e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    KEPADATAN JENTIK VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE DI DAERAH ENDEMIS DI INDONESIA (SUMATERA SELATAN, JAWA TENGAH, SULAWESI TENGAH DAN PAPUA)

    No full text
    ABSTRACT Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is transmitted through the bite of Aedes aegypti and Aede. albopictus. Until the end of 2013 DHF has spread in 438 regions (88%) of 497 districts/municipalities in Indonesia. Although the mortality rate is reported to decrease with Case Fatality Rate by 0.7% in 2013, the incidence rate is still quite high (41.25 per 100,000 population). The research was conducted in the provinces of South Sumatra, Central Java, Central Sulawesi and Papua. The purpose of this study was to find out the density of DHF vector mosquitoes by measuring the entomology indexes. The research design is cross sectional study with descriptive analysis. The entomology indexes were performed by larva surveys conducted in 100 homes and examined them according to WHO standards. Data on secondary DHF cases were collected from district health offices and provincial health offices. The results showed that the density of dengue  vectors in 2015 were still very high and the larvae free rates (ABJ) in all four provinces were less than 95%. These conditions would potentially lead to increase dengue cases. Increasing community participation in DHF vector control would be needed to overcome the problems. Keywords: DHF, vector density, entomology index, endemic area   ABSTRAK Demam Berdarah Dengue (DBD) ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus. Sampai dengan akhir tahun 2013, DBD telah menyebar di 438 wilayah (88%) dari 497 wilayah kabupaten/kota di Indonesia. Walaupun angka kematian dilaporkan semakin menurun dengan Case Fatality Rate sebesar 0,7% pada tahun 2013, akan tetapi angka insiden masih cukup tinggi (41,25 per 100.000 penduduk). Penelitian dilakukan di Provinsi Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah dan Papua. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui situasi kepadatan nyamuk vektor DBD dengan mengukur indeks entomologi (HI, BI, CI dan ABJ). Desain penelitian adalah studi potong lintang dan analisis data menggunakan analisis deskriptif. Indeks entomologi dilakukan dengan cara survei jentik  yang dilakukan di 100 rumah yang diperiksa sesuai standard dari WHO. Data kasus DBD dikumpulkan berupa data sekunder dari dinas kesehatan kabupaten dan dinas kesehatan provinsi. Hasil penelitian menunjukkan kepadatan vektor DBD wilayah riset khusus vektora 2015 masih sangat tinggi dan angka bebas jentik (ABJ) di keempat provinsi memiliki ABJ kurang dari 95%. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kasus DBD. Perlu meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengendalian vektor DBD. Kata kunci: DBD, kepadatan vektor, indeks entomologi, daerah endemi

    ASSESSMENT OF INTER-PROGRAM AND INTER-SECTOR ROLES TO SUPPORT THE ACHIEVEMENT OF MALARIA ELIMINATION IN RIAU ISLANDS PROVINCE, INDONESIA

