e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    WAKTU REGENERASI BAKTERI Vibrio cholerae PADA MEDIUM APW

    No full text
    AbstractWater and food could be contaminated by Vibrio cholerae which caused diarrhea to someone consumed them;serious cholerae disease could lead to death. In extreme environments cholerae could be in viable but nonculturable. Epidemiologically, this condition has contributed cholera outbreaks events. On the contrary, the bacteria can grow quickly in favorable conditions,. However, information about the cholerae growthing rate are still limited. The aims of research wes To determine the regeneration time of cholerae from time to time in optimum condition, as a base of assestment during cholerae outbreaks. The number of cholerae cells in 101 cfu / mL were made by dilution, then determined thenumber of bacteria in the beginning by using the colony count method with Thio sulfate Citrate Bile Sucrose (TCBS) media. the growth rate of bacteria was determinated by inoculated 2 mL dilution 101 cfu / mL to the enrichment alkaline peptone water (APW) media and then incubated at 37°C. Every one hour up to the end of eight hours, the bacteria were measured by colony count method using TCBS media. The obtaining of results were calculated by specified regeneration time. The results showedthat v. Cholerae generate between 8-15 minite from time to time in 8 hoursKeywords : Vibrio cholerae, Colony count, regeneration timeAbstrakVibrio cholerae dapat menjadi pencemar pada air dan makanan yang dapat menyebabkan diare pada seseorang yang mengkonsumsinya. Penderita penyakit kolera pada kasus yang berat dapat menyebabkankematian. Vibrio cholerae pada lingkungan yang ekstrim dapat menjadi viable but nonculturable, sehingga secara epidemiologi lingkungan ini mempunyai andil dalam menyebabkan wabah kolera. Sementara pada kondisi yang menguntungkan, bakteri ini dapat tumbuh dengan cepat. Namun informasi tentang kecepatan pertumbuhan dari cholerae sebagai antisipasi tindakan pencegahan wabah masih sangat terbatas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui waktu regenerasi cholerae dari waktuke waktu dalam kondisi yang optimum, sehingga dapat menjadi dasar penilaian ketika terjadi wabah kolera. Peningkatan jumlah bakteri ini dilakukan dengan cara membuat jumlah sel cholerae terlebihdahulu menjadi 101 cfu/mL melalui pengenceran, kemudian ditentukan jumlah bakteri awal yang sesungguhnya dengan metode hitung koloni menggunakan medium Thio sulphate Citrate Bile Sucrose (TCBS). Untuk mengetahui kecepatan pertuumbuhan bakteri maka jumlah sel 101 cfu/mL diambil sebanyak 2 ml dan ditumbuhkan pada medium pengayaan yakni medium alkali peptone water (APW), kemudian diinkubasi pada suhu 37°C. Setiap satu jam sampai jam ke delapan dilakukan pengukuranjumlah bakteri dengan metode hitung koloni menggunakan medium TCBS, kemudian ditentukan waktu generasi V.cholerae . Hasil penelitian menunjukkan waktu regenerasi Vibrio cholerae dari jam ke jam selama 8 jam adalah antara 8-18 menit.Kata kunci : Vibrio cholerae , Hitung koloni, waktu regeneras

