e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
DEMAM BERDARAH DENGUE DAN TRANSMISI TRANSOVARIAL VIRUS DENGUE PADA Aedes spp
Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue (Virus DEN) ditularkan melalui gigitan nyamuk. Demam Berdarah Dengue sering mendatangkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan kasusnya meningkat pada musim hujan. Infeksi Virus DEN sudah menjadi masalah kesehatan serius di banyak negara tropis dan sub tropis.Vektor biologi dari Virus DEN ini adalah Aedes spp. Di Indonesia dikenal dua spesies yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk demam berdarah biasanya menggigit pada sore dan pagi hari tetapi dapat menggigit setiap saat sepanjang hari, terutama di dalam rumah dan di luar rumah, di daerah terhindar dari cahaya matahari langsung. Di setiap negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda. Timbulnya penyakit DBD disebabkan adanya korelasi antara strain dan genetik, tetapi akhir-akhir ini ada kecenderungan agen penyebab DBD yang berbeda di setiap daerah. Hal ini kemungkinan adanya faktor geografik, selain faktor genetik dari hospesnya.Tujuan penulisan arikel ini untuk memberikan informasi, bahaya penularan DBD secara transovarial (melalui telur nyamuk infektif). Pegendalian penyakit DBD dilakukan dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan gerakan 3 M Plus (Menguras, Menutup dan Mengubur) serta “Plus” berkaitan dengan pencegahan yaitu perilaku hidup bersih, mengkonsumsi makanan bergizi untuk kesehatan prima dan memperbaiki kesehatan lingkungan (foging, perbaikan saluran air, dan kebersihan tempat sampah umum dan lainnya). Kemampuan virus dengue untuk mempertahankan keberadaanya di alam secara horisontal dan vertikal maka perlu dilakukan pengendalian yang kompleks meliputi pengendalian telur, larva/jentik, pupa dan dewasa
Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Pencegahan Leptospirosis Paska Peningkatan Kasus di Kabupaten Tangerang
Upaya pengendalian leptospirosis didasari dari pemahaman masyarakat yang benar tentang penyakit dan cara pencegahannya. Kondisi lingkungan Desa Pagedangan Ilir berisiko untuk penularan leptospirosis. Paska peningkatan kasus leptospirosis di wilayah tersebut, perlu dilakukan studi pengetahuan dan perilaku kesehatan untuk mengetahui kemampuan masyarakat dalam melakukan upaya pencegahan leptospirosis. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan hubungan pengetahuan dengan perilaku masyarakat dalam pencegahan leptospirosis. Jenis penelitian adalah explanatory research dengan rancangan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan di Desa Pagedangan Ilir pada Bulan September-Oktober tahun 2015. Pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling di setiap Rukun Warga (RW) dengan mewawancarai sejumlah 100 orang responden. Hasil wawancara menunjukkan sebesar 49% responden memiliki pengetahuan yang rendah dan 80% memiliki perilaku pencegahan leptospirosis yang kurang baik. Sumber informasi tentang leptospirosis lebih banyak diperoleh dari teman/kerabat. Ada hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan leptospirosis (p value<0,00). Perilaku keseharian masyarakat untuk mencegah leptospirosis seperti penggunaan alat pelindung diri, penanganan bangkai, dan pengendalian tikus masih kurang baik. Kata kunci: pengetahuan, perilaku, leptospirosis, Tangerang. ABSTRACT Control efforts of l leptospirosis were conducted based on correct understanding of the disease and how to prevent it. Environmental conditions of Desa Pagedangan Ilir categorized as a risk area for leptospirosis transmission. After increasing cases of leptospirosis in the region, it is necessary to study knowledge and health behavior of leptospirosis prevention. The objective of the study was to analyse the relationship between knowledge and community behavior in preventing leptospirosis. The type of research is analytic research with a cross sectional design. Data collection was conducted in Desa Pagedangan Ilir in September-October 2015. Sampling was using proportional random sampling in every RW (Rukun Warga) by interviewing 100 respondents. Results of this study showed that 49% of respondents had low knowledge and 80% had poor leptospirosis prevention behavior. Sources of information about leptospirosis more obtained from friends/relatives. There was a significant relationship between the level of knowledge with leptospirosis prevention behavior (p value <0.00). The daily behavior of people to prevent leptospirosis such as the use of personal protective equipment, handling of carcasses, and rat control were still not good. Keywords: knowledge, behavior, leptospirosis, Tangerang.
