e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
POLA PEMAKAIAN KONTRASEPSI DAN PEMANFAATAN KARTU BADAN PENYELENGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS) KESEHATAN DALAM PELAYANAN KELUARGA BERENCANA DI INDONESIA
Background: By 2019, the government requires all Indonesian citizens to become Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) participants through Badan Penyelenggara Jaminan Sosial kesehatan (BPJS - health) and is entitled to health insurance benefits including family planning services. Objective: In order to describe the family planning services, contraceptive usage pattern, and BPJS health card utilization for family planning services in JKN era. Methods: This study used secondary data analysis from the results of the Intercensal Population Survey (SUPAS) in 2015. The sample is 189,652 ever married women, aged 10-54 years in all provinces in Indonesia, and have received family planning services both before and during JKN. The analysis used chi-square test. Result: One year after the introduction of the JKN program, the proportion of contraceptive use including the Long-term Contraceptive Method (LTCM) fell significantly compared to before JKN, whereas injections and pills remained high. Family planning services at Puskesmas increased sharply, while hospital and government service both went down and services by doctors and private practice midwives remained high. Utilization of BPJS health card for family planning services is still low. The use of BPJS Health card for family planning services has a significant relationship to the use of LTCM. Conclusion: Non contraceptive use of LTCM is still high. Utilization of BPJS health card for family planning services is still low, whereas the use of BPJS health card has almost four chance to encourage the use of KB MKJP
APLIKASI PATI AREN TERMODIFIKASI EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI MERAH DALAM PENGEMBANGAN PRODUK BERINDEKS GLIKEMIK RENDAH (APPLICATIONS OF ARENGA STARCH MODIFIED WITH RED GUAVA LEAF EXTRACT IN DEVELOPMENT OF A LOW GLYCEMIC INDEX PRODUCT)
Consumption of lowglycemic index (GI) and glycemic load (GL) products are recommended to prevent and manage of degenerative diseases.The high digestibility of arenga starch could be lowered by physicochemical modification with soaking the arenga starch using polyphenolic compounds. The aims of this study were to determine chemical composition, glycemic index (GI) and glycemic load (GL) of cake and cookies from arenga starch modified with 4 percent red guava leaf extract 58-62 oBrix. Chemical composition analysis include proximate, starch, dietary fiber and resistant starch. GI test was conducted in vivo on 12 healthy people. The results showed no differences in chemical compisiton between modified arenga starch cakeand native starch. However, modified arenga starch cookies had significantly lower fat and higher total carbohydrate and starch than native starch (p< 0.05). GI and GL decreased significantly (p<0.05) on cake of modified arenga starch, from high (77.72) to low (51.84). GI of modified arenga starch cookies (46.20) was not significantly different than to native starch (47.31). Cookies and cake of modified arenga starch had intermediate GL, 10.55 and 18.45 respectively. The study concluded that arenga starch modified with red guava leaf extract had a potential as an ingredient for development of low GI products. Konsumsi produk yang memiliki indeks glikemik (IG) dan beban glikemik (BG) rendah direkomendasikan untuk pencegahan dan manajemen penyakit degeneratif. Daya cerna pati dan indeks glikemik tinggi pati aren dapat diturunkan dengan memodifikasi pati melalui perendaman dalam ekstrak daun jambu biji merah sebagai sumber polifenol. Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan komposisi kimia, IG dan beban glikemik (BG) kue basah dan cookies berbahan baku pati aren termodifikasi ekstrak daun jambu biji merah dibandingkan pati alaminya. Kue basah dan cookies dibuat dari pati aren yang dimodifikasi dengan 4 persen ekstrak daun jambu biji merah 58-62oBrix dan pati alaminya. Komposisi kimia yang diuji meliputi proksimat, pati, serat pangan dan pati resisten. Pengujian IG dilakukan in vivo pada 12 orang sehat. Komposisi kimia kue basah pati aren termodifikasi tidak berbeda nyata dibandingkan pati alaminya. Cookies pati aren termodifikasi memiliki kadar karbohidrat total dan pati secara nyata lebih tinggi dan kadar lemak lebih rendah dibandingkan pati alaminya. IG menurun secara nyata hanya pada kue basah pati aren termodifikasi dari tinggi (78) menjadi rendah (52). IG cookies pati aren termodifikasi rendah, tidak berbeda nyata dibandingkan pati alaminya, berturut-turut 46 dan 47. Nilai BG kue basah pati aren termodifikasi daun jambu biji lebih rendah (10,55) dibandingkan pati alaminya (15,05). BG produk tersebut terkategori sedang. Kue basah dan cookies pati aren termodifikasi memiliki BG berturut-turut 10,55 dan 18,45. Penggunaan pati aren termodifikasi dapat menurunkan IG pada kue basah. Pati aren termodifikasi berpotensi dijadikan bahan baku untuk pengembangan produk ber-IG rendah.Consumption of lowglycemic index (GI) and glycemic load (GL) products are recommended to prevent and manage of degenerative diseases.The high digestibility of arenga starch could be lowered by physicochemical modification with soaking the arenga starch using polyphenolic compounds. The aims of this study were to determine chemical composition, glycemic index (GI) and glycemic load (GL) of cake and cookies from arenga starch modified with 4 percent red guava leaf extract 58-62 oBrix. Chemical composition analysis include proximate, starch, dietary fiber and resistant starch. GI test was conducted in vivo on 12 healthy people. The results showed no differences in chemical compisiton between modified arenga starch cakeand native starch. However, modified arenga starch cookies had significantly lower fat and higher total carbohydrate and starch than native starch (p< 0.05). GI and GL decreased significantly (p<0.05) on cake of modified arenga starch, from high (77.72) to low (51.84). GI of modified arenga starch cookies (46.20) was not significantly different than to native starch (47.31). Cookies and cake of modified arenga starch had intermediate GL, 10.55 and 18.45 respectively. The study concluded that arenga starch modified with red guava leaf extract had a potential as an ingredient for development of low GI products. Konsumsi produk yang memiliki indeks glikemik (IG) dan beban glikemik (BG) rendah direkomendasikan untuk pencegahan dan manajemen penyakit degeneratif. Daya cerna pati dan indeks glikemik tinggi pati aren dapat diturunkan dengan memodifikasi pati melalui perendaman dalam ekstrak daun jambu biji merah sebagai sumber polifenol. Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan komposisi kimia, IG dan beban glikemik (BG) kue basah dan cookiesberbahan baku pati aren termodifikasi ekstrak daun jambu biji merah dibandingkan pati alaminya. Kue basah dan cookies dibuat dari pati aren yang dimodifikasi dengan 4 persen ekstrak daun jambu biji merah 58-62oBrix dan pati alaminya. Komposisi kimia yang diuji meliputi proksimat, pati, serat pangan dan pati resisten. Pengujian IG dilakukan in vivo pada 12 orang sehat. Komposisi kimia kue basah pati aren termodifikasi tidak berbeda nyata dibandingkan pati alaminya. Cookies pati aren termodifikasi memiliki kadar karbohidrat total dan pati secara nyata lebih tinggi dan kadar lemak lebih rendah dibandingkan pati alaminya. IG menurun secara nyata hanya pada kue basah pati aren termodifikasi dari tinggi (78) menjadi rendah (52). IG cookies pati aren termodifikasi rendah, tidak berbeda nyata dibandingkan pati alaminya, berturut-turut 46 dan 47. Nilai BG kue basah pati aren termodifikasi daun jambu biji lebih rendah (10,55) dibandingkan pati alaminya (15,05). BG produk tersebut terkategori sedang. Kue basah dan cookies pati aren termodifikasi memiliki BG berturut-turut 10,55 dan 18,45. Penggunaan pati aren termodifikasi dapat menurunkan IG pada kue basah. Pati aren termodifikasi berpotensi dijadikan bahan baku untuk pengembangan produk ber-IG rendah