    Determinan Kejadian Cedera pada Kelompok Pekerja Usia Produktif di Indonesia

    No full text
    AbstractInternational Labor Organization (ILO) in 2008 estimated that 14 % of the 2.34 million people died as a result of work-related accidents. In Indonesia, work-related accidents data are still limited and only focus on the formal sector. The research purpose was to identify the determinant of the injury in Indonesia productive age (15-64 years old) workers.This study was a further analysis of National Health Research (Riskesdas data) in 2013. The data were analyzed by complex sample with significancelevel 0.05 and 95% confidence intervals. The workers who met the study criterias were 405,984 persons. The determinant of injury was age, gender, hypertension, region area, visual and hearing impairment, education, diabetes mellitus, marrital status, body mass index, occupation, economical status, subdistrict area (OR adjusted 1.1-2.17 p≤0.009). The injury of the 15-24 years old group was 2.17 times higher than55-64 years old group, males were injured 1.8 times higher than females, workers who had hypertension were 1.6 times than normotension. Workers stayed in Eastern Indonesia Region was injured 1.5 times higher than in Sumatra Region, and workers with hearing impairment in both ears were injured 1.5 times higher than normal hearing. The main determinant of injury in productive age workers was age, gender, hypertension, and hearing impairment. Efforts to prevent injury were required, especially foryoung workers.Keywords : workers, injury, productive age, Indonesia, Riskesdas 2013 AbstrakInternational Labor Organization (ILO) memperkirakan 14% dari 2,34 juta orang meninggal dunia akibat kecelakaan kerja (2008). Di Indonesia, data terkait kecelakaan yang berhubungan dengan pekerjaan masih terbatas dan hanya fokus pada pekerja sektor formal. Penelitian ini bertujuan menentukan determinan kejadian cedera pada pekerja usia produktif (15-64 tahun) di Indonesia, menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2013. Data dianalisis dengan kompleks sampel, tingkat kemaknaan 0,05 dan confidence interval 95%. Jumlah pekerja yang dianalisis 405,984 orang. Determinan kejadian cedera adalah umur, jenis kelamin, hipertensi, kawasan tempat tinggal, gangguan penglihatandan pendengaran, pendidikan, diabetes mellitus, status perkawinan, status gizi, jenis pekerjaan, status ekonomi, dan lokasi tempat tinggal (OR adjusted 1.1-2.17 p≤0.009). Kejadian cedera pada pekerjaumur 15-24 tahun 2,17 kali dibandingkan umur 55-64 tahun, pada laki-laki 1,8 kali dibandingkan perempuan, mereka yang menderita hipertensi 1,6 kali dibandingkan yang tidak hipertensi. Pekerjayang tinggal di Kawasan Timur Indonesia 1,5 kali lebih banyak yang cedera dibandingkan di Kawasan Sumatera, sedangkan yang menderita gangguan pendengaran kedua telinga 1,5 kali lebih banyak cederadibandingkan pendengaran normal. Determinan utama cedera pada pekerja usia produktif adalah umur diikuti jenis kelamin, hipertensi, dan gangguan pendengaran. Upaya untuk mencegah kejadian cederadiperlukan khususnya bagi pekerja usia muda.Kata kunci : pekerja, cedera, usia produktif, Indonesia, Riskesdas 201

    KADAR C-ERBB2 DALAM SERUM DAN SALIVA PASIEN KANKER PAYUDARA

    No full text
    AbstractC-erbB2 used as a marker for determining treatment and prognosis of breast cancer. The most often method used to evaluate c-erbB2 in tissue samples is by immunohistochemistry (IHC). Another method to evaluate c-erbB2 is measure the level of ECD (extra cellular domain) c-erbB2 were detached from the cell surface in serum and saliva. Saliva is used as a diagnostic tool because it can be collected noninvasive, easy. This study aimed to evaluate the levels of c-erbB2 in serum and saliva breast cancer patients compared to controls and to assess the possibility of the use of saliva as an alternative sample examination biomarker. The study using cross sectional design, implemented at Dharmais hospital of April-December 2012. The sample consisted of 55 subject of cancer patients and 56 controls. Specimens were taken from both groups, levels of c-erbB2 serum and saliva were measured by ELISA (cut off value ≥30 ng/ml) and the results compared to c-erbB2 IHC. Serum and salivary level of c-erbB2 increased at 10,9% and 7,3% of breast cancer patients. The levels of c-erbB2 in serum and saliva patients was higher than controls. Salivary levels of c-erbB2 correlated with serum (r=0.31). Sensitivity of serum c-erbB2 38% and 13% for saliva, spesivicity of 91% for both. PPV 50% and NPV 86% at serum, PPV 25% and NPV 82% at saliva. C-erbB2 can be detected in the serum and saliva and its overexpressed in 7-11% of breast cancer patients. Saliva may have potensial use as an alternative sample examination biomarkers in breast cancer.Keywords : C-Erbb2 ; Serum; Saliva; Breast CancerAbstrakPemeriksaan c-erbB2 berguna dalam menentukan terapi dan pengobatan pasien kanker payudara. Cara paling sering untuk mengevaluasi ekspresi protein c-erbB2 dalam sampel jaringan adalah imunohistokimia (IHK). Cara lainnya adalah dengan menilai kadar ECD (extra cellular domain) c-erbB2 dalam serum dan saliva yang terlepas dari permukaan sel. Saliva digunakan sebagai spesimen diagnosis karena dapat dikumpulkan secara non-invasif, mudah, tanpa peralatan khusus untuk mengumpulkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kadar c-erbB2 dalam serum dan saliva pada pasien kanker payudara dibandingkan dengan kontrol serta menilai kemungkinan penggunaan saliva sebagai spesimen alternatif pemeriksaan penanda pada kanker payudara. Penelitian menggunakandesain cross sectional analitik, dilaksanakan di RS kanker Dharmais dari April-Desember 2012. Sampel terdiri dari: 55 subjek kelompok pasien kanker dan 56 kelompok kontrol. Spesimen diambil dari serum dan saliva kedua kelompok, kadar c-erbB2 diukur dengan metode ELISA dengan cut off value ≥30 ng/ml, kemudian hasil kadar c-erbB2 dibandingkan dengan c-erbB2 jaringan (IHK). Amplifikasi c-erbB2 jaringan terjadi pada 14,5% pasien kanker payudara sedangkan kadar c-erbB2 serum dan saliva meningkat pada 10,9% dan 7,3% pasien. Kadar rata-rata c-erbB2 serum dan saliva pada kelompok pasien kanker payudara lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Kadar c-erbB2 dalam saliva berkorelasi dengan kadar c-erbB2 serum (r=0,31). Sensitifitas c-erbB2 pada serum 38%, 13% pada saliva. Spesifisitas serum dan saliva masing-masing 91% dengan PPV 50%, NPV 86% pada serum dan PPV 25%, NPV 82% pada saliva. C-erbB2 dapat terdeteksi di dalam serum dan saliva, mengalami overekspresi pada 7-11% pasien kanker payudara. Saliva merupakan sampel yang potensial digunakan sebagai sampel pemeriksaan biomarker kanker payudara.Kata kunci : Tubular Carcinoma of the Breast; Medullary Carcinoma of the Breast; C-Erbb2; Saliva; Serum; Kanker Payudar

