e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
Kualitas Minyak Goreng Habis Pakai Ditinjau dari Bilangan Peroksida, Bilangan Asam dan Kadar Air
There are habits to reuse cooking oil that for main reason of cost saving. Reusing cooking oil might be problem for health.This research aimed to study the number of peroxide number, acid value, free fatty acid, and water content of light and dark brown reused cooking oil. The quality of oil were compared to The National Standard of Indonesia (SNI 01-3741-2002) Edible Oil Quality. Peroxide number was determined by iodometric methods, free fatty acid level and acid value by alkali titration (KOH/NaOH), and water content by gravimetric methods. The oil sample were light and dark brown reused cooking oil and new packaged oil. The oil that, use as standard reference, was new packaged oil. Each oil was analyzed three times. Reuse cooking oil was got from food vendor in Bogor. The results showed that the mean of peroxide number, acid value, free fatty acid level and water content of the black colour of reused cooking oil were 7.89 O2/100g; 1.46 mg KOH/g; 0.64% and 0.61% w/w respectively. The brown colour oil were 5.15 O2/100g; 0.94 mg KOH/g; 0.41% and 0.79% w/w respectively. These light and dark brown reused cooking oils did not comply with SNI 01-3741-2002, therefore they are not suitable to be used for cooking
Aktivitas Antidermatofitik Ekstrak Daun Urang-aring (Eclipta alba (L.) Hassk) terhadap Trichophyton mentagrophytes
Emergence of drug resistance in a fungal infection therapy had driven the need for a search of a new therapeutic agent. Traditional approach is now being marked by most people to combat this resistance problem. Plants can acts as a source of antimicrobial agents. Eclipta alba,L. Hassk leaves has been traditionally used to cure skin illnesses caused by fungal infection. The aim of this study is to analyze the antidermatophytic activity of Eclipta alba, L. Hassk leaves extract against Trichophyton mentagrophytes. Eclipta alba (L.) Hassk leaves were extracted gradually with hexane, ethyl acetate, ethanol and water. A serial concentration 0 mg/ml, 12,5 mg/ml, 25 mg/ml, 50 mg/ml and 100 mg/ml of those four fraction was made subsequently. The antidermatophytic activity was done by gel diffusion method. Zone of inhibition was measured and analyzed with ANOVA continued with DMRT (Duncan Multiple Range Test). The antifungal test showed that hexane, ethyl acetate and ethanolic extract of Eclipta alba, L. Hassk leaves were effective to inhibit the growth of Trichophyton mentagrophytes but not significantly different (p≥0,05). Water extract showed no inhibition on Trichophyton mentagrophyte
Human Resources and Vaccine Management at Provincial Health Office, District/City Health Office and Primary Health Centre
ABSTRAKlatar Belakang: Keputusan Menteri Kesehatan tentang Gerakan Akselerasi Imunisasi Nasional Universal Child Immunization 2010–2014 (GAIN UCI 2010–2014) menyatakan bahwa secara umum permasalahan penurunan cakupan maupun kualitas pelayanan imunisasi disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya kekurangan jumlah, kualitas dan distribusi pengelola vaksin. Metode: Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner melalui wawancara mendalam, penelusuran data sekunder dan observasi. Analisis data dilakukan dengan melakukan skoring data pendidikan, lama kerja, pelatihan dan pengetahuan. Hasil:Jumlah petugas pengelola vaksin masih kurang, beberapa dinas kesehatan kabupaten/kota hanya memiliki satu pengelola Program Imunisasi yang merangkap sebagai pengelola vaksin, begitu juga dengan beberapa Puskesmas yang hanya memiliki satu pengelola program imunisasi yang merangkap pengelola vaksin dan juru imunisasi. Sementara dalam pedoman penyelenggaraan imunisasi dibutuhkan minimal dua tenaga pelaksana. Pengetahuan pengelola vaksin di puskesmas masih