HUBUNGAN PENGUKURAN LEMAK SUBKUTAN DENGAN INDEKS MASSA TUBUH PADA LAKI-LAKI USIA LANJUT
Degenerative diseases are associated with obesity. Body mass index (BMI) measurement is a way to measure disease risk,howeverfat mass more explain metabolic conditions associated with degenerative diseases. Research shows consistent relation between these two parameters with diseases risk. This study aims to determine the association of fat mass by skinfold thickness measurement with BMI. The study design was observational with cross-sectional approach. This research was done at the UniversitasPadjadjaran in 2015. The number of subjects were 96 men with the inclusion criteria over 50 years, exclusion criteria have abnormal posture and edema. Statistical analysis used Spearman rank correlation test and a simple linear regression. Characteristics of age 67.98 (SD: 9.81) years, height 1.61 (SD: 0.61) m, weight 66.67 (SD: 10.74) kg, BMI: 26.28 (SD 3,55) kg / m2, body fat: 30.98 percent. The distribution of nutritional status category: underweight 2 percent, normoweight 11.9 percent, overweight 27.27 percent, obese 58.4 percent. Fat mass category: normal category 41.6 percent and overfat 58.4 percent. Correlation between fat mass with age of 0.094 percent, with heights 0.14 percent and with a BMI 0.55 percent. Simple linier regression analysis shows the equation: percent fat mass = 2,757 + 0.089. This equation means every increase of 1 BMI will increase the fat mass percent by (2.757 + 1*0.089)2. The implications of this equation show that BMI can predict fat mass in elderly men based on subcutaneous fat thicknessmeasurements. Penyakit degeneratif berhubungan dengan faktor risiko obesitas. Pengukuran indeks massa tubuh (IMT) merupakan cara untuk mengukur risiko penyakit, tetapi massa lemak dapat menggambarkan kondisi metabolik yang berhubungan dengan penyakit degeneratif. Penelitian menunjukkan hubungan konsisten antara kedua parameter ini dengan risiko penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara massa lemak berdasarkan pengukuran tebal lemak subkutan dengan IMT. Disain penelitian adalah observasional dengan pendekatan potong lintang. Penelitian dilakukan di kampus Universitas Padjadjaran tahun 2015. Jumlah subjek 96 laki-laki dengan kriteria inklusi di atas 50 tahun, kriteria ekslusi memiliki postur tubuh tidak normal dan edema. Variabel bebas adalah umur, tinggi badan dan IMT, variabel tergantung adalah massa lemak. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman rank dan uji regresi linier sederhana.Karakteristik usia 67,98(SD: 9,81) tahun, tinggi badan 1,61(SD : 0,61) m, berat badan 66,67 (SD : 10,74) kg, IMT: 26,28 (SD : 3,55) kg/m2, lemak tubuh: 30,98 persen.Sebaran kategori status giziterdiri dari berat badan kurang 2 persen, normal 11,9 persen, berat badan lebih 27,27 persen, obesitas 58,4 persen. Kategori massa lemak terdiri dari kategori normal 41,6 persen dan lebih 58,4 persen. Korelasi antara massa lemak dengan usia0,094 persen, dengan tinggi badan 0,14 persen dan dengan IMT 0,55 persen. Analisis regresi linier menghasilkan persamaan: persen massa lemak = 2,757 + 0.089 (IMT). Persamaan ini mempunyai arti setiap peningkatan 1 IMT akan meningkatkan persen massa lemak sebesar (2,757 + 1*0,089)2. Implikasi persamaan ini memperlihatkan IMT dapat memprediksi massa lemak pada laki-laki lanjut usia berdasarkan pengukuran tebal lemak subkutan.Degenerative diseases are associated with obesity. Body mass index (BMI) measurement is a way to measure disease risk,howeverfat mass more explain metabolic conditions associated with degenerative diseases. Research shows consistent relation between these two parameters with diseases risk. This study aims to determine the association of fat mass by skinfold thickness measurement with BMI. The study design was observational with cross-sectional approach. This research was done at the UniversitasPadjadjaran in 2015. The number of subjects were 96 men with the inclusion criteria