    Tingkat Kerentanan Aedes aegypti (Linn.) terhadap Malation di Provinsi Sumatera Selatan

    No full text
    AbstractDengue vector control program in Indonesia and also South Sumatera Province has been using malathion quite long enough. The extensive use of chemical in dengue vector control can lead to development of resistance. This study aims to determine the susceptibility of Aedes aegypti against malathion in 11 district of South Sumatera Province. Larva or pupae were collected with entomology survey kit and colonized until first generation (F1) that were used for bioassay. This test was conducted according to WHO adult susceptibility bioassay procedure.Twenty five blood-fed mosquitoes were exposed to insecticide impregnated paper in each of 4 WHO test kits and 1 control tube. Aedes aegypti from all study sites were still susceptible to operational dose of malathion (5%)after 1 hour exposure. The estimated resistance ratio (ERR) of knockdown time (KT) to operasional dose of malathion is about 1,02 – 1,27 for KT50 and 0,96 – 1,24 for KT95. The susceptibility test of adult mosquitoes to diagnostic dose (0,8%) of malathion showed a variety of susceptibility after 24 hours. Strain of 7 districts showed resistance, 3 districts toleran and 1 district still susceptible. The detection of resistance can actually help public health personnel to formulate appropriate steps in encountering the reduction in effectiveness of vector control efforts.Keywords : Aedes aegypti, Malathion, Susceptibility, South SumateraAbstrakProgram pengendalian vektor DBD di Indonesia termasuk di Provinsi Sumatera Selatan telah cukup lama menggunakan malation dengan konsentrasi 5%. Penggunaan satu jenis insektisida kimiawi secara ekstensif dapat memicu perkembangan resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan status kerentanan Aedes aegypti terhadap malation dari 11 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan. Larva atau pupa dikumpulkan menggunakan alat survei entomologi dan selanjutnyadipelihara hingga mendapatkan generasi pertama (F1) yang akan digunakan pada uji kerentanan. Uji kerentanan mengacu kepada metode baku yang ditetapkan WHO. Sebanyak 25 ekor nyamuk dipaparkan terhadap insektisida pada 4 tabung uji dan 1 tabung kontrol. Strain Aedes aegypti yang berasal dari seluruh lokasi sampling menunjukkan masih rentan terhadap malation dosis 5% setelah paparan selama 1 jam. Angka estimated resistance ratio (ERR) dari knockdown time (KT) terhadap dosis operasional berkisar 1,02-1,27 untuk KT50 dan 0,96-1,24 untuk KT95. Uji kerentanan terhadap dosis diagnostik (0,8%) menunjukkan keragaman kerentanan setelah paparan selama 24 jam. Strain dari 7 kab/kota telah resisten, 3 kab/kota berstatus toleran dan 1 kabupaten masih rentan. Deteksi resistensi dapat menjadi acuan untuk menentukan tindakan yang efektif dalam mengatasi menurunnya efektivitas pengendalian vektor.Kata kunci : Aedes aegypti, Malation, Kerentanan, Sumatera Selata