kurang, terutama dalam hal pengenalan vaksin dan pengenalan rantai vaksin (ILR). Pengelola vaksin di Dinkes Provinsi sudah mendapatkan pelatihan, namun pengelola vaksin Dinkes Kabupaten/Kota dan Puskesmas belum semua mendapat pelatihan. Pengetahuan pengelola vaksin di Puskesmas masih kurang, terutama dalam hal pengenalan vaksin dan pengenalan Coldchain (ILR).Saran:Diperlukan penambahan kuantitas dan kualitas pengelola vaksin, karena kualitas pengelola vaksin sangat berpengaruh terhadap kualitas vaksin, karena vaksin memerlukan penanganan yang khusus untuk menjaga kualitas vaksin tetap baik dan dapat memberikan kekebalan tubuh serta menghindarkan terjadinya penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).Kata kunci: vaksin, pengelola vaksin, pelatihan, pengetahuanABSTRACTBackground: In the Decree of the Minister of Health on the National Immunisation Movement Acceleration Universal Child Immunization 2010–2014 (GAIN UCI 2010–2014) stated that the general problems of decline in immunization coverage and quality of service were caused by several things, one of which is the lack of quantity, quality and distribution of human resources. Methods: A cross-sectional mix-method study to investigate human resources in vaccine management had been conducted in two provinces in 2012. Primary data were collected by interviewing stakeholders thoroughly, secondary data collection and observation were also carried out. Analysis was done by scoring for data concerning education, length of employment, training experience and knowledge. Result:The number of Vaccine management officers are still lacking. While the immunization guidelines required minimal two officers for each health centers. Officers’ knowledge in primary health centers is still inadequate, especially in terms of the vaccine and Coldchain (Ice Lined Refrigerators). Officers at Provincial Health Office had been trained in vaccine management, but not all officers at District Health Office and Primary Health Centers had received training yet. Suggestion: This study suggests the addition of the quantity and quality of human resources in vaccine management, because the officers can affect the quality of the vaccines, because vaccines need a special handling to maintain the quality to provide immunity and prevent the occurrence of diseases that can be prevented by immunization (PD3I).Key words: vaccine, human resources, training, knowledg
DISTRIBUSI KASUS GIGITAN HEWAN PENULAR RABIES (HPR) DAN KASUS RABIES DI KABUPATEN NGADA, PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Rabies adalah penyakit infeksi zoonotic akut padasystem saraf pusat yang disebabkan oleh family Rhabdovirus dan genus Lyssavirus. Data tentang penyebaran rabies di Kabupaten Ngada menunjukkan bahwa ada 3 kasus rabies pada tahun 2000. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan distribusi kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) dan kasus rabies di Kabupaten Ngada. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan desain cross-sectional. Data dikumpulkan dari kasus gigitan HPR dan kasus rabies tahun 2004 sampai Oktober 2008. Data tersebut merupakan data sekunder dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus gigitan HPR tertinggi per puskesmas adalah di Puskesmas Watumanu pada tahun 2007, yaitu 79 kasus. Puncak terjadinya kasus gigitan HPR adalah pada tahun 2004, yaitu 78 kasus di bulan Mei, dan 77 kasus di bulan Juni. Median kasus per bulan pada bulan Juli, yaitu 26 kasus. Hewan peliharaan masyarakat yang paling sering menularkan rabies adalah anjing. Pendekatan persuasive dan intensif melalui pendidikan kesehatan untuk mengajak masyarakat memvaksinasi hewan peliharaan sangat dibutuhkan. Hal ini karena, kesadaran masyarakat tentang pentingnya vaksinasi hewan peliharaan, akan mendukung keberhasilan program pemberantasan rabies di Kabupaten Ngada.