STRUCTURE OF STEROIDS IN Stelechocarpus burahol Hook f. & Thomson STEM BARK Struktur steroid dalam kulit batang Stelechocarpus burahol Hook f. & Thomson
ABSTRACTNatural steroids can be used for pharmaceutical production. Especially served as starting material for their partialsynthesis of sex hormones, including the oral contraceptives. In this research, steroid was obtained as byproductsfound during isolation and identification of cytotoxic compounds from Stelechocarpus burahol Hook f.& Thomson stem bark. The steroid mixture appears as white powder, consist of 3 steroid components: Δ5-ergostenol,stigmasterol, and β-sitosterol. Structure elucidation has been done using GC-MS and 1H-NMR spectroscopic.The result was compared with literature standard ABSTRAKSteroids alam digunakan dalam berbagai produk farmasi, terutama sebagai material awal untuk sintesis parsialhormon reproduksi termasuk oral kontrasepsi. Dalam penelitian ini steroid ditemukan sebagai produksampingan dari proses isolasi dan identifikasi senyawa sitotoksik kulit batang Stelechocarpus burahol HookF & Thomson. Campuran steroid berupa serbuk putih yang terdiri dari 3 komponen :Δ5-ergostenol, stigmasterol,dan β-sitosterol. Elusidasi struktur menggunakan GCMS dan 1H-NMR. Hasilnya dibandingkan denganliteratur standar.Kata kunci: steroid, Stelechocarpus buraho
HUBUNGAN LINGKUNGAN FISIK DAN TINDAKAN MASYARAKAT DENGAN HABITAT PERKEMBANGBIAKAN LARVA Anopheles DI KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA
Propinsi Nusa Tenggara Timur merupakan daerah dengan kasus malaria cukup tinggi. Pada tahun 2011Annual Parasit Insidence (API) 25,69‰ dan pada tahun 2012 22,37‰ serta pada tahun 2013 sebesar 18,86‰Beberapa faktor yang berperan penting dalam mempengaruhi perkembangan vektor malaria, diantaranya adalahdaya dukung lingkungan dan sosial budaya masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lingkungandan tindakan masyarakat yang berhubungan dengan habitat perkembangan larva Anopheles spp. Jenis penelitianmerupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah masyarakat diKabupaten Sumba Barat Daya sebanyak 128 untuk setiap lokasinya dan larva nyamuk Anopheles spp. Hasilobservasi lingkungan yang menjadi habitat perkembangbiakan nyamuk Anopheles sp terdiri dari sawah yangbelum dikelola, sawah yang belum di tanam, kubangan kerbau, bekas tapak kaki kerbau, kali, mata air dan bekaskolam ikan. Dengan kepadatan tertinggi adalah pada kubangan kerbau yaitu sebesar 8,5 ekor percidukan dankepadatan kedua adalah pada sawah yang tidak dikelola dengan kepadatan 7,6 ekor percidukan. Perilakumasyarakat yang berhubungan dengan habitat perkembangbiakan vektor malaria adalah kebiasaan mengikat ternakdi daerah persawahan, tidak membersihkan lumut, rumput atau tumbuhan disekitar mata air, tidak mengeringkansawah setelah selesai panen tetapi membiarkan saja tergenang air, kurang mengontrol saluran irigasi. Jenis nyamukAnopheles yang tertangkap antara lain An.barbirostris, An.umbrosus, An. anularis, An.vagus, An.theselatusAn,maculatus, An.aconitus dan An.kochi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah lingkungan mempunyai perananyang cukup potensial menjadi perkembangbiakan nyamuk Anopheles ssp, dan juga tindakan masyarakat mengikatternak pada area persawahan dan membiarkan sawah tergenang dengan air setelah musim panen selesaiberhubungan dengan jumlah habitat perkembangbiakan larv
UJI POTENSI ANTIOKSIDAN HERBA SELEDRI (Apium graveolens L.) SECARA IN VITRO In vitro antioxidant activity of Seledri (Apium graveolens L.)
