e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Pengaruh Jenis Media Terhadap Kandungan Piperin Kalus Daun Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.) The effect of culture media on piperine content of Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) leaves callus

    No full text
    AbstractThe research on the effect of media on the piperine content of java pepper leaves (Piper retrofactum Vahl.) callushave been conducted in B2P2TOOT plant tissue laboratory. The young leaves of java pepper was growth in threemedia such as MS, half MS and WPM enriched with plant growth regulator: BAP 1 ppm and NAA 1 ppm. Thepiperine content was determined by TLC densitometry methode. The result showed that the media was able toform callus as follows: MS 21,65 + 0,93 days after planting, half MS 24,80 + 0,89 days and WPM in 23,80 + 1,06days. Dry weight of callus were as follows MS 0,33 + 0,07 g, half MS 0,15 + 0,03 g and WPM 0,15 + 0,03 g. The MSmedia produce the callus with higest piperine content of 0,387 + 0,021 %, further the half MS 0,055 + 0,008 %,while WPM medium produce callus with the lowest piperine content of 0,013 + 0,005 %, otherwise piperine couldnot be detected from the leaves.ABSTRAKTelah dilakukan penelitian pengaruh jenis media terhadap kandungan piperin kalus daun cabe jawa (Piperretrofractum Vahl.) Penelitian dilakukan dengan cara menumbuhkan daun muda Piper retrofractum Vahl.secara kultur jaringan tanaman (KJT) dalam tiga jenis media berbeda yaitu MS, ½MS dan WPM yang diperkayadengan zat pengatur tumbuh BAP 1 ppm dan NAA 1 ppm. Pengamatan dilakukan terhadap waktu inisiasi kalus,berat kering kalus, dan ada tidaknya senyawa piperin dalam kalus. Penetapan ada tidaknya piperin dalamkalus dilakukan dengan metode KLT Densitometri. Hasil penelitian menunjukan bahwa ketiga jenis media bisamembentuk kalus dengan waktu induksi untuk media MS 21,65 + 0,93 hari, media ½MS 24,80 + 0,89 hari sertamedia WPM 23,80 + 1,06 hari. Berat kering kalus yang diperoleh media MS 0,33 + 0,07 gram, media ½MS 0,15+ 0,03 gram serta media WPM 0,15 + 0,03 gram. Dari ketiga jenis media yang digunakan media MS mampumenghasilkan piperin dengan kadar yang paling tinggi yaitu 0,387 + 0,021 %, sedangkan media ½MS 0,055 +0,008 % dan media WPM 0,013 + 0,005 %, tetapi piperin tidak terdeteksi pada daun tanaman asal.Kata kunci: Piper retrofractum Vahl., piperin, kultur jaringan tanama

    Front Matter, Vol 14, No. 1 Juni 2018

    No full text

    FAKTOR LINGKUNGAN DAN PENGARUH PERILAKU MASYARAKAT BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN MALARIA DI DESA NOHA KECAMATAN KODI UTARA KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA

    No full text
    Malaria merupakan salah satu penyakit menular infeksi sehingga di perlukan perhatian besar di Kabupaten Sumba Barat Daya.Berdasarkan data kasus malaria 3 tahun terakhir (2008-2010) peningkatan kasus,pada tahun 2008 2 kasus,pada tahun 2009 ada 7 kasus,dan 8 kasus pada tahun 2010 . Salah satu penyebab tingginya kasus malaria adalah belum tersedianya tenaga medis dan sumber daya manusia di bidang surveilans entomologi sebagai penyedia data dan konfirmasi vektor untuk upaya pengendalian malaria. Kabupaten Sumba Barat Daya terdiri atas 11 kecamatan. Dari 11 kecamatan ini Kecamatan Kodi Utara merupakan salah wilayah endemis malaria.Pada tahun 2009 kasus malaria dengan AMI terdiri dari 1,31 %. Pada tahun 2010 kasus malaria dengan AMI 76,0% dan pada tahun 2011 kasus malaria dengan AMI 15,9%. Di desa Noha Kecamatan Kodi Utara pada tahun 2009 kasus malaria dengan AMI 1,37%, pada tahun 2010 kasus malaria dengan AMI 76,0%.2010.Desa Noha sebagai penyumbang kasus malaria tertinggi di Kecamatan Kodi Utara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor lingkungan dan perilaku masyarakat yang berhubungan dengan kejadian malaria di desa Noha Kecamatan Kodi Utara Kabupaten sumba Barat Daya. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan Cross Sectional,dan teknik pengambilan sampel secara purposive. Data diperoleh dari hasil survei parasitologi dan survei entomologi habitat tempat perkembangbiakan nyamuk tersangka vektor. Hasil pemeriksaan sediaan darah jari (SDJ) sebanyak 37 orang ditemukan sebanyak 3orang positif malaria falcifarum,Jenis nyamuk yang merupakan tersangka vektor yang tertangkap pada spot survei entomologi adalah An.barbirostris. Habitat jentik tersangka vektor adalah genangan air di kebun dekatsemak-semak dekat dengan pemukiman penduduk (penderita malaria)

