e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
Early Warning Alert and Response System (EWARS) in Indonesia: Highlight From The First Years of Implementation, 2009-2011
Latar Belakang: Sistem kewaspadaan dini dan respons KLB (EWARS) adalah sistem surveilans sindrom berbasis web, yang diberlakukan di Indonesia sejak 2009, dimulai di dua provinsi. Untuk memberikan respons yang cepat terhadap sinyal yang terdeteksi pada EWARS, algoritma untuk diagnosis dan respons serta alat pemetaan kapasitas laboratorium dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kinerja penerapan EWARS dan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kesenjangan EWARS sebagai sistem kewaspadaan dini dan respons KLB. Metode: Kinerja EWARS digambarkan dengan analisis data EWARS 2009-2011 di enam provinsi. Kekuatan dan kesenjangan EWARS diidentifikasi dengan melakukan penilaian umum di tiga provinsi terpilih dan penilaian kapasitas laboratorium di sembilan provinsi. Hasil: Kinerja EWARS cukup baik di Bali dan Lampung pada tahun pertama pelaksanaannya. Pada tahun 2010 dan 2011, kinerja EWARS di enam provinsi tetap baik. Sistem ini mudah digunakan dan bisa memberi informasi tentang peringatan dan pemetaan mingguan. Monitoring peringatan dengan menggunakan EWARS dapat digunakan sebagai alat evaluasi untuk melihat kualitas respon yang dilakukan oleh petugas kesehatan setempat atau Rapid Response Team (RRT). Meskipun konfirmasi laboratorium belum dilakukan untuk sebagian besar peringatan yang terdeteksi oleh sistem, pada umumnya, EWARS diterima dengan baik di Lampung, Bali, dan Kalimantan Selatan, dan memberi manfaat untuk meningkatkan kinerja pada fungsi peringatan dini. Kesimpulan: EWARS adalah kesempatan untuk memperkuat sistem surveilans yang berkelanjutan dan sensitif. Sistem ini diterima dengan baik karena mudah digunakan dan meningkatkan kinerja peringatan dini walapun masih perlu penguatan laboratorium. Kata kunci: Sistem Kewaspadaan Dini, Respons, Pemetaan, Surveilans berbasis Web Abstract Background: Early Warning Alert Response System (EWARS) is a web-based syndrome surveillance system, established in Indonesia since 2009, started in two provinces. In order to provide a prompt response of the signals detected on EWARS, the algorithms for diagnosis and response and the laboratory capacity mapping tool were developed. This study aims to describe performance of EWARS implementation and to identify the strengths and gaps of EWARS as a disease early warning and detection system. Methods: EWARS performance was described by analysis of the EWARS data 2009-2011 in six provinces. EWARS strengths and gaps were identified by conducting general assessment in three selected provinces and laboratory capacity assessment in nine provinces. Results: The performance of EWARS was quite good in Bali and Lampung at the first year of implementation. In 2010 and 2011, EWARS performance in six provinces was remain good. The system is easy to use and could give information on weekly alerts and mapping. Alert monitoring by using EWARS could be used as an evaluation tool to see the quality of response conducted by local health officers or Rapid Response Team (RRT). Although laboratory confirmation have not done for most of alerts detected by the system, in general, EWARS was well accepted in Lampung, Bali, and South Kalimantan, and gave beneficial to increase performance on early warning function. Conclusion: EWARS is an opportunity to strengthen sustainable and sensitive surveillance system. The system is well accepted because of easy to use and increase the early warning performances. Keywords: Early Warning System, Respons, Mapping, Web Surveillance
EVALUASI KESIAPAN PELAKSANAAN PROGRAM INDONESIA SEHAT DENGAN PENDEKATAN KELUARGA
