e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Back Matter

    No full text

    Kontaminasi Telur Cacing pada Sayur dan Upaya Pencegahannya

    No full text
    ABSTRAK Infeksi cacing merupakan permasalahan yang banyak ditemukan di negara berkembang dan belum tuntas diselesaikan. Sayur lalapan dapat menjadi media penularan telur cacing ke manusia. Tujuan tulisan ini adalah mengidentifikasi jenis telur cacing yang ditemukan pada sayuran dan upaya pencegahan menurut siklus hidup cacing tersebut. Tulisan ini mengkaji 4 jurnal penelitian Indonesia, 22 jurnal penelitian internasional, website WHO, dan buku teks yang relevan dengan topik kajian. Hasil kajian menunjukkan jenis telur cacing yang ditemukan pada sayuran tidak hanya Nematoda Soil Transmitted Helminth (STH) seperti Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Necator americanus, Ancylostoma duodenale, dan Strongyloides stercoralis, tetapi juga Nematoda lainnya (Trichostrongylus, Toxocara, Trichocephal, dan Enterobius vermicularis), kelompok cacing Cestoda (Taenia spp., Hymenolepis nana, dan H. diminuta), kelompok Trematoda (Heterophyes heterophyes, Clonorchis sinensis, Fasciola, dan Dicrocoelium dendriticum). Setiap spesies cacing memiliki siklus hidup dan hospes perantara yang berbeda. Upaya pencegahan untuk menghindari risiko infeksi memerlukan kerja sama lintas program, lintas sektor, dan masyarakat dengan memperhatikan siklus hidup cacing. Kata kunci: sayur, telur cacing, pencegahan, kerjasama ABSTRACTHelminth infections are the most common infections in developing countries and still need to be eradicated. Fresh vegetables can be the source for transmission of helminth egg to humans. The aims of this paper are to identify the types of helminth egg which found in vegetables and prevention efforts according to the helminth life cycle. A literature review was arranged by review of 4 articles Indonesian research journal, 22 articles non Indonesia research journal, WHO website, and textbooks relevant to the study topic. The paper describes list of helminth eggs in vegetables, environmental, behaviors, and host-related helminth analyzes in vegetables, and prevention efforts based life cycle of helminthes. The study found that helminth eggs in vegetables were not only Soil Transmitted Helminth (STH) Nematode such as Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Necator americanus, Ancylostoma duodenale, and Strongyloides stercoralis, but also another nematode (Trichostrongylus, Toxocara, Trichocephal, and Enterobius vermicularis), cestoda groups (Taenia spp., Hymenolepis nana, and H. diminuta), Trematode groups (Heterophyes heterophyes, Clonorchis sinensis, Fasciola, and Dicrocoelium dendriticum). Each helminthes species have a different life cycle and intermediate host. Our prevention efforts to avoid infection risk require cooperation across programs, sectors, and community and should consider the helminth life cycles.Keywords: vegetables, helminth eggs, prevention, cooperatio

    Back Matter

    No full text

    EKSPLORASI TUMBUHAN OBAT DI CAGAR ALAM SIGOGOR PONOROGO JAWA TIMUR

    No full text
    Kawasan hutan merupakan kantong-kantong biodiversitas tumbuhan obat. Cagar Alam Sigogor  di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur, merupakan kawasan potensial yang memiliki keragaman tumbuhan obat dan belum banyak diteliti. Ekplorasi tumbuhan obat di kawasan Cagar Alam Sigogor bertujuan untuk mengetahui keragaman, keberlimpahan dan pengetahuan masyarakat sekitar tentang keberadaan tumbuhan obat tersebut. Metode yang digunakan yaitu survey eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Data yang dikumpulkan berupa data sekunder dan primer hasil pengamatan  lapangan dan studi literatur hasil penelitian sebelumnnya. Hasil kegiatan eksplorasi terdata sebanyak  43 spesies tumbuhan obat dari 31 famili. Habitus tumbuhan obat yang ditemukan sebagian besar adalah terna (39,5%), kemudian jenis pohon (23,25%) dan yang paling sedikit adalah semak (6,9%). Bagian tanaman obat yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun dan herba, sedangkan yang paling sedikit dimanfaatkan adalah bunga. Kawasan CA Sigogor memiliki potensi sebagai sumber plasma nutfah tumbuhan obat dan masih membutuhkan penelitian lanjut mencakup wilayah yang lebih luas. Kata kunci: eksplorasi, tumbuhan obat, Sigogor, Ponorogo

