e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Masyarakat Pasca Pengobatan Dan Pengaruhnya Terhadap Endemisitas Filariasis Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur

    No full text
    AbstractLymphatic filariasis (elephantiasis) is a health problem in Indonesia, including in East Tanjung Jabung. Lymphatic filariasis elimination program in Indonesia was done by breaking the chain of transmission of filariasis with mass drug administration (MDA). The effectiveness of MDA program depends on knowledge, attitudes and practice (KAP) of the community. This study aims to determine the KAP towards lymphatic filariasis and evaluate MDA program. The study was conducted in two phases, namely interviews and finger blood survey (FBS). The number of respondents who interviewed were 117 and the number of people who had blood tests as many as 1,209. Interviews result showed that most respondents knew about lymphatic filariasis. The attitude of the majority of respondents showed a positive attitude. Interviews showed that the behavior of people taking medication was high (88%). Based on the results of the proportion of positive FBS, microfilariae were dominants found in people who do not take medication. Although the knowledge of community is high, the East Tanjung Jabung still declared as filariasis-endemic areas because it found the village with a number of microfilaria (Mf rate) of more than 1%.Keywords: Lymphatic filariasis, KAP, East Tanjung Jabung, endemisAbstrakFilariasis (penyakit kaki gajah) masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia termasuk di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Program eliminasi filariasis di Indonesia dilakukan dengan pemutusan mata rantai penularan melalui pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis. Keberhasilan program POMP filariasis dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap dan perilaku (PSP) masyarakat tentang filariasis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui PSP masyarakat terhadap filariasis dan evaluasi kegiatan POMP filariasis. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap, yaitu wawancara dan survei darah jari (SDJ). Jumlah responden yang diwawancarai sebanyak 117 orang dan jumlah penduduk yang diperiksa darahnya sebanyak 1.209 orang. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengetahui tentang filariasis. Sikap responden sebagian besar menunjukkan sikap positif. Hasil wawancara menunjukkan bahwa perilaku masyarakat minum obat cukup tinggi (88%). Berdasarkan hasil SDJ proporsi penduduk yang positif mikrofilaria paling besar ditemukan pada penduduk yang tidak minum obat. Meskipun pengetahuan masyarakat cukup tinggi, namun Kabupaten Tanjung Jabung Timur masih dinyatakan sebagai daerah endemis filariasis karena ditemukan desa dengan angka mikrofilaria (mf rate) > 1%.Kata Kunci: Filariasis, PSP, Tanjung Jabung Timur, endemisita

    Infeksi Cacing Usus Pada Anak Sekolah SDN 1 Manurung Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan Tahun 2014

    No full text
    AbstractHelminthiasis is still become a health problem in Indonesia with increasing prevalence in last decade. Schoolchildren have a high risk to get helminth infection. We examine the stool sample using Kato Katz method to found data about helminth infection on schoolchildren of SDN I Manurung, Kusan Hilir subdistrcit, Tanah Bumbu regency. Result from 98 stool sample, helminth eggs found in 31 sample (31,6%). Highest infection occured in class IV (8,2%), infection in boys is higher than girls. We found Trichuris trichiura, Ascaris lumbricoides, Hookworm, Enterobius vermicularis and Hymenolepis sp. T. trichiura is highest infection (22,4%). Partly infections were mix infection of T. trichiura and A. lumbricoides. Possible factors that cause helminth infection in SDN I Manurung schoolchildren was poor personal sanitation.Keywords : Helminthiasis, school children, SDN I ManurungAbstrakInfeksi cacing usus masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia dengan adanya kecenderungan peningkatan kembali prevalensi pada dekade terakhir. Anak usia sekolah merupakan kelompok usia yang rentan terinfeksi kecacingan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data kejadian infeksi cacing pada murid sekolah SDN I Manurung, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2014 melalui pemeriksaan sampel tinja. Hasil pemeriksaan tinja dengan metode Kato-katz dari 98 sampel tinja sebanyak 31 sampel (31,6%) positif mengandung telur cacing. Kejadian infeksi tertinggi pada kelas IV yaitu sebanyak 8 orang (8,2%), infeksi pada anak laki-laki lebih tinggi daripada anak perempuan. Jenis cacing yang ditemukan adalah Trichuris trichiura, Ascaris lumbricoides, Hookworm, Enterobius vermicularis dan Hymenolepis sp. Jenis cacing yang menginfeksi tertinggi adalah T. trichiura (22,4%). Sebagian infeksi merupakan campuran antara T. trichiura dan A. lumbricoides. Kemungkinan faktor yang menyebabkan masih tingginya kejadian infeksi cacing adalah rendahnya tingkat sanitasi perorangan.Kata Kunci : Kecacingan, anak sekolah, SDN I Manurun

