e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Modification of Calgary-Cambridge Observation Guide, a more simplified and practical communication guide for daily consultation practice

    No full text
    Latar belakang: The Calgary-Cambridge Observation Guides (CCOG) adalah panduan yang telah digunakan di banyak negara untuk menilai keterampilan Komunikasi Dokter-Pasien. Panduan terdiri dari 56 poin yang terbagi dalam enam kategori dan menggambarkan proses konsultasi rutin, ditambah 15 poin opsional dalam memberikan penjelasan dan perencanaan. Karena panduan ini terdiri atas poin yang jumlahnya cukup banyak, sangat tidak praktis untuk menggunakannya dalam praktik konsultasi sehari-hari. Oleh karena itu, versi yang lebih sederhana dan praktis akan memberikan manfaat yang lebih besar. Metode: Tujuh orang ahli dari berbagai latar belakang kepakaran klinis dan komunikasi dokter pasien diminta mengevaluasi dan menganalisis 56 poin CCOG berdasarkan tingkat kepentingan dalam praktik sehari-hari. Dua putaran Delphy digunakan dalam penelitian ini, putaran pertama untuk mengevaluasi tingkat kepentingan, dan putaran kedua untuk mengevaluasi poin-poin yang memiliki kesamaan makna sehingga dapat digabungkan. Hasil dari dua putaran itu kemudian disirkulasikan kembali kepada semua anggota tim ahli untuk mendapatkan konfirmasi versi modifikasi akhir dari CCOG tersebut. Hasil: Versi modifikasi terakhir dari CCOG yang terdiri dari 35 titik telah terbentuk. Langkah pertama proses konsultasi yaitu Memulai sesi terdiri dari 5 poin (awalnya 7 poin). Langkah Mengumpulkan Informasi terdiri dari 5 poin (awalnya 11 poin), Menyediakan Struktur 3 poin (awalnya 4 poin), Membangun Hubungan 7 poin (awalnya 10 poin), Penjelasan dan Perencanaan 11 poin (awalnya 20 poin), dan Menutup Sesi terdiri dari 4 poin. Versi CCOG yang dimodifikasi tetap komprehensif, namun lebih praktis untuk latihan sehari-hari. Kesimpulan: Modifikasi versi CCOG dapat digunakan sebagai panduan praktis sederhana untuk menilai Komunikasi Pasien Dokter dalam praktik konsultasi sehari-hari. Kata Kunci: The Calgary-Cambridge Observation Guide, Komunikasi Dokter Pasien, Modifikasi  Abstract Background: The Calgary-Cambridge Observation Guides (CCOG) is a guide that is widely used to assess Doctor-Patient Communication. The guide consists of 56 points divided into 6 categories that describe a routine consultation process, plus 15 optional points in giving explanation and planning. Due to its quite numerous points, it is quite impractical to use the guide in daily consultation practice. Therefore, a more simplified and more practical version would be favourable. Method: Seven experts from different background evaluated and analyzed the 56 points of CCOG based on the level of importance in daily practice. Two rounds of Delphy were used in the study, the first round to evaluate level of importance, and the second to obtain the possibilities to join items that may have similar meaning. The result of the two rounds was then recirculated to all members of the team for confirmation of the final modified version of CCOG. Result: A final modified version of CCOG consisting of 35 points was formed. The first step of a consultation process, Initiating the session consists of 5 points (originally 7 points). Gathering information step consists of 5 points (originally 11 points), Providing structure of 3 points (originally 4 points), Building relationship of 7 points (originally 10 points), Explanation and Planning of 11 points (originally 20 points), and Closing the Session consisting of 4 points. The modified CCOG version is still comprehensive, yet more practical for daily practice. Conclusion: Modified version of CCOG can be used as a simple, practical guide to assess Doctor Patient Communication in daily consultation practice. Keywords: The Calgary-Cambridge Observation Guide, Doctor Patient Communication, Modification

