e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Front Matter

    No full text

    CAKUPAN VAKSINASI DAN ELIMINASI HEWAN PENULAR RABIES (HPR) DI KABUPATEN NAGEKEO, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

    No full text
    Kabupaten Nagekeo merupakan daerah tertular rabies di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian survei dilakukan di wilayah tersebut dengan pengumpulan data secara potong lintang. Pengambilan data pada Bulan Oktober s/d Desember Tahun 2008. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran cakupan vaksinasi dan eliminasi Hewan Penular Rabies (HPR) di Kabupaten Nagekeo. Pengumpulan data dengan cara wawancara menggunakan kuesioner sebagai instrumen. Populasi dan cakupan vaksinasi HPR di Kabupaten Nagekeo terbanyak pada tahun 2004 masing-masing sebanyak 22,615 ekor dan 19,608 ekor. Cakupan eliminasi terbanyak tahun 2006 sebanyak 2,710 ekor. Persentase cakupan vaksinasi tertinggi tahun 2004 (86,70%), cakupan eliminasi tertinggi tahun 2006 (14,39%). Masih rendahnya cakupan vaksinasi dan eliminasi HPR di Kabupaten Nagekeo kemungkinan diantaranya disebabkan oleh populasi anjing yang cenderung meningkat, kurangnya upaya pengendalian populasi anjing dan perilaku masyarakat yang kurang. Perlu adanya penyuluhan kesehatan kepada masyarakat terkait upaya pemberantasan rabies di Kabupaten Nagekeo

    PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKATTERHADAP KECACINGAN DI KECAMATAN MALINAU KOTA, PROPINSI KALIMANTAN UTARA

    No full text
    Infeksi kecacingan tergolong penyakit yang kurang diperhatikan. Kecacinganbiasanya lebih banyak terjadi pada anak usia sekolah.Pentingnya peranan pengetahuan,sikap, dan perilaku masyarakat terhadap kejadian kecacingan, maka dilakukan penelitianuntuk mengetahui pengetahuan,sikap dan perilaku masyarakat di Kecamatan Malinau Kota.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain studi potong lintang. Populasipenelitian adalah seluruh masyarakat pada Kecamatan Malinau Kota. Pemilihan sampeldilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu sebanyak 100 sampel. Datadikumpulkan dengan cara observasi lingkungan dan melakukan wawancara terstrukturdengan instrumen pengumpul data berupa kuesioner. Analisis data hasil penelitian disajikansecara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa pengetahuan, sikap dan perilaku respondentermasuk dalam kategori baik, namun masih ada sebagian kecil yang belum mengetahuicacingan dapat menular 28%, tidak mengetahui cara penularan 28%, tidak mengetahuigejala 25% dan cara pemeriksaan kecacingan 33%. Sebanyak 89% dari responen belumpernah mendapat penyuluhan tentang kecacingan dari tenaga kesehatan dan masih adabeberapa masyarakat yang buang air besar di sungai/rawa (16%

    Front Matter vol 46 no 1 year 2018

    No full text

    Faktor Determinan Penyakit Jantung Koroner pada Kelompok Umur 25-65 tahun di Kota Bogor

    No full text
    Background: Coronary Heart Disease (CHD) is the highest prevalence of Non Communicable disease (NCD) in general population. It affects the morbidity, disability, and mortality rate. The factors that are related to CHD can be controlled and the occurrence of CHD can be prevented. Aim of this study is to identify the determinant factors that are related to CHD on residents in Central Bogor village, Indonesia. Method: The data for this study is based on the baseline data of 2011-2012 NCD cohort study of Central Bogor village in Bogor city of West Java province. Diagnosis of CHD are based on the symptoms of CHD by interview and ECG examination. There are respondents, male and female, aged 25-65 years. Multivariate analysis had been done to describe the factors that influenced CHD. Results: The prevalence of CHD is 20,9 ± 0,41 percent in aged 25-65 years of Central Bogor population. Risk factors that are related to CHD are: stroke, 3.5 times (95% CI 2.0-5.9); hypertension, 1.6 times (95% CI 1.3-1.9); followed by IFG,  1.5 times (95% CI 1.1-1.9); diabetes mellitus, 1.2 times (95% CI: 0.8-1.6); emotional disorders, 1.4 times (95% CI: 1.2-1.7); LDL, 1.3 times (95% CI: 1.0-1.6); obese based on BMI, 1.2 times (95% CI: 1.0-1.5); compared to population with no risk factors. The proportion of CHD in female 1.9 times more than males and there are increasing with age. Conclusion: hypertension and hyperglycemia are the determinant factors of developing CHD. It is recommended develop a CHD risk guidebook to raise public awareness about CHD risk factors.  