    No full text
    ABSTRAK Terdapat 396 (80%) dari 495 kabupaten/kota di Indonesia merupakan endemis malaria pada tahun 2007, yang melatarbelakangi  diterbitkannya Peratuan Menteri Keseharan No. 293 Tahun 2009 tentang Eliminasi Malaria. Dukungan antar sektor terkait dibutuhkan untuk menciptakan pembangunan lingkungan yang berawawasan sehat untuk mendukung program eliminisi malaria. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran lintas sektor di Provinsi Kepulauan Riau melalui studi obervasi dengan desain potong lintang.  Pengumpulan data dilakukan dengan cara diskusi kelompok terarah (FGD) melibatkan antar program dan  institusi seperti Badan Perencanaan dan Pembanguan Daerah, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perikanan dan Kelautan, dan swasta. Data diolah dengan konten analisis. Hasil penelitian menunjukkan peran masing-masing institusi. Konstruksi drainase yang dilakukan Dinas Pekerjaan umum menciptakan dukungan lingkungan atas eliminasi malaria karena mengurangi genangan air. Dinas Lingkungan Hidup melakukan upaya dukungan dengan melakukan restorasi kondisi lingkungan untuk mengurangi lingkungan yang kondusif bagi perkembangan nyamuk Anopheles. Dinas Perikanan dan Kelautan berperan dalam menyediakan ikan untuk sebagai predator alami untuk menghentikan perkembang biakan nyamuk Anopheles. Dalam konteks tata pemerintahan desentralistis, peran pemerintah daerah menjadi cukup penting dan perlu ditingkatkan untuk mendorong kerjasama antar sektor dan swasta melalui penilaian atas dampak lingkungan untuk pembangunan lingkungan sehat dengan cakupan lebih luas. Kata kunci: Antar program dan sektor, kerjasama, eliminasi malaria, Kepulauan Riau  ABSTRACT There were 396 (80%) out of 495 malaria-endemic districts/cities in Indonesia in 2007 leading to the issuance of Health Ministerial Decree No. 293 in the year 2009 on malaria elimination. Therefore, the study was needed to determine the inter-sector roles to support malaria elimination in Riau Islands. The study was  an observational study with a cross sectional design. Data were collected through focus group discussions involving institutions, such as the Regional Development Planning Agency, Office of Public Works, Office of Environmental Affairs, Office of Marine and Fisheries, and private sectors. Data were analyzed by content analysis. The results revealed that roles of key stakeholders were determined. For instance, drainage constructions by the Office of Public Works led water flow or eliminated pools for malaria vectors breeding. The Office of Environment Affairs restored such environmental conditions to avoid Anopheles mosquitoes breeding places. The Office of Marine and Fisheries reared certain fish as predators of the Anopheles to stop malaria transmission. Under decentralization, roles of the Local Government or District Secretary is required to synergize the inter-sector collaboration. Collaboration between local governments and private sectors should be enhanced through Environmental Impact Assessment for broad and healthy environmental development. Keywords: Inter programs and sectors,collaboration, malaria elimination, Riau Islands Provinc

    PENGEMBANGAN MEDIA POSTER SEBAGAI ALAT BANTU EDUKASI GIZI PADA REMAJA TERKAIT KELUARGA SADAR GIZI (KADARZI) (POSTER MEDIA DEVELOPMENT AS NUTRITION EDUCATION TOOL FOR ADOLESCENTS RELATED ON FAMILY NUTRITIONAL AWARENESS)

