e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
PENGARUH KONSUMSI TEH JINTAN HITAM TERHADAP DEPRESI POSTPARTUM
ABSTRACT Depression is one of the common psychological diseases, as well as in postpartum women. Postpartum depression is characterized by feelings of depression and the idea of suicide. Approximately 20% to 40% of women report an emotional disturbance or cognitive dysfunction in the post-natal period. The diagnosis of postpartum depression can be established through anamnesis or patient complaints and postpartum physical examination. There are various psychiatric diagnostic measures to assess the presence of postpartum depression, one of which is the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Based on several studies, black cumin is beneficial in strengthening the immune system, overcoming sleep and stress disorders, neutralize toxins, launch milk, and additional nutrients in pregnant women and toddlers. The aim of this research was to know whether there was influence of black cumin consumption on depression in postpartum women in West Langsa Puskesmas Working Area. The research design used was quasi experiment with non randomized control group pretest-posttest design approach. Postpartum women were given black cumin tea as much as 40 mg / kg.BB / day for 15 days. The sample size was 64 people divided into two groups, namely the control group and the experimental group. Data analysis using Kolmogorov-Smirnov test and Wilcoxon test. The result showed no significant difference between the pretest and posttest values in the control group with p-value 0.491 whereas in the control group there was a significant difference between depression score before and after treatment with p-value 0.000. Black cumin tea can reduce depression score in postpartum primipara women. Keywords : Black cumin, depression, postpartum women ABSTRAKDepresi merupakan salah satu penyakit psikologis yang umum diderita, begitu juga pada ibu postpartum. Depresi postpartum ditandai dengan perasaan depresi dan adanya ide bunuh diri. Sekitar 20% sampai 40% wanita melaporkan adanya suatu gangguan emosional atau disfungsi kognitif pada masa pasca persalinan. Diagnosis depresi postpartum dapat ditegakkan melalui anamnesis atau keluhan-keluhan penderita dan pemeriksaan fisik postpartum. Terdapat berbagai alat ukur diagnostik gangguan kejiwaan untuk menilai adanya depresi postpartum salah satunya adalah Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Berdasarkan beberapa penelitian, jintan hitam bermanfaat dalam menguatkan sistem kekebalan, mengatasi gangguan Tidur dan stress, menetralkan racun, melancarkan ASI, dan tambahan nutrisi pada ibu hamil dan balita. Tujuan umum penelitian ini adalah : untuk mengetahui apakah ada pengaruh konsumsi jintan hitam terhadap depresi pada ibu postpartum di Wilayah Kerja Puskesmas Langsa Barat. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan pendekatan non randomized control group pretest- posttest design. Ibu nifas diberi seduhan teh jintan hitam sebanyak 40 mg/kg.BB/hari selama 15 hari. Jumlah sampel 64 orang yang terbagi kedalam dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Analisis data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian didapatkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara nilai pretest dan posttest pada kelompok kontrol dengan p-value 0,491 sedangkan pada kelompok kontrol terdapat perbedaan yang signifikan antara skor depresi sebelum dan setelah perlakuan dengan p-value 0,000. Teh jintan hitam mampu menurunkan skor depresi pada ibu pimipara postpartum. Kata kunci : Jintan hitam, depresi, postpartu
EFEK PEMBERIAN EKSTRAK DAN MINYAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus Lam) TERHADAP TOKSISITAS SEL LIMFOSIT MANUSIA SECARA IN VITRO Cytotoxic study of Pandanus conoideus Lam extract and oil on human lymphocytes in vitro