    HABITAT PERKEMBANGBIAKAN ANOPHELES sp DI KABUPATEN SUMBA TENGAH PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR

    No full text
    Angka malaria tertinggi di NTT ada di Pulau Sumba, salah satunya adalah Kabupaten Sumba Tengah.Vektor malaria di Pulau Sumba yang sudah dikonfirmasi adalah nyamuk Anopheles sundaicus, Anophelessubpictus, Anopheles macullatus dan Anopheles barbirostris. Vektor tersebut belum banyak dipahami sampaidengan habitat perkembangbiakan dan bioekologi spesies. Pemahaman bioekologi vektor malaria di daerahpenyebarannya merupakan bagian utama untuk menentukan strategi pengendalian vektor. Tujuan penelitian iniuntuk mengetahui jenis dan karakteristik habitat perkembangbiakan Anopheles sp di Kabupaten Sumba Tengah. DiKabupaten Sumba Tengah ditemukan 8 spesies Anopheles yaitu An. barbirostris, An. subpictus, An. indefenitus, An.anullaris, An. aconitus, An. vagus, An. sundaicus, An. kochi. Habitat perkembangbiakan Anopheles yang dominan diKabupaten Sumba Tengah adalah Sawah dan bekas kolam. Pada habitat sawah dan bekas kolam ditemukan larvaAnopheles barbirostris yang merupakan vektor malaria di NTT

    DINAMIKA POPULASI VEKTOR TERKAIT TRANSMISI MALARIA DI WILAYAH ENDEMIS

    No full text
    Malaria hingga saat ini masih merupakan masalah utama kesehatan, terutama di daerah tropis. Vektor penyakit ini adalah spesies Anopheles upaya pengendalian telah banyak dilakukan tetapi lebih bersifat kuratif sehingga belum menunjukan hasil yang berarti terutama di daerah bagian timur Indonesia. Kajian ini merupakan tinjauan pustaka tentang dinamika populasi vektor terkait penularan malaria di daerah endemis yang diambil dari berbagai sumber data antara lain jurnal, buku yang difokuskan pada fluktuasi populasi vektor dalam transmisi malaria. Hasil dari kajian ini diketahui bahwa fluktuasi populasi vektor terutama vektor dengan persentasi nyamuk yang pernah bertelur tinggi maka kemungkinan banyak anggota populasi yang mengandung sporozoit sehingga peluang untuk terjadi penularan di daerah tersebut semakin besar