KAJIAN KASUS ISPA PADA LINGKUNGAN PERTAMBANGAN BATU BARA DI KABUPATEN MUARA ENIM, SUMATERA SELATAN
Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan bahan galian meliputi emas, perak, tembaga, batubara, minyak dan gas bumi. Kegiatan pertambangan dan lingkungan hidup adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dimana Indonesia merupakan eksportir batubara terbesar kedua di dunia. Penggunaan sumber daya alam secara besar-besaran dengan mengabaikan kelestarian lingkungan dapat mengakibatkan berbagai dampak negatif yang terasa dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pencemaran udara akibat debu partikel dapat menyebabkan penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Tujuan penelitian adalah mengetahui tingkat pencemaran udara oleh debu batubara, hubungan antara paparan debu batubara dengan penyakit ISPA pada masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar lokasi industri pertambangan batubara. Desain penelitian menggunakan desain cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan keadaan kualitas udara outdoor nilai rata-rata untuk parameter S02 di kawasan peruntukan lebih tinggi dibandingkan di kawasan bukan peruntukan, demikian pula untuk parameter N02, untuk parameter H2S di kedua kawasan memiliki nilai rata-rata yang sama, namun untuk nilai PM10 di kawasan peruntukan lebih tinggi dibandingkan di kawasan bukan peruntukan, sedangkan suhu, kelembaban, dan kecepatan angin di dua kawasan hampir sama. Ditinjau dari PP No. 41 tahun 1999 kualitas udara indoor maupun outdoor di kawasan peruntukan maupun di kawasan bukan peruntukan masih dibawah nilai ambang batas yang diperkenankan. Angka kejadian ISPA, di lokasi terpapar lebih tinggi dibandingkan non terpapar
PROPORSI DAN FAKTOR RISIKO SINDROM METABOLIK PADA PEKERJA WANITA DI PABRIK GARMEN DI KOTA BOGOR
ABSTRACTMany studies on metabolic syndrome (MetS) in Indonesia were conducted but the study on female workers was scarce. The aim of this study was to obtain the proportion of MetS and its risk factors. Study design was cross-sectional and a number of 59 female workers aged 25-49 years at garmen factory in Bogor, West Java was pregnant or breastfeed women participated in this study. Collected data included blood pressure, serum level of triglyceride, high density lipoprotein (HDL), fasting blood glucose, activity, food consumption, anthropometry (weight and height) and social economic.The results showed that the proportion of MetS was 18,6 percent and family size was the significant risk factor for MetS (p<0.05; OR for family size = 6.286; 95% CI: 1.270 -31.102). Physical activity level and nutrient adequacy were not shown as risk factors. This result implied that controlling family size might be important to reduce prevalence of MetS among female workers in Indonesia.Keywords: metabolic syndrome, proportion, risk factors, female workersABSTRAKPenelitian mengenai sindrom metabolik (SM) telah banyak dilakukan di Indonesia tetapi penelitian yang berfokus pada pekerja wanita masih jarang dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh proporsi SM dan faktor-faktor risikonya. Penelitian berdesain potong lintang ini dilakukan pada 59 pekerja wanita berusia 25-49 tahun di pabrik garmen Bogor, Jawa Barat yang tidak sedang hamil atau menyusui. Data yang dikumpulkan termasuk tekanan darah, kadar trigliserida, profil lemak (HDL), gula darah puasa, aktivitas, konsumsi makanan, antropometri (berat dan tinggi badan) dan data sosial ekonomi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi SM pada pekerja wanita sebesar 18,6 persen dan besar keluarga agaknya merupakan faktor risiko SM yang signifikan (p<0,05; OR untuk besar keluarga = 6,286; interval kepercayaan 95%: 1,270-31,102). Tingkat aktivitas fisik dan kecukupan zat gizi tidak terlihat sebagai faktor risiko SM. Hal ini menunjukkan bahwa agaknya pengontrolan besar keluarga dapat menjadi langkah penting untuk menurunkan proporsi SM pada pekerja wanita di Indonesia. [Penel Gizi Makan 2014, 37(1): 21-32].Kata kunci: sindrom metabolik, proporsi, faktor risiko, pekerja wanit
