e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    KONFIRMASI KEBERADAAN Fasciola gigantica DAN HOSPES PERANTARA DI LINGKUNGAN PEMUKIMAN EKOSISTEM RAWA KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA, KALIMANTAN SELATAN

    No full text
    Infeksi Fasciola gigantica terjadi pada kerbau rawa di peternakan di daerah perairan rawa Kabupaten Hulu Sungai Utara. Secara geografis wilayah tempat peternakan kerbau rawa dengan Desa Sungai Papuyu dan Desa Kalumpang Dalam dihubungkan oleh perairan rawa dan tidak terdapat barrier. Kondisi tersebut memungkinkan keong hospes perantara F. gigantica di daerah peternakan dapat dengan mudah menyebar ke daerah pemukiman penduduk walaupun dengan jarak yang cukup jauh sehingga menimbulkan risiko terjadinya penularan pada manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkonfirmasi keberadaan F. gigantica dalam bentuk serkaria serta keong yang menjadi hospes perantaranya di daerah sekitar pemukiman kedua desa. Penelitian merupakan studi observasional dengan desain potong lintang yang dilaksanankan pada bulan Agustus-Desember tahun 2014. Sampling keong dilakukan di Desa Sungai Papuyu dan Desa Kalumpang Dalam dengan metode hand collecting. Metode untuk menemukan serkaria pada keong dilakukan dengan teknik crushing. Uji PCR serkaria dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler FMIPA Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru untuk memastikan adanya serkaria F. gigantica. Hasil sampling di kedua desa didapatkan 6 genus keong yaitu Pomacea, Bellamya, Indoplanorbis, Lymnaea, Gyraulus dan Melanoides. Terdapat 3 jenis serkaria pada keong yaitu : Echinostome cercariae, Brevifurcate-pharyngeate cercariae dan Sulcatomicrocercous cercariae. Hasil PCR ditemukan sampel positif F. gigantica dalam bentuk Echinostome cercariae yang terdapat pada keong Lymnaea dan Indoplanorbis sehingga dapat dikonfirmasi adanya serkaria cacing F. gigantica di sekitar pemukiman penduduk dan keong Lymnaea dan Indoplanorbis merupakan hospes perantara pertamanya.   Kata kunci: Fasciola gigantica, serkaria, keong air tawa

    PROGRAM NASIONAL UNTUK ELIMINASI FILARIASIS LIMFATIK: STUDI KASUS DI KABUPATEN PEKALONGAN, JAWA TENGAH

    No full text
    Program eliminasi filariasis limfatik sedang berlangsung di semua provinsi di Indonesia. Jawa Tengah termasuk dalam sepuluh besar kasus kronis Lymphatic Filariasis (LF) dari 33 provinsi di Indonesia. Dimulai pada tahun 2015, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia meluncurkan program eliminasi filariasis dengan menerapkan Mass Drug Administration (MDA) atau Pembagian Obat Pencegahan Massal “POPM”. Minimal cakupan pembagian adalah 65% dari populasi di kabupaten/kota dengan mendistribusikan diethylcarbamazine citrate (DEC) dan dikombinasikan dengan albendazole. Dengan adanya program ini, diharapkan filariasis dapat tereliminasi dan infeksi cacing dapat dikendalikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kendala dan masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan eliminasi filariasis, pengendalian infeksi kecacingan, dan pengendalian vektor. Metode yang diterapkan adalah peninjauan artikel ilmiah, inventarisasi kebijakan, diskusi dengan para ahli dan praktisi, serta konfirmasi data di lapangan. Hasil penelitian ini menggambarkan cakupan POPM di Kabupaten Pekalongan di atas cakupan minimal 65% dan prosentase terjadi reaksi lanjutan (efek samping) setelah mengkonsumsi obat kurang dari 1% dari seluruh target sasaran. Berdasarkan studi yang dilakukan, pelaksanaan POPM tidak sebatas hanya distribusi obat, namun yang lebih penting adalah implementasi POPM dalam pengawasan konsumsi obat. Di Pekalongan vektor potensial adalah Cx. quinquefasciatus dengan lokasi perkembangbiakan di parit, saluran irigasi, sawah. Pekalongan menerapkan program pengendalian vektor terintegrasi dengan malaria dan demam berdarah. Berdasarkan situasi lapangan, implementasi pengendalian terpadu tidak hanya bagaimana pengendalian vektor malaria dan demam berdarah dengue dapat memfasilitasi eliminasi filariasis, karena manajemen vektor terpadu tidak efektif jika kasus malaria dan demam berdarah dengan filaria limfatik tidak di lokasi yang sama. Pasca POPM hasil kajian ini merekomendasikan untuk menggunakan xenomonitoring melalui pemeriksaan molekuler sebagai asesmen kapasitas nyamuk sebagai vektor Filariasis Lymphatic