    AKIBAT DAN CARA MEMBERANTASNYA FASCIOLOPSIS BUSKI

    No full text
    Fasciolopsiasis adalah penyakit kecacingan yang disebabkan oleh Trematoda (Fasciolopsis buski). Penyakit ini yang ditularkan melalui kontak langsung dengan tinja manusia dan babi, termasuk dalam tumbuhan air, dan siput. WHO mengatakan bahwa Fasciolopsiasis masih tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat diberbagai negara dan merupakan program dari WHO pengendalian yang berkelanjutan. Meskipun pemerintah menganggap Fasciolopsiasis masih menjadi masalah kesehatan karena masyarakat sering berubah dalam kebiasaan makan, perubahan dalam praktek-praktek sosial dan pertanian, pendidikan kesehatan, industrialisasi, dan perubahan lingkungan. Perubahan iklim sekarang dan global tampaknya semakin mempengaruhi kecacingan Fasciolopsis buski, siput-borne, yang sangat tergantung pada faktor lingkungan. Fasiolopsiasis adalah contoh yang baik dari penyakit parasit yang muncul atau re-emerging dibanyak negara. Fasciolopsiasis ini sebagian besar menginfeksi pada anak-anak. Penulisan ini bertujuan: untuk mengembangkan atau mendalami materi penulisan dan menganalisis kejadian serta pemberantasan yang komprehensif dan efektif. Penelitian menggunakan metode pengambilan laporan tahunan Sudin Kesehatan Hulu Sungai Utara dan Anorital 2004 / 2008. Caranya adalah tinja diambil dengan lidi (seujung lidi) didicampur dengan NaCl 0,9% ditambah 1 tetes Eusin 2% kemudian dicampur rata dan ditutup dengan kaca penutup. Selanjutnya dibaca dibawah mikroskup dengan pembesaran awal 10x kemudian 40x untuk melihat telur atat cacing. Hasilya bisa dilihat diagram balok dimulai suvei sejak tahun 1985 sampai tahun 2007 telah diperiksa sebanyak 48.005 orang atau sampel dengan jumlah sampel yang positif Fasciolopsiosis sebanyak 2.211 orang dan sisanya negatif. Pada awal survei tahun 1985 ditemukan Fasciolopsiosis 148 sampel positif (prevalensinya 27%) dan 548 sampel negative. Pada diagram balok kosong dan diagram prevalensinya menunjukan nol atau 0,00% adalah tidak dilakukan survei terhadap kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) tersebut dan daerah lainnya tidak ikut dalam penelitian. Kesimpulan: dengan memutus mata rantai siklus kehidupan F. buski. Caranya: memberikan pendidikan dan pengetahuan untuk tidak mengkonsumsi bahan makanan mentah dan air mentah, mencuci tangan sebelum makan serta selalu memakai alas kaki merupakan cara yang efektif mencegah penyebaran fasciolopsiasis

    Aktivitas nokturnal Aedes (Stegomyia) aegypti dan Ae. (Stg) albopictus (Diptera : Culicidae) di berbagai daerah di Kalimantan

    No full text
    Demam berdarah, zika, demam kuning dan chikungunya meningkatkan kekhawatiran kesehatan masyarakat global karena penyebaran geografisnya yang cepat dan meningkatnya beban penyakit. Pengetahuan tentang aktivitas menghisap darah pada malam hari (nokturnal) Aedes aegypti dan Aedes albopictus di beberapa daerah di Kalimantan perlu diketahui. Nyamuk Aedes ditangkap dengan metoda human landing collection dari pukul 18:00 sampai 06:00 di dalam dan di luar rumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas mengisap darah nyamuk Ae. aegypti dan Ae. albopictus terjadi sepanjang malam dari pukul 18:00 sampai 06:00 baik di dalam maupun di luar rumah di Desa Pulau Ku’u, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan (2011), Desa Bangkal Ulu, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (2012), Desa Dadahup dan Kelurahan Mandomai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah (2015), dan Desa Antaraya dan Desa Karyajadi, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (2016). Fakta tersebut menunjukkan bahwa aktivitas menghisap darah nyamuk Ae. aegypti dan Ae. albopictus tidak hanya terjadi di siang hari tetapi juga malam hari

    daftar Indeks

    No full text
    Indeks penulis dan indeks taju

    Implementasi Pelayanan Neonatal Emergensi Komprehensif di Rumahsakit PONEK di Indonesia

