e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    PERAN DAN POTENSI KADER KESEHATAN DALAM KEGIATAN DETEKSI DINI DAN PEMANTAUAN GARAM BERIODIUM DI KABUPATEN TEMANGGUNG

    No full text
    Konsumsi garam beriodium merupakan salah satu usaha untuk mengatasi permasalahan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI). Pengawasan terhadap penggunaan garam beriodium perlu dilakukan untuk memantau jenis garam yang dikonsumsi masyarakat. Kegiatan deteksi dini untuk bayi usia 0-3 bulan juga merupakan kegiatan yang penting untuk dilakukan karena semakin awal kasus GAKI ditemukan pada anak, semakin cepat pula kasus tersebut bisa diatasi dan anak bisa tumbuh normal seperti anak lain. Kegiatan deteksi dini dan pemantauan garam beriodium dilakukan oleh kader kesehatan di Kabupaten Temanggung yang sudah dilatih sebelumnya. Penelitian ini mengidentifkasi masalah yang dihadapi kader dalam kegiatan deteksi dini dan pemantauan garam beriodium di masyarakat. Penelitian kualitatif dengan metode diskusi kelompok terarah (DKT) dengan melibatkan 10 orang kader kesehatan dari desa-desa di Kabupaten Temanggung. Mereka telah dilatih sebelumnya untuk melakukan kegiatan deteksi dini bayi dan tes cepat garam. Hasil FGD dianalisis secara deskriptif naratif. Permasalahan yang dihadapi kader adalah kesulitan mengartikan istilah medis dalam form deteksi dini. Permasalahan lain adalah rasa minder ketika kader bertemu dengan orangtua bayi yang berpendidikan lebih tinggi dibandingkan dengan mereka. Rasa minder menjadikan peserta ragu dan kurang percaya diri ketika memeriksa bayi. Ketergantungan kader terhadap bidan cukup tinggi ketika melakukan kegiatan deteksi dini. Kader memiliki potensi untuk diberdayakan dan berperan penting dalam mendukung program penanggulangan GAKI. Keterampilan dan rasa percaya diri kader masih perlu ditingkatkan. Pemberdayaan masyarakat menjadi hal penting yang tidak bisa diabaikan

    Teknik Serangga Mandul Nyamuk Culex quinquefasciatus sebagai Upaya Pengendalian Vektor Filariasis di Kota Pekalongan

    No full text
    Filariasis merupakan penyakit yang disebabkan infeksi cacing filarial dan ditularkan melalui gigitan nyamuk betina. Upaya pengendalian filariasis masih terbatas pada pengobatan penderita dan mencegah infeksi sekunder, sedangkan pengendalian terhadap nyamuknya belum optimal.Teknik Serangga Mandul (TSM) merupakan cara pengendalian vektor yang ramah lingkungan, efektif, dan potensial. Desain penelitian adalah quasi eksperimental dengan rancangan pre postest control group design. Lokasi penelitian di Kelurahan Padukuhan Kraton, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. Teknik Serangga Mandul dilakukan dengan melakukan iradiasi terhadap nyamuk jantan di laboratorium (BATAN) dengan dosis (0 Gy, 60 Gy, 65 Gy, 70 Gy, 75 Gy dan 80 Gy). Nyamuk jantan yang terpapar iradiasi dilakukan pengujian kemandulan, daya tahan hidup, daya saing kawin dan jarak terbang. Nyamuk jantan Culex quinquefasciatus yang berasal dari laboratorium Balai Litbang P2B2 Banjarnegara  pasca  iradiasi dosis 60 Gy,65 Gy,70 Gy,75 Gy dan 80 Gy diperoleh angka sterilitas tinggi yaitu antara 95,35 %-98,53 % yang artinya peluang untuk berkembang biak hanya 1,5-4,5 %. Umur nyamuk pasca iradiasi tanpa dikawinkan rata-rata mencapai 35 hari, daya saing kawin skala laboratorium hampir mendekati normal (0,7-0,8), daya saing kawin skala semi lapangan lebih rendah dibanding nyamuk normal (0,04-0,2), jarak terbang  nyamuk hanya tertangkap  pada radius 100 m. Pemanfaatan radiasi sinar gamma untuk memandulkan Culex quinquefasciatus efektif pada dosis 70 Gy dan bisa dilakukan dengan untuk intervensi pengendalian Culex quinquefasciatus pada lingkup yang terbatas