    Gambaran Aksesibilitas Sarana Pelayanan Kesehatan di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung (Analisis Data Riskesdas 2007)

    No full text
    Pelayanan kesehatan untuk masyarakat merupakan hak asasi manusia yang harus dilaksanakan negara. Pemerintah harus melaksanakan prinsip-prinsip good governance dalam melaksanakan pelayanan publik termasuk pelayanan kesehatan. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui gambaran aksesibilitas fasilitas kesehatan di Propinsi Kepulauan Babel (Bangka-Belitung) menggunakan data sekunder Riskesdas 2007. Data diperoleh dari Badan Litbangkes yang telah menjalani proses manajemen data. Jarak tempuh masyarakat di Propinsi Kepulauan Babel terhadap fasilitas pelayanan kesehatan (Rumah sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Praktek Dokter dan Praktek Bidan) dengan jarak tempuh <1 km bervariasi mulai dari yang tertinggi Kota Pangkal Pinang (87%) dan terendah Kabupaten Bangka (35%). Untuk waktu tempuh ke fasilitas pelayanan kesehatan <15 menit, yang tertinggi adalah Kabupaten Belitung Timur (91%) dan yang terendah Kota Pangkal Pinang (68%). Jarak tempuh masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan pendukung (Posyandu, Poskesdes dan Polindes) <1 km yang tertinggi adalah Kota Pangkal Pinang (97%) dan terendah Kabupaten Bangka (68%). Waktu tempuh ke fasilitas pelayanan kesehatan pendukung <15 menit yang tertinggi adalah Kabupaten Belitung Timur (95%) dan terendah Kabupaten Bangka Selatan (84%). Adanya akses sarana transportasi umum menuju fasilitas pelayanan kesehatan, tertinggi di Kota Belitung (51%) dan terendah di Kabupaten Bangka Selatan (4%). Pemerintah sepatutnya mengoptimalkan strategi yang ada untuk meningkatkan mutu dan pemerataan pelayanan kesehata

    Perilaku Penggunaan Kelambu dan Rumah Sehat terhadap Kejadian Penyakit Tular Vektor (Malaria, Fialriasis dan DBD) pada Masyarakat di Provinsi Jambi

    No full text
    Di Provinsi Jambi, penyakit tular vektor (malaria, filariasis dan DBD) masih merupakan masalah, ini diketahuinya sejak tahun 2006 di 10 kabupaten yang ada di Propinsi Jambi sebagai daerah endemis malaria. Analisis ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kasus malaria, filaria dan DBD dan hubungannya dengan faktor lingkungan rumah dan perilaku penggunaan kelambu di Provinsi Jambi. Analisis yang dilakukan berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007 dimana populasi analisis data Riskesdas ini adalah seluruh masyarakat Provinsi Jambi. Sampel analisisnya adalah rumah tangga yang terpilih yang diwawancarai pada saat Riskesdas 2007. Di Provinsi Jambi berdasarkan hasil analisis lanjut Riskesdas diketahui bahwa penyakit tular vektor untuk malaria paling tinggi kasusnya dibandingkan dengan filaria dan DBD. Kasus malaria tertinggi berada di Kabupaten Sarolangun (8,9%) diikuti oleh Kabupaten Bungo dan Kabupaten Tebo, untuk kasus DBD berada di Kabupaten Bungo dan diikuti Kabupaten Tebo dan Kabupaten Tanjab Timur, sedangkan filariasis berada di Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Bungo. Berdasarkan analisis ini diketahui bahwa 44,1% masyarakat Jambi berperilaku penggunaan kelambu, diketahui kelambu berinsektisida mempunyai peluang kecil untuk terjangkit malaria. Hasil Uji Regretion Binary Logistic, tidur tidak menggunakan kelambu mempunyai peluang 2,14 kali besar terjangkit malaria dan yang tidak menggunakan insektisida di dalam rumah berpeluang 1,37 kali terjangkit malaria. Agar tidak terjangkitnya penyakit tular vektor, untuk itu perlu kita menghindari diri kontak dengan vektor penular penyakit seperti malaria, filaria dan DBD dengan cara penggunaan kelambu, pemakaian kawat kasa di rumah dan sanitasi lingkungan