ABSTRACT Data of Riskesdas 2016 shows increasing in some diseases (underweight, stunting, hypertension, TB, AIDS, etc.) compared to 2007 and 2013 datas. To solve the problems, the government has strengthening the basic health effort by conducting Program Indonesia Sehat Dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK). This evaluation study aimed to assess the readiness in PIS-PK implementation in several regions which have been collected more than 50% of data (OKI and Jeneponto), less than 50% (Muara Enim, Gowa, Serang) and 0% (Lebak). The methode of evaluation was qualitative through in-depth interview with the heads of district health office and the program managers and also focus group discussion with the heads and data collectors at puskesmas. The result indicates that all regions, either have or have not conducted data collection, have made planning on human resources, budgeting, and facilities. Some regions have conducted data collection despite of the limited resources. Budgeting issue is on of the problem in Lebak causing of the delay on data collection. Cross-sector support is quite good in regions, either have been conducted more than and less than 50% of data collection. Cross-sector support is not maximum in regions that have not conducted data collection. It can be concluded that despite of encountering some constraints, PIS-PK implementation is keep running. Cross-sector involvement is crucial in mobilizing the apparatus to facilitate the PIS-PK data collection. Keywords: Evaluation, readiness, PIS-PK ABSTRAK Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 2013 menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan prevalensi beberapa penyakit (underweight, stunting, hipertensi, TB, AIDS, dll). Dalam rangka mengatasi hal tersebut, pemerintah melakukan penguatan upaya kesehatan dasar yang salah satunya dilakukan melalui Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK). Penelitian ini merupakan studi evaluatif yang bertujuan untuk menilai kesiapan provinsi dalam melaksanakan PIS-PK tahun 2016 di beberapa kabupaten yang telah melakukan pendataan lebih dari 50% (OKI dan Jeneponto), kurang dari 50% (Muara Enim, Gowa, Serang), dan belum melakukan pendataan (Lebak). Metode evaluasi dilakukan secara kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap kepala dinas dan penanggung jawab PIS-PK dinas kesehatan kabupaten/kota, dan diskusi kelompok dengan kepala dan penanggung jawab PIS-PK di puskesmas. Hasil studi menunjukkan bahwa di seluruh lokasi yang telah maupun belum melakukan pendataan, telah mempunyai perencanaan SDM, anggaran, sarana dan prasarana. Beberapa lokasi telah melakukan pendataan meskipun dengan keterbatasan sumber daya. Salah satu penyebab belum dilakukannya pendataan di kabupaten Lebak, karena adanya kendala anggaran. Dukungan lintas sektor dalam pelaksanaan PIS-PK di kabupaten yang telah melakukan pendataan lebih dari 50% maupun kurang dari 50% cukup baik. Dukungan lintas sektor di kabupaten yang belum melakukan pendataan, belum maksimal. Dapat disimpulkan bahwa meskipun ditemui kendala, PIS-PK dapat tetap berjalan. Keterlibatan lintas sektor sangat penting dalam menggerakkan aparat pemerintahan untuk kelancaran kegiatan pendataan PIS-PK. Kata kunci: Evaluasi, kesiapan, PIS-P
Sebaran Infeksi Leptospira Patogenik pada Tikus dan Cecurut di Daerah Pasca Banjir Kabupaten Pati dan Endemis Boyolali
ABSTRAK Peningkatan kasus dan angka kematian leptospirosis terjadi di Kabupaten Pati dan Kabupaten Boyolali hingga Maret 2014. Kajian ini bertujuan menggambarkan sebaran infeksi Leptospira patogenik pada hewan reservoir terutama tikus di daerah endemis di Boyolali dan daerah pasca banjir di Pati. Penelitian dilakukan dengan rancangan cross sectional pada Maret-April 2014. Titik koordinat ditemukannya tikus dan cecurut terinfeksi Leptospira patogenik dipetakan menggunakan aplikasi Google Earth dengan buffer daya jelajah tikus. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan sebaran tikus dan cecurut positif Leptospira patogenik. Tikus dan cecurut yang terinfeksi Leptospira sp. ditemukan menyebar dengan pola acak. Hal ini akan memperbesar risiko penularan leptospirosis. Kata kunci: sebaran, tikus, cecurut, Leptospira ABSTRACT Until March 2014 leptospirosis cases and its Case Fatality Rate increased in Pati and Boyolali. This study aims to describe distribution of infected rats and shrews in flood area in Pati and endemic area in Boyolali. Research carried out by the cross sectional design on March-April 2014. Coordinate of Leptospira infected rats and shrews were mapped using google earth with home range buffer. Data analyzed descriptively to describe distribution of infected rats and shrews. Pathogenic Leptospira sp. infected rats and shrews spread with random pattern. This results could be an explanation of higher transmission risk. of leptospirosis in the area of study Key words: distribution, rat, shrew, Leptospir
