e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Hubungan Stunting dengan Prestasi Belajar Anak Sekolah Dasar di Daerah Kumuh, Kotamadya Jakarta Pusat

    No full text
    AbstractProblems on nutrition deficiencies can occur in all age groups, including in school-aged children (6-12 years old). Families who live in slums were more likely to fail to meet the nutritional needs as well as unhygienic practice may increase the risk of infectious diseases. The purpose of this study was to determine the relationship between stunting and learning achievement of primary school children in slum areas in Central Jakarta. This study was an observational study with cross sectional design. Data were collected between June to November 2012 from students in six elementary schools of Kramat and Tanah Tinggi Sub-districts. Data collected were basic characteristics, hemoglobin (Hb) level, anthropometry, concentration score, learning achievement and food recall 1x24 hours. Respondents were 141 children consist of 86 girls (61%) and 55 boys (39%). Stunting proportion was 21.5% based on the screening measurement. Bivariate analysis revealed there was a relationship between HAZ (stunting indicator) and learning achievement of school-aged children.Keywords: stunting, learning achievements, school-aged children, slum area, learning concentrationAbstrakMasalah kekurangan gizi dapat terjadi pada semua kelompok umur, demikian pula pada anak umur sekolah (6–12 tahun). Keluarga yang hidup di daerah kumuh memiliki kecenderungan kurang dalam pemenuhan kebutuhan gizi beserta sanitasi lingkungan yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi pada anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara status gizi pendek (stunting) dengan prestasi anak sekolah dasar di daerah kumuh di Kotamadya Jakarta Pusat. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain potong lintang. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni hingga November 2012 dari siswa/i dari 6 sekolah dasar di Kelurahan Kramat dan Tanah Tinggi. Data yang diambil meliputi karakteristik dasar, kadar hemoglobin (Hb), antropometri, skor konsentrasi, prestasi dan food recall 1x24 jam. Responden sejumlah 141 anak yang terdiri dari 86 anak perempuan (61%) dan 55 anak laki-laki (39%). Didapatkan proporsi status gizi pendek sebesar 21.5% dari pengukuran skrining. Dari analisis bivariat dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara z-score TB/U (indikator stunting) dengan prestasi belajar anak.Kata kunci: status gizi pendek, prestasi belajar, anak sekolah, daerah kumuh, konsentrasi belajar

    Gambaran Disabilitas pada Penduduk dengan Diabetes Mellitus di Indonesia , Riskesdas 2013

    No full text
    AbstractDiabetes mellitus (DM) is one of degenerative diseases with high burden due to its impact on mortality and disability. There is yet information on the prevalence of DM related disability in Indonesian community. Analysis was performed to depict disability among “healthy’ and DM in population. The sample was derived from Riskesdas 2013 comprising 430,304 respondents aged 35 or higher. The results showed that DM prevalence was 3.6%. Females who lived in urban had higher prevalence. The prevalence of disability among the “healthy” was 13.8% while among DM was 44.1%. DM related disability started to rise among those aged 55 or higher. The 75 or higher age group had the highest prevalence (76.2%). Cognitive and mobility limitation were the highest disability among the diabetic. Those with DM had 4,89 times (95% CI 4,74 – 5,07) higher risk of disability compared with the ‘healthy group’. Meanwhile respondents with DM and stroke had the highest disability prevalence compared with other groups. The increasing trend of DM prevalence in Indonesia will be accompanied by disabilities. This will become burden for the sufferers, their family and society. Therefore it is necessary to strengthen DM prevention, promotion program, and improve DM related disability management.Key words : DM, disability, Riskesdas 2013.AbstrakDiabetes mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit degeneratif dengan beban penyakit cukup tinggi karena disabilitas dan kematian yang diakibatkannya. Belum ada informasi mengenai prevalensi disabilitas terkait DM di masyarakat Indonesia. Analisis data dilakukan untuk mendapatkan gambaran disabilitas pada penduduk “Sehat” dan “DM” di Indonesia. Sampel yang dianalisis berasal dari data Riskesdas 2013 sejumlah 430.304 responden usia minimal 35 tahun. Hasil analisis menunjukkan prevalensi DM sebesar 3,6% pada usia minimal 35 tahun. Prevalensi pada perempuan lebih tinggi dari laki-laki, dan prevalensi DM lebih tinggi di wilayah perkotaan dibanding perdesaan. Disabilitas pada kelompok “Sehat” sebesar 13,8% dan pada DM sebesar 44,1%. DM mulai meningkat pada usia 55 tahun dan tertinggi pada usia 75 tahun ke atas (76,2%).Keterbatasan kognisi dan mobilitas merupakan keterbatasan tertinggi yang dialami penderita diabetes (diabetisi) . Kelompok DM berisiko gangguan keterbatasan 4,89 x (95% CI 4,74 – 5,07) dibanding kelompok “Sehat”. Disabilitas pada kelompok DM dengan stroke tertinggi dibanding kelompok lain. Dengan semakin meningkatnya prevalensi DM di Indonesia akansemakin meningkat disabilitas yang menjadi beban bagi si penderita, keluarga dan masyarakat. Diharapkan pemegang program meningkatkan penyuluhan dan kegiatan pencegahan DM, memperlambat terjadinya disabilitas pada DM dan meningkatkan penanganan disabilitas.Kata kunci: diabetes mellitus, disabilitas, riskesdas 201

