehatan (Adjusted OR=0,61 dan 1,59), umur saat melahirkan (AdjustedOR=1,23). Kesinambungan pelayanan kesehatan maternal masih rendah. Perlu perhatian lebih dalam meningkatkan kualitas dan akses pelayanan agar dapat menarik ibu untuk mempertahankan kelanjutan perawatan kesehatan.Kata kunci: kesinambungan layanan, kesehatan maternal, Riskesdas 201

    Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sebagai Hambatan Pencarian Pengobatan: Studi Kasus pada Pecandu Narkoba Suntik di Jakarta

    No full text
    AbstractThe number of people living with HIV/AIDS (PLWH) in Indonesia has been increasing every year. One ofthe main causes of HIV cases was the use of non sterile needles among injecting drug users. Many peoplestill considered HIV/AIDS as a stigmatized disease. The people tend to hide their HIV status to theirfamily, friends, other people and health providers. PLWH and their family were vulnerable from stigmaand discrimination; therefore, they had barriers of HIV/AIDS to receive treatments. A qualitative researchhas been conducted in Jakarta with in-depth interview and observation as methods for data collection.The informants have been selected purposively, which are PLWH among injecting drug users (IDU’s) andformer IDU’s. Stigmatization among PLWH from IDU’s group consisted of self stigmatization and socialstigmatization. Self stigmatization aroused from the IDU’s fearness of rejection from other people and theresult of external stigma’s internalization. Social stigmatization included discrimination, intimidation andindifferent behavior toward PLWH from IDU’s group. As a conclusion, PLWH from IDU’s group tendednot seeking help, delayed or ended their HIV/AIDS treatment because they had been stigmatized. Selfefficacyof PLWH from IDU’s group also limited as a result of stigmatization.Key words: stigma, HIV/AIDS, drug user, treatment AbstrakJumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia mengalami kenaikan setiap tahunnya. Salahsatu penyebab penularan HIV/AIDS adalah penggunaan jarum suntik tidak steril pada pecandu narkobasuntik (penasun). HIV dan AIDS masih dianggap penyakit yang tabu dibicarakan secara terbuka kepadaorang tua, masyarakat dan bahkan pelayanan kesehatan. Hal ini membuat ODHA dan keluarganya rentanterhadap stigma dan diskriminasi yang berakibat pada hambatan memperoleh perawatan dan pengobatan.Penelitian dilakukan di Jakarta dengan metode wawancara dan observasi pada komunitas penasun.Sampel diambil secara purposif dengan kriteria penasun atau mantan penasun yang sudah terinfeksi HIV.Stigma memiliki dua jenis yaitu stigma yang berasal dari dalam diri sendiri dan yang berasal dari luardiri. Stigma dari dalam muncul dari rasa ketakutan dalam diri ODHA dan juga hasil dari internalisasistigma dari luar. Stigma dari luar diterima ODHA penasun dalam bentuk diskriminasi, intimidasi danpembiaran. Sebagai kesimpulan ODHA penasun yang merasa terstigma akan mengurangi kemungkinanuntuk mencari bantuan, menunda pengobatan atau memilih mengakhiri pengobatan. Kepercayaan diriODHA penasun untuk mengatasi masalah adiksi mereka juga akan berkurang akibat stigma yang merekadapat.Kata kunci: stigma, HIV/AIDS, pecandu, pengobatan

    Deteksi Dini Kasus Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Faktor Cuaca di DKI Jakarta Menggunakan Metode Zero Truncated Negative Binomial