    Potensi Kemunculan Kembali Malaria Di Wilayah Yang Mempunyai Riwayat Endemis Malaria Kabupaten Pangandaran

    No full text
    Wilayah Kabupaten Pangandaran mempunyai riwayat malaria tinggi. Meskipun pada saat sekarang jumlah kasusnya sedang menurun, pada suatu waktu akan meningkat kembali karena malaria merupakan re-emerging disease atau penyakit yang bisa muncul kembali sesuai dengan perubahan fenomena alam biasanya dalam periode lima atau sepuluh tahunan, misalnya mengikuti perubahan lingkungan yang berkaitan dengan perkembangan nyamuk Anopheles spp. serta mobilisasi penduduk. Penelitian dilakukan dengan identifikasi pola penyakit dan pola curah hujan, indentifikasi unit pelayanan kesehatan yang dapat menjangkau desa endemis malaria, identifikasi parasit malaria, identifikasi pengetahuan, sikap dan perilaku serta mobilisasi penduduk, identifikasi faktor lingkungan dan entomologi malaria. Semua data terkumpul, dianalisis untuk mengetahui potensi kemunculan kembali (reemerging) malaria menggunakan analisis dynamic system. Penelitian ini dilaksanakan di 4 desa di 4 Kecamatan di Kabupaten Pangandaran, yaitu Desa Pamotan di Kecamatan Kalipucang, Desa Pangandaran di Kecamatan Pangandaran, Desa Cibenda di Kecamatan Parigi, dan di Desa Pangkalan Kecamatan Langkaplancar. Sampel penelitian parasitologi adalah anak berumur <10 tahun di lokasi penelitian, sedangkan sampel KAP adalah orang dewasa di lokasi penelitian. Sampel yang berhasil diperiksa spesimen parasitologinya sebanyak 509 orang, yaitu 117 orang dari Desa Pamotan, 130 orang dari Desa Pangkalan, 147 orang dari Desa Pangandaran Kecamatan  Pangandaran dan 115 orang dari Desa Cibenda Kecamatan Parigi.Sedangkan sampel KAP sebanyak 1.137 orang, yaitu 296 orang dari Desa Pamotan, 280 orang dari Desa Pangkalan, 281 orang dari Desa Pangandaran dan 280 orang dari Desa Cibenda

    Front Matter

    No full text
    Front Matter JPB

    PENGENDALIAN VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) MENGGUNAKAN INSEKTISIDA NABATI EKSTRAK TANAMAN

    No full text
    Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue dari kelompok Arbovirus B.Pengendalian DBD menggunakan insektisida nabati ekstrak tanaman telah dilakukan di Indonesia. Tujuan. Untukmengetahui dan menggambarkan mengenai pengendalian DBD melalui insektisida nabati menggunakan ekstraktanaman. Metode. Penelusuran dan pengumpulan data dari berbagai jurnal, ulasan persentasi seminar ilmiahberdasarkan hasil penelitian yang telah teruji dan telah dipublikasi. Hasil Ekstrak tanaman yang telah teruji efektifmembunuh jentik dan nyamuk Ae. aegypti antara lain minyak atsiri bunga kenanga (Cananga adorata hook F &Thoms), ekstrak buah bit (Beta vulgaris (L.), daun tembakau (Nicotina tabacum), daun zodia (Evodia suaveolens,Scheff,), daun kecubung ((Patura Metel Linn aeus), daun dan kulit jeruk purut (Citrus hystrix), daun jeruk nipis(Citrus aurantifolia), daun sirsak (Anona muricata), daun kemangi (Ocinum sanctum) dan batang tanaman tanjung(Mimusops elengi). Kesimpulan. Insektisida nabati mengandung senyawa aktif seperti senyawa alkaloid, saponin,flavonoid, tannin, triterpenoid dan polifenol dapat dimanfaatkan dalam upaya pengendalian laju pertumbuhan jentikdan nyamuk Ae. aegypti