    Faktor Risiko Prediabetes: Isolated Impaired Fasting Glucose (i-IFG), Isolated Impaired Glucose Tolerance (i-IGT) dan Kombinasi IFG-IGT (Analisis Lanjut Riskesdas 2013)

    No full text
    AbstractAn increasing trend of prediabetes is observed worldwide due to lifestyle changes. Several determinantsand metabolic abnormalities have been associated with the condition, but deeper analysis regardingtheir causal relationship to exclusive criteria of prediabetes, namely isolated impaired fasting glucose(i-IFG), isolated impaired glucose tolerance (i-IGT) and mixed IFG-IGT has not been done yet onnationwide data, particularly in Indonesia. This analysis using data extracted from the 2013 BasicHealth Research (Riskesdas) was performed to study associations among factors contributing toprediabetes. Bivariate and multivariate relationships were tested of i-IFG was found to be 20.4%,15.6% for i-IGT and 12.4% for mixed IFG-IGT. Substantial risk factors for i-IGT include: age ≥30years, female gender and fatty food consumption ≥1x/day. While determinants for i-IFG were agegroup ≥40 years, sweet food consumption >1x/day, and drinking coffee ≥1x/day. As for the mixedIFG-IGT category, age group ≥45 years and obesity were found to be potential risk factors. Hence,prediabetes and associated factors become serious public health problems and require effectiveintervention related to age, gender and dietary risk behavior to minimize further negative impactsattributable to metabolic diseases.Keywords: risk factors, prediabetes, isolated IFG, isolated IGT, Riskesdas 2013  AbstrakPrediabetes semakin sering dijumpai di seluruh dunia seiring meningkatnya kejadian diabetes mellitusakibat perubahan gaya hidup. Beberapa determinan dan gangguan metabolik telah dihubungkandengan keadaan tersebut, tetapi analisis mendalam terkait hubungan kausal faktor tersebut terhadapprediabetes dengan kriteria eksklusif seperti isolated impaired fasting glucose (i-IFG), isolatedimpaired glucose tolerance (i-IGT) dan campuran IFG-IGT belum dilakukan untuk data skalanasional khususnya di Indonesia. Analisis yang menggunakan data sekunder Riskesdas 2013 inidilakukan untuk mengkaji hubungan determinan yang diduga berperan pada timbulnya prediabetes.Data diolah melalui uji bivariat dan multivariat. Secara umum, proporsi i-IFG dijumpai sebesar 20,4%,i-IGT sebesar 15,6% dan campuran IFG-IGT sebesar 12,4%. Hasil analisis multivariat menemukanbahwa faktor risiko bermakna i-IGT meliputi usia ≥30 tahun, jenis kelamin perempuan dan konsumsimakanan berlemak ≥1x/hari. Sementara determinan i-IFG adalah usia ≥40 tahun, konsumsi makananmanis ≥1 x/hari, minum kopi ≥1 x/hari. Pada kombinasi i-IFG dan i-IGT, faktor risiko potensial yangdijumpai adalah kelompok usia 45 tahun ke atas dan obesitas. Karena itu, prediabetes dan faktorrisiko terkait menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan intervensi tepat denganfokus pada faktor gender, umur dan perilaku makan, untuk meminimalkan dampak negatif lebihlanjut akibat penyakit metabolik.Kata kunci: faktor risiko, prediabetes, isolated IFG, isolated IGT, Riskesdas 201

