e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
Anomali Iklim Wasapada Terhadap Peningkatan Kasus DBD
Hingga pertengahan Juni, curah hujan di berbagai daerah di Indonesia tetap tinggi.Disertai kilat dan guntur, hujan bisa turun dari malam hingga dini hari yang mencirikankarakter cuaca di puncak musim hujan dan biasa terjadi selama Januari. Iklim sekarangmungkin sudah berubah, dan pantas disebut kemarau basah.Ditengarai peningkatan rata-rata curah hujan bulanan di Indonesia diakibatkan olehpemanasan global. Panel Antar-Pemerintah untuk Perubahan Cuaca (IntergovernmentalPanel on Climate Change/IPCC) dalam laporannya menyebutkan bahwa berdasarkan dataIPCC antara tahun 1970 hingga 2000, di Indonesia telah terjadi kenaikan suhu rata-ratatahunan antara 0,2 - 1 derajat Celcius dan hal itu merupakan salah satu akibat pemanasanglobal. Menurut IPCC, perubahan suhu rata-rata itu dapat mengakibatkan antara lainpenurunan produksi pangan sehingga bisa meningkatkan risiko bencana kelaparan,peningkatan kerusakan pesisir akibat banjir dan badai, peningkatan kasus gizi buruk dandiare, dan perubahan pola distribusi hewan dan serangga sebagai vektor penyakit
Deteksi Mutasi Titik Gen Natrium Voltage Gated Channel Menggunakan Polymerase Chain Reaktion pada Aedes aegypti Resisten Sintetik Piretroid di Palembang
Aedes aegypti adalah vektor penyakit berbahaya beberapa, misalnya adalah virus dengue. Ratusan orang dalam sejuta penduduk menderita demam berdarah setiap tahun di hampir seratus negara di seluruh dunia. Salah satu cara untuk mengurangi penyebaran virus adalah mengontrol populasi nyamuk. Awalnya, insektisida berhasil mengatasi, namun resisetensi terhadap bahan kimia telah terjadi baru-baru ini. Resistensi insektisida DDT pertama kali ditemukan terjadi pada tahun 1955, diikuti oleh temefos dan terakhir piretroid sintetis. Hambatan piretroid sintetik dapat dideteksi dengan dua cara, deteksi dalam enzim dan mutasi dalam saluran natrium gated tegangan. Deteksi dalam enzim berarti untuk mendeteksi kenaikan kuantitas detoxicifation dalam menetralisir efek insektisida, dapat dilakukan dalam uji biokimia dan uji molekuler. Deteksi mutasi dalam saluran natrium gated tegangan berarti untuk mendeteksi mutasi reseptor dari situs insektisida, hanya dapat dilakukan dengan uji molekuler. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan apakah ada mutasi Aedes aegypty di Palembang. Penelitian populasi telah mengambil di tiga Kecamatan Palembang, dengan jumlah sampel sekitar dua ratus nyamuk. Identifikasi larva berlangsung di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dan identifikasi mutasi berlangsung di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Palembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada mutasi terdeteksi, metode PCR yang digunakan menunjukkan ada yang tidak ada band mutan muncul. Dapat disimpulkan bahwa perlawanan sintetik piretroid belum ditemukan. Setelah penelitian harus dengan upaya lain primer terbukti yang akan mampu mendeteksi resistensi insektisida, atau penelitian canggih berikut yang bisa mendeteksi titik baru mutasi
Determinan Rumah Tangga dan Malaria dengan Metode Pohon Klasifikasi di Kawasan Timur Indonesia
The Riskesdas or Basic Health Research 2013 showed prevalence of malaria in 15 provinces in eastern Indonesia were above the national average. The higher prevalence of malaria were mostly located in Eastern Indonesia as East Nusa Tenggara or (Nusa Tenggara Timur/NTT), West Nusa Tenggara or Nusa Tenggara Barat/NTB), Papua, West Papua, Maluku and North Maluku. The study aimed to determine characteristics of household members confirmed of malaria in Eastern Indonesia based on secondary the Riskesdas 2013 data. It was a further analysis of Riskesdas 2013, with a sample of 41,040 households in the Eastern of Indonesia. Method of analysis was by classification tree analysis. Classification tree optimally provided 10 simpuls. It showed that the majority of 20.8% households infected by malaria had free health care in last year, located in rural, high economy status, use mosquito bite prevention, higher education among heads of families, and professional occupation such as civil/miliatary/police/enterprises. It concludes by classification tree analysis that the highest probability of household members infected malaria in eastern Indonesia was 30.5%, common in households that had free health carein last year and higher education among heads of families. It needs socialization on standard confirmation of malaria by blood examination, especially among heads of households with lw education, low socioeconomic and in aeras with minimum health access.ABSTRAKRiskesdas 2013 menunjukkan prevalensi malaria di 15 provinsi di Kawasan Timur Indonesia (KTI) di atas rata-rata nasional. Prevalensi malaria yang tinggi tersebut sebagaian besar terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara. Tujuan studi ini menentukan karakteristik rumah tangga dengan anggota RT yang terinfeksi malaria di KTI. Studi ini merupakan analisis lanjut Riskesdas 2013 dengan sampel 41.040 RT di KTI. Metode analisis adalah klasifikasi pohon. Pohon klasifikasi optimal membentuk simpul sebanyak 10. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas dari 20,8% RT dengan malaria di kawasan KTI mendapatkan pelayanan kesehatan gratis dalam satu tahun terakhir, terletak di perdesaan, memiliki tingkat sosioekonomi tinggi, melakukan pencegahan gigitan nyamuk, dengan karakteristik kepala keluarga berpendidikan tinggi, berpekerjaan PNS/TNI/Polri/BUMD. Peluang terbesar rumah tangga dengan malaria sebesar 30,5% adalah pada rumah tangga yang mendapat pelayanan kesehatan gartis dalam setahun terakhir dan pendidikan kepala keluarga tamat SMP ke atas. Perlu sosialisasi tentang standar penegakan sakit malaria dengan pemeriksaan darah terutama kepada Kepala Keluarga yang berpendidikan rendah, status sosioekonomi miskin dan di daerah yang akses kesehatannya masih minim
FAKTOR PEMBANGUNAN WILAYAH TERHADAP STATUS GIZI BALITA DI INDONESIA
Economic development in Indonesia has improved a lot, but in community there are still many problems related to poverty which in turn have an impact on heath. One of the health problems that associated with poverty are malnutrition. The research aimed to determine roles of the various fi elds of development to nutritional status. The analysis used Riskesdas 2013 (Balitbangkes), PSE and IPM (BPS) data. They were analyzed using linear regression to examine the relationship of variables and the nutritional status. It showed that number of poor people, income per capita, literacy rates, adequacy of doctor and posyandu, ownership of health insurance, and knowledge of the availability of health facilities were correlated with malnutrition status of children under five. Whereas, number of midwives did not influence malnutrition status of children under five. The higher percentage of poor people infl uenced higher malnutrition status of children under fi ve. Meanwhile higher percentage of income per capita, literacy rates, adequacy of doctors and Posyandu, ownership of health insurance and knowledge of the availability of health facilities infl uenced lower malnutrition status of children under five. The development on the field of socio-economic was through additional employment, education through compulsory education, as well as the health sector by improving health services. It needs a sustained effort and long-term strategy in each area for the improvement of nutritional status of under five.ABSTRAK Pembangunan ekonomi di Indonesia sudah banyak mengalami peningkatan, akan tetapi di masyarakat masih banyak ditemukan masalah terkait kemiskinan yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan. Salah satu masalah kesehatan yang terkait dengan kemiskinan yaitu gizi buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran berbagai bidang pembangunan terhadap perubahan status kesehatan gizi balita. Analisis menggunakan data Riskesdas 2013 (Balitbangkes), PSE dan IPM (BPS). Data diolah menggunakan regresi linier untuk melihat hubungan antar variabel. Analisis menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin, pendapatan per kapita, angka melek huruf, kecukupan jumlah dokter, kecukupan posyandu, kepemilikan jaminan pelayanan kesehatan, dan pengetahuan ketersediaan fasilitas kesehatan berperan pada status gizi balita. Sedangkan kecukupan jumlah bidang tidak berpengaruh terhadap status gizi balita. Adapun jumlah bidan tidak berhubungan terhadap status gizi Balita. Semakin tinggi persentase penduduk miskin mempengaruhi semakin tinggi prevalensi gizi kurang-buruk Balita. Sedangkan semakin tinggi pendapatan per kapita, angka melek huruf, kecukupan jumlah dokter, kecukupan Posyandu dan pengetahuan ketersediaan fasilitas kesehatan mempengaruhi semakin rendah prevalensi gizi kurang-buruk Balita. Diperlukan pembangunan antar bidang yaitu bidang sosial ekonomi melalui penambahan lapangan kerja, bidang pendidikan melalui program wajib belajar, serta bidang kesehatan dengan peningkatan pelayanan kesehatan. Diperlukan upaya yang berkesinambungan dan strategi jangka panjang di tiap bidang pembangunan untuk perbaikan status gizi balita.