    Semut sebagai vektor mekanik bakteri di dalam Gedung Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan: studi pendahuluan

    No full text
    Sejumlah penelitian menemukan bahwa semut menjadi vektor bakteri patogen, sehingga diduga dapat mentransmisikan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ragam jenis semut yang ada di dalam Gedung Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu dan kemungkinan peranannya sebagai vektor mekanik bakteri. Penelitian ini dilakukan di Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu pada bulan Agustus hingga September 2017. Umpan yang digunakan adalah larutan gula yang dimasukkan ke dalam microtube lalu disterilkan, kemudian diletakkan di 13 ruangan yang berbeda. Identifikasi semut menggunakan Identification key to common urban pest ants in Malaysia, dilanjutkan dengan identifikasi bakteri pada uji media selektif dan biokimia. Sebelas ruangan positif ditemukan semut, yang teridentifikasi ke dalam 5 jenis yaitu Tapinoma melanocephalum, Anoplolepis gracilipes, Tetramorium sp, dan Paratrechina sp, serta Monomorium floricola. Bakteri yang berhasil diidentifikasi adalah Bacillus alvei, Bacillus badius, Bacillus insolitus, Serratia liquefaciens, Enterobacter agglomerans, dan Klebsiella ozonae, serta Enterobacter sakazakii. Semut yang ditemukan di Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu berpotensi menjadi vektor mekanik bakteri

    Evaluasi Penyelenggaraan Pendidikan DIII Kebidanan di 5 Provinsi Wilayah Binaan GAVI

    No full text
    Kualitaspendidikantenaga kesehatan yang belummerata salah satumasalahsumber daya manusia kesehatan di Indonesia. Bidan adalah tenaga kesehatan yang menempuh pendidikan kebidanan di institusi DIII kebidanan. Institusi kebidanan dituntut mampu menghasilkan bidan yang berkualitas dan kompeten sebagai pemberi layanan kesehatan ibu dan anak. Global Alliance Vaccines and Immunization (GAVI) sebagai organisasi internasional mendorong dilakukannya penelitian pendidikan DIII kebidanan di Indonesia Penelitian bertujuan untuk mendapatkan gambaran penyelenggaraan pendidikan DIII kebidananmelaluipendekatansisteminput,proses,danoutput.Penelitianmenggunakandesainpotong lintangdenganpendekatan kuantitatif yang dilaksanakan di18 institusi pendidikan DIII kebidanandi 5 provinsi, yaitu Jawa Barat, Banten, Sulawesi Selatan, Papua Barat, dan Papua pada tahun 2013.Analisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menggambarkan adanya perbedaan baik pada input, proses, maupun output antar institusi pendidikan menurut wilayah maupun kepemilikan institusi. Terdapat perbedaan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa menurut wilayah dan provinsi (p<0,05). Terdapat perbedaan pengetahuan mahasiswa di institusi pendidikan DIII kebidanan berdasarkan kepemilikan institusi. Tidak terdapat perbedaan keterampilan mahasiswa di institusi pendidikan DIII kebidanan milik pemerintah dan swasta (p=0,062). Perlu peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan DIII kebidanan agar menghasilkan lulusan yang kompeten berbasis wilayah dan kepemilikan institusi pendidikan DIII kebidanan.Kata kunci: pendidikan vokasi, kebidanan, GAV

    Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Sasaran Program Jaminan Tabalong Sehat di Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan

    No full text
    Pemerintah Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan menerapkan pelayanan kesehatan gratis di Puskesmas melalui program Jaminan Tabalong Sehat (JTS) sejak tahun 2008. Peserta JTS adalah seluruh penduduk Tabalong yang tidak memiliki asuransi atau jaminan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktorfaktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskesmas. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan wawancara mendalam. Sampel uji sebanyak 253 rumah tangga sasaran program JTS, diambil dari 405 sampel rumah tangga yang dipilih secara sistematik, dari klaster 15 desa/kelurahan di tiga wilayah puskesmas terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan gratis di puskesmas belum optimal. Sebanyak 52% rumah tangga pernah memanfaatkan pelayanan kesehatan puskesmas dalam setahun terakhir. Faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskesmas adalah pengetahuan, kemauan untuk membayar/WTP, adanya penyakit tertentu, waktu tempuh, kemudahan dan biaya transportasi. Rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskemas yang sudah digratiskan disebabkan karena kurang optimalnya kegiatan puskesmas, kurangnya sosialisasi ke masyarakat dan sasaran masyar- akat yang disubsidi kurang tepat.Kata kunci : pemanfaatan pelayanan kesehatan, puskesmas, subsidi, Tabalon