Beban Penyakit (Dalys Loss) Di Indonesia dan Prediksi Wilayah Kepulauan Semiringkai Nusa Tenggara Timurr
Abstract Background: In Indonesia area of South East Nusa (SEN) and South Maluku are the area which is “semiringkai” of archipelago. The word 'semiringkai' means literally a state of archipelago with very dry climate approach that is somewhat less able to support the growth of vegetation. With the condition of the territory and influence of modernization at this point, it is necessary to know the disease burden in the region semiringkai community. Methods: A cross-sectional study design using data Riskesdas 2007 and 2013, to determine the prevalence of and changes in the burden of disease in Indonesia compared the people in NTT province. The calculation of DALYs loss (Disability Adjusted Life Year) is the summation of premature death (YLLs) and years lived with disability conditions (YLDs). Indonesia prediction of disease burden in 1990 and 2000 from IHME data used to support the description of the changes leading cause of death and burden of disease with associated risk faktors. Results: In 2010, six of the top ten causes of death cases due to non-communicable disease and DALYs loss of NCD cases tendency increased including road accidents. Overview of the proportion the disease burdens in the SEN semiringkai area the same or even higher than national picture, even worsened due the burden of infectious disease remains high (double burdens). Cardiovascular cases in SEN are predicted will continue to increase caused by the number of patients with hypertension (1 million), which exacerbated the high population (2.6 million) who consume cigarettes. Thereby triggering an increase in the number of deaths from cardiovascular disease. Conclusion: Control of health risk faktors for NCD cases is necessary as preventive measures and reduces the burden of disease in the territory of semiringkai, across sectors support is needed. Services of infectious diseases and improvement of contextual factors should also be further improved. Abstrak Latar belakang: Pada wilayah Nusantara kawasan Nusa Tenggara dan Maluku bagian Selatan merupakan satu-satunya kawasan semiringkai yang merupakan kepulauan. Kata 'semiringkai' berarti secara harfiah keadaan lahan atau iklim yang mendekati sangat kering sehingga agak kurang dapat mendukung pertumbuhan vegetasi. Dengan kondisi wilayah tersebut dan pengaruh moderenisasi pada saat ini., maka perlu diketahui beban penyakit masyarakat di wilayah semiringkai. Metode: disain studi potong lintang dengan menggunakan data Riskesdas 2007 dan 2013, untuk mengetahui prevalensi dan perubahan beban penyakit di Indonesia dibandingkan dengan masyarakat di Provinsi NTT. Perhitungan DALYs loss (Disability Adjusted Life Year ) adalah penjumlahan dari kematian prematur (YLLs) dan tahun hidup dengan kondisi disabilitas (YLDs). Prediksi beban penyakit Indonesia tahun 1990 dan 2000 berdasarkan data International Health Metric and Evaluation juga digunakan untuk mendukung gambaran perubahan penyebab kematian tertinggi dan beban penyakit dengan faktor risiko terkait. Hasil: Tahun 2010 enam dari sepuluh penyebab kematian disebabkan oleh kasus PTM dan DALYs loss kasus PTM kecenderungannya meningkat termasuk kasus kecelakaan di jalan raya. Gambaran proporsi beban penyakit di wilayah semiringkai NTT sama atau bahkan lebih tinggi dari gambaran nasional , bahkan diperberat adanya beban penyakit menular yang masih tinggi (double burdens). Kasus cardiovaskular di NTT diprediksi akan terus meningkat disebabkan jumlah penderita hipertensi (1 juta lebih), yang diperberat tingginya penduduk ( 2,6 juta) yang mengkonsumsi rokok. Sehingga memicu peningkatan jumlah kematian akibat penyakit cardiovasculer. Kesimpulan: Pengendalian faktor risiko kesehatan kasus PTM perlu dilakukan sebagai upaya preventif dan menurunkan beban penyakit di wilayah semiringkai, dukungan lintas sector sangat diperlukan. Pelayanan penderita penyakit menular dan perbaikan faktor kontektual juga harus lebih ditingkatkan
Aktivitas sitotoksik ekstrak air dan etanolik kulit manggis (Garcinia mangostana Linn.) pada beberapa model sel kanker