ABSTRACTBuah merah (Pandanus conoideus Lam) has been assumed to contain a great number of substances which havepotential effect in increasing immune responses. Buah merah contain carotenoid 55.000 ppm (β-caroten 9.185,α-tocopherol 3.685 and tocopherol total 42,009 ppm).This research was aimed to evaluate cytotoxic effect ofbuah merah. This study was carried out by treating human lymphocyte cell culture with methanol, n-hexana,water extracts and oil of buah merah with various dosages 8,3; 33,3 and 66,7 μg/ml, then incubated at 37°C,for 72 hours. The lymphocyte cells were counted manually with triphan blue and analized by MTT method.Theresult showed that cell mortality decreased dramatically with the increase of dosage of all extracts and oil ofbuah merah. Cells cultured with the addition of 8.3 μg/ml water extracts resulted decreasing of cell mortalityfrom134x104 to 22 x104 sel/ml, with the addition of 33.3 μg/ml oil decreased from 100x104 to 38x104 cell/ mL andthe addition of 8.3 μg/ml methanol extracts decrease cell mortality from 78x104 to 64x104 cell/ml, and with 8.3μg/ml n-hexana extracts decreased from 92x104 to 66x104 cell/ml.It can be concluded that extracts and oil ofPandanus conoideus Lam were not toxic to human lymphocyte cells. The cell toxicity depends on the polarity anddosage of the extracts/oil, the highest polarity and dose indicate the lowest cell toxicity.ABSTRAK Buah merah (Pandanus conoideus Lam) diduga memiliki sejumlah senyawa yang memiliki efek potensial dalammeningkatkan respon imun. Buah merah mengandung karotenoid sebesar 55.000 ppm (9.185 β-karoten,3.685 α-tokoferol, dan 42.009 tokoferol total). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek sitotoksikbuah merah. Uji menggunakan kultur sel limfosit manusia yang diberi perlakuan ekstrak metanol, n-heksan,air, dan minyak atsiri buah merah dengan konsentrasi 8.3; 33.3; dan 66.7 μg/mL. Inkubasi perlakuan selama72 jam 370C. Sel limfosit dihitung manual dengan triphan blue dan dianalisa dengan metode MTT [3-(4,5-dimetiltiazol-2-il)2,5-difeniltetrazolium]. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mortalitas sel menurun secaradramatis dan berkorelasi positif dengan besaran konsentrasi ekstrak dan minyak atsiri buah merah. Kultur seldengan perlakuan ekstrak air 8.3 μg/ml menurunkan mortalitas sel dari 134x104 menjadi 22x104 sel/ml, perlakuanminyak atsiri 33.3 μg/ml dari 100x104 menjadi 38x104 sel/ml, ekstrak metanol 8.3 μg/ml dari 78x104menjadi 64x104 sel/ml, dan ekstrak n-heksan 8.3 μg/ml dari 92x104 menjadi 66x104 sel/ml. Dapat disimpulkanbahwa ekstrak dan minyak atsiri buah merah tidak toksik terhadap sel limfosit manusia. Toksisitas sel tergantungpada polaritas dan dosis ekstrak/minyak atsiri, polaritas dan konsentrasi tertinggi mengindikasikantoksisitas sel yang paling rendah.Kata kunci: buah merah (Pandanus conoideus Lam), sitotoksik sel limfosit, respon imu
STUDI UMUR SIMPAN, SUHU DAN CAHAYA TERHADAP DAYA PERKECAMBAHAN BENIH Artemisia annua L. The effect of life storage, temperature and light on seed viability of Artemisia annua L.
ABSTRACTThe use of artemisinin tends to increase due to WHO regulation that stated of artemisinin as ArtemisininbasedCombination Therapies (ACTs) for anti-malarial drug. So far, artemisinin production still rely onthe cultivation of Artemisia annua as the plant source of artemisinin. Seedling have been known play animportant role in the production as well as the artemisinin content of Artemisia annua. The study on thelife storage, effect of temperature and light of Artemisia annua seed viability was conducted in order toknow the viability of the seed. The seed was kept for 22 months both in 24oC room temperature and in therefrigerator (4 C), and it was observed every month for its physical change and viability. The seed wasgerminated in the dark and light condition. The study showed that seed kept in the room temperature(24oC) have the low viability of (3,78%) after 12 months, while the seed kept in the refrigetaor stillhave the high viability of (85%) for 21 months. For the germination, Artemisia seed tends to need lightcondition rather than in the dark condition. The dark condition could decrease the viability of Artemisiaseed up to 53.74%. ABSTRAKKebutuhan Artemisinin sebagai obat untuk penyembuhan malaria semakin meningkat seiring denganditetapkannya Artemisinin-based Combination Therapies (ACTs) oleh WHO. Sejauh ini cara yang palingekonomis untuk mendapatkan bahan adalah melalui budidaya Artemisia annua