    Pengaruh Modifikasi Iklim Mikro dengan Vegetasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam Pengendalian Penyakit Malaria

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kasus malaria dan faktor iklim serta pengaruh modifikasi iklim melalui ruang terbuka hijau dalam upaya pencegahan malaria. Metode penelitian yang digunakan yaitu kausal-komparatif dengan menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat insieden malaria dengan ruang terbuka hijau yang berpengaruh terhadap iklim mikro.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara wilayah yang memiliki ruang terbuka hijau dengan wilayah yang tidak memiliki ruang terbuka hijau dengan memiliki nilai korelasi positif 0.637 dan nilai uji beda (t-test) 4.174 dengan nilai signifikansi 0.09. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ruang terbuka hijau mampu memodifikasi iklim mikro maupun meso agar dapat memutuskan mata rantai penularan yang pada gilirannya dapat menurunkan angka kesakitan malaria pada daerah tertentu. Elemen iklim mikro dalam hal ini adalah suhu, kelembapan, intensitas cahaya dan curah hujan

    Pengembangan Modul Pelatihan dan Naskah Sawer Tentang HIV/AIDS Melalui Pelatihan Juru Sawer (Studi di Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat)

    No full text
    The low level of knowledge and attitudes of men and women married about HIV/AIDS is a risk factor for the transmission of the disease. Sawer ceremony in Sundanese traditional marriage can be a medium of education to insert health messages are packaged in the form of advice or advice for wedding couples and guests who attended the marriage. The study was conducted in the district of Subang, West Java Kalijati June to August 2016. The aim of the research training modules and models of text/poem Sawer about HIV/AIDS through training on the prevention, transmission, detection, and prevention. The study included intervention study utilizing sawer culture. The number of interpreters who joined the training sawer six people, total population. Messages about HIV/AIDS is inserted into the script "Sawer", delivered interpreter sawer the bridal couple and the entire law men and married women who were present at the ceremony Sawer marriage. The data collection was done by interviewing, using a structured questionnaire. The results showed that after training, interpreter Sawer has a very good knowledge of the category of the way of prevention, transmission, detection, and prevention of HIV/AIDS. Outcomes research in the form of training modules and poem/text sawer. The manuscript/poem Sawer training results can be disseminated to other sawer interpreter, so it can be used on any sawer wedding ceremonies. ABSTRAKRendahnya tingkat pengetahuan dan sikap laki-laki dan perempuan menikah tentang penyakit HIV/AIDS menjadi faktor risiko untuk tertularnya penyakit tersebut. Upacara sawer dalam perkawinan adat sunda bisa menjadi media edukasi untuk menyisipkan pesan-pesan kesehatan yang dikemas dalam bentuk nasihat atau petuah bagi pasangan pengantin dan tamu undangan yang hadir pada acara perkawinan tersebut. Penelitian dilakukan di kecamatan Kalijati Subang Jawa Barat pada bulan Juni sampai Agustus 2016. Tujuan riset diperoleh modul pelatihan dan model naskah/syair sawer tentang HIV/AIDS melalui pelatihan tentang cara pencegahan, penularan, deteksi, dan penanggulangan.  Jenis riset termasuk riset intervensi dengan memanfaatkan budaya sawer. Jumlah juru sawer yang ikut pelatihan enam orang, total populasi. Pesan tentang HIV/AIDS disisipkan ke dalam naskah “sawer”, yang disampaikan juru sawer pada pasangan  pengantin dan seluruh undangan laki-laki dan perempuan menikah yang hadir pada upacara adat sawer perkawinan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, menggunakan kuesioner terstruktur. Hasil riset menunjukkan bahwa setelah mengikuti pelatihan, juru sawer memiliki kategori pengetahuan yang sangat baik mengenai cara pencegahan, penularan, deteksi, dan penanggulangan HIV/AIDS. Luaran riset berupa modul pelatihan dan syair/naskah sawer. Naskah/syair sawer hasil pelatihan dapat disosialisasikan kepada juru sawer lainnya, sehingga dapat digunakan pada setiap upacara adat sawer pernikahan.