    KESESUAIAN KOMPOSISI GIZI DAN KLAIM KANDUNGAN GIZI PADA PRODUK MP-ASI BUBUK INSTAN DAN BISKUIT

    No full text
    ABSTRACTComplementary food for breastfeeding period is known as one of the nutrition source for children aged 6 – 24 months old. However, nutritional content of complementary good has not been confirmed with international and national standard, yet, nutrition problems in Indonesia.  This research on processed complementary food, aimed to confirmnutritional content with standard and identify the most frequently-appeared nutritional claims. There were nine samples of processed complementary food in a format of instant powder and five samples in a format of biscuit representing mereks and categories were in scope of this research. Conformity of nutritional content obtained from information on the label, were compared with international standard (Codex Alimentarius- CAC/GL 8-1991) and Indonesian National Standard (SNI 2005). According to this research, 88 percent of nutritional compositions in instant powder were conformed to Codex Alimentarius standard, however only 31 percent in biscuit were conformed to this international standard. On the comparison with Indonesian National Standard, 94 percent of nutritional content in instant powder were conformed to the standard and 86 percent of nutritional compositions in biscuit were also conformed to standard. The most frequently-apperead nutritional claims in the processed complementary food in scope were iron, calcium, protein, dietary fibre, and vitamin A. Three from five nutrients were closely relevant with current nutrition problem in Indonesia namely aenemia, protein/chronic energy deficiency, and vitamin A deficiency. ABSTRAK Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) merupakan salah satu sumber zat gizi pada anak usia 6 – 24 bulan. Namun demikian, kandungan zat gizi pada MP-ASI belum dikonfirmasi dengan standar internasional serta nasional, serta permasalahan gizi di Indonesia.Penelitian produk MP-ASI pabrikan bertujuan untuk mengkonfirmasi kesesuaian kandungan gizi dengan standar dan mengidentifikasi klaim kandungan gizi yang paling banyak muncul. Sampel penelitian ini adalah sembilan sampel MP-ASI bubuk instan dan lima sampel biskuit yang dipilih secara purposif dan mewakili merek dagang dan jenisnya. Kesesuaian kandungan gizi diukur menggunakan informasi kandungan gizi yang terdapat pada label produk dan dibandingkan dengan standar internasional dari Codex Alimentarius (CAC/GL 8-1991) serta Standar Nasional Indonesia (SNI MP-ASI 2005). Tingkat kesesuaian zat gizi pada  MP-ASI bubuk instan dengan Codex Alimentarius mencapai 88 persen Sedangkan kesesuaian kandungan zat gizi pada MP-ASI biskuit dengan Codex Alimentarius hanya sekitar 31 persen. Jika dibandingkan dengan SNI baik untuk bubuk instan maupun biskuit, sebanyak 94 persen zat gizi pada MP-ASI bubuk instan dan 86 persen pada MP-ASI biskuit sudah memenuhi SNI. Klaim kandungan gizi dengan frekuensi kemunculan tertinggi berturut-turut pada MP-ASI bubuk instan dan biskuit adalah zat besi, kalsium, protein, serat pangan, dan vitamin A. Tiga dari lima zat gizi ini merupakan zat gizi yang berkaitan erat dengan masalah gizi yang ada di Indonesia yaitu Anemia, Kekurangan Energi Protein (KEP), dan Kekurangan Vitamin A (KVA).ABSTRACTComplementary food for breastfeeding period is known as one of the nutrition source for children aged 6 – 24 months old. However, nutritional content of complementary good has not been confirmed with international and national standard, yet, nutrition problems in Indonesia.  