Indonesia merupakan salah satu surga di Asia sebagai tempat tumbuh tanaman tropis dengan keunikan morfologi, rasa, dan khasiat biologis. Salah satunya adalah buah manggis (Garcinia mangostana Linn.), yang lebih dikenal dengan “ratu buah”. Rebusan kulit manggis digunakan oleh masyarakat di Indonesia untuk mengobati kanker. Data riset mengenai efikasi rebusan kulit manggis untuk kanker belum banyak dipublikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas sitotoksik ekstrak air dan etanol dengan MTT assay pada sel HeLa, MCF-7, T47D, dan HepG2, serta karakterisasi golongan kimia menggunakan KLT. Ekstrak air (EAM) diperoleh dengan metode infusa, sedangkan ekstrak etanol 96% (EEM) dengan maserasi. Pengamatan sel setelah perlakuan kedua ekstrak memperlihatkan perubahan morfologi yang sesuai dengan kondisi apoptosis. Hasil MTT assay menunjukkan perlakuan EEM dan EAM efektif terhadap sel kanker hati HepG2 dengan IC50 berturut-turut 96,1 and 87,3 μg/mL. Kedua ekstrak memiliki aktivitas sitotoksik lemah terhadap sel HeLa, MCF-7, dan T47D dengan rentang IC50 137-660 μg/ml. Berdasarkan arakterisasi KLT, kedua ekstrak mengandung senyawa terpenoid dan flavonoid. Dengan demikian, ekstrak kulit manggis potensial dikembangkan dalam pengobatan kanker hati.Indonesia is one of “the heaven place” in Asia for many tropical plants with interesting morphology, taste and biological activities. One of those plants is mangosteen (Garcinia mangostana Linn.), well recognized as “the queen of fruits”. Indonesian people have used mangosteen rinds to fight cancer nowadays. They usually prepared the rinds with boiling water. There is lack of data for this preparation efficacy for cancer treatment. This research aimed to evaluate cytotoxic activity of mangosteen-rinds aqueous and ethanolic extract on some human cancer cell line. This research also characterize the major compound of the extracts by TLC. Aqueous extract (EAM) was obtained by infusion, while ethanolic extract (EEM) by maceration method. MTT assay was done to determine viability of HeLa, MCF-7, T47D, and HepG2 cell line. The treatment of both extract against all cells caused morphological changes similar to apoptosis. The results of MTT assay revealed that EEM and EAM was effective against HepG2 with IC50 of 96,1 and 87,3 μg/mL respectively. Both had low activity against the other cell, with the IC50 137-660 μg/ml. The result of TLC characterization of both extracts revealed terpenoid and flavonoid as the major compound. This research suggest the mangosteen rind extract as potential candidate for hepatocarcinoma treatment
EKSTRAK ETANOLIK TEMU KUNCI (BOESENBERGIA PANDURATA) MENGHAMBAT ALDEHYDE DEHYDROGENASE PADA SEL KANKER PAYUDARA 4T1
Resistensi terhadap agen kemoterapi merupakan penyebab utama kekambuhan pada pasien kanker. Hal ini dipicu oleh adanya cancer stem cells (CSCs) yang menyebabkan peningkatan angka kematian pada pasien kanker. Diferensiasi CSCs diatur oleh enzim aldehyde dehydrogenase (ALDH). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi ekstrak etanolik temu kunci (Boesenbergia pandurata) (ETK) untuk menghambat aktivitas ALDH yang berperan sebagai penanda pada CSCs. Rimpang Boesenbergia pandurata diekstraksi menggunakan etanol dengan metode maserasi selama 54 jam. Setelah filtrasi, dilakukan remaserasi dengan prosedur yang sama dan pelarut diuapkan. Analisis fitokimia ETK dilakukan dengan kromatografi lapis tipis (KLT) (n-heksana: etil asetat (4: 1)) dan setelahnya disemprot dengan sitroborat. Efek sitotoksik ETK pada sel kanker payudara 4T1 dikaji dengan MTT assay, efek ETK pada aktivitas ALDH dikaji melalui ALDH activity assay, dan interaksi antara cardamonin sebagai senyawa utama dalam ETK dan ALDH dikaji melalui molecular docking. Proses ekstraksi menghasilkan ETK dengan rendemen sebesar 7,8%. Hasil uji KLT menunjukkan bahwa ETK mengandung senyawa golongan chalcone. ETK menunjukkan potensi sitotoksik pada sel 4T1 (nilai IC50 23 μg/mL). Selain itu, ETK mampu menghambat aktivitas enzim ALDH pada konsentrasi 5 μg/mL. Selanjutnya, hasil molecular docking menunjukkan adanya interaksi yang lemah antara cardamonin dan ALDH, dibandingkan dengan native ligand ALDH. Meskipun demikian, cardamonin menunjukkan potensi untuk bersaing dengan native ligand karena adanya kesamaan residu asam amino yang berinteraksi dengan ALDH. ETK berpotensi untuk dikembangkan sebagai terapi pengobatan tertarget CSCs melalui penghambatan aktivitas enzim ALDH.
