e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Quantitative Analysis of Bioactive Compounds In Extract and Fraction of Star Fruit (Averrhoa carambola L.) Leaves Using High Performance Liquid Chromatography

    No full text
    Starfruit (Averrhoa carambola L.) is potential as raw material for medicine, native in tropic areas, including Indonesia. According to other study report, starfruit leaves containing flavonoids apigenin and quercetin as potential anti-inflammatory and anticancer agents. The raw material for the drug in Indonesia mostly obtained through imports from other countries. In order to support the independence of traditional medicine raw materials, it is important to standardize the quality of traditional medicine raw materials, in this case is star fruit leaves by High Performance Liquid Chromatography (HPLC) method. The sample used is star fruit leaves extract obtained from maceration process using ethanol 70%; water fraction, ethyl acetate and hexane fractions obtained from fractionation process of the ethanolic extract. Physical parameters analyzed in sample include appearance, color, odor, taste, extract yield, water content, loss of drying, total ash content, residual solvent. Chemical parameters analyzed include apigenin and quercetin contents. The results shows that star fruit leaves used in this study meet the standards of Indonesian Herbal Pharmacopoeia with highest apigenin and quercetin content are in ethyl acetate fraction

    Pengaruh (pH) Saliva terhadap Terjadinya Karies Gigi pada Anak Usia Prasekolah

    No full text
    AbstractDental caries is a multifactorial process that occurs through the interaction between teeth and saliva as host, the bacteria in the oral cavity, as well as easily fermented foods. Saliva is one of the factors that have a major influence on the severity of dental caries. The aim of this study was to determine the relationship of salivary pH with dental caries among 564 preschool-age children in DIY Province and Banten Province. The results showed that pH levels of the preschool-age children’saliva are more than 75% basic ranging between 6.8 to 8.0 and the highest levels are in Serang District. Index def-t in Serang District is highest (8.83) and the lowest one is in Yogyakarta City (4.97). The mean number of cavities/ decay more than missing teeth or filling teeth. The study indicates that the acidity of saliva among preschool children in the two provinces is not associated with the occurrence of dental caries.It is more likely due to the habit of drinking sweet milk or eating sticky foods.Key words: thepH of saliva, dental caries,sweet food, sticky foods, preschool childrenageAbstrakKaries gigi merupakan proses multifaktor yang terjadi melalui interaksi antara gigi dan saliva sebagai pejamu, bakteri didalam rongga mulut, serta makanan yang mudah difermentasikan. Saliva merupakan salah satu faktor yang mempunyai pengaruh besar terhadap keparahan karies gigi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pH saliva terhadap terjadinya karies gigi pada anak usia prasekolah. Penelitian dilakukan secara potong lintang pada 564 orang anak usia prasekolah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Provinsi DIY) dan Provinsi Banten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat keasaman (pH) saliva pada anak-anak usia prasekolah lebih dari 75% bersifat basa berkisar antara 6,8-8,0 dan tertinggi di Kabupaten Serang. Indeks def-t tertinggi 8,83 di Kabupaten Serang dan yang terendah 4,97 di Kotamadya Yogyakarta. Rerata jumlah gigi berlubang lebih banyak daripada gigi yang hilang maupun gigi yang ditambal.Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pH Saliva pada anak-anak usia pra sekolah di Provinsi Banten dan Provinsi DIY tidak berhubungan dengan terjadinya karies gigi, dimana diketahui pH saliva nya tinggi (bersifat basa) tetapi indeks def-t nya tinggi, tetapi ada hubungan dengan kebiasaan anak minum susu yang manis (bergula),serta sering minum dan makan yang manis dan lengket.Kata kunci: pHsaliva, karies gigi, makanan manis dan lengket, anak usia prasekola

    Hubungan Anemia Gizi dengan Infeksi Kecacingan pada Remaja Putri di Beberapa SLTA di Kota Palu