This research on processed complementary food, aimed to confirmnutritional content with standard and identify the most frequently-appeared nutritional claims. There were nine samples of processed complementary food in a format of instant powder and five samples in a format of biscuit representing mereks and categories were in scope of this research. Conformity of nutritional content obtained from information on the label, were compared with international standard (Codex Alimentarius- CAC/GL 8-1991) and Indonesian National Standard (SNI 2005). According to this research, 88 percent of nutritional compositions in instant powder were conformed to Codex Alimentarius standard, however only 31 percent in biscuit were conformed to this international standard. On the comparison with Indonesian National Standard, 94 percent of nutritional content in instant powder were conformed to the standard and 86 percent of nutritional compositions in biscuit were also conformed to standard. The most frequently-apperead nutritional claims in the processed complementary food in scope were iron, calcium, protein, dietary fibre, and vitamin A. Three from five nutrients were closely relevant with current nutrition problem in Indonesia namely aenemia, protein/chronic energy deficiency, and vitamin A deficiency. ABSTRAKMakanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) merupakan salah satu sumber zat gizi pada anak usia 6 – 24 bulan. Namun demikian, kandungan zat gizi pada MP-ASI belum dikonfirmasi dengan standar internasional serta nasional, serta permasalahan gizi di Indonesia.Penelitian produk MP-ASI pabrikan bertujuan untuk mengkonfirmasi kesesuaian kandungan gizi dengan standar dan mengidentifikasi klaim kandungan gizi yang paling banyak muncul. Sampel penelitian ini adalah sembilan sampel MP-ASI bubuk instan dan lima sampel biskuit yang dipilih secara purposif dan mewakili merek dagang dan jenisnya. Kesesuaian kandungan gizi diukur menggunakan informasi kandungan gizi yang terdapat pada label produk dan dibandingkan dengan standar internasional dari Codex Alimentarius (CAC/GL 8-1991) serta Standar Nasional Indonesia (SNI MP-ASI 2005). Tingkat kesesuaian zat gizi pada  MP-ASI bubuk instan dengan Codex Alimentarius mencapai 88 persen Sedangkan kesesuaian kandungan zat gizi pada MP-ASI biskuit dengan Codex Alimentarius hanya sekitar 31 persen. Jika dibandingkan dengan SNI baik untuk bubuk instan maupun biskuit, sebanyak 94 persen zat gizi pada MP-ASI bubuk instan dan 86 persen pada MP-ASI biskuit sudah memenuhi SNI. Klaim kandungan gizi dengan frekuensi kemunculan tertinggi berturut-turut pada MP-ASI bubuk instan dan biskuit adalah zat besi, kalsium, protein, serat pangan, dan vitamin A. Tiga dari lima zat gizi ini merupakan zat gizi yang berkaitan erat dengan masalah gizi yang ada di Indonesia yaitu Anemia, Kekurangan Energi Protein (KEP), dan Kekurangan Vitamin A (KVA)

    Potensi Ekstrak Biji Coklat (Theobroma cacao Linn) sebagai Inhibitor Tirosinase untuk Produk Pencerah Kulit

    No full text
    Hyperpigmentation is a condition of excessive skin pigments production. The skin colour is strongly influenced by the presence of melanin that marked by the melanin tyrosinase enzyme activity. Cocoa (Theobroma cacao Linn) is one of the ingredients which are rich in flavonoids include polyphenolic compounds that used as antioxidants and a tyrosinase inhibitor. The aim of this study is to examine the potential of the cocoa bean extract as a tyrosinase inhibitor for skin lightening active ingredients. The method of the study was experimental laboratories, among others: total flavonoid and tyrosinase inhibitory activity assay. The result of this research was ethanol extract of cocoa had tyrosinase inhibitor activity. The inhibitory activity could be seen from the IC50 for monophenolase activity were 352.05 μg mL-1 and for diphenolase activity 836.20 μg mL-1 respectively. This value is greater than kojic acid, for monophenolation was 2.38 μg mL-1 and diphenolation was 10.74 μg mL-1. The total flavonoids content was 0.05% w/w so that the ethanol extract of the cocoa bean is a natural product that potential to be used in the formulation of skin lightening cream in the pharmaceutical sciences

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