    No full text
    ABSTRACTStudy on family nutritional awareness (Kadarzi) of phase I showed that the knowledge, attitudes and behavior of nutrition in the community were still low. Study on Kadarzi of phase II focused on the development of nutrition education materials. This study was to develop media and nutrition education strategies in order to achieve Kadarzi. The study design was cross-sectional, with qualitative methods. The study was conducted in three provinces: West Java, West Sumatra and East  Kalimantan. Samples consisted of two groups, namely sample for media feasibility test (n=98) and sample for implementation of educational test (n=296). Educational channel used was formal education. Type of educational media developed was posters. This study had developed 5 posters with the materials: 1) fruits and vegetables, 2) breakfast, 3) ) weighing to adolescents 13-15 years old (SMP), 4) weighing to adolescents 16-18 years old (SMA) and 5) adolescent anemia. The result showed there was an increase on nutrition knowledge as much as 78,25 percents, after being given nutrition education and a desire to assess an adolescents own nutritional status by weighing and measuring her height. Media nutrition education which was developed was quite simple and easy to understand. The channel education selected was quite effective to improve nutrition knowledge.ABSTRAK Studi keluarga sadar gizi (Kadarzi) tahap awal menunjukkan pengetahuan, sikap dan perilaku gizi di  masyarakat masih rendah, termasuk remaja. Penelitian Kadarzi tahap selanjutnya memfokuskan pada pengembangan materi edukasi gizi yang disesuaikan dengan permasalahan yang ditemukan pada remaja. Tujuan penelitian ini mengembangkan media poster sebagai alat bantu edukasi gizi dalam upaya pencapaian Kadarzi pada remaja. Penelitian ini adalah penelitian operasional dengan desain potong lintang, meng-gunakan metode kualitatif. Penelitian dilakukan di tiga provinsi yaitu Jawa Barat, Sumatera Barat dan Kalimantan Timur. Sampel ada dua kelompok, yaitu sampel uji kelayakan media poster adalah guru (n=22) dan sampel uji coba implementasi edukasi adalah siswa SMP dan SMA (n=296). Media yang dikembangkan berupa 5 buah poster dengan materi: 1) sayur dan buah, 2) makan pagi, 3) penimbangan remaja usia 13-15 tahun (SMP), 4) penimbangan remaja usia 16-18 tahun (SMA), dan 5) anemia remaja. Hasil uji implementasi menunjukkan sebanyak 78,25 persen siswa mengalami peningkatan pengetahuan gizi setelah diberikan edukasi gizi dan menimbulkan antusias siswa dalam praktek menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan untuk menilai status gizinya sendiri.  Media poster dan pesan gizi yang dikembangkan cukup sederhana dan mudah dipahami oleh guru dan siswa. Sekolah sebagai saluran edukasi gizi cukup efektif untuk meningkatkan pengetahuan gizi siswa remaja.ABSTRACTStudy on family nutritional awareness (Kadarzi) of phase I showed that the knowledge, attitudes and behavior of nutrition in the community were still low. Study on Kadarzi of phase II focused on the development of nutrition education materials. This study was to develop media and nutrition education strategies in order to achieve Kadarzi. The study design was cross-sectional, with qualitative methods. The study was conducted in three provinces: West Java, West Sumatra and East  Kalimantan. Samples consisted of two groups, namely sample for media feasibility test (n=98) and sample for implementation of educational test (n=296). Educational channel used was formal education. Type of educational media developed was posters. This study had developed 5 posters with the materials: 1) fruits and vegetables, 2) breakfast, 3) ) weighing to adolescents 13-15 years old (SMP), 4) weighing to adolescents 16-18 years old (SMA) and 5) adolescent anemia. The result showed there was an increase on nutrition knowledge as much as 78,25 percents, after being given nutrition education and a desire to assess an adolescents own nutritional status by weighing and measuring her height. Media nutrition education which was developed was quite simple and easy to understand. The channel education selected was quite effective to improve nutrition knowledge.ABSTRAKStudi keluarga sadar gizi (Kadarzi) tahap awal menunjukkan pengetahuan, sikap dan perilaku gizi di  masyarakat masih rendah, termasuk remaja. Penelitian Kadarzi tahap selanjutnya memfokuskan pada pengembangan materi edukasi gizi yang disesuaikan dengan permasalahan yang ditemukan pada remaja. Tujuan penelitian ini mengembangkan media poster sebagai alat bantu edukasi gizi dalam upaya pencapaian Kadarzi pada remaja. Penelitian ini adalah penelitian operasional dengan desain potong lintang, meng-gunakan metode kualitatif. Penelitian dilakukan di tiga provinsi yaitu Jawa Barat, Sumatera Barat dan Kalimantan Timur. Sampel ada dua kelompok, yaitu sampel uji kelayakan media poster adalah guru (n=22) dan sampel uji coba implementasi edukasi adalah siswa SMP dan SMA (n=296). Media yang dikembangkan berupa 5 buah poster dengan materi: 1) sayur dan buah, 2) makan pagi, 3) penimbangan remaja usia 13-15 tahun (SMP), 4) penimbangan remaja usia 16-18 tahun (SMA), dan 5) anemia remaja. Hasil uji implementasi menunjukkan sebanyak 78,25 persen siswa mengalami peningkatan pengetahuan gizi setelah diberikan edukasi gizi dan menimbulkan antusias siswa dalam praktek menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan untuk menilai status gizinya sendiri.  Media poster dan pesan gizi yang dikembangkan cukup sederhana dan mudah dipahami oleh guru dan siswa. Sekolah sebagai saluran edukasi gizi cukup efektif untuk meningkatkan pengetahuan gizi siswa remaja

    KADAR DAN IDENTIFIKASI SENYAWA POLIFENOL PADA WINE TERBUAT DARI CAMPURAN BUAH EKSTRAK DELIMA DAN PISANG (THE IDENTIFICATION OF POLYPHENOL COMPOUNDS AND ITS CONTENT OF WINE DERIVED FROM MIXED FRUITS OF POMEGRANATE AND BANANA)

