e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
Pemilihan Hewan Coba pada Penelitian Pengembangan Vaksin Tuberculosis
Animal has an important role in research of various tuberculosis vaccine candidates in human, as it has similarities with human physiology, so the animals could provide a variety of information about the human physiology. Selection of suitable experimental animals is essential in order to achieve the research objectives. This paper outlines a wide range of experimental animals that can be used in tuberculosis vaccine development research and their advantages and disadvantages, so that the reader can determine the appropriate experimental animals to be used in tuberculosis research. This paper form reviewer literature obtained through Google and Pubmed search by keyword experimental animals for tuberculosis. The results showed that dogs and primates could be used for tuberculosis research because they have physiological function similarities to humans. However, for large scale can be selected rabbit as a choice.Key words : Experimental animals, Vaccine, Ttuberculosis AbstrakHewan coba memiliki peran penting dalam uji coba berbagai kandidat vaksin tuberculosis di manusia karena memiliki kemiripan fisiologi dengan manusia, sehingga hewan coba dapat memberikan berbagai informasi mengenai sistem fisiologi manusia. Pemilihan hewan coba yang sesuai sangat penting agar tujuan penelitian dapat tercapai. Tulisan ini menguraikan berbagai macam hewan coba yang dapat digunakan dalam penelitian pengembangan vaksin TBC beserta kelebihan dan kekurangan, sehingga dapat ditentukan hewan coba yang sesuai untuk dipakai dalam penelitian tuberculosis. Tulisan ini berupa reviewer literatur yang didapatkan melalui pencarian Google dan Pubmed melalui kata kunci hewan coba untuk tuberculosis. Hasil yang didapatkan bahwa anjing dan primata dapat dipakai untuk penelitian tuberculosis karena sangat memiliki kemiripan fisiologis dengan manusia. Namun untuk skala besar dapat dipilih kelinci sebagai hewan coba pilihan.Kata Kunci : Hewan coba, Vaksin, Tuberculosi
Kebijakan pengendalian terhadap penyakit kecacingan di Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan
Infeksi cacing saluran cerna (usus) baik yang tergolong dalam Nematoda usus dengan siklus soil-transmitted helminthes (Ascaris lumbricoides, Ancylostoma duodenale, Necator americanus, Enterobius vermicularis, Trichuris trichiura dan Strongyloides stercoralis), Trematoda usus (Fasciolopsis buski) dan Cestoda (Taenia saginata, Taenia solium, Hymenolepis nana) merupakan masalah kesehatan yang memerlukan penanganan serius terutama di daerah tropis karena prevalensi yang tinggi. Penyakit kecacingan umumnya menyerang negara yang sedang berkembang terutama pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah seperti di Indonesia. Data kebijakan pengendalian kecacingan yang akan didapatkan meliputi penelusuran data dan gambaran kebijakan yang dilaksanakan di tingkat kabupaten dan pelaksanaan strategi serta faktor penghambat maupun pendukung terlaksananya program kecacingan. Hasil wawancara terhadap para pemegang kebijakan/stakeholder mendalam terhadap adalah bahwa kebijakan pengendalian penyakit kecacingan di Dinas Kesehatan belum pernah dilakukan baik dari segi perencanaan dan penganggaran, selain itu dinas kesehatan belum pernah melakukan koordinasi dengan pihak DPRD dan Bappeda, namun pihak Bappeda mengatakan pernah melakukan koordinasi. Melihat dari keadaan tersebut, sebaiknya dinas kesehatan perlu melakukan upaya koordinasi dengan pihak terkait mengenai kebijakan pengendalian kecacingan, khususnya dalam perencanaan dan penganggaran. Selain itu upaya surveilans dan skrining perlu dilakukan pihak dinas kesehatan dan Puskesmas terkait dalam upaya mengetahui jumlah kasus kecacingan secara lebih mendalam
Perilaku mikrofilaria Brugia malayi pada subjek Filariasis di Desa Polewali Kecamatan Bambalamotu Kabupaten Mamuju Utara Sulawesi Barat
