e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Bionomik Anopheles di Desa Santu'Un Kecamatan Muara Uya Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan

    No full text
    Diseases transmitted by mosquito such as maluria, dengue hemorrhagic fever and filariasis are still public health problems that cause outbreak and death in Indonesia. Mosquitoes such as Aedes sp, Culex sp, Anopheles sp and Mansonia sp are the main disease vector. A study that aimed to know Anopheles sp fauna and competency was conducted in Santu'un village, Muara Uya sub-district, Tabalong district. Mosquitoes were collected by using human-biting catch and cattle pen resting catch methods with aspiration. ELIZA test was used to find sporozoite in Anopheles sp. An. umbrosus was found to be endophagic whereas An. nigerimus and An.kochi was exophagic. The peak biting periods of An. umbrosus and An. nigerimus were occur belween 8 and 9 pm with biting rates of 0.5 bites/man/night. The human biting activity of An. kochi was occur between 6 and 7 pm with biting rates of 1.5 bites/man/night. The Anopheles sp breeding places were in muddy puddles, tires track, step track, and water container. The water temperature was 25C with pH of 5.6 and salinity of 0. No mosquitoes were found positive as vector of malaria

    Front Matter

    No full text

    Factors That Have Caused Dengue Hemorrhagic Fever (Dhf) To Become A Public Health Problem In Indonesia And Effective Dhf Control

    No full text
    Demam berdarah dengue (DBD)endemis di kota-kota besar dan kecil di Indonesia dan cenderung menyebar di beberapa daerah pedesaan dengan mobilitas penduduk yang tinggi. Indonesia adalah negara yang memberikan kontribusi untuk jumlah kasus DBD di Asia Tenggara pada tahun 2005 dengan jumlah total 95.270 kasus dengan 1.298 kasus kematian karena DBD (CFR=1,36%). Pada tahun 2006, 57% kasus DBD di Asia Tenggara berasal dari Indonesia dan 70% kasus kematian karena DBD di Asia Tenggara adalah dari Indonesia, yaitu sebanyak 1.132 kematian dari 1.558 kematian karena DBD di Asia Tenggara. DBD merupakan masalah kesehatan masyarakat yang besar dan merupakan salah satu isu penting kesehatan di Indonesia karena insidens dan CFR nya yang selalu menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Epidemi DBD di Indonesia disebabkan oleh perubahan demografi dan sosial, mobilitas penduduk, infrastruktur kesehatan masyarakat yang tidak memadai, dan kegiatan vektor kontrol yang tidak efektif. Cara yang efektif untuk menyelesaikan masalah DBD adalah dengan vektor kontrol yang berbasis masyarakat, seperti pengaplikasian abate dan menghilangkan sumber penularan (tempat perindukan vektor) melalui partisipasi masyarakat; serta vektor kontrol secara biologi, misalnya dengan penggunaan Mesocyclops

    AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN TOKSISITAS SECARA IN VITRO EKSTRAK ETANOL DAUN DAN KULIT BATANG BINTANGUR (Calophyllum rigidum Miq.)

    No full text
    Antioksidan dan toksisitas saat ini masih merupakan tema yang menarik karena kemampuannya dalam meredam radikal bebas tanpa efek toksik bagi manusia. Salah satu tanaman yang memiliki aktivitas antioksidan ialah dari genus Calophyllum atau yang biasa disebut sebagai pohon bintangur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan toksisitas secara in vitro dari ekstrak etanol daun dan kulit batang bintangur (Calophyllum rigidum). Pengujian aktivitas antioksidan in vitro dilakukan menggunakan metode peredaman radikal bebas DPPH. Sedangkan uji toksisitas ekstrak secara in vitro menggunakan metode uji kematian larva udang Artemia salina (BSLT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun dan kulit batang bintangur memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 masing-masing sebesar 33,94 dan 7,50 ppm. Uji toksisitas menunjukkan bahwa ekstrak daun dan kulit batang bintangur memiliki LC50 masing-masing sebesar 627,97 dan 1063,17 ppm. Oleh karena itu ekstrak etanol kulit batang bintangur Calophyllum rigidum mempunyai aktivitas antioksidan yang lebih baik serta lebih tidak toksik dibandingkan ekstrak etanol daun berdasarkan pengujian secara in vitro

    Fungsi Kelembagaan Independen Dalam Penguatan Mekanisme Penyelesaian Sengketa Jaminan Kesehatan Nasional