Hubungan antara Konsentrasi Minyak Atsiri Kayu Manis (Cinnamomum burmannii Nees Ex Bl.) dalam Lotion dengan Sifat Fisik dan Tingkat Kesukaan Konsumen
ABSTRACT Essential oil of Cinnamomum burmannii contains cinnamaldehyde as active substance as antibacterial and repellant. The study about development of dosage forms was needed in order be useful to people. The purpose of this study was to determine the concentration’s effect of cinnamon to the physical characteristic and results hedonic test of lotion. This study was done in Laboratory of Pharmacy UAD in 2014 that was begun with distillation of essential oil. Then, it was formulated as lotion with concentration 1% (F1), 3% (F II), 5% (F III), 7% (F IV), respectively. The lotion was evaluated its physical characteristic (homogeneity, viscosity, spreadability, adhesivity, pH) and hedonic test to know the level of acceptability based on colour and flavor of lotion. Data was collected by quistionnaire. Results of study showed that all of the lotion was homogenous. The increasing concentrations of cinnamon caused decreasing of viscosity (p <0.05) and adhesivity (P <0.05), an increasing of spreadability (P <0.05), did not affect the pH value (p> 0.05), and increasing hedonic level until 5% concentration. It can be concluded that concentration of essential oil of cinnamon at 5% fullfilled the requirement of spreadability, adhesivity, pH and the most prefered by consumers. Minyak atsiri kayu manis dengan kandungan bahan aktif cinnamaldehyde telah terbukti berkhasiat sebagai antibakteri dan repelan. Penelitian terkait pengembangan bentuk sediaan diperlukan agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi minyak atsiri kayu manis dalam lotion terhadap sifat fisik dan tingkat kesukaan konsumen. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Farmasi UAD tahun 2014 dengan rancangan eksperimental yang diawali dengan destilasi minyak atsiri kayu manis. Selanjutnya minyak atsiri diformulasikan dalam bentuk lotion dengan konsentrasi 1% (F1), 3% (F II), 5% (F III), 7% (F IV). Sediaan lotion diuji sifat fisik (homogenitas, viskositas, daya sebar, daya lekat, pH) dan uji hedonik untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen berdasarkan warna dan aroma lotion. Data tersebut diperoleh dengan memberikan kuisioner kepada 30 orang peserta. Hasil uji menunjukkan bahwa lotion homogen pada semua konsentrasi. Peningkatan konsentrasi minyak atsiri kayu manis menyebabkan penurunan viskositas (p<0,05) dan daya lekat (P<0,05), peningkatan daya sebar (P<0,05), tidak mempengaruhi nilai pH (p>0,05) serta peningkatan skor hedonik sampai pada konsentrasi 5%. Berdasarkan hasil uji maka dapat disimpulkan bahwa konsentrasi minyak atsiri kayu manis sebesar 5% memenuhi persyaratan daya sebar, daya lekat, pH dan paling disukai oleh konsumen
Pengobatan Malaria Kombinasi Artemisinin (ACT) Di Provinsi Papua Barat Tahun 2013
ABSTRACT Malaria is still a disease with highest incidence rate in Indonesias. Based on Riskesdas 2013, the prevalence of malaria in West Papua was generally increasing. This study aimed to find the correlation of type of malaria found in blood examination and distribution status of ACT. Samples of data obtained by stratified random sampling from 1490 people who had suffered from malaria in West Papua. Data analysis using univariate descriptive and correlation analysis The result showed that the most common type of malaria was tertiana malaria caused by Plasmodium vivax (51%). Early detection performed within the first 24 hours when the patient is suffering from fever can be used as the basis for a policy that early detection can reduce malaria morbidity. It can be concluded ACT suitable for any type of malaria. The concistency of provision of ACT can be implemented by increasing public awareness of taking prophylactic. In addition the ideal combination antimalarial drugs be able to heal in a short time and if the patients performs the compliance of taking the drug, it will not