e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Determinasi Strain Aedes aegypti (Linn.) yang Rentan Homozigot dengan Metode Seleksi Indukan Tunggal

    No full text
    Abstract. Aedes aegypti is a type of mosquito that can carry dengue virus, yellow fever and chikunguya. The spread of this mosquito is very broad, covering almost all tropical regions worldwide. This study aims to determine the vulnerability status of homozygous Ae. aegypti. Sample of Ae. aegypti is mosquito strain from Health Entomology Laboratory Bogor Institute of Agriculture and at random sampling. Ae. aegypti eggs which comes from the breeders hatched separately. Insecticide‐treated paper (impregnated paper) malathion, bendiokarb and deltamethrin are use for insecticides testing using WHO test kit. The analysis showed that the mosquito Ae. aegypti tested with a single sib‐selection method and were exposed to the insecticide malathion, propoksur, and showed an increasing trend sipermetrin vulnerability homozygous at each generation. As for the fourth generation (F4) has not shown changes into a strain that is homozygous susceptible to three types of insecticides. The formation of homozygous susceptible strains take over five generations.Keywords: Ae. aegypti, malathion, bendiocarb, deltamethrin, single sib‐selection methodAbstrak. Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue, demam kuning (yellow fever) dan chikunguya. Penyebaran nyamuk ini sangat luas, meliputi hampir semua daerah tropis di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan mengetahui status kerentanan nyamuk Ae. aegypti secara homozigot. Nyamuk Ae. aegypti yang dijadikan sampel yaitu nyamuk dewasa strain yang ada di Laboratorium Entomologi Kesehatan Institut Pertanian Bogor dan diambil secara acak. Telur Ae. aegypti yang berasal dari satu indukan ditetaskan secara terpisah. Insektisida yang digunakan untuk pengujian menggunakan kertas berinsektisida (impregnated paper) malation, bendiokarb, dan deltametrin dengan menggunakan WHO test kit. Hasil analisis menunjukkan bahwa nyamuk Ae. aegypti yang diuji dengan metode seleksi indukan tunggal serta dipaparkan dengan insektisida malation, propoksur, dan sipermetrin memperlihatkan tren peningkatan kerentanan secara homozigot pada setiap generasi. Adapun pada generasi keempat (F4) belum menunjukkan perubahan menjadi strain yang homozigot rentan terhadap tiga jenis insektisida. Pembentukan strain homozigot rentan memerlukan waktu di atas lima generasi.Kata Kunci: Ae. aegypti, malation, bendiokarb, deltametrin, metode seleksi indukan tunggal

    Korelasi Faktor Ibu Dengan Status Kesehatan Gigi Dan Mulut Anak Taman Kanak-Kanak Di Kelurahan Kemayoran Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya

    No full text
    Caries among children 1–4 years in Indonesia was 10.4%. Maintenance of dental and oral health among under five children and kindergarten depent on their mothers. Mother’s knowledge on dental and oral health maintenance is lack. The study aimed to determine the correlation of maternal knowledge, attitude, and behaviour behavior on maintenance of dental and oral health to their children dental and oral health status. It was an observational study with a cross sectional design. The study was conducted to kindergarden in Kelurahan Kemayoran, Surabaya city. There were 73 mothers and 73 of their children recruited. The independent variables were knowledge, attitude, and practice of mothers on maintenance of dental and oral health and the dependent variables was their children dental and oral health status. Data were collected by interview and the dental and oral health status by intra-oral dental examination. Analysis was by Spearmen correlation test. The majority of mothers were aged 30-39 years old, middle education, with Rp.1,000,000,- to Rp.2,000,000,- monthly income. For their children were relatively higher girls and 78.1% with bad dental and oral health status. The knowledge of mothers on maintenamce dental and oral health was not correlated to their children dental and health status possibly the lowest (30.1%) mothers knowledge on bruishing teeth conducted together with their children. Meanwhile, the mother attitute was correlated (r = 0.272) to their children dental and health status, ρ = 0.01. It was as more than half of mothers very agree that their children should brush their teeth twice a day. The behaviour of mothers on maintenance dental and oral health was not correalated as none of caries teeth was patched. Primary Health Centers should enhance education on the right knowledge on maintenance of dental and oral hygiene of children, especially among mothers. AbstrakKaries pada anak 1–4 tahun di Indonesia sebesar 10,4%. Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada balita dan anak Taman Kanak-Kanak (TK) tergantung kepada ibunya. Pengetahuan ibu tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut masih kurang. Penelitian ini bertujuan menentukan korelasi pengetahuan, sikap, dan tindakan ibu tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan status kesehatan gigi dan mulut anaknya. Jenis penelitian adalah observational dengan desain potong lintang. Penelitian dilakukan pada Sekolah TK di Kelurahan Kemayoran, Kota Surabaya. Dipilih sebanyak 73 ibu dan 73 anaknya. Variabel independen yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan ibu tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sedangkan variabel dependen yaitu status kesehatan gigi dan mulut anaknya. Pengumpulan data dengan wawancara dan status kesehatan gigi dan mulut anak dengan pemeriksaan gigi intra-oral. Analisis data dengan uji korelasi Spearman. Kebanyakan ibu berusia 30–39 tahun, berpendidikan menengah, berpendapatan Rp.1.000.000– Rp.2.000.000,- setiap bulan. Adapun anaknya relatif lebih banyak perempuan dan 78,1% status kesehatan gigi dan mulut buruk. Pengetahuan ibu tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut tidak berkorelasi dengan status kesehatan gigi dan mulut anaknya kemungkinan paling rendah (30,1%) pengetahuan ibu tentang cara menyikat gigi secara bersama dengan anaknya. Sedangkan sikap ibu berkorelasi (r = 0,272) dengan status kesehatan gigi dan mulut anaknya, ρ = 0,01. Hal ini sebagaimana lebih separuh ibu sangat setuju anaknya harus menyikat gigi 2 kali sehari. Tindakan ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut tidak berkorelasi sebagaimana tidak ada penambalan pada gigi anak yang berlubang. Puskesmas perlu meningkatkan penyuluhan tentang pengetahuan pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut anak sejak usia dini yang benar, terutama kepada ibu

    GAMBARAN PENYEBAB KEMATIAN KANKER DI 15 KABUPATEN/KOTA DI INDONESIA 2011

    No full text
    ABSTRACTBackground: Cancer is the third leading cause of death in the world and the incidence is increase each year. In fulfilling the statistics cause of death is necessary to recorded causes of death that meets international standards and described the community data. Methods: Formulir Keterangan Penyebab Kematian (FKPK) is an instrument for recording causes of death with the criteria of the International Classification of Diseases-10 (ICD-10) recommended by World health Organization (WHO). The data collection is done by filling FKPK since January 1 to December 31, 2011 in 15 districts/cities in Indonesia. Underlying cause of death is determined based on the rules in the mortality statistics. Data classified by tabular list 1 and analyzed with SPSS. Results: Cancer cause of death in 15 districts/cities which occurred in 2011 amounted to 2433 cases. The proportion of deaths due to cancer is greater in women than in men (53.3%, 46.7%) and death at home is higher than in the hospital (62.2%, 37.8%). The highest proportion of cancer cause of death in men is hepatoma (17.5%), lung cancer (15.5%). Whereas in women is breast cancer (26.0%), cervical cancer (16.2%) and hepatoma (6.5%). The proportion cancer on children aged ≤18 years most are leukemia (44.05%). Conclusion: The incidence of cancer in Indonesia is quite high. Cancer can be prevented, it is necessary for promotive and preventive efforts to prevent cancer by applying the Clean and Healthy Behaviors and CERDIK.ABSTRAK Latar Belakang: Kanker merupakan penyakit penyebab kematian ketiga di dunia setelah penyakit infeksi dengan insidensi yang terus meningkat setiap tahunnya. Dalam memenuhi statistik penyebab kematian tersebut perlu pencatatan penyebab kematian yang memenuhi standar internasional dan menggambarkan data seluruh masyarakat. Metode: FormulirKeterangan Penyebab Kematian (FKPK) merupakan instrumen pencatatan penyebab kematian yang memenuhi kriteriaInternational Classification of Diseases-10 (ICD-10) yang direkomendasikan oleh WHO. Pengumpulan data kematian dilakukan dengan mengisi FKPK sejak 1 Januari–31 Desember 2011 di 15 kabupaten/kota di Indonesia. Kemudian ditentukan penyebab dasar kematian berdasarkan aturan dalam statistik kematian. Hasil: Kematian yang disebabkan karena kanker di 15 kabupaten/kota yang terjadi pada tahun 2011 berjumlah 2433 kasus. Proporsi kematian karena kanker lebih besar (53,3%) pada perempuan dibandingkan dengan (46,7%) laki-laki, kejadian kematian di rumah lebih banyak di banding di Rumah Sakit (62,2%, 37,8%). Penyebab kematian karena kanker terbesar pada laki-laki adalah (17,5%) malignant neoplasm of liver and intrahepatic bile duct, sedangkan pada perempuan adalah (26,0%) malignant neoplasm of breast. Pada anak usia 0–18 tahun proporsi kematian terbanyak adalah (4405%) leukemia. Kesimpulan: Kejadian kanker di Indonesia cukup tinggi. Kanker dapat dicegah sehingga perlu upaya promotif dan preventif dengan cara menerapkan PHBS dan CERDIK