    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketepatan Diagnosis Malaria di Puskesmas Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur

    No full text
    Pengobatan malaria di Kabupaten Belu Propinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan pada diagnosisklinis dan mikroskopis. Angka kesalahan diagnosis mikroskopis malaria dilaporkan masih tinggi, di atasnilai toleransi kesalahan diagnosis menurut Kementerian Kesehatan >5%. Tujuan penelitian ini untukmengetahui faktor-faktor penyebab kesalahan diagnosis malaria di Puskesmas. Rancangan penelitianini adalah explorasi dan observasional secara potong lintang terhadap 16 mikroskopis sampel dalammendiagnosis mikroskopis malaria. Penelitian dilakukan di 10 puskesmas Kabupaten Belu dari bulanApril hingga Juni 2012. Hasil pengamatan menunjukkan faktor yang mempengaruhi kesalahan diagnosisadalah kelengkapan mempersiapkan alat dan bahan sebelum pengambilan darah (p < 0,029), tidakmelakukan sediaan darah tipis (p < 0,07), menggunakan Kaca Sediaan (KS) bekas/slide bekas (p <0,08) hasil pewarnaan Sediaan Darah (SD) tidak baik (p < 0,02), kurang pengalaman kerja (p < 0,029)dan kurang pelatihan (p <0,08). Penilaian terhadap mikroskopis dilakukan oleh expert microscopistyang tersertifiasi dan ditemukan responden memiliki nilai Kappa jelek (0,00-0,20) sebanyak 35,2%

    Pengaruh Faktor Komposisional dan Faktor Kontekstual Terhadap Kejadian Hipertensi di Jawa dan Bali

    No full text
    Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat, karena prevalensi yang tinggi dan merupakansalah satu faktor utama penyebab kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluhdarah. Banyak studi yang membuktikan bahwa hipertensi berkaitan dengan pola hidup, yang seharusnyadapat dicegah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan dari faktor komposisional (tingkatindividu) serta determinan lingkungan (tingkat rumah tangga dan tingkat kabupaten/kota) terhadapkejadian hipertensi di Jawa dan Bali. Analisis lanjut data Riset Kesehatan Dasar 2007, Susenas 2007,dan data Potensi desa 2008 dengan pendekatan analisis multilevel dilakukan untuk mengestimasi efekkontekstual, sehingga dapat menentukan skala prioritas implikasi program intervensi terhadap kejadianhipertensi. Dikarenakan adanya keterbatasan data analisis ini hanya meliputi 200.603 penduduk dengankelompok umur 15-60 tahun dari 83.693 rumah tangga di 134 kabupaten/kota pada 7 Provinsi di wilayahJawa dan Bali. Prevalensi hipertensi di Jawa dan Bali adalah 26,4 persen (95% CI: 26,2-26,6). Tampakada perbedaan peranan di tingkat individu (84,9%), tingkat rumah tangga (6,4%) dan tingkat kabupaten/kota (8,7%). Pada tingkat individu, ada 3 variabel yang berperan cukup besar terhadap kejadianhipertensi di wilayah Jawa Bali yaitu IMT ≥ 25 Kg/m2  (OR: 2,02) dengan kontribusi 4,3 persen, obesitasabdominal (OR: 1,45) dengan kontribusi 2,4 persen dan tingkat pendidikan < SLTP (OR: 1,38) dengankontribusi 1,6 persen. Pada tingkat rumah tangga, variabel yang berperan terhadap kejadian hipertensiadalah kepadatan hunian < 9 m2/orang (IOR: 1,56 - 1,74), pengeluaran perkapita (IOR: 1,56 - 1,74),dan tidak adanya dukungan kegiatan olahraga (IOR: 1,51-1,80). Sedangkan pada tingkat kabupaten/kota variabel yang berperan adalah daerah dengan skor IPM kaya (IOR: 1,00 - 1,62).Penelitian inimerekomendasikan program intervensi, terutama ditujukan pada faktor komposisional pada tingkatindividu. Menurunkan berat badan dengan mempertahankan berat badan ideal dan meniadakan obesitassentral, serta meningkatkan kerjasama lintas sektor non kesehatan dalam meningkatkan pendidikan