    No full text
    Anemia is a medical condition in which the number of red blood cells or the hemoglobin is less than normal. Normal hemoglobin levels in adolescent girls is > 12 g/dl. Adolescent girls are said to be anemic if Hb <12 g/dl. The high number of worm infection and the high incidence of anemia among adolescent girls are closely related because worm infection is one of the causes of anemia. This study aimed to analyze factors affecting anemia among high school adolescent girls in the city of Palu. This study was an observational study with case-control study design. Stool sample tested by using direct method showed that 8 out of 72 samples (11.11%) were found positively infected by the worm eggs. There was no association between anemia and worm infection. Most respondents consumed insufficient daily intake of iron and vitamin C. Type of worms was mostly hookworm and follwed by Trihuris trichiura. In order to improve insufficient nutrient intake to prevent anemia in adolescent girls, there should be a communication between teachers and parents to get them more concerned about consuming varied and iron-rich foods, and preventing worm infection.   Abstrak Anemia adalah suatu kondisi medis dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin kurang dari normal. Kadar Hb normal pada remaja putri adalah > 12 gr/dl. Remaja putri dikatakan anemia jika kadar Hb < 12 gr/dl. Tingginya angka kecacingan serta masih tingginya angka kejadian anemia pada remaja putri secara nasional sangat berhubungan karena infeksi kecacingan merupakan salah satu penyebab terjadinya anemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh pada anemia remaja putri di beberapa SLTA Kota Palu. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain penelitian metode case-control. Hasil pemeriksaan sampel tinja menunjukkan bahwa dari 72 sampel tinja yang terkumpul, sebanyak 8 sampel (11,11%) ditemukan positif terinfeksi telur cacing. Tidak ada hubungan antara anemia dan kecacingan. Sebagian besar responden tidak tercukupi jumlah asupan zat besi dan asupan vitamin C harian. Spesies cacing yang ditemukan terbanyak berturut-turut adalah hookworm dan Trichuris trichiura. Untuk mengantisipasi ketidakcukupan asupan zat gizi pada remaja putri perlu dilakukan komunikasi antara guru dengan orang tua siswa agar memperhatikan asupan makanan yang beragam dan cukup zat besi serta mencegah kejadian kecacingan.

    Profil Obat Diare yang Disimpan di Rumah Tangga di Indonesia Tahun 2013

    No full text
    Diarrhea is a major health problem in developing countries. Data form WHO and Unicef show that diarrhea caused 2 million deaths each year and part of it 1,9 million are children under five years. Riskesdas 2013 stated the prevalence of diarrhea in Indonesia is 7%, whereas 12.2% is the prevalence in children under five. This analysis aims to get a profile of diarrhea medication that was stored in households in Indonesia. This study used Riskesdas 2013 data with the design was cross sectional. This study analyzed households data from interview and observation in Riskesdas 2013.The analysis showed that the highest percentage of diarrhea drugs stored at household is adsorbans (39.4%), followed by antimicrobial(20.2%) and traditional medicine (19.2%). The households distribution of diarrhea drugs are mostly found in villages (70%) and in average the household stored one type of diarrhea is 81.4%. The proportions of drug that stored in households is comparable between bought from pharmacy (34.2%)and drug stores/stalls (33.7%), and most of it purchased without a prescription (75.9%). Drug status that is stored in the household comes from the previous treatment (47.8%) and for emergency stock is43.6%. Average duration of treatment for diarrhea is 1-3 days (44.4%) and percentage of household using stored diarrhea medication if needed is 41%. Most drugs are kept in good condition (94.1%).Based on province, the highest proportion of diarrhea medications stored in households is in East Java(19.9%), followed by West Java (17.4%), and Central Java (10.5%).Keywords: diarrhea, rational, diarrhea medicine, anti-microbial AbstrakPenyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang. Menurut World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF), diare mengakibatkan 2 juta kematian setiap tahun dengan 1,9 juta di antaranya adalah balita. Laporan Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) 2013 menyatakan prevalensi diare di Indonesia adalah 7%, pada balita12,2%. Analisis ini bertujuan untuk mendapatkan profil obat diare yang disimpan di rumah tangga. Disain penelitian adalah cross sectional. Metode yang digunakan adalah menganalisis data dari hasil wawancara dan observasi rumah tangga yang menyimpan obat pada pelaksanaan Riskesdas 2013. Hasil analisis menunjukkan bahwa obat diare yang disimpan di rumah tangga terbanyak adalah adsorbans (39,4%), diikuti antimikroba (20,2%), dan obat tradisional (19,2%). Sebaran rumah tangga yang menyimpan obat diare terbanyak adalah di desa (70%) dan rata-rata rumah tangga menyimpan 1 jenis obat diare (81,4%). Proporsi obat yang disimpan rumah tangga sebanding antara yang diperoleh dari apotek (34,2%) dan dari toko obat/warung (33,7%) dan terbanyak dibeli tanpa menggunakan resep(75,9%). Status obat yang disimpan di rumah tangga adalah sisa pengobatan sebelumnya (47,8%)dan untuk persediaan jika sakit (43,6%). Lama pengobatan obat diare, rata-rata 1-3 hari (44,4%) dan rumah tangga yang menyimpan obat diare dan digunakan kalau perlu saja sebanyak 41%. Sebanyak 94,1% obat diare yang disimpan dalam kondisi baik. Berdasarkan provinsi, proporsi obat diare yang disimpan di rumah tangga tertinggi pada Provinsi Jawa Timur (19,9%), diikuti Jawa Barat (17,4%) dan Jawa Tengah (10,5%).Kata Kunci: diare, rasional, obat diare, antimikroba.