    Pengaruh Fibronektin pada Kultur Sel Punca Limbal (SPL) Tikus

    No full text
    Abstract Availability of limbus stem cells (LSC) is very limited considering the number of donors SCL very less as compared to the needs, so it is necessary LSC production in vitro. The success of in vitro culture of LSC is strongly influenced by environmental conditions, one of which is the use of the extracellular matrix. Selection of the appropriate type of matrix in the LSC culture, can increase proliferation and facilitate the application of transplantation. This study aimed to get activities fibronectin (FN) as extracellular matrix to produce LSC. Research conducted at the Center for Biomedical and Basic Technology of Health. In this study, production of SPL rats performed in vitro using the method of explants on a petri dish with FN as the extracellular matrix. SPL proliferation rate that with and without FN analyzed by calculating the population doublings (PD), PD/day and the population doubling time (PDT). SPL characterization was performed by quantifiying RNA of CD90 gene, p63, ABCG2 and Krt12 as a marker SPL. The results showed that the PD,PD/day PDT in the SPL with and without FN respectively are 2.13 and 2.11, 0.44 and 0.42 , 57.65 and 61.46 (p> 0.05). While the RNA quntitative of CD90  , p63, ABCG2 and Krt12 SPL on with and without of FN respectively are 17.70 and 19.75, 17.08 and 18.42, 15.23 and 19.09, 17.42 and 18.85 (p> 0.05). This shows that the FN isn’t effective as an extracellular matrix in in vitro cultureSPL.Abstract       Availability of limbus stem cells (LSC) is very limited considering the number of donors SCL very less as compared to the needs, so it is necessary LSC production in vitro. The success of in vitro culture of LSC is strongly influenced by environmental conditions, one of which is the use of the extracellular matrix. Selection of the appropriate type of matrix in the LSC culture, can increase proliferation and facilitate the application of transplantation. This study aimed to get activities fibronectin (FN) as extracellular matrix to produce LSC. Research conducted at the Center for Biomedical and Basic Technology of Health. In this study, production of SPL rats performed in vitro using the method of explants on a petri dish with FN as the extracellular matrix. SPL proliferation rate that with and without FN analyzed by calculating the population doublings (PD), PD/day and the population doubling time (PDT). SPL characterization was performed by quantifiying RNA of CD90 gene, p63, ABCG2 and Krt12 as a marker SPL. The results showed that the PD,PD/day PDT in the SPL with and without FN respectively are 2.13 and 2.11, 0.44 and 0.42 , 57.65 and 61.46 (p> 0.05). While the RNA quntitative of CD90  , p63, ABCG2 and Krt12 SPL on with and without of FN respectively are 17.70 and 19.75, 17.08 and 18.42, 15.23 and 19.09, 17.42 and 18.85 (p> 0.05). This shows that the FN isn’t effective as an extracellular matrix in in vitro cultureSPL

    Infeksi Human Parainfluenza Virus (HPIV) Pada Balita Dengan Infeksi Saluran Pernafasan Akut Berat di RSU Propinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2014

    No full text
    Acute respiratory infection (ARI) is a major cause of morbidity and mortality worldwide, especially in children. An estimated 1.9 million children die because of ARI each year, with 70% of deaths occurred in Africa and Southeast Asia. Human Parainfluenza Virus (HPIV) is the second etiology of ARI in children after Respiratory Syncytial Virus (RSV). This study aims to determine the infection of HPIV in children under 5 years old with ARI at Nusa Tenggara Barat Province Hospital in 2014. Seventy five of 88 archived RNA from children under 5 years old with CT (RNP) number <27 were selected with proportional random sampling. The specimens were tested for HPIV with gel-based RT-PCR using spesific primer for HPIV 1, 2 and 3. Of 75 specimens tested, none is positive for HPIV-2 and only one specimen positive for HPIV-3. This specimen came from 1 year old female from Mataram District. Primer for HPIV-1 failed to optimized, therefore none of the sample is tested with HPIV-1. This finding proved that there was HPIV infection in children under 5 years old with severe cases of ARI at Tenggara Barat Province Hospital in 2014

    Anopheles vagus Sebagai Tersangka Vektor Di Indonesia

    No full text
    Malaria masih merupakan salah satu penyakit menular yang sulit diberantas dan merupakan masalah kesehatan diseluruh dunia termasuk Indonesia. Separuh penduduk dunia berisiko tertular malaria karena hidup di lebih dari 100 negara yang masih endemis malaria. Malaria dapat ditularkan oleh vektor malaria yaitu nyamuk Anopheles sp. Di Indonesia, pemerintah telah melaksanakan pengendalian vector yaitu dengan menggunakan larvasida dan pemanfaatan kelambu berinsektisida. Di Indonesia terdapat sekitar 80 spesies Anopheles, sedangkan yang dinyatakan sebagai vektor malaria adalah sebanyak 22 spesies. Diantara 22 spesies, 6 spesies berperan besar dalam penularan malaria di Indonesia. Tulisan ini bertujuan menjabarkan bionomic Anopheles vagus dan kecurigaan sebagai vektor malaria. Metode penulisan ini menggunakan penelusuran literature dengan menelaah buku, artikel dan jurnal ilmiah. Hasil penangkapan nyamuk di daerah Sumba menggunakan alat uji Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) menunjukkan bahwa di dalam nyamuk Anopheles vagus positif terdapat Palsmodium vivax. An. vagus memiliki sifat kecenderungan zoofilik, namun sekarang dengan perkembangan peradaban manusia, telah ditemukan adanya Plasmodium di nyamuk tersebut sehingga An. vagus potensial menjadi vektor di masa yang akan datang