    No full text
    Angka kematian neonatal dan angka kematian balita di Indonesia masih tinggi. Kasus kegawatdaruratan merupakan penyebab tingginya angka kematian tersebut. Rumahsakit Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) 24 jam merupakan rumahsakit rujukan dengan visi mempercepat penurunan angka kematian neonatus dan angka kematian balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pelayanan neonatal emergensi pada rumahsakit PONEK 24 jamdiIndonesia.Penelitian didesain dengan  pendekatan mixmethod yaitu pembauran antara studi kuantitatif dan kualitatif. Studi kuantitatif adalah cross sectional dan studi kualitatif adalah Rapid Assesment Procedure yang dilakukan pada tahun 2014. Penelitian dilakukan di rumahsakit di Indonesia dengan kriteria rumahsakit PONEK 24 jam, telah menerima sosialisasi tentang PONEK, dipilih secara random di 7 provinsi di Indonesia masing-masing 2 rumahsakit tiap provinsi. Berdasarkan kriteria tersebut sebanyak 14 rumahsakit diobservasi dalam penelitian ini. Data kuantitatif yang dikumpulkan meliputi pelayanan klinis, manajemen, sarana dan prasarana, ketenagaan dan pendanaan. Data dikumpulkan dengan cara observasi, telaah dokumen dan wawancara. Data kualitatif yang dikumpulkan meliputi proses, hambatan, dan keberhasilan PONEK dengan cara indepth interview dengan informan kunci direktur rumahsakit, ketua komite medik dan dokter spesialis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar rumahsakit telah melaksanakan pelayanan neonatal emergensi 24 jam, KMC dan   aksesibilitas darah yang memadai. Pelayanan neonatal emergensi telah didukung dengan jenis tenaga profesional, komitmen direktur rumahsakit yang tinggi, MoU dengan IDI, kerjasama dengan NGO serta ruangan, sarana dan prasarana yang memadai. Keberhasilan rumahsakit PONEK 24 jam didukung oleh kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan layanan rumahsakit. Namun di beberapa rumahsakit kurangnya tenaga terlatih, jumlah tenaga, tidak ada tim, sarana dan prasarana serta ruangan menjadi alasan rumahsakit tidak melaksanakan PONEK. Kesimpulan: beberapa rumahsakit telah melaksanakan pelayanan neonatal emergensi komprehensif 24 jam, namun masih perlu mendapat perhatian dalam hal pelatihan dan jumlah tenaga, biaya, sarana dan prasarana serta ruangan yang memadai.Kata Kunci : neonatal, emergensi, rumahsakit, rujukan

    POTENSI EKSTRAK ETANOLIK HERBA BANDOTAN (Ageratum conyzoides L.) SEBAGAI ALTERNATIF AGEN ANTIKANKER SERVIKS SECARA IN SILICO DAN IN VITRO

    No full text
    Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa lebih dari 10 juta kanker terjadi setiap tahun di seluruh dunia. Kanker serviks telah menjadi lima besar kanker yang sering terjadi khususnya pada wanita. Penanganan kanker dengan agen kemoterapi masih menjadi pilihan dalam pengobatan kanker. Namun adanya beberapa efek samping yaitu menurunkan sistem imun dan adanya mekanisme multi drug resistance (MDR) yang dapat mengakibatkan berkurangnya efikasi dari obat kemoterapi. Beberapa penelitian mulai diarahkan pada pengujian potensi bahan alam sebagai agen kemoprevensi yang potensial sekaligus dapat sebagai agen pendamping kemoterapi. Herba bandotan merupakan salah satu tanaman yang diketahui secara empirik mempunyai khasiat sebagai agen antikanker. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui potensi dari ekstrak etanolik herba bandotan (Ageratum conyzoides L.) sebagai alternatif agen antikanker serviks secara in silico dan in vitro. Sampel yang digunakan adalah ekstrak etanolik herba bandotan. Uji yang dilakukan adalah uji kandungan kimia, uji antioksidan, uji sitotoksik, dan uji docking molekuler. Uji kandungan kimia dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Uji antioksidan menggunakan metode DPPH. Uji sitotoksik menggunakan metode MTT assay terhadap sel HeLa dan uji docking molekuler menggunakan software PLANTs. Dari uji KLT diperoleh hasil bahwa ekstrak etanolik herba bandotan mengandung senyawa golongan flavonoid dengan nilai Rf sebesar 0,4. Dari uji DPPH diperoleh nilai IC50 sebesar 311 µg/ml. Dari uji sitotoksik diperoleh nilai IC50 sebesar 979 µg/ml  pada sel HeLa. Dan dari hasil uji docking molekuler diperoleh skor docking sebesar -113 untuk senyawa friedilin dan -87 untuk senyawa obat 5-FU. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanolik herba bandotan mempunyai potensi sebagai agen antioksidan dan sitotoksik pada sel kanker serviks HeLa

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