    HUBUNGAN ANTARA KEPADATAN DAN TINGKAT INFEKSI SERKARIA Schistosoma japonicum PADA KEONG Oncomelania hupensis lindoensis DENGAN KASUS SCHISTOSOMIASIS DI DAERAH ENDEMIS SCHISTOSOMIASIS, SULAWESI TENGAH

    No full text
    Schistosomiasis in Indonesia is found only in theNapu and Bada Highlands, Poso District and Lindu Highlands, Sigi District, Central Sulawesi Province. Schistosomiasis in Indonesia is caused by Schistosoma japonicum and Oncomelania hupensis lindoensis is the intermediate snail. The mapping of snail focci areas in 2017 showed that there was a significant change in the spread of the snail's focus. This paper aimed to describe the density and infection rate of cercariae S. japonicum on the snail in the endemic areas of schistosomiasis in Central Sulawesi Province. The mean O.hupensis lindoensis snail density in Napu ranged from 0.9 to 6.6/m2, with mean rates of cercariae infections ranging from 0.4% to 21.4%. The snail density average in Lindu ranging from 3/m2 to 69,1/m2, with 4.4%-72.9% of cercariae infections. In bada the snail density ranged from 0.1 to 4.9/m2, with mean rates of cercariae infections ranging from 0% to 14.9%. Bivariate analysis showed there was no correlation among snail density and cercariae infection rate with schistosomiasis case (p value> 0.05). Schistosomiasis di Indonesia hanya ditemukan di Propinsi Sulawesi Tengah, yaitu Dataran Tinggi Napu dan Dataran Tinggi Bada, Kabupaten Poso serta Dataran Tinggi Lindu, Kabupaten Sigi. Schistosomiasis di Indonesia disebabkan oleh Schistosoma japonicum dengan hospes perantara keong Oncomelania hupensis lindoensis. Pemetaan daerah fokus pada tahun 2017 menunjukkan bahwa  terdapat perubahan yang signifikan dalam penyebaran fokus keong. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan kepadatan dan infection rate serkaria S.japonicum pada keong perantara schistosomiasis di wilayah endemis schistosomiasis di Provinsi Sulawesi Tengah. Rerata kepadatan keong O.hupensis lindoensis di Napu berkisar dari 0,9 – 6,6/m2, dengan rerata tingkat infeksi serkaria berkisar antara 0,4% sampai 21,4%, di Lindu kepadatan keong berkisar antara 3/m2 sampai 69,1/m2, dengan tingkat infeksi serkaria 4,4%-72,9%, dan di Bada kepadatan keong berkisar antara 0,1 – 4,9/m2, dengan rerata tingkat infeksi serkaria berkisar antara 0 % sampai 14,9%. Analisis bivariat menunjukkan tidak ada korelasi antara kepadatan keong dan tingkat infeksi serkaria dengan jumlah kasus schistosomiasis nilai p value > 0.05

    Full Issue Vol. 28 No. 1 Tahun 2018

    No full text

    PENGEMBANGAN CRACKERS DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG IKAN PATIN [Pangasius hypophthalmus] DAN TEPUNG WORTEL [Daucus carota L.]