    Front Matter Spirakel Volume 7 No.2 2015

    No full text

    Gambaran Kasus Dan Tersangka Vektor Malaria Di Daerah Pedalaman Malinau

    No full text
    Abstract Malaria is a re-emerging disease that still become a global problem because it attacks the productive age and causes the death of infants, toddlers and women. In Indonesia, there were 374 malaria endemic districts in 2011 with the number of cases as many as 256.592 people out of 1.322.451 cases of suspected malaria were examined with an incidence rate of 1,75/1000 population/year. The result of a health survey in South Malinau district in 2007 shows SPR malaria (13.33%). The report of Malinau District Health Office in 2008 there were 9 mortality because of malaria in Long Loreh Health Center. The research objective was to determine the situation of malaria (update cases) during the course of the research activities. Descriptive study was conducted with a cross sectional method in Sungai Uli South Malinau District of Long Loreh Health Center in August 2012. In 2010 and 2011 there were no malaria cases in Long Loreh Health Center. The results of the examination of 103 people, 24 people suffering malaria (SPR 23,3%) consisted of 7 malaria falciparum, 15 malaria vivax and 2 mix infection malaria falciparum and vivax, 11 of them are children aged 3-11 years that showed local transmission (indigenous). The discovery of malaria cases in this study indicate the occurrence of re-emerging diseases malaria in Long Loreh Health Center or the formation of population immunity in that area so people with malaria do not go to health services and not recorded in the health center data. Based on the mosquitoes species were found, age and density, the potential mosquito vectors are Anopheles nigerrimus (Hyrcanus group), Anopheles barbirostris and Anopheles umbrosus group. Keywords : Malaria, vector, Plasmodium, Anopheles Abstrak Malaria merupakan re-emerging diseases yang masih menjadi masalah global karena selain menyerang usia produktif juga banyak menyebabkan kematian pada bayi, anak balita dan wanita. Di Indonesia, pada tahun 2011 terdapat 374 kabupaten endemis malaria dengan jumlah kasus sebanyak 256.592 orang dari 1.322.451 kasus tersangka malaria yang diperiksa dengan tingkat kejadian 1,75 per 1000 penduduk/tahun. Hasil survei kesehatan pemberantasan penyakit bersumber binatang di daerah perbatasan di Kecamatan Malinau Selatan Tahun 2007 menunjukkan SPR malaria sebesar 13,33% dan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Malinau pada tahun 2008 terdapat 9 kasus meninggal dunia akibat malaria di wilayah kerja Puskesmas Long Loreh. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui situasi malaria (update kasus) pada saat tahun berlangsungnya kegiatan penelitian. Penelitian deskriptif dilaksanakan dengan metode potong lintang di Desa Sungai Uli Kecamatan Malinau Selatan wilayah kerja Puskesmas Long Loreh pada bulan Agustus 2012, dengan jumlah sampel sebanyak 103 penduduk Desa Sungai Uli. Hasil pemeriksaan, sebanyak 24 orang dinyatakan positif malaria dari 103 orang yang diperiksa (SPR 23,3%) terdiri atas 7 malaria falciparum, 15 malaria vivax dan 2 mix infection malaria falciparum dan vivax. Sebanyak 11 orang diantaranya anak-anak berumur 3 sampai dengan 11 tahun yang menunjukkan adanya transmisi lokal (indigenous). Ditemukannya kasus malaria menandakan terjadinya re-emerging malaria di wilayah kerja Puskesmas Long Loreh. Terbentuknya imunitas penduduk di daerah tersebut sehingga penderita malaria tidak menimbulkan gejala dan berobat ke pelayanan kesehatan sehingga tidak tercatat pada laporan puskesmas. Berdasarkan spesies nyamuk yang ditemukan, umur dan tingkat kepadatan, nyamuk yang berpotensi sebagai vektor yaitu Anopheles nigerrimus (hyrcanus group), Anopheles barbirostris dan Anopheles umbrosus group. Kata kunci : Malaria, vektor, Plasmodium, Anophele