    GAMBARAN SURVEILANS FILARIASIS DI KABUPATEN BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT

    No full text
    Program eliminasi filariasis di Indonesia ditetapkan dua pilar yaitu memutuskan rantai penularan dengan pemberian obat massal pencegahan filariasis (POMP filariasis) di daerah endemis dan mencegah dan membatasi kecacatan karena filariasis. Untuk mencegah terjadinya penularan ulang di daerah yang sudah melakukan POMP, perlu dilakukan kegiatan surveilans yaitu pengamatan secara terus menerus untuk mengamati perkembangan kasus baru serta faktor risiko terjadinya penularan; karena itu diperlukan informasi surveilans yang sesuai fakta di lapangan. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain penelitian cross sectional studies. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bandung yang telah melaksanakan POMP, waktu penelitian selama 6 bulan. Pengumpulan data primer dilakukan dengan In - depth interview terhadap pengelola program filaria tingkat kabupaten, puskesmas dan kader. Hasil penelitian menggambarkan surveilans filariasis di Kabupaten Bandung hanya terfokus pada surveilans pengobatan, untuk surveilans "case finding" belum dilaksanakan secara optimal. Kegiatan dalam surveilans pengobatan meliputi sosialisasi mengenai informasi tatalaksana kasus filariasis, pendataan penduduk sasaran, melakukan kerjasama lintas sektor, pelatihan tenaga eliminasi, pencanangan pengobatan massal dan pelaksanaan POMP.   Kata kunci: Surveilans, eliminasi, filariasis, POMP, pengobata

    HUBUNGAN KEBERADAAN PEKERJA MIGRASI KE DAERAH ENDEMIS MALARIA DAN JARAK KE TEMPAT PERKEMBANGBIAKAN VEKTOR DENGAN KEBERADAAN PARASIT MALARIA

    No full text
    Penderita malaria di Kabupaten Tasikmalaya dan Sukabumi, didominasi oleh kasus impor penduduk migrasi yang bekerja di luar pulau Jawa. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor risiko penularan malaria yang berasal dari penduduk migrasi di kedua kabupaten tersebut. Sampel penelitian adalah keluarga yang mempunyai anggota keluarga pekerja migrasi di daerah endemis malaria dan yang tidak. Penelitian dilakukan dengan pemeriksaan rapid diagnostic test (RDT), pemeriksaan mikroskopis, interview pekerja migrasi, dan pemeriksaan Tempat Perkembangbiakan Vektor (TPV) malaria serta jaraknya ke rumah responden. Tidak ditemukan sampel positif malaria secara mikroskopis, tapi terdapat 10 sampel positif (SPR=2,47%) pada RDT. Keberadaan pekerja migrasi merupakan faktor risiko terjadinya malaria di wilayah tersebut (p=0,047). Jarak dari rumah ke TPV malaria adalah 3,34 - 1.486,50 m. Variasi jarak rumah dengan TPV tidak berhubungan dengan hasil pemeriksaan parasit malaria. Disimpulkan bahwa keberadaan anggota keluarga sebagai pekerja migrasi ke daerah endemis malaria, merupakan faktor risiko terjadinya kesakitan malaria di wilayah penelitian, sedangkan jarak dari rumah ke TPV bukan faktor risiko terjadinya kesakitan malaria di wilayah tersebut. Daerah tujuan pekerja migrasi di luar Pulau Jawa yang paling banyak terjadi kasus malaria pada pekerja migrasi asal Sukabumi adalah Provinsi Aceh dan asal Kabupaten Tasikmalaya adalah Provinsi Maluku