    FAKTOR LINGKUNGAN BIOTIK DALAM KEJADIAN LUAR BIASA LEPTOSPIROSIS DI KABUPATEN TANGERANG, BANTEN, INDONESIA

    No full text
    Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira sp. Leptospirosis menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kasus leptospirosis di Kabupaten Tangerang tahun 2015 mengalami peningkatan kasus di mana kasus terbanyak salah satunya di wilayah Puskesmas Kronjo. Faktor lingkungan berpengaruh terhadap penyebaran penyakit leptospirosis salah satunya faktor biotik. Tujuan penelitian menganalisis hubungan faktor lingkungan biotik terhadap kejadian leptospirosis di Kabupaten Tangerang. Penelitian dilakukan secara cross sectional dengan pendekatan observasi lokasi, dan observasi secara kuisioner lingkungan biotik rumah penduduk. Data yang dikumpulkan meliputi adanya keberadaan hewan peliharaan di rumah, dan tanaman di sekitar rumah. Data keberhasilan penangkapan tikus dilakukan dengan penangkapan tikus di lokasi. Data dianalisis secara deskriftif dan analisis bivariat. Hasil penelitian menunjukkan adanya tanaman (OR = 1,103; 95% CI= 0,987-1,234; p = 0,579) dan hewan peliharaan (OR = 0,567; 95% CI= 0,47-6,895; p = 0,653) bukan merupakan faktor resiko lingkungan biotik dalam kejadian luar biasa leptospirosis. Tingginya trap success di lokasi penelitian dapat merupakan resiko potensial untuk kejadian leptospirosi

    BIONOMIK Anopheles spp SEBAGAI DASAR PENGENDALIAN VEKTOR MALARIA DI KABUPATEN KEBUMEN JAWA TENGAH

    No full text
    Malaria merupakan salah satu penyakit serius di Indonesia dan menjadi target Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dalam Program Eliminasi Malaria. Salah satu upaya untuk memebaskan malaria adalah dengan mengetahui bionomik vektor, Anopheles spp sebagai dasar kebijakan pengendalian. Penelitian dilakukan di lokasi yang terindikasi kasus malaria yaitu di Desa Wagirpandan Kecamatan Rowokele Kabupaten Kebumen. Lokasi penelitian di dua dusun sebagai lokasi sampling, dengan mengambil sampel nyamuk dewasa dan larva untuk mengetahui bionomik vektor. Parameter lingkungan yang diamati antara lain pH, suhu, curah hujan dan kelembaban serta vegetasi. Hasil penelitian menunjukkan ada tujuh spesies nyamuk vektor yaitu Anopheles aconitus, An. Annularis, Anopheles barbirostris, An. balabacencis, An. kochi, An. maculatus. An. vagus. Nyamuk Anopheles spp yang diduga sebagai vektor lebih sering ditemukan di luar rumah dan sekitar kandang ternak. Puncak aktivitas menghisap darah Anopheles spp pada pukul 20.00-21.00; 22.00-23.00 dan 04.00 – 05.00. Habitat perkembangbiakan larva nyamuk di kobakan/genangan sekitar aliran sungai yang mengering dan di sekitar persawahan. Proporsi parous nyamuk yang tertangkap 42,8% di Dusun Cuntelan dan 69,49% di Dusun Borang. Semua jenis nyamuk yang ditemukan kecuali An. Annularis dan An. Kochi terkonfirmasi sebagai vektor malaria

    FORMULASI RODENTISIDA NABATI PAPAIN PEPAYA (Carica papaya L.) SEBAGAI ALTERNATIF PENGENDALI MENCIT FORMULASI RODENTISIDA NABATI PAPAIN PEPAYA (Carica papaya L.) SEBAGAI ALTERNATIF PENGENDALI MENCIT