    Angka Kejadian dan Penatalaksanaan Keracunan di Instalasi Gawat Darurat RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo Purwokerto Tahun 2012–2014

    Get PDF
    Poison can affect or even make dysfunction in the body that can lead to healthy status decreases inemergency situation. Poisoning management needs an appropriate therapy so we can save the life andmake the medication becomes effective and efficient. This study aimed to know the number of poisoningcase and to evaluate the management of poisoning in Emergency Department of Margono SoekarjoHospital of Purwokerto. This study was a descriptive retrospective used patient medical records ofEmergency Department of Margono Soekarjo Hospital of Purwokerto in a period of January 2012 toDecember 2014. To evaluate the management we used poisoning guideline books by BPOM RI in 2001.From January 2012 to December 2014, 117 cases of poisoning occurred, and the highest cause wassnake bites (69,2%). Other causes were pesticides, foods, drug, alcohol, plant, and shellfish. Majority ofthe patients were men (70.1%), in age 28-45 (30.5%), had low educations (49.6%) and jobless (71.8%).The managements varied among patients used antidotes, antibiotic, antihistamine, analgesic-antipiretic,hemostatic agent, anti infection, and some gastrointestinal drugs. The managements which appropriatewith the guideline were 24 cases (20.51%), 75 cases (64.10%) inappropriates with the guideline fromBadan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) also 18 cases with no management as written onthe book as a consecuency of the lack of Operasional Standard Guideline for poisoning management in Emergency Department of Margono Soekarjo Hospital of Purwokerto so there is a needed to makean Operasional Standar Guideline for poisoning management in Emergency Department of Margono Soekarjo Hospital for a better management in the future.Keywords: management, poisoning, emergency department AbstrakRacun dapat mengganggu fungsi tubuh atau bahkan menghentikan fungsi tubuh yang berakibat terjadinya penurunan kesehatan dalam kondisi gawat darurat. Penatalaksanaan keracunan membutuhkan terapi yang tepat sehingga dapat menyelamatkan nyawa pasien dan membuat pengobatan menjadi efektif danefisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian dan mengevaluasi penatalaksanaankeracunan di Instalasi Gawat Darurat RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Penelitian inimerupakan penelitian deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medik pasien Instalasi GawatDarurat RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Periode Januari 2012–Desember 2014.Alat ukur yang digunakan adalah buku pedoman penatalaksanaan keracunan yang disusun BPOMRI tahun 2001. Pada periode tersebut ditemukan 117 kasus keracunan dengan angka kematian 0kasus. Penyebab tertinggi keracunan yakni gigitan ular (69,2%) selain itu ditemukan juga keracunan pestisida, makanan, obat, alkohol, racun tanaman, dan shellfish. Pasien mayoritas adalah laki-laki(70,1%), usia 28–45 tahun (30,5%), memiliki pendidikan rendah yaitu SD (49,6%) serta tidak memilikipekerjaan (71,8%). Penatalaksanaan bervariasi antar tiap pasien menggunakan antidotum, antibiotik,antihistamin, analgetik-antipiretik, hemostatic agent, anti infeksi, dan beberapa obat gastrointestinallainnya. Penatalaksanaan keracunan yang sudah sesuai buku pedoman Badan Pengawasan Obatdan Makanan (BPOM) RI sebanyak 24 kasus (20,51%), belum sesuai sebanyak 75 kasus (64,10%)dan belum terdapat di dalam pedoman sebanyak 18 kasus (15,38%) sebagai konsekuensi dari belumtersedianya standar prosedur operasional untuk penatalaksanaan keracunan di Instalasi Gawat DaruratRSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto sehingga perlu dibuat suatu standar prosedur operasionaluntuk menangani keracunan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto agar penatalaksanaan keracunan yang lebih maksimal.Kata Kunci: penatalaksanaan, keracunan, Instalasi Gawat Darura