Abstract. Brugia malayi is filarial worm species that is widespread in Indonesia. It is also found in West Sulawesi, particularly in North Mamuju Region. The aim of this research was to describe the microfilarial periodicity of Brugia malayi. This study was conducted in Polewali Village, Bambalamotu District, North Mamuju Region, West Sulawesi Province in 2011. The periodicity study was conducted on the people whom microfilariae positive in their blood. The blood examination was conducted every hour in 24 hours. Night blood survey was collected at from 09.00 until 20.00 local time. Data were analysed using Aikat and Das formula. There were five positive Brugia malayi, with density peak of microfilariae (K) from 23.00’00’’ until 01.27’.00’’, the variety of microfilariae density (F) showed those cases have the circadian or harmonic, and the periodicity index (D) was more than 100%. The behaviour of Brugia malayi in Polewali Village, Bambalamotu Sub-district, North Mamuju Regency was nocturnal periodic. Keywords: microfilariae periodicity, Brugia malayi, periodic nocturnal Abstrak. Brugia malayi merupakan spesies cacing filaria yang tersebar luas di Indonesia. Di Sulawesi Barat, khususnya di Kabupaten Mamuju Utara ditemukan spesies Brugia malayi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perilaku mikrofilaria B. malayi. Penelitian dilakukan di Desa Polewali, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2011. Studi periodisitas dilakukan terhadap orang yang di dalam darahnya positif ditemukan mikrofilaria. Pengambilan dan pemeriksaan darah dilakukan setiap jam selama 24 jam. Pengambilan darah jari dilakukan mulai pukul 09.00 sampai pukul 08.00 waktu setempat. Analisis statistik yang dipergunakan dalam menentukan periodisitas cacing filaria adalah formula Aikat dan Das. Ditemukan lima subjek positif B. malayi dengan puncak kepadatan mikrofilaria (K) dimulai pukul 23.00’00” sampai 01.27’00”, variasi kepadatan mikrofilaria (F) menunjukkan bahwa kasus-kasus tersebut memiliki gelombang yang harmonik atau sirkardian, dan indeks periodisitas (D) lebih dari 100%. Perilaku mikrofilaria B. malayi di Desa Polewali, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Mamuju Utara yaitu periodik nokturna. Kata Kunci: periodisitas mikrofilaria, Brugia malayi, periodik nokturna
Pemanfaatan citra ASTER dalam penentuan dan verifikasi daerah rawan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Banjar Provinsi Jawa Barat
Abstract. Distribution of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) can be viewed from geospatial perspective elaborating temperature, rain fall, humidity, and certain land uses information. Remote sensing and GIS approach can be used as effective tool on dengue prevention and control policies. The aim of this study was to identify vulnerable dengue areas in Banjar, West Java through image verification. This study is an observational study with cross sectional analysis conducted in Banjar in March to October 2012 with a sample from the entire population suffering from dengue at all ages as well as environmental conditions. As for the single sample larvae method. Results showed that the area of DF high vulnerability zones in Banjar was 18.29%,, moderate zone (63.45%) and less vulnerable zone (18.27%). The map verification was done high and moderate vulnerability zones were classified into dengue-prone classes, while low vulnerability zone was grouped into dengue-free zone. In conclusion, the accuracy was reached 94.74% and it was indicated that dengue cases was mostly spreaded in dengue-prone areas. Keywords: geographic information system, remote sensing, dengue fever, Banjar city, ASTER Abstrak. Penyebaran virus Demam Berdarah Dengue (DBD) antara lain dapat diketahui dari perspektif informasi keruangan (geospasial), yaitu berdasarkan informasi suhu, curah hujan, kelembaban, dan penggunaan lahan tertentu yang merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya DBD. Usaha mengetahui faktor risiko diperlukan suatu sistem efektif dan efisien yaitu penggunaan penginderaan jauh dan sistem informasi geografis sebagai suatu basis data yang dapat digunakan sebagai penentuan kebijakan pencegahan dan pengendalian DBD. Dikarenakan sistem tersebut dapat melihat trend atau kecenderungan peningkatan kasus, sehingga pihak pemerintah daerah dapat segera melakukan tindakan