    No full text
    ABSTRACTThis research aimed at describing quality and identifies polyphenols of wine made from a mixture of banana and pomegranate fruits. The wines with four different ratios of pomegranate-banana fruits were made (pomegranate: banana): 75:25; 62,5:37,5; 50:50; and 0:100 (control). Ethanol concentrations and taste were used as quality criteria. The ethanol was measured using gas chromatography and the tastes were determined with organoleptic test. HPLC methods were used to measure the total polyphenols and identify their chemical identity. The results of this research was that the ethanol concentration (%) varied between treatments (pomegranate: banana extract, %): 10,33 (75:25); 8,62 (62,5:37,5); 4,88 (50:50); and 9,44 (100: 0) and the organoleptic test by 30 panelist resulted in that the mixture of pomegranate:banana of 50:50 (%) was prefered most. The result also showed that the total polyphenol varied from 3,902 to 4,897 mg/ml, in which the more the pomegranate extract added the more the total polyphenol present in the wine. Further, HPLC analysis of polyphenol for wine with different combined fruit extracts (75:25; 62,5:37,5; 50:50; and 0:100) resulted in the identification of 41, 42, and 42, and 22 peak respectively. Predominant types of polyphenols in pomegranate extract added wine are galloyl-hexoxide, ferulic acid, chlorogenic acid, gallic acid, caffeic acid, catechin, epicatechin, punicalagin α, β punicalagin, and elagic acid. On the otherhand few polyphenols were present dominantly or exclusively in banana extract added wine: naringenin, quercetin-deoxyhexose, and rutin.ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kualitas dan mengidentifikasi polifenol yang terkandung di dalam wine yang dibuat dari campuran buah pisang dan delima. Wine dimaksudkan dibuat dalam 4 perlakuan berbeda berdasarkan % ekstrak buah delima: pisang, yakni berturut-turut dalam rasio: 75:25; 62,5:37,5; 50:50; dan 0:100 (kontrol). Konsentrasi etanol dan citarasa dipakai sebagai kriteria kualitas wine, dan diukur menggunakan kromatografi gas untuk etanol, dan uji organoleptik untuk citarasa. Pengukuran konsentrasi polifenol total dan identifikasi ragam jenis polifenol menggunakan kromatografi cair kinerja-tinggi (KCKT) (HPLC) dan diperbadingkan dengan acuan sekunder. Hasil penelitian adalah bahwa konsentrasi etanol (%) bervariasi untuk perlakuan dengan rasio ekstrak delima:pisang berbeda-beda, yakni: 10,33 (75:25); 8,62 (62,5:37,5); 4,88 (50:50); dan 9,44 (0:100). Uji organoleptik oleh 30 orang panelis didapat bahwa campuran rasio ekstrak delima:pisang 50:50 (%) adalah yang paling disukai. Pengukuran polifenol total diperoleh jumlah yang bervariasi dari yang tertinggi yakni 4.897 mg/ml (75%:25%), 4.467 mg/ml (62,5%:37,5%), 3.937 mg/ml (50%:50%) dan yang terendah adalah 3.427 mg/ml (kontrol), dimana wine dengan jumlah ekstrak delima yang makin tinggi maka makin banyak pula kandungan polifenol totalnya. Identifikasi jenis polifenol menggunakan HPLC didapati bahwa wine dengan rasio ekstrak buah delima:pisang berturut-turut 75:25; 62,5:37,5; 50:50; dan 0:100 secara berturut-turut pula terdeteksi  41, 42, 42, dan 22 sinyal dengan waktu tambat berbeda-beda. Jenis polifenol dominan pada wine yang ditambah delima adalah galloyl-hexoxide, asam ferulat, asam klorogenat, asam galat, asam kafeat, katekin, epikatekin, punikalagin α, punikalagin β, dan asam elagik. Sebaliknya, naringenin, quercetin-deoxyhexose, and rutin ada secara eksklusif pada perlakuan kontrol.