L. Keberhasilanbudidaya sangat ditunjang oleh penyediaan bibit yang bermutu, yang pada gilirannya menuntutketersediaan benih yang berkualitas. Untuk itu dilakukan penelitian pengaruh umur simpan, suhudan cahaya terhadap daya perkecambahan benih A. annua L. Percobaan ini menggunakan rancanganAcak Lengkap. Benih disimpan selama 22 bulan pada suhu ruangan dan lemari pendingin (12°C),serta dikecambahkan pada kondisi gelap dan terang. Setiap bulan diamati perubahan fisik dan dayakecambahnya. Hasil menunjukkan bahwa benih kehilangan daya kecambah (d.k.) setelah disimpanselama 12 bulan pada suhu ruangan (d.k.: 3,78%), sedangkan penyimpanan pada lemari pendinginwalaupun telah menunjukkan penurunan d.k. benih masih cukup tinggi (85%) selama penyimpananselama 21 bulan. A. annua L. dalam perkecambahannya memerlukan adanya cahaya. Tidak adanyacahaya dapat menurunkan d.k.hingga 53,74%. Umur simpan benih A. annua L. semakin pendekdengan adanya hama yang menyerang benih selama penyimpanan.Kata kunci: artemisinin, obat anti-malarial, Artemisia annua L
Hubungan Program Penanggulangan Malaria dengan Kasus Malaria di Kabupaten Lahat Tahun 2016
Malaria masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Lahat karena memiliki Annual Parasite Incidence (API) tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan yaitu sebesar 2,94‰ pada tahun 2014 dan menurun pada tahun 2015 sebesar 2,57‰. Tingginya angka kesakitan malaria di Kabupaten Lahat sehingga diperlukan penanggulangan malaria secara komprehensif baik secara promotif, preventif, dan kuratif yang akan berdampak pada penurunan angka kesakitan malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan program penanggulangan malaria dengan angka kesakitan malaria di Kabupaten Lahat. Desain penelitian ini adalah deskritif analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan terhadap 31 orang pengelola program malaria di puskesmas di Kabupaten Lahat. Metode yang digunakan adalah wawancara dengan menggunakan kuesioner untuk memperoleh data kuantitatif, serta pengumpulan data sekunder malaria dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase puskesmas yang melakukan upaya promotif yaitu penyuluhan sudah cukup tinggi (93,5%), namun masih belum bermakna secara statistik terhadap stratifikasi wilayah berdasarkan Annual Paracite Insidence (API). Upaya preventif yang banyak dilakukan adalah pembagian kelambu dan yang terendah adalah penyebaran ikan pemakan jentik. Program penanggulangan malaria yang berhubungan dengan angka kesakitan berdasarkan angka API di Kabupaten Lahat adalah kegiatan pembagian obat Artemisinin-base Combination Treatment (ACT) pada penderita positif malaria (p value = 0,008). Kata kunci: program penanggulangan malaria, annual parasite incidine, artemisinin-base combination treatment, Lahat ABSTRACT Malaria is still a health problem in Lahat Regency because it has the highest Annual Parasite Incidence (API) in South Sumatera Province which is 2.94‰ in 2014 and decreased to 2.57‰ in 2015. The high rate of malaria morbidity occured in Lahat Regency so it is important to conduct comprehensive malaria prevention by promotive, preventive, and curative to decrease malaria morbidity rate. This study aims to determine the relationship between malaria prevention program with malaria morbidity rate in Lahat Regency. The design of this research was descriptive analytic with cross sectional approach. This research was conducted on 31 malaria program managers at puskesmas in Lahat Regency. The method used was interview using questionnaires to obtain quantitative data, while secondary malaria data was obtained from Lahat District Health Office. The results showed that the percentage of puskesmas that conducted promotive efforts by counseling was quite high (93,5%), but still not statistically significant to the stratification of area based on API-rate. The most prevalent preventive measures was the distribution of nets and the lowest was the spread of larvivorous fish. Malaria prevention programs which had significant impactto morbidity based on API-rate in Lahat was the distribution of Artemisinin-base Combination Treatment (ACT) given to people with malaria positive (p value = 0,008). Keywords: malaria control program, annual parasite incidence, artemisinin-base combination treatment, Lahat