Uji Diagnostik Cepat Sebagai Metode Alternatif Diagnosis Kholera yang Disebabkan oleh Agen Vibrio Cholera
Cholera is one of health problems in Indonesia. The high fatality rate is caused by the enterotoxin. The symptoms are dehydration, electrolyte loss and increased blood acidity, so that in severe case can cause death. Diarrheal disease cholera can lead to an out break. Conventional techniques such as culture, isolation and identification are the gold standard to diagnose V.cholerae, but required considerable time and adequate equipment. thus rapid diagnostic test plays an important role to detect V.cholerae.. The use of rapid diagnostic test can be need as the initial examination, so that preventive actions can be conducted . Rapid diagnostic tests are performed by various methods such can be used directly in the field and the results can be identified quickly, so it can replace the conventional techniques. The advantages of rapid test are quick, easy, inexpensive, practice ; thus it can be used in the field. Rapid test has a sensitivity of 94-100% and a specificity of 84-100% when compared with the conventional technique.Key words : Vibrio cholerae, Diarhoeae, Rapid diagnostic test AbstrakKholera merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Penyebabnya adalah enterotoksin yang dihasilkan oleh bakteri Vibrio cholerae . Gejala yang ditimbulkannya menyebabkan dehidrasi, kehilangan elektrolit dan meningkatnya keasaman darah, sehingga pada kasus yang berat dapat menimbulkan kematian. Penyakit diare kholera ini dapat menimbulkan kejadian luar biasa (out break) dan menyebar ke daerah sekitarnya. Mengingat standar baku diagnosis bakteri V.cholerae dengan menggunakan tehnik konvensional (kultur, isolasi dan identifikasi) memerlukan waktu yang cukup lama dan peralatan yang memadai, maka penggunaan rapid test diagnostik untuk deteksi bakteri V.cholerae sangat berperan pada kasus kejadian luar biasa kholera. Penggunaan rapid diagnostik test ini dapat menjadi pemeriksaan awal di lapangan, sehingga tindakan yang bersifat preventif dapat segera dilakukan. Uji diagnostik cepat yang dilakukan dengan berbagai metode dapat dipakai langsung di lapangan dan hasilnya dapat diketahui dengan cepat , sehingga dapat menjadi tehnik awal pengganti teknik konvensional. Kelebihan dari uji cepat ini adalah cepat, mudah, murah dan dapat dilakukan di tempat. Uji cepat t ini mempunyai sensitifitas antara 94 – 100 % dan spesifitasnya antara 84 – 100 % jika dibandingkan dengan teknik yang dilakukan secara konvensional .Kata kunci : Vibrio cholerae, Diare, Uji diagnostik Cepa
Risiko Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Pedesaan Daerah Perbatasan Kabupaten Nunukan
High prevalence of worm infection in Indonesia (70-80%) partially identified as Soil Transmitted Helminthes (STH) from Nematodes, but Cestodes and Trematodes is also found in Indonesia. Worm infection named as neglected diseases because it doesn’t cause mortality although reduced the quality of human resources. It will be important to do research to get the worm infection database for the effective planning action in worm infection fighting. It was an observational research by cross sectional design; research had been done in March-December 2010 in Nunukan, one of border areas, at 9 public health center areas. Population were all students of primary school in Nunukan, samples were primary school students chosen by purposive sampling. The research had been done by explain informed consent, distribution and collection of feces pot and microscopic analysis by direct method. Data were analyzed by Chi square in SPSS-13.0 program.The microscopic analysis found 20.8% positive worm infection of 1126 samples. The highest is caused by STH that is Ascaris lumbricoides and the highest proportion is found in village areas that the