    Uji Toksisitas Subkronik Kombinasi Ekstrak Daun Uncaria gambir dan Caesalpinia sappan

    No full text
    Hiperuresemia prevalence tends to increase in society. A combined extract of Uncaria gambir (gambir) and Caesalinia sappan (secang), had been proven to reduce blood uric acid level in vivo. This study aimed to evaluate the subchronic toxicity of this combination in male and female Sprague Dawley rat strain. Animals were randomly grouped into four groups, namely, DOSE-1 (75 mg/kg bw), DOSE-2 (300 mg/kg bw), DOSE-3 (1200 mg/kg bw) and control group gavaged with carrier. The tested sample was given for 7 weeks orally. The result of blood biochemical parameters were not different significantly compared to control (p> 0.05), as well as the results of hematology analysis. However, the NEUT level of female of DOSIS-2 showed lower and significantly different compared to control (p <0.05). Histopathological evaluation of liver, kidney, heart, small intestine, and stomach organs illustrated that no lesions found in animals especially in DOSE-1 compared to control significantly (p>0,05). Furthermore, this dose did not influence feed intake and body weight of animals in each sex. From this study, it could be concluded that the combination administrated at the dose of 75 mg/kg bw for 7 consecutive weeks did not affect blood biochemistry and hematology and also organ histopathology of kidney, liver, heart, small intestine, and stomach.

    GAMBARAN KONSUMSI PROTEIN NABATI DAN HEWANI PADA ANAK BALITA STUNTING DAN GIZI KURANG DI INDONESIA (THE PROFILE OF VEGETABLE - ANIMAL PROTEIN CONSUMPTION OF STUNTING AND UNDERWEIGHT CHILDREN UNDER FIVE YEARS OLD IN INDONESIA)

    No full text
    Undernutrition is still public health problem in Indonesia, based on 2013 Basic Health Research showed that more than 20 percent of children under five in 18 out of 33 provinces were underweight and more than 20 percent in all of provinces were stunted, so the malnutrition is still a public health problem. Meanhile the SKMI 2014 showed that the average of protein consumption of children under five were above 100 persen RDA. Therefore the purpose of this data analysis was to establish the profile of protein intake and the nutritional status of children under five years old. The data sources were from the SKMI 2014 and the Basic Health Research 2013. The design of the two national health research were cross-sectional, and the analysis was done in National Institute of Heatlh Research and Development, Ministry of Health. Samples were children under five years old (ages 6-59 months). The variables collected were residence, socio economic, education, number of household members, the protein intake, vegetable and animal protein consumption, as well as their nutritional status. The result showed that among stunting and underweight children, the protein intake from animal foods especially milk and dairy foods were lower than children with normal nutritional status. Meanwhile the protein intake from vegetable was higher, especially cereals. Based on these results need to be developed foods containing high quality protein as well as providing information and education for people to consume more varied food sources of high quality protein with low prices such as nuts. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan 18 dari 33 provinsi mempunyai prevalensi gizi kurang (underweight) pada balita lebih dari 20 persen dan semua propinsi masih memiliki masalah stunting lebih dari 20 persen, sehingga masalah gizi kurang dan stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Data SKMI 2014 menunjukkan bahwa tingkat kecukupan rata-rata protein pada balita sudah di atas 100 persen. Analisis lanjut data SKMI 2014 dan data Riskesdas 2013 ini bertujuan untuk melihat profil keragaman asupan protein hubungannya dengan masalah gizi pada balita. Desain penelitian  Riskesdas maupun SKMI adalah cross-sectional.  Analisis data dilakukan di Badan Litbang Kesehatan dari bulan Juni -Oktober 2015. Sampel adalah anak balita (usia 6-59 bulan). Variabel yang dikumpulkan yaitu tempat tinggal, sosial ekonomi kepala keluarga, pendidikan kepala keluarga, jumlah anggota rumah tangga, asupan protein anak balita, konsumsi protein nabati dan hewani anak balita, masalah gizi anak balita yang kemudian dilakukan analisis antara asupan protein hewani dan asupan protein nabati. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada anak balita stunting maupun gizi kurang, asupan protein hewani terutama yang berasal dari  susu dan hasil olahnya lebih rendah dibandingkan anak balita dengan status gizi baik. Sebaliknya asupan protein dari bahan nabati lebih tinggi terutama serealia. Berdasarkan hasil tersebut perlu dikembangkan dan disosialisasikan seperti biskuit tinggi protein yang terbuat dari telur dan susu serta pemberian informasi dan edukasi kepada masyarakat untuk mengonsumsi bahan pangan sumber protein hewani secara lebih bervariasi seperti protein dari kacang-kacangan

