e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
Kemampuan Secang dalam Menurunkan Produksi TNF-α: Potensin ya sebagai Antijerawat The inhibitory activity of Secang on TNF-α production: its potency as antiacne
ABSTRACTSecang (Caesalpinia sappan) has been screen based on its activities showed posses anti-acne properties. Theactivities determination was done on anti-bacterial activity especially on Propionibacterium acnes, and P. acneslipase inhibitor. It has been reported that both brazilin and protosappain A were have antibacterial activities. Todetermine the capacity of secang as anti-inflamation agent, the TNF-α test has been conducted to secang extractusing THP-1 cell and also to the pure chemical contents that isolated from its extract. The result show that bothextract and pure chemical contents of secang were safe to THP-1 cell. Methanolic extract of 1 μg g/mL inhibitTNF- α on 31,6%, while brazilin, protosappanin A and sappanone N on the same concentration were be able toinhibit TNF- α on the following of 24.7%; 36.2% and 30.5% as well.Key words: Caesalpinia sappan, TNF-α, brazilin, protosappanin A, sappanone B merupakantanaman yang memiliki potensi sebagai antijerawat berdasarkan aktivitasnya sebagai antibakteri terhadapPropionibacterium acnes, inhibitor P. acnes lipase dan antioksidan. Kami pun telah melaporkan bahwabrazilin dan protosappanin A merupakan senyawa yang memiliki ketiga aktivitas tersebut. Untuk mengetahuikemampuan secang sebagai antiinflamasi, uji TNF-α dilakukan terhadap ekstrak secang dan senyawa murniyang telah diisolasi dari secang. Uji TNF-α dilakukan menggunakan sel THP-1. Hasil penelitian menunjukkanbahwa baik ekstrak maupun senyawa murni dari secang tidak toksik terhadap sel THP-1. Ekstrak metanolsecang pada konsentrasi 1 μg/mL menghambat produksi TNF-α sebesar 31.6%, sementara brazilin, protosappaninA, dan sappanone B pada konsentrasi yang sama menghambat produksi TNF-α berturut-turut sebesar24,7%, 36,2%, dan 30,5%
IDENTIFIKASI LUAS DAUN SPESIFIK DAN INDEKS LUAS DAUN PEGAGAN DI KARANGPANDAN, KARANGANYAR, JAWA TENGAH
Pertumbuhan merupakan salah satu proses dalam kehidupan makhluk hidup. Indikator pertumbuhan tanaman dilihat dengan melakukan pengamatan pertumbuhan daun. Daun sebagai organ penting tanaman berperan dalam proses fotosintesis, respirasi dan transpirasi. Daun menjadi lokasi pembentukan karbohidrat, senyawa-senyawa primer ataupun sekunder tanaman. Parameter pertumbuhan tanaman berupa indek luas daun, laju tumbuh relatif, dan laju fotosintesis berkaitan erat dengan luas daun. Penelitian dilakukan pada bulan September - Oktober 2017 di B2P2TOOT untuk mengidentifikasi nilai Luas Daun Spesifik (LDS) dan Indeks Luas Daun (ILD) daun pegagan. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengamatan pada 135 sampel daun pegagan. Luas daun diperoleh dengan menggunakan metode regresi linier sederhana. Analisis LDS dan ILD menggunakan uji F 5% dan jika terdapat beda nyata dilanjutkan dengan BNJ 5%. LDS daun muda pegagan berbeda nyata dengan daun sedang dan tua. ILD daun pegagan berbeda nyata pada semua fase pertumbuhan
TOKSISITAS SUBKRONIS KOMBINASI TEMULAWAK, KUNYIT DAN MENIRAN TERHADAP FUNGSI HEPAR DAN GINJAL TIKUS UJI
AbstractThis experimental pharmacological research was aimed to prove the safety of combination infusion of Curcuma xanthorrhiza, Curcuma domestica and Phylanthus niruri against Sprague Dawley rats in order to support promotive as well as preventive program of Indonesia Health Ministry. Health Sprague Dawley rats be divided into 4 groups, (1 control and 3 treatment groups) each group consisted of 10 rats. Subchronic toxicity test done based on Perka BPOM no.7 of 2014. Histopathological of hepar, ren, limpha, gastric and pulmo as well as urea, creatinine, SGPT and SGOT levels be determined as toxicity parametres. In conclusion, the administration of combination infusion of Curcuma xanthorrhiza, Curcuma domestica and Phylanthus niruri up to dose of 2160 mg/kg bw for 90 days respectively considered to be safe against hepar and ren function of SD rats. AbstrakPenelitian farmakologi eksperimental ini bertujuan untuk memberikan data keamanan penggunaan ramuan infusa temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kunyit (Curcuma domestica) dan meniran (Phylanthus niruri). Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam upaya penguatan kesehatan secara promotif preventif melalui penyediaan data keamanan penggunaan ketiga tanaman tersebut dalam bentuk kombinasi. Tikus dibagi menjadi 4 kelompok (1 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan) yang masing-masing terdiri atas 10 ekor tikus (5 jantan dan 5 betina), Uji toksisitas subkronis pada tikus SD dilakukan sesuai ketentuan Perka BPOM no. 7 tahun 2014. Histopatologi organ hepar, ginjal, jantung, paru, lambung dan limfa serta penetapan kadar urea, kreatinin, SGPT dan SGOT dilakukan pada semua kelompok uji. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian formula kombinasi rimpang temulawak, rimpang kunyit dan herba meniran sampai dengan dosis 2160 mg/kg bb berturut turut selama 90 hari aman terhadap fungsi hepar dan ginjal pada hewan uji.