    PERAN RUMAH SINGGAH ‘SANGGAR ANAK MATAHARI’ DAN ‘SAKURA’ DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK JALANAN DI KOTA BEKASI 2013

    No full text
    Street children shelter is a shelter for street children by providing facilities for their existence, providing services and guidance with mission as preparing children for the future. The study aimed to determine roles of street children shelter in the utilization of health services. It was a qualitative study and use of secondary data. The study was conducted at two street children shelters in Bekasi City year 2013. The street children shelters were selected purposively from list of street children shelters at Bekasi City Social Office, namely Rumah Perlindungan Anak Sakura and Sanggar Anak Matahari. Qualitative data was collected by indepht interview. The qualitative data collected were processed in the form of transcrip, then text transcript and coded. The transcript was analyzed by content analysis method. It showed that Sanggar Anak Matahari had more roles in health services utilization than Rumah Perlindungan Anak because it had a sponsor in the field of health service, Zainuttaqwa Hospital. While Rumah Perlindungan Anak Sakura just referred sick street children xto the nearest health center. Both shelters had cooperation with social services for health education activities. If there is street children case can not be managed so cooperation with the Local Government is carried out. Shelters have important roles to foster street children in use of health services. It needs cooperation between shelter managers and government, private sector to increase cooperation with various stakeholders, particularly with regard to health, as health education and medical examination to support roles of shelter in the utilization of health services among street children.ABSTRAK Rumah singgah anak jalanan adalah tempat penampungan bagi anak jalanan dengan memberikan kemudahan bagi eksistensi mereka, memberikan pelayanan dan pembinaan yang bermisi sebagai penyiapan anak untuk masa depannya. Penelitian ini bertujuan menentukan bagaimana peran rumah singgah bagi anak jalanan dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan. Jenis penelitian adalah kualitatif dengan didukung data sekunder. Penelitian dilakukan di dua rumah singgah anak jalanan di kota Bekasi pada tahun 2013. Rumah singgah dipilih secara purposif dari yang tercatat di Dinas Sosial Kota Bekasi yaitu Rumah Singgah Sanggar Anak Matahari dan Rumah Singgah Perlindungan Anak Sakura. Pengambilan data kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam. Data kualitatif yang dikumpulkan diolah dalam bentuk transkrip, kemudian teks transkrip disusun dan dikoding. Analisis terhadap transkrip dengan metode analisis isi. Rumah Singgah Anak Matahari lebih berperan dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan daripada Rumah Singgah Perlindungan Anak Sakura karena memiliki sponsor di bidang pelayanan kesehatan yaitu Rumah Sakit Zainuttaqwa sedangkan Rumah Perlindungan Anak Sakura hanya merujuk ke Puskesmas terdekat. Kedua rumah singgah ini bekerja sama dengan dinas sosial untuk kegiatan penyuluhan kesehatan. Dan bila ada kasus anak jalanan yang tidak tertangani maka dilakukan kerja sama dengan Pemerintah Daerah. Rumah singgah memiliki peranan penting untuk membina anak jalanan dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Perlu adanya kerja sama dari pengelola rumah singgah dengan pemerintah dan pihak swasta dalam meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak, khususnya berkaitan dengan kesehatan, yaitu penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan guna mendukung peran rumah singgah dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan terhadap anak jalanan.