environment modification and infrastructure development doesn’t work well. Students of primary school in the village areas have almost five fold risk to get worm infection than city areas. Worm infection tends to be higher in village areas compare to that of city areas because the environment modification and infrastructure development in city areas is better than village areas.Keywords: eggs worm, Nunukan, proportion AbstrakPrevalensi cacing usus di Indonesia masih tinggi (70-80%) sebagian besar diidentifikasi sebagai Soil Transmitted Helmintes (STH) dari golongan Nematoda, tetapi cacing yang berasal dari golongan Cestoda dan Trematoda juga ditemukan di Indonesia. Kecacingan disebut sebagai penyakit yang terabaikan (Neglected Disease) karena dianggap penyakit yang tidak menyebabkan kematian, meskipun mengurangi kualitas sumber daya manusia. Penelitian Ini penting dilakukan untuk memperoleh database kecacingan, untuk tindakan perencanaan yang efektif dalam pemberantasan kecacingan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan Desain Cross Sectional; Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Desember 2010 di Nunukan, salah satu wilayah perbatasan, pada 9 wilayah puskesmas. Populasi adalah semua siswa sekolah dasar di Nunukan, sampel adalah siswa sekolah dasar yang dipilih secara purposive sampling. Penelitian ini dilakukan dengan menjelaskan informed consent, distribusi dan mengumpulkani kotoran pada pot dan analisis mikroskopis dengan metode langsung. Data dianalisis dengan Chi-Kuadrat dalam program SPSS-13.0. Pada analisis mikroskopis ditemukan positif kecacingan 20,8% dari 1126 sampel. Penyebab tertinggi adalah STH yang Ascaris lumbricoides dan proporsi tertinggi ditemukan di daerah pedesaan yang penataan lingkungan dan pembangunan infrastruktur tidak dilaksanakan dengan baik. Siswa sekolah dasar di daerah pedesaan hampir lima kali beresiko untuk mendapatkan kecacingan daripada daerah kota. Kecacingan cenderung lebih tinggi di daerah pedesaan dibandingkan dengan di daerah perkotaan, karena penataan lingkungan dan pembangunan infrastruktur di daerah kota lebih baik daripada daerah pedesaan.Kata kunci: Telur Cacing, Nunukan, Propors
Distribusi Frekuensi Beberapa Subtipe Human Immunodeficiency Virus-1 (HIV-1) di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2010
HIV-1 subtype distribution in the province of West Kalimantan with a sufficient amount of data has not been so well known, so is the predominant subtype and proportion. The purpose of the analysis is to look at distribution of HIV-1 subtypes circulating in West Kalimantan province with risk factors. The data analyzed came from surveys of HIV-1 virus genotypes in West Kalimantan in 2010 in the case of HIV/AIDS chosen purposively who visited the clinic Voluntary Care and Treatment (VCT) in Pontianak and Singkawang. For each city chosen purposively 1 hospital. Blood specimens were taken from patients to be examined by PCR and sequencing, then the data sociodemographic and medical history interview was conducted with a structured questionnaire after obtaining consent from the patient of the 80 serum specimens examined by PCR and sequencing subtype CRF01_AE obtained by 83.4%. Also found subtype E of 10.4%, AC subtypes, A and C, respectively 2.1% . Highest proportion of subtype CRF01_AE was found in the group that has the status of a widow/not married, the group with the Malays and the age group 15-30 years. Most transmission through IDU history. HIV-1 subtype CRF01_AE is predominant subtype recombinant circulating in the province of West Kalimantan.Keywords: HIV-1 subtypes, West Kalimantan. AbstrakDistribusi subtipe HIV-1 di Provinsi Kalimantan Barat dengan jumlah data yang memadai belum begitu diketahui, begitu juga subtipe yang dominant dan proporsinya. Tujuan analisis ialah untuk melihat distribusi subtipe HIV-1 yang beredar di Propinsi Kalimantan Barat dengan faktor risikonya. Data yang dianalisis berasal dari survei