    No full text
    AbstractThe incidence rates of DHF in Jakarta in 2010 to 2014 are always higher than that of the national rates. Therefore, this study aims to find the effect of weather parameter on DHF cases. Weather is chosen because it can be observed daily and can be predicted so that it can be used as earlydetection in estimating the number of DHF cases. Data use includes DHF cases which is collected daily and weather data including lowest and highest temperatures and rainfall. Data analysis used is zero-truncated negative binomial analysis at 10% significance level. Based on the periodic dataof selected variables from January 1st 2015 until May 31st 2015, the study revealed that weather factors consisting of highest temperature, lowest temperature, and rainfall rate were significant enough to predict the number of DHF patients in DKI Jakarta. The three variables had positiveeffects in influencing the number of DHF patients in the same period. However, the weather factors cannot be controlled by humans, so that appropriate preventions are required whenever weather’s predictions indicate the increasing number of DHF cases in DKI Jakarta.Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever, zero truncated negative binomial, early warning.AbstrakAngka kesakitan DBD pada tahun 2010 hingga 2014 selalu lebih tinggi dibandingkan dengan angka kesakitan DBD nasional. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh faktor cuaca terhadap kasus DBD. Faktor cuaca dipilih karena dapat diamati setiap harinya dan dapat diprediksi sehingga dapat dijadikan deteksi dini dalam perkiraan jumlah penderita DBD. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data jumlah penderita DBD di DKI Jakarta per hari dan data cuaca yang meliputi suhu terendah, suhu tertinggi dan curah hujan. Untuk mengetahui pengaruh faktor cuaca tersebut terhadap jumlah penderita DBD di DKI Jakarta digunakan metode analisis zero-truncated negative binomial. Berdasarkan data periode 1 Januari 2015 hingga 31 Mei 2015didapatkan hasil bahwa pada taraf nyata 10% faktor cuaca yang terdiri dari suhu tertinggi, suhu terendah, dan curah hujan signifikan dalam menjelaskan banyaknya penderita DBD di DKI Jakarta. Ketiga variabel tersebut memiliki pengaruh positif dalam mempengaruhi jumlah penderita DBD. Akan tetapi faktor cuaca tersebut tidak bisa dikendalikan oleh manusia, sehingga tindak pencegahan diperlukan jika terindikasi dari prediksi cuaca akan menyebabkan pertambahan jumlah penderitaDBD di DKI Jakarta.Kata kunci: Demam Berdarah Dengue, zero truncated negative binomial , deteksi dini

    Karakteristik Ulkus Diabetikum pada Penderita Diabetes Mellitus di RSUD dr. Zainal Abidin dan RSUD Meuraxa Banda Aceh

    No full text
    AbstractDiabetic mellitus remains prevalent in the world. It is a condition of hyperglycemia which are at risk of macrovascular and microvascular complications. One of diabetes complications is diabetic ulcers caused by loss of sensation of pain due to neuropathy. The research objective was to assess the characteristics of ulcers in diabetic patients in two general hospitals in Banda Aceh with cross sectional study design with purposive sampling. This study planned to observe a number of 215 diabetic patients. There were 57 people with diabetic ulcers including inpatients and outpatients in two general hospitals in Banda Aceh in the period November- December 2015. Observations were made to assess characteristics of ulcer sufferers. The result showed characteristics of Meggitt Wagner grade 1 ulcer criteria who were dominated by women. Other characteristics included the number of ulcer in only one place, location on foot, minimal exudate, such as a cliff-edged ulcer, skin around the ulcer has minimal inflammation in red pale, ulcer without pain and without maceration. Patients with diabetic ulcers should always observe hygiene, foot health and wound care.Keywords : Characteristic of diabetic ulcer, Diabetes Mellitus, neuropathy, foot careAbstrakDiabetes mellitus masih menjadi masalah kesehatan di dunia. DM merupakan kondisi meningkatnya kadar gula darah yang berisiko menimbulkan komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Prevalensi DM terus meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Salah satu komplikasi DM adalah ulkus diabetikum yang terjadi akibat berkurangnya sensasi nyeri karena neuropati. Tujuan penelitian adalah menilai karakteristik ulkus pada penderita DM di dua rumah sakit umum KotaBanda Aceh. Jenis penelitian adalah observasional dengan desain potong lintang. Teknik pengambilan sampel adalah secara purposive. Penelitian ini direncanakan mengamati ulkus diabetikum pada 215 pasien DM. Sampel yang didapatkan berjumlah 57 orang penderita ulkus diabetikum yang dirawat dan berobat jalan di dua rumah sakit umum Banda Aceh periode November sampai Desember 2015. Pengamatan dilakukan untuk menilai karakteristik ulkus yang diderita oleh responden. Hasilpenelitian didapatkan karakteristik ulkus diabetikum kriteria Meggitt Wagner grade 1 didominasi oleh perempuan. Karakteristik lainnya berturut-turut adalah jumlah ulkus hanya pada satu tempat, lokasi di kaki, eksudat minimal, ulkus bertepi seperti tebing, kulit di sekitar ulkus dengan inflamasi minimal berwarna merah muda, ulkus tanpa nyeri dan tanpa maserasi. Penderita ulkus diabetikum hendaknya selalu memperhatikan kebersihan, kesehatan kaki dan melakukan perawatan luka.Kata kunci : Karakteristik ulkus diabetikum, Diabetes Mellitus, neuropati, perawatan kak

