e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
PENGGUNAAN SALEP MINYAK ATSIRI KULIT BUAH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia L.) SEBAGAI ANTIBAKTERI INFEKSI KULIT OLEH Staphylococcus aureus PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) The antibacterial effect of Lime peel (Citrus aurantifolia L.) essential oil o
ABSTRACTThe peel of Lime (Citrus aurantifolia) contains essential oil which might be consisting of various components suchas limonena, linalool, and mirsen. Those chemical compound have been used as antibacterial properties. Thisresearch aimed to find out the antibacterial effect of the essential oil ointment of lime peel against Staphylococcusaureus by in vivo technique. A total of 30 male rats (Rattus norvegicus) aged 2-3 months, weight 150 to 200 gwere randomly divided into 5 groups. After being adapted all rats were assigned burn injury 2 cm in diameter.Staphylococcus aureus isolate 0,1 ml were inoculated with a concentration of 10-3. On day 4 after inoculation,group I (negative control) was lubricated by vaselin album on the wound infection. Group II (positive control) waslubricated by chloramphenicol ointment. Essential oils ointment of lime pell at concentration 20%, 40%, and 80%respectively. All the treatments were given daily for up to 21 days. Administration of 100 mg ointments was givenby using plastic solet. Wound size was observed on day 1, 3, 7, 14 and 21. The data were analyzed using ANAVAtest followed by post hoc test. Result on day 3, 7, 14 and 21 showed significant differences among five groups p=0.00 (p <0.005), p= 0.007 (p <0.05), p= 0.007 (p <0.05), and p= 0.007 (p<0.05), respectively. Ointment of essentialoil of lime peel has antibacterial effect on skin infection in rats.Key words: the peel of Lime (Citrus aurantifolia), essential oil, burn injury. ABSTRAKKulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia) mengandung minyak atsiri dengan berbagai komponen sepertilimonena, linalool, dan mirsen yang diduga bermanfaat sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalahmengetahui efek antibakteri salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis terhadap Staphylococcus aureus in vivo.Sebanyak 30 ekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) dengan usia 2-3 bulan, berat badan 150-200 g dibagi5 kelompok secara random. Setelah adaptasi lingkungan semua tikus diberi perlukaan dengan cara punggungtikus dicukur bulunya kemudian disemprot dengan chloretyl spray, selanjutnya luka dibuat dengan membuatluka bakar diameter 2 cm. Inokulasi bakteri S. aureus isolate klinik dengan konsentrasi 10-3 sebanyak 0,1mL. Pada hari ke 4 setelah inokulasi, kelompok I (kontrol negatif) diberi vaselin pada luka infeksi. KelompokII (kontrol positif) diolesi salep kloramfenikol. Kelompok III, IV, dan V berturut-turut diolesi salep minyakatsiri kulit buah jeruk nipis konsentrasi 20%, 40%, 80%. Semua perlakuan dilakukan setiap hari selama 21hari. Pemberian salep masing-masing sebanyak 100 mg sekali pemberian dengan menggunakan solet plastik.Setelah disalep luka ditutup dengan kassa steril. Pengamatan luas luka dilakukan pada hari ke1, 3, 7, 14 dan21. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji ANAVA dilanjutkan dengan Post Hoc test. Hasil penelitianpada hari 3, 7, 14 dan 21 menunjukkan ada perbedaan bermakna pada kelima kelompok perlakuan masingmasingdidapat p=0,00 (p<0,005), p=0,007 (p<0,05), p=0,007 (p<0,05), dan p=0,007 (p<0,05). Salep minyakatsiri kulit buah jeruk nipis berpengaruh sebagai antibakteri infeksi kulit oleh S. aureus pada tikus putih
STATUS KERENTANAN VEKTOR DBD (Demam Berdarah Dengue) Aedes aegypti TERHADAP INSEKTISIDA MALATHION DI KABUPATEN TANAH BUMBU