    Pengetahuan Sikap Perilaku Masyarakat Desa Pagar Desa terhadap Malaria (Pemukiman Suku Anak Dalam) Kabupaten Musi Banyuasin

    No full text
    Malaria adalah masalah kesehatan yang berkaitan dengan kemiskinan. Di beberapa tempat, hutan merupakan sumber mata pencaharian bagi masyarakat miskin. Desa Pagar Desa merupakan salah satu pemukiman Suku Anak Dalam di Propinsi Sumatera Selatan. Penelitian PSP masyarakat bertujuan mengetahui seberapa jauh pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang penyakit malaria. Penelitian dilakukan tahun 2006 dengan disain penelitian cross- sectional study. Penelitian menunjukkan bahwa semua masyarakat tahu tentang penyakit malaria dan 85% mengakui pernah mengalami gejala-gejala malaria. Gejala malaria yang dialami adalah demam, mengigil dan berkeringat (83,9%). Seluruh responden tidak tahu penyebab penyakit malaria dan 79,6% tahu bahwa malaria merupakan penyakit berbahaya. Mayoritas responden tahu bahwa malaria penyebab kematian (77,4%) dan 54,8% tidak tahu bahwa malaria merupakan penyakit menular, 23,7% mengatakan tahu cara menghindarkan diri dari penyakit malaria yaitu menghindari gigitan nyamuk. Sikap masyarakat pada umumnya positif terhadap pencegahan dan pengobatan malaria. Pengobatan yang dilakukan sebagian besar masyarakat (41,9%) adalah membeli obat di warung. Kebiasaan keluar rumah pada malam hari dilakukan oleh sebagian besar masyarakat (66,7%) untuk mengobrol di warung-warung, menonton TV di rumah tetangga dan melakukan kegiatan Mandi, Cuci, Kakus. Sebesar 95,7% masyarakat tidak memakai perlindungan khusus untuk menghindari gigitan nyamuk selama di luar rumah pada malam hari, namun bila di dalam rumah menggunakan kelambu dilakukan oleh sebanyak 41,9% responden dan menggunakan obat nyamuk bakar sebanyak 24,7% responden. Perlu dilakukan peningkatan pengetahuan malaria demi peningkatan perilaku positif pencegahan malaria dengan mengadakan penyuluhan, selain itu perlu disediakan pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau masyarakat

    Hari Malaria Sedunia 2013 Investasi Di Masa Depan. Taklukkan Malaria

    No full text
    Abstract Malaria is still the global health problems, World Health Organization estimates that malaria causes death of approximately 660.000 in 2010, most of the age of the children in the region of sub-Saharan Africa. World Malaria Day 2013 assigned the theme “Invest in the future. Defeat malaria”. It takes political will and collective action to jointly combat malaria through malaria elimination. Needed more new donors to be involved in global partnerships against malaria. These partnerships exist, one of which is support of funding or facility for malaria endemic countries which do not have sufficient resources to control malaria. A lot of effort has been done or is still in the development stage. The use of long-lasting insecticidal nets appropriately can reduce malaria cases. The use of rapid diagnostic test, especially in remote areas and health facility with no microscopy, is very beneficial for patients to get prompt treatment. The control of malaria through integrated vector management is a rational decision making process to optimize the use of resources in the control of vector. Sterile insect technique has a promising prospect and expected to replace the role of chemical insecticides that have negative impact both on the environment and target vector (resistance). Keywords: Malaria, long-lasting insecticidal nets, rapid diagnostic test Abstrak Malaria masih menjadi masalah kesehatan dunia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan malaria menyebabkan kurang lebih 660.000 kematian pada tahun 2010, kebanyakan usia anak-anak di wilayah Sub-Sahara Afrika. Pada peringatan hari malaria dunia tahun 2013 ditetapkan tema “Investasi di masa depan. Taklukkan malaria”. Dibutuhkan kemauan politik dan tindakan kolektif untuk bersama-sama memerangi malaria melalui gerakan eliminasi malaria. Diperlukan lebih banyak donor baru untuk turut terlibat dalam kemitraan global melawan malaria. Wujud kemitraan tersebut salah satunya adalah dukungan dana ataupun fasilitas bagi negara-negara endemis malaria yang tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengendalikan malaria. Banyak upaya yang telah dilakukan maupun yang masih dalam tahap pengembangan. Penggunaan kelambu berinsektisida tahan lama secara tepat dapat mengurangi kasus malaria. Penggunaan rapid diagnostic test terutama pada daerah pelosok dan yang tidak memiliki fasilitas pemeriksaan mikroskopis sangat bermanfaat bagi penderita untuk memperoleh pengobatan yang cepat dan tepat. Pengendalian malaria melalui manajemen vektor terpadu merupakan proses pengambilan keputusan yang rasional untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya dalam pengendalian vektor. Teknik serangga mandul memiliki prospek yang menjanjikan dan diharapkan dapat menggantikan peran insektisida kimiawi yang berdampak negatif baik terhadap lingkungan maupun vektor sasaran (resistensi). Kata kunci: Malaria, Kelambu berinsektisida tahan lama, uji diagnostik cepa