be antimalarial resistance.Malaria merupakan penyakit dengan angka kesakitan tinggi di Indonesia. Data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi malaria di Papua Barat meningkat. Tujuan penelitian untuk mencari hubungan antara jenis malaria yang ditemukan dalam pemeriksan darah dengan status pemberian obat antimalaria ACT (Artemisinin-based Combination Therapy). Pengambilan sampel secara stratified random sampling dan diperoleh 1490 penduduk yang seluruhnya dikonfirmasi menderita malaria dari populasi penduduk di Provinsi Papua Barat. Analisis data menggunakan analisis deskriptif univariat dan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis malaria yang paling banyak ditemukan adalah malaria tertiana yang disebabkan oleh Plasmodium vivax (51%). Deteksi dini yang dilakukan dalam 24 jam pertama saat penderita mengalami demam dapat dijadikan dasar untuk mengambil kebijakan bahwa deteksi dini mampu mengurangi angka kesakitan malaria. Pemberian obat antimalaria tidak tergantung pada jenis malaria yang diderita. ACT sesuai untuk jenis malaria apa saja. Konsistensi pemberian ACT diperoleh dengan cara meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi obat profilaksis. Selain itu obat antimalaria kombinasi yang ideal mampu menyembuhkan dalam waktu yang singkat dan jika penderita melaksanakan kepatuhan mengonsumsi obat maka tidak akan terjadi resistensi terhadap antimalaria
TINJAUAN ASUPAN ZAT BESI, PROTEIN DAN VITAMIN C PADA IBU HAMIL YANG ANEMIA DEFISIENSI BESI DI PUSKESMAS MLATI II SLEMAN
Prevalence pregnant mother anemia at Yogyakarta Provinsi may as big as 30,13%with details at Yogyakarta City that is 26,79%, at Bantul as big as 21,55%, atKulon Progo as big as 42,39%, at Sleman as big as 43,90%, at Gunung Kidul asbig as 58,70%. Based on result survey foreword that done in December 2008 atPuskesmas Mlati II Sleman, Yogyakarta, got anemia pregnant mother monitoringbasic data at Puskesmas Mlati II 2008 that is found 124 pregnant mothers andthere are 37 or around 29, 84% suffering anemia. This matter showed thatthere is still low level absorption nutrient substance especially ferrum, proteinand vitamin C. To know absorption of iron substance, protein and vitamin C inpregnant mother iron deficiencies anemia at Puskesmas Mlati II Sleman. Thisresearch is observational research, with research plan cross sectional, analyzeddescriptively. This research subject is all pregnant mothers iron deficienciesanemia that examined pregnancy at Puskesmas Mlati II Sleman to detect ferrum,protein and vitamin C absorption. Ferrum absorption with category very less thatis 40 respondents (93%), while that has ferrum absorption with good category andless each only 1 respondent (2%). as much as 31 respondents protein absorptionwas very less (72%). as much as 39 respondents vitamin C absorption was veryless (91%). The average pregnant mother hemoglobin degree anemia as big as10,07 mg/dl and light anemia (95,35%). ferrum absorption a large part subject isin category very less (93%). protein absorption a large part subject is in categoryvery less (72%). vitamin C absorption a large part subject is in category very less(91%)
The Distribution of Culex spp (Diptera: Culicidae) in Selected Endemic Lymphatic Filariasis Villages in Bandung District West Java Indonesia
Abstrak. Data entomologis terkait aspek bionomik dan distribusi nyamuk vektor lymphatic filariasis di Kabupaten Bandung masih sangat sedikit meskipun kabupaten ini sudah mengimplementasikan POPM Filariasis dari tahun 2009. Tujuan penelitian adalah mengindentifikasi spesies nyamuk potensial penular lymphatic filariasis dan habitatnya di wilayah endemis filariasis yaitu Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Survei dilaksanakan selama 2 bulan yaitu September – Oktober 2013 di dua desa Kecamatan Majalaya. Kegiatannya adalah pencidukan larva (termasuk plotting habitat, salinitas, temperatur air, pH), penangkapan nyamuk dewasa menggunakan metode human landing (dalam