    Potensi Resistensi Virus HIV-1 terhadap Terapi Anti Retroviral (ART) pada Pasien Voluntary Counseling and Testing (VCT) di Beberapa Kota di Indonesia

    No full text
    Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus that damages the immune system. The use of antiretroviraltherapy drugs combination (ARV) has demonstrated highly effective in controlling thedevelopment of the HIV virus and prolongs survival. Comprehensive coverage of antiretroviral therapy(ART) also has an impact on the incidence of mutations in the HIV virus that can lead to resistance. Ingeneral, resistance to a particular drug is the result of a mutation in a number of positions in the proteincodinggenes that are targeted by drugs. This study is aimed to find out mutations that related to ARVresistance in some cities in Indonesia. Genotypic assays are used in this study to analyze the viralresistance properties. The samples are from stored biological materials in the Center for Biomedicaland Basic Technology of Health. One hundred and eightspecimens that meet the inclusion criteriawere amplified and sequenced. Further analysis is conducted by uploading sequences to the StanfordUniversity website for the analysis of resistance mutations. Based on the results of this study there aresome mutations in the HIV virus that leads to a low potential of antiretroviral drug resistance of efavirenz(EFV) and nevirapine (NVP). These drugs are used in the first-line treatment of HIV in Indonesia.Overview of the mutations that cause viral resistance to antiretroviral drugs with genetic methods isexpected to serve as baseline data for program development of new drugs or vaccines HIV / AIDS inthe response to HIV in Indonesia.Keywords: resistance, HIV-1 virus, VCT AbstrakHuman Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh. Penggunaankombinasi obat terapi anti retroviral (ARV) telah menunjukkan efektivitas yang tinggi dalammengendalikan perkembangan virus HIV dan memperpanjang harapan hidup penderita. Cakupan pemberian anti retroviral therapy (ART) yang luas juga berdampak pada timbulnya mutasi pada virus HIV sehingga dapat menyebabkan resistensi. Secara umum, resistensi terhadap obat tertentu adalah hasildari mutasi pada sejumlah posisi dalam gen pengkode protein yang ditargetkan oleh obat. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui adanya mutasi yang mengarah pada resistensi terhadap ART pada beberapa kota di Indonesia. Metode yang digunakan untuk melakukan analisis resistensi pada studiini adalah dengan pemeriksaan genotipik. Sampel yang digunakan adalah Bahan Biologi Tersimpanpada Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Seratus delapan spesimen yang memenuhi kriteria inklusi diamplifikasi dan dilakukan sequencing. Selanjutnya analisis hasil sekuensing virus HIV dilakukan dengan mengunggah sekuen ke situs web Stanford University untuk analisis mutasi resistensi.Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan adanya mutasi pada virus HIV yang mengarah pada lowpotential resistensi obat ARV yaitu jenis efavirenz (EFV) dan nevirapine (NVP). Obat ini merupakan linipertama pengobatan HIV di Indonesia. Tinjauan mengenai mutasi yang menyebabkan resistensi virusterhadap ARV dengan metode genetik ini diharapkan dapat dijadikan sebagai data dasar bagi programpengembangan obat baru atau vaksin HIV/AIDS dalam program penanggulangan HIV di Indonesia.Kata Kunci: resistensi, virus HIV-1, VC