    Aktivitas Sitotoksik pada Sel MCF-7 dari Tumbuhan Indonesia untuk Pengobatan Tradisional Kanker Payudara

    No full text
    Indonesia is rich in a variety of potential plants as research materials based on local wisdom in the discovery of new medicinal compound. The research results have been documented in the research office of plant and herbal medicine (Ristoja) 2012. This research is a further assessment of Ristoja 2012, aims to test the cytotoxic activity of 20 parts of plants that are used for traditional treatment of cancer in Indonesia. The extraction was carried out by the infuse method using water solvent then dried in 40o C oven to obtain a dry extracts. The cytotoxicity activity test was performed on MCF-7 breast cancer cell model using MTT method, and cell profile with flow cytometry method. The results of cytotoxic test showed that 19 extracts had cytotoxic activity with IC50 100-300 μg/ml. One plant showed strong activity i.e. Gerrardanthus macrorhizus Harv. ex Benth. & Hook.f. tuber with IC50 value 73.5 μg/mL. Root tuber extract did not affect the MCF-7 cell cycle profile but increased cell population in sub G1 indicating apoptosis induction, potentially developed as chemopreventive agent.   Abstrak Indonesia kaya akan berbagai jenis tumbuhan yang potensial sebagai bahan riset berbasis kearifan lokal dalam penemuan senyawa baru berkhasiat obat. Kekayaan tersebut terhimpun dalam hasil penelitian riset tumbuhan dan jamu (Ristoja) tahun 2012. Penelitian ini merupakan analisis lanjut dari Ristoja 2012 yang bertujuan untuk menguji aktivitas sitotoksik 20 bagian tumbuhan yang dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional kanker di Indonesia. Ekstraksi dilakukan dengan metode infusa menggunakan pelarut air kemudian dikeringkan dalam oven suhu 40o C hingga diperoleh ekstrak kering. Uji aktivitas sitotoksik dilakukan pada model sel kanker payudara MCF-7 menggunakan metode MTT, dan profil siklus sel dengan metode flow cytometry. Hasil uji sitotoksik menunjukkan, 19 ekstrak memiliki aktivitas sitotoksik dengan IC50 100-300 μg/mL. Satu tumbuhan menunjukkan aktivitas kuat yaitu umbi akar batu (Gerrardanthus macrorhizus Harv. ex Benth. & Hook.f.) dengan nilai IC50 73,5 μg/mL. Ekstrak umbi akar batu tidak mempengaruhi profil siklus sel MCF-7 namun meningkatkan populasi sel di sub G1 yang mengindikasikan terjadinya apoptosis, sehingga potensial dikembangkan sebagai agen kemopreventif

    Front Matter Vol 27 No. 2 Tahun 2017

    No full text

    A prediction model of Dengue incidence using climate variability in Denpasar city