DETEKSI POLIMORFISME GEN TSHR CODON D727E PADA WANITA TERDUGA HIPERTIROID DI KABUPATEN SUKOHARJO
Hiperthyroid is execcesive thyroid function which increased thyroid hormone that suppressed TSH. Major etiologies of hyperthyroidism (60%-80%) caused by Graves disease. Graves disease occurs in up to 2% women 20-40 years old. Some of the genes implicated in this pathogenesis may encode thyroid stimulating hormones receptors (TSHR). The TSHR gene is located on chromosome 14q31, an area in which a Graves disease susceptibility locus (GD-1) has been mapped. The GD-1 locus is specifically linked to Graves’ disease. TSHR polymorphisms, resulting in amino acid substitutions, have been identified. Two of these are located in the extracellular domain of the receptor (Asp36His and Pro52Thr), and one is located in the intracellular domain (Asp727Glu). A germline mutation of TSHR codon 727 has been reported to be associated with Graves disease. The aim of this research is to analyze the polymorphism of codon D727E on hiperthyroid patient. Sixteen respondents with suspect hyperthyroidism were chosen. The blood were collected for TSH, FreeT4, Thyroglobulin Antibody and Thyroidperoxidase Antibody and DNA isolation. The polymorphic region of the target genes (gene TSHR codon 727) were amplified by polymerase chain reaction (PCR). PCR-Sequencing was used for polymorphism on codon D727E confirmation. The result showed there is no Polymorphism in gen TSHR codon D727E. The codon D727E variant of TSHR gene is not associated with Hyperthyroid in Sukoharjo population. The possibility that mutation may occur on another genes need to be further analyzed
SIKLUS ESTRUS DAN STRUKTUR HISTOLOGIS OVARIUM TIKUS Sprague dawley HIPOTIROID DENGAN INDUKSI PROPYLTHIOURACIL
Some of hypothyroidism impact are infertility, stillbirth, lactation disturbance, and menstrual abnormalities. hypothyroidism in women cause ovulation dysfunction and oligomenorrhea but can alsocause ovulation and conseption problem. This study aimed to describe the efect of hypothyroid on estrous cycle and ovary histologic structure on sprague dawley rat with propylthiouracil induction. This is an experimental study the samples were five hypothyroid sprague dawley rats and six control rats. Estrous cycle data were collected from vaginal smear slides. Ovary histologic structure data were analyse from ovary histologic slides. variables examined were free T4, numbers of ovary follicles,estrous cycles and ovary histologic structure. Quantitative data were analyzed statistically using independent t-test. Level free T4 from hypothyroid sprague dawley rats were 4.2 ± 0.6pmol/L and control were 8.2 ± 1.6pmol/L, p value 0,001. Estrous cycle of two groups were different in diestrous cycle. Percent amount of follicles primer were 19.6±5.9% and control 20.1±10.1%, p value 0.92, sekunder 27.8±10.1% and control 29.1±10.9% p value 0.84, tertier 2.8±2.8% and control 6.1±5.4%, p value 0.24, atretic 28.4±6.2% and control 29.5±10.0% p value 0.83, corpus luteal 20.0±17.1% and control 15.2±5.3% p value 0.52. Qualitative data of ovary histologic structure were not different. Estrous cycles of two groups sprague dawley rats were different in diestrous cycle. Damaged of ovary histologic structure appeared in two groups rats. Percent amount of follicles primer, secunder, tertier and corpus luteal two groups rats were not significantly different.Keywords: Hypothyroid, follicle ovarium, estrous cycle
PERBANDINGAN PENENTUAN KADAR THYROID STIMULATING HORMONE (TSH) DENGAN BLOODSPOT DAN DENGAN TSH SERUM UNTUK DIAGNOSIS HIPOTIROIDISME PADA BALITA