    Karakteristik Masyarakat Penderita Malaria di Propinsi Bengkulu

    No full text
    Penyakit yang ditularkan oleh vektor seperti malaria masih menjadi masalah di Indonesia. Salah satu propinsi di luar Pulau Jawa yang memiliki masalah malaria yaitu Propinsi Bengkulu. Riskesdas adalah riset berbasis masyarakat untuk mendapatkan gambaran kesehatan dasar masyarakat diantaranya adalah penyakit malaria dan faktor-faktor yang diperkirakan berperan dalam penularannya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan karakteristik masyarakat dengan kejadian Malaria di Provinsi Bengkulu. Data yang dianalisis diperoleh dari Badan Litbangkes yang telah menjalani proses manajemen data. Uji analisis dilakukan secara bivariat untuk melihat hubungan antara variabel independent dan variabel dependent.Hasil analisis statistik menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik antara kejadian malaria yaitu umur dan jenis pekerjaan. Faktor-faktor resiko yang berperan dalam penularan malaria di Propinsi Bengkulu berbasis data Riskesdas 2007 memang tidak menggambarkan faktor-faktor resiko secara komprehensif namun menyajikan sejumlah fakta yang perlu ditindaklanjuti

    Avian Malaria

    No full text
    Malaria merupakan penyakit infeksi parasit, disebabkan oleh Plasmodium yang menyerang eritrosit yang ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual dalam darah. Plasmodium termasuk genus plasmodium dari famili Plasmodiidae. Namun ternyata infeksi malaria selain menyerang manusia, juga menginfeksi binatang (burung, reptil, mamalia). Malaria avian (infeksi Plasmodium) merupakan suatu penyakit asal protozoa yang bersifat akut yang menyerang eritrosit berbagai jenis unggas. Penyakit tersebut menimbulkan anemia berat, kelemahan dan berakhir dengan kematian. Malaria avian ditularkan oleh nyamuk dan tersifat oleh adanya pigmen di dalam eritrosit. Skizogoni terjadi di dalam darah dan gametosit dapat ditemukan di dalam eritrosit dewasa. Karakteristik tersebut diatas membedakan malaria dari genus lain, yang termasuk family Plasmodiidae. Malaria avian dapat ditemukan pada berbagai jenis burung dan mungkin juga berbagai jenis mamalia

    Gambaran Indeks Entomologi Aedes Di Enam Wilayah Endemis Demam Berdarah Dengue Provinsi Jawa Barat Tahun 2009

    No full text
    Abstract Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) one of the diseases that spread in West Java province and the case is still increasing. The disease is spread by Aedes mosquito mainly Aedes aegypti and usually found in tropical countries especially in Southeast Asia. The study aimed to determine entomology index of larvae Ae. aegypti in endemic areas i.e Bekasi regency, Bekasi, Bandung, Depok, Bogor and Cimahi city. This study was performed as a cross sectional design. Aedes larvae and pupae entomology survey carried out on selected residence per location for three months from August to October 2009. Result showed that entomology index in Cimahi (39.2%) the highest for House Index (HI) and Bogor for Container Index (24.3%). Containers of larvae and pupae were positive in all location i. e bathtub, dispenser, refrigerator, bucket, can, pool, plastic barrel, the bird feeder and flower pot. The enhancement of community participation is necessary in mosquitoes eradication within endemic areas that has a low larvae - free rate Keywords : Entomology Index, Aedes aegypti, House Index, Container Index. Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Jawa Barat, sampai saat ini kasus kesakitannya selalu meningkat. Penyakit ini disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti sebagai sumber penularan utama biasanya banyak ditemukan di negara tropis khususnya di Asia Tenggara.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui data indeks entomoiogi larva A. aegypti di wilayah endemis di Kota Bekasi, Kab.Bekasi, Kota Bandung, Kota Depok, Kota Cimahi dan Kota Bogor. Desain penelitian ini dilakukan secara cross sectional.Survei entomoiogi larva dan pupa Aedes dilakukan pada rumah terpilih selama tiga bulan yaitu bulan Agustus - Oktober 2009. Indeks entomoiogi 6 wilayah endemis Provinsi Jawa Barat, House index (HI) tertinggi di kota Cimahi (39,2%) sedangkan Container Index (Cl) tertinggi kota Bogor (24,3%). Kontainer yang ditemukan larva dan pupa positif di semua lokasi penelitian yaitu bak mandi, dispenser, kulkas, ember, kaleng, kolam, tong plastik, tempat minum burung dan pot bunga. Peran serta masyarakat diperiukan dalam upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di wilayah endemis yang Angka Bebas Jentik (ABJ) masih rendah. Kata kunci: indeks entomoiogi, Aedes aegypti, House index, Container Inde