    Perbandingan Pemeriksaan Toksigenisitas secara Genotip dan Fenotip pada Beberapa Isolat Corynebacterium diphtheriae Penyebab Difteri di Indonesia

    No full text
    Corynebacterium diphteriae’s toxin can be detected by using in vivo and in vitro examination. Detection of the toxin using the guinea pig is a gold standard. This method requires a long time and has been opposed by animal right organization. There is another alternative method such as vero cell cytotoxicity and Elek test. The limitation of these methods are reagent procurements, technical skill, and a long processing time. Other alternative method like polymerase chain reaction (PCR) can overcome the limitation. PCR can detect the toxin quickly and the results can be interpreted easily. Some previous study showed there was the difference results between PCR and Elek test or vero cell cytotoxicity. The Aim of this study is to compare genotypic toxin detection using PCR and phenotypic detection using Elek test, on some isolates that caused diphtheria outbreak in Indonesia. A total of 12 isolates have been tested in this study. These isolates were obtained from the outbreak cases in Indonesia and isolated in Bacteriology Laboratory, Center for Research and Development of Biomedical and Basic Technology of Health. This study used reference strains as positive and negative controls (NCTC 10648, NCTC 3984 and NCTC 10356). All samples were examined by PCR for toxin genotyping detection, and Elek test for phenotyping detection. The results showed as many as 10 isolates were toxigenic C. diphtheriae while the remaining were non-toxigenic. There was no nontoxigenic tox-gene bearing (NTTB). There were no difference results between PCR and Elek test to detect the toxin.          Base on the results of this study, there was a 100% conformity results between PCR and Elek test to detect the toxin of C. diphteriae

    HLA-DRB1 on Malaria Patients in Central Kalimantan : a Premilinary Study

    No full text
    Human Leucocyte Antigen merupakan marker genetik yang membantu memfasilitasi presentasi antigen sehingga dikenali oleh sel limfosit T. HLA-DRB1 seperti HLA-DRB1*10:01 dan HLA-DRB1*13:02 merupakan HLA tipe 2 yang berkaitan dengan proteksi, sedangkan HLA-DRB1*04:01 berkaitan dengan kerentanan terhadap malaria berat. Oleh karena itu identifikasi alel HLADRB1 pada pasien malaria di Indonesia perlu dilakukan. Sampel berupa 40 spot darah kering yang berasal dari 7 penderita malaria berat dan 22 malaria tanpa komplikasi (11 P falciparum dan 11 P vivaks) yang diperoleh dari RS Doris Sylvanus Palangkaraya, serta 11 non malaria yang tinggal di daerah endemik malaria di Kalimantan Tengah. Setelah DNA sampel diekstraksi kemudian diperiksa tipe alel HLA-DRB1 dengan kit LABType® SSO DRB1 Typing Test (one Lambda). Intensitas floresens dari phycoerythrin selanjutnya diukur dengan alat Luminex dan data dianalisa dengan program  HLA fusion2.  Kisaran umur penderita adalah 3-90 tahun dengan proporsi laki-laki sebesar 62.5%. Hanya 87.5% sampel and 15 variasi alel HLA-DRB1 yang berhasil diidentifikasi. Dua alel yang paling dominan adalah HLA-DRB1*15:02 (23.8%) and HLA-DRB1*15:01(18.7%). Alel lain yaitu HLA-DRB1*01:01, HLA-DRB1*08:01 and HLA-DRB1*12:01 hanya ditemukan pada malaria berat, akan tetapi alel spesifik HLA-DRB1*04:01 yang berkaitan dengan kerentanan terhadap malaria berat tidak ditemukan. Dua dari empat alel homozigot yaitu HLA-DRB1*07:01 dan HLA-DRB1*15:01 tidak ditemukan pada malaria berat. Meskipun dengan sampel yang terbatas dan belum menggambarkan alel spesifik pada kelompok sampel, namun studi pendahuluan ini cukup bermanfaat untuk pemeriksaan dan anaIisis HLA lebih lanjut. Perlu sampel yang lebih banyak dan analisis yang lebih mendalam untuk mendapatkan data HLA yang lebih lengkap