PERBEDAAN KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA PADA PERNIKAHAN USIA DINI DAN PERNIKAHAN USIA IDEAL DI KECAMATAN SONGGON KABUPATEN BANYUWANGI, JAWA TIMUR TAHUN 2016
The status of food security is frequently used as an indicator of the level of community welfare. One of the factors affecting food security is population growth. One cause of high population growth is by lower ages of the first marriage (early marriage). Women who are married early will have longer exposure time to be risk for pregnancies. Early marriage under 20 years of age has a dependence on parents to meet the economy needs because the work has not been settled and unstable psychiatric of wives because they have to be pregnant and nurture children in conditions that are not ready and have lack of understanding on child care patterns. If the income is low while number of household members are so many to be fulfilled the food needs, so the distribution of nutritious foods are not optimal. This study aims to determine differences in household food security between early marriage and ideal age in Songgon Sub-district of Banyuwangi District. It was an analytic research with a cross sectional design. Data collection was based on data of married couples in 2010–2014 from KUA Songgon Sub-district. Data collection was by structured interview using questionnaires, and household food record sheets. Data were analyzed by chi square test. Results showed that there was no difference in household food security at early marriage and ideal age in Songgon Sub-district of Banyuwangi District. Based on the results , it is known that there is no difference between household food security at early marriage and ideal age marriage in Songgon Sub-district of Banyuwangi Regency, both in the availability of staple food, stability of food availability, food access, and food utilization. The Government of Banyuwangi District and its related parties should make road improvements promptly and facilitate household access to food sources. ABSTRAK Status ketahanan pangan sering dipakai sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan yaitu pertumbuhan penduduk. Tingginya pertumbuhan penduduk salah satunya disebabkan oleh rendahnya usia pernikahan pertama (pernikahan usia dini). Pada perempuan yang menikah dini akan mempunyai waktu paparan lebih panjang terhadap risiko untuk hamil. Pernikahan usia dini di bawah 20 tahun memiliki ketergantungan kepada orang tua untuk mencukupi kebutuhan ekonomi karena belum mapan pekerjaannya dan tidak stabilnya kejiwaan istri karena harus hamil dan mengasuh anak dalam kondisi yang belum siap serta kurang memiliki pemahaman terhadap pola asuh anak. Apabila pendapatan yang dimiliki rendah sedangkan jumlah anggota rumah tangga banyak yang harus dipenuhi kebutuhan pangannya, maka distribusi zat gizi tidak optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan ketahanan pangan rumah tangga antara pernikahan usia dini dan usia ideal di Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi. Desain penelitian merupakan penelitian analitik dengan menggunakan rancangan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan basis data pasangan yang menikah pada tahun 2010–2014 dari KUA Kecamatan Songgon. Pengumpulan data dengan wawancara terstruktur menggunakan kuesioner, dan lembar pencatatan makanan rumah tangga (household food record).Analisis menggunakan chi square test dengan bantuan SPSS. Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan ketahanan pangan rumah tangga pada pernikahan usia dini dan usia ideal di Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan antara ketahanan pangan rumah tangga pada pernikahan usia dini dan pernikahan usia ideal di Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi, baik pada ketersediaan pangan pokok, stabilitas ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi beserta pihak yang terkait disarankan agar segera melakukan perbaikan jalan dan mempermudah akses rumah tangga terhadap sumber pangan.