Prevalensi nasional demam berdarah dengue di Indonesia sebesar 0,62% dan di Kalimantan Selatankasus DBD Klinis terdeteksi dengan prevalensi 0,26%. Berdasarkan data Riskesdas dalam kurun waktu 12 bulanterakhir (Agustus 2007 – Juli 2008), kasus DBD terdeteksi di Kab. Tanah Bumbu 0.24% . Kejadian Demam BerdarahDengue di Kabupaten Tanah Bumbu dengan kasus terbanyak di Kecamatan Batulicin (15 kasus) dan KecamatanSimpang Empat (12 kasus) pada tahun 2007 dibandingkan daerah lainnya. Tujuan penelitian ini adalah menentukanstatus kerentanan vektor DBD (Ae. aegypti) terhadap insektisida Malathion yang digunakan oleh program DinasKesehatan di Kabupaten Tanah Bumbu. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium loka litbang Tanah BumbuRegional Kalimantan. Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimeni dengan desain penelitian Post Testdengan kelompok Kontrol. Berdasarkani hasil penelitian uji Kerentanan yang dilakukan di wilayah Kab. TanahBumbu, menyatakan bahwa status kerentanan nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida malathion dengan jumlahkematian nyamuk di Kecamatan Kusan Hilir sebesar 95% dan di Kecamatan Batulicin sebesar 97%. BerdasarkanStandar Who, Jumlah presentasi di dua kecamatan tersebut dinyatakan Toleran atau masih Rentan sehinggapenggunaan insektisida tersebut masih dapat digunakan sesuai dengan dosis yang dianjurkan( Malathion 0,8 % )
JENIS JENIS NYAMUK YANG DITEMUKAN DI DESA SANTU'UN KECAMATAN MUARA UYA KABUPATEN TABALONG PROPINSI KALIMANTAN SELATAN
Penyakit bersumber binatang khususnya nyamuk masih merupakan masalahkesehatan masyarakat di Indonesia. Desa santuun merupakan salah daerah yang masihditemukan kasus malaria, DBD dan kronis filariasis.Tujuan mengetahui jenis jenis nyamuk.Metoda melakukan survei jentik dan penangkapan nyamuk dewasa Hasil ditemukanCx.quinquefasciatus, Cx.tritaeniorhynchus, Cx. negropunculatus, Cx.pipiens, Cx.gelidus,An..nigerimus, An.umbrosus, An.barbirostris, An.maculatus, An. sundaicus, An.kochi, An.tesselatus, An.vagus, Ae.vexians, Ae.albopictus, Ae.lineatopenis, Man.uniformis danMan.bone
HUBUNGAN ANEMIA DENGAN PENGETAHUAN GIZI,KONSUMSI FE, PROTEIN, VITAMIN C, DAN POLA HAID PADA MAHASISWA PUTRI
Prevalensi anemia nasional pada remaja putri usia 15-19 tahun adalah 26,5%,dan 25,3% pada wanita usia subur berusaha 20-29 tahun. Penelitian padamahasiswaa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta pada tahun 2010 menunjukkan bahwa rata-rata kadar Hb mahasiswa putri sebesar 13,06+1,19 g/dl, dengan nilai minimum 9,1 g/dl dan maksimum 16,5 g/dl, sedangkan mahasiswa putri yang mengalami anemia sebanyak 7,4 %. Diketahuinya hubungan pengetahuan gizi,konsumsi zat gizi dan pola haid dengan anemia pada mahasiswa putri PoltekkesKemenkes Yogyakarta. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Nopember 2011. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa putri Prodi D-III tingkat I pada Jurusan Gizi, Jurusan Keperawatan, dan Jurusan Kesehatan LingkunganPoltekkes Kemenkes Yogyakarta sebanyak 209 mahasiswa. Sedangkan penentuan sampel dengan total populasi yang bersedia menjadi subyek penelitian, dan tidak sedang hamil sehingga yang memenuhi syarat menjadi sampel sebanyak 160 mahasiswa. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dan Rank Spearman. Mahasiswa yang anemia (kadar hemoglobin <12g/dl) sebanyak 9 (5,61%) mahasiswa, mahasiswa yang memiliki pengetahuan gizi baik hanya 45,62%, terdapat 45,62% mahasiswa memiliki konsumsi protein yang masih kurang, sebagian besar kurang konsumsi Fe (sebanyak 87,512%),sebanyak 73,76% mahasiswa memiliki konsumsi vitamin C yang masih kurang, dan sebanyak 68,73% mahasiswa memiliki pola haid tidak teratur. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan gizi dengan anemia (p=1,000), tidak terdapat hubungan bermakna antara konsumsi protein dengan anemia (p=0,416), tidak terdapat hubungan yang bermakna konsumsi Fe dengan anemia (p=0,339) dan tidak ada hubungan yang bermakna konsumsi vitamin C dengan anemia (p=0,654). Tidak terdapat hubungan bermakna antara pola haid dengan anemia (p=0,953). Tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan gizi, konsumsi Fe, protein, vitamin C, dan pola haid dengan anemia pada mahasiswa putri Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
REVIEW IMPLEMENTASI IMUNISASI DASAR LENGKAP YANG DILAKSANAKAN BIDAN DI KABUPATEN BANGKALAN TAHUN 2015