    SAFE AREA FOR RESIDENTIAL POPULATION TO RESIDE NEAR LIMESTONE MINING: A RISK MANAGEMENT APPROACH

    No full text
    Di Sukabumi, batu kapur ditambang oleh penduduk setempat tanpa pengendalian bahaya yang memadai. Untuk mengestimasi risiko kesehatan akibat pajanan penambangan kapur dan menentukan lokasi aman untuk penduduk di sekitarnya, telah dilakukan analisis risiko kesehatan lingkungan untuk partikulat tersuspensi total (TSP) dan PM10 di Desa Padabeunghar, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi. TSP dan PM10 diukur di lokasi penambangan dan di 10 tempat pemukiman dengan interval koaksial sekitar 500 m. Berat badan dan waktu kontak pemajanan diukur dari 110 orang penduduk lelaki dan perempuan dewasa yang dipilih secara acak dari 6.523 rumah tangga di sekitar lokasi penambangan. Estimasi risiko kesehatan, yang dinyatakan sebagai risk quotient (RQ), dihitung dari rata-rata asupan harian TSP dan PM10 dan dosis referensinya (RfC). Risiko kesehatan dianggap ada dan perlu dikendalikan jika RQ>1. Hasil estimasi menunjukkan bahwa hanya sekitar 9% penduduk Desa Padabeunghar yang aman dari risiko kesehatan oleh pajanan debu partikulat sepanjang hidup mereka. Dengan RQ gabungan yang berkisar 0,67 sampai 13, lokasi yang aman untuk dihuni berada mulai dari 4 km dari pusat pertambangan ke luar, sedangkan menurut baku mutu lingkungan udara ambien (PP 41/1999) lokasi aman mulai dari 3 km. Konsentrasi TSP dan PM10 yang terukur masing-masing 23-1.606 dan 10-175 μg/M3, sedangkan menurut rumusan manajemen risiko masing-masing 81 μg/M3 dan 57 μg/M3. Angka tingkat aman ini, yang lebih rendah dari ketentuan PP 41/1999 sebesar 90 μg/M3 untuk TSP, dapat dicapai dengan menurunkan laju penambangan dari 25 ton/hari menjadi 6,3 ton/hari, atau dengan memindahkan tungku pembakaran kapur ke lokasi yang lebih jauh dari pemukima

    ANEMIA DAN ANEMIA GIZI BESI PADA KEHAMILAN: HUBUNGANNYA DENGAN ASUPAN PROTEIN DAN ZAT GIZI MIKRO

    No full text
    Anemia masih menjadi permasalahan kesehatan pada wanita hamil. Zat besi dianggap sebagai salah satu zat gizi mikro yang berperan terhadap terjadinya anemia. Kekurangan gizi besi dalam tingkat lanjut dapat menyebabkan anemia, yang disebut sebagai anemia gizi besi. Tujuan studi ini adalah untuk menganalisis perbedaan antara asupan protein dan gizi mikro serta menghitung odd ratio (OR) kejadian anemia dan anemia gizi besi akibat asupan protein dan gizi mikro pada wanita hamil di lokasi studi. Analisis ini merupakan analisa dari data studi kohor Tumbuh Kembang anak pada tahun pertama, yang dilaksanakan di Kelurahan Kebon Kalapa dan Ciwaringin, Kota Bogor yang dianalisa menggunakan disainkasus kontrol. Sebanyak 47 ibu hamil menjadi sampel dalam analisa ini. Kategori untuk anemia yaitu apabila kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil ≤11 g/dL. Kekurangan gizi besi dikategorikan apabila kadar serum transferrin reseptor (sTfR) diatas 4.4 mg/L. Sedangkan Anemia Gizi Besi dikategorikan apabila memiliki kadar Hb < 11 g/dL dan sTfr > 4.4 mg/L. Tes one way anova digunakan untuk menganalisa adanya perbedaan asupan energi, protein dan zat gizi mikro antara ibu hamil yang mengalami anemia, anemia gizi besi maupun yang normal. Odd ratio dianalisa dengan menggunakan uji chi square. Nilai signifikan ditentukan apabila nilai p value < 0.05 dan perhitungan OR> 1. 27.7% dari ibu hamil di lokasi studi mengalami anemia, 14.9% tergolong dalam anemia ringan, 10.6% anemia sedang dan 2.1% anemia berat. Anemia gizi besi dialami oleh 17% dari wanita hamil. Terdapat hubungan yang signifikan antara keparahan anemia dan terjadinya anemia gizi besi. Tidak ditemukan perbedaan antara asupan protein, besi, folate dan zink pada wanita yang mengalami anemia, anemia gizi besi maupun yang normal. Akan tetapi terdapat kecenderungan bahwa asupan zat besi dan seng pada ibu yang anemia dan anemia gizi besi lebih rendah daripada ibu yang normal. Anemia masih menjadi permasalahan kesehatan pada ibu hamil, diantaranya merupakan anemia karena kekurangan zat besi. Semakin parah anemia maka akan semakin besar kemungkinan terjadinya anemia disebabkan oleh gizi besi. Ada kecenderungan kekurangan asupan besi dan seng pada ibu hamil akan berakibat pada anemia dan AGB, akan tetapi dalam analisis ini tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