    Aktivitas Beberapa Atraktan Pada Perangkap Telur Berperekat Terhadap Aedes aegypti

    No full text
    AbstractControl of Aedes aegypti mosquito as dengue haemorrhagic fever/DHF vector can be conducted using the ovitrap modified into a sticky ovitrap. The addition of attractant substances to the ovitrap can attract more mosquitoes comes to the trap, and prevent mosquitoes laying eggs in other places. The aim of this research was to compare hay infusion water and larva rearing water as attractant which combined with sugar-apple (Annona squamosa) seed extract by counting the mosquitoes and eggs trapped. This research used six types medium: hay infusion water, larva rearing water, hay infusion water + sugar-apple seed extract, larva rearing water + sugar-apple seed extract, aquadest + sugar-apple seed extract, and aquadest only as a control. Sample used were 25 gravid female of Ae. aegypti mosquitoes with five replications. Mosquitoes and eggs which trapped were counted. This research showed that the number of mosquito trapped and eggs hatched more found in sticky ovitrap with hay infusion water. Statistic analyzed by ANOVA showed that there is no significant difference towards number off mosquito trapped in sticky ovitrap (p>0,05) whereas the medium material has significant difference towards number off egg hatched than others (p<0,05).Keywords: Sticky ovitrap, attractant, Aedes aegypti AbstrakPengendalian nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor demam berdarah dengue/DBD dapat dilakukan menggunakan ovitrap yang dimodifikasi dengan perekat menjadi sticky ovitrap. Penambahan atraktan pada ovitrap dapat menarik lebih banyak nyamuk datang ke perangkap yang dipasang dan mencegah nyamuk bertelur di tempat lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas atraktan air rendaman jerami dan air bekas kolonisasi yang dikombinasikan dengan ekstrak biji srikaya pada sticky ovitrap terhadap jumlah nyamuk dan telur yang ditemukan. Enam jenis media uji digunakan dalam penelitian ini yaitu air rendaman jerami, air bekas kolonisasi nyamuk, air rendaman jerami + ekstrak biji srikaya (Annona squamosa), air bekas kolonisasi nyamuk + ekstrak biji srikaya, ekstrak biji srikaya + akuades, dan akuades saja sebagai kontrol. Sampel yang digunakan adalah 25 ekor nyamuk Ae. aegypti betina gravid dengan replikasi sebanyak lima kali. Dilakukan pengamatan terhadap jumlah telur dan nyamuk yang terperangkap dalam sticky ovitrap. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah nyamuk terperangkap dan telur yang diletakkan paling banyak ditemukan pada ovitrap dengan atraktan air rendaman jerami. Hasil uji statistik menggunakan ANOVA menunjukkan bahwa media uji tidak berpengaruh terhadap jumlah nyamuk yang terperangkap pada perangkap berperekat (p>0,05), sedangkan media uji berpengaruh signifikan terhadap jumlah telur yang diletakkan dibandingkan dengan media uji lainnya.Kata Kunci: Sticky ovitrap, atraktan, Aedes Aegypt

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