over 50 years, exclusion criteria have abnormal posture and edema. Statistical analysis used Spearman rank correlation test and a simple linear regression. Characteristics of age 67.98 (SD: 9.81) years, height 1.61 (SD: 0.61) m, weight 66.67 (SD: 10.74) kg, BMI: 26.28 (SD 3,55) kg / m2, body fat: 30.98 percent. The distribution of nutritional status category: underweight 2 percent, normoweight 11.9 percent, overweight 27.27 percent, obese 58.4 percent. Fat mass category: normal category 41.6 percent and overfat 58.4 percent. Correlation between fat mass with age of 0.094 percent, with heights 0.14 percent and with a BMI 0.55 percent. Simple linier regression analysis shows the equation: percent fat mass = 2,757 + 0.089. This equation means every increase of 1 BMI will increase the fat mass percent by (2.757 + 1*0.089)2. The implications of this equation show that BMI can predict fat mass in elderly men based on subcutaneous fat thicknessmeasurements. Penyakit degeneratif berhubungan dengan faktor risiko obesitas. Pengukuran indeks massa tubuh (IMT) merupakan cara untuk mengukur risiko penyakit, tetapi massa lemak dapat menggambarkan kondisi metabolik yang berhubungan dengan penyakit degeneratif. Penelitian menunjukkan hubungan konsisten antara kedua parameter ini dengan risiko penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara massa lemak berdasarkan pengukuran tebal lemak subkutan dengan IMT. Disain penelitian adalah observasional dengan pendekatan potong lintang. Penelitian dilakukan di kampus Universitas Padjadjaran tahun 2015. Jumlah subjek 96 laki-laki dengan kriteria inklusi di atas 50 tahun, kriteria ekslusi memiliki postur tubuh tidak normal dan edema. Variabel bebas adalah umur, tinggi badan dan IMT, variabel tergantung adalah massa lemak. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman rank dan uji regresi linier sederhana.Karakteristik usia 67,98(SD: 9,81) tahun, tinggi badan 1,61(SD : 0,61) m, berat badan 66,67 (SD : 10,74) kg, IMT: 26,28 (SD : 3,55) kg/m2, lemak tubuh: 30,98 persen.Sebaran kategori status giziterdiri dari berat badan kurang 2 persen, normal 11,9 persen, berat badan lebih 27,27 persen, obesitas 58,4 persen. Kategori massa lemak terdiri dari kategori normal 41,6 persen dan lebih 58,4 persen. Korelasi antara massa lemak dengan usia0,094 persen, dengan tinggi badan 0,14 persen dan dengan IMT 0,55 persen. Analisis regresi linier menghasilkan persamaan: persen massa lemak = 2,757 + 0.089 (IMT). Persamaan ini mempunyai arti setiap peningkatan 1 IMT akan meningkatkan persen massa lemak sebesar (2,757 + 1*0,089)2. Implikasi persamaan ini memperlihatkan IMT dapat memprediksi massa lemak pada laki-laki lanjut usia berdasarkan pengukuran tebal lemak subkutan
KONTRIBUSI JENIS BAHAN MAKANAN TERHADAP KONSUMSI NATRIUM PADA ANAK USIA 6-18 TAHUN DI INDONESIA (FOOD CONTRIBUTION IN SODIUM INTAKE OF CHILDREN AND YOUNG AGE [6-18 YEARS] IN INDONESIA)
ABSTRACT Hypertension, heart disease and stroke are a major cause of death in Indonesia. In 2013, the prevalence of hypertension in Indonesia about 25,8 persen. WHO concluded that excess sodium consumption showing a positive straightline relationship with increased incidence of hypertension and cardiovascular disease. The aim of data analysis was to get information about the contribution of sodium intake in children aged 6-18 years. The data came from Individual Food Consumption Study in 2014. The 24 hours recall were done in 2014 was administered to 34.956 children and young people boys and girls aged 6-18 years. Sodium intake were estimated indirectly from food consumption data. The analysis showed that the average of sodium intake in children age 6-18 years were 2609 mg /day, of which as much as 55.3 percent consume more than 2000 mg/day. The food groups that highly contribute to sodium intake were from seasoning (51.8%), cereals and cereals product (21.16%), fish and fish product (10.69%), meat and meat products (4.78%). The main source of sodium intake in children 6-18 years age came from salt (43.9%), followed by