e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
Preparasi Radiofarmaka Nanokoloid Human Serum Albumin (HSA) untuk Limfosintigrafi
Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Pada tahun 2012, kanker menjadi penyebab kematian sekitar 8,2 juta orang. Kanker paru, kanker hati, kanker perut, kanker kolorektal, dan kanker payudara adalah penyebab terbesar kematian akibat kanker setiap tahunnya. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, Badan Litbang Kementerian Kesehatan RI, penyakit kanker serviks dan kanker payudara menduduki tingkat teratas penyakit kanker yang juga menaikkan tingkat kematian di Indonesia.
Untuk mengendalikan kedua jenis kanker tersebut perlu dilakukan deteksi dini terhadap penyakit ini. Dalam bidang kedokteran nuklir, deteksi dini terhadap penyakit kanker payudara dilakukan dengan cara memeriksa kelenjar getah bening atau Sentinel Lymph Node (SLN). Kelenjar getah bening berfungsi menyaring getah bening dari seluruh kelenjar yang bersifat patogen dan juga menyaring limbah seluler, sel-sel mati dan sel-sel kanker. Dengan adanya sel-sel kanker yang berada pada kelenjar getah bening, maka dengan menyuntikkan suatu sediaan radio farmaka akan terjadi akumulasi sediaan radiofarmaka pada kelenjar getah bening. Hal ini merupakan suatu metode untuk mendeteksi adanya sel kanker pada kelenjar getah bening yang disebut dengan limfo sintigrafi.2,3,4
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara menyuntikkan sediaan radiofarmaka ke dalam tubuh pasien melalui subcutaneous injection, peritumoral injection dan subdermalinjection. Radiofarmaka yang disuntikkan akan dideteksi dengan menggunakan kamera gama atau probe gama. Pemeriksaan SLN ini digunakan untuk mendeteksi penyebaran sel kanker, baik sebelum operasi maupun setelah operasi sehingga bisa dilakukan tindakan terapi yang tepat. Sediaan radiofarmaka yang digunakan untuk penelusuran sistem limfatik ini adalah teknesium-99m nanokoloid human serum albumin (HSA). Selama ini kebutuhan rumah sakit akan radiofarmaka ini diimpor dari luar negeri yaitu nanocoll albumon. Selain menggunakan metode radiofarmaka, untuk menentukan SLN dapat digunakan tanpa radioaktif yaitu dengan blue dye test.5,6,7,8,9
Penelitian ini melakukan preparasi sediaan radiofarmaka nanokoloid HSA dengan komposisi dan persyaratan kualitasnya yang disesuaikan dengan nano- coll albumon yang mengacu pada The Society of Nuclear Medicine and Molecular Imaging (SNMMI) dan European Association of Nuclear Medicine (EANM) yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan permintaan rumah sakit. Pada penelitian sebelumnya telah dilakukan preparasi sediaan nanosfer HSA bentuk koloid dengan ukuran partikel 100-200 nm dengan menggunakan bahan pendukung dan metode yang berbeda dengan penelitian ini.10 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan aturan dan langkah-langkah (protokol) guna memperoleh sediaan nanokoloid yang hasilnya disesuaikan dengan SNMMI dan EANM untuk digunakan sebagai radiofarmaka.
Nanocolloid human serum albumin (HSA) labeled with technetium-99m is widely used in nuclear medicine for detection of breast cancer through examination of sentinel lymph node (SLN). SLN examination is used to detect the spread of cancer cells before and after surgery. Accumulation of a radiopharmaceutical in lymph nodes was detected by using a gamma cameraor SPECT. The aim of this study is to establish the protocol of HSA nanocolloid preparation with composition and specification in accordance with the Technical Leaflet Nanocoll Albumon which refers to The Society of Nuclear Medicine and Molecular Imaging (SNMMI) and European Association of Nuclear Medicine (EANM).This study includes the step of preparation and quality test. The method was carried out by means of protein denaturation of HAS at certain pH and heating at certain temperature. Quality tests were carried out using particle size analyzer (PSA) to determine the particle size, Transmission Electron Microscopy (TEM) to observe the morphology of the particles, and paper chromatography to measure radiolabeling yield. This study has obtained the particle size 80% of <100 nm, the yieldof morphology labelling >95% and pH of 7.3–7.4. The result was a protocol of preparing HSA nanocolloid.