    The use of traditional health care among Indonesian Family

    Get PDF
    Latar belakang: Penggunaan obat tradisional, pengobatan komplementer dan alternatif meningkat selama beberapa tahun terakhir. Alasan utama meningkatnya penggunaan obat tradisional adalah pasien mengambil pendekatan yang lebih proaktif untuk kesehatan mereka dan mencari berbagai bentuk perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor dominan yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional pada rumah tangga di Indonesia Metode: Penelitian ini menggunakan data rumah tangga dari data Riskesdas tahun 2013. Jumlah data yang dianalisis sebesar 294.959 subjek.  Analisis data menggunakan analisis kompleks sampel dengan regresi logistik untuk memperoleh faktor dominan yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional pada rumah tangga di Indonesia Hasil: Sebanyak 294.959 subjek pada penelitian ini. Proporsi subjek yang memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional adalah 30,4% (89.752/294.959). Faktor risiko dominan yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional adalah wilayah tempat tinggal, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status ekonomi, dan ketersediaan pelayanan kesehatan. Dibandingkan dengan rumah tangga yang tinggal di pedesaan, rumahtangga yang berada di perkotaan berpeluang 1,09 kali memanfaatkan pelayanan kesehatan tradsional [rasio odds suaian (ORa)= 1,09; 95% CI= 1,04 to 1,14]. Rumah tangga yang tingkat pendidikannya rendah berpeluang 1,10 kali memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional (ORa=1,10; 95% CI=1,03 to 1,18). Rumah tangga dengan pekerjaan swasta berpeluang 1,33 kali memanfaatkan pelayanan kesehatan tradsional (ORa=1,33; 95% CI=1,25 to 1,41). Rumah tangga yang memiliki tingkat ekonomi tinggi berpeluang 1,31 kali memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional (ORa=1,31; 95% CI=1,23 to 1,41). Rumah tangga yang mengetahui ketersediaan pelayanan kesehatan berpeluang 1,44 kali memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional (ORa=1,44; 95% CI=1,29 to 1,60). Kesimpulan: Rumah tangga yang tinggal di perkotaan, memiliki tingkat pendidikan rendah, pekerja swasta, memiliki status ekonomi yang tinggi, mengetahui ketersediaan pelayanan kesehatan, lebih berpeluang memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional Kata kunci: pelayanan kesehatan tradisional, rumah tangga, Indonesia Background: The use of traditional medicine and complementary and alternative medicine has increased significantly over the past few years. The main reasons for the increasing use of traditional medicine is a growing trend for patients to take a more proactive approach to their own health and to seek out different forms of self-care. This study aimed to investigate the dominant risk factors that related to use of traditional health care among Indonesian family Methods: The study used households data from 2013 National Health Survey Indonesia. Using logistic regression, we then could present dominant risk factors that related to use of traditional health care among Indonesian family Results: Total subjects had been analyzed were 294,959 subjects. The subjectsof this study were heads or members of households. The proportion of those who used of traditional health care were 30,4% (78,775/294,959). Dominant risk factors related to used of traditional health care were types area, levels of education, employment status, levels of economic, and knowing about the availability of health care. Compared with those who were in rural, those who were in urban had 1.09 more likely to used of traditional health care [odds ratio adjusted (ORa)=1.09; 95% CI= 1.04 to 1.14]. Households who had low education level had 1.10 more likely to used of traditional health care (ORa=1.10; 95% CI=1.03 to 1.18). Households who were private employees had 1.33 more likely to used of traditional health care (ORa=1.33; 95% CI=1.25 to 1.41). Households who had high economic level had 1.31 more likely to used of traditional health care (ORa=1,31; 95% CI=1,23 to 1,41). Furthermore, households who knowing about the availability of health care had 1.44 more likely to used of traditional health care (ORa=1,44; 95% CI=1,29 to 1,60). Conclusion: Households subjects who were in urban area, private employees, had low level of education and high economic, knowing the availability of health services were more likely to used of traditional health care Keywords: traditional health care, households Indonesia 