    Waspada Chikungunya

    No full text
    Chikungunya memang belum sepopuler Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau Deman Berdarah, masyarakat yang mengenalnya pun kadang tidak tahu pasti nama penyakit ini. Bila disebutkan beberapa gejala yang menyertai penyakit ini, mereka kadang menyebutnya sebagai penyakit „Flu Tulang‟. Chikungunya, berasal dari bahasa Swahili yang berarti “sesuatu yang menimbulkan rasa nyeri”, memang benar, penyakit ini dapat menyebabkan rasa nyeri pada persendian tulang terutama pada sendi siku, lutut dan pergelangan kaki, sekaligus terjawab sudah kenapa penyakit ini disebut „Flu Tulang‟. Gejala klinis lainnya adalah demam, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, sakit punggung, radang anak tekak dan bintik-bintik merah gatal. Siklus demam sama dengan demam berdarah maupun demam kuning. Masa Inkubasi chikungunya berlangsung 3-7 hari dengan fase akut 2-3 hari. Berbeda dengan penderita demam berdarah dengue, tidak ada perdarahan hebat maupun shock yang dialami penderita chikungunya

    Epidemiologi Filariasis Limfatik di Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur Provinsi Kalimantan Tengah

    No full text
    Di Kawasan Asia Tenggara sebanyak 60% penduduk telah terinfeksi filariasis. Di Indonesia, berdasarkan profil kesehatan Indonesia, setiap tahunnya terjadi peningkatan kasus filariasis. Pada tahun 2008 dilaporkan sebanyak 11.699 kasus. Distribusi penyakit yang cenderung tersebar di wilayah pedalaman menjadikan data – data epidemiologi yang dibutuhkan untuk program eliminasi filariasis menjadi terbatas. Penelitian ini bertujuan mengetahui spesies vektor filariasis beserta aspek bionomiknya, mengetahui spesies mikrofilaria penyebab filariasis limfatik dan mengetahui gambaran klinis manusia penderita filariasis limfatik. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif, jumlah sampel sebanyak 386 sampel warga yang bersedia menjadi responden dan diambil darahnya. Pengambilan darah kapiler dilakukan pada malam hari dengan cara pengambilan sampel seperti lingkaran obat nyamuk bakar. Penangkapan nyamuk dilakukan sebanyak 10 kali menggunakan umpan orang dalam rumah dan luar rumah, menggunakan light trap serta pada pagi hari. Penelitian yang dilakukan dari Februari hingga Juni mendapatkan 386 sampel darah, jumlah ini dibawah target awal karena banyak penduduk yang tidak bersedia diambil darahnya. Dari 386 sampel darah tepi yang diperiksa terdapat 4 orang yang mikrofilaremia, kepadatan rerata mikrofilaria dalam darah sebesar 4,45 dan spesies filaria yang ditemukan adalah Brugia malayi. Periodisitas mikrofilaria berdasarkan analisis Das & Aikat (1976) ada periodik nokturnal dengan sifat gelombang harmonik dan ada pula yang sub-periodik nokturnal dengan sifat gelombang non harmonik. Mf rate sebesar 1,04%, Acute Disease Rate sebesar 5,44%, sedangkan Cronic Disease Rate 0%. Hasil penangkapan vektor selama 5 bulan memperoleh nyamuk sebanyak 23.194 ekor, nyamuk paling banyak tertangkap adalah Mansonia uniformis (25,60%) kemudian Ma. Bonneae (20,70%), Culex tritaeniorhynchus (19,41%), An. maculatus (16,75%), An. balabacensis (15,27%), Ae. albopictus (1,39%), Ae. aegypti (0,88%). Kepadatan paling tinggi pada bulan Juni dengan puncak aktivitas menggigit pada pukul 21.00 – 22.00, namun, dalam penelitian ini tidak ditemukan larva 3 (L3) dalam tubuh nyamuk yang diperiksa, sehingga perlu dilakukan percobaan di labratorium dengan menggunakan membrane feeding. Filariasis yang terjadi di Kotabesi merupakan filariasis limfatik yang disebabkan oleh Brugia malayi, terjadinya infeksi pada malam hari terkait dengan perilaku nyamuk yang kemungkinan berperan sebagai vektor