DESAIN ALAT BANTU PENUNJANG LAPORAN SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPONS TINGKAT PUSKESMAS KOTA SURABAYA
Early Warning Alert and Response System (EWARS) is a system which has capability to early detect on infectious outbreaks disease threat. In Fact, EWARS report does not run properly, so it is too late to be treated by the local medical instance. EWARS data of East Java on 6th week in 2017 shows that the completeness and accuracy of reports still does not run optimal. Surabaya only has 35% of EWARS on-time report; it is way from target of 80%. Meanwhile, Surabaya has 37% of completeness of EWARS report on that week. Objective study for modelling design tools report supporting EWARS in public health center (PUSKESMAS) level of Surabaya. Research was using descriptive plan to aim for describing and designing supporting tools for EWARS in public health center (PUSKESMAS) level of Surabaya. Data collection was done by deeply interviewing to the person in charge of EWARS of Surabaya health office and person in charge of EWARS at Puskesmas level by purposive sampling. Result by the interview, we acquired information in regard to output of planning of supporting tools for EWARS report. Meanwhile, we also conducted the identification process to produce expected information. Then, we also conducted the identification of input component in planning the supporting tools. The supporting tools for EWARS report in puskesmas level will produce EWARS report per day. The supporting tool was made by computerizes-based. So it can minimize miscalculation. In use, it provides tally column to help the process of data recording of EWARS per day. Conclusion The research produces alternative solution in EWARS report at Puskesmas level, which is the planning of supporting tools will produce information of EWARS per day. It needs to standardize form of EWARS recording and reporting data at Puskesmas level. ABSTRAK Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) merupakan sebuah sistem yang memiliki kemampuan untuk melakukan deteksi dini terhadap ancaman KLB penyakit menular. Fakta di lapangan, pelaporan SKDR tidak berjalan dengan semestinya, sehingga KLB terlambat diketahui oleh instansi kesehatan yang berwenang. Data SKDR di Provinsi Jawa Timur pada minggu ke-6 tahun 2017 menunjukkan bahwa kelengkapan dan ketepatan laporan SKDR masih belum optimal. Kota Surabaya hanya 35% laporan SKDR yang tepat waktu, sangat jauh dari target sebesar 80% laporan tepat waktu. Selain itu Kota Surabaya hanya memiliki 37% dalam kelengkapan laporan SKDR pada minggu tersebut. Tujuan penelitian untuk merancang model desain alat bantu penunjang laporan sistem kewaspadaan dini dan respons di tingkat puskesmas Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan dan menyusun desain alat bantu penunjang laporan sistem kewaspadaan dini dan respons di tingkat puskesmas Kota Surabaya. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam kepada penanggung jawab sistem kewaspadaan dini dan respons di Dinas Kesehatan Kota Surabaya dan staf penanggung jawab sistem kewaspadaan dini dan respons di puskesmas secara purposive sampling. Hasil dari hasil wawancara mendalam dengan penanggung jawab SKDR didapatkan informasi terkait output yang ingin dihasilkan dari perancangan alat bantu penunjang laporan SKDR. Selain itu, juga dilakukan identifikasi proses yang perlu dilakukan untuk menghasilkan informasi yang diinginkan. Kemudian juga dilakukan identifikasi pada komponen input dalam merencanakan rancangan alat bantu tersebut. Alat bantu penunjang laporan sistem kewaspadaan dini dan respons tingkat puskesmas akan menghasilkan informasi data SKDR per hari. Alat bantu tersebut dibuat secara komputerisasi sehingga dapat meminimalisir kesalahan perhitungan. Dalam pengisiannya, disediakan kolom Tally untuk mempermudah dalam proses pencatatan data SKDR per hari. Penelitian ini menghasilkan solusi alternatif dalam pelaporan SKDR di tingkat puskesmas, di mana rancangan desain alat bantu penunjang laporan SKDR akan menghasilkan informasi data SKDR per hari. Perlu dilakukan standarisasi form pencatatan dan pelaporan data SKDR di tingkat puskesmas.
