e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    INSIDEN MALARIA DAN POLA IKLIM DI KABUPATEN KAPUAS PROPINSI KALIMANTAN TENGAH DAN KABUPATEN SUMBA BARAT PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR, INDONESIA TAHUN 2005 - 2009

    No full text
    Perubahan iklim merupakan faktor penting untuk penyebaran berbagai jenis penyakit, salah satu nya adalah peningkatan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk seperti malaria. Tujuan penelitian yang dilakukan pada tahun 2010 ini adalah untuk melihat pengaruh perubahan iklim (curah hujan, suhu, kelembaban) terhadap kejadian penyakit malaria di Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah dan Kabupaten Sumba Barat Propinsi Nusa Tenggara Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insiden malaria di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah selama lima tahun (tahun 2005-2009) cenderung mengalami penurunan, dengan kisaran antara 0.01‰ - 0.31 ‰ sedangkan curah hujan cenderung berfluktuasi berkisar antara 2 mm - 556 mm, sebaliknya suhu cenderung meningkat berkisar antara 25.5 ºC - 28.6 ºC dan kelembaban cenderung stabil berkisar antara 76% - 89%. Di Kabupaten Sumba Barat NTT kecenderungan insiden malaria selama lima tahun (tahun 2005-2009) terlihat mengalami peningkatan, dengan kisaran antara 0.02‰ - 1.73 ‰ sedangkan curah hujan berfluktuasi antara 1 mm - 282 mm, sebaliknya suhu cenderung stabil berkisar antara 24.1ºC - 29 ºC dan kelembaban udara berfluktuasi antara 65% - 88%. Kesimpulan menunjukkan bahwa kejadian malaria di dua kabupaten mempunyai fluktuasi yang tinggi pada bulan-bulan tertentu. Curah hujan tidak berpengaruh secara langsung terhadap kejadian malaria. Kecenderungan peningkatan insiden malaria, secara tidak langsung dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban, namun secara langsung dapat mempengaruhi jumlah parasit malaria dan nyamuk sebagai vektor.   Kata kunci: Malaria, perubahan iklim, curah hujan, suhu, kelembaban

    SEBARAN HABITAT PERKEMBANGBIAKAN LARVA ANOPHELES SPP DI KECAMATAN BULA, KABUPATEN SERAM BAGIAN TIMUR, PROVINSI MALUKU

    No full text
    Indonesia merupakan salah satu negara dengan penularan malaria yang masih tinggi terutama di Indonesia Bagian Timur, diantaranya adalah Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku. Malaria disebabkan oleh parasit protozoa genus Plasmodium yang ditularkan melalui nyamuk Anopheles sp. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sebaran dan karakteristik habitat perkembangbiakan larva Anopheles sp di Kecamatan Bula, Seram Bagian Timur. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode standar WHO dengan 10 kali cidukan pada setiap titik badan air/perairan dengan jumlah kolektor 4 orang . Karakteristik habitat larva Anopheles sp yang diamati meliputi aspek fisik dan biologi perairan. Hasil penelitian menemukan 6 jenis larva Anopheles sp yaitu An. farauti, An. punctulatus, An. subpictus, An. vagus, An. maculatus dan An. indefinitus, pada 8 macam tipe habitat perkembangbiakann. Habitat perkembangbiakan yang ditemukan adalah genangan air bersifat tidak tetap / temporer yaitu pada tapak roda kendaraan berat, lempeng besi yang tidak terpakai dan genangan air di lapangan rumput yang tergenang air hujan dan mangrove yang rusak, selain itu ditemukan pada parit kecil, sungai kecil dengan aliran air yang lambat, kolam dan mata air

    GAMBARAN PERSEPSI PETUGAS PUSKESMAS DAN PETUGAS KANTOR URUSAN AGAMA (KUA) DALAM PELAKSANAAN PROGRAM IMUNISASI TETANUS TOXOID (TT) PADA CALON PENGANTIN WANITA DI KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2011