    Back Matter Media Litbangkes Vol. 26 No. 3 Edisi September 2016

    No full text

    Penggunaan Kecombrang (Etlingera elatior) sebagai Alternatif Pengganti Sabun dalam Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Suku Baduy

    No full text
    Baduy is one of ethnic Indonesia’s living on the slope of Kendeng’s mountain, Lebak, Province of Banten.Lebak’s Health Service Data in 2013 noted that Kampung Tangtu in Kanekes village is one of sac Yaws Disease, a tropical neglected disease and difficult to eradicated. Adherence to the indigenous traditions in Baduy Dalam about Clean and Healthy Behavior (PHBS) that do not accept modernization such as toothpaste, soap and shampoo, do not use the footwear are the risk factors to the incidence of Yaws inBaduy. This research was conducted to get an idea of the potential of culture-related health problems,including PHBS. This research used an ethnographic approach. The result showed Baduy’s community particularly Baduy Dalam obedient to the Pikukuh and live in harmony with its natural surroundings. Kecombrang (Etlingera elatior) is a natural product with saponins which produce foam, is a plant that is used by Baduy Dalam to take a bath and brush teeth. Kecombrang grown in the forest and not yet cultivated. Conclude that Clean and Healthy Behavior particulary in bathing habits, Baduy Dalam used natural resource around them. In accordance with pikukuh, Baduy Dalam people’s not allowed to use chemical soap because its violating the indigenous traditions. Kecombrang used by Baduy people’s to take a bath, brush the teeth and washed but not yet used for hand washing. It is recommended that keep conducted intensively and continuously approach to the Baduy Dalam by inserting PHBS’s messages while respecting the local wisdom. In addition, cultivation of kecombrang around Baduy Dalam need tobe considered.Keywords: Baduy Dalam Ethnic, PHBS, Etlingera elatior AbstrakSuku Baduy merupakan salah satu etnis di Indonesia yang tinggal di lereng pegunungan Kendeng,Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Data Dinas Kesehatan Lebak pada tahun 2013 menyebutkan bahwa Kampung Tangtu di Desa Kanekes merupakan salah satu kantung penyakit Frambusia, penyakit tropis yang terabaikan dan masih sulit diberantas. Kepatuhan terhadap pikukuh Etnik Baduy Dalam terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yaitu tidak menerima modernisasi seperti penggunaan pasta gigi, sabun mandi dan cuci, sampo, dan tidak menggunakan alas kaki merupakan faktor risiko terhadap kejadian Frambusia di Baduy. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran potensi budaya masyarakat terkait masalah kesehatan, salah satunya tentang PHBS. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Baduy terutama warga masyarakat Etnik Baduy Dalam memiliki sifat yang memegang teguh pikukuh dan hidup selaras dengan alam sekitarnya. Kecombrang (Etlingera elatior) yang merupakan hasil alam dengan kandungan saponin yang memiliki sifat menghasilkan busa adalah tumbuhan yang digunakan masyarakat Baduy untuk mandi dan gosok gigi. Kecombrang tumbuh dengan sendirinya dihutan dan belum dibudidayakan. Disimpukan bahwa PHBS khususnya kebiasaan mandi, masyarakat menggunakan hasil alam yang ada disekitarnya. Sesuai dengan pikukuh adat, masyarakat Baduy Dalam tidak diperbolehkan menggunakan sabun dari bahan kimia karena hal tersebut melanggar aturan adat. Kecombrang dimanfaatkan oleh masyarakat Baduy untuk mandi, menggosok gigi dan keramas namun belum dimanfaatkan untuk mencuci tangan.Perlu dilakukan pendekatan yang intensif dan secara terus menerus kepada masyarakat Baduy Dalam dengan menyisipkan pesan-pesan PHBS kepada masyarakat namun tetap menghormati budaya yang ada. Selain itu perlu adanya pembudidayaan kecombrang di sekitar kampung Baduy.Kata Kunci: Suku Baduy Dalam, PHBS, Etlingera elatio