noodles (13.2%), other condiment (7.9%) and fresh fish (5.4%) processed fish (5.3%) in consecutive. While other foods contribute less than 5 percent of sodium.ABSTRAK Saat ini, hipertensi, penyakit jantung dan stroke menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Menurut hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 25,8 persen. Data WHO menunjukkan bahwa kelebihan konsumsi Natrium berkaitan dengan peningkatan kejadian hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Tujuan analisis data untuk memperoleh informasi kontribusi bahan makanan terhadap asupan Natrium pada anak usia 6-18 tahun. Data yang digunakan adalah data Studi Konsumsi Makanan Individu 2014. Jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 34.956 anak usia 6-18 tahun. Jumlah asupan Natrium diperoleh dari data recall 1x24 jam. Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata asupan Natrium anak usia 6-18 tahun adalah 2609 mg/orang/hari, diantaranya sebanyak 55,3 persen anak mengonsumsi lebih dari 2000 mg/hari. Kelompok bahan makanan yang berkontribusi besar terhadap asupan Natrium pada anak usia 6-18 tahun adalah kelompok bumbu termasuk garam yaitu sebesar 51,8 persen, kelompok serealia dan olahan (21,16%), kelompok ikan dan olahan (10,69%) dan kelompok daging dan olahan (4,78%). Jenis bahan makanan yang berkontribusi besar terhadap asupan Natrium adalah garam sebesar 43,9 persen kemudian bumbu (7,9%), mi (13,2%) ikan segar (5,4%) dan ikan olahan (5,3%), sedangkan jenis bahan makanan lainnya kurang dari 5 persen. Disimpulkan bahwa sebagian besar asupan Natrium pada anak usia 6-18 tahun berasal dari garam dapur, mi, bumbu, ikan segar dan olahan ikan
POLA BEROBAT GIGI DAN STATUS KESEHATAN GIGI DI PROVINSI BANGKA BELITUNG
Abstak:Latar Belakang: Provinsi Bangka Belitung merupakan wilayah dengan tingkat kerusakan gigi penduduknya tertinggi di Indonesia. Pada Riskesdas 2007 dilaporkan di Provinsi Bangka Belitung, penduduk usia 12 tahun ke atas pernah mengalami karies sebesar 86,8 % dan yang mengalami karies aktif yang belum memperoleh perawatan sebesar 50,8%. Dari penelitian terdahulu di Provinsi Bangka Belitung diketahui bahwa rata-rata 5 gigi per-orang pernah mengalami kerusakan meliputi 3,6 gigi dicabut, 0,35 gigi dibiarkan karies tanpa perawatan dan hanya 0,05 yang ditumpat. Ini mengambarkan situasi layanan kesehatan gigi di Provinsi Bangka Belitung yang didominasi oleh pelayanan pencabutan gigi. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui status kesehatan gigi dan pola berobat gigi di Provinsi Bangka Belitung. Metode: Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan rancangan cross sectional (potong lintang), adapun jumlah responden penelitian adalah 1152 orang. Hasil: Status kesehatan gigi terendah (indeks DMF-T tertinggi) pada golongan usia > 60 tahun dimana pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Upaya untuk mengatasi sakit gigi atau kelainan gigi yang paling banyak adalah dengan pencabutan gigi (77,6%), pemberian obat untuk menghilangkan rasa sakit (77,3%), konseling atau penyuluhan (34,8%), dan penambalan gigi (33,1%). Kesimpulan: Status kesehatan gigi di Provinsi Bangka Belitung sangat rendah, dengan indeks DMF-T yang sangat tinggi dijumpai pada golongan umur > 60 tahun, diikuti golongan umur 35-44 tahun. Upaya pengobatan yang dilakukan lebih banyak pencabutan gigi, ini berarti upaya perawatan/pengobatan yang dilakukan masyarakat sudah sangat terlambat. Saran: Perlu peningkatan kemampuan pelayanan kesehatan gigi dan juga akses ke tempat pelayanan kesehatan gigi karena ini berhubungan erat dengan kejadian karies gigiABSTRACT Background: Bangka Belitung Province is the region with the highest population rate of tooth decay in Indonesia. At Riskesdas 2007 it was reported in Bangka Belitung province, the population aged 12 years and over have experienced dental caries by 86.8% and those with active caries are not getting treatment of 50.8%. From previous studies in Bangka Belitung Province known that an average of 5 teeth per-person has experienced decay in the