    No full text
    The Healthcare BPJS (BPJS-Kesehatan) is one of the Financial Services Institutions that is supervised by the Financial Services Authority (OJK). According to the OJK Regulation No. 1/POJK.07/2014 on Alternative Dispute Resolution Institution in Financial Services Sector, Financial Services Institution must be a member of the Alternative Dispute Resolution Institution in the fi nancial services sector. However, there is a difference in the dispute resolution mechanism in the National Health Insurance (JKN) program. The difference is related to the existence of the government’s role or intervention as the organizer of JKN. The method of the study was normative juridical with qualitative data analysis. The potential disputes in JKN from the complaints basis are caused by the existence of direct connections between the members (patients) and the BPJS-Kesehatan as well as connection between the members (patients) and the Health Facilities. Meanwhile, the disputes that are originated from the basis other than complaints occur because of the connection between Health Facilities and BPJS-Kesehatan as well as the connection between Health Facilities Association and BPJS-Kesehatan. This varied pattern of relationships needs to be accommodated in an independent institution to oversee the implementation of JKN in the fi eld such as the late payment on claims, diagnosis coding, independent participants who could not ascend the treatment class, cooperation agreement with BPJS-Kesehatan, and other issues. The existence of independent institutions is essential as a form of alternative dispute resolution system strengthening and minimizing the infl ux of the disputes to the court. The establishment of an independent institution that also functions as an arbiter in the JKN disputes needs to be reorganized to facilitate the government’s regulatory and supervisory functions.  ABSTRAK BPJS Kesehatan merupakan salah satu Lembaga Jasa Keuangan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Berdasarkan Peraturan OJK No. 1/POJK.07/2014 tentang Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Jasa Keuangan, Lembaga Jasa Keuangan wajib menjadi anggota Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa di sektor jasa keuangan. Namun terdapat perbedaan mekanisme penyelesaian sengketa dalam program JKN yaitu adanya peran atau intervensi negara sebagai penyelenggara JKN. Kajian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan menggunakan analisis data secara kualitatif. Potensi sengketa dalam JKN yang bersumber pengaduan terjadi karena adanya hubungan antara Peserta dengan BPJS Kesehatan dan Peserta dengan fasilitas kesehatan. Sedangkan sengketa yang bersumber di luar pengaduan terjadi karena adanya hubungan antara fasilitas kesehatan dengan BPJS, dan asosiasi fasilitas kesehatan dengan BPJS Kesehatan. Pola hubungan yang beragam tersebut perlu diakomodasi dalam suatu lembaga yang independen untuk mengawasi pelaksanaan JKN di lapangan, seperti pembayaran klaim yang terlambat, pemberian kode diagnosa atau coding, peserta mandiri yang tidak bisa naik kelas perawatan, kontrak kerja sama dengan BPJS Kesehatan, dan masalah lainnya. Keberadaan lembaga independen adalah penting sekaligus sebagai bentuk penguatan sistem penyelesaian sengketa alternatif dan meminimalisir masuknya sengketa ke pengadilan. Pembentukan lembaga independen yang sekaligus berfungsi sebagai wasit dalam sengketa JKN perlu di tata ulang untuk memudahkan Pemerintah menjalankan tugas dalam fungsi pengaturan dan pengawasan.  

    Gambaran Petugas Mikroskopis Malaria Pada Lima Puskesmas Di Kabupaten OKU Sumatera Selatan Dalam Mendeteksi Parasit Malaria

    No full text
    AbstractMalaria remains a public health problem in Ogan Komering Ulu (OKU) District South Sumatra Province with Annual Parasite Incidence (API) in 2012 was 0.46‰. Treatment of malaria were conducted in OKU District already based on the results of laboratory examination.Therefore, the accuracy and correctness of blood film examination by malaria microscopists is needed in order to improve the quality of malaria diagnosis.This research involves five microscopists of OKU District. Each microscopists examine 596 malaria blood film. Result of microscopy examination is error rate value of each microscopists which will be the reference performance in diagnosis of malaria. In addition, every microscopists was interviewed to describe their characteristics in detection of malaria parasites. Data of microscopy examination and interview were analyzed descriptively. Descriptive analysis showed that performance five microscopists of OKU District in diagnosing malaria differ according to educational background, training experience and workload.Keywords: Characteristics, microscopists, diagnosis, malaria, OKUAbstrakMalaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Provinsi Sumatera Selatan dengan Annual Parasite Incidence (API) tahun 2012 sebesar 0,46‰, sedangkan pengobatan malaria yang dilakukan di Kabupaten OKU sudah berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Oleh sebab itu, ketepatan dan kebenaran pemeriksaan sediaan darah oleh petugas mikroskopis sangat diperlukan dalam rangka peningkatan mutu diagnosis malaria. Penelitian ini melibatkan 5 mikroskopis di Kabupaten OKU. Setiap petugas mikroskopis melakukan pemeriksaan 596 sediaan darah jari (SDJ) malaria. Hasil pemeriksaan sediaan darah jari berupa nilai error rate masing-masing petugas mikroskopis yang akan menjadi bahan penilaian kinerja petugas mikroskopis dalam mendiagnosis malaria. Selain itu setiap petugas diwawancarai untuk mengetahui gambaran karakteristik petugas dalam mendeteksi parasit malaria. Data hasil pemeriksaan dan wawancara dianalisis secara deskriptif. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa kinerja lima petugas mikroskopis dalam mendiagnosis malaria berbeda menurut latar belakang pendidikan petugas mikroskopis, jumlah pelatihan mikroskopis dan beban kerja.Kata Kunci: Karakteristik, mikroskopis, diagnosis, malaria, OK