Genotipe virus HIV-1 di Provinsi Kalimantan Barat tahun 2010 pada kasus HIV atau AIDS dipilih purposif yang mengunjungi klinik Perawatan Sukarela dan Pengobatan (VCT) di Pontianak dan Singkawang. Untuk setiap kota dipilih 1 rumah sakit secara purposif. Spesimen darah diambil dari penderita untuk diperiksa dengan tes PCR dan sekuensing, kemudian data sosiodemografi dan riwayat penyakit dilakukan wawancara dengan kuesioner terstruktur setelah mendapat persetujuan dari penderita. Dari 80 spesimen serum yang diperiksa dengan PCR dan sekuensing didapatkan subtipe CRF01_AE sebesar 83,4%. Selain itu ditemukan subtipe E sebesar 10,4%, subtipe AC, A dan C masing-masing 2,1%. Proporsi terbanyak subtipe CRF01_AE ditemukan pada kelompok yang mempunyai status janda atau tidak menikah, kelompok dengan suku Melayu dan pada kelompok dengan usia 15- 30 tahun. Riwayat penularan terbanyak melalui IDU. Subtipe CRF01_AE HIV-1 merupakan subtipe rekombinan yang dominan beredar di Provinsi Kalimantan Barat.Kata Kunci: subtipe HIV-1, Kalimantan Barat
Peran Antioksidan Bagi Kesehatan
Antioxidants are needed to prevent the occurrence of oxidative stress, which plays an important role in the etiology of various degenerative diseases. This paper discusses the benefits of antioxidant. This article was made with prior search of references using search engine Schoolar Google with key words antioxidant, oxidative stress, Alleaceae, N-acetyl cystein, vitamin C and degenerative disease. Mechanisms of resistance of the body to fights oxidative stress is through endogenous antioxidants. If the amount of free radicals and reactive species in the body exceeds the ability of endogenous antioxidants, the body requires the intake of antioxidants obtained from foods or drugs. Antioxidants are commonly consumed daily as a spice in cooking is onions. Synthetic drug commonly used as antioxidants include N-acetyl cysteine and vitamin C. Alleaceae and N-acetyl cysteine containing thiol groups / sulfur that act as antioxidant. Organosulfur role in cancer cells is through the mechanism of apoptosis. Both N-acetyl cysteine and vitamin C in animals induced oxidative stress using carbon tetrachloride, showed they play a role in the prevention of oxidative stress. Alleaceae, N-acetyl cysteine and vitamin C plays a role in the prevention of degenerative diseases due to its antioxidant properties.Key word: Antioxidant, Oxidative stress, Alleaceae, N-acetyl cystein, Vitamin C. AbstrakAntioksidan diperlukan untuk mencegah terjadinya stres oksidatif, yang berperan penting dalam etiologi terjadinya berbagai penyakit degeneratif. Tulisan ini membahas peran antioksidan bagi kesehatan. Artikel ini dibuat dengan mencari referensi menggunakan mesin pencari Google Schoolar dengan kata kunci antioksidan, stres oksidatif, allium, N-asetil sistein, vit C dan penyakit degeneratif. Mekanisme perlawanan tubuh terhadap stres oksidatif adalah melalui antioksidan endogen. Apabila jumlah radikal bebas dan spesies reaktif dalam tubuh melebihi kemampuan antioksidan endogen, maka tubuh memerlukan asupan antioksidan yang didapat dari makanan atau obat-obatan. Antioksidan yang lazim dikonsumsi setiap hari sebagai bumbu dalam masakan adalah bawang-bawangan. Obat sintetis yang biasa digunakan sebagai antioksidan antara lain N-asetil sistein dan vit C. Bawang-bawangan (Alleaceae) dan N-asetil sistein mengandung gugus thiol/sulfur yang bersifat sebagai antioksidan. Peran antioksidan organosulfur selain sebagai antikanker melalui mekanisme apoptosis, juga sebagai antitrombosis. Baik N-asetil sistein maupun vit C pada hewan coba yang diinduksi stres oksidatif menggunakan karbon tetraklorida, menunjukkan kedua komponen tersebut berperan dalam pencegahan stres oksidatif. Bawang-bawangan, N-asetil sistein dan vitamin C berperan dalam pencegahan penyakit degeneratif karena sifat antioksidan yang dimilikinya.Kata kunci: Antioksidan, Stres oksidatif, Bawang-bawangan, N-asetil sistein, Vit C