    No full text
    ABSTRACTDiversification of food needs to be done to improve people's eating habits and overcome the main nutritional problems in Indonesia. Striped Fish and carrot flour is good foodstuffs to add to the crackers rich in nutrition especially protein and give a natural compelling color. To know the effect of the addition of striped Fish and carrot flour to the sensory qualities and protein content in crackers. Four different crackers were prepared using these formulation: 1) control; 2) the addition 25 g striped catfish and carrot flour; 3) the addition 50 g striped catfish and carrot flour; and 4) the addition 100 g striped catfish and carrot flour. The preference test was conducted in this research to assess the organoleptic parameters, and analyse the protein content. The sensory evaluation revealed that composite crackers made by adding striped Fish and carrot flour 0, 25g, 50g and 100g had significant differences (p<0.05) in colour, texture, odour and flavor of sensory parameters. Crackers made with 25g striped catfish and carrot flour is the most accepted by panelis with Score Card evaluation method 3,56 out of 5. This formulation had 16.19 percent protein content. Striped Fish and carrot with a correct formulation could improve the sensory quality and protein content of crackers, so that can be good ingredients to improve food products. ABSTRAK Diversifikasi pangan perlu dilakukan untuk memperbaiki kebiasaan makan masyarakat dan mengatasi masalah gizi utama di Indonesia. Tepung Ikan patin dan tepung wortel yang ditambahkan pada crackers diharapkan dapat meningkatkan zat gizi terutama protein dan memberikan warna yang menarik; Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung ikan patin dan wortel terhadap kualitas sensorik dan kadar protein crackers. Empat biskuit berbeda disiapkan menggunakan formulasi berikut: 1) kontrol; 2) penambahan tepung ikan patin dan tepung wortel masing-masing 25 g; 3) penambahan tepung ikan patin dan tepung wortel masing-masing 50 g; 4) penambahan tepung ikan patin dan tepung wortel masing-masing 100 g. Uji preferensi dilakukan dalam penelitian ini untuk menilai parameter organoleptik, dan kandungan protein. Evaluasi sensorik menunjukkan bahwa crackers dengan penambahan tepung ikan patin dan tepung wortel masing-masing 0, 25g, 50g dan 100g memiliki perbedaan yang signifikan (p <0,05) dalam parameter sensori warna, tekstur, aroma dan rasa. Crackers dibuat dengan penambahan tepung ikan patin dan tepung wortel masing-masing 25g adalah yang paling banyak disukai oleh panelis menggunakan evaluasi metode Score Card yaitu dengan nilai 3,56 dari 5. Formulasi ini memiliki kandungan protein sebesar 16,19 persen. Tepung ikan patin dan wortel dengan formulasi yang tepat dapat meningkatkan kualitas sensorik dan kandungan protein crackers sehingga bisa menjadi komponen bahan pangan yang baik untuk memperbaiki produk makanan.ABSTRACTDiversification of food needs to be done to improve people's eating habits and overcome the main nutritional problems in Indonesia. Striped Fish and carrot flour is good foodstuffs to add to the crackers rich in nutrition especially protein and give a natural compelling color. To know the effect of the addition of striped Fish and carrot flour to the sensory qualities and protein content in crackers. Four different crackers were prepared using these formulation: 1) control; 2) the addition 25 g striped catfish and carrot flour; 3) the addition 50 g striped catfish and carrot flour; and 4) the addition 100 g striped catfish and carrot flour. The preference test was conducted in this research to assess the organoleptic parameters, and analyse the protein content. The sensory evaluation revealed that composite crackers made by adding striped Fish and carrot flour 0, 25g, 50g and 100g had significant differences (p<0.05) in colour, texture, odour and flavor of sensory parameters. Crackers made with 25g striped catfish and carrot flour is the most accepted by panelis with Score Card evaluation method 3,56 out of 5. This formulation had 16.19 percent protein content. Striped Fish and carrot with a correct formulation could improve the sensory quality and protein content of crackers, so that can be good ingredients to improve food products. ABSTRAKDiversifikasi pangan perlu dilakukan untuk memperbaiki kebiasaan makan masyarakat dan mengatasi masalah gizi utama di Indonesia. Tepung Ikan patin dan tepung wortel yang ditambahkan pada crackers diharapkan dapat meningkatkan zat gizi terutama protein dan memberikan warna yang menarik; Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung ikan patin dan wortel terhadap kualitas sensorik dan kadar protein crackers. Empat biskuit berbeda disiapkan menggunakan formulasi berikut: 1) kontrol; 2) penambahan tepung ikan patin dan tepung wortel masing-masing 25 g; 3) penambahan tepung ikan patin dan tepung wortel masing-masing 50 g; 4) penambahan tepung ikan patin dan tepung wortel masing-masing 100 g. Uji preferensi dilakukan dalam penelitian ini untuk menilai parameter organoleptik, dan kandungan protein. Evaluasi sensorik menunjukkan bahwa crackers dengan penambahan tepung ikan patin dan tepung wortel masing-masing 0, 25g, 50g dan 100g memiliki perbedaan yang signifikan (p <0,05) dalam parameter sensori warna, tekstur, aroma dan rasa. Crackers dibuat dengan penambahan tepung ikan patin dan tepung wortel masing-masing 25g adalah yang paling banyak disukai oleh panelis menggunakan evaluasi metode Score Card yaitu dengan nilai 3,56 dari 5. Formulasi ini memiliki kandungan protein sebesar 16,19 persen. Tepung ikan patin dan wortel dengan formulasi yang tepat dapat meningkatkan kualitas sensorik dan kandungan protein crackers sehingga bisa menjadi komponen bahan pangan yang baik untuk memperbaiki produk makanan