    No full text
    Latar belakang: Salah satu strategi untuk mencapai eliminasi tetanus neonatorum adalah mengembangkan intensifikasi imunisasi tetanus toxoid (TT) pada wanita usia subur khususnya para calon pengantin.  Tujuan: Mengetahui gambaran persepsi petugas kesehatan dan petugas KUA terhadap pelaksanaan program imunisasi TT bagi calon pengantin. Metode: Merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang dilakukan di 3 Kecamatan di Tangerang Selatan tahun 2011, yaitu Kecamatan Ciputat, Pamulang dan Serpong Utara. Informan terdiri dari 6 informan kunci (3 petugas puskesmas dan 3 petugas KUA) dan 4 informan pendukung (calon pengantin). Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi. Hasil: Persepsi petugas puskesmas dan petugas KUA tentang manfaat imunisasi TT sudah baik, tetapi proses sosialisasi program belum efektif. Hambatan pelaksanaan program yang berasal dari calon pengantin diantaranya karena kurangnya pengetahuan, takut disuntik, dan persepsi yang salah tentang imunisasi TT yang dianggap sebagai kontrasepsi. Hambatan dari petugas yaitu masih kurangnya petugas, beban kerja terlalu banyak, dan terbatasnya petugas yang paham tentang program tersebut.  Kesimpulan: Pelaksanaan program imunisasi TT belum optimal dikarenakan terdapat beberapa hambatan dari petugas puskesmas, petugas KUA maupun dari calon pengantin.   Kata kunci: Imunisasi tetanus, calon pengantin, kesehatan reproduks

    DETERMINAN PEMILIHAN PERSALINAN DI FASILITAS KESEHATAN (Analisis Data Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010)

    No full text
    Tantangan terbesar di sektor kesehatan yaitu menurunkan angka kematian ibu dengan target Millenium Development Goals/MDGs 102 per 100.000 kelahiran hidup. Saat ini angka kematian ibu di Indonesia 228 per 100.000 kelahiran hidup. Tingginya angka kematian ibu terkait dengan rendahnya pemanfaatan layanan persalinan di fasilitas kesehatan. Penelitian ini menganalisis lebih lanjut mengenai determinan pemilihan persalinan di fasilitas kesehatan. Penelitian ini dilakukan terhadap ibu yang melahirkan anak terakhir dalam kurun waktu 5 tahun (2005-2010) dengan menggunakan data riset kesehatan dasar 2010. Determinan pemilihan persalinan di fasilitas kesehatan dapat dilihat dari faktor predisposing, enabling dan need. Metode penelitian yang digunakan adalah crosssectional dengan menggunakan analisis regresi logistik. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 15.418 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang memilih persalinan di fasilitas kesehatan sebesar 54,5 persen responden. Hasil analisis juga menunjukkan adanya hubungan bermakna antara tingkat pendidikan ibu, tingkat pengetahuan kesehatan ibu, status ekonomi keluarga, pekerjaan suami, tingkat pendidikan suami, keikutsertaan asuransi kesehatan, jarak melahirkan, umur saat melahirkan anak terakhir dan paritas dengan pemilihan persalinan di fasilitas kesehatan. Penelitian ini menyarankan untuk mengevaluasi mengenai kebijakan biaya persalinan di fasilitas kesehatan dan peningkatan akses masyarakat ke fasilitas kesehatan, melakukan pelatihan untuk bidan mengenai bagaimana berkomunikasi dan berinteraksi sosial yang baik terhadap masyarakat sehingga masyarakat mempunyai persepsi yang baik dan kepercayaan yang tinggi terhadap bidan, melakukan monitoring dan evaluasi kinerja bidan desa secara kontinyu untuk meningkatkan kinerja bidan, mensosialisasikan kepada masyarakat khususnya suami mengenai pentingnya persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan melalui rapat desa atau kelompok tani. Kata kunci: determinan, pemilihan tempat persalinan, fasilitas kesehata

    ALTERNATIF PENGEMBANGAN MODEL KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA TAHUN 2009