    Analisis Pengendalian Malaria Di Provinsi Nusa Tenggara Timur Dan Rencana Strategis Untuk Mencapai Eliminasi Malaria

    No full text
    Abstract East Nusa Tenggara (NTT) Province is the largest contributor for malaria positive cases in Indonesia in 2014 after Papua. This study aims to analyze the malaria situation in NTT, subsequently taken into consideration for the preparation of a strategic plan to achieve the elimination of malaria in the region. Malaria case data, figures on SPR (Slide Positivity Rate), the rate of API (Annual Parasite Incidence), and Plasmodium species derived from the entire districts and cities of the NTT province. Data were collected from 2009 - 2014. The data were analyzed qualitatively or descriptive analysis. The results showed the current number of API malaria in NTT has tended to decline from 27.86 per 1000 population in 2009 to 12.81 per 1000 population in 2014. This decrease was also seen in figures of the SPR in 2009 decreased from 40.98 % to 20.09 % in 2014. Based on data from malaria per district, as many as five districts / cities (i.e. Manggarai, TTU, Kupang, East Manggarai and Ngada) showed already reached the stage of pre-elimination (SPR <5%). In addition, as many as 3 districts / cities (i.e. Manggarai, East Manggarai and Kupang) has reached the stage of elimination (API <1 per 1000 population). Target of malaria elimination in NTT (2030) can be achieved when the discovery of malaria cases, such as the enhanced efforts in intensification and extension, followed by improvement of malaria case management and vector control. Keywords: Malaria, elimination, case management, vector control, East Nusa TenggaraAbstrakProvinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk daerah malaria penyumbang terbanyak kasus positif malaria di Indonesia pada tahun 2014 setelah Papua. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis situasi malaria di Provinsi NTT, selanjutnya menjadi bahan pertimbangan untuk penyusunan rencana strategis dalam tercapainya eliminasi malaria di wilayah ini. Data kasus malaria, angka SPR (Slide Positivity Rate), angka API (Annual Parasite Incidence), jenis Plasmodium dan lainnya diperoleh dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi NTT. Data dikumpulkan dari tahun 2009-2014. Analisis data dilakukan secara kualitatif atau deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan saat ini angka API malaria di Provinsi NTT sudah cenderung menurun dari 27,86 per 1000 penduduk pada tahun 2009 menjadi 12,81 per 1000 penduduk pada tahun 2014. Penurunan ini juga terlihat pada angka SPR pada tahun 2009 menurun dari 40,98% menjadi 20,09% pada tahun 2014. Berdasarkan data malaria per kabupaten, sebanyak 5 kabupaten/kota (yaitu Manggarai, Timor Tengah Utara, Kupang, Ngada dan Manggarai Timur) menunjukkan sudah mencapai tahap pre eliminasi (SPR < 5%). Selain itu, sebanyak 3 kabupaten/kota (yaitu Manggarai, Manggarai Timur dan Kupang) sudah mencapai tahap eliminasi (API < 1 per 1000 penduduk). Target eliminasi malaria di NTT (2030) dapat dicapai apabila penemuan kasus malaria, seperti upaya intensifikasi dan ekstensifikasi ditingkatkan, diikuti dengan perbaikan penatalaksanaan kasus, dan pengendalian vektor.Kata Kunci: Malaria, eliminasi, penatalaksanaan kasus, pengendalian vektor, Nusa Tenggara [email protected]

    BACK MATTER ASPIRATOR 9(2)

    No full text

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