pencegahan pada daerah yang rawan kasus DBD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat peta penentuan daerah rawan DBD dengan Citra ASTER dan verifikasinya di Kota Banjar, Jawa Barat. Penelitian ini merupakan penelitian observasi dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di Kota Banjar pada bulan Maret-Oktober tahun 2012 dengan sampel seluruh penduduk yang menderita DBD pada semua umur beserta kondisi lingkungannya. Sample jentik diambil dengan metode single larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas zona daerah kerawanan tinggi DBD di Kota Banjar adalah 18,29 %, luas zona daerah kerawanan sedang 63,45% dan luas zona daerah kerawanan rendah 18,27 % dan setelah dilakukan verifikasi terhadap peta kerawanan dan jika dilakukan pengelompokkan antara zona kerawanan tinggi dan zona kerawanan sedang menjadi kelas rawan DBD sedangkan zona kerawanan rendah menjadi zona bebas DBD. Secara umum (dengan ketepatan mencapai 94,74%) kasus DBD tersebar di daerah rawan DBD. Kata Kunci: Sistem Informasi Geografis, penginderaan jauh, DBD, kota Banjar, citra ASTE
Hubungan indikator entomologi dengan density figure di Kelurahan Jawa Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar
Upaya pengendalian Aedes spp salah satunya adalah mengetahui habitat atau tempat berkembangbiaknya. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran indikator entomologi jentik nyamuk Aedes sp di Kelurahan Jawa Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar. Metode penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan survei. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 rumah tangga di Kelurahan Jawa yang diambil dengan menggunakan teknik sampling purposive. Hasil penelitian menunjukkan jentik Aedes spp banyak ditemukan pada jenis kontainer berupa tempayan sebanyak 33% dari 269 wadah yang diperiksa. Angka jentik dalam rumah (HI), angka jentik dalam container (CI), dan angka breteau (BI) yaitu 40,1; 33 ; 108, dengan kepadatan populasi nyamuk (Density Figure/DF) sebesar 7,3, nilai indeks ini menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki tingkat risiko penularan tinggi. Berdasarkan hasil temuan tersebut maka perlu dilakukan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk melalui upaya 3M plus
PENGARUH KEDELAI PRODUK REKAYASA GENETIK TERHADAP KADAR MALONALDEHID, AKTIVITAS SUPEROKSIDA DISMUTASE DAN PROFIL DARAH PADA TIKUS PERCOBAAN
ABSTRACTTempe, a soybean fermentation, has a short shelf life. An effort to extend the shelf life of tempe has been done by making tempe flour. Difference of raw materials which were Genetically Modified Organism (GMO) and non-GMO was pressured to cause different impact on human health. Thus, this study was conducted to evaluate the effect of tempe flour that were made from GMO and non-GMO soybean upon malonaldehida (MDA) levels,intracellular antioxidant superoxide dismutase (SOD) activity in the liver and kidneys of experimental rats, as well as hematological profile. Twenty five Sprague Dawley rats divided into four treatment grups and onecontrol, feeded with tempe from GMO and non-GMO at 10% and 20% concentrations at the period of 90 days.The results showed that rats fed with 10% protein derived from non-GMO soybean flour had lower levelsof MDA in the liver and kidney compared to GMO tempe flour group consisting rations of 10% and 20% protein but, not significantly different from the group protein of 20% non-GMO soybean flour and 10% protein of casein. While the value of liver and kidney SOD activity were not significantly different (p>0,05) between the groups of rats. The results showed that the values obtained were within normal limits. However, the amount of thrombocytes in each treatment had a value that exceeds normal limits. The activity of rat, rat’s metabolism, and amount of feed intake by rats might influenced the result. This experimental study lead to conclude that consuming GMO and non-GMO tempe flour is safe.Keywords: experimental rats, GMO tempe flour, non-GMO tempe flour, hematology, superoxide dismutaseABSTRAKTempe merupakan produk fermentasi kedelai yang mempunyai masa simpan relatif pendek. Upaya untuk