Kajian Pelaksanaan Kebijakan Penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Tanah Bumbu
In order to provide legal certainty and legal protection against HIV/AIDS prevention and control in districts, the Tanah Bumbu District government has issued district regulation Number 7 year 2013 on HIV/AIDS prevention and control. By the district regulation, increasing of HIV/AIDS epidemic in Tanah Bumbu District could be minimezed but HIV cases ranked the highest and AIDS cases ranked the second highest among all districts in South Kalimantan Province. So, the study aimed to implementation the policies of HIV/AIDS control in Tanah Bumbu District. It was an observational study with acros sectional design. Data were collected by in-depth interviews to policy actors and also collection of secondairy data of policy documents on HIV/AIDS prevention and control, data of HIV/AIDS cases from KPA Tanah Bumbu. The highest HIV/AIDS cases in Tanah Bumbu district were among direct sex workers. Policy analysis by gap analysis on implementation the HIV/AIDS control in Tanah Bumbu District. Data were analyzed descriptively. The implementation of the HIV/AIDS control was not optimal, including promotive and preventive efforts that were still not maximal as lck of coordination and facilitation. Tanah Bumbu District Hospital as a people living with HIV (ODHA) hospital referral was not optimum, to provide services of counseling and voluntary testing, health care, treatment and support for people living with HIV. It needs coordinationon on HIV/AIDS control program among related institutions and Non Government Organization so that did not conduct the program individually.ABSTRAK Dalam rangka memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum terhadap pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di daerah, Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu telah mengeluarkan peraturan daerah nomor 7 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS. Dengan Perda tersebut seharusnya epidemi HIV/AIDS di Kabupaten Tanah Bumbu dapat ditekan perkembangan namun kasus HIV menempati urutan tertinggi dan kasus yang merupakan tertinggi kedua di antara semua Kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan. Sehingga penelitian ini bertujuan mengkaji pelaksanaan kebijakan penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Tanah Bumbu. Jenis penelitian adalah observasional dengan desain potong lintang. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam kepada pelaku kebijakan serta penumpulan data sekunder yaitu dokumen kebijakan tentang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS serta data kasus HIV/AIDS dari KPA Kabupaten Tanah Bumbu. Analisis kebijakan dengan analisis kesenjangan antara kebijakan dan dengan pelaksanaan pencegahan HIV/AIDS di Kabupaten Tanah Bumbu. Analisis data secara deskriptif. Kasus HIV/AIDS tertinggi di Kabupaten Tanah Bumbu pada Wanita Penjaja Seks Langsung. Pelaksanaan kebijakan masih belum optimal, diantaranya upaya promotif dan preventif yang masih belum maksimal seperti kurangnya koordinasi dan fasilitas. Rumah sakit pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu sebagai rumah sakit rujukan ODHA, belum berjalan maksimal untuk menyediakan layanan konsultasi dan tes sukarela, perawatan, pengobatan dan dukungan bagi ODHA. Perlu koordinasi rencana terhadap program penanggulangan dari instansi terkait serta LSM agar tidak berjalan masing-masing
PENGARUH EKSTRAK KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) TERHADAP ENZIM GLUTATION S-TRANSFERASE (GST) PADA SEL KANKER 4T1