tooth are 3.6 pulled, 0.35 dental caries is left unattended and only 0.05 is filled. This portrait of the situation of dental services in Bangka Belitung Province which is dominated by the service extractions. The purpose of the study is to determine the status of dental health and dental treatment patterns in Bangka Belitung. Methods: It is a descriptive cross sectional design (cross-sectional), while the number of survey respondents are 1152 people. Results: The lowest dental health status (the highest DMF-T index) is in the are age group of > 60 years in which the women were higher than men. The most efforts to address a toothache or dental abnormalities tooth extraction (77.6%), the administration of drugs to relieve pain (77.3%), counseling (34.8%), and dental fillings (33.1%). Conclusion: The dental health status in Bangka Belitung province is very low, with the DMF-T index is very high seen in the age group of > 60 years, followed by 35–44 year of age group. Treatment efforts most are extractions, this means people is too late in seeking dental health care. Recommendation: need to improve dental health services quality and access ability to the dental health care facilities because this is closely related to the incidence of dental caries
Jarak Rumah Ke Tempat Pembuangan Akhir, Kualitas Fisik Rumah Terhadap Kadar Gas Metana (CH4) Dalam Rumah Di Kelurahan Batulayang Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak
Gas that highly produced from decomposition of garbages at fi nal spot waste disposal is methane.Methane gas is one of gases that can cause poisoning and source of air pollutants which cause health problems such as respiratory disorders. The study aimed to determine the relationship between distance and physical qualities of houses with levels of methane gas inside houses surrounding the fi nal spot waste disposal, the TPAS in Batu Layang Village, North Pontianak year 2015., It was an observational study with a cross sectional design. Samples were all, 34 houses around the TPAS in Batu Layang Village. The analysis was by chi-square test. Most inhabitants were educated 60% of elementary and junior high school and 68% labors. More than half, 19 (55.9%) had at the average methane gas levels in houses with high category of 0.25 ppm. The majorities 84.2% distance of houses to the TPAS and house conditions with types of 81.3 % fl oor, 83.3% wall and 66.7% large ventilation were not as the requirements. The types of fl oor and wall that were not as the requirements and distance of houses to the TPAS were risk to methane gas in the house as 8.66 (95%CI 1.76–42.60), 7.22 (95% CI:1.26–41.14), and 4,66 (95% CI 0.94–23.03) times higher than house conditions as the requirements and near distance to the TPAS. Near distance of houses to the TPAS and types of fl oor, wall not as requirements caused methane gas into the houses. Meanwhile large house ventilation was not associated with methane levels in the houses likely because the distance and types of fl oor, wall had more infl uences Inhabitants who live surroundings the TPAS should cover fl oors with rugs and make wall of house from woods with well arranged. Moreover, they should plant shade trees to absorb and reduce gases to gases from the TPAS, especially methane. AbstrakGas yang paling banyak dihasilkan dari proses pembusukan sampah di Tempat Penampungan Akhir Sampah (TPAS) adalah metana. Gas metana merupakan salah satu gas yang dapat menyebabkan keracunan dan sumber pencemar udara sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan antara lain gangguan saluran pernafasan. Penelitian ini bertujuan menentukan hubungan antara jarak dan kualitas fisik rumah dengan kadar gas metana dalam rumah di sekitar TPAS Kelurahan Batu Layang, Pontianak Utara pada tahun 2015. Jenis penelitian adalah observasional dengan desain potong lintang. Sampel adalah keseluruhan 34 rumah penduduk yang berada di sekitar TPAS Kelurahan Batu Layang. Analisa dengan uji chi-square. Sebagian besar penduduk, 60% berpendidikan SD dan SMP dan 68% sebagai