    No full text
    Latar belakang: Kota Denpasar di Provinsi Bali merupakan salah satu kota dengan kejadian dengue tertinggi di Indonesia. Faktor lingkungan seperti variabilitas iklim merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi timbulnya demam berdarah. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model prediksi kejadian dengue dengan menggunakan data sekunder iklim mingguan dan surveilans demam berdarah di Denpasar, Bali tahun 2010-2014. Data iklim diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG), sedangkan data kasus klinis demam berdarah diperoleh dari Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), Kementerian Kesehatan RI. Analisis data menggunakan regresi linier dengan berbagai kombinasi variabel iklim dan lag time. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara jumlah kasus demam berdarah, curah hujan, suhu, kelembaban dengan kejadian demam berdarah (p <0,05). Kejadian demam berdarah di kota Denpasar dipengaruhi oleh variabilitas iklim periode 4 minggu (at lag 4 weeks) lebih awal dan jumlah kasus demam berdarah terjadi dua minggu sebelumnya. Dengan demikian faktor iklim mempengaruhi kejadian demam berdarah secara tidak langsung. Kesimpulan: Model  prediksi  dapat  digunakan  sebagai  salah  satu  pertimbangan  peringatan  dini penyakit demam berdarah di kota Denpasar, disamping memberikan penyuluhan atau upaya edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan demam berdarah dan eliminasi vektor. Selain itu memberikan kesempatan bagi sistem kesehatan dalam memahami dan merespon kasus dengue yang lebih baik.Kata kunci: Denpasar, Dengue, Iklim, Regresi, Lag time. Abstract Background: Denpasar city in Bali province is one of cities with the highest dengue incidence in Indonesia. Environmental factors such as climate variability is one of the factors that influence the incidence of dengue. Methods: This study aimed to obtain a predictive dengue incidence models using secondary data of weekly climate and surveillance of dengue cases in Denpasar, Bali, 2010-2014. Climate data was obtained from Indonesia Agency for Meteorological, Climatological, and Geophysical (BMKG), while  dengue clinical cases were obtained from Primary Health Care as reporting unit in Early Warning Alerts Respons System (EWARS) Ministry of Health. Data analysis was using linear regression with various combinations of climate variables and lag time.Results: The study showed significant relationship between the number of dengue cases, rainfall, temperature, humidity and the incidence of dengue (p<0.05). Incidence of dengue in Denpasar city was affected by climate variability of  4-week period (at lag 4 weeks) earlier and the number of dengue cases was from two weeks earlier. Thus climate factors affected the incidence of dengue indirectly.Conclusion: The prediction model can be used as one of the considerations on the early warning of dengue disease in Denpasar city, while providing counseling or education efforts to the community about prevention of dengue and vector elimination. It also allows sufficient time for health systems to be prepared to respond and better understanding of dengue cases. Keywords: Denpasar, Dengue, Climate, Regression, Lag time.  

    AN EXPLORATION OF CULTURAL PERCEPTION AND COMMUNITIES BEHAVIOUR RELATED TO MORTALITY: A QUALITATIVE STUDY OF COMMUNITIES IN SOLO AND PEKALONGAN, CENTRAL JAVA PROVINCE

    No full text
    ABSTRAK Data kematian  dan pemahaman masyarakat terhadap penyebab kematian sangat penting bagi dalam menentukan kebijakan kesehatan berbasis bukti. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif tentang penyebab kematian dengan tujuan untuk mengetahui sikap budaya terkait kematian termasuk kepercayaan yang menonjol dan sensitif yang  muncul pada saat berduka/kehilangan di Kota Solo dan Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan focus group discussion (FGD) terhadap pemuka agama, petugas kesehatan, bidan, tokoh masyarakat, guru,dan pengusaha setempat. Wawancara semi-terstruktur terhadap informan kunci dari keluarga yang sedang berduka dan tidak sedang berduka. Dilakukan pula observasi terhadap status sosial dan ekonomi serta pola aktivitas masyarakat di kedua lokasi. Hasil analisis data di kedua lokasi menunjukkan bahwa kejadian kematian dan aktivitas yang mengikutinya bersifat agamis dan duniawi. Kepercayaan pada adanya kehidupan setelah mati dan pentingnya kecepatan menguburkan, dengan semua hal yang berhubungan dengan penanganan dan pengurusan jenazah, menjadi ranah keagamaan. Prosedur untuk mendapatkan sertifikat kematian berada pada kerangka hukum yuridis dan sebagai pendorong untuk pemenuhan kebutuhan data mengenai penyebab kematian, mendapatkan persetujuan legal dan finansial  yang dihubungkan dengan kematian anggota rumah tangga, misalnya untuk masalah warisan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa otopsi verbal untuk otopsi verbal  sebaiknya dilakukan tujuh sampai tiga puluh hari setelah peristiwa kematian; dan dilakukan oleh petugas kesehatan yang didampingi oleh pengurus wilayah setempat (RT/RW). Koordinasi antara seluruh pihak terkait  (pemuka agama, tokoh masyarakat, pemerintah daerah/petugas kesehatan, bidan) dalam penanganan kematian cukup baik. Kata kunci: Budaya, persepsi, masyarakat   ABSTRACT Mortality data and understanding death patterns are considered to be essential for developing evidence-based health policy. This article is a qualitative research, examines current cultural perceptions of death in Indonesia that include a prominent and sensitive belief that emerged at the time of mourning/loss in Solo City and Pekalongan District, Central Java Province. The data collection was done by Focus group discussions (FGDs) with mosque officials, local health workers, local midwives, and staff of the community council, local school teachers, and local business people. Semi-structured interviews (SSIs) are conducted with key informants of bereaved and non-bereaved household.  Also observation of the local economy and community activity patterns, modes of subsistence, cultural beliefs. The study revealed thatdeath notification and activities subsequent to a death fall into two parallel domains, the religious and the secular. Beliefs in the afterlife and the imperative of a speedy burial, with all that this implies in terms of treatment and disposal of the corpse, belong to the religious domain. The procedure for obtaining a death certificate occurs in a juridical framework also as the driving force to meet the needs of data on causes of death, acquire legal and financial arrangements associated with the death of household members, for example for inheritance issues. A further issue of interest was the timing of the verbal autopsy (VA). Ideally the VA should occur in the home of the deceased’s family within 7-30 days after the death, and be conducted by a health official possibly accompanied by an office-bearing member of the local community.  Coordination between all parties involved in the treatment of death is quite feasible. Keywords: Culturally, perception, communitie