    Karakteristik Habitat dan Keberadaan Larva Aedes spp. pada Wilayah Kasus Demam Berdarah Dengue Tertinggi dan Terendah di Kota Tasikmalaya

    No full text
    Abstract. Dengue hemorrhagic fever is a vector‐borne disease caused by dengue virus and transmitted by Aedes spp. controlling the mosquito population is currently the only means to prevent dengue outbreaks. Thehighest dengue case in Tasikmalaya City until July 2015 was in Cikalang village dan the lowest in Cibunigeulis village. This research was an observational study with a cross‐sectional design with the aim to determine vector density and Aedes sp. presence risk factor based on habitat characteristic in the highest and lowest dengue cases regions. Aedes spp. breeding sites and their characteristic were examined indoor and outdoor at 100 house each in Cikalang dan Cibunigeulis village. The result showed that in Cikalang, larval presence was mostly found in a non‐water‐reservoir containers (18.4%), indoor (6.5%), made of cement/soil/rubber (11.1%), open lid (7.5%), <1 litre volume (14.6%), without draining (22.2%), without larvivorous fish (6.5%), with temephos poured (20.3%), and water company household water source (7,7%). As in Cibunigeulis larval habitats was mostly found in a non‐water‐reservoir containers (8.7%), indoor (0.9%), made of plastic/ceramic/metal/glass (0.9%), open lid (1.1%), <1 litre volume (4%), without draining (2.2%), without larvivorous fish (0.9%), without temephos poured (0.9%), and non‐water company household water source (0.9%). Binary logistic regression analysis showed that household water source (p=0,021, OR=13,78) and drainage (p=0,001, OR=0,101) as a risk factor in Aedes larvae inhabit at Cikalang village and none for Cibunigeulis village. These results showed the importance effect of containers draining factor to the presence of Aedes spp. larvae in the highest dengue cases region.Keywords: Aedes spp., larvae habitat, density, habitat characteristic, TasikmalayaAbstrak. Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan disebarkan oleh nyamuk Aedes spp. Pengendalian populasi nyamuk masih merupakan cara untuk mencegah terjadinya kejadian luar biasa kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Kasus DBD di Kota Tasikmalaya hingga Juli 2015 terendah berada di Kelurahan Cikalang dan tertinggi di Kelurahan Cibunigeulis. Penelitian ini merupakan observasi deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kepadatan vektor dan faktor karakteristik habitat paling berisiko terhadap keberadaan larva Aedes sp. di wilyah kasus DBD tertinggi dan terendah di Kota Tasikmalaya. Pemeriksaan karakteristik habitat larva dilakukan terhadap 100 rumah di masing‐masing Kelurahan Cikalang dan Kelurahan Cibunigeulis. Hasilnya didapatkan habitat larva terbanyak di Cikalang berada pada jenis kontainer non‐TPA (18,4%), letak di dalam rumah (6,5%), berbahansemen/tanah/karet (11,1%), penutup kontainer terbuka (7,5%), volume <1 liter (14,6%), tanpa pengurasan (22,2%), tidak memelihara ikan (6,5%), ditaburi temefos (20,3%), dan sumber air PAM (7,7%). Adapun di Cibunigeulis habitat larva terbanyak ditemukan pada jenis kontainer non‐TPA (8,7%), letak di dalam rumah (0,9%), berbahan plastik/keramik/logam/kaca (0,9%), penutup kontainer terbuka (1,1%), volume <1 liter (4%), tanpa pengurasan (2,2%), tidak memelihara ikan (0,9%), tidak ditaburi temefos (0,9%), dan sumber air non‐PAM (0,9%). Uji regresi logistik biner memperlihatkan bahwa sumber air rumah tangga (p=0,021; OR=13,78) dan pengurasan kontainer (p=0,001; OR=0,101) sebagai faktor yang paling berpengaruh terhadap keberadaan larva di Cikalang. Akan tetapi, di Cibunigeulis tidak ada satupun faktor yang berpengaruh terhadap keberadaan larva Aedes. Hasil ini memperlihatkan besarnya pengaruh faktor pengurasan kontainer terhadap keberadaan larva Aedes spp. di wilayah kasus DBD tertinggi.Kata Kunci: Aedes spp., habitat larva, kepadatan larva, karakteristik habitat, Tasikmalay

    back matter aspirator 9(1)