Mekanisme untuk menekan aktivitas metabolisme kanker terutama kanker payudara yaitu dengan penghambatan aktivitas enzim Glutation-S-Transferase (GST). GST merupakan superfamili dari kelompok enzim multifungsi yang terlibat dalam detoksifikasi xenobiotik. Salah satu tanaman berpotensi bersifat sitotoksik pada beberapa sel kanker adalah kayu secang (Caesalpinia sappan L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi EKS dalam menurunkan ekspresi dan aktivitas GST pada sel 4T1. Profil fitokimia ekstrak kayu secang (EKS) dilihat melalui uji KLT. Selanjutnya, uji in silico molecular docking untuk melihat interaksi senyawa brazilein dan brazilin dalam EKS dengan enzim GST. Pada uji in vitro dilakukan uji sitotoksik dengan metode MTT untuk mendapatkan nilai IC50. Kemudian aktivitas GST dilihat secara spektrofotometri. Dari uji KLT diperoleh profil fitokimia yang sama antara EKS dan senyawa pembanding Brazilein. Sementara uji molecular docking menunjukkan bahwa brazilin dan brazilein memiliki kemampuan untuk mensubstitusi native ligand untuk berikatan dengan enzim GST dengan score docking . Pada uji MTT diperoleh nilai IC50 sebesar 22 µg/ml yang artinya EKS memiliki potensi sebagai agen kemoprevensi. Pengujian aktivitas GST menunjukkan bahwa EKS meningkatkan kadar GST pada sel kanker 4T1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan inovasi yang efektif dan spesifik dalam penanganan penyakit kanker payudara.Mekanisme untuk menekan aktivitas metabolisme kanker terutama kanker payudara yaitu dengan penghambatan aktivitas enzim Glutation-S-Transferase (GST). GST merupakan superfamili dari kelompok enzim multifungsi yang terlibat dalam detoksifikasi xenobiotik. Salah satu tanaman berpotensi bersifat sitotoksik pada beberapa sel kanker adalah kayu secang (Caesalpinia sappan L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi EKS dalam menurunkan ekspresi dan aktivitas GST pada sel 4T1. Profil fitokimia ekstrak kayu secang (EKS) dilihat melalui uji KLT. Selanjutnya, uji in silico molecular docking untuk melihat interaksi senyawa brazilein dan brazilin dalam EKS dengan enzim GST. Pada uji in vitro dilakukan uji sitotoksik dengan metode MTT untuk mendapatkan nilai IC50. Kemudian aktivitas GST dilihat secara spektrofotometri. Dari uji KLT diperoleh profil fitokimia yang sama antara EKS dan senyawa pembanding Brazilein. Sementara uji molecular docking menunjukkan bahwa brazilin dan brazilein memiliki kemampuan untuk mensubstitusi native ligand untuk berikatan dengan enzim GST dengan score docking . Pada uji MTT diperoleh nilai IC50 sebesar 22 µg/ml yang artinya EKS memiliki potensi sebagai agen kemoprevensi. Pengujian aktivitas GST menunjukkan bahwa EKS meningkatkan kadar GST pada sel kanker 4T1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan inovasi yang efektif dan spesifik dalam penanganan penyakit kanker payudara
Tingkat Akurasi Pemeriksaan Sediaan Darah malaria di Ogan Komering Ulu Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2007
Pada tahun 2007, hampir 80 % desa di Kabupaten Ogan Komering Ulu merupakan daerah endemis malaria. Pada April hingga Oktober 2007 di Kabupaten Ogan Komering Ulu telah dilakukan penelitian untuk mengetahui gambaran tingkat akurasi pemeriksaan sediaan darah malaria oleh petugas mikroskopis puskesmas di wilayah Kab. OKU, sehingga dapat ditentukan tindak lanjut apa yang seharusnya dilakukan oleh Dinas Kesehatan dalam kaitannya dengan program pemberantasan malaria. Jenis penelitian ini deskriptif analitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (60 %) petugas mikroskopis malaria telah bekerja di bagian pemeriksaan malaria selama lebih dari lima tahun, 70 % memiliki latar belakang analis baik dari SMAK ataupun dari Akademi Analis Kesehatan. Masih ada 30 % petugas mikroskopis malaria yang belum pernah mengikuti pelatihan mikroskopis malaria. Sebanyak 60 % puskesmas mempunyai logistik labolatorium malaria yang belum belum memadai dari segi kualitas dan kuantitas. Pengetahuan para petugas mikroskopis tentang hal-hal yang berkenaan dengan teori tentang pengambilan darah, pewarnaan, pembacaan sediaan darah, sebagian (60 %) besar telah mengerti. Sebagian besar keterampilan petugas mikroskopis (60 %) masih belum terampil. Tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara variable independent seperti umur petugas, tingkat pendidikan, lamanya bekerja di labolatorium, kualitas/kuantitas alat dan bahan, tingkat pengetahuan teori petugas, dan tingkat keterampilan petugas, dengan kualitas sediaan darah yang dihasilkan dan dengan angka error rate (P value > α)