GAMBARAN STATUS GIZI, STATUS IODIUM DAN FUNGSI TIROID PADA WANITA USIA SUBUR DI DAERAH ENDEMIK GAKI
Gangguan akibat kekurangan Iodium di Indonesia masih merupakan salah satu masalah gizi utama di samping 3 masalah gizi lain yaitu KEP, Kekurangan Zat Besi, Kekurangan Vitamin A. Akibat dari kekurangan iodium ini berdampak luas dan dapat menghambat pertumbuhan fsik dan perkembangan mental yang akan berimplikasi pada penurunan sumber daya manusia. Manifestasi klinis yang klasik dari Gangguan Akibat Kekurangan Iodium adalah goiter dan kretin. Saat ini di kabupaten Purworejo masih dijumpai lahir kretin baru, sehingga peneliti ingin melihat bagaimana gambaran fungsi tiroid maupun status iodium pada Wanita Usia Subur di daerah yang ditemukan kretin baru. Melihat gambaran fungsi tiroid, status iodium dan status gizi pada Wanita Usia Subur di daerah endemik gondok. Jenis penelitian adalah cross-sectional, dengan subyek Wanita Usia Subur sebanyak 97 orang, usia 15 – 45 tahun. Subyek diperoleh dengan cara menskreening semua Wanita Usia Subur yang ada di daerah tersebut kemudian diambil yang memiliki nilai TSH > 2,5 µIU/mL. Subyek diambil sampel darah untuk pemeriksaan TSH dan FreeT4 dan urin diambil untuk analisis kadar iodium dalam urin (UIE). Analisa TSH dan FreeT4 menggunakan metode ELISA dan UIE dianalisa dengan metode Spektrofotometer. Dilakukan juga pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk melihat status gizi. Usia responden paling banyak 31 – 40 tahun, dengan pendidikan sebanyak 75,3% kurang dari 9 tahun, dan 45,3 % bekerja sebagai petani. Status gizi 69 % normal, fungsi tiroid sebagian besar normal (91,7%), dan 6,2 % hipotiroid subklinik, serta 2,1% mengalami resistensi hormone tiroid. Status iodium menunjukkan nilai median UIE sebesar 76 µIU/L dengan kadar iodium urin 62,9% kurang dari 100 µIU/L yang berada dalm kategori defsiensi iodium ringan. Pada penelitian ini tidak ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan fungsi tiroid maupun tidak ada hubungan yang bermakna antara status iodium berdasar nilai UIE dengan fungsi tiroid berdasar nilai TSH dan FreeT4. Sebagian besar fungsi tiroid pada WUS normal, dan berdasar status iodium daerah tersebut termasuk daerah endemik ringan
SITUASI MALARIA DI KABUPATEN SUMBA BARAT
Malaria merupakan penyakit menular yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles spp. malaria sampai saat ini masih bersifat endemis di Kabupaten Sumba Barat. Annual Malaria Insidence (AMI) tahun 2007 sebesar 187‰, tahun 2008 197,5‰ tahun 2009 149,8‰ dan tahun 2010 105‰ per 1000 penduduk. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan malaria dan dampak budaya terhadap malaria di Kabupaten Sumba Barat. Tulisan ini merupakan hasil kajian pustaka, terhadap laporan penelitian, artikel penelitian dan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat. Hasil menunjukkan bahwa berdasarkan Annual Malaria Insidence Kabupaten Sumba Barat merupakan daerah High Insidence Area dimana AMI masih lebih dari 50 per 1000 penduduk. Plasmodium yang ditemukan sebagian besar adalah falsifarum, dan vivax. Habitat perkembangbiakan vektor terdiri dari sungai, kali, mata air, kubangan kerbau, saluran irigasi dan bekas kolam ikan dengan kepadatan jentik antara 0,36 sampai dengan 3,4 per cidukan. Spesies Anopheles yang ditemukan antara lain An.subpictus, An.theselatus, An.anularis, An.idenfinitus, An.barbirorstis.An.subpictus, An.vagus dan An.aconitus. 3 spesies diataranya merupakan vektor utama malaria di Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu An.barbirostris, An, subpictus dan An.sundaicus sedangkan An.vagus telah dikonfirmasi menjadi vektor melalui ELISA test. Kesimpulannya adalah Kabupaten Sumba Barat merupakan daerah dengan kasus malaria masuk pada strata High Insidece Area dengan vektor utama adalah An.barbirostris, An, subpictus dan An.sundaicus dan An.vagus
ANALISIS DATA KEGIATAN RUTIN LABORATORIUM PARASITOLOGI P2B2 WAIKABUBAK TAHUN 2013: KASUS MALARIA DI PUSKESMAS KORI, KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Malaria masih menjadi masalah kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Menurut profil kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur, API pada tahun 2011 sebesar 24,7 per 1.000 penduduk dan ditemukan kematian karena malaria sebanyak 40 orang. Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan daerah endemis malaria. Kegiatan rutin laboratorium Loka Litbang P2B2 Waikabubak pada Tahun 2013 bekerjasama dengan Puskesmas Kori. Artikel ini mendeskripsikan kasus malaria dari hasil sediaan darah yang didapatkan pada kegiatan tersebut. Bahan dan Metode: Pemilihan sampel dilakukan dengan metode pasive case detection di Puskesmas Kori, dilakukan selama 8 hari pada bulan Oktober hingga desember, pemilihan bulan didasarkan pada puncak fluktuasi terjadinya malaria. Sediaan darah diperiksa dan dianalisa menggunakan mikroskop, data disajikan secara deskriptif. Hasil: menunjukkan bahwa dari 85 sediaan darah yang diambil terdapat 35 sediaan darah yang positif malaria. Dari 35 kasus positif malaria, 21 kasus terjadi pada laki-laki dan 14 terjadi pada perempuan. Berdasarkan umur pasien kasus paling banyak ditemukan pada anak-anak dan Balita. Mayoritas jenis parasit yang paling banyak ditemukan adalah P. falciparum sebanyak 32 sediaan darah (91,4%). Stadium plasmodium spp yang didapatkan dari 35 sediaan darah adalah stadium tropozoit sebanyak 26 sediaan darah (74,3%), Schizont sebanyak 1 (2,9%); Gametozit 6 (17,1%). Dominasi malaria yang didapatkan adalah P. falciparum dengan stadium tropozoit. Kesimpulan: Kejadian malaria di Puskesmas Kori merupakan kasus endemis yang transmisi penularannya dari daerah tersebut/indigenous. Saran: Perlu perhatian yang lebih kepada kejadian malaria pada anak Balita pada daerah indegenious dengan tindakan pengobatan secara dini dan tindakan promotif/preventif