ABSTRACTAntioxidant is compound that is able to inhibit oxidation reaction or a substance that can neutralize or catch freeradical. The exogen of antioxidant (outside the body) which generally used are vitamin C, vitamin E, β-karoten,and components contained inside plants such as polifenol and bioflavonoid. There are some plants containedflavonoid properties such as Seledri (Apium graveolens), Echinacea (Echinacea purpurea) and Ketul (Bidenspilosa L.). This research is aimed to know the flavonoid content of leaves, stems, and flowers of Seledri (Apiumgraveolens) and the antioxidant activity potential in order to support the development of natural antioxidantsource effort. The research method is experimental research with Full Random Design and its free variable isthe part of Seledri (leaves, stems, and flowers), while the bonded variable is degree of flavonoid content whichis determined by Chriss & Muller method and the measurement of the antioxidant determined by DPPH method.Both methods are read its absorbances by spectrofotometry UV-Vis. The research result showed that the highestdegree of flavonoid water extract is on the leave, which is about 0,51% ± 0,063. Whereas, the potential to be thenatural antioxidant from the lowest to the highest are IC50 103,07 ppm ± 35,91 for flower extract, IC50 189,36 ppm± 46,18 for leaves extract, and IC 50 665,54 ppm ± 65,99 for stem extract, respectively.ABSTRAKAntioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat menghambat reaksi oksidasi atau suatu zat yang dapatmenetralkan atau menangkap radikal bebas. Antioksidan eksogen (dari luar tubuh) yang umum digunakan adalah vitaminC, vitamin E, β-karoten, serta komponen-komponen yang terkandung dalam tanaman seperti polifenol dan bioflavonoid.Beberapa tanaman yang mengandung flavonoid adalah: Seledri (Apium graveolens L.), Echinacea (Echinacea purpurea)dan Ketul (Bidens pilosa L.). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kandungan flavonoid pada organdaun, batang dan bunga herba Seledri (Apium graveolens.L), serta uji potensi aktifitas antioksidannya guna mendukungupaya pengembangan sumber antioksidan alami. Metode penelitian merupakan Penelitian eksperimental dengan desainRancangan Acak Lengkap, dengan variabel bebas adalah bagian tanaman seledri (daun, batang dan bunga), sedangkanvariabel terikatnya adalah kadar Flavonoid yang ditetapkan dengan metode Chriss & Muller, serta pengukuran antioksidanditetapkan dengan metode DPPH. Kedua metode ini dibaca serapan (absorbansinya) secara spektrofotometri UV-Vis.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kadar Flavonoid tertinggi ekstrak air seledri terdapat pada organ daunyaitu sebesar 0,51% + 0,063. Adapun potensi sebagai antioksidan alami berturut turut dari potensi terkecil ke besaradalah ekstrak bunga Seledri dengan IC50 103,07 ppm + 35,91, ekstrak daun Seledri dengan IC50 189,36 ppm + 46,18,ekstrak batang Seledri dengan IC50 665,54 ppm + 65,99.Kata kunci: antioksidan, Apium graveolens, flavonoi
Missing Data Estimation on Design of Experiments of Tuba Roots Ethanol Extracts Against American Cockroach (Periplaneta americana) Yates Method
Abstract Before analyzing the results of experimental design, researchers have to choose the proper experimental design. Random Group (Randomized Completely Block Design) including single-factor design (consists of only one factor) is still a fairly simple design for field trials. On the field is generally difficult to obtain conditions that totally homogeneous, so that when the experiments were conducted with RAL will certainly gain a great error. The study was conducted using ethanol extract of plant roots tuba dissolved in 70% ethanol is sprayed on the outside of the body of a cockroach / cockroaches. Then observed how many cockroaches are dying as a result of an increase in the concentration level of tuba root extract. Researchers generally have been experimenting with caution, but several factors under the researchers' ability can cause data loss. Yates method is a method for the analysis of missing data on an experimental design by inserting the estimated value that minimizes the Sum of Squares Error. The use of Yates method for estimating missing data is very helpful to be able to do further analysis, in this case, analysis of variance (ANOVA). Results of analysis of variance showed Award tuba root concentration levels in experimental animals has a significant influence, though not using the original data
Pemanfaatan Rumah Tunggu Kelahiran di Puskesmas Adaut Kecamatan Selaru Kabupaten Maluku Tenggara Barat Tahun 2015