    Pengaruh Konsentrasi Kaporit Terhadap Daya Tetas Telur Aedes aegypti

    Get PDF
    Abstract Dengue hemorrhagic fever is still a serious public health problem in the world. World Health Organization noted that outbreak of dengue fever has become a major threat to global health. Dengue is transmitted to humans through the bite of an infected Aedes mosquito dengue virus. Aedes aegypti mosquitoes multiply rapidly within seven days to become adult mosquitoes and live in places like a bathtub, secondhand goods or container that contains water. Chlorine is a chemical used to purify the water as a disinfectant. The research objective was to analyze the effect chlorine to the egg hatchability of Aedes aegypti. The study design is Post Test Only Design with various concentrations of chlorine of 2.5 mg / l; 5.0 mg / l; 7.5 mg / l and 10.0 mg / l. The data was analyzed using Kruskal Wallis test and used to determine LC50 Probit analysis. The results showed there was an influence on various doses of chlorine to the egg hatching rate of Aedes aegypti. Increase of the chlorine concentration in the water followed by less number hatch of eggs. The results of probit analysis showed that the inhibition of the hatching of the eggs 50% at a concentration of 2.579 mg/l chlorine. Based on these results that chlorine could be used as an alternative to the integrated vector control of dengue fever. Keywords: Chlorine, hatchability, Aedes aegypti AbstakDemam berdarah dengue masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia yang serius. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan demam berdarah dengue telah menjadi ancaman utama bagi kesehatan secara global. Demam berdarah dengue ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi virus Dengue. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak dengan cepat dalam waktu sekitar tujuh hari untuk menjadi nyamuk dewasa dan hidup pada tempat-tempat yang dapat menampung air seperti bak mandi, barang bekas dan barang-barang lain yang dapat menampung air. Kaporit merupakan bahan kimia yang biasa digunakan untuk menjernihkan air sebagai desinfektan. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh konsentrasi kaporit terhadap daya tetas telur Aedes aegypti. Rancangan penelitian adalah post test only group design dengan berbagai konsentrasi kaporit yaitu 2,5 mg/l; 5,0 mg/l; 7,5 mg/l dan 10,0 mg/l. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji Kruskall Wallis dan untuk mengetahui LC50 digunakan analisis probit. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh pada berbagai dosis kaporit terhadap persentase penetasan telur Aedes aegypti. Makin tinggi konsentrasi kaporit maka ada kecenderungan makin sedikit jumlah telur yang menetas. Hasil pengolahan data dengan analisis probit menunjukkan bahwa daya hambat terhadap penetasan telur 50% pada konsentrasi 2,579 mg/l kaporit. Berdasarkan hasil tersebut kaporit dapat digunakan sebagai alternatif pengendalian vektor demam berdarah terpadu.Kata Kunci: Kaporit, daya tetas telur, Aedes aegypt

    Penyimpangan Pola Prevalensi Hipertensi di Indonesia – Penyusulan oleh Perempuan pada Usia 28 Tahun: Masukan untuk Perbaikan Pelayanan Kesehatan