    TRADISI PERAWATAN IBU PASCA PERSALINAN (SE’I DAN TATOBI) DI KECAMATAN AMANUBAN BARAT, KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

    No full text
    ABSTRACT The number of mortality rate is a barometer status due to public health, especially the number of mother and infant mortality rate (AKI and AKB). Timor Tengah Selatan district, Nusa Tenggara Timur province, viewed from the side of geographic and socio-economic conditions were still in critical conditions whereas the maternal and infant mortality rate in the year 2009-2012 was still high. There is unique tradition in Timor Tengah Selatan district, namely Se’i (fogging) and Tatobi (hot compresses) that were given to the mother after they give birth. Se’i and Tatobi were a series of activity aimed to care pregnant mothers during the puerperium consist dietary restriction, fogging, roasting, and hot water compress for 40 days. This research was a qualitative research conducted to dig deeper about the tradition of Se’i and Tatobi, which held in Amanuban sub district, in Timor Tengah Selatan district, Nusa Tenggara Timur Province. The research was done by means of in-depth interviews to 10 mothers after 0-40 days delivery, biological mothers, mother-in-law, husband, midwives, and community leaders. The results of interview showed there was fear of feeling from mother post childbirth if they do not follow these series of tradition. It is recommended to health workers to improve the health services by using the approach of the culture and local customs, by providing counseling about pregnancy, birth, post birth, and baby care through ways that easily digested by their reason and logic. Keywords: Tradition,Se’i, Tatobi, postpartum care   ABSTRAK Angka kematian merupakan barometer status kesehatan masyarakat terutama kematian ibu dan kematian bayi (AKI dan AKB). Kabupaten Timor Tengah Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Timur dilihat dari sisi geografis dan keadaan sosial ekonomi masyarakatnya masih merupakan daerah kritis dimana angka kematian ibu dan bayi pada tahun 2009-2012 masih tinggi. Di daerah tersebut terdapat tradisi unik, yaitu pengasapan (Se’i) dan kompres panas pada ibu pasca persalinan (Tatobi). Tradisi Se’i dan Tatobi merupakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk merawat ibu selama masa nifas yang terdiri dari pantangan terhadap makanan, pengasapan, pemanggangan, dan kompres kain panas selama 40 hari. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang dilakukan untuk menggali lebih dalam tentang tradisi Se’i dan Tatobi di kecamatan Amanuban, Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian dilakukan dengan cara wawancara mendalam (in-depth interview) pada10 orang ibu pasca melahirkan 0-40 hari, ibu kandung, ibu mertua, suami, bidan, dan tokoh masyarakat. Hasil wawancara menunjukkan ada perasaan ketakutan dari ibu pasca persalinan bila tidak mengikuti pantangan dan anjuran yang dikatakan oleh orangtua, kerabat dan tetangganya. Disarankan kepada petugas kesehatan untuk menggunakan pendekatan budaya dan adat istiadat setempat dalam peningkatan pelayanan kesehatandengan memberikan penyuluhan sekitar kehamilan, kelahiran, pasca kelahiran, dan perawatan bayi melalui cara-cara yang mudah dicerna oleh daya nalar mereka. Kata kunci: Tradisi, Se’i, Tatobi, perawatan ibu pasca persalinan

    Back Matter

    No full text

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