Intervensi Perilaku dan Lingkungan dalam Pencegahan Kejadian Penyakit Malaria di Indonesia Tahun 2012
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini secara alami ditularkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina. Infeksi ini dapat menyebabkan anemia dan penurunan produktivitas pada penderitanya bahkan menyebabkan kematian. Saat ini tercatat 18,6 juta kasus malaria per tahun. Berdasarkan konsep Blum, perilaku dan lingkungan merupakan faktor yang cukup dominan dalam mempengaruhi status kesehatan seseorang. Studi literatur ini bertujuan untuk menganalisis peran intervensi perilaku dan lingkungan dalam menanggulangi kejadian malaria. Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur yang didasarkan pada teori dan penelitian terdahulu.Angka kesakitan malaria yang tercatat dalam Indikator Annual Parasite Incidence (API) tahun 2009 yakni 1,85 per 1000 penduduk. Guna menurunkan angka kesakitan tersebut diperlukan upaya penanggulangan vektor malaria yang efektif dan efisien diantaranya melalui intervensi perilaku dan lingkungan. Penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta penyehatan lingkungan guna menghilangkan tempat perindukan vektor malaria harus dilakukan secara berkesinambungan dan melibatkan partisipasi masyarakat agar tercipta derajat kesehatan masyarakat Indonesia yang setingi-tingginya
Pemetaan Kasus Filariasi Di Kabupaten Muaro Jambi
Abstract Jambi province is one of the areas with the spread of endemic filariasis cases covering almost all regencies/cities are there. Number of chronic filariasis cases reported in the province of Jambi to 2011 as many as 343 cases in 9 of the 11 regencies/cities with most cases in Muaro Jambi regency of 151 cases. The research aims to describe the spread of filariasis cases in Muaro Jambi. Research was conducted with the whole house of chronic filariasis patients were enrolled and patients with positive results of blood tests performed during the study. The equipment used in this study is the Global Positioning System (GPS) the 60 CSx type to measure the coordinates of filariasis patients. All patients enrolled filariasis attended to his house and recorded a point in the coordinate form. The prevalence of chronic positive and focused on the 4 districts, namely District Maro Sebo, Kumpeh Ulu, Kumpeh and Taman Rajo (division of districts Kumpeh). Positive case was found in 3 districts, namely District Muaro Sebo, Taman Rajo and Jambi Outer City. Several cases were found including in Batanghari regency. Filariasis control activities should be conducted in an integrated manner with other districts so that the spread of filariasis endemic also be suppressed. Keywords: filariasis, mapping, Muaro Jambi, GIS. Abstrak Provinsi Jambi merupakan salah satu wilayah endemis filariasis dengan penyebaran kasus meliputi hampir seluruh Kabupaten/Kota yang ada. Jumlah kasus kronis filariasis yang dilaporkan di Provinsi Jambi sampai dengan tahun 2011 sebanyak 343 kasus tersebar di 9 dari 11 Kabupaten/Kota dengan kasus terbanyak di Kabupaten Muaro Jambi sebesar 151 kasus. Penelitian bertujuan untuk menggambarkan penyebaran kasus filariasis di Kabupaten Muaro Jambi. Penelitian dilakukan dengan mendatangi seluruh rumah penderita filariasis kronis yang terdaftar dan penderita positif hasil pemeriksaan darah yang dilakukan selama penelitian. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Global Positioning System (GPS) tipe CSx 60 untuk mengukur titik koordinat penderita filariasis. Seluruh penderita filariasis yang terdaftar didatangi ke rumahnya dan dicatat titik koordinatnya dalam formulir. Penyebaran kasus kronis dan positif terfokus pada 4 wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Maro Sebo, Kumpeh Ulu, Kumpeh dan Taman Rajo (pemekaran dari kecamatan Kumpeh). Kasus positif ditemukan di 3 wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Muaro Sebo, Taman Rajo dan Jambi Luar Kota. Beberapa kasus yang ditemukan termasuk dalam wilayah Kabupaten Batanghari. Kegiatan pengendalian filariasis harus dilakukan secara terintegrasi dengan wilayah kabupaten lain yang juga endemis agar penyebaran filariasis dapat ditekan. Kata kunci: Filariasis, pemetaan, Muaro Jambi, GIS