    No full text
    Background: Teenagers are the future generation, so in their lives, they need to get right information, proper education either science or religion. Adolescents with any feature of the physical and psychological changes, need to be provide with enough knowledge about reproduction health in order to keep and maintain an optimal life. Adolescent reproductive health is essential, in order to equip young people and directing the adolescents to a good life in the future. Good information and correct knowledge about reproduction health is very important for teenager's life, so they would not get caught in the wrong pattern of life. In many other countries such as Sri Lanka, India, Thailand and Philippines, there been efforts to provide some knowledge to adolescents about reproduction health. Objective: To examine and explain adolescent's reproduction health program in indonesia and abroad, and to make alternative development models of adolescent's reproduction health Methode: To conduct a literature study with review strategy in journal, research documents and program of adolescent's reproduction health in Indonesia and abroad. Result: In Indonesia, it still needs to be increased, due to the data of reproduction health in healthcare workers (60%); adolescents parents (65%) school teachers (83.3%) and adolescents (77.3%), have less knowledge about adolescent reproductive development. Conclusion: Alternative development models of adolescent's reproduction health, which is to use models of reproduction health and distribute adolescent's potential with the involvement of all society components in order to meet the adolescents reproduction necessity. Keywords: Adolescent, reproductive health, Primary Health Car

    GAMBARAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF BAYI 0-6 BULAN DI WILAYAH PUSKESMAS SAMIGALUH II TAHUN 2013

    No full text
    Pendahuluan: Cakupan ASI eksklusif di wilayah Puskesmas Samigaluh II masih di bawah target 80%. Tujuan: Survei ini untuk mengetahui gambaran cakupan ASI eksklusif. Metode: Desain survei adalah cross sectional , pengumpulan data dilakukan dengan metode recall 24 jam dikombinasikan dengan recall sejak lahir. Cakupan pemberian ASI eksklusif diperoleh dari komposit lima pertanyaan. Data diperoleh dari seluruh ibu yang mempunyai bayi usia 0-6 bulan di wilayah Puskesmas Samigaluh II, Kulon Progo, DIY (48 responden) yang meliputi tiga desa Pagerharjo, Kebonharjo, dan Banjarsari. Hasil: Cakupan pemberian ASI di wilayah Puskesmas Samigaluh II tahun 2013 mencapai 68,75%; dimana ASI eksklusif 6 bulan 6,3%. Mayoritas ibu telah tamat pendidikan SMA (66,7%). Keseluruhan (100%) persalinan telah ditolong oleh tenaga kesehatan. Ibu yang gagal memberikan ASI eksklusif sejak lahir disebabkan pasca melahirkan secara caesarean section dan pemberian susu formula secara dini. Kesimpulan: Cakupan ASI eksklusif masih rendah sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu dan keluarga dengan pemberian informasi tentang perilaku gizi yang baik dan benar.   Kata kunci : cakupan, ASI eksklusif, Puskesmas Samigaluh I

    SUPLEMENTASI MIKROENKAPSULAT EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (KBM) MENURUNKAN KADAR MALONALDEHIDA HATI TIKUS