    Leptospirosis Tanggap terhadap Perubahan Lingkungan

    No full text
    Leptospirosis adalah penyakit infeksi akut yang dapat menyerang manusia maupun hewan yang disebabkan kuman leptospira patogen dan digolongkan sebagai zoonosis. Gejala klinis leptospirosis mirip dengan penyakit infeksi lainnya seperti influensa, meningitis, hepatitis, demam dengue, demam berdarah dengue dan demam virus lainnya, sehingga seringkali tidak terdiagnosis. Keluhan-keluhan khas yang dapat ditemukan, yaitu: demam mendadak, keadaan umum lemah tidak berdaya, mual, muntah, nafsu makan menurun dan merasa mata makin lama bertambah kuning dan sakit otot hebat terutama daerah betis dan paha. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di daerah beriklim tropis dan subtropis, dengan curah hujan tinggi (kelembaban), khususnya di negara berkembang, dimana kesehatan lingkungannya kurang diperhatikan terutama pembuangan sampah. Banjir besar yang melanda Jakarta tahun 2002, ditemukan 113 pasien leptospirosis dan 20 orang diantaranya meninggal. Angka Case fatality rate (CFR) penyakit ini berkisar antara 1 hingga 5%. International Leptospirosis Society menyatakan Indonesia sebagai negara insiden leptospirosis tinggi dan peringkat tiga di dunia untuk mortalitas. Berbagai binatang baik yang liar maupun jinak bisa mengidap kuman Leptospira. Yang paling biasa adalah jenis tikus (rodent). Binatang yang terkena mungkin sama sekali tak mendapat gejalanya atau sehat walafiat

    Front Matter Spirakel Volume 7 No.1 2015

    No full text

    Keragaman Spesies Nyamuk di Desa Pemetung Basuki dan Desa Tanjung Kemala Barat Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur

    No full text
    AbstractThe study on mosquito abundance and diversity has been conducted during April to August 2013 in Pemetung Basuki and Tanjung Kemala Barat Village, Ogan Komering Ulu Timur District. The aim of this study was to identify variety of mosquito species in Ogan Komering Ulu Timur. Mosquito collection conducted in the night during 12 hours, started at 18.00pm until 06.00am. The collection method were human biting collection, cattle landing collection and collected by light trap. The results of this study showed 20 species of mosquito were collected i.e. Culex vishnui and Culex quinquefasciatus. As many as 80,7% mosquito found was Cx.vishnui. Breeding habitat that found were fish-ponds, old-wells,tires, puddle marsh and rice-field.Key words: Mosquito, Culex, AnophelesAbstrakPenelitian tentang keragaman nyamuk telah dilakukan di Desa Pemetung Basuki dan Desa Tanjung Kemala Barat Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur pada tahun 2013. Penelitian ini bertujuan mengetahui keragaman spesies nyamuk yang ada di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Penangkapan nyamuk dilakukan pada malam hari selama 12 jam dari pukul 18.00 malam sampai pukul 06.00 pagi. Penangkapan nyamuk dilakukan dengan metode umpan orang, penangkapan di kandang ternak dan menggunakan light trap. Dari hasil penelitian ini di dapatkan 20 spesies nyamuk diantaranya yang dominan adalahCulex vishnui dan Culex. quinquefasciatus. Sebanyak80,78% nyamuk yang tertangkap adalah spesies Cx.vishnui. Habitat larva nyamuk yang ditemukan adalah tambak ikan, sumur tidak terpakai,ban bekas, kolam bekas dan sawah.Kata Kunci: Nyamuk, Culex, Anophele

    Beberapa Aspek Bioekologi Nyamuk Anopheles vagus Di Desa Selong Belanak Kabupaten Lombok Tengah

    No full text
    Pada tahun 2009, Desa Selong Belanak merupakan salah satu desa dengan angka Annual Malaria Incident (AMI) tertinggi di wilayah Puskesmas Mangkung sebesar 7,59‰. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bioekologi nyamuk Anopheles vagus mencakup karakteristik habitat perkembangbiakan, kepadatan nyamuk dan pola aktivitas menggigit An. vagus. Penelitian dilakukan pada tahun 2010. Desain penelitian menggunakan rancangan survei entomologi dengan pendekatan cross sectional. Kegiatan yang dilakukan meliputi penangkapan jentik dan nyamuk dewasa dengan metode umpan orang. Hasil penelitian di dapatkan tempat perkembangbiakan nyamuk Anoheles vagus di Desa Selong Belanak adalah sawah, parit sawah, selokan dan genangan air di lahan kosong yang tak terurus dan di sekitar perumahan. PH air 7-7,5, kadar garam berkisar antara 0 ppm, kekeruhan air dan intensitas matahari pada tempat perkembangbiakan (breeding place) mendukung perkembangan nyamuk vektor malaria. An. vagus cenderung bersifat eksofili dan eksofagik. Penangkapan di sekitar kandang mempunyai kepadatan tinggi dibandingkan dengan metode lain yakni mencapai 2,0 per orang per jam aktifitas menggigit di luar rumah dengan kepadatan tertinggi pada jam 20.00-21.00 dengan MHD 0,1 per orang per jam. Deteksi sporozoit dalam kelenjar ludah perlu dilakukan untuk menentukan dugaan vektor

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