AbstractMaternal and infant mortality rate in Indonesia remain high and Indonesia faces health service disparitiesacross districts. Maternity waiting homes as an innovation to get mothers closer to health facilities.This study aimed to analyze factors related to the utilization of maternity waiting homes in Adaut healthcentre of Selaru Sub District, Maluku Tenggara Barat. A total of 87 mothers were used for the analysis.This study was a cross sectional method. Cross tabulation and chi-square were used for analysis withsignificance level of 5% and confidence interval of 95%. Our analysis shows that only 18.7 percent ofmothers utilize maternity waiting homes. Bivariate analysis shows that distance and time to travel areassociated with utilization of maternity waiting homes. Mothers had traveling time >60 minutes had0.19-fold lower odds to utilize maternity waiting homes compared to mothers who had traveling timeof 30-60 minutes. Furthermore, mothers live within 25 km are 16 tims higher odds to utilized maternitywaiting homes. Therefore, it is important to consider distance and traveling times in order to increase theutilization of maternity waiting homes.Keywords: maternity waiting homes, utilization, travel time, distanceAbstrakAngka kematian ibu dan bayi di Indonesia masih cukup tinggi, selain itu Indonesia masih menghadapikesenjangan antar wilayah dalam akses pelayanan kesehatan. Rumah tunggu kelahiran (RTK) merupakansalah satu upaya dalam mendekatkan akses ibu hamil dan bersalin ke pelayanan kesehatan. Studi inibertujuan untuk memperoleh gambaran pemanfaatan rumah tunggu kelahiran di Puskesmas AdautKecamatan Selaru, Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Besar sampel yang dianalisis dalam penelitianini adalah 87 ibu yang pernah melahirkan di Puskesmas Adaut Kecamatan Selaru dalam periode tahun2009-2015. Penelitian ini menggunakan metode potong lintang (cross sectional). Metode analisis yangdigunakan adalah tabulasi silang dan chi-square dengan tingkat kemaknaan 5% dan tingkat kepercayaan95%. Hasil analisis menunjukkan bahwa hanya 18,7% responden yang memanfaatkan RTK. Analisisbivariat menunjukkan bahwa waktu tempuh dan jarak berhubungan dengan pemanfaatan RTK. Ibu yangbertempat tinggal dengan waktu tempuh >60 menit memiliki kemungkinan 0.19 lebih rendah untukmemanfaatkan RTK dibandingkan ibu dengan waktu tempuh ke RTK antara 30-60 menit. Sedangkanibu yang bertempat tinggal dengan jarak < 25 km memiliki kemungkinan 16 kali lebih besar untukmemanfaatkan RTK bila dibandingkan ibu yang tinggal ≥ 25km dari RTK. Oleh sebab itu, dalam upayameningkatkan pemanfaatan rumah tunggu kelahiran penting untuk mempertimbangkan aspek waktutempuh dan jarak ke RTK.Kata kunci: rumah tungu kelahiran, pemanfaatan, waktu tempuh, jara
Hubungan Pola Konsumsi dengan Diabetes Melitus Tipe 2 pada Pasien Rawat Jalan di RSUD Dr. Fauziah Bireuen Provinsi Aceh
Acehnese daily meals are sweety, salty, and fatty foods. High consumption of carbohydrates, sugars andsweety foods and beverages in Acehnese at risk of developing diabetes mellitus. This study aims to revealthe relationship between dietary habit and diabetes mellitus. The research was descriptive analitic withcase-control design at RSUD dr. Fauziah Bireuen in Aceh Province 2014. The population was out patient who visit the hospital periode May-June 2014. Sampling was done by purposive sampling. Samplesize was determined using the formula of Lemeshow to hypothesis test. Total respondents are 100outpatients with 50:50 ratio between case (outpatients with diabetes mellitus) and control (outpatientswithout diabetes mellitus) respondents. The instruments are questionnaire and form food frequency.Data were analyzed with bivariate logistic regression. The results showed that diabetes melitus riskfactors are sex and age. Men at risk of diabetes mellitus by 2.48 times. Age over 50 years at risk ofdiabetes mellitus by 2.16 times. The pattern of eating sweety, fatty and salty foods also significantlyassociated with diabetes mellitus. The consumption of salty foods at risk of diabetes mellitus by 2.62times. While the consumption of sweety and fatty foods at a lower risk of diabetes mellitus. Healthylifestyle and a balanced diet is recommended to avoid diabetes mellitus.Keywords: diabetes mellitus, consumption patterns, risk factorsAbstrakKebiasaan masyarakat Aceh adalah mengonsumsi makanan manis, asin, dan berlemak. Konsumsikarbohidrat, gula, dan makanan serta minuman manis yang tinggi dalam masyarakat Aceh berisikoterkena diabetes melitus. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan pola konsumsi masyarakatAceh dengan penyakit diabetes melitus. Penelitian bersifat deskriptif analitik dengan desain kasuskontroldi RSUD dr. Fauziah Bireuen Provinsi Aceh tahun 2014. Populasi penelitian adalah pasien yangrawat jalan yang berkunjung ke rumah sakit periode Mei-Juni 2014. Pengambilan sampel dilakukandengan cara purposive sampling. Besar sampel ditentukan menggunakan rumus Lemeshow untukuji hipotesis. Responden berjumlah 100 orang pasien rawat jalan yang terdiri dari 50 kasus (pasiendiabetes melitus) dan 50 kontrol/tidak berpasangan (pasien non diabetes melitus). Instrumen yangdigunakan dalam penelitian adalah kuesioner dan form food frequency. Data dianalisis secara bivariatmenggunakan regresi logistic. Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko diabetes melitus yang signifikanadalah jenis kelamin dan umur. Laki-laki berisiko diabetes melitus sebesar 2,48 kali. Umur lebih dari 50tahun berisiko diabetes melitus sebesar 2,16 kali. Pola makan makanan manis, berlemak dan asin jugaberhubungan signifikan dengan kejadian diabetes melitus. Konsumsi makanan asin berisiko diabetesmelitus sebesar 2,62 kali. Sedangkan konsumsi makanan manis dan berlemak berisiko lebih rendahterkena diabetes melitus. Pola hidup sehat dan pola makan seimbang dianjurkan agar terhindar daripenyakit diabetes melitus.Kata kunci: diabetes melitus, pola konsumsi, faktor risik