    No full text
    ABSTRACTHigh consumption of fried food contributes to increased risk of degenerative. Potent antioxidants that may alleviate this problem are contained in pericarp of mangosteen (KBM). However, its bitter taste hinders use of this antioxidant. Microencapsulation process can mask bitter taste and control the release of bioactive compounds. This study aims to evaluate the effectiveness of microencapsulated mangosteen pericarp extract in supressing malonaldehyde (MDA) in rat liver as a result of the consumption of oxidized palm oil. Antioxidants were extracted with methanol from KBM and microencapsulated using gelatin, carboxymethylcellulose (CMC) and maltodextrin. Its antioxidative capacity is determined by 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) method. Extract is supplemented to feed of rats at doses of 100mg/kg bw (KBM 1), meanwhile microencapsulated KBM at doses 100 (KBM 2) and 200 mg/kg bw (KBM 3) in addition to oxidized palm oil, for 50 days. After termination, liver was excised and liver MDA concentration was assayed. The decrease of MDAlevels on KBM 1, KBM 2, and KBM 3 respectively are 11.64 percent, 40.18 percent, and 53.43 percent. Supplementation of microencapsulated and non-encapsulated KBM extract do not affect body weights and feedconsumption of rats. Microencapsulated KBM is effective to reduce MDA levels significantly than its raw extract, in which 200 mg/kg bw is the best concentration. Its process can reduce the bitter taste of KBM.Keywords: antioxidant, mangosteen pericarp, oxidized oil, microencapsulation, liver MDA levelsABSTRAKTingginya konsumsi pangan yang digoreng meningkatkan resiko penyakit degeneratif. Salah satu antioksidan yang berpotensi mengatasi masalah ini adalah yang terkandung pada kulit buah manggis (KBM). Tetapi rasapahit dan getir yang terkandung dalam KBM menyebabkan penggunaannya menjadi terbatas. Oleh karena itu, digunakan proses mikroenkapsulasi yang dapat melindungi dan mengontrol pelepasan senyawa bioaktif yang terkandung dalam KBM. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas mikroenkapsulasi ekstrak KBMuntuk menurunkan kadar malonaldehida (MDA) hati tikus percobaan yang mengonsumsi minyak sawit teroksidasi. Antioksidan diekstrak dari tepung KBM dengan metanol dan dimikroenkapsulasi menggunakan gelatin, karboksimetil selulosa (CMC), dan maltodekstrin. Kapasitas antioksidan diukur dengan metode 2,2- diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Ekstrak dengan dosis 100 mg/kg bb (KBM 1) serta mikroenkapsulat KBMdengan dosis 100 (KBM 2) dan 200 mg/kg bb (KBM 3) disuplementasi pada pakan tikus dengan penambahan minyak sawit teroksidasi selama 50 hari perlakuan. Setelah diterminasi, hati tikus diambil lalu diukurkonsentrasi malonaldehida (MDA) yang terkandung. Penurunan kadar MDA pada KBM 1, KBM 2, dan KBM 3 yaitu sebesar 11,64 persen, 40,18 persen, dan 53,43 persen. Suplementasi ekstrak KBM yang dimikroenkapsulasi maupun tanpa enkapsulasi tidak mempengaruhi berat dan konsumsi pakan tikus. Mikroenkapsulat KBM efektif untuk menurunkan kadar MDA hati tikus dibandingkan ekstrak tanpa enkapsulasi, dimana konsentrasi terbaik yaitu 200 mg/kg bb. Proses ekstraksi dan mikroenkapsulasi dapat mengurangi rasa pahit dan getir KBM. [Penel Gizi Makan 2015, 38(1): 61-70]Kata kunci: antioksidan, kulit buah manggis, minyak sawit teroksidasi, mikroenkapsulasi, kadar MDA hat