meningkatkan masa simpan diantaranya dengan dibuat tepung tempe. Perbedaan bahan baku dari kedelai pangan rekayasa genetik (PRG) dan non-PRG menimbulkan kehawatiran terhadap dampak kesehatan bagi manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh tepung tempe dari kedelai PRG dan non-PRG terhadap kadar malonaldehida (MDA), aktivitas superoksida dismutase (SOD), di hati dan ginjal serta profil hematologi tikus percobaan. Sebanyak 25 ekor tikus galur Sprague Dawley dibagi menjadi empat kelompok perlakuan dan satu kelompok kontrol (kasein) diberi ransum tempe PRG dan non-PRG dengan konsentrasi 10% dan 20% selama 90 hari. Hasil menunjukkan bahwa kelompok tikus yang diberi ransum tempe kedelai non-PRG 10 % memiliki kadar MDA lebih rendah di hati dan ginjal dibanding kelompok tikus yang diberi ransum tempe PRG 10% dan 20% persen, tetapi tidak berbeda nyata dengan kelompok non-PRG 20 % dan kelompok kontrol. Sedangkan aktivitas SOD tidak berbeda nyata (p>0,05) antar kelompok perlakuan. Hasil analisis hematologi menunjukkan semua kelompok perlakuan memiliki nilai pada rentang normal. Semua kelompok perlakuan memiliki nilai kadar trombosit, di atas normal. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagaifaktor, diantaranya: aktivitas fisik dan metabolisme serta jumlah ransum yang dikonsumsi. Analisis kadar MDA, aktivitas SOD dan profil hematologi mengungkapkan bahwa tepung tempe kedelai PRG dan non-PRG amanuntuk dikonsumsi. [Penel Gizi Makan 2015, 38(1): 41-50]Kata kunci: tikus percobaan, tepung tempe PRG, tepung tempe non-PRG, hematologi, superoxide dismutas
PENDAMPINGAN MINUM TABLET TAMBAH DARAH (TTD) DAPAT MENINGKATKAN KEPATUHAN KONSUMSI TTD PADA IBU HAMIL ANEMIA
ABSTRACTAnemia contributed 20 persen the death of pregnancy. Low consumption of iron is one of the cause of anemia prevalences among pregnant women. Iron intake can be gained from iron tablet. However the iron tabletconsumption still very low. The purpose of this study was to obtain the role of family and posyandu kadre support to the compliance of iron tablet consumption among anemic pregnant women and its relation tohaemoglobin levels of anemic pregnant women. The research design was quasi experimental Anemic pregnant women as a sample respondens were divided into two groups, 29 in the intervention group and 32 in thecontrol group. The study was conducted at Cibungbulang and Pamijahan sub district, Bogor. Compliance measurements using MMAS - 8 (Morisky Medication Adherence Scale - 8) questionnaires. Compliance of irontablet consumption categorized by low, middle and high. The intervention was counseling about anemia and how important iron tablet consumption among pregnant women to their family (husband/parents/in-laws/otherclose relatives) or posyandu cadre whose lived in the same house or as their neighbour. Data analysis was performed using Chi - square and different t-test. The results showed that the anemic pregnant women withsupport from their family and posyandu cadre improve their compliance of iron tablet (p< 0,05).Keywords: anemia, iron tablet, family and posyandu cadre support, complianceABSTRAKAnemia memberikan kontribusi hingga 20 persen terhadap semua kematian pada kehamilan. Salah satu penyebab tingginya prevalensi anemia adalah rendahnya asupan zat besi. Salah satu sumber asupan zat besi berasal dari tablet tambah darah (TTD), namun kepatuhan mengonsumsinya masih sangat rendah. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan pengaruh peran pendamping terhadap kepatuhan konsumsi TTD dan hubungannya dengan kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil anemia. Desain penelitian adalah kuasi eksperimen. Responden adalah ibu hamil anemia, yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 29 pada kelompok intervensi dan 32 pada kelompok kontrol. Penelitian dilakukan di Kecamatan Cibungbulang dan Pamijahan Kabupaten Bogor.Pengukuran kepatuhan menggunakan kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale). Intervensi berupa penyuluhan tentang anemia pada pendamping dan pentingnya konsumsi TTD pada keluarga(suami/orang tua/mertua/kader/keluarga dekat lainnya) yang tinggal serumah atau berdekatan. Kepatuhan konsumsi TTD dikategorikan menjadi rendah, sedang dan tinggi. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan uji beda t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pemberian penyuluhan pada ibu hamil dengan anemia dapat meningkatkan kepatuhan minum tablet tambah darah (p<0,05). [Penel Gizi Makan 2015, 38(1): 71-78]Kata kunci: anemia, tablet tambah darah, pendamping ibu hamil, kepatuhan minum TT