AbstractBackground: Immunization is a priority program of the Ministry of Health and has been implemented since 1956 to reduce under-five mortality rate. The immunization program has also been implemented in Bangkalan District but complete basic immunization coverage remains low, and measles, tetanus and diphtheria still occur.Objective: To review the implementation of complete basic immunization program conducted by midwife.Method: The type of research used was descriptive cross-sectional design conducted in 2015 in Bangkalan District. The number of informants was determined purposively by 24 midwives who had been trained in immunization program and two immunization program holders in two community health centers. Implementation evaluation variables include communication, resources, disposition and bureaucracy.Result: Complete basic immunization coverage in Bangkalan regency is still low, infectious diseases (diphtheria and tetanus) are still causing infant death. Counseling has not been conducted to community /religious leaders. The less resource is the availability of the vaccine carrier so it must take turns. Midwives committed to immunization. In addition, standard operating procedure (SOP) has not been available, error is found in transporting vaccine and adverse events following immunization (KIPI).Conclusion: Midwives have implemented immunization and committed as executor, but their role is limited so immunization coverage is still low. Counseling has not involved religious leaders/community leaders/cadres. There is lack of SOP and inadequate facilities and infrastructure. Mandatory immunization commitment in all infants, SOP preparation, facilities and infrastructure addition and midwife training along with refreshing are required.Keywords: Implementation, Immunization, Coverage, Midwife, Disease AbstrakLatar belakang: Imunisasi merupakan program prioritas Kementerian Kesehatan dan diimplementasikan sejak 1956 untuk menurunkan angka kematian balita. Program imunisasi juga sudah diimplementasikan di Kabupaten Bangkalan, namun cakupan imunisasi dasar lengkap masih rendah dan masih terjadi penyakit campak, tetanus dan difteri.Tujuan: Diperoleh hasil review implementasi program imunisasi dasar lengkap yang dilaksanakan oleh bidan.Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif desain potong lintang yang dilaksanakan tahun 2015 di Kabupaten Bangkalan. Jumlah informan ditentukan secara purposif, 24 orang bidan yang sudah dilatih program imunisasi dan dua orang pemegang program imunisasi di dua puskesmas. Variabel evaluasi implementasi mencakup komunikasi, sumber daya, disposisi dan birokrasi.Hasil: Cakupan imunisasi dasar lengkap di Kabupaten Bangkalan masih rendah, masih terjadi penyakit menular (difteri dan tetanus) yang menyebabkan kematian bayi. Penyuluhan belum dilakukan pada tokoh masyarakat/agama. Sumber daya yang kurang adalah ketersediaan vaccine carrier sehingga harus bergantian. Bidan berkomitmen melaksanakan imunisasi. Selain itu, Standar Operasional Prosedur (SOP) juga belum ada dan ditemukan kesalahan membawa vaksin serta kasus Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).Kesimpulan: Bidan sudah melaksanakan imunisasi dan berkomitmen sebagai pelaksana, namun belum maksimal sehingga cakupan imunisasi masih rendah. Penyuluhan belum melibatkan toga/toma/kader. Belum ada kelengkapan SOP, sarana dan prasarana yang memadai. Perlu komitmen wajib imunisasi semua bayi, penyusunan SOP, menambah sarana dan prasarana serta pelatihan bidan disertai refreshing.Kata kunci: Implementasi, Imunisasi, Bidan, Cakupan, Penyaki
PERAN KELUARGA DAN LINGKUNGAN TERHADAP PSIKOSOSIAL IBU USIA REMAJA
AbstractBackground: Pregnancy in adolescence is at risks both medically, psychologically, and socially. The problems posed will continue from pregnancy to birth and parenting.Objective: To analyze the role of family and environment on psychosocial mother of adolescent in Bogor Tengah sub-district 2015.Methods : The study design used a qualitative approach by conducting in-depth interviews on 13 maternal and triangulated informants to parents, peers, health workers and the health departmentResults : The study showed that most psychosocial informants were not ready for pregnancy. Psychological problems that arise in the form of feeling depressed, fear, sad, angry, annoyed, and confused. While the existing social problems such as informants who are still in school were forced to stop, even those who work the still working must be willing to get out of the workplace. The biggest support received comes from parents, while