    PERMASALAHAN SOSIAL BUDAYA DALAM UPAYA PENURUNAN ANGKA KEMATIAN BAYI DI PROVINSI SUMATERA BARAT

    No full text
    ABSTRACT The infant mortality rate (IMR) in the West Sumatra is still high and therefore it should be vigilantly monitored. Data from Provincial Health Office of West Sumatra (2014) revealed that IMR in 2013 was about of 27/1000 live births. The purpose of this study is to describe socio-cultural problems to decrease the IMR in the West Sumatra. The research was carried out in 10 districts/cities in the West Sumatra Province using a qualitative approach. Primary data collection was done through focus group discussion, in-depth interviews and observations. While secondary data was obtained through a literature review.  The results showed that there were socio-cultural problems encountered that hindered the reduction of the infant mortality rate. These including the lack of knowledge and community understanding towards mother and child health, and the existence of practice and common beliefs that the examination of pregnancy and child birth in the home with the help of traditional birth attendants. There was also beliefs regarding tradional healing of sick children in rural community. Keywords: Socio- cultural, infant mortality, the Province of West Sumatra   ABSTRAK Angka kematian bayi di Provinsi Sumatera Barat masih tergolong tinggi dan masih perlu mendapatkan perhatian yang serius. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat (2014) bahwa AKB pada tahun 2013 masih sebesar 27/1000 kelahiran hidup. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan permasalahan sosial budaya dalam upaya penurunan AKB di Provinsi Sumatera Barat. Penelitian ini dilaksanakan di 10 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data primer dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD), wawancara mendalam dan observasi. Sedangkan data sekunder dilakukan melalui penelusuran dokumen/laporan penelitian maupun sumber-sumber lain.Hasil penelitian mengungkapkan bahwa ada permasalahan sosial budaya yang dianggap turut menghambat upaya penurunan Angka Kematian Bayi, yaitu masih terbatasnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap upaya kesehatan ibu dan anak, dan adanya praktek dan adanya praktek dan kebiasaan masyarakat seperti pemeriksaan kehamilan dan melahirkan di rumah dengan bantuan dukun bayi serta masih adanya kepercayaan masyarakat dalam pengobatan anak dengan bantuan dukun kampung. Kata kunci: Sosial budaya, kematian bayi, Provinsi Sumatera Barat

    RISIKO INISIASI MENYUSU DINI DAN PRAKTEK ASI EKSKLUSIF TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA ANAK 6-24 BULAN (EARLY BREASTFEEDING INITIATION AND EXCLUSIVE BREASTFEEDING AS RISK FACTORS OF STUNTING CHILDREN 6-24 MONTHS-OLD)