Hipotiroidisme kongenital masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan prevalensi sebesar 0,33%. Penegakan diagnosis pada balita yang selama ini dikenal sebagai gold standard dilakukan melalui penentuan TSH serum. Sedangkan penapisan pada bayi baru lahir dilakukan dengan penentuan TSH bloodspot. Penentuan TSH bloodspot ini memiliki kelebihan yaitu: lebih mudah, nyaman dan murah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode bloodspot untuk diagnosis hipotiroidisme pada balita di Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan di klinik BP2GAKI Magelang dan lima puskesmas di Kabupaten Magelang selama 6 bulan. Jenis penelitian non intervensi, desain penelitian potong lintang. Subjek penelitian anak balita usia 2-5 tahun dengan terduga hipotiroidisme. Subjek penelitian diperiksa kadar TSH serum dan bloodspot darah kapiler. Kemudian dilakukan uji validitas dengan crosstab terhadap penentuan TSH bloodspot dibandingkan dengan TSH serum sebagai gold standard. Dari uji statistik penentuan TSH bloodspot dibanding serum diperoleh data: Sensitivitas=25%; Spesiftas=100%; Nilai Duga Positif=100%; Nilai Duga Negatif=93%; Rasio Kemungkinan Positif= ~; Rasio Kemungkinan Negatif= 0.75. Disarankan untuk menggunakan TSH serum dalam pemeriksaan fungsi tiroid balita. Penentuan TSH serum tidak dapat digantikan oleh penentuan bloodspot untuk diagnosis hipotiroidisme pada balita. Kata kunci: TSH bloodspot, TSH serum, hipotiroidisme, balit
PERILAKU Anopheles spp. KAITANNYA DENGAN UPAYA PENCEGAHAN MALARIA PADA IBU HAMIL DI DESA WAILABUBUR DAN BILA CENGE KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA
Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan daerah endemis malaria dengan Annual Parasite Incidence (API) pada tahun 2008 s/d 2010 berturut-turut sebesar 30,37 0/00, 24,89 0/00 dan 31,41 0/00, terdapat 407 orang penderita diantaranya ibu hamil.Penelitian dilakukan di Desa Wailabubur dan Desa Bila Cenge selama bulanMaret s/d September 2012. Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectionalyang menggambarkan perilaku Anopheles spp.sebagai dasar upaya pengendalian malaria pada ibu hamil. Populasi dan sampel penelitian adalah semua ibu hamil tinggal di lokasi penelitiansebanyak 125 orang.Pengambilan sampel stratifikasi dengan teknik purposive sampling. Hasil menunjukkan di Wilayah Puskesmas Kori terdapat 6 spesies Anophelesyaitu An. vagus, An. annularis, An. barbirostris, An. aconitus dan An. kochi. Aktifitas menggigit Anopheles spp. ditemukan paling banyak di luar rumah puncaknya pada jam 01.00-02.00 dan perilaku istirahat lebih tinggi disekitar kandang puncaknya pada jam 19.00-22.00 dan jam 04.00-05.00.jumlah responden 59,2% melakukan pembersihan semak-semak/rumput disekitar rumah, membakar obat nyamuk (2,4%),menggunakan repelent sebesar 1,6%, tidur menggunakan kelambu sebesar 32,8%,dan keluar rumah pada malam hari 52,8%. Disimpulkan bahwa perilaku Anopeles spp. cenderung bersifat eksofagik (mencari darah di luar rumah).Upaya ibu hamil dalam pencegahan malaria belum dilakukan dengan benar seperti kebiasaan keluar malam, tidur tidak menggunakan kelambu dan tidak menggunakan obat anti nyamuk
ANTIBODI POLIKLONAL ANTI EKSKRETORI SEKRETORI (ES) Schistosoma japonicum PADA KAMBING (Capra aegagrus) BAHAN DETEKSI DINI PENDERITA SCHISTOSOMIASIS
Di Indonesia Schistosomiasis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi diatas 1%, dan untuk mendeteksi penderita menggunakan metode konvensional.Mendukung kegiatan deteksi penderita dilakukan penelitian produksi antibodi poliklonal anti ES S. japonicum pada kambing pada bulan Juni - Oktober 2012. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk memproduksi antibodi poliklonal anti ES S. japonicum sebagai bahan dalam pendeteksian penderita schistosomiasis melalui uji ELISA.Metode yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan antibodi poliklonal anti ES S. japonicum pada kambing adalah menggunakan uji Agar Gel Precipitation Test (AGPT) dan untuk mengukur konsentrasi menggunakan uji Bradford. Hasil dari penelitian ini yaitu antibodi poliklonal anti ES S. japonicum terbentuk pada minggu ke 12 pasca injeksi, dengan konsentrasi 0.931 mg/mL. Kesimpulan dari penelitian ini adalah waktu yang dibutuhkan dalam pembentukan antibodi untuk merespon antigen yang diinjeksi pada kambing yaitu selama 12 minggu. Konsentrasi antibodi poliklonal anti ES S. japonicum yang dihasilkan adalah cukup sebagai bahan dalam pengujian ELISA dan dapat mengenali antigen yang merangsang pembentukkan antibodi tersebut sehingga dapat digunakan dalam uji diagnostik kecacingan yang disebabkan oleh S. japonicum