    Front Matter

    No full text

    Pengaruh Status Kesehatan Ibu terhadap Derajat Preeklampsia/Eklampsia di Kabupaten Gresik

    No full text
    Preeclampsia/eclampsia is one of the main causes of death in women, and the disease is unique in that it only occurs in pregnant women. The disease is known as "theoretical disease" because many theories explaining the causes of preeclampsia/eclampsia. Several risk factors have been identified to increase the risk preeclampsia/eclampsia. The incident of preeclampsia/eclampsia at Ibnu Sina District Public Hospital of Gresik increased in 2013 to 2015. The study aimed to determine the influence of maternal health to the degree of preeclampsia/eclampsia in Gresik. It was an analytical survey with a cross sectional design. Subjects consisted of 190 women with preeclampsia/ eclampsia and the number of samples taken was as many as 77 mothers, using simple random sampling. The variables were age, history of preeclampsia/eclampsia, descent, hypertension, and parity. Analysis of data was carried out using ordinal logistic regression. Data were obtained from interviews, medical records, and Maternal and Child Health (MCH) books. The influences a studies that there is significant descent (p=0,027), hypertension (p=0.001), and parity (p=0.000). The incidence of preeclampsia/eclampsia is affected by the descent, hypertension and parity. It suggests that the risk factors should be concerned by health professionals and mothers during pregnancy counseling.ABSTRAKPreeklampsia/eklampsia merupakan salah satu penyebab kematian utama pada ibu, disamping perdarahan dan infeksi. Preeklampsia/eklampsia adalah penyakit yang unik karena hanya terjadi pada wanita hamil. Preeklampsia/eklampsia dikenal sebagai “disease of theories” karena banyak teori yang menjelaskan tentang penyebab preeklampsia/eklampsia dan sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Beberapa faktor risiko telah teridentifikasi dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklampsai/eklampsia. Kejadiannya meningkat dari 2013-2015 di RSUD Kabupaten Gresik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh status kesehatan ibu terhadap derajat preeklampsia/eklampsia di Kabupaten Gresik. Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan desain cross sectional. Subjek penelitian adalah ibu preeklampsia/eklampsia yang berjumlah 190 orang dan besar sampel 77 orang terdiri 11 ibu eklampsia, 22 ibu preeklampsia ringan, dan 44 ibu preeklampsia berat, menggunakan simple random sampling. Variabel independen dalam penelitian adalah status kesehatan ibu yang terdiri dari usia, riwayat preeklampsia/eklampsia, keturunan, hipertensi, dan paritas. Analisis data menggunakan uji regresi ordinal. Data didapatkan dari hasil wawancara dan data rekam medik. Hasil menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan (α<0,05) yaitu keturunan P/E (p=0,027), hipertensi (p=0,001), paritas (p=0,000). Kejadian preeklampsia/eklampsia dipengaruhi oleh keturuan, hipertensi, dan paritas nulipara. Faktor risiko ini diharapkan menjadi perhatian khusus bagi tenaga kesehatan dan ibu dalam konseling kehamila

    Pengaruh Pendidikan Kesehatan Reproduksi oleh Sebaya Terhadap Pengetahuan dan Sikap dalam Pencegahan Seks Pranikah di SMAN 1 Sukamara, Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah

    No full text
    Adolescence is a transition period of children into adulthood. Teenagers ranges of 10-19 years. Along with the transition period, teens have a complex problem. One is the behavior of premarital sex. Factors affecting premarital sex among adolescents are lack of information and knowledge about reproductive health. Reproductive health education is a way to reduce negative impacts and prevent premarital sex. The study aims to determine the effect of peer education on knowledge of reproductive health and adolescent attitude in preventin of the pre-marital sex at SMAN 1 Sukamara, Central Kalimantan Province. It is an intervention study with a quasi-experimental design, pre and post test control group design. The samples are 50 students with 25 students at intervention and control groups, respectively. Data are analyszed was performed using paired samples t test and unpair t test. Reproductive health education is given three times. Pre-test and post test was performed to measure knowledge and attitudes. There is a signifi cant difference in the control group and the treatment group on the knowledge and behavior of teenagers. knowledge in adolescents p=0.000 (p<0.05) and attitude in adolescents p=0.014 (p<0.05). There is the infl uence of reproductive health education to improve the knowledge and attitude of adolescent in SMAN 1 Sukamara, Central Kalimantan Province.ABSTRAK Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Usia remaja berada pada rentang 10-19 tahun. Seiring dengan masa transisi, remaja mempunyai permasalahan yang kompleks, salah satunya adalah perilaku seks pra nikah. Faktor yang mempengaruhi seks pra nikah pada remaja adalah kurangnya informasi dan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi. Pendidikan kesehatan reproduksi merupakan salah satu cara untuk mengurangi dampak negatif dan mencegah seks pra nikah. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi pada pengetahuan dan sikap remaja dalam pencegahan hubungan seks pra nikah di SMAN 1 Sukamara, Provinsi Kalimantan Tengah. Jenis penelitian intervensi dengan quasi experimental (eksperimental semu) jenis pre test – post test control group design. Jumlah sampel sebanyak 50 siswa dengan masing-masing 25 orang siswa pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Analisis dengan uji t sampel berpasangan dan bebas. Variabel dependen adalah Pendidikan kesehatan reproduksi sedangkan variabel independen adalah pengetahuan dan sikap. Pendidikan kesehatan reproduksi diberikan sebanyak tiga kali. Pengetahuan dan sikap remaja signifi kan berbeda pada kelompok perlakuan dan kontrol. Pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja di SMAN 1 Sukamara, Kabupaten Sukamara.

    MOTIVASI DAN PILIHAN KARIR MAHASISWA TINGKAT AKHIR FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA, SURABAYA

    No full text
    Background: Motivation of a medical doctor in the career preference has been developed during study, in which type of career determine is as to support health development. The study aimed to provide basic data describing medical students’ career preference and their based motivation. Methods: It was an observational study conducted during March to September 2014. Samples were all final-year medical students at Airlangga University period 2009. Data were collected by questionnaires and focus group discussions. Respondents were asked about career preference and motivation in choosing career path. The data were analyzed by chi-square and thematic content analysis. Results: The response rate was 95.2% (n = 180). Career as a clinician was preferred by the majority of respondents (62.2%), with the highest interest in internal medicine specialization (20.4%). Social background of students (the origin, parental education and profession, the source of funds), academic ability (IPK), experience during clinical rotation are not related to career choices (clinicians and non-clinicians). They expressed the balance of career and family lives, interest at particular field study and salary were reasons to choose a specialist. Conclusion: The main motivation in choosing career path is the balance of work and family life; interest in a particular field study and the salary. Recommendation: Academic institution, Medicine Faculty the University of Airlangga are expected to be able to motivate their students by improving the teaching methods and create an academic environment that supports the growth of interest in studying both the nonclinical and clinical medicine field study. AbstrakLatar Belakang: Motivasi seorang dokter dalam menentukan karir yang akan dipilihnya sudah terbentuk sejak masa studi di mana ragam karir yang dipilihnya sebagai upaya untuk mendukung pembangunan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan data dasar dalam menjelaskan pilihan karir mahasiswa dan motivasi yang mendasarinya. Metode: Jenis penelitian observasional yang dilakukan pada Maret hingga September 2014. Sampel adalah seluruh mahasiswa tingkat akhir Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga periode 2009. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dandiskusi kelompok terarah Responden ditanyakan tentang pilihan karier dan motivasinya. Analisis data menggunakan uji chi square dan thematic-content analysis. Hasil: Didapat response rate responden sebesar 95,2% (n = 180). Sebagian besar, 62,2% responden memilih karir sebagai klinisi di mana peminatan terbanyak (20,4%)adalah spesialis ilmu penyakit dalam. Sementara itu, latar belakang sosial mahasiswa (daerah asal, pendidikan akhir dan profesi orang tua, sumber dana untuk kuliah), kemampuan akademis (Indeks Prestasi Kumulatif) dan pengalaman selama masa pendidikan tidak berhubungan dengan pilihan karir (klinisi dan non klinisi). Diungkapkan bahwa keseimbangan karier dan kehidupan keluarga, minat pada bidang tertentu serta besaran penghasilan mendasari pemilihan spesialis. Kesimpulan: Motivasi utama yang mendasari pilihan karir adalah keseimbangan kehidupan pekerjaan dan keluarga, minat pada bidang tertentu serta besaran penghasilan. Saran: Institusi pendidikan, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga diharapkan dapat memberikan motivasi kepada peserta didiknya melalui metode pengajaran yang menarik dan menciptakan lingkungan akademis agar mendukung tumbuhnya minat mempelajari ilmu kedokteran nonklinis dan klinis secara berimbang. 

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