    POLA KONSUMSI PANGAN, KEBIASAAN MAKAN, DAN DENSITAS GIZI PADA MASYARAKAT KASEPUHAN CIPTAGELAR JAWA BARAT

    No full text
    ABSTRACTThe purpose of this study was to determine food consumption patterns, eating habits, and its effect on the density of nutrient intake in Kasepuhan Ciptagelar a traditional village community in West Java. Cross–sectional design was implied for this study. A total of 65 eligible households participated in the study. Household’s food consumption data which were used to calculate nutrient density score and density of nutrient intake were collected using 24-hour recall. Nutrient density scores were calculated by using Nutrient Rich Food Index 9.3 to compare nutrient intake of food with Daily Value based on FAO standards. Stepwise linear regression analysis showed that socio-economic factors most affecting iron density was age of husband. Meanwhile, food habits factor significantly affecting protein density was meal frequency. Food preference significantly affected on calcium density. Other socio-economic factors including family size, household income, and the amount of rice in rice barn; and socio-cultural factors of food taboos have no significant effect on density of nutrient intake. Nutrient intake from more variety foods should be increased to fulfill nutrient adequacy of individuals, especially girl adolescent and pregnant mothers who observed food taboos in this community.Keywords: density of nutrient intake, nutrient density, traditional communityABSTRAKPenelitian ini bertujuan menganalisis pola konsumsi pangan dan kebiasaan makan serta pengaruhnya terhadap densitas asupan zat gizi pada masyarakat Kasepuhan Ciptagelar di Jawa Barat. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dengan total subjek sebanyak 65 rumah tangga. Skor densitas zat gizi pangan dihitung menggunakan metode Nutrient Rich Food Index 9.3. Analisis menggunakan regresi linear menunjukkan bahwa variabel umur suami berpengaruh terhadap densitas asupan zat besi rumah tangga. Salah satu variabel kebiasaan makan yaitu frekuensi makan rumah tangga berpengaruh signifikan terhadap densitas asupan protein rumah tangga, sedangkan preferensi pangan sayur-sayuran berpengaruh signifikan terhadap densitas asupan kalsium rumah tangga. Aspek sosial ekonomi rumah tangga lainnya meliputi besar keluarga, pendapatan perkapita, dan jumlah ketersediaan padi di dalam lumbung padi; serta salah satu aspek sosio-budaya pangan meliputi tabu makanan tidak berpengaruh terhadap densitas asupan zat gizi rumah tangga. Asupan zat gizi dari pangan lain sebaiknya lebih ditingkatkan untuk memenuhi kecukupan zat gizi individu, khususnya individu yang mempraktikkan tabu makanan pada masyarakat tersebut. [Penel Gizi Makan 2014, 37(1): 33-42]Kata kunci: densitas asupan zat gizi, densitas zat gizi pangan, masyarakat tradisiona

    BIOAKTIVITAS ANTIDIABETES BEBERAPA JENIS POHON LOKAL DARI HUTAN KERANGAS (Andiabetic Bioactivity of some Local Trees Species from Kerangas Forest)

    No full text
    Bioactivity evaluation of trees species is an important step to get high economic value from Kerangas forest. Screening of plants that had antidiabetic activities was conducted by ethnobotanical survey. Antidiabetic evaluation of plant extracts were performed by α glukosidase inhibitor. Result showed there are three plant exracts from Kerangas forest had anti diabetic activity. The methanol extract of dried bark of Shorea balangeran, Cratoxylum arborescens and Baeckea frutescens inhibited 50% of α glukosidase activity at concentration: 0,816 ppm, 5,234 ppm, 21,796 ppm, respectively, while the IC50 of glukobay: 0,167 ppm. It can be conclude that methanol extract of Kerangas plant species had potential activities as antidiabetic

    VIRTUAL SCREENING COMPOUNDS IN FABACEAE PLANTS AS LIGANDS ON ALPHA ESTROGEN RECEPTOR (ER-α)

    No full text
    Family Fabaceae has about 730 genera and 19.400 species. Some plant of family Fabaceae are known to have activity as an anti-breast cancer. This study does a series of computational chemistry method in virtual or in silico screening to compounds in the plant of family Fabaceae that are Abrus schimperi, Caesalpinia bonduc, Dalbergia vacciniifolia, Eriosema robustum, Erythrina falcata, Flemingia macrophylla, Genista saharae, Trifolium pratense L., Pachyrhizus erosus and Pissum sativum. The aim of this study is to find candidates of compounds as active ligands on estrogen receptor alpha (ER-α) by in silico and elucidating the amino acids contained in the binding site of compounds by using virtual screening. This protocol uses operating system LINUX Ubuntu LTS 14.04 with integrated applications such as SPORES, PLANTS 1.2, BKChem, Open Babel, R Computational Statistics and PyMOL, ZINC 01914469 as comparator compound, 4-[4-hydroxy-3-(prop-2-en-1-yl) phenyl]-2-(prop-2-en-1-yl) as reference compound and 4-hydroxytamoksifen as positive control. The results of virtual screening conducted on 60 compounds from ten plant of family Fabaceae obtained 24 compounds are actively in the binding pocket of ER-α. The important amino acids to affinity compounds with estrogen receptor alpha (ER-α) is GLU353, ARG394, ASP351 and THR347.  

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