    No full text
    AbstractThis policy paper intends to provide inputs for community health program development on highblood pressure (HBP) prevention and treatment improvement. The latest two consecutive NationalHealth Surveys in 2010 and 2013 revealed deviant pattern of HBP among pre menopause females.Earlier take-over of HBP prevalence is observed between females on males. Exploration on HBPrisk by age and sex was performed. The findings showed higher prevalence of HBP risk amongfemales. Age, obesity, emotional distress, and contraceptive use contribute to HBP occurrence.Result of analysis was inconclusive to identify precise risk of earlier take over of high blood pressure.It could probably due to hormonal contraceptive use and higher prevalence of risk among females.Since there was already higher health service utilization, it is recommended that the existing noncommunicable diseases (NCD) prevention and monitoring program is expanded to provide servicefor young females. Among the service provided are motivation for healthy diet, physical activity,mental health service and family planning.Key words: NCD, hypertension, gender, health service, IndonesiaAbstrakArtikel kebijakan ini bertujuan memberi masukan perbaikan program pencegahan dan penangananhipertensi di puskesmas dan masyarakat. Riskesdas 2010 dan 2013 menunjukkan fenomenayang berbeda dengan negara lain. Prevalensi hipertensi perempuan pre menopause lebih tinggidibandingkan lelaki. Tujuan analisa untuk melakukan eksplorasi faktor risiko yang menyebabkanterjadinya penyusulan prevalensi hipertensi pada usia relatif muda. Usia, indeks massa tubuh,distress emosional , jenis kelamin dan penggunaan kontrasepsi merupakan faktor kontributor yangdianalisa. Hasil menunjukkan usia merupakanmerupakan kontributor tertinggi terjadinya hipertensi.Prevalensi hipertensi perempuan non pengguna kontrasepsi tidak berbeda dengan lelaki, sedangkanpengguna kontrasepsi hormonal memiliki risiko lebih tinggi terhadap hipertensi dibanding penggunakontrasepsi non hormonal. Hasil analisa belum dapat secara konklusif memperoleh faktor risikoyang menyebabkan terjadinya penyusulan dini hipertensi perempuan. Namun diduga terkait denganpenggunaan kontrasepsi hormonal dan lebih tingginya prevalensi faktor risiko hipertensi.Kata kunci : PTM, jender, pelayanan kesehatan, hipertensi, Indonesi

    Back Matter

    No full text

    Front Matter

    No full text

    PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP PENGGUNAAN KELAMBU BERINSEKTISIDA LONG LASTING INSECTICIDAL NETS (LLINS) DI KECAMATAN MARIAT, KABUPATEN SORONG, PROVINSI PAPUA BARAT

    No full text
    ABSTRACT Malaria is a contagious disease that remains a public health problem in the world, including Indonesia. The use of mosquito nets is one form of community participation as personal protection equipment for preventing malaria transmission. This paper describes behavioral aspects of society in using mosquito nets. This aspect is part of the research on the effectiveness of malaria control conducted in Sorong and West Seram in Indonesia in 2015. However, we focused on the use of LLINs in Sorong with the sample size of 72 LLINs. The study revealed that leaching of the nets occurred as reported by 98.6% of respondents and they stated that the nets were washed when they were dirty. Out of 63.0% respondents in Sorong said that they washed the nets by soaking them with some amount of detergent. About 58.7% respondents dried out the nets by hanging them in the direct sunlight. The study concluded that people's knowledge about behavioral washing and drying the LLINs was not suitable for maintaining the residue of insecticides for killing the targeted mosquitoes. Suggestions were given to educate targeted people involving cadres and health workers on how to wash and dry out the nets to keep the content of the insecticides. Keywords: Malaria, LLINs, community behavior   ABSTRAK Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia.Pemakaian kelambu merupakansalah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan penularan malaria yang bersifat personal protection.Tulisan ini mengangkat aspek perilaku masyarakat terhadap kelambu yang digunakan. Aspek ini merupakan bagian dari penelitian tentang Ketahanan efektifitas kelambu berinsektisida (Long Lasting Insecticidal Nets) dalam Pengendalian Malaria di Kabupaten Sorong dan Seram Bagian Barat pada tahun 2015. Dalam artikel ini kami fokus pada penggunaan kelambu LLINs di Kabupaten Sorong dengan besar sampel berdasarkan jumlah kelambu yang sudah didistribusikan adalah 72. Hasil penelitian adalah perilaku pencucian terhadap kelambu LLINs, sebanyak 98,6% responden di Sorongmenyatakankelambu akan dicuci jika sudah kotor.Perilaku cara mencuci kelambudengan cara direndam dengan deterjen, dikucek dan dibilas pada responden 63,0%. Sebanyak 58,7%.responden memiliki perilaku cara mengeringkan kelambu dengan menjemur kelambu langsung dibawah sinar matahari. Kesimpulannya adalah pengetahuan masyarakat mengenai perilaku cara pencucian dan cara pengeringan kelambu masih rendah.Saran diperlukan penyuluhan dengan melibatkan kader dan tenaga kesehatan mengenaicara pencucian dan cara pengeringan kelambu untuk menjaga kandungan insektisida dalam kelambu. Kata kunci: Malaria, LLINs, perilaku masyarakat

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