    No full text

    FACTORS RELATED TO THE OCCURRENCE OF MALARIA IN DISTRICT PANYABUNGAN MANDAILING NATAL SUMATERA UTARA

    No full text
    ABSTRACT Panyabungan is one of the districts in Mandailing Natal regency which is an endemic area of malaria. The number of Malaria cases until 2013 reached 36.6 ‰ in 2879 positive cases. This study aimed to determine factors related to the malaria’s occurrence. This research was observational analytic study with case control design, analyzed by logistic regression.. The result of study indicated that the area of study was in the plateu, the average of temperature and humidity is 30.8 ° C and 66.7% during the day but the everage at night is on 27.2 ° C and 71.7. Factors which  significantly associated with the occurence of malaria were the use of mosquito nets (p value: 0.000; OR: 3.573 ; 95% CI: 1.732 to 7.373), the use of anti-mosquito  substance  (p value: 0.029; OR: 2.719; 95% CI: 1.087 to 6.798), had activity outside  of the house at night (p value: 0.01; OR: 3.254; 95% CI: 1.563 to 6.777), the use of long clothes (p value: 0.013; OR: 2.474; 95% CI: 1.205 to 5.076) and the presence of stagnant water (p value: 0.033; OR: 2.33; 95% CI: 1.06 to 5.118). The dominant risk factors was not using mosquito nets at night.Panyabungan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal dan termasuk daerah endemis malaria. Angka kesakitan malaria hingga tahun 2013 mencapai 36,6‰ dengan 2879 kasus positif. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor lingkungan dan perilaku yang berhubungan dengan kejadian malaria.Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain case control, dan analisis data menggunakan analisis regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan daerah penelitian berada di daerah dataran, rata-rata suhu dan kelembaban pada siang hari 30,8 oC dan 66,7% sedangkan pada malam hari 27,2 oC dan 71,7 %. Faktor-faktor yang berhubungan secara signifikan dengan kejadian malaria yaitu penggunaan kelambu (p value: 0,000; OR: 3,573;  95% CI: 1,732-7,373), pemakaian obat anti nyamuk (p value: 0,029; OR: 2,719; 95% CI: 1,087-6,798), keluar rumah pada malam hari (p value: 0,01; OR: 3,254; 95% CI: 1,563-6,777), kerapatan pakaian (p value: 0,013; OR: 2,474; 95% CI: 1,205-5,076) dan genangan air (p value: 0,033; OR: 2,33; 95% CI: 1,06-5,118). Faktor risiko yang dominan terhadap kejadian malaria di Kecamatan Panyabungan adalah tidak menggunakan kelambu pada malam hari.Panyabungan is one of the districts in Mandailing Natal regency which is an endemic area. The number of Malaria cases until 2013 is still high. Malaria morbidity reached 36.6 ‰ in 2879 positive cases. This study aims to determine factors related to the occurrence malaria. Research was observational analytic study with case control design. The number of samples in case group of 66 people and a control group of 66 people. The result indicate that the area has the Annual Parasite Index (API) was in the plateu, the average of temperature and humidity is on 30.8 ° C and 66.7% during the day but the everage at night is on 27.2 ° C and 71.7. Factors that are significantly associated with the occurence of malaria is the use of mosquito nets (p value: 0.000; OR: 3.573 ; 95% CI: 1.732 to 7.373), use of anti-mosquito  substance  (p value: 0.029; OR: 2.719; 95% CI: 1.087 to 6.798), get out of the house at night (p value: 0.01; OR: 3.254; 95% CI: 1.563 to 6.777), the closed clothing (p value: 0.013; OR: 2.474; 95% CI: 1.205 to 5.076) and the puddle (p value: 0.033; OR: 2.33; 95% CI: 1.06 to 5.118). Analysis of logistic regression shows dominant risk factors on the occurence of malaria in panyabungan distric is not using mosquito nets at night, not using mosquito repellent at night, habit of getting out of the house at night, wearing closed cloting when getting out of the house at night and the presence of puddles around the house as a breeding place of Anopheles. Research conducted in the District Panyabungan showed that several environmental and behavioral factor are correlated to the incidence of malaria. Environmental and behavioral factors associated with the incidence of malaria consists of the use of mosquito nets, mosquito repellent use, out of the house at night, used clothing when outdoors the house as well as the presence of stagnant water.   Keywords     : Malaria, Environment, Behavior, Panyabungan

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