    No full text
    ABSTRACTSome of causes of stunting are the deferment of early breastfeeding initiation and the administration of the non-exclusive breastfeeding. The objective of this study was to elaborate relationship of early breastfeeding initiation and exclusive breastfeeding administration history to the stunting. This sudy used the observational analytical research method with the cross-sectional design. Its subjects were 33 stunting and 77 non-stunting children aged 6-24 months in Boyolali Regency. Data was analyzed by using the chi-square test and multiple logistic regression analysis. The stunting children who got the early breastfeeding initiation were 14, and those who did not get the early breastfeeding initiation were 19. The stunting children who got the exclusive breastfeeding were 4 and those who did not get the exclusive breastfeeding were 29. Early breastfeeding initiation and exclusive breastfeeding had a significant correlation with the stunting as indicated by the p-value <0.05. The children who did not get the early breastfeeding initiation have the possibility of 3.69 times higher to suffer from stunting than those who got the early breastfeeding initiation. In addition, the children who did not get the exclusive breastfeeding have the possibility of 9.5 times higher to suffer from stunting than those who got the exclusive breastfeeding. Therefore, nutrition education to the gestational mothers on the importance of exclusive breastfeeding administration is required.ABSTRAK Penyebab masalah stunting antara lain akibat dari penundaan inisiasi menyusu dini (IMD), dan pemberian air susu ibu (ASI) tidak eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan IMD dan ASI eksklusif dengan kejadian stunting. Penelitian observasional ini dilaksanakan di Boyolali dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Partisipan terdiri dari 33 anak stunting dan 77 anak tidak stunting berusia 6-24 bulan. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda. Partisipan anak stunting yang mendapatkan IMD sebanyak 14 orang dan tidak mendapatkan IMD sebanyak 19 orang. Anak stunting yang mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 4 orang dan yang tidak sebanyak 29 orang. Inisiasi menyusu dini dan ASI eksklusif memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting (p<0,05). Anak yang tidak mendapatkan IMD memiliki kemungkinan 2,63 (1,02-6,82) kali lebih tinggi mengalami kejadian stunting, selain itu anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko mengalami kejadian stunting 7,86 (2,43-25,4) kali lebih tinggi dibandingkan anak yang mendapatkan ASI eksklusif. Oleh karena itu, diperlukan edukasi gizi kepada ibu hamil mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif.ABSTRACTSome of causes of stunting are the deferment of early breastfeeding initiation and the administration of the non-exclusive breastfeeding. The objective of this study was to elaborate relationship of early breastfeeding initiation and exclusive breastfeeding administration history to the stunting. This sudy used the observational analytical research method with the cross-sectional design. Its subjects were 33 stunting and 77 non-stunting children aged 6-24 months in Boyolali Regency. Data was analyzed by using the chi-square test and multiple logistic regression analysis. The stunting children who got the early breastfeeding initiation were 14, and those who did not get the early breastfeeding initiation were 19. The stunting children who got the exclusive breastfeeding were 4 and those who did not get the exclusive breastfeeding were 29. Early breastfeeding initiation and exclusive breastfeeding had a significant correlation with the stunting as indicated by the p-value <0.05. The children who did not get the early breastfeeding initiation have the possibility of 3.69 times higher to suffer from stunting than those who got the early breastfeeding initiation. In addition, the children who did not get the exclusive breastfeeding have the possibility of 9.5 times higher to suffer from stunting than those who got the exclusive breastfeeding. Therefore, nutrition education to the gestational mothers on the importance of exclusive breastfeeding administration is required.ABSTRAKPenyebab masalah stunting antara lain akibat dari penundaan inisiasi menyusu dini (IMD), dan pemberian air susu ibu (ASI) tidak eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan IMD dan ASI eksklusif dengan kejadian stunting. Penelitian observasional ini dilaksanakan di Boyolali dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Partisipan terdiri dari 33 anak stunting dan 77 anak tidak stunting berusia 6-24 bulan. Analisis data menggunakan uji chi-squaredan regresi logistik berganda. Partisipan anak stunting yang mendapatkan IMD sebanyak 14 orang dan tidak mendapatkan IMD sebanyak 19 orang. Anak stunting yang mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 4 orang dan yang tidak sebanyak 29 orang. Inisiasi menyusu dini dan ASI eksklusif memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting (p<0,05). Anak yang tidak mendapatkan IMD memiliki kemungkinan 2,63 (1,02-6,82) kali lebih tinggi mengalami kejadian stunting, selain itu anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko mengalami kejadian stunting 7,86 (2,43-25,4) kali lebih tinggi dibandingkan anak yang mendapatkan ASI eksklusif. Oleh karena itu, diperlukan edukasi gizi kepada ibu hamil mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif

    Back Matter 39(2)

    No full text

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