buruh. Lebih dari separuh 19(55,9%) rumah memiliki rata-rata kadar gas metana dalam rumah dengan kategori tinggi 0,25 ppm. Sebagian besar 84,2% jarak rumah dengan TPAS Kelurahan Batu Layang serta kondisi 81,3% lantai, 83,3%, dinding dan 66,7% ventilasi rumah tidak memenuhi syarat. Jenis lantai, dinding rumah yang tidak memenuhi syarat dan jarak rumah yang dekat terhadap TPAS di Kelurahan Batu Layang masing-masing berisiko terpapar gas metana 8,66 (95% CI 1,76–42,60), 7,22 (95%CI: 1,26–41,14), dan 4,66 (95%CI 0,94–23,03) kali lebih besar dibandingkan yang kondisi rumah memenuhi syarat dan jauh terhadap TPAS. Jarak dekat terhadap TPU dan jenis lantai, dinding rumah yang tidak memenuhi syarat memudahkan masuknya gas methane kedalam rumah. Sedangkan luas ventilasi rumah tidak berhubungan dengan kadar metana dalam rumah kemungkinan karena jarak dan jenis lantai, dinding yang lebih berpengaruh. Masyarakat yang tinggal di sekitar TPAS seharusnya melapisi lantai dengan karpet dan membuat dinding rumah dari papan yang disusun dengan baik. Selain itu, masyarakat yang tinggal di sekitar TPAS untuk menanam pepohonan yang rindang agar menyerap dan mereduksi gas-gas dari TPAS terutama metana.
Pengendalian Malaria Di Desa Tebat Gabus Oleh Penyelenggara Kesehatan Melalui Peningkatan Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Masyarakat
AbstractMalaria is an infectious disease and remains a health problem in Indonesia, especially in Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) Regency. This disease can be cause of death, anemia and lower labour productivity of patients. Previous research in OKUS Regency showed the annual malaria incidence (AMI) is still high with the low knowledge of community. This study aims to determine the magnitude of the problem of malaria and malaria prevention efforts in Tebat Gabus Village and programs that have not been implemented by the provider to increase knowledge, attitudes and behavior of the community in Kisam Tinggi Subdistrict OKUS Regency. Data collected were secondary data of quantitative and qualitative case study, and data collected by in-depth interviews and Focus Group Discussion (FGD). Research area was located in Tebat Gabus Village of Kisam Tinggi Subdistrict OKUS Regency. Annual malaria incidence of Tebat Gabus Village showed fluctuated number year by year. The highest number of AMI was in 2011 (231,89%o), and the lowest in 2009 (188,97%o). Malaria control programs that have been implemented by local goverment already implemented but there is a gap in the availability of the service needs of the community about malaria control programs by health providers. The number of malaria cases in Tebat Gabus is still high and there is a gap between the needs of the community with the needs of health providers.Keywords: Malaria, control, community, health providers, Tebat GabusAbstrakMalaria merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia terutama di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS). Penyakit ini dapat menyebabkan kematian, anemia dan menurunkan produktivitas kerja penderita. Penelitian sebelumnya di Kabupaten OKUS memperlihatkan angka AMI (Annual Malaria Incidence) yang masih tinggi dengan pengetahuan masyarakat yang masih rendah. Penelitian ini bertujuan mengetahui besarnya masalah malaria dan upaya pencegahan malaria di Desa Tebat Gabus dan program yang belum dilaksanakanoleh penyelenggara kesehatan melalui peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat. Metode penelitian adalah analisa data sekunder kuantitatif dan studi kasus kualitatif dengan teknik pengumpulan data pengamatan, wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD). Lokasi penelitian di Desa Tebat Gabus Kecamatan Kisam Tinggi Kabupaten OKUS. Hasil penelitian menunjukkan angka AMI di Desa Tebat Gabus dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Angka AMI paling tinggi terjadi pada tahun 2011 yaitu 231,890/00 dan paling rendah pada tahun 2009 yaitu 188,970/00. Upaya pencegahan telah dilakukan oleh penyelenggara kesehatan melalui program pengendalian malaria yang sudah berjalan namun terdapat kesenjangan kebutuhan masyarakat dengan ketersediaan layanan petugas puskesmas dan dinas kesehatan dimana belum terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan program pengendalian malaria oleh penyelenggara kesehatan. Kejadian malaria di Desa Tebat Gabus masih tinggi dan terdapat kesenjangan antara kebutuhan masyarakat dengan kebutuhan penyelenggara kesehatan.Kata Kunci: Malaria, pengendalian, masyarakat, penyelenggara kesehatan, Tebat Gabu