the form of support from health workers or health offices in the form of providing motivation, counseling and guidance how to run pregnancy well.Conclusion : The support of parents in morale and financie is play a very important role in the process of pregnancy to childbirth and child rearing, while the form of support from health personnel or the form of providing motivation, counseling and guidance how to run pregnancy well. Young women should gain an understanding of reproductive health from an early age, if they are already married young age, strive to delay pregnancy until the age of safety safely reproduction and emotional.Keywords: Psychosocial, Pregnancy, Mother of Teens Age AbstrakLatar belakang : Kehamilan pada usia remaja memiliki risiko baik secara medis, psikologis maupun sosial. Permasalahan yang ditimbulkan akan terus berlanjut sejak masa kehamilan sampai kelahiran dan pengasuhan anak.Tujuan : Menganalisis peran keluarga dan lingkungan terhadap psikososial ibu usia remaja di Kecamatan Bogor Tengah Tahun 2015.Metode: Desain penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam terhadap 13 informan ibu usia remaja dan triangulasi terhadap orang tua, teman sebaya, tenaga kesehatan dan dinas kesehatan.Hasil: Penelitian menunjukan bahwa sebagian besar informan secara psikososial belum siap menjalani kehamilan. Masalah psikologis yang timbul berupa perasaan tertekan, takut, sedih, marah, kesal, dan bingung. Sedangkan masalah sosial yang ada seperti informan yang masih bersekolah terpaksa berhenti, bahkan yang masih bekerja harus rela keluar dari tempat kerjanya. Dukungan terbesar yang diterima berasal dari orang tua, sedangkan bentuk dukungan dari tenaga kesehatan atau dinas kesehatan berupa pemberian motivasi, konseling dan bimbingan bagaimana menjalankan kehamilan dengan baik.Kesimpulan: Dukungan orang tua secara moril dan finansial sangat berperan dalam proses kehamilan hingga melahirkan dan membesarkan anak, sedangkan bentuk dukungan dari tenaga atau dinas kesehatan berupa pemberian motivasi, konseling dan bimbingan bagaimana menjalankan kehamilan dengan baik. Remaja putri harus mendapatkan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi sejak dini, apabila sudah terlanjur menikah usia muda, diupayakan menunda kehamilan sampai batas umur aman secara reproduksi dan emosional.Kata kunci: Psikososial, Kehamilan, Ibu Usia Remaj
UNIVERSAL PRECAUTION: PEMAHAMAN TENAGA KESEHATAN TERHADAP PENCEGAHAN HIV/AIDS
AbstractBackground: One of the priorities of health development is the prevention of the spread of infection especially HIV/AIDS. Increasing HIV/AIDS prevalence also increases the risk of health workers working in health facilities and may be exposed to infection and potentially life-threatening. Prevention efforts are undertaken by improving the understanding of health personnel about implementing universal precaution in providing health services for HIV/AIDS prevention.Objective: The study aims to identify information on universal precaution action for HIV/AIDS prevention as evidence based for decision maker's consideration in hospital policy.Method: The study was conducted with a qualitative approach presented by descriptive explorative, both primary and secondary data in one referral hospital in South Kalimantan in the inpatient room in 2012. Primary data obtained through questionnaire on sample of 107 respondents, in-depth interviews and observations. Secondary data is done by reviewing documents against relevant books and regulations.Results: The study showed that most of the respondents were educated at D3 (72.0%), working period ≥ 5 years (63.6%), Understanding less (66.7%).Conclusion: Understanding of health workers about universal precaution is still lacking and at risk of HIV/AIDS infection. Therefore, it is necessary for the attention of the hospital leaders to make a policy by seeking the refresher of information, training on universal precaution and more motivating the health officer to better understand the management of universal precautionKeywords: Health workers, Universal Precaution, HIV/AIDS AbstrakLatar belakang: Salah satu prioritas pembangunan kesehatan adalah pencegahan penyebaran infeksi terutama HIV/AIDS. Peningkatan