    Spirakel Volume 8 No.2 2016

    No full text

    Resistensi Pinjal Tikus (Xenopsylla cheopis) Terhadap Insektisida Dalam Penanggulangan Penyakit Pes

    No full text
    AbstractPlague is one of zoonotic disease. Plague caused by an enterobacteriae Yersinia pestis, transmitted to human by fleas (Xenopsylla cheopis) bite. Plague were included of re-emerging disease, a disease that can emerge anytime and potential being an outbreak, it also included of Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). The main cause of re-emerging disease of vector borne disease possible directly caused by insecticide resistance. Bendiocarb, carbaryl, deltamethrin, diazinon, diflubenzuron, and fenitrothion are insecticides which use to control fleas. Insecticide resistance were not give a contribution to an emerge of any diseases, but possible to pursue disease vector control program. There were four provinces in Indonesia being an area of plague monitoring. Disease control carried out by reducing population of fleas. Yersinia pestis using rats as its host and human could be infected by flea bites. An outbreak of plague was initiated by an epizootie on rats. Reducing fleas population and diminishing flea bites were the goals of fleas control, also the plague transmission from rodents to others or human can be blocked. So, controlling fleas population was the main vector control program to overcome plague infection. Keywords : Xenopsylla cheopis, Yersinia pestis, rat, resistance. AbstrakPenyakit pes merupakan salah satu penyakit zoonosis, disebabkan oleh enterobakteria Yersinia pestis, dapat menular ke manusia melalui gigitan pinjal (Xenopsylla cheopis). Pes termasuk penyakit re-emerging diseases, yaitu penyakit yang dapat sewaktu-waktu muncul kembali sehingga berpotensi untuk menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan termasuk dalam Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau Kedaruratan Kesehatan yang meresahkan dunia. Penyebab utama re-emergence of vector borne disease diperkirakan terjadi akibat resistensi insektisida. Resistensi tidak berkontribusi terhadap terjangkitnya suatu penyakit, tetapi dimungkinkan menyebabkan hambatan pada program pengendalian penyakit. Insektisida yang dipergunakan untuk pengendalian pinjal antara lain adalah bendiocarb, carbaryl, deltamethrin, diazinon, diflubenzuron, dan fenitrothion. Terdapat empat wilayah Provinsi di Indonesia yang menjadi daerah pengawasan pes. Penanggulangan penyakit diupayakan dengan melakukan pengendalian terhadap pinjal. Yersinia pestis menggunakan tikus sebagai inang. Apabila seekor tikus menderita pes, manusiapun dapat terinfeksi oleh gigitan pinjal. Tujuan utama pengendalian pinjal adalah menurunkan populasi pinjal dan mengurangi kontak gigitan pinjal. Upaya pengendalian dilakukan untuk mencegah tejadinya penularan pes dari rodensia satu ke rodensia lain atau dari rodensia ke manusia, sehingga pengendalian pinjal merupakan suatu program prioritas utama dalam penanggulangan penularan pes.Kata Kunci: Xenopsylla cheopis, Yersinia pestis, tikus, resistens

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