Potensi Serbuk Daun Sirih (piper betle, Linn) Sebagai Larvasida Nyamuk Aedes aegypti
Abstract Larvacide was compound/essence used to kill larvae stadium. Many people used Piper betle to traditional medicine. Piper betle plant L,.has contents bioactive compound as flavonoid compound, atsiri volatile, polifenol, tannin, alkaloid and saponin which have quality as larvacide. Based on the case above, this research aim to put the experiment Piper betle of the Aedes aegypti mosquito instars IV. This was pure experiment research using complete random design. This research was done at laboratory . Larva used was Aedes aegypti mosquito instars IV. Concentration used of this research was : 0,1; 0,2; 0,3; 0,4; 05 percent b/v. This research has control (+) was temephos 0,0001 persen, control (-) was aquades water not added anything. Observation done every hour up to all the larva death with the replication 5 times. Larva death cumulative data on 10th hour and 24 th used to calculate LC50 and LT50 used probit regression analysis than data analyzed using Levene’s test. The result of this research showed that the cost of LC50 piper betle plant L. on 10th hour was 0,54 ± 0,147 persen b/v, than on 24 hour LC50 on concentration 0,07 up to 0,28 percent b/v. the time needed to cross out 50 percent Aedes aegypti instar IV of the concentration 0,05 percent time needed 19. Based on a probit analysis of the relationship between the level of concentration with the number of larvae mortality, Piper betle have activities as larvacide of Aedes aegypti. Keywods: piper betle leaf powder, larvacide, Aedes aegyti AbstrakLarvasida adalah senyawa/zat yang digunakan untuk membunuh stadium larva. Tanaman Piper betle, Linn. (sirih hijau) sudah banyak dimanfaatkan oleh kalangan masyarakat sebagai obat tradisional. Daun sirih hijau memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti senyawa flavonoid, minyak atsiri, polifenol, tannin, alkaloid dan saponin yang dapat bersifat sebagai larvasida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat daun sirih hijau yaitu sebagai larvasida dengan menguji serbuk daun sirih hijau terhadap larva nyamuk Aedes aegypti instar IV. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental murni menggunakan rancangan acak lengkap. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Loka Litbang P2B2 Baturaja. Larva yang digunakan adalah larva nyamuk Aedes aegypti instar IV. Konsentrasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 0,1; 0,2; 0,3; 0,4; 0,5 persen b/v. pada penelitian ini terdapat kontrol (+) yaitu temefos 0,0001 persen, sedangkan kontrol (-) adalah air aquades yang tidak diberi tambahan apapun. Pengamatan dilakukan tiap jam sampai seluruh larva mati dengan replikasi sebanyak lima kali. Data kumulatif kematian larva pada jam ke-10 dan jam ke-24 digunakan untuk menghitung nilai LC50 dan LT50 dengan menggunakan analisis regresi probit, selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan uji Levene’s. Hasil analisis data menunjukan bahwa nilai LC50 serbuk daun sirih hijau pada jam ke-10 adalah 0,54 ± 0,147 persen b/v, sedangkan pada jam ke-24 adalah 0,28 sampai dengan 0,07 persen b/v. Waktu yang dibutuhkan untuk membunuh 50 persen larva Aedes aegypti instar IV pada konsentrasi 0,5 persen dibutuhkan waktu 19 jam. Berdasarkan analisis probit ada hubungan antara tingkat konsentrasi dengan jumlah kematian larva, serbuk daun sirih hijau memiliki aktivitas sebagai larvasida terhadap nyamuk Aedes aegypti. Kata Kunci: Serbuk Daun Sirih, Larvasida, Aedes aegypt