    No full text
    Interaksi antara tikus dan manusia lebih sering bersifat parasit karena dampak merugikan yang ditimbulkan, terutama dibidang kesehatan. Tikus merupakan reservoir beberapa penyakit yang bersifat zoonosis. Pengendalian tikus dengan rodentisida sintetik banyak menimbulkan dampak negatif. Diperlukan alternatif penggunaan rodentisida nabati yang ramah lingkungan. Tujuan penelitian untuk membuat formulasi rodentisida nabati dengan bahan aktif papain yang tepat terhadap mencit. Desain penelitian adalah quasi eksperimen dengan rancangan post-test only with control group design. Rodentisida yang diuji terdiri dari 4 formulasi yang terdiri dari formulasi A (papain 8%), formulasi B (papain 24%), formulasi C (papain 32%), formulasi D (papain 40%). Formulasi pakan terdiri dari jagung, gandum, kedelai, karamel, papain kemasan produk merk “X”, parafin, minyak jagung dan gula halus. Rodentisida diberikan kepada  mencit selama 7 hari, diamati konsumsi dan kematian mencit setiap hari. Hasil penelitian menunjukkan konsumsi mencit terhadap pakan relatif menurun dan kematian mencit semakin meningkat seiring dengan semakin meningkatnya konsentrasi papain kemasan produk merk ‘X” yang ditambahkan ke dalam pakan. Ada perbedaan signifikan kecepatan kematian mencit diantara berbagai formulasi rodentisida (p-value 0,000), perbedaan signifikan terdapat pada formulasi A dan D. Formulasi pakan dengan konsentrasi papain 32% dapat dijadikan alternatif untuk membuat rodentisida nabati dengan kematian cukup tinggi dan waktu kematian tercepat.Kata Kunci : rodentisida nabati, papain pepaya, menci

    PENGARUH PENGETAHUAN TERHADAP INFEKSI BRUCELLA PADA MANUSIA, TINGKAT PENDIDIKAN, LAMA BEKERJA, RIWAYAT DEMAM DAN UMUR TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN SETELAH KONTAK DENGAN SAPI PERAH

    No full text
    Abstract Brucellosis is an infectious disease  from livestock  animals as dairy cattle, beef, goats and sheep to humans by bacteria Brucella sp. Brucellosis causing fever undulant and disorders reproduction in humans but their mortality rates are low. The majority of dairy farmers did not know if brucellosis can spread to humans. The level of knowledge of  dairy farmers is needed to considered several factors related to good management dairy practices such as washing hands after contact with dairy cattle. Washing hands is one of biosecurity way to ensure animal and human health and avoiding brucellosis. The research aims to understand the influence of the knowledge of brucellosis in humans , the level of education, the duration of working , the history of fever and age against the behavior of washing hands after contact with the dairy cattle. The number of respondents based on the proportion test, as many as 18 people worker who selected as criteria inclusion were give the  close questionnaire that contains questions to know knowledge of human brucellosis, demographic data and  washing hand after contact with the dairy cattle. The research results that only 33.3 % of respondents who know human brucellosis, 66.7 % of respondents did not know if brucellosis can infect human .As many as 61.1 % of respondents did not wash their hand after contact the dairy cattle. Variable age,the duration of working in dairy farm  and the history of fever have p value<0.02. Conclusion: variable age , the duration of working in dairy farm and the history of fever have impact on behavior washing hand after contact with the dairy cattle. Keywords: Human brucellosis, dairy cattle, washing hand Abstrak Brucellosis merupakan penyakit menular dari hewan ternak seperti sapi perah, sapi potong, kambing dan domba ke manusia oleh bakteri Brucella sp. Brucellosis menyebabkan demam undulan dan gangguan reproduksi pada manusia serta tingkat kematian yang rendah. Mayoritas peternak belum mengetahui jika brucellosis dapat menular ke manusia. Tingkat pengetahuan peternak perlu dinilai beserta beberapa faktor terkait agar diketahui praktek manajemen ternak seperti kebiasaan cuci tangan setelah kontak dengan sapi perah.  Cuci tangan merupakan salah satu langkah biosekuriti untuk menjamin kesehatan hewan dan manusia serta terhindar dari brucellosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengetahuan terhadap brucellosis pada manusia, tingkat pendidikan, lama bekerja, riwayat demam dan umur terhadap perilaku cuci tangan setelah kontak dengan sapi perah. Jumlah responden ditentukan berdasarkan uji proporsi, sebanyak  18 orang pekerja yang sesuai kriteria inklusi terpilih sebagai responden. Responden diberikuesioner tertutup yang berisi  pertanyaan  untuk mengetahui pengetahuan terhadap brucellosis manusia, data demografi responden dan perilaku mencuci tangan setelah kontak dengan sapi perah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  hanya 33.3% responden yang mengetahui brucellosis dapat menginfeksi manusia, sebesar 66.7% responden tidak mengetahui jika brucellosis dapat menginfeksi manusia. Sebanyak 61.1% responden tidak mencuci tangan setelah kontak dengan sapi perah. Variabel umur, lama bekerja di peternakan sapi perah dan riwayat demam undulan memiliki nilai p<0.02. Kesimpulan : variabel umur, lama bekerja di peternakan sapi perah dan riwayat demam undulan berpengaruh terhadap perilaku mencuci tangan setelah kontak dengan sapi perah Kata kunci: Brucellosis pada manusia, peternak sapi perah, cuci tanga

    PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP DISTRIBUSI SPESIES NYAMUK TERKONFIRMASI VIRUS Japanese encephalitis DI SUMATERA SELATAN

    No full text
    Japanese encephalitis (JE) is one of the zoonotic arbovirus diseases through mosquito bitescauses brain inflammation in humans,mental disability,that can ultimately lead to death. Each year there are about 50,000 cases of JE in Asia with 10,000 deaths. The incidence of Japanese encephalitis in humans has never been reported in South Sumatra. Further analysis to see the effect of temperature, air humidity, wind speed, and weather conditions to the density of mosquito confirmed of JE virus in South Sumatera Province. The method used in this advanced analysis is to submit a data request to the data management of the Research and Development Agency through submission of a data set request. Instruments in this further analysis are Form N-01 (Mosquito Ecosystem), Form N-02 (Human Feed), Form N-03 (Animal Feed), Form N-04 (Animal Baited Trap Net) Vectora Special Research 2015. Analysis data is done by using linear regression test. Temperature is an environmental factor that affects the density of JE positive mosquitoes in the Lahat and OKI District. Air humidity and wind speed are environmental factors that only affect mosquito density in OKI,weather conditions only affect the density of mosquitoes in Lahat Regency. The greatest correlation factor with the density of mosquitoes is wind speed(r=0,79).

    Riwayat Hipertensi Keluarga sebagai Faktor Dominan Hipertensi pada Remaja Kelas XI SMA Sejahtera 1 Depok Tahun 2017

    No full text
    Perubahan status gizi, pola makan dan gaya hidup pada remaja turut hipertensi remaja. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional untuk mengetahui faktor dominan hipertensi pada remaja di SMA Sejahtera 1 Depok tahun 2017. Data yang dikumpulkan meliputi tekanan darah, status gizi (IMT/U, lingkar pinggang, rasio lingkar pinggang dan panggul, persen lemak tubuh), asupan zat gizi (natrium, kalium, kalsium, lemak, konsumsi buah dan sayur), pola hidup (durasi tidur, stres, aktivitas fisik), dan karakteristik remaja (jenis kelamin dan riwayat hipertensi keluarga). Tekanan darah diukur menggunakan sfigmomanometer air raksa, status gizi dengan antropometri, asupan zat gizi dengan Semi Quantitative FFQ, pola hidup dan karakteristik dengan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebanyak 42,4% remaja SMA Sejahtera 1 Depok mengalami hipertensi (≥95 persentil). Terdapat perbedaan IMT/U, lingkar pinggang dan riwayat hipertensi keluarga pada hipertensi. Faktor dominan yang paling berhubungan dengan hipertensi pada remaja di SMA Sejahtera 1 Depok tahun 2017 adalah riwayat hipertensi keluarga. Diperlukan edukasi tentang pentingnya riwayat hipertensi keluarga seperti kegiatan konseling genetik sebagai pencegahan hipertensi remaja