Studi Kajian Upaya Pemberian Obat Pencegah Masal Filariasis Terhadap Pengendalian Penyakit Infeksi Kecacingan
Abstract Filariasis and helminth infections are public health problems in Indonesia. Starting in 2005, the Ministry of Health launched filariasis elimination by implementing preventive mass drug administration (MDA) or “POPM”. At least as 65% of the population in the district/city are given diethyl carbamazine citrate (DEC) and combined with albendazole. With the existence of this program, it is expected filariasis can be eliminated and worm infections can be controled. This study aims to determine the constraints and problems encountered in the implementation of filariasis elimination and helminth infections control. The method applied is a review of scientific article, policy inventory, discussions with experts and practitioners, as well as confirmation data in the field. This study known 233 districts/cities in Indonesia were endemic filariasis with mf rate average of 3.61%, and the prevalence of helminth disease in 173 districts/cities with an average of 28.12%. Among the 233 districts/cities endemic filariasis, 104 districts/cities were also endemic helminth diseases; and only 135 regencies/cities implemented MDA filariasis. Within the 135 districts/cities reported to implement MDA filariasis, only 16 districts/cities actually executed MDA with prevalence of helminth infections above 30% (MDA helminth requirement). Recommendations is necessary to accelerate MDA filariasis in the district/city with endemic filariasis and also those with endemic helminth diseases above 30%
Kajian Beberapa Tumbuhan Obat Yang Digunakan Dalam Pengobatan Malaria Secara Tradisional
AbstractMalaria is one of community health problems that can cause death especially to high risk group. Malaria treatment using some antimalarial drugs have been resistance so that there is using medicinal plants into traditional antimalarial treatment that have been tested scientific. There are lots of people that use traditional treatment for healing the diseases. This case shows there’s still strong of community tradition about looking for treatment. One of the diseases whose treatment using traditional and modern medicine is malaria. Malaria is one of acute or chronic often be caused by plasmodium parasites. This review aimed is to describe medicinal plants that used on traditional antimalarial treatment. Review of the literature with search and date collection from various references about medicinal plants which used in traditional antimalarial treatment. Method has been done by reviewing literature with search and the data has been collection then described to be an information that shows about kind of medicinal plants and result testing about them. There are some plants that is those are lime tree (Harmsiopanax aculeatus Harms), red fruit (Pandanus conoideus Lam.), bark of jack fruit (Artocarpus champedem), fruit betel (Piper betle (L.) R. Br.), bark of mundu (Garcinia dulcis Kurz), benalu of mango (Dendrophthoe pentandra), mangosteen (Garcinia mangostana Linn.), fruit of Morinda citrifolia L, and sunflower (Helianthus annuus L.). From the result that has been accepted shows active compound content that contained in some kind of medicinal plants which have been tested in traditional antimalarial treatment. Keywords: Plant, medicinal, traditional, malariaAbstrakMalaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok berisiko tinggi. Pengobatan malaria dengan penggunaan beberapa obat anti malaria sudah mengalami resistensi sehingga perlu adanya pemanfaatan tumbuhan obat dalam pengobatan tradisional anti malaria yang teruji secara ilmiah. Masih banyaknya masyarakat yang menggunakan pengobatan tradisional untuk penyembuhan penyakit menunjukkan masih kuatnya tradisi masyarakat dalam hal pencaharian pengobatan. Tujuan penulisan adalah untuk menggambarkan tumbuhan obat yang dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional anti malaria. Metode dilakukan melalui tinjauan literatur dengan penelusuran dan pengumpulan data dari berbagai referensi mengenai tumbuhan obat yang dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional anti malaria. Data yang telah terkumpul kemudian dideskripsikan menjadi suatu informasi yang menggambarkan jenis tumbuhan obat tradisional dan hasil uji tumbuhan obat. Terdapat beberapa tanaman yang diuji yaitu daun pohon kapur (Harmsiopanax aculeatus Harms), buah merah (Pandanus conoideus Lam.), benalu mangga (Dendrophthoe pentandra), manggis (Garcinia mangostana Linn.), cempedak (Artocarpus champedem), buah sirih (Piper betle (L.) R. Br), mundu (Garcinia dulcis Kurz), dan bunga matahari (Helianthus annuus L.). Dari hasil yang diperoleh menunjukan kandungan senyawa aktif yang terdapat pada jenis tumbuhan obat tersebut telah teruji dalam pengobatan tradisional anti malaria.Kata Kunci : Tumbuhan, obat, tradisional, malari