    Back Matter Vol 27 No 3

    No full text

    Persepsi Remaja Nonperokok terhadap Pictorial Health Warnings di Kota Gorontalo

    No full text
    The 13-15 year old male smoker increased from 23.4% in 2007 to 29.3% in 2013. Meanwhile, the age of the initial smoker begin to shift from 15-24 years to 10-14 years. To anticipate the rate of increase in the number of smokers, especially in the younger generation, the Indonesian Government has obliged tobacco companies to include Pictorial Health Warnings (PHW) on the cigarette packaging they produce. PHW is an image contained in cigarette packaging that contains about smoking can causes cancer of the mouth, throat, lungs/bronchitis chronic; death, and endanger small children. This study aims to identify characteristics, knowledge, and perception of non-smoker teenagers to PHW and the relationship between variables. The study design was cross-sectional with non-smoking male teen research population of 2,473 people. As for the sample of 219 people selected by stratified random sampling. The research variables are characteristic, knowledge, and perception toward PHW. Data analysis used Chi-squared for bivariate and logistic regression for multivariate. The results showed 86.8% respondents had good knowledge and 71.7% had very good perception about PHW although 69.9% of their parents were smokers. There is a significant relationship between knowledge and perception of PHW in non-smoker teenagers.AbstrakRemaja laki-laki usia 13-15 tahun yang merokok meningkat dari 23,4% pada tahun 2007 menjadi 29,3% pada tahun 2013. Sementara itu, usia perokok awal mulai bergeser dari 15-24 tahun menjadi 10-14 tahun. Untuk membendung laju kenaikan jumlah perokok, khususnya pada generasi muda, pemerintah Indonesia telah mewajibkan perusahaan rokok untuk mencantumkan Pictorial Health Warnings (PHW) pada kemasan rokok yang mereka produksi. PHW adalah gambar yang terdapat dalam kemasan rokok yang memuat tentang merokok dapat menyebabkan kanker mulut, tenggorokan, paru-paru/bronkitis kronis; kematian; dan membahayakan anak kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik, pengetahuan, dan persepsi remaja nonperokok terhadap PHW serta hubungan antarvariabel. Desain penelitian adalah potong lintang dengan populasi penelitian remaja laki-laki nonperokok sebanyak 2.473 orang. Adapun sampel penelitian sebanyak 219 orang yang dipilih secara stratified random sampling. Variabel penelitian berupa karakteristik, pengetahuan, dan persepsi terhadap PHW. Analisis data menggunakan Chi kuadrat untuk bivariat dan regresi logistik untuk multivariat. Hasil penelitian menunjukkan 86,8% responden memiliki pengetahuan baik dan 71,7%memiliki persepsi sangat baik tentang PHW walaupun 69,9% dari orang tua mereka adalah perokok.Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan persepsi terhadap PHW pada remaja nonperokok

    Kecukupan Tenaga Kesehatan dan Permasalahannya dalam Pelayanan Kesehatan Anak dengan HIV-AIDS di Rumah Sakit pada Sepuluh Kabupaten/Kota, Indonesia

    No full text
    The number of HIV infections in 2010-2014 in the age group < 14 years is increased when compared to the year 2010-2013. The increase of HIV number requires health professionals to provide optimal health services. Therefore, the adequacy of health personnel and their problems in providing services to children with HIV infections have become important factors to be studied. This is qualitative study using in-depth interviews. Locations were referral hospital HIV-AIDS in DKI Jakarta (Jakarta Utara, Jakarta Barat), East Java (Surabaya, Malang), Bali (Denpasar, Buleleng), Papua (Jayapura, Kabupaten Jayapura), and North Sumatra (Medan, Deli Serdang) which selected by purposive sampling. Informans were doctors, nurses, pharmacists, medical laboratory workers and case managers. Data were analyzed using content analysis. The problem of health care of children with HIV-AIDS in most hospitals in ten districts/cities is the inadequacy of health personnel because of the number of health personnel is limited, but with work concurrently. Some health personnels have not participated in training related to health care for children with HIV-AIDS, including laboratory examination. It is needed to do the mapping of the health personnels for health services, especially for children with HIV-AIDS. Besides, health personnels need training related to the accuracy of dosing/ comparison drug, how to handle children with HIV-AIDS patients, and laboratory tests of HIV-AIDS to maintain service quality.AbstrakJumlah infeksi HIV tahun 2010–2014 pada kelompok usia < 14 tahun meningkat dibandingkantahun 2010–2013. Peningkatan jumlah penderita HIV memerlukan tenaga kesehatan yang mampumemberikan pelayanan kesehatan secara optimal. Karenanya, kecukupan tenaga kesehatanbeserta permasalahannya dalam pelayanan kesehatan pada anak dengan HIV-AIDS menjadi halyang penting untuk dikaji. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, untuk itu data dikumpulkanmelalui wawancara mendalam. Lokasi penelitian dipilih secara purposif sampling yaitu rumah sakit(RS) rujukan HIV-AIDS di Provinsi DKI Jakarta (Jakarta Utara, Jakarta Barat), Jawa Timur (KotaSurabaya, Kabupaten Malang), Bali (Kota Denpasar, Kabupaten Buleleng), Papua (Kota Jayapura,Kabupaten Jayapura) dan Sumatera Utara (Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang). Sebagai informanadalah dokter, perawat, tenaga farmasi, tenaga laboratorium medis, dan manajer kasus/pendampingpasien. Analisis data menggunakan metode content analysis. Permasalahan pelayanan kesehatananak dengan HIV-AIDS di sebagian besar RS di sepuluh kabupaten/kota yaitu ketidakcukupan tenagakesehatan karena jumlah tenaga kesehatan terbatas dengan tugas/pekerjaan yang merangkap.Sebagian tenaga kesehatan belum mengikuti pelatihan terkait pelayanan kesehatan bagi anak denganHIV-AIDS termasuk pemeriksaan laboratorium. Perlu pemetaan kebutuhan jumlah tenaga kesehatanuntuk pelayanan kesehatan khususnya pada pasien anak dengan HIV-AIDS. Tenaga kesehatan perlumengikuti pelatihan terkait ketepatan pemberian dosis/perbandingan obat, cara menangani pasien anakdengan HIV-AIDS, dan pemeriksaan laboratorium HIV-AIDS untuk menjaga kualitas layanan