prevalensi HIV/AIDS juga meningkatkan risiko tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas kesehatan dan dapat terpapar oleh infeksi dan potensial membahayakan jiwanya. Upaya pencegahan yang dilakukan dengan meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan mengenai pelaksanaan universal precaution dalam memberikan pelayanan kesehatan untuk pencegahan HIV/AIDS.Tujuan: Diperolehnya informasi pemahaman perawat terhadap tindakan universal precaution untuk pencegahan HIV/AIDS sebagai bahan masukan dan pertimbangan pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan di rumah sakit.Metode: Kajian dilakukan dengan pendekatan kualitatif yang disajikan secara deskriptif eksploratif, baik data primer maupun sekunder di salah satu RS rujukan di Kalimantan Selatan pada ruang rawat inap tahun 2012. Data primer diperoleh melalui kuesioner pada sampel 107 responden, wawancara mendalam dan pengamatan. Data sekunder dilakukan dengan telaah dokumen terhadap buku dan peraturan yang terkait.Hasil: Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpendidikan D3 (72,0%), masa kerja ≥ 5 tahun (63,6%), pemahaman kurang (66,7%).Kesimpulan: Pemahaman tenaga kesehatan tentang universal precaution masih kurang dan berisiko terinfeksi penyakit HIV/AIDS. Untuk itu perlu perhatian dari pimpinan RS untuk membuat kebijakan dengan mengupayakan penyegaran informasi, pelatihan mengenai universal precaution dan lebih memotivasi petugas kesehatan agar lebih memahami penatalaksanaan universal precaution.Kata kunci: Tenaga kesehatan, Kewaspadaan Universal, HIV/AID
Efektivitas Ekstrak Daun Tembakau (Nicotiana tabacum L) dari Semarang, Temanggung, dan Kendal Sebagai Larvasida Aedes aegypti L
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan permasalahan kesehatan di Indonesia. Penyebaran DBD melalui vektor nyamuk. Pengendalian vektor merupakan tahapan penting dalam mencegah DBD. Adanya resistensi insektisida membuat pengendalian vektor terhambat, sehingga diperlukan penelitian inovasi insektisida nabati, salah satunya tembakau (Nicotiana tabacum L). Penelitian bertujuan menguji efektivitas larvasida ekstrak tembakau terhadap larva Aedes aegypti serta menganalisis kandungan nikotin dari tembakau yang dikoleksi dari tiga tempat, yaitu Semarang, Temanggung, dan Kendal; menggunakan desain penelitian eksperimental murni, dan dilaksanakan Maret-Desember 2013. Tembakau diekstraksi dengan etanol lalu diuji pada larva Ae. aegypti instar tiga. Hasil pengujian memperlihatkan ekstrak tembakau Temanggung paling aktif sebagai larvasida diikuti Semarang dan Kendal, sedangkan untuk mendapatkan respon biologis 90% kematian dari jumlah total sampel larva diperlukan konsentrasi ekstrak tembakau Kendal pada konsentrasi 447ppm, Semarang 241ppm, dan Temanggung 212ppm. Efek larvasida ekstrak tidak berbanding lurus dengan kadar nikotin ekstrak tembakau, yaitu tembakau Semarang (4,69%), Temanggung (3,61%), dan Kendal (1,85%). Kata kunci: ekstrak tembakau, larvasida, LC90, nikotin. ABSTRACT Dengue fever (DF) is a health problem in Indonesia. The spread of DF occurs through mosquito vectors. Vector control is one of important methods in dengue prevention. However, the occurence of insecticide resistance leads the need of new inovation of botanical insecticide, such tobacco (Nicotiana tabacum L). The research aimed to know larvicidal effectivity of tobacco extracts against Aedes aegypti larvae, and also analyzed nicotine content of tobacco leaves which collected from three sites: Semarang, Temanggung, and Kendal; used experimental design and carried out on March-December 2013. Tobacco leaves was extracted with etanol then tested to Aedes aegypti larvae three. The results showed that tobacco leaves from Temanggung was the most active as larvicides, then were followed from Semarang and Kendal. The analysis result showed that to reach 90% death from total number of larvae samples (LD90), required tobacco extract of Kendal at concentration 447ppm, Semarang 241ppm, and Temanggung 212ppm. Larvicidal effects of tobacco leaf extract was unproportional to the content of nicotine, namely Semarang (4,69%), Temanggung (3,61%), and Kendal (1,85%). Keywords: tobacco extract, larvacide, LC90, nicotine