    Gambaran Kondisi Masyarakat pada Masa Surveilans Pasca-Transmission Assesment Survey (TAS)-2 Menuju Eliminasi Filariasis di Kabupaten Bangka Barat

    No full text
    Abstract Filariasis elimination program is a national priority with the main agenda conducting mass drug administration (MDA). West Bangka Regency is one of the districts that have implemented filariasis elimination program and has entered a stage stop MDA filariasis surveillance period. This study aims to describe the condition of the community during the post-TAS-2 surveillance in four villages in West Bangka Regency based on blood tests, knowledge, attitudes, behavior and society on filariasis based on blood tests, knowledge, attitudes, behavior, environment of filariasis. Data collected through interviews and examination of venous blood filtration to 150 people in four selected villages. Blood filtration test results obtained three positive respondents Brugia malayi microfilariae species and density of each patient amounted to 116 mf / ml, 245 mf / ml and 112 mf / ml. Respondents' knowledge about the symptoms, modes of transmission, consequences and ways of preventing filariasis is still very low. The attitude of the respondents towards the prevention and eradication of filariasis in good categories. Treatment history most respondents ever get preventive treatment of filariasis, but only 2 percent ever taking medications to prevent filariasis five times. Behavior of respondents to safeguard oneself against mosquito bites by using mosquito nets have been conducted (73.3%) and mosquito (65.3%). Most respondents in the habit of going out at night (78.7%). Found swamp (23.3%) and reservoir host (cats) by 40.7 percent of respondents around the house. The presence of positive filariasis indicates the presence of filariasis. PSP of filariasis-related community still needs to be improved as prevention of filariasis. The presence of swamps can be carried out where potential filariasis vector vanishes. Cats as reservoirs found around the home can be a source of transmission of filariasis. Keywords : microfilariae, knowledge, attitude, practise, environment, West Bangka Abstrak Program eliminasi filariasis merupakan salah satu prioritas nasional dengan agenda utama melaksanakan kegiatan pemberian obat pencegahan secara masal (POPM) filariasis. Kabupaten Bangka Barat adalah salah satu kabupaten yang telah melaksanakan program eliminasi filariasis dan telah memasuki tahap surveilans periode stop POPM filariasis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kondisi masyarakat pada masa surveilans pasca TAS-2 di empat desa di Kabupaten Bangka Barat berdasarkan pemeriksaan darah, pengetahuan, sikap, perilaku dan lingkungan masyarakat tentang filariasis. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan pemeriksaan filtrasi darah vena terhadap 150 orang yang berada di empat desa terpilih. Hasil pemeriksaan filtrasi darah didapatkan tiga responden positif mikrofilaria dengan spesies Brugia malayi dan kepadatan masing-masing penderita sebesar 116 mf/ml, 245 mf/ml dan 112 mf/ml. Pengetahuan responden mengenai gejala, cara penularan, akibat yang ditimbulkan dan cara pencegahan filariasis masih sangat rendah. Sikap responden terhadap upaya pencegahan dan pemberantasan filariasis dalam kategori baik. Riwayat pengobatan sebagian besar responden pernah mendapatkan pengobatan pencegahan filariasis, akan tetapi hanya 2 persen yang pernah minum obat pencegahan filariasis sebanyak lima kali. Perilaku responden terhadap upaya perlindungan diri terhadap gigitan nyamuk telah dilakukan dengan menggunakan kelambu (73,3%) dan antinyamuk (65,3%). Sebagian besar responden mempunyai kebiasaan keluar rumah pada malam hari (78,7%). Ditemukan rawa (23,3%) dan hewan reservoir (kucing) sebesar 40,7 persen di sekitar rumah responden. Masih ditemukannya penderita positif filariasis mengindikasikan adanya penularan filariasis. PSP masyarakat terkait filariasis masih perlu ditingkatkan sebagai upaya preventif terhadap filariasis. Adanya keberadaan rawa dapat menjadikan tempat potensial perindukan vektor filariasis. Kucing sebagai reservoir yang ditemukan disekitar rumah dapat menjadi sumber penularan filariasis. Kata kunci: mikrofilaria, pengetahuan, sikap, perilaku, lingkungan, Bangka Bara

    Back Matter Vol. 28 No. 1 Tahun 2018

    No full text

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