Berbagai Cara Pengendalian Larva Nyamuk
Tindakan pencegahan dengan memberantas sarang nyamuk dan membunuh larva serta nyamuk dewasa terus digalakkan. Stadium pradewasa atau larva dapat dikontrol secara biologi maupun kimiawi.1 Berikut adalah beberapa cara pengendalian larva nyamuk.Pengendalian secara biologi Beberapa organisme yang efektif untuk mengendalikan larva secara biologi diantaranya adalah Ikan (larvavivorous fish),Aplocheilus panchax (ikan kepala timah), Ctenops vittatus (ikan cupang),Oreochromis (Tilapia) mossambicus (ikan nila) dan Cyprinus carpio (ikan tombro), larva nyamuk dari genus Toxorhynchites, Capung (Dragonflies/Labellula ). Kelompok Udang (Cyclopoid copepods) Jenis Copepoda yang tersebar sebagai plankton dan bentos ini bersifat predator yang efektif untuk mengendalikan stadium pradewasa nyamuk instar satu dan instar dua. Pada suatu penelitian di Polynesia Perancis terbukti bahwa M. aspericornis pengaruhnya tidak konsisten terhadap larva Ae. aegypti yang ditemukan berada di tangki air, drum dan sumur yang tertutup. Keadaan tersebut tampaknya bergantung pada tersedianya mikrofauna di tempat perkembangbiakannya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan Copepoda tersebu
Daya Saing Kawin Nyamuk Jantan Steril (Culex quinquefasciatus) Skala Laboratorium: Studi Awal Penggunaan Teknik Serangga Mandul dalam Pengendalian Vektor Filariasis Limfatik di Kota Pekalongan
ABSTRACT Culex quinquefasciatus is the main vector of limfatic filariasis in Pekalongan City. Sterile Insect Tehnique could be an alternative vector control efforts to eliminate filariasis. The success of this technique is depend on the ability of laboratory-reared sterile males with the wild-type females. Indicator of SIT Aplication is determined by the value of the mating competitiveness and sterility to Culex quinquefasciatus (Diptera:Culicidae). The design of the research is an experimental. Gamma irradiation on the pupae (age . 15 hours) with the doses of 0 Gy, 60 Gy, 65 Gy,70 Gy, 75 Gy and 80 Gy in BATAN Jakarta. Male mosquitoes which emerged from the pupa then matting with a normal female. This research observed the mean of females laying eggs ,fecundity, fertility and mating competitiveness. This experimental research was conducted in the laboratory and the data were analyzed by ANOVA.The result showed that irradiation at the trial doses had an effect on fertility of Culex quinquefasciatus, but not had significant effect on fecundity and mating competitiveness . A dose of 70 Gy is the optimum dose with a fertility rate of 1.8% (sterility 98.2%) and C indexs 0,568 can be recommended for futher semi field assays. The number of sterile males were six times compared with the wild population to increase the chances of mating with wild-type females. Culex quinquefasciatus merupakan vektor utama filiriasis limfatik di Kota Pekalongan. Teknik Serangga Mandul dapat menjadi alternatif upaya pengendalian vektor filariasis. Keberhasilan teknik ini tergantung kemampuan jantan mandul untuk kawin dengan betina alam di laboratorium. Indikator aplikasi Teknik Serangga Mandul (TSM) ditentukan dengan nilai daya saing kawin dan sterilitas. Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimental. Nyamuk Culex quinquefasciatus berasal dari galur lokal kota Pekalongan. Iradiasi gamma pada pupa (umur >15 jam) dengan dosis uji 0,60,65,70,75 dan 80 Gy di BATAN Jakarta. Nyamuk jantan yang muncul dari pupa kemudian di kawinkan dengan betina normal. Hasil perkawinan diamati jumlah nyamuk betina yang mampu bertelur, fertilitas, fekunditas dan daya saing kawin. Data dianalisis dengan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan iradiasi berpengaruh terhadap fertilitas akan tetapi tidak dengan fekunditas dan daya saing kawin. Dosis 70 Gy merupakan dosis optimum dengan tingkat fertilitas 1,8% (sterilitas 98,2%) dan C indeks 0,586 dapat direkomendasikan untuk uji lanjut semi lapang. Banyaknya jantan steril yang dilepas enam kali dari populasi alam untuk memperbesar peluang kawin dengan betina normal