    Inter-Individual Variability of Cytochrome P450 2A6 Activity in Javanese Smokers’ Urine

    No full text
    Nicotine, the active compound on cigarette,was a compound that responsible to smoking addiction. Therate of nicotine metabolism is hypothesized to be a determinant of how much a person smokes. That is,rapid metabolizers would be expected to smoke more than slow metabolizers. Nicotine is metabolizedextensively by the liver enzyme cytochrome P450 2A6, primarily to cotinine. Cotinine then metabolizedby cytochrome P450 2A6 to 3’-hydroxycotinine. The ratio of metabolite to parent (i.e., 3OH-Cot/Cot)would be expected to reflect CYP2A6 activity. The ratio of 3OH-Cot/Cot in the 50 urine smokers wasmeasured by HPLC method with an C8 fully endcapped residual silanol-type column coupled and UVdetection with liquid-liquid extraction. All of the subject had been genotyped as CYP2A6*1/*4. Uponcompletion of the study, the CYP2A6 activity determined by ratio 3OH-Cot/Cot were between 0.01-0.93.There were 84% of subject identified as slow metabolizer and only 16% of subject identified as fastmetabolizer.The ratio of 3OH-Cot/Cot was positively correlated with the number of cigarettes smokedper day (r = 0.327, p = 0.020). This finding supports the hypothesis that the rate of nicotine metabolismis a determinant of the level of cigarette consumption and supports the use of the 3OH-Cot/Cot ratio asa non-invasive marker of nicotine metabolism.AbstrakNikotin, senyawa utama dalam rokok, merupakan senyawa yang dianggap paling bertanggung jawab pada ketergantungan rokok. Kecepatan metabolisme nikotin diduga merupakan salah satu faktor yang menentukan jumlah rokok yang dihisap oleh seorang perokok. Oleh karena itu, jumlah rokok yang dihisap oleh seorang pemetabolisme cepat akan lebih banyak dibanding dengan pemetabolisme lambat. Nikotin dalam tubuh akan dimetabolisme oleh enzim sitokrom P450 2A6 menjadi kotinin, dimana kotinin selanjutnya akan diubah menjadi 3’-hidroksikotinin. Rasio 3’-hidroksikotinin terhadap kotinin (3OH-Cot/Cot) menunjukkan aktifitas sitokrom P450 2A6. Rasio 3OH-Cot/Cot dari 50 urin sampel perokok ditentukan dengan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi HPLC menggunakan kolom C8 fully endcapped residual silanol, detektor UV serta menggunakan ekstraksi cair-cair. Semua subjek uji yang terlibat pada penelitian ini telah diidentifikasi mempunyai genotipe CYP2A6*1/*4. Aktivitas enzim CYP2A6 yang ditunjukkan dengan rasio 3OH-Cot/Cot pada penelitian ini berada pada rentang 0,10-0,93. Sebanyak 84% subjek uji teridentifikasi sebagai slow metaboliser dan hanya sebanyak 16% subyek uji yang teridentifikasi sebagai fast metaboliser. Terdapat hubungan yang positif antara rasio 3OH-Cot/Cot dengan jumlah rokok yang dihisap perhari (r = 0,327, p = 0,020). Hasil penelitian ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa kecepatan metabolisme nikotin merupakan salah satu yang menentukan jumlah rokok yang dihisap oleh seorang perokok serta mendukung penggunaan rasio 3OH-Cot/Cot sebagai penanda kecepatan metabolisme nikotin.

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