Isolasi Biflavonoid Baru dari Garcinia tetranda Pierre Berdasarkan Jalur Biogenesis dan Aktivitas terhadap Antibakteri
Garcinia tetranda Pierre (Clusiaceae) is a plant that is widely used to treat various diseases and its chemical compounds has not been much studied. Compound isolation using the three methods of chromatography (Vacuum Liquid Chromatography Column (VLCC), preparative Thin Layer Chromatography (pTLC) and TLC) generate novel compound 5,7,4 ', 5'', 7'', 3''', 4 '''-heptahidroksi-2'''-methoxy-flavanon (3,8)-flavone'' which is different from the compounds that had been found previously in Garcinia tetranda Pierre. Structure identification was conducted using UV, IR and NMR spectroscopic data and by comparing the 13C and 1H-NMR data of the isolate compound and known biflavonoid compounds. Biogenesis pathway analysis of the new compound showing relationship with molecular compounds which have previously been found in Garcinia. Antibacterial test of the novel compound using Kirby-Bauer agar diffusion methode against Gram-negative bacteria Salmonella typhi showed that the compound is not potentially used as antibacterial agent compared to chloramphenicol
Uji Daya Antelmetika Ekstrak n-Heksan Rimpang Bangle (Zingiber cassumunar) pada Cacing Ascaris suum secara In Vitro
The objective of this research was to investigate the anthelmentics activities of Zingiber cassumunar rhizome n-hexane extract against Ascaris suum in-vitro. The experiments were carried out by using immersion method. The worm were soaked in extract of Zingiber cassumunar rhizome . One hundred and forty four ascaris worms were divided into 8 groups; each Petri contain 6 wors of Ascaris suum the dosage in every Petridish was 1 x LD50 (15,78 mg/100 ml), 2 x LD50 (31,56 mg/100 ml), 4 x LD50 (63,12 mg/100 ml), 8 x LD50 (126,24 mg/100 ml) and 12 x LD50 (189,36 mg/100 ml). The positive control used was pirantel pamoat 250 mg/100 ml and as negative controls were solutions like intestine and carboxy methyl cellulose 0,94% suspension. Experiment result shows that dosage 5 (189,36 mg/100 ml) was the most optimum dosage for anthelmentics treatment in that dosage 27,8% Ascaris suum were dead. Anthelmentics investigation was done by counting the deaths of Ascaris suum which were emmersed for 24 hours. The infusion of zingiber cassumunar has strongest activity as anthelmentics rather than in alcohol and n-hexane extract forms
Stabilitas Imunoglobulin M (IgM) Campak pada Dried Serum Spots
Shipping and storage of measles serum specimens from fields to the reference laboratory must consider the cold chain in order to maintain the stability of immunoglobulin M (IgM) in serum. Meanwhile, to maintain the cold chain needs special handling. This study aimed to determine the use of filter paper as an alternative in shipping and storage of specimens. This experimental study used measles positive serum received at the National Measles Laboratory Center for Biomedical and Basic Technology of Health from January until March 2011. There were three groups of sample. Each group consisted of 9 specimens. The effects of temperature and storage period on the stability of measles IgM of dried serum spots (DSS) stored in 4°C and 25°C for one, three, six, nine, twelve, and five teen days were tested at the National Measles Laboratory Center for Biomedical and Basic Technology of Health from July until December 2011. The stability of measles IgM of DSS that were stored at 4°C and 25°C temperature showed no significant difference (p = 0.316) compared to the serums stored at a temperature of 4°C in the measurements on the third day. Dried serum spots can not be used as sample alternative for detection of measles virus-spesific immunoglobulin