dan luar rumah) serta resting (dinding rumah dan kandang ternak). Hasil penangkapan nyamuk memperoleh enam spesies yang berhasil diidentifikasi. Culex quinquefasciatus dan Cx. tritaeniorhynchus adalah nyamuk yang dominan tertangkap dengan puncak gigitan antara jam 21.00-01.00 WIB. Terdapat lima tempat perkembangbiakan potensial yang teramati disekitar desa tersebut yang terdiri dari kolam ikan yang terbengkalai dan persawahan dengan salinitas 0‰, temperatur air 28,5-29°C, pH 6-7. Meskipun MHD dan MBR vektor filariasis yaitu Cx. quinquefasciatus di wilayah tersebut relatif rendah, penularan masih dapat terjadi karena didukung dengan kondisi lingkungan dan keberadaan nyamuk vektor tersebut di wilayah iniKata kunci: lymphatic filariasis; tempat perkembangbiakan; Cx. quinquefasciatus; kepadatan, BandungAbstract. Bandung district has been implemented mass drug administration (MDA) program since 2009, but little is known about entomological data especially about bionomic aspects and distribution of lymphatic filariasis (LF) mosquito vectors. This study was aimed to identify potential LF mosquito species and its potential breeding sites in two LF endemic villages in Majalaya, Bandung district. The observational study was conducted in September-October 2013. Mosquito larvae were collected by a scoop and adult mosquitos were captured through indoor-outdoor human-landing and resting collection to identify species diversity and density. Six species filariasis mosquito vectors were identified. The primary LF vectors, Culex quinquefasciatus and Cx. tritaeniorhynchus were found as dominant species with peak landing time between 9 p.m. – 1 a.m. Five potential breeding sites was identified near to villages including neglected fish-pool and paddy field with salinity 0‰, water temperature 28.5-29°C, pH 6-7. The Man-Hour Density (MHD) and Man-Biting Rate (MBR) of Cx. quinquefasciatus was relatively low, however, transmission may potentially occur due to their existence and the availability of favorable environmental conditions across the villages.Keywords: lymphatic filariasis; breeding site; Cx. quinquefasciatus; man-biting density, Bandun
PENGARUH IODIUM DAN SELENIUM TERHADAP STATUS TIROID DAN AKTIVITAS GLUTHATION PEROKSIDASE TIKUS WISTAR JANTAN HIPOTIROID
Background. Iodine and selenium deficiency have important role on hypothyroidism.Iodine is an essential microelement in the thyroid hormone in its role on developmentand growth. Selenium is an essential component of Glutathione Peroxidises (GSHPx)the antioxidant enzyme. Objective. The aim of this study was to evaluate thyroidstatus by measuring Thyroid Stimulating Hormone (TSH) and activity of GSH-Pxafter iodine and selenium treatment. Method. This is an experimental, randomizedpre and post control study. Twenty five weeks male Wistar rats were induced bypropylthiouracil (PTU) for four week before and four week during interventions.Subjects were divided into four groups offive. Group I (control hypothyroidism),group II (iodine supplementation), group III (selenium supplementation), group IV(iodine + selenium supplementation). Data were analyzed using ANOVA and pairedt test at 95 percent confidence interval. Results. There is no difference betweenLevels of TSH in hypothyroidism between groups (p=0.721). Levels and Delta ofTSH between groups were difference at the end study, with p=0.013 and p=0.000respectivelly. Levels of TSH before and after treatment were different in each group,(group I, p=0.031, group II, p=0.003, group III, p=0.004, group IV, p=0.010). Therewere no different activity of GSH-Px between groups and in each group p=0.081and p=0.104. Delta of GSH-Px was not different, p=0.476. Activity of GSH-Px beforeand after treatment only showed differences in group IV (group I, p=0.042, group II,p=0.009, group III, p=0.01, group IV, p=0.623). Conclusion. Intervention of iodineand selenium can reduce levels of TSH and GSH-Px activity.Keywords: GSH-Px, hypothyroidism, iodine, selenium, TS